Stop! Kekerasan Terhadap Wartawan


sergapntt.com [KUPANG] – Gema Hari Pers Nasional (HPN) yang dihadiri Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono di Kupang pada 9 Februari 2011 lalu ternyata tak menghentikan kekerasan terhadap wartawan di bumi Flobamoratas (Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote Ndao dan Sabu Raijua). Pada Oktober 2011 lalu, Deni Fernandez (TVRI), Yopi  Tapeun (harian pagi Timor Express), Oby Lewanmeru (Pos Kupang) dan Hjahar (Erende Pos) mendapat perlakuan kasar dari Pegawai Dinas PPO Kota Kupang yang menyebabkan kamera milik Deni Fernandez rusak.
Aksi kekerasan tersebut terjadi saat Deni CS akan mengklarifikasikan pemberitaan terkait  dugaan korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di salah satu sekolah di bilangan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.
Aksi kekerasan terhadap si kuli tinta kembali terjadi di Kabupaten Rote Ndao. Kali ini menimpa wartawan tabloid Rote Ndao News, Dance Henuk. Petaka bermula ketika Sabtu (10/11/11), sekitar pukul  13.00 Wita, beberapa orang yang dikenali datang ke rumah Dance Henukh. Mereka mengancam akan membakar rumah dan menghabisi Dance. Setelah mendapat ancaman, Dance langsung menghubungi Kasat Reskrim Polres Rote Ndao, Iptu. Faisal Fatsey bersama.  Dua jam kemudian atau Pukul 17.00 Wita, sang kasat bersama anggotanya datang ke rumah Dance untuk melakukan pengamanan. Setelah memastikan aman, pukul 20.00 Wita, kasat reskrim cs kembali ke markas mereka.
Di luar dugaan, tiba-tiba Minggu (11/12/11) sekitar pukul 01.00 dinihari, sekelompok massa menyerang rumah Dance dengan batu. Bahkan dari luar mereka berteriak mengancam akan menghabisi Dance dan semua anggota keluarganya. Akibat serangan ini, Gino Novitri Henukh (1,5 bulan) yang lagi sakit langsung shock dan meninggal dunia setengah jam kemudian, tepatnya pukul 01.30 dinihari. Gino lalu dimakamkan hari Minggu itu, di siang harinya.
Derita Dance belum berakhir. Setelah serangan pertama, kelompok massa yang sama, kembali menyerangnya pada Senin (12/11/11) sekitar pukul 01.00 dinihari. Dalam penyerangan ini, mereka membakar rumah milik Dance. Semua harta bendanya ludes terbakar. Yang tertinggal hanya pakaian di badan. Karena takut, Dance beserta isteri dan keluarganya melarikan diri ke hutan.
Pembakaran rumah tersebut diduga terkait pemberitaan Tabloit Rote Ndao News yang dalam dua bulan terakhir ini memuat berita tentang dugaan korupsi Alokasi Dana Desa (ADD) yang digunakan untuk pembangunan kantor desa, serta pembangunan perumahan transmigrasi lokal (Translok) di Desa Kuli, kecamatan Lobalain, Rote Ndao  senilai Rp 3,1 miliar.
Setelah Dance diserang, intimidasi serta pengancaman kembali menimpa wartawati Erende Pos, Endang Sidin. Ia diancam oleh Jhon Terik, Anggota Satpol PP Rote Ndao. Peristiwa ini berawal ketika Endang melakukan investigasi terhadap dugaan-dugaan KKN yang terjadi di Rote Ndao. Sebab, di kabupaten yang sedang dipimpin oleh Lens Haning itu santer terdengar kebanyakan PNS disana menjadi makelar proyek, bahkan ada yang langsung mengerjakan proyek-proyek pemerintah.
Kamis (15/12/11), Endang menemui Ketua Panitia Pelelangan Proyek Program Pembangunan
Infrastruktur Perdesaan (PPIP)  APBN 2011
. Dari situ Endang menemukan keterlibatan John Terik. Fredy Lenggu menjelaskan bahwa Jhon Terik akan mengerjakan proyek PPIP dengan item pekerjaan pembangunan kantor dan jalan desa di Desa Kuli senilai Rp. 187 juta menggunakan CV. Tugu Mandiri.
Entah darimana tahunya, Kamis (15/12) malam, John menelepon Endang, “Ibu Endang, mengapa anda mencari tahu tentang tender saya, jangan hanya menulis soal korupsi, kalau anda macam-macam, anda akan saya makan”. Endang yang ketakutan langsung melaporkan ancaman itu kepada Kapolres Rote Ndao, AKBP Widi Atmono. Widi berjanji akan menindaklanjutinya.

Jumat (16/12/11) pagi, meski masih ketakutan, Endang nekad melanjutkan invesitigasinya dengan mewawancarai Sekda Rote Ndao, Agustinus Oragero. Saat itulah handphone (HP) milik Endang berdering. Ia ditelpon oleh Jhon Terik. “Dia tanya saya, posisi kamu dimana? Lalu saya bilang, saya lagi di kantor bupati,” papar Endang.

Setelah mengetahui dimana keberadaan Endang, Jhon Terik langsung mendatangi Kantor Bupati Rote Ndao. Ketika sampai disana, Jhon Terik yang mempersenjatai diri dengan sebilah pisau mendapati Endang sedang berdiri di depan ruangan kerja Sekda Rote Ndao. Tanpa ba-bi-bu, si Satpol PP itu langsung mengejar Endang. Sambil mengacungkan kepal, Jhon berteriak, “Beta (saya-red) akan bunuh lu (kamu)”.
Karena ketakutan, Endang lari menerobos ke ruang kerja Sekda. Langkah Jhon akhirnya terhenti di depan pintu masuk ruang kerja sekda. Sekda yang lagi kerja kaget bukan kepalang, “Kenapa? Ada Apa ini”. Sambil terus lari menyelinap, Endang mengatakan kalau dirinya sedang dikejar dan akan dibunuh oleh Jhon terik. Benar saja! Tak lama berselang Jhon Terik  nongol di depan pintu. Dari mulutnya keluar umpatan dan caci maki. Melihat itu, spontan Sekda beranjak dari kursi kerjanya dan langsung menghampiri Jhon. Dia mencoba menenangkan Jhon. Tapi dasar sudah kesetanan, Jhon tak peduli sedikit pun. Padahal Sekda itu pimpinannya.  
Sementara di dalam, Endang terus berusaha menelpon Kapolres Rote Ndao. Sayang Hpnya sang komandan off. Karena itu Endang lantas menghubungi Anggota DPD RI, Sarah Lery Mboeik. Sarah lalu menelpon Kapolda NTT,  Brigjen Pol. Ricky HP Sitohang. Atas perintah Kapolda, 30 menit kemudian Endang dievakuasi  Satuan Lantas (Satlantas) Polres Rote Ndao. Toh begitu, Jhon Terik masih sempat mengejar Endang. Beruntung dapat dihadang anggota satlantas.
Kini kedua kasus tersebut sedang ditangani Polres Rote Ndao. Kapolda NTT berjanji akan mengusut tuntas kasus ini (yang benar aja pak,,,,,,,, kami tunggu hasilnya).
Aksi kekerasan tersebut memicu solidaritas wartawan hampir di seluruh Indonesia, tak terkecuali puluhan wartawan di Kota Kupang, ibukota Provinsi NTT. Kaum buruh pers yang tergabung dalam Forum Solidaritas Wartawan (FSW-NTT) itu, Senin (19/12/11) menggelar aksi unjuk rasa ke Mapolda NTT, DPRD NTT dan Kantor Gubernur NTT. Mereka mendesak polisi untuk segera menangkap para pelaku.
Dalam surat penyataannya, FSW-NTT meminta Kapolda NTT segera mengusut tuntas tindakan kriminal terhadap para pekerja pers tersebut, serta mencopot Kapolres Rote Ndao yang dinilai lamban menangani kasus Dance dan Endang.
“Kami minta kapolda untuk memberikan proteksi terhadap seluruh wartawan di NTT, terutama dalam kegiatan jurnalistik mengungkap kasus-kasus korupsi di daerah ini. Kami juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk stop melakukan kekerasan terhadap wartawan,” tulis FSW-NTT dalam pernyataan mereka yang diterima Kapolda NTT saat menggelar unjukrasa.
By. CHRIS PARERA

Pohon Natal dan Legenda Bonafasius


sergapntt.com – Kisah kelahiran Yesus diceriterakan dalam Injil. Namun Injil tak bicara soal perayaan Natal. Tradisi Natal, termasuk Pohon Natal, baru muncul kemudian. Sebagian tradisi Natal diambil alih dari tradisi kafir. Haruskah kita menolaknya?
Sekitar tahun 1600-an, perayaan Natal pernah dilarang resmi di Inggris dan di beberapa negara koloninya. Pasalnya, hari raya Natal dianggap sebagai hari raya orang kafir. Hal ini terutama karena pengaruh pandangan Protestan pada masa itu. Kendati dilarang, masyarakat yang sudah terlanjur cinta perayaan Natal, tak bisa dibendung untuk tetap merayakannya. Dan pesta ini tetap berlangsung hingga kini.

Hari Raya Natal sebagai perayaan kristiani dan hal-hal yang berkaitan dengan tradisi Natal, sampai hari ini masih diperdebatkan oleh sekelompok kecil orang. Beberapa orang non-kristiani malah sempat melontarkan tuduhan pembohongan publik berkaitan dengan Natal. Salah satu tradisi yang tergolong baru adalah Tradisi Pohon Natal. Kebiasaan yang sudah amat popular inipun masih sering dipertanyakan orang. Aliran Gereja tertentu malah mengharamkan tradisi ini.

Amat Digemari.

Injil Lukas menceriterakan kisah kelahiran Yesus lengkap dengan kisah malaikat dan gembala-gembala. Sementara Matius menceriterakan tiga orang bijak dari Timur yang berjalan mengikuti bintang terang yang menunjukkan dimana Yesus berada. Injil menyebutkan bahwa Yesus lahir pada jaman Herodes berkuasa, namun tidak menulis tanggal persis kelahiran-Nya. Injil juga tak pernah menulis tentang kebiasaan merayakan hari kelahiran Yesus.

Natal atau Perayaan kelahiran Yesus baru mulai tercantum dalam kalender Romawi pada tahun 336, atau 300 tahun lebih sesudah kematian Yesus. Tanggal 25 Desember yang ditetapkan sebagai Hari Raya Natal, pada awalnya merupakan perayaan hari kelahiran dewa matahari. Orang kristiani yang menyebut Kristus sebagai Terang Dunia mengambil alih pesta ini sebagai hari Natal, kelahiran Yesus.

Perayaan Natal nampaknya cepat digemari umat kristiani. Pada tahun 1100 Natal sudah menjadi perayaan keagamaan paling penting di Eropa. Seiring dengan hal itu muncul juga pelbagai tradisi yang berkaitan dengan Natal. Santo Fransiskus, misalnya, memulai tradisi membuat kandang Natal pada tahun 1223. Waktu itu ia membuat dekorasi kandang Natal di Gereja Greccio dekat Asisi, Italia. Pada mulanya, ia hanya meletakkan tiga tokoh Natal, yaitu Yesus, Maria dan Yosef di dalam kandang. Pada tahun-tahun selanjutnya ia menambahkan tokoh-tokoh lain seperti para gembala, hewan ternak, Tiga Raja dari Timur dan malaikat. Kini tradisi ini dikenal hampir di seluruh dunia.

Pohon Natal dan Legenda St. Bonifasius.

Salah satu tradisi yang juga dikenal luas adalah tradisi pohon Natal. Pohon Natal biasanya berupa pohon cemara (asli maupun plastik) dihias dengan lampu warna-warni serta segala pernak-perniknya. Tradisi ini mulai di negeri Jerman pada abad ke-16. Menurut legenda, Santo Bonifasius suatu hari bertemu sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon oak. Untuk menghentikan perbuatan jahat itu, secara ajaib Bonifasius merobohkan pohon oak dengan pukulan tangannya. Di tempat pohon oak yang roboh itu tumbuhlah sebuah pohon cemara. Bonifasius menganggap pohon cemara tersebut sebagai lambang iman kristiani. Dari legenda inilah kemudian lahir tradisi pohon Natal.

Sebelum berkembang dalam tradisi kristiani, pohon cemara sudah lama digunakan dalam perayaan keagamaan oleh bangsa Romawi. Pohon ini digunakan dalam perayaan peringatan kelahiran dewa matahari. Mereka menghiasi pohon cemara dengan hiasan-hiasan serta topeng-topeng kecil. Pohon cemara dipakai antara lain karena memiliki makna simbolik.

Pada musim dingin, ketika daun-daun pohon mulai menguning dan kemudian berguguran, pohon cemara tetap hijau daunnya. Karenanya pohon cemara yang evergreen, selalu hijau ini dianggap cocok melambangkan kehidupan yang terus menerus. Makna ini juga cocok dengan keyakinan hidup kekal dalam agama kristiani. Makna simbolik pada gilirannya makin memperkokoh keberadaan tradisi pohon Natal kristiani.

Dari Jerman, tradisi pohon Natal menyebar ke berbagai tempat lain. Ketika Ratu Viktoria dari Inggris menikah dengan Pangeran Albert dari Jerman (10/02/1840), tradisi pohon Natal ini dengan cepat menjalar juga di Inggris. Ratu Viktoria memang amat menyukai tradisi ini. Pada akhir abad ke-19, tradisi pohon Natal praktis sudah dikenal luas dimana-mana. Industri yang memproduksi hiasan berupa pohon Natal makin mempopulerkan tradisi ini. Salah satu Pohon Natal yang terkenal adalah yang ada di Rockefeller Centre, New York karena amat besar dan menarik. Pohon Natal yang dipasang di lapangan Santo Petrus, Vatikan, juga menarik karena tingginya. Indonesia dan Filipina yang amat terpengaruh tradisi Barat menyukai tradisi pohon Natal. Namun tidak semua tempat menyukai pohon Natal. Di Afrika Selatan, keberadaan pohon Natal kurang dikenal; sementara masyarakat India lebih memilih pohon mangga dan pohon pisang daripada cemara.

Kerinduan Manusia.

Pohon cemara yang evergreen, selalu hijau, adalah lambang kehidupan yang terus berlangsung, abadi. Pohon Natal sering juga disebut Pohon Terang karena penuh dengan cahaya benderang. Dalam Kitab Suci, terang acapkali digunakan sebagai simbol kehidupan surgawi, bersih tanpa dosa. Sebaliknya, kegelapan adalah lambang kehidupan yang penuh dengan gelimang dosa.

Pohon Natal sepertinya menyentuh hati umat manusia karena memiliki makna simbolik yang pas. Pohon Natal seolah-olah menyiratkan kerinduan manusia akan dunia surgawi, dunia yang damai dimana segala sesuatu adalah anugerah dan rahmat. Merayakan Natal tanpa Pohon Natal bukanlah sesuatu yang penting. Namun, merayakan Natal tanpa kerinduan hati akan perdamaian, barulah sesuatu yang patut dipertanyakan. Selamat Natal.

by. Heri Kartono,OSC (Dimuat di Majalah Fraternite edisi Desember 2007)

Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana


Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah akumanyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
By. INAYATI / dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.

Rina (15), Diangkap Polisi Karena Jadi Germo


sergapntt.com (Surabaya) – Polrestabes Surabaya kembali membongkar praktik prostitusi di kalangan pelajar. Ironisnya, yang jadi germo dalam bisnis esek-esek tersebut, adalah siswi kelas IX yang baru lulus SMP. Dan, yang dia jual ke pria hidung belang adalah teman sekolahnya sendiri.
Sebut saja namanya Rina(15 ) ABG yang tinggal di Jl Kupang Jaya ini baru saja lulus SMP. Pengakuannya cukup mengagetkan. Pasalnya, jaringan bisnis esek-esek yang dijalaninya, semuanya melibatkan siswi SMP. Mulai yang bertindak sebagai mucikari, yang menjadi perantara, dan yang melayani lelaki hidung belang. ’’Sampai yang mencarikan order, semuanya masih berusia 15 tahun-an,’’ ujar Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Anom Wibowo.
Rina berhasil dibekuk petugas Unit Pidana Ekonomi (pidek) Satreskrim Polrestabes Surabaya. Dia ditangkap di Hotel Royal Regal, Jl Jaksa Agung Suprapto.
Perempuan muda belia berinisial CN (15) dan AN(15), warga Jalan Kedung Rukem, Kota Surabaya adalah korbannya
Berdasar data yang dihimpun, menyebutkan, Rina adalah pelajar SMP kelas IX yang baru lulus tahun 2011 dan akan mendaftarkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) itu menjual temannya sendiri karena terpengaruh lingkungan. “Sebenarnya Rina adalah golongan dari orang cukup, namun karena lingkungan maka ia mencoba menjajakan temannya ke pria hidung belang,” ungkap AKBP Anom Wibowo, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya.
Dari penangkapan Rina yang diketahui juga anak band pada posisi drum itu, petugas mendapatkan barang bukti berupa uang tunai Rp 700 ribu untuk sekali kencan,dan Kondom
Anom menambahakan, selama ini Rina juga kerap melayani hidung belang. Dan sudah punya cukup banyak pelanggan. Beberapa pelanggan Rina, kerap meminta Rina untuk mencarikan teman yang mau diajak kencan.
Terbongkarnya kasus trafficking itu bermula saat petugas unit Pidek Satreskrim Polrestabes Surabaya yang dipimpin Iptu Ricky Firmansyah mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa ada perdagangan anak di bawah umur dijajankan ke pria hidung belang. Polisi langsung melakukan pengintaian dan mendapatkan Rina dan korban CN di lokasi samping hotel . Dari situ petugas mengikuti keduanya, serta pria hidung belang. Ternyata mereka menuju hotel di Jalan Jaksa Agung Surabaya. Akhirnya petugas langsung melakukan penggerebekan di lokasi kejadian.
’’Tiga orang kita amankan,’’ papar Anom. Yakni, Rina dan dua teman sekolahnya CN dan AN, yang tinggal di Jl Kedung Rukem. Ketiganya pelajar satu sekolah, yang baru lulus SMP. Kepada polisi,Rina mengaku melakoni bisnis esek esek itu, sebagai bentuk pelampiasan.
Lebih lanjut Anom mengatakan, bisnis prostitusi di kalangan pelajar, saat ini makin memprihatinkan. Dia berharap agar  para orangtua dan pihak sekolah,lebih mengawasi anak dan siswinya.(

By. COPAS

Tundukkan Villa, Liverpool Naik Satu Peringkat


sergapntt.com [LONDON] – Liverpool berhasil meneruskan tren positifnya, kali ini giliran tuan rumah Aston Villa yang berhasil mereka kalahkan dengan skor 2-0, Minggu (18/12).
Bermain di kandang Villa sebenarnya Liverpool sedikit kaget dengan serangan yang sedikit membuat lini belakang Liverpool waspada. Namun, gol di menit kesebelas melalui Craig Bellamy membuat jalannya pertandingan sedikit berubah.

Gol Bellamy tersebut memanfaatkan kemelut yang terjadi di depan gawang Villa. Bahkan, empat menit berselang tepatnya pada menit ke-15, Liverpool berhasil menggandakan keunggulannya melalui tandukan Martin Skrtel memanfaatkan tendangan pojok Bellamy.

Liverpool pun terus menggempur pertahanan tim tuan rumah. Namun, hingga babak pertama berakhir tak ada lagi gol tambahan yang tercipta, Liverpool tetap unggul 2-0 dari tuan rumah Aston Villa.

Di babak kedua, Liverpool semakin mendominasi, serangan-serangan mereka pun semakin membuat lini pertahanan Villa bekerja keras. Luis Suarez, Charlie Adam dan juga Bellamy terus menciptakan peluangnya, namun keberuntungan ternyata sedikit tak berpihak, banyak peluang emas yang tercipta mentah di mistar maupun tiang gawang Villa.

Hingga babak kedua berakhir, tak ada lagi gol yang berhasil tercipta, keunggulan 2-0 berhasil dipertahankan oleh Liverpool. Dengan hasil ini, Liverpool berhasil merangsek ke posisi keenam klasemen sementara dengan 29 poin, sedangkan Aston Villa masih berkutat di posisi kesepuluh dengan 19 poin.

By. END