![]() |
| Ampera Seke Selan |

![]() |
| Ampera Seke Selan |
Mantan pejabat CIA Bruce Ridel menjelaskan, artikel tentang rencana serangan Israel ke Iran yang muncul pada Jumat pekan lalu ditulis oleh seorang jurnalis kawakan asal Israel, Nahum Barnea. Selain itu, Barnea juga memusatkan perhatiannya pada isu latihan udara militer Israel.
Tentu saja, Israel dapat bertahan dan melakukan serangan ke Iran, Israel juga memiliki senjata nuklir. Namun, Iran juga berkemampuan besar untuk menghabisi Israel.
Iran merupakan negara yang dapat menggandeng mitranya yang menganut paham syiah seperti halnya Irak untuk membantunya. Iran juga dapat meminta bantuan kepada para pejuang Hizbullah yang membenci Israel.
Hizbullah bahkan dapat merubah wilayah Israel menjadi zona peperangan dan memaksa seluruh pemukim Israel pergi dari kota. Iran juga memiliki misil yang dapat menjangkau Tel Aviv.
Selain Hizbullah dan Irak, Iran juga menggandeng Suriah yang kini banyak mendapat kecaman dari dunia internasional.
Seorang mantan pejabat militer Israel Meir Dagan juga mengatakan, serangan Israel ke Iran merupakan tindakan yang dungu, dan Ridel pun setuju atas pernyataan Dagan.
Sarkozy mengatakan, Prancis sangat mengecam sikap Iran yang tidak mematuhi hukum internasional. Meski Sarkozy menolak adanya penggunaan kekuatan militer terhadap Iran, dirinya menegaskan, Prancis siap turun tangan bila mulai Israel terancam.
Pada Kamis lalu, Sarkozy dan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mendiskusikan masalah Iran di Pertemuan G20. Kedua petinggi negara itu pun sepakat untuk tetap menekan Iran agar negara tersebut mematuhi hukum internasional.
AS sebelumnya juga sudah menegaskan, mereka tidak akan mau menggunakan kekuatan militer untuk menyerang Iran. AS berpikir, sanksi dan isolasinya terhadap Iran cukup untuk menekan negara tersebut. AS juga tidak menutup jalur diplomasi bila Iran hendak membicarakan masalah nuklirnya.
Hingga saat ini, Israel tampak gencar menabuh genderang perang terhadap Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan tengah mencari dukungan di pemerintahannya untuk mengadakan invasi ke Iran.
LLF merupakan sebuah gerakan yang dibentuk untuk membebaskan Libya dari cengkraman NTC. Mereka menilai NTC tak lain adalah pemerintahan boneka yang diciptakan oleh North Atlantic Treaty Organization (NATO).
Sementara itu, suku Warfalla adalah salah satu suku terbesar yang ada di Libya. Mereka merupakan pihak yang gencar untuk merencanakan pembalasan dendam.
Para suku Warfalla tinggal di Bani Walid, dan mereka pun kerap dijarahi oleh pasukan NTC saat adanya penyerbuan.
Masyarakat Warfalla juga sangat membenci NTC, sebelumnya mereka juga sudah merencanakan akan adanya pembalasan dendam atas kematian Khadafi.
Bagi suku Warfalla, mempertahankan tempat tinggal adalah sebuah kehormatan. Mereka juga akan membunuh setiap orang yang melakukan penjarahan dan pembunuhan terhadap sanak saudaranya.
“Besok adalah hari yang baru. Cepat atau lambat kami akan melakukan pembalasan dendam,” ujar salah satu masyarakat suku Warfalla sambil menunjuk bangunan yang terbakar di kotanya, seperti dikutip AFP.
Para masyarakat adat Warfalla juga mengatakan, dirinya benci akan para pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC) Libya yang mengalahkan para loyalis Khadafi di Bani Walid.
“Ketika para pasukan NTC gagal mencari para loyalis Khadafi, mereka marah dan menembaki binatang, menjarah perumahan, dan membakar apartemen dan bangunan lain. Saat ini, masyarakat pun marah. Pasukan NTC menghabisi seluruh warga dengan penjarahan itu dan melakukan pembunuhan,” ujar seorang warga Warfalla, Suleiman.
“Masyarakat di Bani Walid merupakan suku pribumi. Kami tidak memiliki orang asing di sini. Hanya suku Warfalla dan tidak akan ada yang sanggup memerintah kami, kami akan bertindak secepatnya di sini atau bahkan di Tripoli,” tandasnya.
Warfalla merupakan salah satu suku terbesar di Libya dengan populasi sebesar satu juta jiwa. Suku Warfalla juga tersebar di Libya dan terpecah-pecah dalam beberapa klan. Para suku Warfalla yang tinggal di Bani Walid adalah pendukung kuat dari rezim Khadafi dan mereka pun hendak melakukan upaya pembalasan dendam terhadap NTC.
“Bani Walid menderita akibat dukungannya terhadap Khadafi. Namun, kami mencintai Khadafi dan kami menunggu saat yang tepat untuk melakukan pembalasan. Para perampok revolusi itu menghancurkan dan mencuri apapun di kota kami,” ujar seorang warga Bani Walid Al Sahbi al Warfalli.
“Melindungi tempat tinggal kami adalah kehormatan. Kami akan membalas setiap orang yang membunuh dan menjarah kami,” tambahnya.
Tidak ada satu pun pesawat itu yang sanggup untuk lepas landas. Mesinnya sudah rusak, dan pesawat itu tampak seperti besi berkarat. Jendela di kokpit pesawat itu bahkan buram akibat terkena sinar ultraviolet.
“North Atlantic Treaty Organization (NATO) tidak mengembomnya, tidak ada satu pun dari pesawat ini yang terbang,” ujar pasukan Dewan Transisi Nasional sambil tertawa.
Khadafi juga masih menyimpan tank buatan Rusia yang sudah usang seperti T55 dan BMP-1. Tank tersebut juga dipastikan sudah tidak dipakai bertahun-tahun.
Pada 1970, perekonomian Libya meningkat namun Libya akhirnya dijatuhkan embargo minyak pada 1982 dan semakin diperberat lagi pada 1996. Kesulitan ekonomi juga tampaknya membuat Libya untuk menyimpan mesin-mesin perangnya.
Sejak dulu, Libya memang menjadi konsumen dari senjata-senjata buatan Rusia. Kejatuhan Khadafi juga menyebabkan kerugian besar bagi Rusia.Sebagai eksportir senjata terbesar nomor 2 dunia, Rusia dilaporkan menderita kerugian sebesar USD4 miliar atau sekira Rp35,8 triliun.