Menguak Misteri Lubang Buaya


sergapntt.com [JAKARTA] -> Hujan turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam. Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.
Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.
Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, sekira bulan Oktober. Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.
Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini Indonesia Indah.
Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.
Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 meter itu.
Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia”.
Pembunuhan atas para perwira itu jadi anti klimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil.
Kilas balik ofensif PKI, yang ditandai oleh pembentukan milisi dan sayap militer, sekurang-kurangnya dapat ditelusuri ke tanggal 23 Mei 1965. Saat itu, PKI menggelar peringatan ulang tahun. Dalam even ini, D.N. Aidit, ideolog PKI, menyeru kader-kadernya untuk meningkatkan sikap revolusioner.
Perayaan yang mirip ‘parade kekuatan rakyat’ itu semarak dengan poster-poster berisikan slogan-slogan PKI, termasuk propaganda pembentukan “Angkatan 5”. Ini merujuk kepada kekuatan buruh dan tani untuk dipersenjatai dan dilatih kemiliteran. Empat angkatan yang telah terbentuk sebelumnya adalah militer angkatan darat, laut, udara dan kepolisian.
Ledakan kebringasan massa hanya tinggal tunggu waktu. Dan benar, seruan Aidit diikuti oleh terjunnya para eksponen PKI ke desa-desa membawa slogan “Desa Mengepung Kota”, tak ubahnya slogan Mao Tse Tung ketika mengobarkan revolusi komunisme di China.
Dalam aksinya, mereka meneriakkan kebencian terhadap unsur-unsur masyarakat yang dianggap jadi lawan-lawan politiknya. PKI mengekspresikannya dalam slogan “Tujuh Setan Desa”. Mereka adalah tuan tanah, tengkulak, bandit desa, tukang ijon, lintah darat, birokrat desa, dan amil zakat. Keadaan memanas, massa PKI melakukan serangkaian pembantaian dan pembunuhan sistematis terhadap “setan-setan” itu.
Aksi brutal PKI meresahkan rival-rivalnya. PNI (Partai Nasional Indonesia), NU (Nahdlatul Ulama), Parkindo (Partai Kebangkitan Indonesia), Partai Katolik, PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), hingga IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia), siaga menghadapi berbagai kemungkinan seraya melontarkan berbagai kecaman. PKI di satu pihak dan lawan politiknya di pihak lain, berhadap-hadapan untuk suatu konfrontasi terbuka.
Pimpinan PKI di Jakarta, yang tergabung dalam Politbiro, lembaga kekuasaan tertinggi partai berlambang paru dan arit itu, menyambut reaksi seteru-seterunya dengan mempercepat pembentukan milisi. Juli 1965, kader-kader PKI berdatangan ke Lubang Buaya.
Di sana, mereka dilatih oleh sejumlah instruktur militer di bawah pimpinan Mayor Udara Sujono, Komandan Pasukan Pertahanan Pangkalan Halim. Tak hanya kaum pria, kader-kader PKI perempuan pun ikut serta. Kebanyakan dari mereka berasal dari organisasi yang sangat solid pada masa itu: Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).
Di akhir latihan, mereka mendiskusikan berbagai persoalan politik, terutama sepak-terjang sejumlah jenderal yang dianggap korup dan dekaden hingga Indonesia dilanda krisisis. Saat itu, laju inflasi memang sudah mencapai dua digit. Antrean bahan makanan pokok berlangsung di mana-mana. Banyak rakyat yang kelaparan. Massa PKI berang. Mereka berteriak-teriak meminta para jenderal itu dihadirkan ke hadapan mereka.
Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran masing-masing secara serentak.
Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke dalam sumur itu. —Versi lain mengatakan sebagian di antara mereka masih hidup ketika dijatuhkan ke sumur—
Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.
Sebelum dibunuh, mereka dikelilingi kader Gerwani sambil menari-nari dan menyanyikan lagu-lagu rakyat yang sedang populer masa itu, seperti Ganyang Kabir atau Ganyang Tiga Setan Kota ciptaan Soebroto K. Atmodjo, komponis Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi underbouw PKI. Genjer-genjer, lagu pop yang sedang hit waktu itu, ikut menyemarakkan. Mereka yang sudah trance kemudian menusuk-nusukkan pisau ke sejumlah anggota tubuh para korban.
Koran-koran pun memberitakan, dalam suasana yang semakin panas, beberapa wanita menanggalkan busananya, dan tenggelam dalam ritual pesta “Harum Bunga”. Pesta ini sekaligus memuncaki pesta sebelumnya sebagai suatu rangkaian penanda berakhirnya latihan militer mereka. Ada berita lain yang menyebutkan, bahwa dalam pesta itu mereka melakukan hubungan seks liar. Seorang dokter diisukan memberikan pil-pil perangsang syahwat.
“Jelaslah bagi kita,” kata Soeharto, “betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”
Mendapat dukungan massa, Soeharto mengambil-alih tongkat komando militer Indonesia. Ia memimpin upacara pengangkatan jenazah dari dalam sumur, mempertontonkannya kepada massa, dan mempublikasi data-data forensik tentang kerusakan jenazah dan penyebabnya. Kebencian akan PKI menyebar ke seantero negeri dan melahirkan perburuan besar-besaran pada tokoh-tokoh serta anggota partai tersebut.
Sudomo, bekas menteri Koordinator Politik dan Keamanan, mengatakan, ada sejuta massa PKI yang terbunuh. Angka ini jauh lebih kecil dari perkiraan peneliti masalah ini, yang menaksir antara dua sampai tiga juta orang.
Mereka yang selamat dari pembunuhan dipenjarakan dan diasingkan ke berbagai tempat, mulai Pulau Nusakambangan —wilayah selatan Indonesia— hingga Pulau Buru —wilayah timur Indonesia—. Hampir semua tahanan politik PKI, yang jumlahnya ribuan, dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Bahkan surat penahanan pun mereka terima setelah bertahun-tahun berada di balik jeruji besi.
Soeharto sendiri, lewat secarik kertas bernama Super Semar —kependekkan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966, yang diteken Presiden Soekarno— akhirnya memegang komando militer dengan kekuasaan penuh. Bahkan, dengan kekuasaannya itu, ia mengasingkan Soekarno ke Istana Bogor dengan alasan pengamanan.
Soeharto kemudian menanda-tangani surat keputusan No.1/3/1966 untuk membubarkan PKI. Surat keputusan ini diperkuat lagi dengan Ketetapan Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (Tap MPRS) Nomor 25/1966.
Sejak itu, selain PKI dinyatakan partai terlarang, setiap kegiatan penyebaran atau pengembangan paham dan ajaran Komunisme-Marxisme-Leninisme, dianggal illegal. Seluruh eks PKI dan sanak-familinya tak diperkenankan masuk ke dalam jajaran pemerintahan dan militer. Di kemudian hari, mereka pun tak bisa jadi pegawai swasta karena swasta takut memperkerjakan mereka.
Bandul perubahan politik berjalan dengan cepat. Soeharto, yang sebelumnya sama sekali tak populer di mata rakyat, makin dielu-elukan sebagai penyelamat negara. Tahun 1967, ia diangkat jadi presiden kedua Indonesia oleh MPRS, yang diketuai Jenderal A.H. Nasution. Era Orde Baru dimulai.
Pada tahun itu juga, Soeharto langsung memerintahkan aparatnya untuk membebaskan kawasan Lubang Buaya dari hunian penduduk dalam radius 14 hektar. Mereka yang terusir kebanyakan memilih kampung Rawabinong dan Bambu Apus, beberapa kilometer dari Lubang Buaya, sebagai daerah tujuan.
Tahun 1973, kawasan itu diresmikan sebagai Monumen Pancasila Sakti. Upacara kenegaraan 1 Oktober untuk mengenang peristiwa G-30-S PKI, segera mengubur upacara rakyat ruwatan Oktober untuk menyeru Datuk Banjir.
Ketujuh perwira militer yang terbunuh diabadikan dalam tugu, patung dan relief yang berada sekitar 45 meter sebelah utara cungkup sumur Lubang Buaya. Patung-patung mereka dibangun setinggi kurang lebih 17 meter dengan instalasi patung Burung Garuda di belakangnya. Dinding berbentuk trapesium, berdiri kokoh di atas landasan berukuran 17 x 17 meter bujur sangkar dengan tinggi 7 anak tangga.
Mereka berdiri dalam formasi setelah lingkaran, mulai Soetodjo Siswomiharjo, DI Pandjaitan, S. Parman, Ahmad Yani, R. Soeprapto, MT Hardjono dan AP Tendean. Salah satu patung di monumen tersebut, perwujudan A. Yani, yang di masa lalu jadi saingan Soeharto dalam karir kemiliteran, menunjukkan tangannya ke arah sumur Lubang Buaya seolah hendak mengatakan, “Di sanalah kami mati.” Mati fisik, mati politik.
Untuk masuk ke dalam monumen, orang harus berjalan sepanjang satu kilometer dari Jalan Raya Pondok Gede. Ucapan “Selamat Datang” terukir di atas batu besar berwarna hitam. Kembang kertas berada di sepanjang jalan masuk. Sekeliling monumen dibuatkan tembok tinggi dari muka hingga belakang.
Di areal monumen, terdapat museum. Di sini, pengunjung bisa mendengarkan riwayat singkat para jenderal yang terbunuh itu, dengan memasukan koin dan menggenggam gagang telepon di bawah foto mereka. Bagi yang ingin menonton film G-30-S PKI disediakan tempat khusus. Mereka yang ingin membaca, disediakan perpustakaan.
Beberapa bangunan bekas orang-orang PKI menjalankan aktivitasnya bertebaran di sana. Di sebelah kiri sumur, misalnya, terdapat bangunan berukuran sekitar 8 m x 15,5 m yang dijadikan tempat penyiksaan para perwira itu. Bangunan ini terbuat dari ayaman bambu dan bilah-bilah papan yang dicat coklat dengan jendela kaca hitam. Sebelum G-30-S meletus, bangunan tersebut dulunya Sekolah Rakyat.
Di dalam ruangan, terdapat 18 patung. Sebagian di antaranya, patung perwira militer yang sedang disiksa. Di depan mereka, berdiri empat patung perempuan aktivis Gerwani. Salah satunya mengenakan busana tradisional kebaya putih berbunga-bunga kecil, sarung batik, dengan rambut panjang terurai. Ia memegang pentungan dalam sorot mata bengis.
Untuk melihat patung-patung itu, tersedia tiga jendela yang terbuka lebar. Penerangannya jelek. Debu-debu yang menempel di patung-patung tersebut memberi kesan kurang perawatan.
Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan bekas dapur umum, yang kabarnya menyimpan suara-suara aneh tanpa wujud. “Tertawa cekikikan dan bahkan melenguh,” kata Yasan Suryana, seorang penjaga yang sudah 17 tahun bertugas sebagai pegawai honorer.
Terlihat, genteng rumah itu pernah direnovasi. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu bercat putih, dengan beberapa bagian dicat hijau. Menurut cerita warga di sana, rumah itu dulunya milik Ibu Amroh, seorang pedagang Cingkau (pakaian keliling). Tak ada yang tahu, di mana Ibu Amroh atau keturunannya berada kini.
Sekitar dua puluh meter dari dapur umum, terdapat rumah Haji Sueb, seorang penjahit. Ada beberapa bilik di dalamnya, dengan tiga lampu petromaks yang berdebu, mesin jahit di ruang tengah dan lemari pakaian dengan kaca besar di pintunya.
Rumah Haji Sueb dianggap sebagai pos komando PKI. Letnan Kolonel Untung, mengatur rencana penculikan terhadap perwira militer dari sana. Haji Sueb sendiri telah lama meninggal, setelah mengalami penahanan panjang di Pulau Buru. Keluarganya trauma dan tak pernah yakin Haji Sueb terlibat dengan gerakan itu. Suara-suara aneh pun sering terdengar di sini. Sejumlah penjaga, konon pernah mendengar suara tangis.
Kisah mistis masih bisa diperpanjang. Elizabeth, pegawai museum, yang dianggap punya indera keenam oleh teman-temannya, sering melihat sosok perempuan yang tertawa-tawa saat berlangsung apel petugas jaga, yang kesemuanya berjumlah enam orang. Perempuan itu duduk di bawah air mancur yang menghadap Lapangan Saptamarga, tak jauh dari sumur.
Cerita-cerita mistis barangkali sama absurdnya dengan cerita-cerita perlakuan kader-kader PKI terhadap para perwira militer yang dibunuh, termasuk penyayatan atas kemaluannya para jenderal. Tahun 1987, dalam jurnal Indonesia terbitan Universitas Cornell, Ben Anderson, seorang ahli sejarah tentang Indonesia, mengungkapkan laporan dokter yang membuat visum et repertum atas jenazah para korban.
Dalam resume penelitian tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr. Roebiono Kertapati itu, tertulis bahwa tak ada kemaluan korban yang disayat. Hal ini sekaligus mengukuhkan ucapan Presiden Soekarno, yang sebelumnya sempat mengatakan, bahwa 100 silet yang dibagikan kepada massa untuk menyayat-nyayat tubuh korban tak masuk akal.
Saskia Eleonora Wieringa, seorang sarjana Belanda penulis The Politicization of Gender Relations in Indonesia, menilai penjelasan resmi Orde Baru atas pembunuhan Lubang Buaya sebagai fantasi aneh. Dia mengatakan, penguasa militer dan golongan konservatif khawatir melihat kekuatan perempuan di zaman Soekarno, yang boleh jadi akan mengebiri kekuatan politik mereka. Dari sinilah mengalir fantasi aneh tentang pengebirian para perwira di Lubang Buaya.
“Semua pemberitaan mengenai Gerwani adalah fitnah yang dimulai oleh Soeharto sendiri,” kata Sulami, 74 tahun, tokoh Gerwani. Ia, yang kini ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965/1966, pernah melakukan identifikasi terhadap mereka yang dibunuh ketika itu, mulai tempat, cara, hingga siapa saja yang membunuh.
Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya itu pun masih penuh kabut. Beberapa peneliti justru tak melihat tindakan mereka sebagai usaha persiapan kudeta, melainkan dimaksudkan untuk memberi dukungan terhadap proyek politik Soekarno dalam rangka konfrontasi dengan Malaysia. Mereka adalah bagian dari 20 juta relawan yang hendak memenuhi ajakan Soekarno.
Sejumlah studi kritis mengungkapkan fakta-fakta lain, yang menunjukkan bahwa ofensif PKI justru dipicu oleh rencana kudeta oleh pihak militer. Dalam sebuah pledoi di muka Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 19 Februari 1966, pentolan PKI Nyono memberi kesaksian bahwa pihak militer telah merancang rencana kudeta di bawah kendali apa yang dinamakan “Dewan Jenderal”. Untuk mengimbangi kekuatan ini, PKI membuat “Dewan Revolusi”.
Perihal Dewan Jenderal diketahui Nyono dari sejumlah informasi yang rinci, lengkap mendeskripsikan tanggal, jam, tempat, nama, acara, persoalan dan lain–lainnya. “Yang saya masih ingat,” ungkap Nyono, “ialah bahwa tidak semua jenderal masuk dalam Dewan Jenderal. Jumlah anggotanya kurang lebih 40 Jenderal, diantaranya kurang lebih 25 orang aktif menjalankan politik Dewan Jenderal. Tokoh–tokoh utamanya ada tujuh orang yaitu Jenderal Nasution, A. Yani, Suparman, Haryono, Suprapto, Sutoyo, dan Sukendro.”
Untuk mencapai ambisinya, mereka sering menggelar berbagai rapat. Terakhir, menurut ingatan Nyono, mereka mengadakan rapat pleno pada 21 September 1965 di Jl. Dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta. Rapat yang dipimpin oleh Suparman dan Haryono ini, mensahkan rencana komposisi Kabinet Dewan Jenderal dan menetapkan waktu dilakukannya kudeta, yaitu sebelum Hari Angkatan Perang tanggal 5 Oktober 1965.
Komposisi kepemimpinannya, tambah Nyono, terdiri atas AH Nasution (Perdana Menteri), Ruslan Abdul Gani (Wakil Perdana Menteri), A. Yani (Menteri Pertahanan dan Keamanan), Suprapto (Menteri Dalam Negeri), Haryono (Menteri Luar Negeri), Sutoyo (Menteri Kehakiman) serta Suparman (Jaksa Agung).
Apapun, suara Nyono tenggelam di antara arus besar pembersihan orang-orang PKI dan catatan-catatan resmi yang bersumber dari pemerintah. Demikian pula hasil penelitian-penelitian forensik yang mencoba mengungkap sekitar kekejaman orang-orang PKI terhadap para perwira militer di Lubang Buaya itu. Penolakan sejumlah politikus untuk menghapus Tap MPRS Nomor 25/1966, ikut melestarikan cerita versi Orde Baru sebagai satu-satunya referensi sejarah sekitar peristiwa G-30-S PKI.
Ide penghapusan bukan hanya datang dari para peneliti, sejarawan dan masyarakat awam. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia, sempat membicarakannya secara terbuka, walau mendapat kecaman dari sana-sini, termasuk dari Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Indonesia yang pernah dipimpinnya. Mengikuti pembicaraannya, Wahid bahkan melontarkan permintaan maaf atas nama rakyat terhadap orang-orang PKI yang selama puluhan tahun ditindas oleh negara di bawah pemerintahan Orde Baru. (by. wati/agus)

TKW Asal Bajawa Dijadikan Pelacur Di Malaysia


sergapntt.com [KUALA LUMPUR] -> Mengadu nasib di negeri orang tidaklah selalu menyenangkan. Banyak TKI bernasib malang di luar negeri, meskipun diakui tidak sedikit pula yang berhasil alias sukses membawa pulang jutaan rupiah. Nasib yang dialami Eta (20), Sonya (22)  dan Ansi (28) bisa menjadi contoh.
Kemarin sore, Eta tampak duduk termenung. Pandangannya kosong. Ia seakan tengah merenungi nasib malang yang tengah menimpanya di luar negeri. Harapan untuk memperoleh gaji yang besar sebagai TKI di Malaysia pupus. Keinginannya mendapatkan lembaran uang ringgit Malaysia pun tinggal impian. Wanita belum berkeluarga itu mengaku berasal dari Bajawa, NTT. Pada 2008 silam, ia mendapat informasi tentang lowongan kerja di Malaysia dari Herman. Laki-laki asal Bajawa itu pula yang kemudian memberangkatkan Eta ke Malaysia.
Informasi yang diperoleh Eta, Herman adalah seorang penyalur TKI ke luar negeri, termasuk ke Malaysia. Karena itu, ketika ditawari untuk berangkat kerja di Malaysia, Eta pun langsung menyanggupinya. Di sana, ia dijanjikan bekerja sebagai pelayan restoran dengan gaji per bulan 700 ringgit (1 ringgit = Rp 2.500). Namun, sesampai di Malaysia, gadis berparas cantik itu ternyata tidak dipekerjakan di restoran, tetapi dijadikan sebagai wanita pemuas napsu lelaki hidung belang.
“Saya disekap di sebuah kamar. Disitu saya diberitahu oleh Acong, salah seorang agen penyalur di Malaysia, bahwa kerja saya bukan pelayan restoran, tapi ‘melayani’ tamu-tamu,” paparnya.
Ia mengaku hingga sekarang TKW yang disekap dan dijadikan pelacur di sana ratusan orang. Mereka ada yang disekap di hotel, apartemen, penginapan, dan tempat-tempat rahasia lain. Mereka ada yang kabur dan kemudian lari ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Malaysia di Kuala Lumpur, ada juga yang masih disekap dan sampai sekarang masih dijadikan sebagai pelacur. Eta termasuk TKW yang beruntung karena bisa kabur dari rumah tempat dia disekap.
Saat ke negeri jiran,  Eta diberangkatkan melalui Medan menuju Dumai (perbatasan Malaysia-Indonesia). Di sana ia dijemput lalu akhirnya disekap. Ditempat sekapan, sudah ada tiga wanita lain, yang belakangan diketahui juga disekap seperti Eta.
“Meskipun disekap beberapa hari, beruntung saya belum diapa-apakan,” katanya.
Sekali waktu Eta kabur. Saat kabur itulah Eta diselamatkan oleh seseorang yang mengaku sebagai polisi. Eta percaya saja dengan laki-laki itu. Apalagi pria tersebut menunjukkan tanda pengenal. Karena masih malam, Eta kemudian disuruh istirahat sampai menunggu pagi. Ia kemudian diinapkan di sebuah penginapan di sana. Saat itu ia diberi minuman agar bisa istirahat dengan tenang. Namun, beberapa saat setelah minum, kepalanya terasa berat dan ia pun tidak ingat apa-apa. Saat terbangun, ia baru sadar bahwa dirinya telah “dikerjai”.
“Semula saya berpakaian lengkap, tapi ketika terbangun sudah lepas semua.”
Nasib malang juga dialami Sonya (22), asal Rote. Perempuan berparas cantik itu juga mengaku disekap satu bulan empat hari di sebuah apartemen di Malaysia. Sebagaimana Eta, Sonya juga dijadikan wanita panggilan tanpa bayar.
Ia menceritakan, keberangkatannya ke Malaysia karena ingin mendapatkan uang yang banyak. Janda muda tanpa anak itu memang belum lama bercerai dari suaminya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia kemudian ke luar negeri.
Sonya berangkat ke Malaysia pada 12 Februari 2007. Ia berangkat ke luar negeri, semula karena didatangi seseorang bernama Aleks dan David. Waktu itu, ia diberi informasi dan dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan. Penampilan Aleks dan David sangat meyakinkan, sehingga Sonya pun tertarik dan bersedia menjadi TKI. Apalagi gratis.
Ia diberangkatkan lewat Pontianak (Kalimantan) dengan naik pesawat. Dari Pontianak terus menuju Kucing (Malaysia) dengan jalan darat. Kemudian dari Kucing terbang menuju Kuala Lumpur.
Di ibu kota negara tetangga itulah, ia dijemput oleh seseorang bernama Acong (agen penyalur) dan dibawa ke apartemen.
” Acong kemudian jual saya kepada Ibrahim dengan harga 3.500 ringgit. Setelah itu, saya dibawa Ibrahim dan diinapkan di rumahnya, yang alamatnya saya tidak tahu. Di sana saya di,,,,,” tuturnya, menahan isak.
Sonya mengatakan, sampai sekarang banyak wanita asal NTT yang ditipu dan dijadikan wanita penghibur di Malaysia. “Wanita-wanita itu rata-rata disekap di sebuah tempat dan diperjakan pada malam hari agar melayani tamu-tamu di hotel. Mereka puluhan orang. Yang berhasil kabur dan sekarang tinggal di penampungan KBRI saja sekitar 10 orang. Yang tidak bisa kabur dan masih disekap masih banyak, ratusan. Mungkin ribuan,” ujarnya.
Sonya menyebutkan, pada siang hari dirinya disekap di rumah Ibrahim. Rumah itu dijaga sejumlah tukang pukul. Pada malam hari dirinya dibawa ke hotel dan dipaksa melayani tamu-tamu hidung belang. Perlakuan itu dia alami setiap malam. Ia tidak boleh beristirahat. Bahkan, meskipun sakit ia tetap harus melayani para tamu.
Sonya mengaku rata-rata setiap malam harus melayani 4-5 orang. Kalau hanya melayani 3 tamu ia dimarahi. Bukan hanya itu, ia juga dihukum dengan cara dikunci dalam kamar kecil dan tidak diberi makan satu hari penuh.
Bagaimana dengan gaji? “Saya tidak digaji sepersen pun. Gaji yang dijanjikan penyalur di Indonesia Rp 2,5 juta per bulan hanyalah impian,” ungkapnya.
Dia menuturkan, uang bayaran dari para tamu semuanya diterima Ibrahim. Per tamu membayar 158 ringgit untuk waktu 45 menit. Kalau satu malam penuh membayar 700 ringgit.
Jika kebetulan tamunya berbaik hati, Tarmini diberi tips 10 ringgit. Namun, itu jarang terjadi. Sebaliknya, beberapa tamu malah memperlakukannya secara tidak manusiawi. “Tamu yang kurang ajar itu sering memperlakukan saya seperti ‘anjing’. Kalau tidak menurut kemauannya, tamu itu protes, dan saya dimarahi oleh tukang pukul. Daripada dimarahi, terpaksa saya menuruti kemauannya,” tutur Sonya sambil kembali menyeka air mata.
Sewaktu berada di penyekapan, ia tak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan agar bisa keluar dari apartemen “neraka” tersebut. Doa Sonya pun terkabul. Pada Minggu 20 Maret 2009 Sonya berhasil kabur.
“Saya kabur pukul 16.00. Saya lari dari lantai 24 lewat jendela. Saya tidak tahu nama apartemen yang dijadikan untuk menyekap saya. Yang saya tahu, saya disekap di lantai 24.”
Begitu sampai di bawah, ia kemudian naik taksi menuju KBRI di Jl Tun Razak 233 Kuala Lumpur 50400, Malaysia. Sopir taksi itu kebetulan orang Sunda (Indonesia). Ia kemudian tidak mau dibayar begitu mengetahui nasib malang yang menimpa Sonya.
Wanita itu menyatakan kapok pergi ke luar negeri sebagai TKI. Walau diiming-imingi bayaran atau gaji berapa pun, ia tidak akan tertarik. Ia tampak trauma sekali. Setelah pulang ke Tanah Air suatu saat nanti ia berencana akan menjadi buruh tani.
Diceritakan, TKW yang dipekerjakan sebagai wanita penghibur di Malaysia kalau hamil langsung dibawa ke Pontianak, Kalimantan. Di sana mereka disekap oleh agen penyalur sampai melahirkan. Setelah itu, dibawa lagi ke Kuala Lumpur untuk dijadikan PSK.
Hingga kini Sonya enggan pulang ke kampung halamannya, karena malu. Dia hanya menitip pesan untuk orang tuanya, Ny. Wilhelmina. “Mama, maaf ya. Di Malaysia saya tidak berhasil. Saya tidak bisa mengirimkan uang,” katanya sambil terisak-isak.
Sonya mengaku sampai sekarang ibunya belum mengetahui nasib yang menimpanya, termasuk keberadaanya saat ini di Batam.
Sebagaimana Eta dan Sonya, Ansi (28) cewek asal Sumba ini juga mengalami nasib yang sama. Perempuan ini mengaku tertipu dijadikan pelacur. Ansi yang memiliki postur tubuh tinggi semampai dan berambut panjang itu kemudian menceritakan bagaimana bisa sampai ke Malaysia. Ia berangkat pada September 2005 lewat jasa seseorang bernama Helen, yang belakangan diketahui sebagai penyalur (agen) ilegal. Ia berangkat bersama tiga temannya. Perjalanan ke Malaysia lewat Jakarta, terbang ke Pontianak. Dari Pontianak ia naik mobil (jalan darat) ke Kucing (Malaysia). Setelah itu menuju Kuala Lumpur dengan pesawat terbang. Di Kuala Lumpur, Ansi yang memiliki hidung mancung itu tinggal di sebuah apartemen di kawasan Bukit Bintang bersama seorang temannya. Dari sanalah ia mulai mencium gelagat tidak baik. Sebab, saat di Tanah Air ia dijanjikan akan bekerja di toko, tetapi ternyata tidak. Lebih dari itu, beberapa hari dirinya hanya diajak berputar-putar kota Kuala Lumpur. Pada suatu saat, agen penyalurnya ‘menyatron’ dirinya. Semula ia tidak mau, tetapi justru dimarahi dan dipaksa melayani.
Pernah suatu hari ia melarikan diri, tapi tertangkap lagi oleh agen. “Agen itu bernama Maeng. Anak buahnya banyak. Jadi, kalau perempuan sudah berada di tangannya sulit melarikan diri,” ujarnya sambil menyibakkan rambut hitamnya.
Karena berusaha kabur, Ansi pun mendapat hukuman, yakni dikunci di dalam kamar kecil dua hari. Bagaimana ia bisa kabur? Wanita itu menuturkan, suatu saat ada tamu yang minta dilayani dan ditemani beberapa hari. Ketika tamu itu pergi bekerja dan ruangan tidak dikunci, dirinya langsung kabur menuju KBRI. (by. destha/eko/herry)

Keluarga Menyalak, Polisi Mengelak


sergapntt.com [KUPANG] – Tindakan institusi kepolisian Polres Kota Kupang terhadap Prasetyo Malelak, pelaku yang dituduh mencabuli Mery Tanebe salah satu anggota Polwan Polresta Kupang membikin keluarga gerah. Pasalnya, sampai dengan saat ini status hukum Prasetyo masih digantung dengan alasan penangguhan penahanan. Padahal sebelumnya, Tyo dikabarkan bebas demi hukum. Namun kenyataannya, dua hari sebelum status bebas demi hukum diterbitkan, Polisi memaksa Tyo menandatangani status penangguhan penahanan. Sampai saat ini status Tyo terkatung-katung. Ada apa ya….
Peristiwa naas yang menimpa putra Margaretha Malelak dan Pace Malelak sungguh membuat hati kedua pasangan ini terluka. Anak kandung mereka, Prasetyo Malelak dituduh melakukan pencabulan terhadap Mery Tanebe, seorang anggota Polwan yang saban hari bertugas di Polres Kota Kupang. sebelum terbukti, pihak kepolisian sudah dahulu memberikan vonis kepada Tyo seolah-olah tuduhan melakukan cabul itu benar seperti yang diakui Mery. padahal sampai dengan saat ini proses penyelidikan masih berlangsung (P18). Seperti yang diberitakan sebelumnya, selama Tyo berada dalam tahanan Polresta Kupang dengan berbagai cara para oknum Polisi menyiksa dan mencabuli kembali Tyo. Ia dipaksa untuk melakukan Onani serta dibuat berdarah-darah layaknya binatang jalanan. kepada Vista Nusa akhir pekan lalu, kedua orang tua Prasetyo mengungkapkan, bahwa tuduhan yang diberikan kepada anak mereka belum sepenuhnya dipercaya, karena mereka sangat tahu kepribadian Tyo. Pace Malelak ayahanda Prasetyo mengatakan, “sejak kecil hingga sekarang tak satupun perbuatan Tyo menyimpang dari tata kehidupan normal. ia selalu mendengar dan mematuhi arahan kami”. Sebagai orang tua, kami yakin bahwa segala sesuatu yang dituduhkan kepada anak kami tak semuanya benar baik ditilik dari aspek hukum maupun kehidupan sosial Tyo selama ini. Keterangan yang disampaikan Mery itu sangat sepihak dan berlebihan serta ingin mencelakakan anak kami,” ujar Malelak. Ia mengisahkan, pada malam kejadian tersebut Tyo terlebih dahulu meminta ijin ke orang tua hendak bepergian bersama temannya ke Malam Pameran Pembangunan di Arena Fatululi. Saat itu kedua orang tuanya mengjinkan malahan masih sempat memberikan “uang bensin” kepada Tyo. Hal senada dikisahkan langsung oleh ibunda Tyo, Margaretha Malelak. Tanta Eta mengatakan, “sebagai ibu saya tahu persis siapa itu anak saya. dihadapan kami, ia tak pernah melakukan tindakan-tindakan sejahat itu. Tyo ini punya banyak teman baik laki-laki maupun perempuan. Mereka bergaul sedekat apapun, namun tidak terjadi hal-hal diluar batas-batas norma,”. malahan orang tua dari temannya Tyo pernah mengatakan kepada kami, bahwa Tyo itu banyak temannya, dan dia suka bergaul. Tetapi dituduh mencabuli Polwan, kenapa ia tidak cabuli saja teman-teman cewenya yang saban hari keluar masuk dengan dia? malah sampai dengan saat ini, teman-teman Tyo masih datang menjenguk dia sembari memberi dukungan moral kepadanya. Ny. Mamelak menambahkan, “semenjak kejadian itu, ia mengaku susah memejamkan mata dan selalu diliput kesedihan. Ia pernah meminta bantuan “hamba Tuhan” sekedar berdoa untuk menguatkan hatinya menghadapi masalah yang menimpa anaknya, namun tetap saja rasa sedih itu selalu datang mendera. Lebih menderita lagi, ketika mendengar kabar bahwa anaknya disiksa oleh Polisi secara biadab dan tidak berperikemanusiaan. “sebenarnya saya harus pergi ke Polresta Kupang dan meneriaki Polisi secara histeris, karena mereka telah melukai dan menyiksa buah hati saya secara sadis. sebagai orang tua, kami tidak pernah memperlakukan anak kami seperti itu, apalagi orang lain,” ujarnya. Namun niat ibunda Tyo akhirnya terhalang oleh keluarga besar Malelak.
Selain itu, keluarga Malelak mengaku, bahwa sudah enam kali mendatangi keluarga Mery sekedar silahtuhrahmi keluarga atas bencana yang menimpa Mery dan Tyo. “walau proses hukum itu belum memvonis Tyo bersalah, tetapi sebagai manusia kami wajib memberikan dukungan moril kepada Mery yang menurut informasi dalam keadaan sekarat”. Kedatangan kami bertujuan mau bertanggungjawab secara kemanusiaan atas bencana itu. Keluarga juga menawarkan kepada keluarga Mery untuk membawa Mery ke dokter untuk mendapat pengobatan secara medik. namun jawaban dari keluarga Mery bahwa anak mereka “tidak apa-apa, sehingga biar dirawat dengan pengurutan saja,” ujar Ibunda Tyo meniru kata-kata keluarga Mery. Malahan, menurut Malelak, suatu ketika mereka memboyong Tim Doa ke rumahnya Mery dan mendoakan Mery supaya cepat sembuh dari sakitnya. “kami masuk kedalam kamarnya Mery dan kami sama-sama berdoa minta Tuhan segera menyembuhkan Mery dari sakitnya. jadi tidak benar kalau ada oknum polisi lain yang menyatakan kalau keluarga Tyo tidak pernah menanyakan keadaan Mery.
Prasetyo Malelak sendiri ikut membantah.  Menurut dia, keterangan yang diungkapkan Meri sangat bertentangan dengan kejadian yang sebenarnya. “dia bilang tangannya patah, rahangnya saya tabrak dengan motor, saya ramas susunya sebanyak dua kali, itu semua tidak benar. sebab setelah jatuh, saya masih sempat dihajar oleh Mery dengan pukulan bertubi-tubi kemuka saya sambil meneriaki saya “pencuri”. tidak masuk akal, kalau rahangnya ditabrak motor dalam kecepatan tinggi, setidak-tidaknya ia pasti koma dan tak sadarkan diri lagi. Lalu tentang ramas payudara sebanyak dua kali juga tidak masuk akal, karena bagaimanapun dia pasti membela diri dan tidak mungkin terjadi sampai dua kali, karena dia seorang polisi. Sebagai laki-laki Tyo mengakui secara jujur bahwa, niat membuntuti Mery sekedar mengetahui siapa gadis ditengah malam jam 02.00 itu. lebih dari itu tak pernah terlintas dalam benaknya. Namun tak disangka, peristiwa lakalantas itu membuat dirinya dituduh sebagai pencabul. “saya ini punya ibu dan adik perempuan,” ujar Tyo. tuduhan tersebut sangat mencoreng nama baik keluarga kami, dan saya sudah siap untuk menghadapi proses hukumnya,” kata Tyo kesal.
Pernyataan Tyo ini dikuatkan lagi oleh ayahanda, Pace Malelak. Menurut Pace,” kasus yang menimpa Tyo dan Mery atas tuduhan pencabulan itu akan berdiri sendiri dan silahkan polisi memprosesnya. Tetapi keluarga juga tidak akan main-main menuntut tindakan kekerasan aparat kepolisian Polres Kota Kupang terhadap Tyo. Sebab tindakan itu sudah sangat luar biasa dan keluarga akan menanggapinya secara luar biasa pula,” ujarnya. sekedar diketahui, bahwa sikap polisi menggantung status hukum anak kami merupakan sebuah tindakan pembunuhan karakter terhadap kami sebagai orang tua maupun Tyo sendiri. bagaimana kami bisa merencanakan masa depan Tyo secara baik kalau status hukumnya tidak diperjelas. “kami minta polisi harus jujur memproses kasus ini, sebab unsur-unsur ataupun bukti pencabulan yang dituduhkan ke anak kami sangat tidak rasional”. Apalagi ini khan tindak pidana murni, mengapa harus tersendat-sendat begini. Pace menerangkan bahwa, sepekan yang lalu keluarga beserta pengacara Tyo sudah melayangkan surat untuk Kapolresta Kupang sekedar menanyakan proses hukum anak kami. Namun sampai sekarang belum ada jawaban dari pihak Polresta Kupang. Jika permohonan keluarga ini tidak ditanggapi oleh Kapolresta maka dalam waktu dekat, keluarga  berencana melayangkan surat ke DPRD Provinsi NTT dan Kapolda, serta Kapolri dan meminta agar oknum-oknum terkait yang telah menyiksa dan mencabuli Tyo selama dalam tahanan mempertanggungjawabkan perbuatannya. [Rudy Tokan]

Beckham ingin bermain lagi Di Liga Inggris


sergapntt.com [LONDON] -> Mantan kapten tim nasional Inggris David Beckham akan disambut di Tottenham Hotspur dengan “tangan terbuka”, kata manajer Harry Redknapp.

Beckham, 36 tahun, berlatih bersama Spurs tahun ini selama masa tenggang di klub sepak bola Amerika LA Galaxy.

“Ia datang dan berlatih bersama kami dan ia masih merupakan pemain hebat,” kata Redknapp menjelang pertandingan Spurs melawan Wolverhampton hari Sabtu (10/09).

Kontrak Bekcham dengan LA Galazxy akan berakhir November ini dan ia masih diberitakan akan pindah ke Liga Inggris.

“Kualitas unik David adalah kemampuannya dengan bola dan mencari pemain untuk memberikan umpan bola. Bakatnya masih sangat luar biasa,” tambah Redknapp.

“Ia tidak bisa bergabung sampai transfer pemain dibuka lagi bulan Januari. Namun ia pemain hebat untuk klub ini,” katanya lagi.

Beckham sendiri mengatakan ia ingin sekali kembali ke Liga Primer dan ingin pula bermain sebagai tim Inggris Raya dalam Olimpiade London 2012.

Sementara itu klub London lain Queens Park Rangers juga dikaitkan dengan Bekcham, namun Redknapp mengatakan, “saya akan menyambutnya dengan tangan terbuka.”

Spurs, yang kalah dalam dua pertandingan pembuka dari Manchester United dan Manchester City, akan menurunkan striker baru Emmanuel Adebayor dalam pertandingan melawan Wolves dan juga gelandang Scott Parker, yang baru bergabung bulan lalu. (by. the)

Boas Yakin Chelsea Akan Susul MU dan City


sergapntt.com (LONDON] -> Manchester United (MU) dan Manchester City sejauh ini menjadi tim dengan penampilan terbaik. Tak ingin tertinggal lebih jauh dari rival-rivalnya itu, Andre Villas-Boas menjanjikan jika Chelsea tak lama lagi akan menyusul keduanya.

Dari tiga laga yang sudah dihelat, MU dan City sama-sama berada di puncak klasemen dengan poin sempurna. Yang membedakan hanyalah The Red Devilsada di puncak karena unggul selisih gol.

Sebenarnya penampilan kedua tim pun boleh dibilang berimbang, di mana MU mengandalkan para pemain muda serta mental racikan Sir Alex Ferguson. Dan City punya kekuatan finansial dengan para pemain bintangnya.

Inilah yang kemudian membuat Villas-Boas seperti terpacu melihat laju kedua tim asal Manchester itu. Memang Chelsea di bawah arahan Villas-Boas memang belum tampil memuaskan.

Sempat diimbangi 0-0 Stoke City di laga perdana, The Blues harus bersusah payah menaklukkan West Bromwich Albion 2-1 dan tim promosi Norwich City dengan skor 3-1. John Terry dkk kini ada di posisi keempat

Maka dari itu manajer asal Portugal itu menjanjikan jika Chelsea akan segera membaik performanya untuk mengejar kedua rivalnya itu di klasemen seraya memuji MU maupun City.

“Ini bagus untuk mereka. Mereka sudah mencetak banyak gol dan ini bagus untuk sepakbola Inggris,” ungkap Villas-Boas di Sky Sports.

“Kami hanya mengharapkan bisa mencetak satu gol lebih banyak dari lawan. Man United bermain sempurna dan mampu mencetak banyak gol. Mereka dengan City memimpin klasemen dan kami tertinggal dua angka,” lanjutnya.

“Kami ingin mengejar mereka. Tujuan kami memotong jarak dan bukan pada performa tim lain,” simpulnya. (by. che)

Premier League
No. Klub M M S K SG Nilai
1. Manchester United 3 3 0 0 13 – 3 9
2. Manchester City 3 3 0 0 12 – 3 9
3. Liverpool 3 2 1 0 6 – 2 7
4. Chelsea 3 2 1 0 5 – 2 7
5. Wolverhampton 3 2 1 0 4 – 1 7
6. Newcastle United 3 2 1 0 3 – 1 7
7. Wigan Athletic 3 1 2 0 3 – 1 5
8. Aston Villa 3 1 2 0 3 – 1 5
9. Stoke 3 1 2 0 2 – 1 5
10. Bolton Wanderers 3 1 0 2 7 – 6 3
11. Everton 2 1 0 1 1 – 1 3
12. Queens Park Rangers 3 1 0 2 1 – 6 3
13. Sunderland 3 0 2 1 1 – 2 2
14. Norwich City 3 0 2 1 3 – 5 2
15. Swansea City 3 0 2 1 0 – 4 2
16. Fulham 3 0 1 2 1 – 4 1
17. Arsenal 3 0 1 2 2 – 10 1
18. West Brom 3 0 0 3 2 – 5 0
19. Blackburn Rovers 3 0 0 3 2 – 6 0
20. Tottenham Hotspur 2 0 0 2 1 – 8 0

Print
Live Tgl Hari Jam (WIB) Event Versus
Seri A
Indosiar 12/09/2011 Senin 01:45 Seri A Palermo vs Inter
Premier League
MNCTV 10/09/2011 Sabtu 21:00 Premier League Sunderland vs Chelsea
Global 10/09/2011 Sabtu 21:00 Premier League Man City vs Wigan
MNCTV 10/09/2011 Sabtu 23:30 Premier League Bolton vs Man Utd
La Liga
tvone 10/09/2011 Sabtu 23:00 La Liga Sociedad vs Barcelona
tvone 11/09/2011 Minggu 01:00 La Liga Real Madrid vs Getafe
tvone 11/09/2011 Minggu 03:00 La Liga Valencia vs Atletico
tvone 11/09/2011 Minggu 23:00 La Liga Osasuna vs Sporting Gijon
tvone 12/09/2011 Senin 03:00 La Liga Espanyol vs Bilbao
tvone 13/09/2011 Selasa 02:00 La Liga Malaga vs Granada