Kontroversi Kemenangan Pacman atas Marquez


sergapntt.com [LAS VEGAS] – Pertemuan ke III antara Juan Manuel Marquez vs Manny Pacquiao terjawab sudah. Pacquiao menang angka dengan skor tipis 114-114, 115-113, 116-112. Toh begitu, kemenangan Pacquiao itu menuai kontroversi.  Jelas terlihat saat pertarungan berlangsung —-siaran langsung RCTI, Minggu (13/11/11) – pukulan-pukulan bersih Marquez lebih banyak mengenai Pacquiao. Sementara, Pacquiao cukup kesulitan melepaskan pukulan bersihnya ke arah Marquez. Tak heran, saat MC Ring Michael Buffer mengumumkan hasil, mayoritas penonton di MGM Grand Hotel & Casino, Las Vegas, AS, berteriak: huh…huh…
Mereka tak terima kemenangan Pacquiao. Jika mengamati laga perebutan gelar juara dunia kelas welter (66,6 kg) WBO itu, sejak ronde pertama, Pacquiao sulit memanfaatkan kecepatan dan kekuatannya. Itu semua telah diantisipasi dengan baik oleh Marquez. Pukulan kirinya yang biasa mudah bersarang di wajah lawan, kali ini seperti mati kutu. Semuanya ditepis dengan baik oleh Marquez. Bahkan, terkadang Pacquiao justru mendapat serangan balasan yang cepat dan akurat dari Marquez.
Bukti di ronde 5, Pacman (julukan Pacquiao) sempat kelabakan saat mendapat kombinasi pukulan jab dan straight dari Marquez. Ronde itu hampir jadi titik balik dari perjuangan dan kebesaran Pacquiao. Beruntung bel cepat berbunyi sehingga ketar-ketir yang dirasakan pendukung Pacquiao tak terjawab.
Di ronde-ronde berikutnya pun, Pacman tak bisa memanfaatkan kemampuan teknik, pukulan, dan kecepatan yang dimilikinya. Ia kerap terkena pukulan telak dari Marquez. Kenapa permainan Pacquiao tak berkembang? Jawabannya: Marquez menerapkan taktik dan strategi yang sangat jitu, Marquez tampil tak seperti biasanya yang selalu agresif, tapi kali ini ia lebih banyak bertahan (defensive) dan mengandalkan serangan balik. Marquez lebih banyak melakukan counter attack dan itu sangat efektif.  Kemudian, ia juga mengantisipasi gaya kidal Pacquiao sangat baik. Itu yang membuat penampilan Pacquiao jauh dari yang dharapkan.
Nah, apakah akan ada duel seri IV? Bisa saja terjadi apabila promotor Bob Arum dan televisi kabel HBO merasa akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Jika tidak, hanya berakhir di seri III. Namun, publik tinju tak memberi aplus positif kepada Pacquiao yang kini  menang secara tak wajar.    
“Sudah jelas bagi saya bahwa diriku menang. Kemenangan saya nyata,” kata Pacquiao, yakin.

Hasil tersebut membuat suporter Marquez serentak mengeluarkan ejekan saat Pacquiao memberi komentar setelah pertandingan, sehingga suara PacMan tidak terdengar. Sebuah akhir yang memilukan setelah pertandingan yang berjalan cukup menarik.

“Itu adalah fans Marquez. Saya memahami bagaimana perasaan mereka,” kata Pacquiao.

“Namun, saya menangkis banyak pukulannya. Ia adalah seorang petinju dengan gaya counter puncher. Ia sering menanduk saya.”

Marquez mengklaim kalau pada 2004 silam ia sesungguhnya menang atas Pacquiao, dan kekalahan satu poin pada pertarungan ulang di 2008, membuat pertarungan ketiga memungkinkan untuk dilangsungkan. Kini kata-kata Marquez bahwa kemenangannya telah dirampok berpeluang membuat pertarungan keempat antara dirinya melawan Pacquiao bisa kembali digelar.

“Perampokan kedua dari dua kekalahan. Inilah yang terburuk,” kata Marquerz.

Marquez mengangkat tangannya pertanda kemenangan setelah pertarungan selesai, hanya untuk merasa kecewa karena ia kembali kalah.

“Ini benar-benar suatu perampokan,” imbuh pelatih Marquez, Ignacio Beristain.

Wacana dilakukannya partai ulang terjadi karena promotor Bob Arum mengatakan kalau opsi tersebut ada dalam kontrak.

“Saya akan berusaha dan membuat pertarungan ulang pada Mei 2012,” kata Arum. “Saya wajib dan berkeinginan untuk mendapatkan pemenang definitif satu kali untuk selamanya.”

Pacquiao mengaku tidak bermasalah dengan agenda pertandingan ulang tersebut.

“Saya akan mengikutinya,” ucapnya.

By. THE JACK

Komodo Dan Kemiskinan NTT


sergapntt.com [MBAY] – Upaya bangsa Indonesia mensuport Komodo tembus 7 keajaiban dunia patut diacungi jempol. Perjuangan yang berbuah hasil ini akhirnya dirayakan sebagian rakyat Indonesia dengan rasa syukur. Bahkan warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT menggelar panggung hiburan semalam suntuk di Pantai Pede, pantai terindah di Pulau Flores Bagian Barat untuk menyambut masuknya Komodo dalam nominasi 7 keajaiban dunia versi New7Wonder of Nature.
Gawe ini cukup bermartabat. Karena Komodo bisa mempersatukan bangsa Indonesia dalam semangat kebersamaan. Sejenak teror bom terlupakan, kasus korupsi terabaikan, masalah kelaparan seakan tak ada. Padahal Indonesia, khususnya NTT adalah sarangnya orang miskin. Jika boleh jujur, kehidupan Komodo jauh lebih baik dari kehidupan sebagian warga NTT. Jika sehari-hari Komodo selalu makan daging yang telah disiapkan oleh pawangnya atas biaya pemerintah, maka tidak halnya dengan warga NTT kebanyakan.
Jangankan daging, untuk beli beras saja, ada warga NTT yang tak mampu. Alhasil mereka pun terpaksa makan ubi yang di dapat dari hutan belantara. Itupun harus berebut dengan babi hutan. Miris benar!
Sesekali masyarakat miskin itu menengadah sambil berharap ada perhatian atau bantuan dari pemerintah. Sayang,,,,! Harapan itu hanya mimpi. Sebab, jatah mereka yang dialokasikan milyaran rupiah melalui item anggaran bantuan sosial (bansos) tak tau kemana peruntukannya.
Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan NTT menyebutkan, di Kantor Gubernur NTT terdapat penyalahgunaan dana dan wewenang. Dana bansos Rp. 4 milyar lebih dicairkan hanya berdasarkan nota gubernur dan kwitansi yang keasliannya pun diragukan. Tak hanya itu, masih ada Rp. 13 milyar lebih yang belum dipertanggungjawabkan. Tapi semua masalah itu seakan dibenamkan oleh Komodo.
Hiruk pikuk Komodo telah membuyarkan perhatian terhadap dugaan korupsi dan kemiskinan yang masih merajalela. Hampir semua petinggi di NTT, termasuk Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya konsentrasi bicara soal Komodo kedepan. “Saat ini Manggarai Barat (daerahnya Komodo) masih terdapat kekurangan, sehingga kita harus melakukan pembenahan, karena masih ada kekurangan di sana-sini,” kata Lebu Raya di Kantor Bupati Manggarai Barat, Sabtu (12/11/11) kemarin.

Di Kampung Makipaket, Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo misalnya. Disana rata-rata warga sangat-sangat miskin. Hidup mereka hanya berteduhkan gubuk reot yang nyaris roboh. Tubuh mereka rata-rata kurus dan dekil. Jika ingin mandi, mereka harus berjalan kaki menuju sungai sejauh kurang lebih 2 kilo meter.  80 persennya diantaranya putus di sekolah dasar (SD). Itu karena miskin yang mendera. Bahkan akses jalan menuju kampung itu hanyalah setapak penuh belukar.  Jika malam tiba, yang terlihat hanyalah pantulan lampu teplok. Itu pun hanya dinyalakan saat memasak dan makan. Selepas santap malam, lampu dimatikan dan semua beranjak tidur. Kalau sudah begitu, yang terdengar hanyalah hembusan angin dan celoteh burung hantu.
Setelah komodo masuk nominasi bersama Amazon, Halong Bay, Iguazu Falls, Jeju Island, Puerto Princesa Underground River, dan Table Mountain, otomatis komodo dan sekitarnya akan menuai rejeki berlimpah. Kunjungan wisatawan akan membangkitkan geliat ekonomi masyarakat setempat. Imbasnya diharapkan dapat dirasakan juga oleh masyarakat NTT umumnya, termasuk warga di kampung Makipaket. Semoga!
By. CHRIS PARERA

Ayah Saya Mati Tertembak Di Timor Timur


SAYA adalah anak seorang kopral anumerta. Ya! Benar! Bapak adalah seorang anggota ABRI yang berpangkat kopral. Dia sudah tewas tertembak dalam suatu pertempuran demi bangsa dan negara. Itulah sebabnya dibelakang pangkatnya diberi anumerta. 
Bapak bagi saya adalah sosok pribadi yang menyenangkan. Disetiap kesempatan luang, dia mengajak ibu, dua adik dan saya jalan-jalan. Kami hanya jalan-jalan menikmati keindahan kota. Sebelum jalan-jalan bapak atau ibu senantiasa berpesan agar kami tidak boleh meminta apa-apa. Kalau bapak atau ibu punya uang, maka kami akan dibelikan sesuatu, entah mainan yang dijual di emper toko atau kue-kue di pedagang kaki lima. Kata ibu gaji bapak sangat kecil, sehingga tidak mungkin kami beli
mainan di toko atau makan di restoran. Bapak hanyalah seorang prajurit. Tapi meski hidup susah, saya bangga pada bapak. Apalagi kalau melihat bapak dengan seragam lengkap. Dia tampak gagah dan tampan.

Kedekatan saya dengan bapak tidaklah lama. Saya masih kelas tiga SD ketika bapak mendapat tugas ke Timor Timur. Saya sendiri tidak tahu dimana tempat itu. Ibu hanya bilang bahwa Timor Timur itu jauh di timur negara Indonesia. Malam sebelum berangkat bapak mengambil peta Indonesia dan menunjukan dimana tempat yang namanya Timor Timur. Suatu daerah kecil yang diberi warna lain, sebab tidak termasuk negara Indonesia. Bapak menjelaskan bahwa dia bersama teman-temanya harus naik kapal laut selama beberapa hari baru bisa mencapai tempat tersebut.

Kata ibu bapak kesana akan berjuang. Ini sudah menjadi tugas seorang prajurit yaitu siap diperintah kemana saja dan berjuang melawan musuh. Saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak disana. Saya juga tidak tahu pasti siapa musuh bapak di sana. Apakah berjuang melawan penjajah seperti cerita kakek yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Atau berjuang melawan pemberontak seperti cerita kakek tentang pemberontakan Kahar Muzakar, RMS, DI/TII atau yang lain. Saya tidak tahu, ibu pun tidak tahu. Maklum ibu bukan orang yang berpendidikan tinggi. Kami juga kekurangan informasi, sebab tidak berlangganan surat kabar. Kami tidak mempunyai uang untuk berlangganan surat kabar. Beberapa kali saya melihat bapak membaca surat kabar yang dibeli eceran atau hasil dari pinjam ke tetangga. Kami juga tidak mempunyai TV. Ini suatu barang yang sangat mewah. Yang kami punya hanya radio kecil dan hanya bisa menangkap siaran radio amatir. Atasan bapak juga tidak menjelaskan dengan rinci untuk apa dia harus mengirim bapak kesana. Menurut bapak, dia hanya mengatakan bahwa sebagai prajurit yang menjalankan sapta marga, dia harus siap untuk diutus kemana saja. Maka ibu tidak bisa menjelaskan mengapa bapak harus berjuang di Timor Timur.

Bapak sendiri tidak tahu apa yang terjadi di Timor Timur. Dia hanya mengatakan bahwa di sana terjadi kerusuhan dan sebagai prajurit, dia harus mengamankan negara dari kerusuhan. Ini perintah dan harus ditaati. Sampai bapak berangkat saya tidak tahu apa yang diperjuangkan bapak. Apa yang menyebabkan kerusuhan. Siapa yang dianggap perusuh. Saya sendiri tidak tahu apa arti kata berjuang bagi seorang prajurit ABRI. Yang saya tahu pasti ialah bahwa bapak mendapat tugas pergi ke Timor Timur bersama teman-temannya. Kedua, hal itu berarti bahwa saya akan lama untuk tidak bertemu dengan bapak. Saya hanya akan memandang foto bapak yang gagah dalam seragam prajurit marinir.

Sebulan bapak tidak terdengar kabar beritanya. Bagi ibu ini hal biasa. Ibu sudah tahu konsekwensi istri prajurit. Dia akan sering ditinggal pergi oleh suaminya. Tapi saya tidak senang bapak pergi terlalu lama. Saya kangen dengan bapak. Saya kangen belaian tangannya yang kasar. Saya kangen digendong belakang. Saya kangen diajak jalan-jalan. Saya kangen untuk menunjukan pada teman-teman bahwa bapak saya adalah seorang ABRI yang sangat gagah dalam pakaian seragamnya. Saya kangen bapak. Saya yakin ibu juga kangen, tapi tidak ditunjukan pada kami. Saya juga yakin bahwa adik-adik kangen pada bapak, tapi mereka tidak bisa mengungkapkan, sebab mereka masih umur 3 th dan 4 bulan. Saya yang sudah besar, sudah klas 3 SD, dapat merasakan rasa kangen itu dan mengungkapkannya.

Hampir menginjak bulan kedua bapak belum juga pulang. Beberapa kali saya tanya ibu, kapan bapak kembali. Ibu selalu mengatakan tidak tahu atau kalau keadaan sudah aman. Kata ibu situasi di Timor Timur sangat berat dan gawat. Beberapa teman bapak tewas di sana. Ada yang pulang tapi mengalami gangguan jiwa. Dia sering teriak-teriak pada malam hari dan sangat ketakutan dalam gelap. Padahal dulu dia pemberani. Kalau tidak pasti dia tidak akan jadi prajurit. Tapi kini dia menjadi penakut dan sikapnya aneh. Pernah dia menangkap cicak di rumah kami, langsung dimakan. Tentu saja saya jadi jijik. Kata ibu teman bapak itu mengira bahwa dia masih di Timor Timur. Ada juga teman bapak yang pulang dengan menyandang cacat tubuh. Ada yang kakinya hilang satu ada yang tangannya hilang.

Melihat teman bapak itu, saya jadi takut. Jangan-jangan bapak pulang nanti menjadi seperti itu. Tapi bapak belum pulang, maka saya hanya bisa berdoa semoga bapak bisa cepat pulang dan tidak berubah. Masih seperti bapak yang dulu. Menginjak beberapa hari setelah bulan kedua, seorang tentara datang ke rumah kami. Saya tidak tahu apa yang dia ceritakan. Yang saya tahu tiba-tiba ibu menjerit dan menangis histeris, sampai beberapa tetangga berusaha menenangkannya.
Melihat ibu menangis semua adik juga ikut menangis. Tapi saya tidak, sebab tidak tahu mengapa ibu menangis. Banyak tetangga yang berkumpul di rumah kami sampai tentara itu pergi. Saya melihat ibu beberapa kali pingsan. Jika sadar dia berteriak-teriak memanggil nama bapak. Saya mengira ibu bertengkar dengan tetantara itu dan memanggil bapak untuk membelanya. Akhirnya saya bertanya pada ibu apa yang terjadi. Dengan sedih tetangga sebelah menceritakan bahwa bapak saya tewas ditembak. Ya bapak saya tewas dalam berjuang, meski saya sendiri tidak tahu apa yang diperjuangkan. Bapak juga tidak menjelaskan apa yang diperjuangkan. 
Bapak tewas. Saya tidak berani mengatakan bapak gugur. Kata itu hanya untuk para pahlawan dan para tentara yang mempunyai pangkat. Bapak bukan pahlawan. Dia juga bukan perwira. Dia hanya seorang prajurit yang mati ditembak. Saya kehilangan bapak. Padahal saya masih membutuhkan bapak. Apalagi adik-adik. Tentu si bungsu tidak akan pernah tahu siapa bapaknya. Dia hanya akan tahu dari sebuah foto di ruang tamu. Saya sedih sekali. Bapak telah ditembak. Saya tidak tahu siapa yang menembak bapak. Saya tidak tahu apakah yang menembak bapak bisa disebut musuh atau bapaklah yang dianggap sebagai musuh. Saya tidak tahu siapa yang benar, siapa yang dibela, siapa yang diperjuangkan. Yang saya tahu dengan pasti ialah bahwa bapak diperintahkan untuk pergi ke Timor Timur dan mati ditembak orang di sana.

Beberapa minggu kemudian peti mati bapak datang. Ibu histeris di depan peti mati. Tapi bapak tetap mati. Sebetulnya saya ingin sekali melihat wajah bapak yang gagah untuk terakhir kalinya. Tapi ada larangan untuk membuka peti mati. Saya tidak kuasa dengan perintah itu. Ibu pun tidak kuasa menolak perintah atasan bapak. Ibu harus percaya bahwa yang ada dalam peti mati itu adalah jenasah bapak. Betapa sedihnya hati saya. Untuk melihat wajah bapak yang terakhir saja tidak bisa. Dengan berderai air mata, saya mengatar bapak ke pemakaman. Dalam pemakaman ada beberapa sambutan yang saya sendiri tidak tahu apa yang dikatakan oleh atasan bapak. Hanya yang saya tahu dia menyerahkan sebuah amplop berisi uang dan sebuah tanda penghargaan. Ganti nyawa bapak adalah uang yang ada dalam amplop dan selembar kertas yang katanya berisi tanda penghargaan atas keberanian bapak dalam membela negara. Saya nangis saat itu. Saya tidak mau nyawa bapak diganti oleh lembaran itu. Saya lebih memilih bapak tidak mendapat tanda jasa dan kenaikan pangkat, dari pada harus kehilangan bapak yang saya cintai.

Ternyata bapak bukanlah satu-satunya dan yang terakhir. Masih banyak teman-teman bapak yang tewas atau pulang dengan cacat. Mereka pada umumnya adalah prajurit dengan pankat rendah. Saya belum mendengar seorang jendral yang tewas atau pulang dengan cacat tubuh. Tapi hal ini semakin membanggakan saya bahwa bapak jauh lebih berani berjuang dari pada para jendral, sebab buktinya bapak berani tewas ditembak, sedangkan para jendral pulang dengan selamat. Tapi merekalah yang terkenal, sedangkan bapak tetap sebagai kopral anumerta, yang tidak pernah disebutkan dalam sejarah. Bapak hanyalah seorang prajurit yang harus taat pada perintah atasan bahkan siap mati demi membela bangsa dan negara.

Sampai kini kesedihan terus berlanjut. Kehilangan bapak dan kemiskinan akibat pensiun bapak yang kecil tidak mampu memenuhi semua kebutuhan hidup. Ibu dan saya harus berjuang untuk bisa bertahan hidup. Tapi hal yang sangat menyedihkan saya saat ini ialah bapak dan teman-teman dicaci maki sebagai biang kerusuhan saat ini. Bapak menjadi tentara bukan untuk menindas, tapi punya tujuan mulia yaitu mempertahankan negara dan bangsa dari serangan musuh, seperti kakek dulu mempertahankan negara dari serangan Belanda. Saya yakin kalau boleh memilih bapak pasti menolak untuk pergi ke Timor Timur. Dia berangkat kesana karena taat pada perintah atasan. Disana dia pasti pernah menembak dan dia mati terkena tembakan. Oleh siapa? Musuh bangsa? Pejuang bangsa? Saya tidak tahu!

Saat ini banyak orang mengkritik bapak dan teman-teman bahwa dia melakukan kekerasan di Timor Timur. Bapak bukan orang yang suka kekerasan. Dia pasti menembak supaya tidak mati ditembak. Tapi toh akhirnya dia ditembak. Pengorbanan nyawa bapak tidak ada gunanya, bahkan saya saat ini malu jika ingin mengatakan bahwa bapak adalah ABRI yang berangkat ke Timor Timur pada tahun 1976. Bukan saya tidak bangga dengan bapak, tapi saya tidak tahan dengan ejekan sebagai anak ABRI yang mendapat nilai jelek sekali dihadapan teman-teman. Seolah apa yang dilakukan bapak adalah kesalahan besar, padahal bapak hanya seorang prajurit yang harus taat pada pimpinan.

Di depan kuburan bapak saya hanya bisa mengeluh pada sebuah batu nisan. Saya ingin protes mengapa bapak dulu memilih sebagai tentara, mengapa bukan sebagai pekerja pabrik, kantor, bahkan tukang becak atau pemulung sekalipun. Mengapa bapak memilih menjadi tentara? Mengapa bapak mau dikirim ke Timor Timur? Apakah itu dosa bapak, sehingga banyak orang sekarang sinis pada saya yang mengatakan bahwa bapak adalah salah satu tentara yang dikirim ke Timor Timur pada tahun 1976? Pernah ibu meneguhkan saya, ketika saya digelisahkan oleh persoalan ini. Ibu mengutip dari Injil Yohanes, “Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah dia yang melemparkan batu yang pertama pada perempuan itu.” Saya hanya berdoa semoga bapak hanyalah sebagai perempuan yang tertangkap berbuat zinah. Dia harus diadili sedang yang lelaki tidak diadili oleh massa.

Bapak dan teman-teman harus diadili sedangkan yang berkepentingan tidak diadili. Dan yang mengadili bapak adalah masa yang sebenarnya juga penuh dengan dosa, sering berbuat kekerasan, tidak adil, penindas. Ini meneguhkan saya agar saya tidak melihat nyawa bapak sebagai sebuah kesia-siaan.

Tapi bagaimanapun juga salib masih harus kami pikul. Kemiskinan, status kami sebagai anak piatu, kerinduan kami pada bapak yang tidak mungkin dipenuhi dan terlebih nama jelek bapak karena dia adalah tentara. Ya, saya hanyalah anak seorang kopral anumerta. Seorang kopral yang katanya membela nusa dan bangsa sehingga harus menyerahkannya nyawanya.

by. GANI / Email: yogas@indo.net.id

Serangan Terhadap Kaum Kristen Di Mesir Terus Meningkat


sergapntt.com [KAIRO] – Koptik Mesir merupakan salah satu komunitas Kristen tertua di dunia. Rasul Markus mendirikan sebuah gereja di kota Aleksandria hanya 10 tahun setelah kenaikan Yesus. Namun hari ini banyak orang Kristen Mesir yang sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan negara tersebut karena kuatir Islam radikal telah membajak revolusi demokrasi bangsa.
Jatuhnya Presiden Mesir Hosni Mubarak baru-baru ini telah membawa harapan dan kesempatan bagi orang-orang yang sudah lama tertindas di bawah seorang diktator yang tidak populer beserta bawahannya.
Kristen Koptik bergabung dengan kaum Muslim melakukan protes di Tahrir Square, namun sejauh ini kebebasan yang mereka inginkan tetap sukar dipahami dan komunitas Kristen minoritas berada di bawah pengepungan.
Paul Marshall, anggota senior Hudson Institute, mengatakan sebenarnya jumlah serangan terhadap Kristen Koptik telah meningkat semenjak Mubarak mengundurkan diri. “Hal ini menyebabkan banyak orang Kristen Koptik kuatir dan bertanya-tanya, ‘Apakah ini pertanda dari masa depan?’, jelas Marshall.
Sejauh ini, tahun 2011 merupakan tahun yang tragis bagi orang Kristen Mesir. Pada Tahun Baru bom bunuh diri mengerikan terjadi di gereja St. Markus, Aleksandria. Penjaga keamanan Magdy Wahib berada di pintu masuk gereja saat kebaktian selesai sesaat setelah tengah malam. “Saya tiba-tiba menemukan diri saya terlempar dari dalam gereja. Saya tidak kehilangan kesadaran, namun saya merasa sakit parah di perut, tangan dan pinggang,” kenang Wahib.
Wahib dibawa ke sebuah rumah sakit dimana dokter bedah mengeluarkan sepotong pecahan peluru hampir tujuh inci panjangnya dari perutnya bersamaan dengan 30 inci dari ususnya. Wahib termasuk di antara 100 orang Kristen yang cedera dalam serangan itu. Dua puluh tiga orang lainnya tewas. Orang Kristen di St. Markus dan gereja-gereja lain bertekad untuk memperjuangkan masa depan yang baru di Mesir. Mereka tahu bahwa darah para martir merupakan benih gereja dan akan terus bertahan.
Kristen Koptik mengatakan mereka tidak diperlakukan sama meskipun mereka merupakan mayoritas di Mesir selama lebih dari 1.000 tahun. Hari ini, orang Kristen hanya terdiri dari 13 persen dari populasi sementara 86 persen orang Mesir adalah Muslim.
Orang Kristen jarang mendapatkan izin pemerintah untuk membangun gereja-gereja baru. Anggota sebuah gereja di Giza, sebuah kota dekat Kairo, mengatakan kepada CBN News, mereka berhasil memperoleh izin membangun gereja setelah melakukan pertempuran yang panjang selama 10 tahun.
Pada bulan November 2010, polisi keamanan mengepung gedung mereka yang baru dibangun sebagian. Dua orang Kristen tewas sementara 20 lainnya menjadi buta dalam serangan tersebut.
Sopir taksi Naseer Fakhry Bakheet saat ini tidak memiliki pekerjaan karena ia kehilangan penglihatan pada mata kirinya setelah terkena peluru karet. “Para polisi masuk ke dalam gereja dan menghina serta memukuli kami seolah-olah kami adalah penjahat. Mereka meneriakkan slogan mereka dan bersikap seolah-olah kami bukanlah manusia. Seolah-olah kami bukanlah manusia, hanya binatang yang tidak memiliki hak. Seolah-olah kami bukanlah orang Mesir”, paparnya.
Polisi dan militan Muslim bukanlah satu-satunya yang menyerang Kristen Koptik. Sebuah gelombang serangan baru berasal dari tentara Mesir. Sebuah video amatir yang diberikan kepada CBN News menunjukkan serangan militer terhadap sebuah biara di dekat Aleksandria pada bulan Januari.
Setelah polisi setempat meninggalkan kantor mereka, para biarawan di St. Bishoy membangun dinding di pintu masuk biara untuk melindungi diri dari penyusup. Tentara menanggapi hal ini dengan mengirimkan 100 tentara dengan tank dan artileri ringan untuk menghancurkan dinding.
Tiga orang terluka, termasuk seorang biarawan yang harus kehilangan limpanya akibat serangan itu.
“Militer seharusnya melindungi kami, bukannya memukul dan menyiksa kami. Kami tidak bersalah. Kami berdoa dan mencoba untuk membantu orang, itulah yang kami lakukan”, ujar Pastor Halmanout, seorang imam di biara itu.
Orang Kristen Mesir mengatakan insiden tersebut hanyalah merupakan contoh mengapa mereka membutuhkan perlindungan dari pemerintah baru. Namun Ikhwanul Muslimin – kelompok politik terkuat di Mesir saat ini – menegaskan bahwa hukum syariat Islam akan tetap merupakan dasar dari masyarakat Mesir.
Kelompok ini juga menentang perubahan demokratis dalam konstitusi yang akan memberikan hak yang sama dan memungkinkan orang Kristen dan wanita Muslim menjadi presiden. Advokat hak asasi manusia Monir Bishara menghabiskan sebagian besar waktu luangnya di Facebook berbagi ide-ide demokrasi dengan kaum muda. Ia mengatakan banyak orang Mesir beragama, namun tidak akan mendukung pemerintahan teokratis seperti yang terjadi di Iran. “Ikhwanul Muslimin bicara tentang demokrasi, namun di dalam diri mereka sendiri – jika mereka mengambil alih kekuasaan – hal itu akan menjadi pemilihan demokrasi terakhir dan pemerintahan akan kembal menjadi diktator,” jelas Bishara.
Marshall merasa PBB dan Departemen Luar Negeri AS sangatlah naif dan terlalu optimis pada Ikhwanul Muslimin. “Mereka berkata, ‘Yah, generasi yang lebih muda di Ikhwanul mungkin jauh lebih terbuka’,” ujarnya. “Saya pikir itu benar, namun mereka yang berumur 23 tahun tidak menjalankan Ikhwanul.”
Marshall menambahkan bahwa pengalaman Hamas di Gaza sekilas merupakan masa depan Mesir di bawah Ikhwanul Muslimin. “Hamas asalah Ikhwanul Muslimin dari Palestina. Mereka memenangkan pemilihan. Dan tidak ada pemilu lagi semenjak itu, dan mereka membunuh kaum oposisi Palestina,” ujarnya.
Itulah sebabnya banyak Koptik Kristen mungkin akan meninggalkan Mesir. Mereka kuatir akan apa yang akan datang. Namun, banyak orang seperti Pastor Halmanout yang akan tetap tinggal apapun yang terjadi. “Kami percaya kepada Tuhan dan kami tidak takut,” ujar Halmanout. “Yesus berkata kepada kita bahwa orang akan menentang kita menggunakan tangan dan kekuatan manusia, namun kita memiliki tangan Tuhan. Pribadi yang akan melindungi dan menyelamatkan kita.”
Penindasan dan intimidasi yang dilaksanakan secara sistematis membuat ratusan ribu umat Kristen Koptik meninggalkan bumi firaun Mesir. Data akhir dari organisasi HAM “Egyptian Union for Human Rights” mencatat bahwa eksodus besar-besaran itu terjadi sejak kejatuhan Hosni Mubarak.
Salah satunya adalah pemuda berusia 29 tahun bernama Tamer Salama yang bersiap untuk berimigrasi ke Amerika Serikat. Dirinya yakin ditempat itu akan mendapat perlakuan sejajar dalam hal beragama.
“Sebagai umat Koptik saya merasa didiskriminasi. Di tempat kerja juga ada diskriminasi dan dalam mencari pekerjaan baru, saya juga didiskriminasi,” ungkap Tamer.
Dari ratusan ribu umat Koptik yang pindah tersebut didominasi oleh kaum muda seperti Tamer yang berpendidikan baik dan berwawasan luas. Namun kekuatiran akan masa depan di Mesir membuat mereka lebih memilih satu tempat dimana keyakinan mereka tidak diganggu dan mendapatkan hak sosial politik yang sama.
Namun tidak semua Koptik berpandangan sama seperti Tamer dan ratusan ribu lainnya yang melakukan eksodus. Beberapa Koptik yang mengaku cinta tanah air Mesir tetap tinggal dan bertekad untuk memperjuangkan hak kebebasan beragama.
“Saya harus tetap tinggal di Mesir untuk mengubah negara ini. Saya tidak lari dari persoalan, saya justru ingin menyelesaikan masalah. Walaupun agama kita berbeda-beda, tetapi kita semua adalah rakyat Mesir,” ungkap seorang pejuang kebebasan Koptik Beshoy Fayez yang sering turun ke jalan untuk menyuarakan hak para minoritas.
Semua individu mempunyai hak untuk menentukan pilihan dan kebebasan beragama. Kewajiban setiap pemerintah lah untuk menjaga pilihan dan keyakinan tersebut tetap berlangsung tanpa adanya gangguan dan diskriminasi dari kelompok lain.
By. THOM / JAWABANCOM

Kode Etik Wartawan Media Online


sergapntt.com [JAKARTA] – Anggota Dewan Pers, Agus Sudibyo mengatakan tidak perlu kode etik khusus bagi media online. Sebab, wartawan media online juga mengacu pada kode etik yang sama bagi wartawan manapun.
“Yang perlu itu panduan penanganan media online di Dewan Pers,” kata Agus saat Workshop Panduan Etik Media Online di Kantor Dewan Pers.
Menurut dia, dari sejumlah pengaduan yang muncul sebagian besar mempersoalkan akurasi dan konfirmasi. Bagi Agus, kedua soal itu sering dihadapkan dengan argumen media online yang membutuhkan kecepatan. Sehingga, konfirmasi bisa di beritakan pada sesi berikut.
Padahal, lanjut Agus, Dewan pers mengacu pada konfirmasi harus di berita yang sama. “Disiplin harus melekat pada berita, kecuali informatif saja,” ujarnya.
Agus mencontohkan, berita ada ledakan di Utan Kayu, bersifat informatif, tidak perlu konfirmasi. Tapi, berita ledakan di Utan Kayu untuk Ulil (Ulil Abshar Abdalla ) karena dianggap agen zionis, membutuhkan konfirmasi. “Apakah konfirmasi bisa dinegasikan atas nama kecepatan,” katanya.
 Sebab itu, “Perlu segera dirumuskan bagaimana duduk perkara konfirmasi di media online,”.
Agus mengatakan, problem lain media online adalah bagaimana menyikapi berita yang salah. “Apakah dipertahankan atau dihapus saja,” ujarnya. Menurutnya, ada praktisi media online berpandangan berita salah itu dibiarkan, agar publik tahu media pernah buat berita salah. Masalah muncul,  jika berita berisi fitnah. “Sering dipersoalkan juga komentar berita. Dibawah berita yang ditulis media online ada komentar yang sering muncul komentar offside. Penuh kebun binatang,” katanya.
Menurutnya, hal itu perlu diatur juga, apakah komentar diposting itu perlu otoritas jalur redaksi atau dibiarkan begitu saja. Sebab, komentar itu banyak anonim. “Sekarang hampir semua media menyediakan itu,” katanya.
Praktisi media online, Redaktur Pelaksana VIVAnews, Wenseslaus Manggut mengungkapkan cepatnya arus informasi di social media membuat isu lebih cepat nongol di ruang publik. Dia mencontohkan, soal polemik Nazaruddin saat ini, redaksi sudah mendapatkan bahan, tetapi kurang konfirmasi dari pihak tertuduh.
“Bagaimana kita memperlakukan berita nongol di ruang publik, apakah perlu konfirmasi atau konfirmasi berikutnya,” katanya. Menurutnya, Dewan Pers perlu memberi perhatian pula pada berita bersumber BBM atau SMS.
Soal komentar pembaca, menurutnya Redaktur VIVAnews sudah mencoba membuat komentar itu harus memakai email lengkap untuk menghindari anonim. “Tapi, email itu orang juga mudah ngarang,” katanya.
Masalah terkadang muncul di forum. “Nah, di forum itu sering ada anggota forum yang itu bukan bagian redaksi, memberikan link blognya. Dan link itu ada materi pornonya juga,” katanya.
Sementara, Redaktur Detik, Didik Supriyanto mengatakan,  prinsip jurnalistik yang sering dipersoalkan akurasi dan keberimbangan. Menurutnya, soal akurasi tidak ada toleransi. Tetapi, terkadang ada kendala teknis di lapangan, jelas Didik.
By. TEAM