Partai Golkar Pecat Veki Lerik


sergapntt.com [KUPANG]-  Setelah direposisi dari jabatannya sebagai Ketua DPRD Kota Kupang melalui SK Gubernur NTT nomor: PEM.172.1/272/II/2011 tentang peresmian pengangkatan pengganti ketua dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Kota Kupang masa jabatan 2009/2014 tanggal 18 November 2011, kini Veki Lerik kembali dipecat dari Partai Golkar.
Lewat akun facebooknya, Veki mengaku kaget menerima surat dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar yang menyetujui usulan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Kota Kupang, Drs. Daniel Adoe untuk memecat dirinya dari Partai Golkar.
“Wadoooohhhhh . . . Veki barusan pulang sosialisasi dan sampai dirumah veki mendapat surat dari DPP PARTAI GOLKAR yang menyutujui usulan DPD ll partai golkar kota kupang yang dipimpin daniel adoe yang juga walikota kupang untuk memecat veki dari partai golkar dan diusulkan untuk di PAW dari anggota DPRD Kota Kupang . yang aneh dari surat itu adalah alasan disetujui usulan dari DPD ll partai golkar yang dipimpin daniel adoe yang disetujui oleh DPP partai golkar adalah karena veki melanggar aturan organisasi partai golkar , yang melanggar aturan partai seperti apa ? Karena veki belum pernah ditegur secara lisan dan tertulis dari partai golkar yang sesuai PO organisasi partai golkar , jadi siapa yang salah dan melanggar PO organisasi?,” tulis Veki yang menuai simpati faceboker lainnya.
Toh begitu Veki mengaku tetap patuh terhadap putusan partai. “Veki mungkin harus bertanya pada rumput yang bergoyang dan tidak lupa juga veki bertanya pada si bego dan yoris teman veki itu . . . he he he . . . satu point yang teman fb harus tahu adalah tanggapan veki terhadap surat usulan DPD ll Partai Golkar yang dipimpin Daniel Adoe yang juga Walikota Kupang itu dan disetujui oleh DPP Partai Golkar itu? Tanggapan Veki adalah , EGP dan veki tetap COLL MAN . . .,” tulisnya lagi.
By. CHRIS PARERA

Pingin Payudara Kencang? Baca Disini!


sergapntt.com – Payudara kencang dan indah adalah impian setiap wanita di dunia. Kendornya payudara pada wanita biasanya disebabkan oleh kebiasaan tak menggunakan bra, jarang berolah raga, dan kebiasaan malas merawat payudara setelah melahirkan.
Payudara yang kendor tidak memberikan penampilan yang menarik bagi wanita, sedangkan payudara yang kencang dapat membuat payudara indah di mata siapa saja. Cara mengencangkan payudara secara alami adalah dengan melakukan tiga teknik, berikut caranya:
Pertama: Menggunakan push up bra. Bra yang didesain untuk menaikkan payudara memang digunakan agar payudara tampak kencang. Beberapa bra yang memiliki energi ion dengan model push up juga dapat membantu meregenasi sel payudara agar nampak lebih kencang.
Kedua: berolah raga. Olah raga yang bertujuan untuk mengencangkan payudara adalah senam tangan dan bahu. Rentangkan tangan dari dada ke samping dan dari bahu ke atas, masing-masing sebanyak dua puluh sampai dengan empat puluh kali pada awal mulanya atau sesuai dengan kemampuan dan jangan dipaksakan. Kemudian, berangsur-angsur ditambah sampai dengan seratus kali atau lebih sesuai dengan kemampuan. Gerakkan tangan dari depan dada lurus ke atas secara bergantian antara tangan kanan dan tangan kiri. Lakukan gerakan tersebut sebanyak dua puluh sampai dengan empat puluh kali, kemudian berangsur-angsur ditambah sampai dengan seratus kali atau lebih sesuai dengan kemampuan. Agar payudara kencang, lakukan masas payudara setiap hari sebelum mandi, pagi dan sore hari.
Ketiga: menggunakan media minyak zaitun atau kelapa. Lakukan gerak memutar sekitar payudara searah dengan arah jarum jam sebanyak sepuluh sampai dengan dua puluh kali. Kemudian, putar ke arah sebaliknya yakni berlawanan dengan arah jarum jam sebanyak sepuluh sampai dengan dua puluh kali.
Tambahkan gerakan atas bawah menggunakan dua tangan, tangan kanan memegang payudara bagian atas, tangan kiri memegang payudara bagian bawah. Lakukan pijatan ringan bawah ke atas dan atas ke bawah secara bergantian. Lakukan gerakan yang sama dengan payudara yang lain.
By. Miranda Kalila

Wartawan Buat Nota Kesepahaman Dengan Polisi


sergapntt.com [KUPANG] – Guna meminimalisir dan tuntasnya penanganan kasus-kasus tindak kekerasan terhadap para pekerja pers di Provinsi Nusa tenggara Timur (NTT), para wartawan yang tergabung dalam Forum Solidaritas Wartawan (FSW-NTT) membuat nota kesepahaman dengan Kepolisian Daerah (Polda) NTT.
 Saat menggelar aksi unjuk rasa, Senin (19/12/11), terkait makin maraknya tindak kekerasan terhadap para wartawan di NTT, FSW meminta Kapolda NTT, Brigjen Pol. Ricky HP Sitohang untuk menandatangani nota kesepahaman antara polisi dengan wartawan.  
Bunyinya: Di hadapan ke-ESAAN TUHAN yang Berdaulat atas Langit dan Bumi – berdaulat atas Kehidupan dan Kematian, kami Forum Solidaritas Jurnalis Nusa Tenggara Timur (FSJ-NTT) setelah mencermati dengan saksama fenomena aksi kekerasan yang sering menimpa Jurnalis NTT beberapa waktu belakangan, dan sangat menggelisahkan Insan Pers NTT dalam melaksanakan tugas sebagai Pilar Pengentorol Perjalanan Pembangunan Bangsa dan Daerah, maka FSW-NTT meminta Kapolda NTT untuk;
1.           Memberikan perlindungan secara institusional kepada setiap pekerja pers yang sedang melaksanakan tugas jurnalistiknya di seluruh wilayah provinsi kepulauan ini.
2.           Segera mengungkap tuntas kasus termasuk actor di balik pembakaran rumah jurnalis Rote Ndao News dan Erende Pos, atas nama Dance Robi Henuk pada Minggu (11/12) dan Senin (12/12) yang telah berakibat meninggalnya anak sang jurnalis tersebut bernama Dino Novitri Henuk (1,5) bulan.
3.           Menerapkan pola penyelesaian hukum terhadap tragedi pembakaran rumah jurnalis Dance Robi Henuk secara transparan dan profesional demi penegakan hukum yang lebih bermartabat di daerah dan negeri ini.
Kesepahaman ini adalah akta sakral yang disahkan oleh TUHAN Yang  MAHA KUASA dan disaksikan Oleh Forum Solidaritas Jurnalis NTT dan Rakyat Nusa Tenggara Timur sebagai subjek Pembangunan di Provinsi Kepulauan ini.
“Ya,,, kesepahaman ini akan saya tanda tangani. Karena saya sangat mendukung kerja-kerja wartawan. Terutama dalam upaya membongkar kasus-kasus KKN di NTT,” ujar Ricky Sitohang saat menerima FSW di ruang kerjanya.
Usai menemui Kapolda, para wartawan kembali melakukan long march menuju gedung DPRD dan Kantor Gubernur NTT. Kepada DPRD dan Gubernur NTT, FSW meminta segera membentuk pansus dan tim khusus guna penyelesaian kasus kekerasan terhadap wartawan di Rote Ndao.
By. Chris Parera

Wartawan Usir Bupati Rote Ndao


sergapntt.com [KUPANG] – Bupati Kabupaten Rote Ndao, Lens Haning diusir puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Solidaritas Wartawan (FSW) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari ruang kerja Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay.
Kejadian ini bermula ketika FSW menggelar aksi unjukrasa di Kantor Gubernur NTT terkait sejumlah tindak kekerasan terhadap pekerja pers di Kota Kupang dan Rote Ndao yang berujung rusaknya kamera milik wartawan TVRI, Deny Fernandez, serta terbakarnya rumah milik wartawan Tabloid Rote Ndao News, Dance Henuk, serta meninggalnya Gino Novitri Henukh (1,5 bulan), putra kesayangan Dance Henuk.  
Setelah 5 menit berorasi di depan kantor gubernur, oleh humas gubernur NTT, wartawan lalu diperkenankan bertemu Wakil Gubernur NTT. Namun, saat hendak masuk (kira-kira 10 meter dari pintu masuk ruang kerja wakil gubernur), wartawan berpapasan dengan Bupati Rote Ndao yang bermaksud menemui para wartawan. Kontan saja para wartawan emosi. Apalagi ketika mengingat tindak dan sikapnya yang tidak mengakui wartawan di daerahnya.
“Hei berangkat kau dari sini. Kami datang tidak untuk bertemu kau. Ini kantor gubernur NTT. Kami mau ketemu gubernur atau wakil gubernur. Bukan kau,,,,,” teriak wartawan beramai-ramai.
Mendengar itu, sang bupati yang dibalut muka ‘merah’ langsung berbalik nyelonong masuk ke ruang tunggu wakil gubernur NTT.
Suasana kembali memanas ketika para wartawan masuk ke ruang kerja wakil gubernur mendapati Bupati Rote Ndao duduk manis disamping wakil gubernur.  Di sesi ini, wartawan kembali menghadriknya, “Bupati Rote Ndao keluar dari sini. Kami mau berbicara dengan wakil gubernur. Kami tidak butuh anda,” teriak para wartawan sahut menyahut.
Menghadapi wartawan yang lagi ‘mendidih’, wakil gubernur pun berusaha menenangkan suasana. “Sudah,,, sudah,,, mari kita duduk. Kita bicara pakai hati. Labu aja ada hati, masa,,, wartawan tidak punya hati,,, hahahaha,,,” ujar Esthon Foenay sedikit berguyon.
Bupati Rote Ndao pun nyambung, “Saya datang kesini karena diundang oleh pak wakil gubernur. Jadi saya jangan diusir kayak gini. Saya ini tamu disini,,”.
Namun wartawan benar-benar sudah teguh pendirian. Bupati Rote Ndao tetap diminta untuk segera keluar dari ruangan kerja wakil gubernur. “Kami hanya mau bicara dengan wakil gubernur. Kami tidak ingin bupati ada disini. Sebaiknya bupati keluar, atau kami yang keluar,,” sergah para wartawan.
Karena tak memungkinkan, wakil gubernur pun berinisiatif, “Okelah, kalau begitu, kasi saya dua menit untuk bicara dengan  pak bupati”.
Keduanya langsung beranjak dari kursi meja rapat yang dipakai untuk menerima wartawan menuju meja kerja wakil gubernur yang terletak di sisi lain ruangan itu. Keduanya terlihat komat kamit, entah bicarakan apa. Setelah itu Bupati Rote Ndao keluar ruangan sembari terus diteriaki wartawan. Wakil gubernur lalu kembali ke kursinya di kepala meja rapat untuk melanjutkan diskusi dan dengar aspirasi para wartawan. Ketika duduk, wakil gubernur yang humoris itu nyeletuk, “Waduh,,,,, kamu nih,,,, masa orang ada lambang garuda di dada, bisa kamu usir tu,,,,”. Sentilan wakil gubernur ini disambut tawa dan ucapan seloroh dari kerumunan wartawan, “Biar dia rasa, supaya dia tahu, yang bisa usir orang, bukan hanya bupati, tapi wartawan juga bisa”.
Kepada wakil gubernur, FSW meminta bantuan pemerintah provinsi (pemprov) NTT untuk turut serta membantu polisi mengungkap berbagai kasus yang menimpa para wartawan di NTT. Atas permintaan tersebut, wakil gubernur menyanggupinya.
“Oke,,, saya akan kirim tim intelejen pemda ke Rote Ndao untuk menyelidiki kasus ini. Setidaknya bisa membantu polisi untuk mengusut kasus ini. Saya juga akan segera berkoordinasi dengan pak Kapolda terkait penanganan kasus ini. Moga-goga kasus ini cepat terungkap dan selesai,” imbuh sang wakil gubernur.
By. Chris Parera

Wartawan Minta Mendagri “Tindak” Bupati Rote Ndao


sergapntt.com [KUPANG] – wartawan yang tergabung dalam Forum Solidaritas Wartawan (FSW) Provinsi Nusa tenggara Timur (NTT) meminta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk segera menindak atau memberi peringatan keras kepada Bupati Kabupaten Rote Ndao, Lens Haning yang lancang mengusir wartawan dari daerahnya.
Dalam suratnya bernomor: Hms 480/034/Kab.RN/2011, Haning mengatakan, sehubungan dengan pemberitaan harian Umum (HU) Erende Pos edisi Jumat (12/8/11) dengan dua judul pada halaman depan, masing-masing; “Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Dinilai Bohongi BPK dan DPRD” dan “Bupati Rote Ndao Dinilai Tidak Konsisten dan Melanggar Hukum”, serta edisi Rabu (10/8/11) dengan judul “Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Sabotase Seminar Nasional”, maka Pemkab Rote Ndao tidak lagi mengakui lagi keberadaan ketiga wartawan Erende Pos dalam kapasitas apa pun, yakni saudara Liberanus Mami, Frits Fa’ot dan Endang Sidin.
“Karena itu, kami meminta Mendagri melalui Gubernur NTT untuk memberikan peringatan keras kepada Bupati Rote Ndao yang mengusir dan melarang wartawan untuk melakukan aktivitas jurnalistik di daerah itu. Ini perbuatan konyol dan sangat,,, sangat,,, tidak bertanggung jawab,” teriak para wartawan FSW saat menggelar unjukrasa di Kantor Gubernur NTT, Senin (19/12/11).
By. CHRIS PARERA