Sekresi Vagina Sering Mengalami Perubahan Tekstur


sergapntt.com – Perlu anda ketahui tentang Sekresi. Ya,,, vagina Sekresi vagina adalah hal normal yang biasa terjadi pada setiap wanita. Sekresi vagina adalah keluarnya cairan dari alat kelamin wanita, cairan ini dapat berupa keringat, lendir atau cairan yang berasal dari kelenjar di sekitar vagina.
Dalam keadaan sehat, hal ini biasa bagi setiap wanita. Dan sekresi yang keluar memiliki warna dan aroma yang normal. Sekresi ini bukan sekedar pengeluaran cairan biasa yang tidak memiliki manfaat untuk kesehatan.
Tetapi sekresi vagina berfungsi untuk memberikan iklim yang baik dalam arti kelembaban alami di sekitar vagina agar tetap terjaga kesehatannya. Khusus pada masa haid, sekresi yang terjadi adalah keluarnya darah yang merupakan sel telur yang telah matang namun tidak sempat terbuahi.
Sekresi vagina sering mengalami perubahan tekstur, warna dan bau. Hal ini terkait erat dengan perubahan hormon dan siklus haid yang dialami seorang wanita. Meskipun merupakan hal yang normal, terkadang perubahan tampilan sekresi vagina dapat menjadi indikasi terja dinya suatu infeksi atau penyakit tertentu.
Misal warna sekresi yang muncul berubah dari yang normalnya putih atau kuning menjadi lebih pekat serta berbau tajam dan disertai rasa sakit. Jika sudah demikian perlu adanya konsultasi dan perawatan dari dokter SpOG. Dokter SpOG adalah dokter yang memiliki ilmu kedokteran dengan spesialis kebidanan dan kandungan. Beberapa penyakit kewanitaan diawali dengan perubahan pada sekresi vagina.
Dengan melakukan beberapa langkah pemeriksaan, dokter SpOG akan dapat menentukan jenis penyakit serta terapi yang harus dilakukan terhadapnya. Beberapa wanita sering menganggap salah terhadap sekresi vagina, yang sebenarnya normal sering dianggap sesuatu yang mengganggu.
Ironisnya beberapa iklan cairan pembersih khusus wanita memberikan gambaran bahwa organ wanita yang sehat adalah yang keset. Karena salah pengertian tadi banyak wanita melakukan beberapa cara untuk membuat organ wanitanya menjadi kering dan keset.
Salah satunya dengan pengobatan alternatif seperti minum jamu dan gurah vagina. Padahal jika menilik dari ilmu kedoteran, vagina harus senantiasa dalam keadaan basah agar iklim di sekitarnya tetap terjaga dengan baik. Lebih penting bagi wanita adalah melakukan hal-hal yang menunjang kesehatan organ wanitanya, seperti mengkonsumsi makanan yang sehat serta berolahraga dan rutin menjaga kebersihan tubuh.
By. Miranda Kalila

Aku Tak Beruntung,,,,,


sergapntt.com – Hai,,,, sobat semua,,,, semoga kisah ini membuat kita belajar bersyukur atas apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

ISTRIKU LILIANA TERSAYANG,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
By. COPAS/FB

Permintaan Gadis Pengidap Kanker Diakhir Tahun 2011


sergapntt.com [KUPANG] – Sebagian orang tua ternyata punya kesabaran terbatas. Jika nasehat tak pernah dituruti, sikap ekstrim pun mereka tunjukan. Misal yang dilakukan sepasang suami istri di Kupang, sebut saja pak Markus (52) dan Ny. Mina (47). Karena tak kuasa menahan malu dari cibiran para tetangga, sejoli yang menikah 25 tahun lalu itu mengusir anak perempuannya dari rumah. Pak Markus dan istrinya benar-benar telah murka. Itu karena, Santi (23) —nama disamarkan—, anaknya, tak kunjung berbenah diri alias bertobat dari kebiasaanya menggauli kehidupan dunia malam. Hm,,,,!
Sejak kecil boleh dibilang Santi sangat dimanja. Apa saja yang diinginkan gadis cantik ini pasti dituruti oleh kedua orang tuannya. Maklum sang bokap dan nyokap cukup berkelimpahan harta. Lagipula Santi merupakan anak perempuan satu-satunya.
Selain menggeluti bisnis, kedua orang tuanya punya kedudukan penting di pemerintahan. Namun setelah diusir, kini Santi hanya bisa menyesal, menangis seraya meratapi hari-harinya tanpa kasih sayang.
Santi mulai mengenal kehidupan malam ketika masih bersekolah di SMU di salah satu sekolah swasta di Kota Kupang. Teman-teman pergaulannya adalah anak-anak borju, dari mulai anak pengusaha hingga anak pejabat. Santi cs begitu mendewakan kebebasan dan kesenangan. Kehidupan mereka bebas nyaris tanpa batas. Enjoy di lantai disko, menikmati dunia penuh gemerlap alkohol adalah gambaran perjalanan hidup Santi selama ini. Ia benar-benar sangat memuja dunia malam yang kerap memberinya sensasi penuh kepuasan.
Ketika naik kelas dua SMU, Santi makin sulit terkendali. Ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, dan ibunya yang lebih memperhatikan kerja, arisan dan pertemuan tak jelasnya dengan istri-istri pejabat, membuat segalanya berjalan tanpa kontrol.
Sebenarnya, sebagai remaja, Santi menyadari apa yang ia jalani ini adalah sesuatu yang tak berguna sama sekali. Namun, ia tidak bisa lepas dari pengaruh itu. Sebab, dalam keluarganya tak ada figur yang bisa dijadikan teladan untuk menyadarkannya. Akhirnya, tiga tahun di SMU, tiga tahun pula ia tak pernah disirami petuah-petuah agama.
Santi kemudian kuliah di salah satu universitas terkemuka di Kota Kupang. Setiap langkahnya hanya selalu teriring hiruk pikuk kehidupan malam. Bahkan di usia yang mulai beranjak dewasa, Santi tak mampu berpikir positif. Akhirnya ia berhenti kuliah di semester akhir. Saban hari praktis tak pernah di rumah. Apalagi malam? Hm,,, jangan tanya Santi ada dimana. Santi pasti di lantai disko atau di balik kerlap-kerlip lampu pub.
Suatu hari Santi pulang pagi —seperti biasa ketika sang ayah dan ibu sudah berangkat ke kantor–. Tapi hari itu naas baginya. Tanpa sepengetahuan Santi, ternyata ayah dan ibunya urung ke kantor lantaran ingin menunggunya pulang. Begitu masuk rumah, si ibu bertanya, San, lu dari mana ni? Begitulah Santi biasa disapa di rumah. Belagak bego dan sedikit cuek, Santi pun membalas, “Dari beta pung kawan pung rumah ma,,”.  “Kok,,, lu pulang pagi terus. Jadi anak perempuan itu mesti tau malu, apa kata orang kalau lu setiap hari begini,” sergah sang ibu menasehati.
Bukannya diam, Santi justru ngoceh,“Ah,,, mama,,,, buat apa dengar orang,,,,,”. Rupanya jawaban Santi ini membuat ayahnya yang sedari tadi duduk di meja makan, gerah mengepal. Tanpa ba-bi-bu, si ayah langsung menghampiri Santi, seketika terdengar prakkkkkkkkkk, bukkkkkkkkkkk, pakkkkkkkkk. Santi digampar dua kali dan disepak satu kali. Dari mulut si ayah spontan setengah berteriak, “Keluar lu dari sini. Dasar anak tidak tau diuntung. Berangkat lu,,,. Beta sonde mau liat lu pung muka di ini rumah lai,,,”.
Santi tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam dan menangis. Sembari terisak-isak, dia kemudian merebah memeluk kaki sang ayah meminta maaf. “Bapa,,, beta salah, beta minta maaf. Mulai dari sekarang beta tobat. Beta sonde akan keluar dari rumah lai,,, tanpa seijin bapa deng mama”.
Tapi,,,, rupanya hati dan pikiran pak Markus sudah terbakar emosi yang terpendam. Seloroh ia tak peduli dengan pelukan dan tangisan anaknya. Murkanya sudah bulat. “Sonde,,,,,,! Sekarang  juga lu keluar dari ini rumah. Tiap kali beta marah, lu bilang tobat, setiap kali mama tegur, lu bilang tobat. Sekarang sonde lai,,,. Berangkat lu dari sini, sekarang juga,,,,,” perintah pak markus.
Sambil meringis kesakitan akibat gamparan sang ayah, Santi pun tertatih masuk ke kamarnya. Ia lalu mengambil dua pasang baju, lantas dimasukan ke dalam tas kresek. Ketika keluar kamar, sekali lagi Santi berusaha meminta maaf pada sang ayah. Namun ayahnya tak bergeming. Ibunya hanya bisa menatap dengan pandangan kosong dibayangi air mata yang meleleh deras. Suasana menjadi hening. Terdengar derap kaki Santi melangkah keluar dari rumahnya. Tak lama berselang Santi hilang di belokan jalan sekitar 50 meter dari rumahnya.
“Setelah beta diusir, ya,,, seperti sekarang yang ka lihat. Beta tinggal di kos ini. Beta disini sudah 3 tahun lebih,” ujar Santi kepada sergapntt.com yang menemuinya belum lama ini.
Santi yang sekarang beda dengan Santi tiga tahun lalu. Enam bulan setelah diusir, Santi kembali kuliah hingga diwisuda satu setengah tahun berikutnya. Kesehariannya kini tidak lagi seperti dulu. Kini Santi telah bekerja di salah satu perusahaan swasta. Setiap minggu ia tak pernah alpa ke gereja.
Natal dan tahun baru kemarin, Santi pernah pulang ke rumahnya untuk meminta maaf sekaligus silahturahmi. Namun ternyata,,,, rasa sayang sang ayah benar-benar sudah mati. Ia tak mau menemui Santi. Dari balik kamar hanya terdengar suara, “Pergi lu dari sini. Beta sudah anggap lu mati”. Begitulah pak Markus menyambut Santi. Dengan hati yang teriris, pilu yang menahun, Santi akhirnya kembali ke kosnya. Rasa bersalah, sakit hati, perasaan rindu pada kehangatan keluarga bercampur menjadi satu.
“Beta sempat mau bunuh diri ka,,,,. Tapi akhirnya beta sadar,,, ah,,, itu dosa. Saat itu beta rasa sonde kuat hidup lai,,,. Tapi berkat beta pung baitua yang selalu setia mendampingi dan menasehati, akhirnya beta tabah jalani ini semua. Beta hanya bisa berharap, sekali waktu beta pung bapa, mama dan kaka adik semua mau memaafkan beta,” papar Santi sambil sesekali mengeringkan air matanya dengan sapu tangan putih.
Santi sadar, apa yang ia lakukan dulu telah mencoreng nama baik keluarga. Namun sebagai manusia, Santi tentu punya akal sehat. Ia telah buktikan selama tiga tahun lebih ini. Ia sudah bertobat. Ia rajin ke gereja. Kesehariannya dihabiskan dengan bekerja dan bekerja. Walaupun penghasilannya hanya bisa untuk mengisi perutnya sendiri.
Santi pun tak tahu, kapan orang tuanya mau membukanan pintu maaf. Lewat media ini, Santi hanya mau bilang, “Beta minta maaf pa,,, beta pingin pulang,,, beta pingin dekat dengan bapa deng mama lai,,,. Beta rindu bapa mama, deng kakak adik semua. Beta tau beta salah. Tapi,,, kalau boleh,,,,, berikan beta satu kali lagi kesempatan. Beta akan berusaha mengobati luka hati bapa deng mama. Tapi,,,,,, jika memang su sonde ada pintu masuk buat beta? Beta hanya titip pesan buat kakak adik semua, tengoklah beta pung kisah ini sebagai pelajaran agar bapa deng mama tidak malu lagi. Sedangkan buat bapa deng mama, beta hanya bisa terus berdoa agar bapa deng mama tetap hidup sehat saling menyayangi. Beta tahu bapa malu besar. Beta tahu bapa benar-benar marah deng beta. Beta sadar juga ketika bapa bilang su sonde suka deng beta lai,,,! Karena itu lewat koran ini beta hanya bisa memohon, maafkan beta pa,,,”.
Empat bulan lalu Santi divonis mengidap kanker hati. Menurut perkiraan dokter, Santi hanya bisa bertahan hidup 2 tahun lagi.
“Itu sebabnya ka,,, beta terus berharap, sebelum beta mati, bapa sudah memaafkan beta,” curat Santi pada sergapntt.com.
By. CHRIS PARERA

NTT Terkini


fakta kemiskinan di NTT (gambar diambil 11/11/11)
 
Mempertahankan  hidup ala sebagian orang NTT, makan dilengkapi moke (miras) (gambar diambil 11/11/11)
  
Nasib sebagai orang NTT /foto by. CHRIS PARERA

Kupang Terkini


Perempatan depan Mapolda NTT (gambar diambil 1/1/12)
Kemacetan Sering terjadi di depan pasar inpres Naikoten I, Kota Kupang (gambar diambil 1/1/12)