Suksesi Pemilukada, 1 Kursi Parpol Dihargai Rp 250 juta


dr. Niken Mitak

sergapntt.com [KUPANG] Jual beli partai politik (parpol) mulai mewarnai suksesi walikota dan wakil walikota Kupang periode 2012-2017. Partai seolah jadi barang antik yang harganya selagit.  Tak ada tawar menawar. Ketentuan partai harus dituruti. Jika tidak, jangan pernah berharap punya kendaraan politik menuju gelanggang suksesi.

Pesta demokrasi lima tahunan di Kota Kupang kali ini seolah hanya milik para calon walikota yang punya duit segudang. Sedangkan para kandidat yang dompetnya terukur pelan-pelan mulai meninggalkan gebyar suksesi. Tak keliahatan lagi batang hidung mereka. Yang terdengar hanya comelan dan umpatan. “Ah,,,, partai politik koq mahal amat,” kira-kira begitulah ungkapan ketidakpuasan mereka.
Bagi kaum ‘terusir’ ini, parpol tak lagi sebagai sarana politik untuk menuangkan aspirasi rakyat.  Parpol dianggap gagal dalam memberikan pendidikan politik nilai dan membumikan demokrasi substansial. Pendidikan politik yang diberikan justru kian meneguhkan anggapan bahwa politik itu kotor dengan manuver dana ffair politik yang selama ini dilakukan politisi partai.
Pendidikan politik oleh parpol akhirnya tak lebih dari pembodohan masyarakat yang mengatasnamakan rakyat, bangsa, negara, demokrasi untuk melegitimasi langkah politis mereka dalam meraih kekuasaan pemerintahan
Fungsi-fungsi parpol sesungguhya telah diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik. Secara gamblang UU itu mengatakan, parpol memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat; perekat persatuan dan kesatuan bangsa; penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi masyarakat; partisipasi politik warga negara; dan rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan publik.
Tapi,,,,,,! Kehadiran parpol benar-benar terasa hanya pada saat-saat mendekati pemilukada. Pada masa-masa ini parpol menjadi begitu populer, seolah-olah ingin menjadi juru selamat bagi masyarakat kota yang tertindas. Begitu pemilukada selesai, bulan madu parpol-rakyat pun usai. Parpol menarik diri, lalu sibuk menyuarakan kepentingan intern partai atau kelompok elite partai. Partai tiba-tiba menjadi asing lantaran aktivitas dan isu-isu politiknya tidak menyentuh kepentingan masyarakat.
Partai menjadi lupa akan fungsi yang sebenarnya, fungsi pendidikan politik parpol belum menunjukkan hasil yang signifikan bagi peningkatan kesadaran politik masyarakat. Justru partai politik menuai kritik. Karena parpol cenderung mengutamakan kepentingan kekuasaan atau kepentingan para elit parpol ketimbang kepentingan untuk memajukan masyarakat, bangsa dan negara.
Ironisnya, pendidikan politik yang kerap dikumandang para elit parpol hanya sebuah slogan tak bermakna. Kondisi ini menuntut setiap partai politik untuk mengoreksi sejauhmana orientasi dan implementasi visi dan misi parpol secara konsisten dan terus-menerus.
Seyogianya, kiprah partai politik harus bisa menampilkan diri sebagai agen pencerahan. Sebab partai politik mengemban peran dan fungsinya yang kalau saja dijalankan secara konsisten akan membawa perubahan pada peningkatan kesadaran politik masyarakat. Tetapi pada kenyataan, partai politik hanya mementingkan dirinya sendiri, hanya memberikan pendidikan politik untuk mereka yang menjadi generasi partainya saja, tanpa memperdulikan fungsi yang sebenarnya.
Tak heran bila di rana pemilukada Kota Kupang, pengurus parpol kebanyakan lebih sibuk membangun komunikasi agar partainya laku dengan harga tinggi. Para calon walikota dan walikota berkantong tebal jadi TO alias target operasi. Semangat pendidikan politik menjadi luluh lantak karena rupiah. Begitulah pencerahan politik yang menyesatkan!
Hasil penelusuran tim buru sergap (buser) TIMORense di dua bulan terakhir ini menunjukan, sejumlah partai yang memiliki keterwakilan di DPRD Kota Kupang mematok harga satu (1) kursi Rp 250 juta. Padahal sang calon harus mengantongi 5 kursi atau 15 % suara dukungan dari jumlah kursi di DPRD sesuai amanat undang-undang agar bisa langgeng menuju ring pemilukada. Itu artinya, untuk memiliki pintu saja, si calon harus menyediakan uang Rp. 1.250.000.000. Itu belum termasuk biaya komunikasi hingga transaksi terjadi. Beban inilah yang membuat sebagian kandidat potensial mengurungkan niat tampil sebagai calon walikota dan wakil walikota.
Kendati tak menyebut angka, Ketua DPD Partai Damai Sejahtera (PDS) NTT, Somy Pandie tak mengelak kalau di tubuh partainya ada angkos yang harus disiapkan oleh para kandidat yang berminat menggunakan PDS sebagai pintu menuju suksesi Kota Kupang. Hanya saja, soal berapa jumlahnya, itu menjadi kewenangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDS.
“Soal kontribusi,,, itu urusan DPP. Kalau kita disini pada prinsipnya merekrut calon yang berpotensi menang,” ujar Pandie saat ditemui TIMORense di gedung DPRD NTT, Selasa (6/12/11) lalu.
Selain kontribusi dana, para calon walikota dan wakil walikota juga dibebankan untuk membangun koalisi parpol. “Soal koalisi, itu tanggung jawab calon. Kita hanya akan mau mendukung calon yang sudah memiliki dukungan dari partai lain,” tegas Pandie.
 Menurut Pandie, kandidat walikota yang telah melamar ke PDS antara lain dr. Niken Mitak (Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT), Daniel Adoe (Walikota Kupang sekarang) dan Jefri Riwu Kore (Anggota Komisi IX DPR RI). Agar bisa ditetapkan menjadi calon PDS, maka setiap calon harus memberikan atau menunjuk surat rekomendasi dari partai lain sebagai jaminan koalisi bisa terbentuk.
“Nah dari semua kandidat yang telah melamar ke PDS, baru Daniel Adoe yang telah memenuhi syarat yang ditentukan PDS itu,” paparnya.
Soal koalisi menjadi tanggung jawab kandidat dibeberkan juga oleh Sekretaris Fraksi DPD Partai Demokrat NTT, Gab Kotan, SH. Menurut Kotan, Partai Demokrat siap berkoalisi dengan partai apa saja. Hanya saja, tanggung jawab membentuk koalisi itu sepenuhnya dibebankan kepada bakal calon walikota dan wakil walikota yang ingin mengendarai Demokrat.
“Koalisi itu, tanggung jawab calon. Kalau tidak, tidak bisa…,” imbuhnya.
Namun prinsip PDS dan Demokrat itu tak mengamini kalau semua partai membebankan tanggung jawab koalisi partai kepada para kandidat. PDI Perjuangan misalnya. Partai yang kini dipimpin Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya itu menjadikan tanggung jawab pembentukan kolisi partai sebagai tanggung jawab bersama antara partai dan kandidat.
“PDI Perjuangan siap berkoalisi dengan partai apa saja. Kita sangat terbuka. Nah, agar koalisi ini terbentuk, sekarang kami sedang membangun komunikasi dengan partai-partai lain, termasuk dengan para bakal calon.  Ini tanggung jawab bersama,” ucap Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT, Kornelis So’i.
By. CHRIS PARERA

Adoe – Jeriko “Saling Sikut” Di Lintasan Suksesi Kota Kupang


sergapntt.com [KUPANG] – Jawara Pemilukada Kota Kupang 2008, Drs. Daniel Adoe dipastikan akan melakoni tarung ulang melawan Drs. Jefri Riwu Kore (Jeriko) dalam laga suksesi pemilukada Kota Kupang periode 2012-2017. Dan Adoe diyakini akan mengendarai Partai Golkar, sedangkan Jeriko dengan armada birunya, Demokrat.   
Di pertarungan sebelumnya, Dan Adoe yang berpasangan dengan Drs. Daniel Hurek dinyatakan menang mutlak atas paket Jeriko- Yohanes Dae dengan skor meyakinkan 40.801 (26,18 %) – 33.086 (21,47 %). Sedangkan suara sisa dari mereka, diraih paket Al Foenay – Agas Andreas 32.705 (21,22 %), Jonas Salean – Aleksander Ena 24.796 (16,09 %) dan Djidon de Han – Bele Antonius 22.700 (14,73 %).
Pertarungan Dan Adoe versus Jeriko kali ini ibarat Real Madrid kontra Barcelona. Diatas kertas sama-sama kuat, sama-sama dasyat, sama-sama punya strategi mematikan. Sebagai incumbent, Dan Adoe tentu lebih diunggulkan, (kayak Barcelona main dikandang sendiri, hahay,,,).
Dengan kekuasaan yang ia miliki, semua problema suksesi, diprediksi bisa diatasi dengan mudah. Apalagi Dan Adoe masih punya segudang pasukan birokrat loyalis yang selalu siap menggalang pemilih untuk kembali memilihnya sebagai Walikota Kupang di perode kedua atau di akhir kiprahnya sebagai calon walikota menurut aturan yang berlaku.
Toh begitu, Jeriko tak bisa di pandang remeh. Dengan pengalaman serta posisi politiknya sebagai Anggota DPR RI, Jeriko tentu punya visi dan misi yang ampuh melumpuhkan sang jawara.  Belum lagi respon pemilih terhadap kehadiran Jeriko di kancah perpolitikan Kota Kupang cukup fantastis di minggu-minggu terakhir ini. Hampir di semua pojok kota, Jeriko bisa dibilang sebagai figur bakal calon walikota yang paling sering disebut, bahkan dijagokan akan keluar sebagai the champion dalam sesi balapan demokrasi lima tahunan kali ini. Tapi,,,, politik is politik. Yang mungkin bisa menjadi tidak mungkin. Begitupun sebaliknya. Semua bisa berubah dalam sekejap. Di menit terakhir sekalipun, siapa saja bisa dibuat tak berkutik, termasuk Dan Adoe dan Jeriko.  
 “Dan Adoe kuat. Walaupun selama ini dia sedikit dipusingkan dengan sejumlah kasus di Kota Kupang seperti yang dibeberkan oleh pak Veky Lerik, Ketua DPRD Kota Kupang. Tapi,,,, sebagai tim, kami tetap yakin, pak Dan Adoe akan menang lagi di pemilukada kali ini. Siapa pun lawannya,,,,” imbuh Natan Ndun, salah seorang simpatisan Dan Adoe saat bincang-bincang santai dengan sergapntt.com di Kupang, Rabu (7/12/11).
Klaim yang sama datang juga dari Ady Pingak, salah seorang simpatisan Jeriko; “Kita lihat saja nanti. Warga Kota ini bukan pemilih tradisional. 92 persen pemilih kota ini terdiri dari kaum rasional. Mereka tau mana yang baik, mana yang tidak baik. Mana yang menjanjikan, dan mana yang tidak. Sekarang sudah saatnya kota dipimpin oleh orang muda yang punya ketulusan hati membangun kota ini. Saya yakin,,,, orang yang ditunggu itu adalah Jeriko”.
Keyakinan Ndun dan Pingak bisa terjadi, bisa juga tidak. Apalagi hingga kini Dan Adoe maupun Jeriko belum memiliki pendamping. Keduanya sedang berusaha menggaet Drs. Kristo Blasin. Anggota DPRD NTT besutan PDIP itu bak bidadari yang sedang diperebutkan dua pangeran dari kerajaan berlainan. Ia digadang-gadang akan mendampingi Jeriko. Sementara Partai Golkar mengklaim kalau Kristo Blasin sudah dipaketkan dengan Dan Adoe. Sayang,,, Kristo Blasin tanggapi dingin soal keinginan dua ‘jagoan’ tersebut. Ia menganggap  keinginan Dan Adoe-Jeriko sebagai fenomena politik belaka. Sebab, orang-orang dekat Kristo Blasin mengaku, sesungguhnya Kristo Blasin tak pernah berniat apalagi berambisi mencalonkan diri sebagai calon wakil walikota.
“Yang Kristo Blasin ingin itu,,,, menjadi calon Bupati Sikka, bukan calon wakil walikota,” papar sobat karib Kristo Blasin yang mewanti-wanti agar namanya tidak di tulis.
Walau demikian, Dan Adoe dan Jeriko tentu punya kalkulator sendiri apa untungnya menggandeng Kristo Blasin. Selain bisa mewakili komunitas Flores yang ada di Kota Kupang, mantan Wakil Ketua DPRD NTT itu juga bisa dijadikan jaminan bahwa PDI Perjuangan akan berkoalisi dengan Golkar atau Demokrat. Sebab, Kristo Blasin telah mendapat restu bahkan  ‘diutus’ oleh Ketua DPD PDI Perjuangan, Drs. Frans Lebu Raya  untuk bertarung dan merebut kemenangan PDI Perjuangan di Pemilukada Kota Kupang.
“Bagi kami, apa pun makanannya, minumannya tetap teh sostro. Artinya, siapa pun calon walikotanya, maka wakilnya tetap Kristo Blasin,” tegas Sekretaris DPD PDI Perjuangan, Nelson Matara kepada sergapntt.com saat bersua di Mall Flobamor Kupang, belum lama ini.
Menghadapi suksesi Kota Kupang, baik Golkar maupun Demokrat masih harus berkoalisi dengan partai lain. Sebab jumlah suara yang diraih Golkar dan Demokrat di pemilu 2009 lalu tidak mencapai 15 % dari jumlah kursi DPRD Kota Kupang sebagaimana diamanatkan Undang-Undang dan Peraturan KPU tentang pedoman teknis dan tata cara pencalonan pemilukada. Itu sebabnya, Dan Adoe dan Jeriko ngotot saling sikut bersaing merebut PDI Perjungan dan partai politik lainnya, seperti Gerindra (3 kursi), Hanura (2 kusi), PPRN (2 kursi) dan PDS (2 kursi). Tapi,,, hingga kini, belum ada satu partai pun yang menyatakan siap berkoalisi dengan Golkar maupun Demokrat.
PDI Perjuangan dan Gerindra sebenarnya telah memproklamirkan paket calon walikota dan wakil walikota jauh sebelum kasak-kusuk suksesi ramai dibicarakan warga Kota Kupang. Kala itu PDI Perjuangan dan Gerindra bersepakat menyodok Anggota DPRD NTT yang juga Ketua DPC Partai Gerindra Kota Kupang, Ed Foenay dan Kristo Blasin sebagai Calon Walikota dan Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017. Sayang, Ed Foenay keburu dipanggil Sang Khalik. Skenario ini pun berubah.
“Ya,,,, PDI Perjuangan akan menetapkan Calon Walikota dan Wakil Walikota melalui penjaringan dan survei. Sedangkan soal paket, sekarang kita masih dalam taraf komunikasi dengan parpol lain, termasuk Gerindra dan bakal calon,” ujar Wakil Ketua DPD PDIP NTT, Kornelis So’i, SH.
Mekanisme perekrutan PDIP hampir sama dengan Demokrat. Hanya saja Demokrat dibentengi lagi kerja Tim 9 yang terdiri dari DPP 3 orang, DPD 3 orang dan DPC 3 orang untuk menjaring, menyaring, dan mengeluarkan rekomendasi penetapan bakal calon menjadi calon walikota dan wakil walikota.
“Demokrat well come bagi siapa saja. Sejauh ini kita masih melakukan survei,” ujar Ketua DPD Partai Demokrat NTT, Jhon Kaunang saat ditemui di Sekretariat Partai Demokrat NTT di Kupang.
Kepastian Jeriko akan berpasangan dengan Kristo Blasin diutarakan juga oleh Jeriko. Kepada Timorense, Anggota Komisi IX DPR asal Partai Demokrat itu mengaku telah bersepakat dengan Kristo Blasin.
“Ya, kami sudah bertemu dan bersepakat. Tapi semua tergantung hasil survei nanti,” imbuhnya.
Jika Jeriko-Kristo Blasin masih menunggu hasil survei Partai Demokrat dan PDI Perjuangan, maka tidak halnya dengan Golkar. Partai berlogo beringin yang di arsiteki Dan Adoe itu, sudah menyatakan bahwa Partai Golkar Kota Kupang akan mengusung paket Dan Adoe – Kristo Blasin. Penetapan paket  tersebut berdasarkan hasil penjaringan Komisariat Kelurahan (Kumlur) Partai Golkar se Kota Kupang yang menempatkan Dan Adoe-Kristo Blasin di urutan pertama dari 32  nama Bakal  Calon Walikota dan 36 Bakal Calon Wakil Walikota yang dijaring Partai Golkar.
By. CHRIS PARERA

Kasak-Kusuk Koalisi PDIP-Gerindra Usung Calon Walikota-Wakil Walikota Kupang


Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya

sergapntt.com [KUPANG] – Pemilukada Kota Kupang mulai menguras tenaga. Semua pikiran seperti tertekuk, menyorot tajam pada sosok yang ingin memimpin, plus koalisi partai politik (parpol) yang lagi mengambang. Pikiran rakyat menjadi gamang. Kehidupan nyata seolah terlupakan, hanya karena anggapan pemilukada dapat memberi peluang mencerahkan hidup, dengan kepuasaan berjengkal-jengkal. Hm,,,,,,!

Kasak-kusuk soal siapa yang paling berpeluang menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017, serta parpol apa-apa saja yang berpotensi berkoalisi mengusung paket walikota dan wakil walikota, kini menjadi topik utama dalam setiap perbincangan. Hampir di semua tempat, yang dibicarakan hanya berkutat seputar pemilukada. Isu kemiskinan dan korupsi yang masih merajalela di kota ini seakan terlupakan. 
Di puncak lain, para kandidat terus mengarahkan teropong ke segala penjuru mendeteksi parpol yang belum “berpenghuni”. Mulai dari parpol non seat hingga parpol yang memiliki anggota mayoritas di DPRD Kota Kupang terus didekati dan “dirayu” dengan harapan dapat diamankan menuju gelanggang pemilukada. 
Soal menang atau kalah belum terpikirkan. Yang terbayang baru pada batas bagaimana bisa lolos dari jarum verifikasi KPU agar bisa ditetapkan sebagai calon walikota dan wakil walikota. Dua dari sekian banyak parpol yang sedang dibidik adalah PDIP dan Gerindra. Tak terkecuali, dr. Niken Mitak (Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT).
Bagi Ketua DPD Gerindra NTT yang juga Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay, M.Si, Niken punya peluang yang sama dengan 12 calon walikota yang telah mendaftar ke Gerindra, yakni Jefri Riwu Kore (Jeriko), Daniel Adoe, Daniel Hurek, Viktor Lerik, Hengki Benu, Isodorus Lili Djawa, Gustaf Oemanatan, Dr. Os Besi, David Pela, Thom Sonbait, Kolan Foenay, David Mandala dan Lay Djaranjoera.
“Semua ada mekanisme. Semua ada aturan. Hasil survei sudah ada. Kita tidak pilih kasih,” ujar Esthon Foenay saat di temui sergapntt.com di Kantor Gubernur NTT, Selasa (6/12/11) lalu.
Ketiga belas calon tersebut, kata Foenay, telah disurvei oleh Universitas Nusa cendana (Undana) Kupang sebanyak dua kali. Tahap pertama, 1000 pemilih yang berasal dari berbagai strata masyarakat dijadikan sampel untuk mengetahui siapa calon walikota dan wakil walikota yang paling diminati warga Kota Kupang.
“Sedangkan survei kedua, kita jadikan tokoh-tokoh, seperti tokoh agama, tokoh politik, tokoh masyarakat sebagai sampel survei. Karena tokoh-tokoh ini banyak pengikut. Misalnya tokoh  agama, kalau dia bilang, dia memilih si A, maka dia membawa representatif aspirasi dari sekian banyak orang. Walaupun tidak mutlak! Tapi,,, ini indikasi yang menggambarkan kecendrungan pemilih,” paparnya.
Menurut Foenay, menghadapi suksesi Kota Kupang, Gerindra sudah pasti akan berkoalisi dengan PDIP. Sebab, Gerindra dan PDIP telah berkoalisi jauh sebelum gong suksesi pemilukada ditabuh dengan menetapkan paket almarhum Ed Foenay dan Kristo Blasin sebagai calon walikota dan wakil walikota. Namun karena Ed Foenay meninggal dunia akibat sakit yang mendera, maka paket Gerindra-PDIP akan dibicarakan kembali.  
“PDIP dan Gerindra sudah koalisi. Dan itu masih tetap sampai sekarang. Yang meninggal itu kan orangnya (Ed Foenay-red), partainya tidak kan? Karena itu, koalisi ini tetap.  Tidak ada yang berubah. Mau omong apa lagi! Beres kan? Saya dan pak Frans itu satu. Jadi,,, jangan ragu. Pasti kami (PDIP dan Gerindra) akan berkoalisi. Tapi siapa yang akan kami usung, masih akan saya dan pak Frans diskusi lagi,”imbuhnya.
Bak gayung bersambut, komitmen, keyakinan dan harapan Foenay diamini Ketua DPD PDIP NTT, Drs. Frans Lebu Raya.  Kepada TIMORense, pimpinan tertinggi PDIP di NTT yang kini menjabat sebagai Gubernur NTT itu mengaku, PDIP tetap akan berkoalisi dengan Gerindra. Hanya saja, antara PDIP dan Gerindra masih harus membicarakan ulang siapa dengan siapa yang akan diusung berdasarkan hasil survei terkini PDIP dan Gerindra.
“PDIP selalu terbuka, termasuk berkoalisi dengan Gerindra. Karena saya dan pak Esthon itu satu, dengan menyebut diri FREN. Kita sudah melakukan survei tahap yang kedua, hasilnya masih dianalisis. Dan hasil analisis ini akan menjadi acuan untuk kita memutuskan pasangan. Tapi,,,,! Ya,,,,, kita memang masih sedang berdiskusi, termasuk dengan Gerindra, apakah ada perubahan (pasangan) untuk kita berkoalisi? Ya,,, akan kita diskusikan,” tegasnya.
Pernyataan Frans Lebu Raya – Esthon Foenay (FREN) ini sekaligus mengakhiri teka-teki dengan parpol mana PDIP atau Gerindra berkoalisi.
Kabar terkini menyebutkan, partai yang kini dipimpin orang nomor 1 dan 2 NTT itu, akan mengusung Ketua DPC Gerindra Kota Kupang, Hengky Benu dan Kristo Blasin. Alternatif pilihan berikut jatuh pada Niken – Kristo Blasin atau Jeriko – Kristo Blasin. Tapi,,,! Jika Jeriko – Kristo Blasin yang diprioritaskan tanpa Demokrat, maka Jeriko harus siap dipecat dari Demokrat sekaligus mundur dari jabatannya sebagai Anggota DPR RI. 
Walau begitu, peluang masih tetap terbuka. Koalisi bisa saja terjadi antara PDIP, Gerindra dan Demokrat. Apalagi hingga kini, baik PDIP, Gerindra maupun Demokrat masih melakukan komunikasi atau lobi-lobi politik sembari terus melirik kandidat mana yang paling berpeluang menang dalam tarung suksesi kali ini.
Niken sendiri sangat berharap banyak bisa mengendarai Gerindra dan PDIP. Soal pasangan ia serahkan sepenuhnya kepada partai. Tapi soal target, Niken yakin bisa mengungguli ketangguhan calon lain yang didominasi kaum pria. Menang adalah sasaran yang ideal. Walaupun ada konsekuensinya. Sebab, kalah menang di dunia politik adalah garis tangan yang sudah dititahkan Yang Maha Kuasa. Itu sebabnya, Niken tak gentar mengarungi samudra politik yang kedalamannya tak dapat diukur hingga hari “H” pemilihan itu tiba. 
Klaim paling kuat yang dilakukan kandidat lain tak membuat semangat perempuan yang satu ini surut. Sebagai kandidat yang sudah siap lahir bathin menghadapi tantangan pemilukada, Niken terus maju memburu parpol mengusung harapan perubahan bagi warga Kota Kupang. Itu sebabnya ia terus mendulang dukungan dan simpati pemilih yang bosan menatap kandidat penuh masalah.
Sejumlah analis menilai, figur Niken berpeluang mendulang sukses menghadapi lawan siapa saja yang menghadang. Sebab, warga kota sudah sangat merindukan pemimpin baru dengan gaya baru yang memiliki kapasitas untuk melakukan perubahan tata kelola pemerintahan. Namun semua tergantung parpol. Memberinya kesempatan atau tidak.
“Terima kasih bagi yang telah bersimpati pada saya. Saya akan menjaga kepercayaan itu,” ujar Niken, singkat.
Toh begitu, Esthon Foenay mengingatkan Niken beserta kandidat calon walikota dan wakil walikota lain untuk tidak terlalu percaya pada tim sukses. Sebab, terkadang hanya tim sukses yang sukses di setiap gawe pemilukada, sedangkan sang calon babak belur diakhir pertarungan politik.
“Jangan terlalu percaya dengan tim sukses. Nanti mereka yang sukses, kita yang ancor. Saya omong ini berdasarkan pengalaman.  Kita bukan saja babak belur, tapi bisa sampai bengkok belur,,, hahahaha,,,” guyon Foenay penuh arti.
By. CHRIS PARERA

“Sorongi’is”, Tanda Kedewasaan Perempuan Nagekeo


Saat Gigi Diratakan Dengan Batu Asa

sergapntt.com [DHAWE] – Kaum perempuan di Kabupaten Nagekeo, khususnya di Mbay (suku Dhawe), ibukota Nagekeo akan dikatakan sudah dewasa jika telah dikukuhkan dengan ritual potong gigi (meratakan gigi dengan batu sa) yang dalam bahasa setempat disebut Sorongi’is.
Seorang orang anak perempuan berbusana adat nampak tengah berbaring di apit oleh sang nenek. Tidak lama kemudian, seorang bapak yang ditunjuk sebagai petugas potong gigi mendekat dan memegang rahang si anak lalu memintanya membuka mulut. Dengan sebuah batu asa, si bapak meratakan gigi si anak. Wajah anak itu terlihat meringis, mulutnya mengumbar rintihan menahan ngilu sentuhan batu asah yang di gosok berulang-ulang di permukaan giginya.
Setelah rata, si anak kemudian di serahkan ke salah satu ibu untuk di obati. Disini pengobatan hanya mengandalkan ramuan ala kampung berupa buah pinang mudah. Si anak di haruskan mengunyah buah pinang tersebut untuk menghilangkan rasa ngilu.
Buah Pinang pengobat rasa ngilu
Ritual Sorongi’is mengandung makna bahwa anak tersebut telah dewasa dalam hukum adat. Seperti yang di tuturkan Donatus Dua, salah satu tetua adat suku Dhawe. “Suatu saat jika sampai pada usia siap pinang, hukum adat sudah  merestui jika ada lelaki yang datang meminang”.
Sebelum menuju ritual Sorongi’is, keluarga harus menjalani beberapa rangkaian acara adat. Malam sebelumnya, pihak keluarga maupun undangan akan melaksanakan tandak. Mereka mulai menari,  bernyanyi dan berpantun mengelilingi api unggun sambil berpegang tangan.
Syair-syair dalam irama tandak mengisahkan tentang arwah nenek moyang dan sejumlah ajaran-ajaran adat dalam kehidupan. Sesekali diselingi pantun yang di ucapkan secara berbalasan antara kaum perempuan dan laki-laki. Isi pantun kadang bernada humor, yang mengundang gelak tawa para penonton.
Untuk menambah semangat, seorang petugas akan terus menghidangkan sirih pinang dan ‘moke’, minuman keras khas Nagekeo. Dalam bahasa setempat, acara tandak ini disebut “Wai Sekutu”.
Si Anak Diayunkan Melewati hewan kurban
Anak yang akan dipotong giginya juga disertakan dalam tandak. Disini si menggunakan busana adat dan menutup mulutnya dengan selempang. Selama mengikuti proses ini, anak tersebut senantiasa mendapatkan pengawasan dari pihak keluarga untuk tidak berkomunikasi secara langsung dengan siapa saja. Dalam acara ini, sang anak hanya diberikan kesempatan lima kali berputar mengelilingi api unggun bersama peserta tandak yang lain. Kemudian kembali di boyong ke kamar untuk beristirahat. Acara tandak berlangsung non stop semalam suntuk. Seiring mentari terbit,  acara tandak pun bubar.
Sebelum prosesi sorongi’is dimulai, keluarga akan terlebih dahulu mempersembahkan sesajen untuk para leluhur mereka. Sesajian ini biasanya terdiri dari nasi, daging, sirih pinang dan moke. Ini sebagai bentuk ucapan syukur sekaligus memohon berkat untuk kelancaran penyelenggaraan acara tersebut.
Ketika tiba puncaknya, sang anak dituntun keluar rumah menuju rumah kerabat, atau tetangga yang masih memiliki hubungan darah. Namun, sebelum berangkat si anak terlebih dahulu diberkati oleh salah satu tetua adat dengan sapaan adat dan percikan beras sebanyak lima kali yang disiram ke arah badan si anak. Ritual pemberkataan ini di sebut “Resa Kuras”.
Sesajen buat leluhur
Setelah itu, sang anak akan di ayun oleh ayahnya sebanyak lima kali di atas seekor babi yang diletakan di depan rumah. Pada hitungan yang kelima,  anak tersebut di ayun melewati babi dan siap berjalan menuju rumah tetangga tempat dilaksanakannya ritual potong gigi. Di rumah itu sudah menanti petugas potong gigi yang telah siap dengan sebuah batu asah kecil. Petugas ini pun harus berasal dari anggota keluarga.
Seluruh rangkaian ini tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Biasanya jauh-jauh hari, pihak keluarga sudah menyiapkan segala kebutuhan acara. Bagi orang tua anak, persiapan acara ini bisa tertolong dengan bingkisan-bingkisan yang di bawa para undangan. Namun bingkisan ini pun tak gratis. Karena sudah menjadi tradisi,  pihak keluarga selaku undangan yang membawa bingkisan berupa tikar, bantal ataupun beras akan menerima balasan berupa kambing ataupun babi. Sedangkan yang membawa bingkisan babi atau kambing akan menerima balasan tikar atau beras. Toh begitu, dibalik proses Sosrongi’is ini terselip perasaan lega dan bangga bagi orang tua si anak. Setidaknya, tanggung jawab orangtua dalam hukum adat telah dilaksanakan,  walaupun secara ekonomis  biaya yang dikeluarkan cukup besar.
By.  Yanto Mana Tappi

Madrid Dibantai Di Kandang Sendiri


sergapntt.com [MADRID] –  Real Madrid unggul cepat pada babak pertama melalui gol Karim Benzema ketika pertandingan baru berjalan 23 detik. Ini merupakan gol tercepat dalam sejarah clasico. 
Namun Barcelona mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-20 melalui gol Alexis Sanches setelah menerima umpan Lionel Messi yang melakukan aksi individu brilian di daerah pertahanan Madrid.

Babak pertama berakhir imbang dengan skor 1-1. Memasuki babak kedua, Real Madrid langsung mendapat dua peluang emas melalui dua tendangan bebas Ronaldo di depan kotak penalti Barcelona. Setelah tendangan pertama membentur pemain-pemain Barca, tendangan kedua Ronaldo ditangkap dengan sempurna oleh Valdes.

Barca akhirnya berbalik unggul pada menit ketujuh babak kedua ketika tendangan Xavi dari luar kotak penalti membentur Marcelo dan bola berubah arah ke tiang kiri gawang Madrid yang tak mampu dijangkau Casillas.

Jose Mourinho memasukkan Kaka dan Sami Khedira menggantikan Mesut Ozil dan Lassana Diarra untuk mengejar ketertinggalan dari Barca.

Saat Madrid berusaha mengejar ketertinggalan, justru Barcelona yang mencetak gol ketiga pada menit ke-66. Umpan silang Dani Alves dari sayap kanan disambar Cesc Fabregas dengan heading setelah menang duel dengan Fabio Coentrao.

Tertinggal dua gol, Madrid berupaya bangkit dan makin meningkatkan serangan ke pertahanan Barca. Namun beberapa peluang dari Ronaldo, Benzema dan striker pengganti Gonzalo Higuain gagal menembus gawang Valdes.

Skor 3-1 bertahan hingga akhir pertandingan sekaligus memberi kemenangan untuk Barcelona di kandang sang rival abadi. Dengan hasil ini Barca menipiskan jarak dengan Madrid menjadi tiga poin, namun dengan satu pertandingan lebih banyak.

by. CEN