HUT NTT ke-53 Diwarnai Unjukrasa Wartawan


sergapntt.com [KUPANG] – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ke 53 yang dilaksanakan di aula El Tari Kupang, Kamis (22/12/11), diwarnai aksi unjukrasa puluhan wartawan yang tergabung dalam Forum Solidaritas Jurnalis (FSJ-NTT).
Aksi para pekerja pers yang digelar di pelataran Kantor Gubernur NTT ini untuk meminta Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay bersikap tegas terhadap arogansi Bupati Kabupaten Rote Ndao, Drs. Leonard Haning yang menolak kehadiran tiga wartawan Harian Umum (HU) Erende Pos, Liberanus Mami, Frits Fa’ot dan Endang Sidin di Roteb Ndao. Melalui suratnya bernomor: Hms 480/034/kab.RN/2011, bupati yang juga Ketua DPC Partai Demokrat  Kabupaten Rote Ndao itu menegaskan, ia tidak mengakui Liberanus Mami cs dalam kapasitas apa pun di Rote Ndao.
Demo para wartawan itu sempat menyulut perhatian para undangan HUT NTT yang datang dari Republic Demokratica de Timor Leste (RDTL), Provinsi Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta para bupati dan walikota se NTT.
Setelah berorasi sekitar 2 jam di pelataran Kantor Gubernur, para wartawan akhirnya diajak oleh Sekretaris Daerah (Sekda) NTT, Frans Salem, SH untuk berdialog di ruang rapat Sekda NTT. Sebab, Gubernur dan Wakil Gubernur tidak berada di tempat, lantaran masih mengikuti rapat koordinasi (Rakor) dengan para bupati dan walikota se NTT di Hotel Kristal Kupang.
“Kehadiran kami hari ini untuk minta ketegasan sikap dari pemerintah provinsi (Pemprov) NTT terhadap sikap arogan yang ditunjukan bupati Rote Ndao,” ujar Koordinator FSJ-NTT, Yes Petrus membuka dialog.
Kepada wartawan, Frans Salem megatakan, prinsipnya pemprov NTT tidak sepakat dengan sikap anti wartawan yang ditunjukan Bupati Rote Ndao. “Kita sangat prihatin, kenapa itu sampai terjadi. Prinsipnya, pemerintah provinsi tidak sepakat dengan sikap bupati yang mengeluarkan surat anti wartawan itu,” ucap Salem, kritis.
Usai berdialog sekitar 2 jam, wartawan akhirnya membubarkan diri.
By. CHRIS PARERA

Pelaku Pembakaran Rumah Wartawan Ditangkap


sergapntt.com [KUPANG] – Para pelaku pembakaran rumah Dance Henuk, wartawan Tabloid Rote Ndao News, akhirnya ditangkap aparat Polres Rote Ndao tanpa perlawanan. Para pelaku yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka itu terdiri dari Jonas Nalle (50), Simon Zakarias (21), Paulus Nalle (22) dan Josri Tine (19).

Menurut Kapolres Rote Ndao, AKBP. Widi Atmono, para tersangka kini telah ditahan di mapolres Rote Ndao. Kenapa Jonas cs membakar rumah milik Dance Henuk? Kata Widi, Jonas mengaku dendam terhadap Dance lantaran Dance pernah menudingnya sebagai suanggi/ahli ilmu santet.
Namun modus yang disampaikan Widi dibantah oleh Dance Henuk. Kepada wartawan di Kantor Gubernur NTT, Kamis (22/12/11), Dance mengaku ia tidak pernah menuding apalagi sampai mengucapkan kalau Jonas itu suanggi. “Saya tidak pernah omong itu. Patut saya duga kalau alasan yang disampaikan polisi itu merupakan upaya mengalihkan isu,” tegasnya
Soal para pelaku telah ditangkap, dibenarkan juga oleh Kapolda NTT, Brigjen (Pol) Ricky Sitohang pada Selasa (20/12/2011). Dalam keterangan persnya, Kapolda Ricky yang saat itu didampingi Wakapolda NTT, Kombes (Pol) Eddy Haryanto, Karo Ops, Marpin Effendi dan Humas, Kompol Antonia Pah, menjelaskan, Jonas Cs kini sudah ditahan di Polres Rote Ndao. “Kasus yang menimpa wartawan di Rote Ndao sudah ditindaklanjuti. Tadi pagi, sudah ada empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan. Mereka diduga sebagai perencana dan pelaksana pembakaran rumahnya Dance,” kata Ricky.
Dalam pemeriksaan, tersangka mengakui membakar rumah korban Dance. Meski demikian, kata Kapolda, penyidik masih terus mengembangkan penyidikan lebih lanjut untuk mencari tahu kemungkinan ada penyebab lain dari peristiwa ini.
Sedangkan soal pengancaman Jhon Terik, anggota Satpol PP terhadap Wartawati Erende Pos, Endang Sidin, Ricky Sitohang mengatakan, pihaknya juga sudah menindaklanjutinya. Sejumlah anggota Pol PP sudah dipanggil dan menjalani pemeriksaan intensif di Polres Rote Ndao. “Siapa pun yang melanggar hukum akan diproses hukum. Siapa pun yang menjadi korbannya akan dilindungi oleh polisi,” tegas Kapolda. 
By. CHRIS PARERA / PK

Rote Ndao, Zona Merah Bagi Wartawan


sergapntt.com [KUPANG] –  Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kupang, Yemris Fointuna mengatakan Kabupaten Rote Ndao kini menjadi zona merah bagi wartawan. Sebab, keberadaan para kuli tinta di daerah itu sering diintimidasi oleh Bupati Rote Nado, Drs. Leonard Haning, MM dan orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Ini berawal ketika tanggal 20 Agustus 2011 lalu,Leonard Haning, MM mengeluarkan surat pernyataan resmi bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao tidak mengakui keberadaan tiga orang wartawan Harian Umum (HU) Ernde Pos atas nama Liberanus Mami, Frits Fa’ot dan Endang Sidin terkait pemberitaan media tersebut yang menurutnya terlalu kritis dan tidak berimbang.  
Dalam suratnya bernomor: Hms 480/034/Kab.RN/2011, Haning mengatakan, sehubungan dengan pemberitaan HU Erende Pos edisi Jumat (12/8/11) dengan dua judul pada halaman depan, masing-masing; “Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Dinilai Bohongi BPK dan DPRD” dan “Bupati Rote Ndao Dinilai Tidak Konsisten dan Melanggar Hukum”, serta edisi Rabu (10/8/11) dengan judul “Pemerintah Kabupaten Rote Ndao Sabotase Seminar Nasional”, maka Pemkab Rote Ndao tidak lagi mengakui lagi keberadaan ketiga wartawan tersebut dalam kapasitas apa pun.
Sejak saat itulah, wartawan yang bertugas di Rote Ndao selalu diteror jika menulis berita yang isinya mengkritisi pemerintah. Klimaksnya, Minggu (11/12/11) dini hari, sekitar pukul 01.00 Wita, rumah wartawan Tabloid Rote Ndao News, Dance Henuk diserang, dirusaki lalu dibakar massa. Akibatnya, bayinya yang baru berumur 1 bulan meninggal dunia akibat terkena lemparan batu.
Tak hanya sampai disitu, Kamis (15/12/11) giliran Endang Sidin yang di kejar. Wartawati ini bahkan diancam akan dibunuh oleh Jhon Terik, Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Rote Ndao. Sudah begitu, polisi lamban pula menangani masalah tersebut.
“Bagi saya, Rote Ndao itu zona merah. Cukup berbahaya bagi wartawan,” ujar Yemris saat berdiskusi dengan awak Kontras Nusra, Cis Timor, Forum Solidaritas Jurnalis (FSJ-NTT) yang dihadiri oleh mantan Anggota DPRD NTT, Pius Rengka, Anggota DPD RI, Sarah Lery Mbuik serta Dance Henuk dan Endang Sidin di sekretariat Kontras Nusra di Kupang, Rabu (21/12/11) malam.
Sementara itu Lery Mbuik mengatakan, pemerintahan Rote Ndao dibawah kendali Leonard Haning sangat feodalis dan represif. “Pemerinatah Rote Ndao itu feodalis dan represif. Saya aja diintimidasi, apalagi masyarakat biasa lainnya,” papar Lery Mbuik, penuh emosi.
By. CHRIS PARERA

Wartawan Erende Pos Minta Perlindungan Kontras


sergapntt.com [KUPANG] – Wartawan Harian Umum (HU) Erende Pos, Dance Henuk dan Endang Sidin akhirnya kabur dari Kabupaten Rote Ndao guna mencari perlindungan di Kota Kupang. Dengan menumpang kapal cepat, Dance dan Endang yang ditemani wartawan Metro TV, A. Taufiq dan Pernanda Kusuma tiba di Kupang pukul 14.00 WITENG, Rabu (21/12/11).
“Di Rote saya tidak merasa nyaman lagi. Apalagi ketika polisi melepas para pelaku yang diduga membakar rumah saya. Karena itu, saya datang ke Kupang, untuk meminta perlindungan dari teman-teman wartawan, Kontras, Cis Timor dan lembaga-lembaga lain yang peduli terhadap masalah yang saya alami,” ujar Dance saat ditemui sergapntt.com di Sekretariat Kontras Nusra di Kupang, Rabu (21/12/11).
Senin (11/12/11) lalu, rumah milik Dance diserang dan dibakar oleh orang tak dikenal. Akibat serangan yang membabi buta itu, rumahnya rata dengan tanah dan ponakannya yang baru berumur 1 bulan tewas ditempat akibat terkena lemparan batu.
Diduga serangan itu akibat pemberitaan yang dilansir HU Erende Pos tentang berbagai dugaan tindak KKN di Rote Ndao.
Sejauh ini polisi telah menetapkan empat tersangka, yakni Sony Nale, Paulus Nale, Simon Zakarias, dan Jorsi Tine. Namun polisi hanya menahan Yonas Nale dan Jorsi Tine.
“Saya tidak tahu kenapa polisi lepas itu pelaku. Itu yang membuat saya takut, makanya saya lari ke Kupang ini,” ucap Dance, lirih.
Menurut Dance, dari keterangan saksi-saksi, para pelaku berencana untuk membunuhnya. Namun niat itu urung karena sebagaian pelaku takut.
“Awalnya mereka berencana membunuh saya. Tapi karena sebagian dari mereka takut, akhirnya mereka hanya melempar rumah hingga mengakibatkan anak saya meninggal, dan membakar rumah saya,” papar Dance.
Setelah berada di Kupang, Dance mengaku legah. Ia bisa sedikit lebih rileks karena jauh dari ancaman. “Sekarang saya bisa lebih santai,” imbuhnya.
Pengakuan yang sama disampaikan juga oleh Endang. Wartawati Erende Pos ini mengaku tidak nyaman di Rote Ndao pasca ancaman yang ia terima dari Jhon Terik, anggota Satpol PP Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote   Ndao.
“Saya tidak nyaman di Rote Ndao, makanya saya datang menemui teman-teman wartawan, Kontras dan Cis Timor di Kupang,” ujar Endang.
Sementara itu, koordinator Kontras Nusra, Marthen Salu mengatakan pihaknya akan terus mendampingi Dance dan Endang hingga proses hukum bagi para pelaku selesai.
“Kami sangat prihatin dengan masalah yang dihadapi Dance dan Endang ini. Koq bisa begini? Ini sudah sangat keterlaluan. Kami akan mendampingi mereka sampai selesai,” tegasnya, singkat.
By. Chris Parera

Bupati Rote Ndao Tantang Wartawan Adu Jotos


sergapntt.com [KUPANG] – Tak kuat menghadapi pemberitaan tentang berbagai dugaan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di daerahnya, Bupati Kabupaten Rote Ndao,  Lens Haning  menantang wartawan Erende Pos, Liber Mami untuk adu jotos.
“Kejadian itu terjadi di ruang kerja bupati pada bulan Agustus 2011. Dia bilang ke saya, kau tidak tahu saya? Saya ini bupati! Ayo kita bakalai (adu hotos).  Saya diam saja. Waktu itu saya takut sekali. Setelah itu,,, saya lalu dipaksa untuk tandatangani pernyataan bahwa saya meminta maaf atas berita-berita yang saya tulis di Erende Pos. Saya tidak mau. Dari situ, sore harinya saya ditelepon oleh Kabag Humas Rote Ndao, Ernes Sula. Dia bilang, bu,, (bung) tanda tangan sa,, itu permintaan maaf. Saya tidak mau. Saya bilang dia, jika ingin komplain pemberitaan, maka buat saja hak jawab. Tapi kata Kabag Humas: abis bu,,, bupati sonde (tidak) mau na,,,. Dia mau,, bu tanda tangan itu surat sa,,,” papar Liber dalam pertemuan para wartawan yang tergabung dalam Forum Solidaritas Jurnalis (FSJ-NTT) dengan Kontras Nusra di Kota Kupang, Rabu (21/12/11) sore.
Pasca tantangan bupati itu, Liber mengaku, ia terus mendapat teror. Ujungnya, bupati mengeluarkan surat resmi yang menyatakan tidak mengakui lagi keberadaan Liber di Rote Ndao dalam kapasitas apa pun (maksudnya termasuk jika si Liber sudah tak bernyawa lagi x y,,,). Karena tak kuat, Liber akhirnya meminta redaksi Erende Pos untuk memutasinya dari Rote Ndao ke Kota Kupang.
By. Chris Parera