Sindikat Perdagangan Orang Di NTT Sulit Diberantas Polisi


sergapntt.com [KUPANG] –  NTT bisa dibilang sarangnya TKI ilegal. Itu karena mayoritas warga NTT masih hidup dibawah garis kemiskinan. Hal ini diperparah dengan maraknya sindikat perdagangan manusia yang sulit diungkap aparat kepolisian. Karena itu, Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Gugus Tugas Trafficking tingkat Provinsi NTT untuk menekan tingginya kasus trafficking di NTT.
 “Rakor ini untuk kita menyamakan persepsi agar dalam tim koordinasi terpadu, kita sama-sama mempunyai pengertian yang sama tentang trafficking di NTT. Apalagi Provinsi NTT sekarang ini telah menjadi pintu wisata internasional karena Komodo telah masuk dalam tujuh keajaiban dunia,” tandas Wagub saat memimpin Rakor di ruang kerjanya, Rabu (30/11/11).
Dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi saat ini, lanjut Wagub, tim koordinasi terpadu yang ada di tingkat Provinsi NTT diharapkan mampu mendeteksi dan mencegah terjadinya trafficking. “Saya nilai masih ada sindikat-sindikat yang rapi apalagi yang berkaitan dengan prekrutan tenaga kerja. Karena itu, perlu segera dibenahi,” tegas Wagub.
Kehadiran sindikat perdagangan orang di NTT sangat sulit diberantas polisi. Seiring dengan itu, jumlah kasus trafficking pun tiap tahun terus meningkat. Karena itu wagub meminta agar setiap instansi baik vertikal maupun di tingkat Pemerintah Provinsi NTT fokus dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi) masing-masing.
“Mari kita fokus dengan tupoksi kita masing-masing. TNI dan Polri soal keamanan dan pertahanan. Satuan Polisi Pamong Praja mendeteksi dan menangkap lalu menyerahkan kepada aparat kepolisian dan dilanjutkan ke Kejaksaan dan disidang di Pengadilan. Itulah alur yang sebenarnya. Kita jangan ambil alih tupoksi instansi lain,” ujar Wagub mengingatkan.
Pada bagian lain Wagub meminta agar PJTKI, Nakertrans dan Apjati untuk mengevaluasi berbagai regulasi yang tidak sinkron khususnya yang berkaitan dengan perekrutan tenaga kerja.
 “Kita perlu koreksi terhadap regulasi-regulasi yang ada. PJTKI, Nakertrans, Apjati perlu duduk bersama untuk sinkronkan regulasi yang ada. Peraturan memang banyak tetapi masih juga ada TKI ilegal yang lolos keluar dari NTT,” ucap Wagub.
Wagub berharap agar usai Rakor Gugu Tugas Trafficking ini dapat dibentuk Gugus Tugas yang lebih teknis sehingga bisa diterapkan dan ditindaklanjuti di tingkat Kabupaten/Kota yang ada di NTT.
“Saya juga berharap agar Gugus Tugas nanti bisa bekerja sama dengan para tokoh agama yang ada di daerah ini untuk mencegah terjadinya trafficking,” kata Wagub.
Pendapat senada diungkapkan Anggota DPD RI, Ir. Abraham Paul Liyanto. Dia berharap agar instansi yang menangani dan mengurus trafficking mempunyai persepsi yang sama dengan mendasarkan diri pada payung hukum yang sama.
“Pekerjaan ini perlu persepsi dan payung hukum yang sama di tingkat aparatur. Mari kita bekerja dengan hati nurani yang sehat dan jangan hanya mementingkan diri sendiri,” imbau Paul Liyanto yang juga Ketua DPD KADIN NTT.
Sementara itu, Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT, dr. Yovita Mitak, M.Ph mengungkapkan hingga Juni 2011 terdapat 3.943 korban trafficking di Provinsi NTT sesuai data yang dihimpun IOM.
“Data yang ada ini menunjukkan anak-anak dan kaum perempuan menduduki peringkat terbanyak dengan 3.559 korban. Dari jumlah ini tercatat ada 168 kasus trafficking dan memposisikan Provinsi NTT urutan ketiga secara nasional,” jelas dr. Mitak.
Turut hadir dalam acara Rakor, Danrem 161 Wirasakti Kupang, Kol. Edison Napitupulu, pejabat yang mewakili Kapolda NTT, Danlanud El Tari Kupang, Danlantamal VII Kupang dan sejumlah pejabat di lingkup Pemerintah Provinsi NTT.
By. FERRY GURU

Gara-Gara Facebook, Anisah terperangkap Selingkuh


sergapntt.com – SIDIQ adalah pemuda soleh. Ia menikah dengan seorang wanita solehah, Anisah namanya. Mereka berdua berasal dari keluarga agamis, terpandang dan mulia. Keduanya merasa sangat bahagia dan bersyukur karena telah
dikaruniai pasangan yang sesuai di hati. Hari-hari mereka jalani penuh dengan keceriaan dan kemesraan.
Sidiq, kesehariannya bekerja diluar rumah. Ia berangkat pada pagi
hari dan pulang pada sore hari. Sementara Anisah sendirian tinggal dirumah. Untuk
menghibur hati sang istri dan teman dikala kesepian, Sidiq membelikan
Anisah sebuah komputer. Komputer tersebut diletakkan di dalam kamar dan
disambungkan internet.
Awalnya Anisah tidak tahu apa-apa tentang komputer. Sidiqlah yang mengajari cara menggunakan komputer. Hingga pada akhirnya Anisah bisa menggunakan komputer sendiri dengan baik. Sehabis menyelesaikan pekerjaan rumah, Anisah biasa memanfaatkan waktunya di depan komputer, mengakses berita dan mengikuti perkembangan dunia luar. Waktu terus berjalan. Kehidupan mereka selalu harmonis dan tentram.
Namun petaka mulai menghimpit tatkala suatu hari, Anisah masuk ruang chating Facebook dan Yahoo Messenger (YM). Disini ia mulai berkenalan dengan banyak orang. Awalnya hanya tanya jawab tentang nama, tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari. Tapi karena keasyikan, obrolan jadi panjang dan melebar.
Hingga pada suatu waktu, Anisah berkenalan dengan seorang pemuda, namanya Fatih. Awalnya mereka chating biasa-biasa saja. Lama kelamaan mereka pun mulai menggunakan kamera. “Siaran langsung” pun terjadi. Timbulah rasa suka diaqntara mereka. Fatih pun mulai melancarkan argumen bermanis kata alias merayu. Pelan tapi pasti, kata-katanya menyentuh hati Anisah. Setan pun tak tinggal diam. Membisikkan ke dalam hati Anisah hal-hal yang tidak baik. Anisah berusaha untuk menolak dan melawannya. Namun karena mereka chating setiap hari, selalu berpandang-pandangan, akhirnya sedikit demi sedikit timbullah rasa suka dihati Anisah.
Sebenarnya Fatih menyukai Anisah hanya karena kecantikannya. Bisa dibilang rasa suka berlandaskan hasrat nafsu. Akhirnya Anisah terpedaya dengan kata-kata dan ketampanan Fatih.
Hari demi hari terus berlalu. Sidiq pun tidak menaruh curiga
pada Anisah sedikit pun. Karena ia sangat percaya pada Anisah. Tapi sesuatu yang busuk, bagaimanapun pintar menyimpan akan ketahuan juga baunya. Akhirnya Sidiq tersadar dengan gelagat Anisah yang mulai berubah. Bak intelejen dunia maya, Sidiq mulai selidik istrinya. Hasilnya, diluar dugaan. Sidiq terperangah kala tahu istrinya sedang menjalin kasih dengan orang lain. Sebagai suami, Sidik  marah besar.
 Komputer akhirnya dijual. Sidik lalu memperingatkan Anisah untuk segera bertobat. Setelah mengakui kesalahannya, Anisa pun berjanji tobat. Tapi dasar perasaan sudah kebelet setan dan hawa nafsu, Anisah masih sulit menghilangkan bayangan Fatih dari pikirannya. Hatinya telah terpaut pada Fatih. Suatu hari ketika Sidiq sedang berangkat kerja, Anisah menghubungi Fatih lewat telpon. Ia menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Ia lalu mengutarakan perasaannya pada Fatih.
Bagi Fatih, ini namanya rejeki tiba-tiba. Sebab, selain cantik, Anisa sangat seksi dan ranum. Kesepatan inipun dimanfaatkan oleh Fatih. Rayuan gombal mulai ia luncurkan.
“Kalau kamu menyukai dan mencintai saya, tinggalkanlah suamimu!
Minta cerailah darinya! Saya akan datang untuk melamarmu dan kamu akan
hidup tentram dan bahagia dengan saya,” imbuhnya.
Anisah yang telah goyah dan lemah imannya mulai terpedaya dengan
bujuk rayu dan janji-janji Fatih. Akhirnya, Anisah minta cerai pada Sidiq. Singkat kata, terjadilah perceraian. Anisah pulang kembali ke rumah orang tuanya.

Keluarganya sangat menyesalkan perceraian tersebut. Namun Anisa tak peduli. Dari rumahnya itulah Anisa mulai intens berhubungan dengan Fatih. Fatih sering datang ke rumahnya dan terkadang mengajaknya keluar rumah dengan mobil mewah. Hari dan minggu terus berganti, namun Fatih belum juga melamar Anisah.
 Mereka masih menjalani pacaran. Sampai pada suatu malam, Fatih
mengajak Anisah menginap di sebuah hotel. Pada malam itu terjadilah
hubungan yang diharamkan. Mereka berzina. Mereka benar-benar dikuasai hasrat nafsu dan setan. Sejak saat itu mesum terus terjadi disetiap ada niat dan kesempatan.
Hari dan bulan terus berganti, tapi Fatih belum juga datang untuk
melamar Anisah. Anisah sangat gelisah. Setiap kali ia menagih janji, ia selalu
diberi janji yang tak pasti. 
Karena terus mendesak, Fatih akhirnya murka. Maklum Fatih tak punya niat sedikitpun untuk menikahi Anisah.
“Heh,,,, perempuan murahan, kau kira saya akan menikah dengan perempuan seperti kau? Oh,,, tidak mungkin! Saya tidak akan mau menikah dengan perempuan seperti kau. Kau itu perempuan yang tidak pantas untuk dinikahi oleh orang terpandang seperti saya. Saya yakin, kalau sekali sudah berkhianat, kelak kau akan berkhianat lagi. Kalaupun kau saya nikahi, kelak bila kau bertemu dengan pemuda yang lebih ganteng dan lebih kaya dari saya, pasti kau akan meninggalkan saya, sebagaimana kau meninggalkan suamimu yang baik-baik itu. Dan, saya tidak mau hal itu terjadi dalam hidup saya.
Sekarang juga pergi kau,,,,! Jangan
temui saya lagi! Saya tidak mau lagi melihat mukamu. Saya sudah muak
dengan kau,” sergah Fatih penuh amarah.
Mendengar umpatan Fatih, Anisah hanya bisa menangis menyesali keputusannya. Dengan membawa luka kepedihan Anisa berlalu pergi dari hadapan Fatih. Hidupnya telah hancur. Masa depannya telah gelap. Ia telah salah selama
ini menilai Fatih.
Ia telah tertipu dan terpedaya. Penyesalan tidak ada lagi
gunanya. Kembali pada suami, tak akan mungkin suaminya mau
menerima. Kembali pada keluarganya, ia merasa malu. Ia tidak tahu harus melangkah kemana dan mengadu pada siapa. Akhirnya hanya kepada Tuhan ia mencurahkan penyesalannya. Anisah akhirnya sadar, “Ah,,, ini semua gara-gara facebook dan YM, semuanya jadi hancur,,,”. Tapi, semua sudah terlambat. Penyesalan selalu dating dari belakang. Apakah anda korban berikutnya?
By. CIS

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku


sergapntt.com – Namaku Shinta. Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan, aku mencuri lima puluh ribu dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Ayah menyuruh adikku dan aku berlutut di menghadap tembok. Di tangannya terhunus sebuah bilah bambu.
“Siapa yang mencuri uang itu,” Ayah bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Ayah mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai kehabisan nafas. Sesudahnya, ayah duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi adikku, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu”.
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis. Semuanya sudah terjadi”.
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya menggerutu, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…!” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Tak ada yang menyangka,,,, keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari beberapa warga dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.”Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika  masih SD, setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah atau pulang ke rumah. Suatu hari, saya lupa membawa jeket, Kakakku memberikan jeketnya untukku. Maklum daerah kami ini terkenal dingin minta ampun. Ketika kami tiba di rumah, tangannya gemetaran karena dingin. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Dalam hati kecilku spontan berkata; “Terima kasih adikku!”.
By. shinta

“Aku Mau Ajak Papa Main Ular Tangga”


sergapntt.com – Berto (30), baru pulang dari bekerja pukul 21.00 malam. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya Irma yang berusia 8 tahun yang sedang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah. “Kok belum tidur?” sapa Berto pada anaknya.
Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja, dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di pagi hari. “Saya menunggu Papa pulang, karena saya mau tanya berapa sih gaji Papa?”
“Lho,,, tumben, koq nanya gaji Papa segala? Kamu mau minta uang lagi ya?”
“Ah, nggak pa, saya sekedar,,, pengin tahu aja…”
“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000. Setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji Papa satu bulan berapa, hayo?!”

Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman. Ketika sang Ayah ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak mengikutinya.
“Jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong!”
“Kamu pinter, sekarang tidur ya..sudah malam!” tapi sang anak tidak mau beranjak.
“Papa, aku boleh pinjam uang Rp 10.000 nggak?”
“Sudah malam nak, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah,,,! Besok pagi saja. Sekarang kamu tidur…”
“Tapi papa…” “Sudah, sekarang tidur…” suara sang Ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya. Sang Ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang-terisak-isak sambil memegang uang Rp 30.000.
Sambil mengelus kepala sang anak, Papanya berkata”Maafin Papa ya! kenapa kamu minta uang malam-malam begini..besok kan masih bisa. Jangankan Rp.10.000, lebih dari itu juga boleh. Kamu mau pakai buat beli mainan khan?….”
“Papa, saya ngga minta uang. Saya pinjam…, nanti saya kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan.”
“Iya..iya..tapi buat apa??” Tanya sang Papa.
“Saya menunggu Papa pulang hari ini dari jam 8. Saya mau ajak Papa main ular tangga. Satu jam saja pa, saya mohon. Mama sering bilang, kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi saya mau beli waktu Papa. Saya buka tabungan, tapi cuma ada uang Rp 30.000. Tapi Papa bilang, untuk satu jam Papa dibayar Rp 40.000.. Karena uang tabungan saya hanya Rp.30.000,- dan itu tidak cukup, makanya saya mau pinjam Rp 10.000 dari Papa…”
Sang Papa cuma terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Ia pun memeluk erat anaknya sambil menangis.
Mendengar perkataan anaknya, sang Papa langsung terdiam, ia seketika terenyuh, kehilangan kata-kata dan menangis.. ia lalu segera merangkul sang anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta maaf pada sang anak..

“Maafkan Papa sayang…” ujar sang Papa.
“Papa telah khilaf, selama ini Papa lupa untuk apa Papa bekerja keras…maafkan Papa anakku…” kata sang Papa ditengah suara tangisnya. Si anak hanya diam membisu dalam dekapan sang Papa…
By. ES

Omku, Motivasiku


sergapntt.com – Aku sedang duduk tenang menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan besok, tiba-tiba saja si Oom memulai percakapan yang gak diduga-duga. Oom meminta pas foto aku, lalu dia bilang sudah punya pas foto adik-adik aku dan mama aku. Katanya buat disimpan di dompet, untuk kenang-kenangan. ”Ini mamanya waktu muda, ini anak-anaknya.”
Entah mengapa, rasanya aku jadi ingin memeluk beliau tapi semuanya gak aku lakukan karena Oom termasuk orang yang kaku, jadi aku merasa segan. Akhirnya aku hanya menyerahkan pas fotoku yang terbaik sambil tertawa. Oom menunjukkan foto-fotonya di masa lalu. Aku mengamati sesuatu, dia hanya menginginkan foto hitam-putih. Entah kenapa aku jadi ingin menangis. Aku buru-buru lari ke kamar, pura-pura membereskan kamar tapi sebenarnya aku menangis sejadi-jadinya.
Usia Oom hampir sama dengan umur Indonesia. Dari Oom, aku belajar banyak hal. Politik adalah topik yang paling disukai Oom, tetapi dia juga asyik diajak bicara tentang lingkungan hidup, seni, budaya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kuliner. Oomku jago memasak, aku paling suka kacang kecap dan kulit singkong tumis oncom buatannya. Tidak ada yang bisa mengalahkan, bahkan restoran seperti Nasi Bancakan sekalipun.
Meskipun orangnya kaku, galak, dan kadang-kadang suka kasar tetapi kasih sayang yang dimilikinya luar biasa besar. Oom sudah seperti ayah buatku, bukan ayah kedua, bukan ayah pertama, aku tidak ingin meranking dan membanding-bandingkan dengan ayah kandungku sendiri. Dua-duanya orang yang hebat buatku dan rasa sayangku kepada mereka sama besarnya meskipun kadang-kadang sulit aku menunjukkan rasa sayangku kepada beliau. Rasa segan yang menjadi penghalangnya.
Oom telah menjadi bagian dari keluarga kami sejak aku baru lahir. Beliau memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan memilih menemani mamaku yang kala itu sedang hamil aku dan sering ditinggal papa yang hampir setiap hari mengurusi pekerjaannya di luar daerah. Pengorbanannya sangat besar, karir yang sedang menanjak di tempatnya bekerja, dia tinggalkan. Pertimbangannya karena kasihan sama mamaku (bungsu, satu-satunya anak perempuan dari 7 bersaudara, nenek dan kakek meninggal ketika mama masih usia sekolah). Beliau tidak percaya kalau pekerjaan rumah diurus pembantu. Jadi si Oom-lah yang akhirnya turun tangan sendiri membantu mama mengurus rumah tangga.
Oom selalu ada buat aku. Pengalaman yang tak mungkin terlupakan adalah ketika aku kelas 2 SD. Usaha papaku bangkrut karena ditipu orang, aku masuk rumah sakit karena tipes, adikku masih kecil, kemudian rumah, mobil, harta kami semua disita bank. Ketika saudara-saudara yang lain seolah-olah menuduh, menyalahkan atau bahkan tidak peduli sama sekali, Oom tetap ada bersama keluarga kami. Menghadapi semua masalah yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya. Masih segar di ingatan, bagaimana setiap hari dia menemaniku di rumah sakit, menangis untuk aku, berdoa untuk aku. Oom jugalah yang mengajariku untuk tegar menghadapi kehidupan.
Oom ada ketika mamaku melahirkan aku maupun kedua adikku. Semua dari kami telah merasakan kasih sayangnya, didikannya, dan belajar banyak nilai-nilai dari beliau. Darinya, aku belajar untuk mencintai NTT, meskipun kami bukan orang asli NTT. Darinya, aku belajar untuk selalu berusaha menimba pengetahuan sebanyak-banyaknya. Darinya, aku belajar untuk membiasakan diri membaca koran. Sesuatu yang dulunya menurutku membosankan. Darinya, aku belajar untuk berpikir kritis. Darinya, aku belajar bahwa kita harus menempatkan Tuhan sebagai yang nomor satu di dalam hidup kita. Darinya aku belajar bahwa perempuan harus menghargai diri sendiri dengan salah satu cara yaitu berpakaian sopan. Darinya aku belajar bahwa menyayangi berarti bersedia berkorban.
Meskipun, kadangkala kata-katanya kasar dan agak menyakitkan hati tetapi aku tahu semuanya itu hanyalah ekspresi dari rasa sayang. Perwujudan dari rasa peduli dan khawatir kepada kami, keponakan-keponakannya.
Aku benar-benar tidak sanggup menuliskan semua kebaikannya satu per satu, terlalu banyak. Setiap hari selalu ada saja pengorbanannya buat keluarga kami. Sekarang usia Oom sudah lanjut. Wajahnya sudah jauh berbeda bila dibandingkan dengan wajahnya ketika aku masih SD, ketika Oom-lah yang setia menjemput aku dari sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah, ketika Oom yang memperkenalkanku kepada enak dan lezatnya masakan Padang, ketika Oom mengajari aku untuk tidak sungkan-sungkan berinteraksi dan berbincang-bincang dengan sopir angkot. Sekarang Oom sudah tidak lagi mengantar-jemput aku. Oom lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, membaca Alkitab dan masih membantu pekerjaan rumah tangga.
Aku memperhatikan, kaki beliau yang dulu sangat kuat berjalan (dulu, aku sering diajaknya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak di Kupang, sambil diceritakannya sejarah tentang Kupang di masa lalu) sekarang sering bengkak dan tidak kuat berjalan. Wajahnya yang selalu segar, kini seringkali kudapati bengkak. Badannya juga sudah tidak kuat mengajariku push up. Sorot matanya juga telah berubah, aku seringkali melihat beliau tampak kelelahan. Beliau juga jadi sering mengeluh tentang kondisi badannya, tetapi selalu menolak diajak ke dokter. Beliau tidak suka dokter.
Entah mengapa aku tiba-tiba mengingat masa lalu seperti ini. Dan samar-samar, aku ingat, suatu hari beliau pernah berkata, ”Ingin melihat aku lulus sarjana, pakai toga lalu difoto bersama.” Kata-kata beliau itulah yang mulai kini akan menjadi penyemangatku. Meskipun aku merasa salah jurusan dan lain sebagainya, tetapi aku bertekad untuk menyelesaikan kuliahku dengan segera. Mulai sekarang tidak ada lagi kata-kata menyerah ataupun pindah jurusan. Cita-cita aku satu, aku ingin keinginan sederhana Oom tercapai.
By. JEVI