KPAD NTT Kampanyekan Nol HIV


sergapntt.com [KUPANG] – Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Provinsi NTT memulai kampanye zero HIV atau memutus rantai penularan human immunodeficiency virus (HIV) hingga nol persen. Karena kasus HIV di NTT terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.
Pernyataan ini disampaikan Pengelola Program KPAD NTT, Gusti Brewon kepada wartawan di Kupang, Jumat.
Gusti menjelaskan, kampanye tersebut sejalan dengan tema hari AIDS dunia yang mengetengahkan tiga poin penting, yakni tidak boleh ada infeksi HIV baru, tidak boleh terjadi diskriminasi terhadap  orang dengan HIV dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS), dan tidak boleh ada lagi kematian akibat AIDS.
“Ini merupakan komitmen dunia dan komitmen kita bersama yang harus juga dilaksanakan di NTT,” kata Gusti.
Ia jelaskan, untuk menyukseskan komitmen dimaksud, bertepatan dengan peringatan Hari Aids sedunia, pihaknya menggelar kegiatan bertajuk pengurangan dampak buruk (harm reduction) napza suntik. Kegiatan dimaksud diikuti 20 dokter dan perawat dari empat kabupaten, yakni Belu, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Sikka. Petugas medis tersebut dibekali pengetahuan mengenai pentingnya penggunaan jarum suntik steril untuk pengguna narkotika, psikotropika dan zat aditif (napza) di wilayahnya masing-masing.
Gusti ungkapkan, meningkatnya jumlah pengguna napza di NTT seiring dengan meningkatnya jumlah pasien terpapar HIV. Ini didukung oleh penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Sebanyak tujuh persen penularan HIV di NTT melalui penggunaan narkoba suntikan.
Ia menambahkan, pengguna jarum suntik itu terkosentrasi antara lain di Kota Kupang sebanyak 133 orang, Kabupaten Sikka 24 orang, dan di Kabupaten Belu 16 orang. Sedangkan, jumlah warga yang tertular HIV di NTT sampai Mei 2011 berjumlah 748 orang. Jumlah terbanyak di Belu sebanyak 323 orang, Kota Kupang 190 orang, Sikka 70 orang, Manggarai 37 orang, Lembata 18 orang, Flores Timur 24 orang, dan Timor Tengah Utara 25 orang.
Guna meminimalisasi penyebaran kasus HIV dan AIDS di NTT, lanjut Gusti, KPAD Provinsi NTT membagikan jarum suntik kepada para pengguna narkoba. Mereka dapat mengambil jarum suntik di puskesmas secara gratis. Pembagian bantuan jarum suntik secara gratis dimaksud didasarkan pada pertimbangan bahwa selama ini pengguna narkoba jarum suntik menggunakan jarum suntik secara bergantian. Dimana, satu jarum suntik bisa dipakai bersama oleh empat sampai lima orang. Jika salah satu pengguna narkoba mengidap virus HIV, tentunya akan menyebarkan kepada pengguna lainnya. “Fakta menunjukkan, tingkat penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia lebih tinggi lewat
jarum suntik, bukan lewat hubungan seksual dengan penderita HIV dan AIDS,” ujar Gusti.
Ia menambahkan, jarum suntik tersebut sudah tersedia di setiap puskesmas terutama di tiga daerah yang sesuai hasil indentifikasi KPA, terdapat pengguna narkoba terbanyak. Penyediaan atau bantuan jarum suntik ini diperbolehkan oleh pemerintah lewat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 567 Tahun 2006 tentang Pedoman Layanan Jarum Suntik di Puskesmas. Pembagain jarum suntik oleh KPA ini dalam rangka pengurangan dampak buruk bagi penggunaan jarum suntik.
Pada kesempatan itu ia menolak pengguna narkoba dipenjara karena konsumsi narkoba. Karena penjara bukan merupakan solusi terbaik untuk menghentikan penggunaan dan pengedaran narkoba. Memang penyebaran narkoba terbanyak ada di penjara, termasuk pengguna (narkoba).
Menurutnya, hukuman badan bagi pengguna narkoba tidak akan mengurangi pengguna narkoba. Bahkan, omzet penjualan narkoba di pasar gelap bisa meningkat. Karena itu diharapkan, masyarakat tidak mengucilkan para pengguna atau pemakai narkoba. Sebaliknya, dilaporkan kepada petugas agar mereka bisa diobati.
By. FLO

Penyandang Cacat di Kupang Dukung SBY Tanam 1 Milyar Pohon


sergapntt.com [KUPANG] – Sebanyak 300 orang penyandang cacat di Kota Kupang dan sekitarnya melakukan penanaman 200 anakan pohon di Taman Nostalgia-Kota Kupang, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, serta dukungan terhadap program Presiden SBY tanam 1 miliar pohon.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi NTT, Lusia Adinda Lebu Raya ketika membuka kegiatan tersebut mengatakan, aksi penanaman ini harus dipandang sebagai motivasi bagi orang-orang normal fisik untuk bisa ikut melakukan hal yang sama untuk menghijaukan bumi NTT. Anakan pohon yang ditanam bisa berupa tanaman produksi maupun kehutanan. 
“Kalau orang catat saja punya kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup, seharusnya orang normal fisik pun harus lebih bersemangat lagi menanam pohon,” ujar Lusia.
Ia berharap, masyarakat tidak hanya menanam pohon tetapi harus diikuti dengan tindakan pemeliharaan yang baik. Dengan demikian setiap anakan pohon yang ditanam dapat terus tumbuh dan tentunya bermanfaat bagi kebelangsungan kehidupan manusia.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Keluarga Anak Dengan Kecacatan (FKKADK) Provinsi NTT, Benny Jahang sampaikan, jumlah penyandang cacat yang dilibatkan dalam kegiatan ini kurang lebih sebanyak 300 orang dengan jumlah anakan yang ditanam sebanyak 300 anakan. Artinya, setiap anak menanam satu anakan. Konsep yang dipakai dalam aksi penanaman anakan pohon ini adalah,  lubang tanam digali oleh orang normal fisik dan selanjutnya anakan pohon ditanam oleh para penyandang cacat. Ada empat jenis anakan yang ditanam yakni Cendana, Mahoni, Lamtoro, dan Mangga.
Beny menambahkan, aksi penanaman ini dilakukan juga sebagai upaya mencegah emisi pemanasan global yang juga menimpa NTT, Kota Kupang khususnya. Aksi penanaman juga telah digalakan secara nasional dan telah dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan penanaman anakan pohon ini sebagai bagia dari rangkaian kegiatan memperingati Hari Internasional Penyandang Cacat (Hipenca) pada 3 Desember.
Kegiatan penanaman anakan pohon ini melibatkan Tim Penggerak (TP) PKK NTT, Dinas Sosial NTT, dan ratusan personil TNI Angkatan Laut (AL) Kupang.
By. FLO

Gaji Pokok Tahun 2012 Naik Rp. 75 Ribu


sergapntt.com [KUPANG] – Upah Minimum Provinsi (UMP) Tahun 2012 bakal mengalami kenaikan sebesar Rp75 ribu atau menjadi Rp925.000/bulan dari tahun 2011 sebesar Rp850.000/bulan. Namun pemerintah provinsi belum menetapkannya dalam sebuah putusan gubernur.
Ketua Dewan Pengupahan NTT, Welem Foni menjelaskan, Dewan Pengupahan NTT telah merekomendasikan kepada pemerintah untuk menetapkan UMP NTT pada tahun 2012 sebesar Rp925.000 . Rekomendasi ini disampaikan untuk selanjutnya ditetapkan melalui peraturan gubernur.
Menurutnya, UMP tahun 2012 akan berlaku terhitung mulai 1 Januari 2012. Besaran UMP berlaku pula bagi para pekerja yang mempunyai masa kerja kurang dari satu tahun serta belum menikah. “Besaran UMP ini menjadi besaran gaji pokok bagi para pekerja tersebut,” ujar Welem kepada wartawan di Kupang.
Pada kesempatan itu, Welem mengingatkan kepada pihak perusahaan untuk tidak membayar upah lebih rendah dari UMP yang akan ditetapkan tersebut. Sedangkan perusahaan yang selama ini telah memberi UMP di atas nilai tersebut, diharapkan tidak lagi menurunkannya. Diharapkan, tetap memberi upah sebagaimana diberlakukan sebelumnya, dan bila memungkinkan menaikkannya lagi. Tapi ini bergantung pada kemampuan keuangan perusahaan.
Welem mengatakan, sebelum memberi rekomendasi UMP 2012 kepada pemerintah, Dewan Pengupahan telah melakukan survei besaran tentang Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di NTT. Selain itu, mendapatkan usulan dari unsur pakar dan perguruan tinggi dengan mempertimbangkan berbagai macam faktor diantaranya, nilai KHL di NTT, pertumbuhan ekonomi, dan laju inflasi di NTT.
Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Provinsi NTT, Stanis Tefa menilai,  UMP tahun 2012 yang akan ditetapkan masih belum pantas bila dilihat dari aspek KHL. Walau demikian, niat baik pemerintah untuk menaikan UMP perlu diberi apresiasi.
“Kita harapkan setelah UMP ditetapkan, semua perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja melaksanakannya,” kata Stanis.
Ia menambahkan, harapan itu perlu disampaikan karena sesuai survei SPSI NTT, masih sangat banyak perusahan yang masih membayar upah karyawannya jauh dibawah standar UMP. Sedangkan pemerintah tidak memiliki kekuatan untuk menegur atau sanksi kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Alasan klasik yang sering disampaikan adalah kemampuan perusahaan belum mencukupi atau para pekerja bersedia bekerja dengan upah yang rendah.
By. FLO

Warga NTT Diminta Tak Terpengaruh SMS Provokator


sergapntt.com [KUPANG] – Warga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta untuk tidak terpengaruh dengan beredarnya berbagai layanan pesan singkat melalui selular atau short message service (SMS) bernuansa provokator menjelang perayaan hari besar keagamaan terutama Natal, 25 Desember 2011 dan Tahun Baru, 1 Januari 2012.
Permintaan ini disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT, Haji Abdulkadir Makarim pada rapat gabungan forum-forum bersama elemen strategis masyarakat dalam mendukung kamtrantibmas menyongsong perayaan natal dan tahun baru di Kupang.
“Saya minta kita semua tidak terprovokasi dengan pelbagai SMS yang dilancarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab menyongsong hari besar keagamaan,” kata Makarim.
Menurut Makarim, secara umum kerukunan hidup antarumat beragama di NTT sangat kondusif. Demikian juga dengan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Walau demikian, yang perlu diwaspadai adalah kecemburuan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu, perlu adanya sikap waspada yang ditanamkan dalam diri setiap orang.
Wakil ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTT ini sampaikan, menyongsong perayaan Natal dan tahun baru, FKUB akan melaksanakan bhakti sosial di dua geraja, yakni Gereja Katolik St. Yoseph Pekerja Penfui dan Gereja Kristen Paulus. Kegiatan ini sebagai bentuk solidaritas dan memperkenalkan konsep kerukunan hidup antarumat beragama di NTT, Kota Kupang khususnya.
Pada kesempatan itu Makarim ungkapkan, setiap kegiatan tingkat nasional yang diikuti, dirinya selalu meminta semua pihak untuk bercermin pada kerukunan hidup lintas agama di NTT. Karena semua daerah pasti ada kelompok minoritas dan mayoritas penganut agama. Jika tidak disikapi secara bijak, konflik antarumat beragama bisa saja terjadi.
“Saya minta untuk tidak membawa permasalahan di daerah lain ke NTT. Biarlah kerukunan hidup antaragama di NTT tetap terbina sebagaimana yang terjadi selama ini,” papar Makarim.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbagpol dan Linmas) NTT, Sisilia Sona menyampaikan, mengatasi kerawann sosial tidak hanya menjadi tugas satu lembaga atau instansi tapi semua elemen masyarakat. Semua pihak diberi tugas dan tanggung jawab yang sama dalam menciptakan situasi aman. Sehingga dapat tercipta situasi yang kondusif di tengah kehidupan sosial masyarakat.
Dari kegiatan ini, lanjut Sisilia, dapat menghasilkan rekomendasi untuk disampaikan ke pemerintah. Sehingga pemerintah dalam hal ini gubernur diharapkan dapat mengeluarkan kebijakan yang dapat menciptakan situasi yang kondusif. Memang secara umum situasi keamanan cukup kondusif, tapi ada daerah yang masih konflik. Dimana ada organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang melakukan pembunuhan, tindakan anarkis dan sejenis aksi lainnya. Selain itu, masih ada pihak yang mengganggu kerukunan hidup beragama, dan menyebarkan isu-isu yang bernuansa provokasi. Jika semua aspek yang ada disikapi secara baik, hidup berdampingan secara rukun dan damai bisa terwujud. 
Sementara itu, rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat gabungan dimaksud antara lain, dukungan semua elemen seperti distributor sembilan bahan pokok, PT (Persero) Pertamina dan PT (Persero) PLN telah melakukan pelbagai persiapan dalam menyongsong perayaan Natal dan Tahun Baru. Misalkan, distributor sembako akan menggelar pasar murah dan PT Pertamina akan menggelar operasi pasar minyak tanah bersubsidi.
By. FLO

Orang Kaya Tidak Peduli Dengan Orang Miskin


sergapntt.com [LONDON] – Sebuah studi terbaru menunjukkan, kebanyakan kaya hanya peduli pada dirinya sendiri, dan cenderung self-centered atau semua tertuju padanya. Mereka sama sekali tidak peduli dengan kehidupan orang-orang miskin.
Dacher Keltner, seorang psikologis dan ilmuwan sosial baru-baru ini merilis temuannya. Yang mengungkapkan bahwa orang kaya saat ini terobsesi dengan dirinya, dan hanya khawatir tentang apa yang mereka miliki.

“Memiliki banyak uang dan kekayaan membuat seorang rentan tidak empati, dan lebih mementingkan dirinya sendiri,” ujar dia seperti diungkap dalam laman dailymail.com.

Ungkapan tersebut bagi Keltner bukan omongan semata. Dia sudah pula membuktikannya dengan berbincang atau merekam video sampel partisipan orang kaya dan miskin. Perbedaan jelas dari masing-masing uji cobanya inilah yang kemudian menghasilkan kesimpulan yang mengejutkan tersebut.

Menurut Keltner, orang kaya yang hidupnya stabil dan bisa dibilang makmur, lebih tertarik pada hal-hal yang membuat dirinya nyaman. Mereka akan lebih sering mengecek ponsel dan apa yang terjadi di sekeliling grupnya. Ada semacam ideologi kepentingan diri yang lebih kerap dan muncul dibanding membantu orang lain.

“Kami sudah melakukan sekitar 12 studi terpisah yang mengukur empati seseorang dari hal-hal yang memungkinkan terjadi, terutama kaitannya dengan perilaku sosial,” tambah Keltner.

Dari berbagai studi itu pula menunjukkan kalau orang-orang dari kalangan bawah, lebih punya empati, dan sikap pro sosial yang besar. Ada rasa kepedulian dan mudah tersentuh dengan keadaan orang lain.

Profesor dari Universitas California, Berkeley tersebut menuturkan, hal itu jauh beda begitu dihadapkan pada orang-orang kaya. Karena sebagian besar lebih suka membicarakan diri mereka sendiri dan lebih peduli dengan apa yang mereka punya.

Adapun penyebabnya, bisa jadi kekayaan, pendidikan dan prestise yang selama ini dimiliki, yang telah memberi kebebasan dan rasa nyaman tersendiri. Sehingga dalam keseharian lebih mengutamakan apa yang ada di sekitarnya.

Untuk membuktikan itu juga, dia merekam percakapan melalui video terhadap sejumlah orang yang berbeda-beda. Hasilnya, orang kaya tampak kurang tertarik dengan lawan bicara, mereka lebih sering mengecek ponsel atau menghindari kontak mata.

Sementara, sebaliknya dengan yang berasal dari kalangan bawah, yang lebih punya empati dan peduli dengan menatap mata lawan bicara atau menganggukan kepala. Sebagai sebuah penanda mereka lebih punya perhatian pada orang lain.

Dalam tes lainnya, Keltner memberikan dua partisipan, kalangan kaya dan dari kalangan bawah, dengan sebuah gambar anak-anak kelaparan dari Afrika. Sensor yang digunakan menunjukkan kalau respon secara emosional lebih besar dari kalangan bawah. Ada intensitas emosi yang berbeda.

Ada juga permainan bernama dictator game yang digunakan untuk pembuktian. Sebagai sampel permainan itu dilakukan oleh hampir berjumlah 115 orang. Dalam permainan itu, ada partner yang tak tampak. Masing-masing mereka diberi sepuluh poin yang bisa mewakili sebagai uang, yang mereka bisa bagi pada orang atau partner yang lain.

Hasilnya, partisipan dari kalangan bawah yang ternyata paling banyak memberikan apa yang mereka punya. Tidak memandang, usia jenis kelamin ataupun etnis.

Temuan dari studi yang menarik untuk jadi renungan ini sudah pula dimuat sebagai artikel berjudul Social Class as Culture: The Convergence of Resources and Rank in the Social Realm, dan dimuat di Jurnal Current Directions in Psychological Science.

Benarkah yang berpunya lebih mementingkan dirinya sendiri? Agaknya setiap orang bisa menjawab dan mengoreksinya sendiri.

By. CHE/CIS