
Ya,,, mayoritas warga Dusun Rampasasa hanya memiliki tinggi badan sekitar 140 cm hingga 150 cm. Dan, berdasarkan hasil penelitian dari Tim Antropologi Ragawi Universitas Gadjah Mada yang dipimpin Profesor Teiku Jacob menyatakan bahwa 80% warga Rampasasa tergolong sebagai individu Pigmy atau katai.
Sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai petani, mereka menanam padi, ubi, dan buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri atau digunakan sebagai alat tukar atau berter dengan hasil tanaman lainya yang dihasilkan oleh penduduk desa tetangga.
Hingga sekarang, belum ada penyebab yang pasti kenapa penduduk Rampasasa bisa menjadai Katai, tapi menurut salah satu tetua Rampasasa bernama Darius Sika; kelainan tinggi badan warga rampasasa ini besar kemungkinanya disebabkan faktor keturunan, dan hal ini mungkin saja benar, karena beberapa anak Rampasasa yang merupakan hasil hubungan kawin campur mempunyai tinggi badan 160 cm hingga 170 cm. Kondisi ini makin menegaskan bahwa faktor keturunan ikut andil dalam anomali tinggi badan kaum Rampasasa ini.
Terlebih lagi dengan ditemukanya fosil manusia purba Homo Floresiensis yang memang merupakan spesies katai (berdasarkan rekap rangka, tinggi badan rata-rata Homo Floresiensi hanya sekitar 100 cm sampai 120 cm) di Gua Loa, sebuah situs antropologi yang berada tak jauh dari Rampasasa, jaraknya hanya sekitar 1 kilometer).
Begitulah sepenggal profil kaum hobbit Rampasasa. Tapi,,,,,,! Terlepas dari bagaimana fisik warga Rampasasa, mereka tetaplah saudara kita yang harus kita sayangi, mereka adalah salah satu komponen perbedaan dalam kebinekaan Nusantara yang sudah membuat bangsa ini menjadi Kuat. Tak ada istilah beda fisik, kerena kita semua akan nampak sama di mata Tuhan Allah kita. Hanya Iman dan Amal kitalah yang membedakanya. (by. wahw33d)
sergapntt.com [Maumere] – Hari gini masih ada yang hidup seperti dijaman purba? Masya Allah! Begitulah kondisi terakhir kehidupan sebagian warga NTT, terutama mereka yang tinggal di Desa-Desa terpencil. Namun sedikit lebih beruntung bagi warga Desa Meken Detung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT. Jika sebelumnya setiap malam mereka hanya diterangi lampu pelita (lampu minyak) plus bonus sinar rembulan, itu pun kalau pas bulan terang, kini mereka bisa merasakan pelayanan listri berkat Program Listrik Masuk Desa Tahun 2010 lalu.
Kerinduan telah terjawab. Pelan tapi pasti, pola pikir dan pola hidup warga setempat mulai berubah menjurus ke arah yang lebih baik. Bahkan sebagian warga memanfaatkan listrik untuk bisnis, industri, termasuk melayani warga yang ingin mengisi baterei handphone (HP). Maklum warga desa tetangga masih ada yang belum mendapat pasokan listrik. “Biasanya sekali cas, kami bayar Rp. 2000,” ujar hendrik, warga desa tetangga Meken Detung.
Hal yang sama juga dibeberkan Kepala Desa (Kades) Meken Detung, Maria Feligonda. “Sebelumnya kita pakai pelita, waktu belum ada listrik. Bahkan untuk cas HP saja, kami harus ke Kota Maumere,” ungkapnya.
Namun kesulitan itu akhirnya berakhir. Sekarang warga Meken Detung tidak lagi harus ke Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, hanya untuk cas HP. “Sejak 26 April 2011 lalu listrik masuk disini. Kita disini pakai listrik pra bayar,” jelas Maria.
Maria mengatakan, di desanya sudah sekitar 200 kepala keluarga (KK) yang sudah mendapatkan pelayanan listrik dari 478 KK yang ada di desanya. “Mereka belum dapat listrik karena jaringan listrik belum sampai. Jadi,,, ada beberapa RT yang belum dapat listrik. Kata PLN, jaringan yang belum ada itu akan ditambah secara bertahap,” paparnya.
Namun kendala yang dihadapi masyarakat adalah besarnya biaya pemasangan listrik yang mencapai Rp 2 juta untuk 900 VA dan Rp 3 juta untuk 1.300 VA. Toh begitu, masyarakat mendapatkan dana pinjaman PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat). Dana program inilah yang sedikit membantu warga dengan pengembalian bertahap alias cicil.
Dengan adanya akses listrik ini, Maria mengaku, sangat membantu warga untuk beraktivitas. Anak-anak mereka dapat belajar dengan baik, dan bisa membantu kegiatan ibu-ibu yang biasa melakukan kegiatan tenun.
“Kami sekarang sudah senanglah, karena listrik sudah masuk. Yah,,, bisa dibilang kerinduan yang terobati, hehehehe,,,,” ujarnya, polos. (by. nrs/dnl)