Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora saat dihubungi per telepon genggamnya mengatakan, intervensi pemerintah dalam mengatasi krisis pangan masyarakat di 74 desa tersebut segera dilakukan selama dua pekan ini. Beras cadangan pemerintah yang tersedia di gudang Bulog setempat segera didistribusikan ke titik-titik rawan pangan untuk membantu masyarakat yang mengalami krisis pangan akibat akibat gagal panen dan gagal tanam pada musim tanam yang lalu.
Pemerintah Kabupaten (pemkab) Sumba Timur juga akan melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat agar krisis pangan hebat tahun ini bisa ditanggulangi. Apalagi, masih sekitar 200 ton beras bantuan Menko Kesra tahun 2009 lalu yang belum diterima, ketika terjadi krisis pangan hebat serupa di daerah tersebut.
Sementara itu, Wakil Gubernur NTT Esthon Leyloh Foenay secara terpisah mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT telah menerima laporan dari Kabupaten Sumba Timur dan Timor Tengah Utara (TTU) tentang krisis pangan di daerah tersebut. Untuk itu, pemerintah kedua kabupaten itu diharapkan memanfaatkan beras bantuan tanggap darurat dari pemerintah pusat untuk melakukan intervensi awal dalam membantu penanggulangan rawan pangan.
Kata Eshon, pemerintah telah mengalokasikan beras bantuan tanggap darurat sebanyak 100 ton untuk setiap kabupaten/ kota setiap tahunnya. Di mana, beras tersebut diperuntukan untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana alam, termasuk krisis pangan yang dialami masyarakat.
Dosen Falkutas Pertanian Undana, Leta Rafael Levis mengatakan, pemerintah tidak perlu panik dalam menyikapi kondisi kekeringan yang melanda hampir di seluruh wilayah NTT. Sebab, kondisi serupa bukan saja terjadi di Indonesia, tetapi juga di sejumlah Negara. Sebenarnya, kekeringan tidak menjadi penyebab krisis pangan ini, tetapi akibat perubahan cuaca pada awal tahun yang hujan terus-menerus sehingga terjadi gagal tanam.
Yang perlu dilakukan pemerintah adalah menyiapkan program darurat untuk mengatasi rawan pangan agar tidak berpolemik tentang kekeringan dan krisis pangan. (by. yos)





