Sumba Timur Miskin Karena Budaya


SERGAP NTT -> Tradisi masyarakat Sumba Timur  yang mengorbankan ternak dalam jumlah besar pada saat upacara adat, seperti saat kematian dan perkawinan, dinilai sebagai salah satu faktor penyebab kemiskinan di daerah itu.
Tanpa mengurangi nilai budaya yang ada, tradisi penyembelihan hewan dalam jumlah besar dalam setiap acara adat harus dikurangi atau diatur oleh pemerintah daerah. Wacana ini muncul dalam Rapat Kerja (raker) Pamong Praja Kabupaten Sumba Timur.
Penilaian tentang budaya sebagai salah satu fakor pemiskinan masyarakat di Kabupaten Sumba Timur pertama kali diangkat  oleh Camat Haharu, Marius Kura Maki, S.Sos. Marius meminta agar tradisi penyembelihan hewan pada saat upacara adat seperti kematian atau perkawinan harus diatur oleh pemerintah daerah melalui peraturan daerah termasuk sanksi kepada yang melanggar.
Anis, seorang warga Desa Lambakara, Kecamatan Pahunga Lodu membenarkan kalau tradisi penyembelihan hewan dalam jumlah besar yang memicu tingkat kesengsaraan dan kemiskinan rakyat Sumba Timur.
“Karena budaya itu sangat membebani rakyat,” ujarnya.
Karena itu, dia meminta pemerintah daerah segera mengatur kembali mekanisme termasuk jumlah hewan yang dipotong dalam setiap upacara penguburan melalui sebuah peraturan daerah (perda).
Selain itu, Pemkab dan DPRD Sumba Timur segera membuat aturan tentang penertiban ternak. Karena ternak di Sumba Timur saat ini dilepas oleh pemiliknya hingga berkeliaran dan merusak tanaman pertanian milik masyarakat.
Selama ini, kata dia, ada sejumlah desa telah membuat peraturan penertiban ternak, namun peraturan tersebut tidak efektif, karena sebagian besar ternak yang berkeliaran itu milik  orang besar, seperti pejabat atau bangsawan.

Masalah ketidaktertiban ternak ini juga sebenarnya terjadi di Kota Waingapu, Ibukota Kabupaten Sumba Timur, dimana hewan seperti kambing, babi dan ayam berkeliaran di jalan-jalan protokol, bahkan di halaman kantor-kantor pemerintahan. Hm,,,,! Sudah menjadi pemandangan wajib setiap hari,,,! (by. Chris parera/pos kupang) 

TransNusa Berhenti Operasi


SERGAP NTT ->  Penerbangan pesawat TransNusa saat ini dihentikan sementara hingga pekan depan. Penghentian sementara ini ditempuh menyusul adanya proses finalisasi Air Operator Certificate (AOC).

Demikian disampaikan  Business Development Manager PT TransNusa Air Service, Budhy Syahroni Karsidin, kepada Pos Kupang, Kamis (18/8/2011).
Menurut Budhy Karsidin, manajemen PT TransNusa menghentikan operasi pesawat sementara dalam minggu ini, berkaitan dengan proses finalisasi AOC sampai sekarang belum final karena kami masih lakukan beberapa tahapan lagi.
“Saat ini memang tidak ada penerbangan oleh TransNusa. Prosesnya dijadwalkan selesai akhir pekan ini sehingga kemungkinan pekan depan sudah bisa kembali operasi. Ini akibat adanya proses finalisasi AOC,” kata Budhy Karsidin.
Dia menjelaskan, pesawat mereka ada juga yang sedang menjalani masa pemeliharaan atau maintenance dan beberapa armada berhenti sementara saat proses penyelesaian AOC.  
“Kami manajemen mohon maaf kepada semua masyarakat dan pihak yang sebagai pelanggan karena ini bukan disengajakan. Karena itu kita juga minta dukungan seluruh masyarakat agar proses AOC bisa selesai,” kata Budhy Karsidin. (by. Pos kupang)

Kisah Komandan Pencuri Jadi Pemimpin Upacara 17 Agustus


SERGAP NTT -> Jauh dari sentuhan pembangunan dan latar belakang pendidikan yang pas-pasan, tidak membuat Obed Rangga Mone, Kepala Urusan Pemerintahan Desa Ate Dalo, dan Matius Kailo Mete, bekas komandan pencuri di kampungnya tidak bisa menjadi inspektur dan komandan upacara. 

Keduanya tampil meyakinkan saat memimpin peringatan detik-detik Proklamasi dan HUT ke-66 Kemerdekaan RI, Rabu (17/8/2011), di Ate Dalo, Kecamatan Kodi, Sumba Barat Daya (SBD).

 Matius Kailo Mete tampil gagah tanpa alas kaki dengan pakaian adat Sumba. Kain sarung membelit di pinggang, selendang tenunan mengikat kepala dan parang di pinggang kiri. Sama seperti Matius, Obed juga tampil tanpa alas kaki lengkap dengan pakaian adat Sumba.
Upacara bendera peringatan detik-detik Proklamasi dan HUT ke-66 Kemerdekaan RI, kemarin, merupakan kali pertama diselenggarakan di desa ini. Selama ini warga setempat mengikuti upacara bendera di pusat kecamatan jika sempat dan bisa membayar ongkos kendaraan. 
Upacara bendera ini diikuti ratusan warga masyarakat Desa Ate Dalo , Kecamatan Kodi, dan Desa Kalena Rongngo, Kecamatan Kodi Utara, dua desa yang menjadi binaan Yayasan Donders Waitabula, berikut anak-anak sekolah dasar di desa itu.
Obed Rangga Mone, Kepala Urusan Pemerintahan Desa Ate Dalo, dalam amanatnya yang berlangsung sekitar lima menit, mengajak warga masyarakat untuk mengisi kemerdekaan dengan penuh tanggung jawab menurut profesi dan tugas masing-masing.
 “Yang petani jadi petani dengan baik, kalau guru jadi guru yang baik,” ajak Obed. (Disarikan oleh: chris parera dari pos kupang)

FOKDIT Buka Puasa Bersama Santri Hidayatullah Baktakte


Sergap NTT -> Ketua FOKDIT (Forum Kepedulian Kaum Dhu’afa Indonesia Timur), Siti Sauda’h Mustafa dalam safari ramadannya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (14/8/11) melakukan kegiatan buka puasa bersama di Pondok Pesantren Hidayatullah Baktakte, Kupang. Selain buka puasa, Siti juga memberikan santunan berupa uang kepada 153 santri dan 20 pengasuh Hidayatullah.  

Dalam sambutannya, Siti mengatakan, kehadirannya di Pondok Pesantren Hidayatullah merupakan bentuk kepedulian FOKDIT terhadap para santri, pengsuh, pengurus dan keluarga besar Hiadatullah Kupang.
“Saya tidak punya apa-apa. Saya hanya punya kepedulian. Moga-moga kedepan saya bisa membantu lebih banyak lagi,” ujarnya.
Kepada para santri, Siti mengingatkan agar selalu bekali hidup dengan takwa. Jauhi apa pun yang dilarang Tuhan.
“Untuk itu pendidikan harus menjadi tujuan utama. Sekolah baik-baik. Sebab dengan pendidikan yang mapan, semua kebaikan bisa dicapai,” imbuhnya.
Menurut Siti, para santri Hidayatullah dihuni oleh kaum yatim piatu. Karena itu, sudah semestinya mendapat perlakuan dan perhatian yang lebih, baik oleh orang-orang yang mapan secara ekonomi dan spiritual maupun pemerintah.  
“Di Kupang ini,,, banyak orang kaya. Tapi hanya sedikit yang punya kepedulian. Termasuk para Anggota DPR RI asal NTT. Suatu waktu saya pernah menemui para Anggota DPR RI untuk meminta dukungan mereka terhadap pendidikan dan pemberdayaan ekonomi bagi kaum dhu’afa dan anak yatim di NTT. Namun hanya ibu Anita Gah yang merespon. Lewat partisipasinya pula, sejumlah depertemen akhirnya mengucurkan dana ke NTT. Yang lain,,,? Hm,,,,,” paparnya.
Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustad Usman Mamang mengatakan penghuni pesantren Hidayatullah berjumlah 153 santri yang terdiri dari laki-laki 55 orang dan perempuan 78 orang. Santri kebanyakan berasal dari Alor, So’e, Adonara, Lembata, Solor dan Kupang. Para santri ini juga merupakan siswa-siswi SMP dan SMA Hidayatullah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Siti yang sudah mau berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah. Semoga hubungan baik ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ucapnya.
FOKDIT
Sejak 11 tahun lalu, FOKDIT mencurahkan perhatiannya bagi kaum dhu’afa, pendidikan anak yatim piatu dan masalah kesehatan di wilayah pedalaman dan pesisir di seluruh Indonesia bagian Timur.
Khusus untuk NTT, FOKDIT telah membangun sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di Kabupaten Ende dan menyalurkan bantuan Makanan Pengganti Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi warga Kabupaten Manggarai Barat, Ende dan Kupang.
Setidaknya, kehadiran FOKDIT telah banyak membantu pemerintah, terutama dalam upaya meminimalisir angka kiemiskinan, kebodohan, kerusakan lingkungan dan buruknya kesehatan.
Bagi Siti, terjadinya kemiskinan dan kerusakan lingkungan lebih dipicu oleh tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, rendahnya pendapatan per kapita masyarakat, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), lambatnya perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, serta buruknya sanitasi lingkungan permukiman.
“Selain memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan, kita juga membangun MCK bagi warga miskin di pesisir. Fasilitasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara baik demi kesehatan dan lingkungan mereka,” papar Siti.
Kata Siti, program Fokdit merupakan bagian dari upaya mensukseskan program Desa Siaga yang dicetuskan oleh pemerintah Pusat, yakni; menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih dengan cara membantu keluarga miskin di daerah pesisir dan pedalaman yang belum memiliki fasilitas MCK.
Selain di daerah pemukiman warga miskin, sasaran pembangun MCK juga di fokuskan di tempat-tempat umum, seperti di pasar tradisional, terminal, lapangan olahraga, kantor desa, sekolah dan tempat – tempat ibadah. (by.chris parera)

Wujudkan Masyarakat NTT Yang Berkualitas


SERGAP NTT -> Kesungguhan hati pimpinan dan seluruh anggota Dewan, Anggota Komisi, Badan Anggaran Legislasi dan Fraksi dalam mengkritisi Nota Pengantar LKPJ dan Laporan pelaksanaan APBD tahun 2010 dan Rancangan Peraturan Daerah, serta merumuskan beberapa rekomdasi kritis, memicu optimisme pemerintah bahwa dengan dukungan DPRD serta dalam alur relasi dan dialog yang harmonis, humanis dan transparan, pemerintah yakin bisa mewujudkan masyarakat NTT yang berkualitas, sejahtera, adil dan demokratis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal tersebut diungkapkam Gubernur dalam sambutannya pada Penutupan Masa Sidang I Tahun Anggaran 2011 DPRD NTT, Senin (15/8). Sidang dipimpin Ketua DPRD NTT, Drs. I. A. Medah didampingi Wakil Ketua Nelson Matara, S.Ip dan Anselmus Talo, SE dihadiri unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi NTT, Sekda NTT, Fransiskus Salem, SH, M.Si serta sejumlah pimpinan SKPD lingkup Pemerintah Provinsi NTT.
Menurut Lebu Raya, dalam mewujudkan 8 agenda strategis dengan spirit Anggur Merah sebagai lokomotif pembangunan daerah, upaya evaluasi normatif terhadap kinerja pemerintah mesti dilakukan. Salah satu evaluasi politis, kata dia, dilakukan secara periodik yakni melalui diskusi politik antara legislatif dan eksekutif dengan membedah kinerja pemerintah yang terangkum di dalam LKPJ dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD NTT tahun 2010.
Kinerja yang positif kita apresiasi, kita modifikasi lagi simpul-simpulnya untuk ditingkatkan daya dan target capaiannya. Sebaliknya kekurangan, kelemahan ataupun berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan APBD 2010, perlu kita cermati, kita bedah dan diskusikan bersama untuk menemukan simpul penyebabnya dan menyepakati jalan keluar atau setidaknya, menjadi in put bagi perbaikan dan pembenahan kinerja pemerintah di masa depan,” paparnya.
Dalam perspektif perbaikan, lanjut Gubernur, peningkatan kinerja pemerintahan dan perubahan manfaat implementasi APBD kepada masyarakat, pemerintah menyampaikan terima kasih kepada Pimpinan dan seluruh Anggota Dewan, anggota Komisi, Badan Anggaran, Badan Legislasi dan Fraksi yang telah memberikan dirinya, mengerahkan semua yang dimiliki dan dengan hati yang ikhlas, berdaya upaya untuk mencermati dan menelaah materi Nota Pengantar LKPJ dan laporan pelaksanaan APBD tahun 2010 serta dua Ranperda yang disampaikan pemerintah. “Rekomendasi Dewanyang terhormat menjadi rambu-rambu bagi pemerintah dalam pelaksanaan APBD tahun 2011 maupun penyusunan APBD tahun 2012, sehingga struktur APBD NTT ke depan menjadi semakin efisien, membumi dan pro rakyat,” tandas Gubernur.
Sementara itu Ketua DPRD NTT, Drs, I. A. Medah meminta kepada pemerintah untuk taat asaz dan taat hukum dalam melaksanakan berbagai keputusan yang telah dihasilkan bersama antara legislatif dan eksekutif.

“Beberapa keputusan yang dihasilkan Dewan merupakan sinergi komitmen antara legislatif dan eksekutif untuk meningkatkan kinerja dan semangat pengabdian  bagi bangsa dan masyarakat,” ujar Medah dan menambahkan, “Saya minta pemerintah untu taat asaz dan taat hukum dalam melaksanakan keputusan-keputusan tersebut.” (by.ferry guru)