Mengenang Kembali Tragedi Berdarah Atambua Di Hari Sumpah Pemuda 2011


sergapntt.com [BORONG] – Sejumlah pemuda tampak berkumpul di salah satu sudut kota Borong, ibukota Kabupaten Manggarai Timur Jumat (28/10/11) pagi. Sambil ngopi and ngerokok, Romy (25), pemuda Manggarai yang sempat mengadu nasib di Atambua, ibukota Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)  itu mulai membuka obrolan seputar semangat juang kaum pemuda tempo doeloe. Kelima temannya nampak serius mendengar dan sesekali terlihat mengangguk-anggukan kepala. Tak jarang pula mereka geleng-geleng kepala. Entah apa artinya. Apalagi ketika Romy berkisah tentang tragedi berdarah di Kota Atambua.  
Ya,,,, kala itu; Pero Simundza (30), lelaki gagah asal Kroasia — negeri pecahan Yugoslavia– di jazirah Balkan sana, tak pernah membayangkan pada hari kesembilan Juni 2000 hidupnya akan berakhir di Atambua, sebuah kota kecil di sudut timur kawasan Timor Barat.
Tapi,,,,,,,! Tragedi kematian Pero –bersama dua rekannya– secara dramatis telah membuat kota Atambua dibahas di meja perundingan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan Sekjen PBB waktu itu, Koffi Anan langsung menekan Indonesia untuk segera membubarkan milisi bentukan Timor Timur.
Saat itu, tiba-tiba saja Atambua menjadi isu serius bagi dunia. Akibatnya, dalam sidang PBB, Presiden AS, Clinton menyerukan dunia mengisolasi Indonesia. Boleh jadi, saat itu Clinton pun baru dengar; oh,,,,! Di Indonesia ada yang namanya Kota Atambua. Tapi, “Imbauan” Clinton sang ‘sherif dunia’ itu direspon baik oleh PBB –yang memang seringkali lebih mendengar Amerika ketimbang anggota-anggota lain dalam serikat itu–dengan segera mengetukkan palu sidang mengeluarkan resolusi bagi Indonesia.
Bayangkan, Atambua –yang semula tak terbayangkan ada dalam peta dunia– ternyata terpapar di atas meja para wakil dunia di dalam majelis yang disebut PBB: Tok! Palu diketuk, dan Resolusi PBB No 1319 resmi dilayangkan ke meja penguasa Indonesia. Isinya; instruksi agar Pemerintah RI membubarkan milisi yang ada di Timor Barat.
Merasa tertampar atas tragedi Atambua, Gus Dur langsung membahas  “Topik Atambua” dengan Wapres Megawati di Istana Negara. Setelah itu, Gus Dur menerima Ketua Kelompok Krisis International (ICG) Todung Mulya Lubis. Saat itulah Gus Dur sempat mengatakan, ada kelompok yang sudah main api. Gus Dur, seperti ditirukan Todung, menyebut (milisi) sebagai kelompok hooligans (sebutan untuk penggemar sepakbola di Inggris yang suka membikin kisruh). Walau Todung tidak menjelaskan siapa yang dimaksud dengan kelompok hooligans, namun mata dunia tertuju kepada kelompok milisi di Timor Barat.
KRONOLOGI YANG DIAMBIL DARI BERBAGAI SUMBER 
I. Kasus Belli. 
Pada hari Selasa, 22 Augustus 2000, persis pada hari pasar di Pasar 
Webramata, Malaka Barat, terjadi aksi pembajakan yang dilakukan oleh Alosius 
Bere (warga penduduk setempat) terhadap Dominggus Fahik (Sopir Angkutan 
Pedesaan “Seroja”). Korban yang dibajak ini juga dipukul oleh Alosius Bere. 
Menyadari akan kejadian yang menimpa dirinya, Dominggus Fahik melapor kepada 
majikannya. Majikan mobil angkutan yang bernama Aguido Manek adalah seorang 
anggota milisi Laksaur yang berasal dari Suai Kab. Kovalima, Timor Timur dengan 
status Wadanyon. Mendengar berita yang menimpa sopir tersebut, Aguido 
bersama konco-konconya berniat melakukan pencarian terhadap pelaku. 
Pada hari Selasa 29 Augustus 2000, ketika pasar Webremata kembali di gelar 
(seminggu sekali), rombongan Aguido Manek melakukan pencarian terhadap 
pelaku pembajakan sopirnya, tapi sayang pada hari pasar kali ini pelaku 
tidak dapat ditemukan. 
Pada Hari Selasa 5 September 2000, saat pasar kembali digelar, rombongan 
Aguido Manek kembali lagi mencari pelaku. Kali ini yang memimpin rombongan 
adalah Olivio Mendosa Moruk, saudara kandung Aguido, sekaligus mantan Danyon 
Laksaur Suai. Dalam pencarian kali ini, pelaku berhasil ditemukan. Alosius 
Berek yang dipandang sebagai pelaku ditangkap saat sedang bermain kuru-kuru. 
Alosius Berek lalu diikat, kemudian dihajar sampai babak belur seterusnya dibawah ke Pos Polisi Wanibesak. Ketika sampai di Pos Polisi Wanibesak, Olivio masih memukul Alosius Berek. 
Di Pos Polisi Wanibesak, urusan antara Olivio Mendousa Moruk dan Alosius Berek berakhir dengan saling damai. Namun karena menjaga situasi, pihak Polisi masih menahan Olisius Berek di Polsek Besikama. Mengingat telah selesai segala urusan, Olivio dan kawan-kawannya pulang ke rumah. Akan tetapi ketka Olivio dan Alosius Berek berurusan dengan polisi di Pos Polisi Wanibesak, tersiar berita dikalangan masyarakat Wanibesak bahwa Olivio 
menculik Alosius Berek. Berita semakin santer, sehingga terjadi konsentrasi massa untuk menghadang Olivio setelah dia kembali. Saat rombongan Olivio ini kembali dari Kantor Polisi menuju rumahnya di Kampung Larang persisnya di dusun Laklo, desa Umalortoos, Kec. Malaka Barat, Olivio di cegat massa yang sudah menantinya. Diperkirakan jumlah massa sebanyak 10 orang. Dalam peristiwa ini terjadilah perkelahian hebat yang berbuntut tewasnya Olivio Mendosa Moruk (45). Sebelum Olivio meninggal, dia masih sempat menembak mati salah satu lawannya yang bernama Jonisius Letto dengan menggunakan senjata api genggam laras pendek jenis FN 45 buatan USA dengan nomor seri 1035984. 
Menyaksikan keadaan yang menimpa Olivio dan kawan-0kawannya, maka salah seorang dari rombongan Olivio melarikan diri ke Camp dan melaporkan pada saudara Olivio yakni Aguido Manek. Mendengar laporan tersebut, Aguido langsung mengumpulkan para pendukungnya dan mendatangi TKP. Ketika sampai di TKP, massa yang terlibat dalam perkelahian dengan Olivio CS telah menghilang. Melihat kondisi demikian, maka terjadilah penyerangan hebat terhadap perkampungan dan para warga dusun Laklo, desa Umalortoos. Dalam penyerangan itu, ada 77 unit rumah hancur terbakar, 13 orang tewas,  diantaranya para ibu hamil, anak-anak dan para jompo yang tidak bisa lagi berjalan. Serta segala jenis hewan yang ditemui dibunuh dengan keji. Dari korban yang tewas, empat orang korban ditemukan paling awal yang diketahui identitasnya yakni: Lorensius Tae (28), Ambei Mouk Leki (60) Johny Nahak  (26) dan Sesan (5). Selain itu terdapat juga dua orang luka-luka yang 
bernama Thomas Leki dan Theresia Soim. 
Kebencian terhadap pelaku pembunuhan Olivio kian mendalam dikalangan pengungsi, maka mereka menyepakati, besoknya Rabu, 6/9-2000 untuk menggelar aksi keprihatinan sambil mengusung mayat Olivio di Atambua. 
II. Tragedi Atambua Meletus. 
Massa perusuh yang sedang dilanda emosi mendalam dari Malaka Barat melakukan 
konvoi dengan menggunakan 6 truk, 13 buah kendaraan roda 4 dan 37 buah 
kendaraan roda 2 menuju Atambua. Massa yang membludak tersebut, masuk ke 
Kota Atambua sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Semula tujuan aksi para 
pengungsi dari Malaka Barat ini yakni menggelar tenda keprihatinan di depan 
Kantor DPRD TK II Belu atas tewasnya Olivio Mendosa Moruk. Namun ketika 
sampai di simpang lima Atambua konvoi massa berubah gerakan yakni tidak saja 
ke Kantor DPRD TK II Belu, tetapi juga ke Kantor UNHCR perwakilan Atambua 
yang terletak di Jl. Gatot Subroto. 
Tentang adanya perubahan gerakan ini, ada dua pendapat yang berbeda yang 
berkembang. Pertama, ketika massa sampai di Simpang Lima, massa tiba-tiba 
terpecah menjadi dua, sebagian yang mengusung mayat Olivio langsung menuju 
kantor DPRD II Belu dan yang lainnya bergerak menyerang kantor UNHCR. 
Pendapat kedua, sejak semula, hingga di depan kantor DPRD, massa tetap 
bersama-sama, tetapi entah kenapa, massa yang berada dibarisan belakang 
tiba-tiba memisahkan diri untuk menyerang kantor UNHCR. 
1. Tragedi Di Kantor UNHCR. 
Massa yang bergerak menuju kantor UNHCR, sambil terus melakukan penembakan 
secara membabi buta, melempar kantor dan meyerang staf yang ada didalam 
kator. Dalam waktu sekejab, massa menguasai kantor dan mengeluarkan 
fasilitas seperti komputer, peralatan komunikasi dan berangkas arsip. Usai 
menghancurkan segala barang, barulah kantor dibakar. Dalam aksi ini terdapat 
empat orang yang meninggal dunia dan dua buah mobil dihancurkan, satu 
diantaranya dibakar. 
Keempat orang yang tewas adalah sebagai berikut: 
* Seorang Satpam, dia meninggal karena terbakar diatas loteng kantor, 
jasadnya baru dutemukan pada malam harinya ketika ada petugas keamanan yang 
menggeledah kantor yang telah dirusak massa. 
* Pero Simundza (30) warga negara Kroasia, beragama Kristen. Dia bekerja 
sebagai Telkom Officer. Pero dibunuh saat sedang memonitor radio, menurut 
salah seorang staff UNHCR di Kupang. Sebelum meninggal, Pero masih sempat 
berteriak tiga kali. Teriakan Pero sempat ditangkap lewat radio di Kupang. 
Kondisi fisik Pero setelah meninggal, yakni kepala dan tangan terpotong. 
* Carlos Cireces (32), warga negara Puerto Rico, yang beragama Kristen dan 
kerjanya sebagai Protection Officier. 
* Samson Aregahegn (50), warga negara Ethopia, yang beragama Kristen dan 
kerjanya merupakan Supplay Logistic Officier. Menurut saksi mata, dia saat 
diserang sempat mengangkat tangan tanda menyerah. Namun sikapnya tidak 
digubris massa. Massa menusuk, menendang dan melemparnya hingga tewas. 
Ketiga staf UNHCR yang sudah meninggal ini, kemudian diseret ke depan 
trotoar, lalu dibakar setelah disirami bensin. Jasad ketiga staf yang masih 
tersisa, kemudian dibawah oleh petugas keamanan ke RSUD Atambua untuk 
Otopsi. 
2. Saksi di Kantor IOM 
Dari kantor UNHCR, massa memburu staff IOM di Kantor IOM yang terletak 
dikawasan pertokoan. Di Kantor tersebut, massa berhasil merusak mobil IOM 
yang sedang diparkir di depan Kantor, sedangkan staf IOM telah menyelamatkan 
diri. 
3. Saksi di Hotel Intan. 
Massa yang semakin ganas dan brutal tetap memburu staf Internasional yang 
diketahui menginap di Hotel Intan. Di Hotel tersebut, massa menyerang 
seorang turis berkebangsaan Brazillia yang bernama Margaretha dan dua staf 
lokal. Kedua staf lokal itu, seorang bernama Tony (28) yang berasal dari 
Surabaya dan merupakan staf UNHCR dan seorang lainnya adalah Dewi Frida dan 
bekerja sebagai staf UNICEF. Ketiga korban ini mengalami luka-luka. 
4. Aksi di Hotel Nusantara I dan II. 
Massa terus bergerak mengejar staf Internasional. Dari Hotel Intan mereka 
menuju Hotel Nusantara yang terletak di Pasar Baru. Di Hotel Nusantara 
tersebut massa merusak sebuah mobil milik ICRC.
Setelah selesai melakukan aksi, massa pun kembali ke Betun Besikama untuk 
selanjutnya mempersiapkan penguburan Olivio Mendousa Moruk besok harinya, 
7/9-2000. 
Menyangkut kerusuhan di Atambua ada beberapa versi yang menilai kerugian 
secara materi. 
a. Versi Kapolda NTT, Brigjen Pol. John Lalo. 
Ada 5 buah mobil yang dirusak massa selain yang dibakar. Kelima mobil itu 
yakni: sebuah mobil milik UNHCR dan tiga buah mobil milik IOM. Dan yang yang 
dua lainnya milik IOM juga tapi tidak diketahui lokasi kejadiaannya. 
b. Versi Koran Surya Timor. 
Dalam kerusuhan tersebut, terdapat dua buah sepeda motor yang dirusak massa, 
satu bernomor Polisi DH 3023 AE dan yang satunya motor trael. (by. dtc/sry/dws) 

Maknai Semangat Sumpah Pemuda !


sergapntt.com [KUPANG] – Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya meminta kepada segenap komponen masyarakat untuk merefleksikan tentang tekad para pemuda untuk mewujudkan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. “Jangan sampai memperingati Hari Sumpah Pemuda ini hanya rutinitas, sehingga kehilangan makna. Kita harus memaknai kembali sesuai dengan semangat sekarang tanpa kehilangan nilai-nilai dari Sumpah Pemuda itu sendiri,” tegas Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI, Andy Malarangeng  melalui Lebu Raya pada peingatan Hari Sumpah Pemuda ke 83 di alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (28/10/11).
Tema Sumpah Pemuda ke 83 ini adalah “Bangun Pemuda Indonesia Yang Berjiwa Wirausaha, Berdaya Saing dan Peduli Sesama”. Tema ini kata Gubernur mengandung pesan bahwa langkah menuju Indonesia yang berdaya saing dan bermartabat sangat bergantung pada karakter pemuda yang kokoh serta mengedepankan akhlak mulia di atas semangat persatuan dan kesatuan Indonesia.
“Karakter yang kokoh ini bercirikan semangat patriotik, jiwa nasionalis, jati diri yang mengakar, berwawasan luas, kecerdasan yang mencerahkan, kepedulian yang merekatkan, serta keteguhan untuk bersatu yang semuanya dinaungi oleh nilai-nilai Pancasila dalan bingkai NKRI,” ujar Lebu Raya.
Bangsa ini, sebut Lebu Raya, harus mempersiapkan para pemuda Indonesia di segala bidang, di setiap pelosok Indonesia, untuk bisa bersaing dan memenangkan persaingan tanpa kehilangan akar budayanya. “Untuk itu, pemuda Indonesia harus mengusai tiga bahasa yakni bahasa persatuan, bahasa Indonesia, satu bahasa internasional dan paling tidak satu bahasa daerah,” ucapnya.
Pada bagian lain, Gubernur juga mengingatkan pengembangan kegiatan kesukarelawanan (volunterism) adalah sesuatu yang sangat strategis untuk diberdayakan secara terus menerus. Berbagai macam kegiatan lanjut Gubernur, harus dikembangkan di setiap komunitas, kota, kabupaten dan di setiap kesempatan. “Pemerintah bersama masyarakat dan berbagai kelompok masyarakat perlu mengambil peran aktif dalam menciptakan peluang, kesempatan bagi para pemuda untuk menunjukkan kepeduliannya,” pintanya.
Menurut Lebu Raya, peran dan partisipasi pemuda dalam pembangunan nasional merupakan hal yang nyata. Dengan berbagai potensi, bakat, kemampuan dan keterampilan sekaligus dengan semangat dan idealisme yang kental, keterlibatan dan peran serta pemuda dalam pembangunan nasional senantiasa memberikan warna yang khas bagi pertumbuhan dan kemajuan bangsa.
“Untuk itulah keberadaan, kiprah dan masa depan pemuda harua memperoleh kepastian garansi atau jaminan dari negara,” kata Lebu Raya seraya menambahkan, “Kompleksitas persoalan yang dihadapi pemuda Indonesia mengharuskan seluruh komponen bangsa secara bersama-sama memberikan solusi untuk mengatasi dan mengentaskan pemuda dari segala macam masalah yang dihadapinya menuju kejayaan bangsa di masa depan. (by. ferru guru)

Kekuatan Kopersi Terletak Pada Solidnya Anggota dan Pengurus


sergapntt.com [KUPANG] –  Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si mengatakan, kekuatan koperasi terletak pada kekompokan atau solidnya para anggota dengan pengurus. “Koperasi yang baik adalah solidnya para anggota dengan para pengurusnya. Karena itu, saya minta kelola koperasi ini dengan cara kerja yang moderen,” pinta Wagub saat bertatap muka dengan Badan Pengurus (BP) Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Ranaka di ruang kerja Wagub, Jumat (28/10/11).            
Kehadiran dan keberadaan KSP Ranaka lanjut Wagub, merupakan hal yang positif sekaligus sebagai ajang strategis  untuk mempromosikan NTT sebagai Provinsi Koperasi. “Saya harap keberadaan KSP Ranaka bisa mempromosikan NTT sebagai Provinsi Koperasi dan dapat merangsang koperasi ini menjadi koperasi yang moderen di daerah ini,” kata Wagub.
BP KSP Ranaka masa bhakti 2009-2013 adalah Jemari Yoseph Dogon, SE (Ketua), Drs. Onduk Fabianus (Wakil Ketua), Marthen Haman (Sekretaris I), Ir. Maksi Gurang (Sekretaris II) dan Drs. R. Yanuarius Apul (Bendahara). Sedangkan Badan Pengawas yakni Drs. Sabinus Hatul, MM (Ketua), Drs. Anton Ugak, M.Si (Wakil Ketua) dan Drs. Alex Jewarus (Sekretaris).
Ketua KSP Ranaka, Jemari Yoseph Dogon menyampaikan rencana permohonan kredit KSP Ranaka yang diajukan ke Bank Mandiri Cabang Kupang. “Kami mohon jika bapak Wagub berkenan bisa membantu kami soal kredit yang kami ajukan ke Bank Mandiri Cabang Kupang,” kata Jemari Yoseph, apa adanya.
Terhadap permintaah tersebut, Wagub menyarankan kalau boleh permohonan kredit KSP Ranaka diajukan ke Bank NTT saja. “Saya pikir ajukan saja ke Bank NTT. Nanti saya sampaikan ke Bapak Gubernur untuk perhatikan hal ini. Karena Pemerintah Provinsi NTT kan sebagai pemilik saham terbesar di Bank NTT,” ujar Wagub, memberi alasan.
Jemari Yoseph juga menyampaikan kepada Wagub tentang rencana pembangunan gedung kantor KSP Ranaka yang baru terletak di Jalan Fetor Foenay BTN Kolhua. “Kami berencana membangun kantor baru tiga lantai dengan luas bangunan seluruhnya 360 meter persegi. Hingga 27 Oktober ini telah selesai penggalian dan pembuatan fondasi untuk lantai pertama dari rencana tiga lantai termasuk pembangunan gedung aula untuk ruang rapat para anggota. Anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 1.850.000.000,- ,“ jelas Jemari Yoseph. (by. ferry guru)

Kembalikan NTT Sebagai Provinsi Cendana


sergapntt.com [ATAMBUA] – Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengatakan, perlu pola manajemen terpadu yang saling menopang untuk mendukung dan menyukseskan tekad Pemerintah Provinsi NTT untuk menjadikan NTT sebagai Provinsi Jagung, Provinsi Ternak, Provinsi Cendana dan Provinsi Koperasi.
“Kita harus bisa mencapai obsesi menanam jagung memanen sapi. Konsep ini harus dimulai dengan mengubah paradigma bahwa pangan bukan hanya beras dan pertanian tidak sekadar urusan bercocok tanam yang hanya menghasilkan komoditas untuk dikonsumsi tetapi lebih dari itu, pertanian multifungsi yang belum mendapat apresiasi yang memadai dari pemangku kepentingan,” tandas Gubernur dalam arahannya dalam Rapat Koordinasi Penyelenggaraan Pemerintahan Umum di wilayah NTT di Aula Betelalenok Atambua, Rabu (26/10/11).
Menurut Lebu Raya, masalah pangan merupakan tanggung jawab bersama untuk penanganannya, penyiapan lahan, bibit, ketersediaan stok pangan, distribusi, saprodi, sarana dan prasarana pertanian, sosialisasi pangan lokal sesuai komitmen Rapat Koordinasi penyelenggaraan pemerintahan umum di wilayah provinsi untuk menyikapi masalah rawan pangan yang dilaksanakan di Hotel Kristal pada tanggal 14 September 2011 yang lalu.
“Untuk itu perlu dibangun adanya perubahan mendasar mind set para pihak yang berkepentingan tentang pertanian dan pangan,” katanya.
Selain masalah pangan, dalam Rakor tersebut juga dibahas berbagai masalah lain seperti pelaksanaan Ujian Nasional (UN) agar perlu ditingkatkan upaya-upaya memperbaiki prestasi kelulusan pada tahun 2012 mendatang; keberlanjutan Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah; pelaksanaan Sharing Kader Jabatan Struktural sesuai kesepakatan Rapat kerja Gubernur dengan Para Bupati/Walikota se-NTT yang dilaksanakan di Sumba Barat Daya pada tanggal 1 April 2011 yang lalu; pemekaran wilayah agar benar-benar memperhatikan batas wilayah sehingga tidak menimbulkan konflik; membina hubungan kemitraan yang harmonis antara Pemerintah Daerah dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku; serta membina hubungan kemitraan yang harmonis antara Pemerintah Daerah dengan Forum – Forum (FORKOPIMDA, Kominda, FKDM, FKUB, FPK dan forum-forum lainnya) untuk menjaga suasana kondusif dalam kerangka NKRI yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. (by. ferry guru)

Obor SEA Games Diarak Keliling Kota Kupang


sergapntt.com [Kupang] – Api obor SEA Games XXVI diarak mengelilingi Kota Kupang, Kamis 27 Oktober 2011, pada pukul dua siang waktu setempat. Pawai ini bermula dari depan Bandara El Tari Kupang dan berakhir di kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur di Jalan El Tari I. Selanjutnya api obor akan disimpan semalam disitu.

Menurut Pengurus Biro Umum KONI NTT, Abdul Muis, api obor juga akan dipajang di pelataran rumah jabatan Gubernur NTT yang sekaligus jadi tempat upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda 2011.
Warga, atlet, dan mantan atlet tampak antusias memenuhi bandara menunggu kedatangan api obor. Api ini dibawa oleh Hermensen Ballo yang merupakan petinju asal Pulau Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.

Spanduk dan umbul-umbul terlihat menghiasi berbagai sisi kota menyambut kedatangan obor Sea Games. Kupang merupakan satu dari delapan kota lainnya yang mendapatkan kehormatan disinggahi obor Sea Games. Sebelumnya, obor tersebut sempat bermalam di Pulau Komodo. Itu karena hewan purba tersebut menjadi maskot SEA Games XX VI yang akan digelar di Palembang dan Jakarta.

Saat itu obor diserahkan-terimakan oleh duta obor SEA Games asal Jawa Tengah, Ruwiyati, kepada Rahmat Gobel, selaku Ketua Harian Panitia Pelaksana SEA Games, selanjutnya diserahkan kepada Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dulla, dan berpindah ke tangan Bernard Weber, selaku Presiden New7Wonders Foundation, yang sedang berkunjung. Dari situ obor lalu berpindah ke tangan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang saat ini bertindak selaku duta besar pemenangan komodo.

Menurut Hermensen, obor itu nantinya akan dibawa ke Papua. Hermensen merupakan petinju yang sempat memperkuat Indonesia di SEA Games Hanoi, Vietnam, pada Desember 2003. (by. jose)