Webramata, Malaka Barat, terjadi aksi pembajakan yang dilakukan oleh Alosius
Bere (warga penduduk setempat) terhadap Dominggus Fahik (Sopir Angkutan
Pedesaan “Seroja”). Korban yang dibajak ini juga dipukul oleh Alosius Bere.
Menyadari akan kejadian yang menimpa dirinya, Dominggus Fahik melapor kepada
majikannya. Majikan mobil angkutan yang bernama Aguido Manek adalah seorang
anggota milisi Laksaur yang berasal dari Suai Kab. Kovalima, Timor Timur dengan
status Wadanyon. Mendengar berita yang menimpa sopir tersebut, Aguido
bersama konco-konconya berniat melakukan pencarian terhadap pelaku.
(seminggu sekali), rombongan Aguido Manek melakukan pencarian terhadap
pelaku pembajakan sopirnya, tapi sayang pada hari pasar kali ini pelaku
tidak dapat ditemukan.
Aguido Manek kembali lagi mencari pelaku. Kali ini yang memimpin rombongan
adalah Olivio Mendosa Moruk, saudara kandung Aguido, sekaligus mantan Danyon
Laksaur Suai. Dalam pencarian kali ini, pelaku berhasil ditemukan. Alosius
Berek yang dipandang sebagai pelaku ditangkap saat sedang bermain kuru-kuru.
Alosius Berek lalu diikat, kemudian dihajar sampai babak belur seterusnya dibawah ke Pos Polisi Wanibesak. Ketika sampai di Pos Polisi Wanibesak, Olivio masih memukul Alosius Berek.
menculik Alosius Berek. Berita semakin santer, sehingga terjadi konsentrasi massa untuk menghadang Olivio setelah dia kembali. Saat rombongan Olivio ini kembali dari Kantor Polisi menuju rumahnya di Kampung Larang persisnya di dusun Laklo, desa Umalortoos, Kec. Malaka Barat, Olivio di cegat massa yang sudah menantinya. Diperkirakan jumlah massa sebanyak 10 orang. Dalam peristiwa ini terjadilah perkelahian hebat yang berbuntut tewasnya Olivio Mendosa Moruk (45). Sebelum Olivio meninggal, dia masih sempat menembak mati salah satu lawannya yang bernama Jonisius Letto dengan menggunakan senjata api genggam laras pendek jenis FN 45 buatan USA dengan nomor seri 1035984.
bernama Thomas Leki dan Theresia Soim.
konvoi dengan menggunakan 6 truk, 13 buah kendaraan roda 4 dan 37 buah
kendaraan roda 2 menuju Atambua. Massa yang membludak tersebut, masuk ke
Kota Atambua sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Semula tujuan aksi para
pengungsi dari Malaka Barat ini yakni menggelar tenda keprihatinan di depan
Kantor DPRD TK II Belu atas tewasnya Olivio Mendosa Moruk. Namun ketika
sampai di simpang lima Atambua konvoi massa berubah gerakan yakni tidak saja
ke Kantor DPRD TK II Belu, tetapi juga ke Kantor UNHCR perwakilan Atambua
yang terletak di Jl. Gatot Subroto.
berkembang. Pertama, ketika massa sampai di Simpang Lima, massa tiba-tiba
terpecah menjadi dua, sebagian yang mengusung mayat Olivio langsung menuju
kantor DPRD II Belu dan yang lainnya bergerak menyerang kantor UNHCR.
Pendapat kedua, sejak semula, hingga di depan kantor DPRD, massa tetap
bersama-sama, tetapi entah kenapa, massa yang berada dibarisan belakang
tiba-tiba memisahkan diri untuk menyerang kantor UNHCR.
secara membabi buta, melempar kantor dan meyerang staf yang ada didalam
kator. Dalam waktu sekejab, massa menguasai kantor dan mengeluarkan
fasilitas seperti komputer, peralatan komunikasi dan berangkas arsip. Usai
menghancurkan segala barang, barulah kantor dibakar. Dalam aksi ini terdapat
empat orang yang meninggal dunia dan dua buah mobil dihancurkan, satu
diantaranya dibakar.
jasadnya baru dutemukan pada malam harinya ketika ada petugas keamanan yang
menggeledah kantor yang telah dirusak massa.
sebagai Telkom Officer. Pero dibunuh saat sedang memonitor radio, menurut
salah seorang staff UNHCR di Kupang. Sebelum meninggal, Pero masih sempat
berteriak tiga kali. Teriakan Pero sempat ditangkap lewat radio di Kupang.
Kondisi fisik Pero setelah meninggal, yakni kepala dan tangan terpotong.
kerjanya sebagai Protection Officier.
kerjanya merupakan Supplay Logistic Officier. Menurut saksi mata, dia saat
diserang sempat mengangkat tangan tanda menyerah. Namun sikapnya tidak
digubris massa. Massa menusuk, menendang dan melemparnya hingga tewas.
trotoar, lalu dibakar setelah disirami bensin. Jasad ketiga staf yang masih
tersisa, kemudian dibawah oleh petugas keamanan ke RSUD Atambua untuk
Otopsi.
Dari kantor UNHCR, massa memburu staff IOM di Kantor IOM yang terletak
dikawasan pertokoan. Di Kantor tersebut, massa berhasil merusak mobil IOM
yang sedang diparkir di depan Kantor, sedangkan staf IOM telah menyelamatkan
diri.
Massa yang semakin ganas dan brutal tetap memburu staf Internasional yang
diketahui menginap di Hotel Intan. Di Hotel tersebut, massa menyerang
seorang turis berkebangsaan Brazillia yang bernama Margaretha dan dua staf
lokal. Kedua staf lokal itu, seorang bernama Tony (28) yang berasal dari
Surabaya dan merupakan staf UNHCR dan seorang lainnya adalah Dewi Frida dan
bekerja sebagai staf UNICEF. Ketiga korban ini mengalami luka-luka.
Massa terus bergerak mengejar staf Internasional. Dari Hotel Intan mereka
menuju Hotel Nusantara yang terletak di Pasar Baru. Di Hotel Nusantara
tersebut massa merusak sebuah mobil milik ICRC.
selanjutnya mempersiapkan penguburan Olivio Mendousa Moruk besok harinya,
7/9-2000.
secara materi.
Ada 5 buah mobil yang dirusak massa selain yang dibakar. Kelima mobil itu
yakni: sebuah mobil milik UNHCR dan tiga buah mobil milik IOM. Dan yang yang
dua lainnya milik IOM juga tapi tidak diketahui lokasi kejadiaannya.
Dalam kerusuhan tersebut, terdapat dua buah sepeda motor yang dirusak massa,
satu bernomor Polisi DH 3023 AE dan yang satunya motor trael. (by. dtc/sry/dws)





