SEKILAS SEJARAH MASUKNYA KRISTEN DI ALOR


SERGAP NTT -> Pantai Makassar di Kabupaten Alor saat itu dikusai oleh Portugis. Sepanjang pesisiran pantai di Pulau Alor dinaikkan bendera putih.
Menurut Fredrik Pulinggomang, S.Th, seorang tokoh masyarakat Alor dan Pendeta, bahwa pada tahun 1814 terjadi persepakatan pembagian wilayah antara Portugis dan Belanda yang kemudian disebut dengan Keputusan Leserborn. Keputusan itu membagi wilayah NTT menjadi dua bagian wilayah kekuasan. Wilayah pertama yang meliputi mulai dari Sumba, sebagian daratan Timor, Alor masuk daerah kekuasaan Kolonial Belanda, sedangkan Plores dan sebagian Timor masuk dalam wilayahPortugis.
Berdasarkan keputusan itu maka Belanda mulai menempatkan beberapa orang Belandes di Alor. Seorang diberikan tugas sebagai Poskholder (penjaga pos), seorang yang lain sebagai menteri pajak, dan satu komando pasukan. Mereka masuk pertama kali di suatu tempat yang bernama Bang Atimang (sekarang bernama Alor Kecil), lalu berkedudukan atau berdomisil di Pantai Makassar. (Dinamakan Pantai Makassar, sebab jauh sebelumnya orang-orang Makassar sudah bermukim di daerah tersebut sebagai pelaut dan pedagang sambil membawa ajaran-ajaran agama Islam, sampai saat ini komunitas mereka masih terdapat di pantai tersebut, sebagai bukti keberadaan tersebut adalah berdirinya sebuah balla lompo di salah satu tempat di Alor Kecil)
Lalu tahun 1900, orang Kristen mulai masuk ke daerah ini. Orang tersebut bernama Mingga dan Heo. Kedua orang tersebut dibuang oleh Belanda ke daerah Alor. Keberadaanya mungkin dikibatkan karena adanya ekses di Rote yang mengakibatkan Belanda membuang mereka ke daearah Alor. Mingga dan Heo, penganut agama Kristen (masuk dalam zegi pastoral, karena imam mereka tidak terlepas dari umat Kristeani). Mereka merupakan tahanan Belanda yang dibuang ke Alor. Pembuangan mereka ke Alor mungkin disebabkan oleh karena Alor saat itu dikenal memiliki kondisi alamnya terjal, bergunung dan lain-lain sebagainya. Selain itu di wilayah ini masih sering terjadi konflik antar suku, karena mereka masih percaya kepada agama suku. Kedua orang itu juga masuk melalui Bang Atinang dan berdomisili di Pantai Makassar.
Penduduk asli Alor yang menganut kepercayaan suku bermukim di gunung-gunung. Sesekali mereka turun ke Pantai Makassaar, untuk berbelanja terutama pada hari pasar. Mereka saat itu berkomunikasi dan bergaul serta bertransaksi jual beli dengan para masyarakat pendatang terutama komunitas Kristen. Karena orang-orang Kristeani kuat dalam zegi pastoral dan sosiologi, maka tidak sedikit di antara penganut agama suku yang simpati kepada mereka dan beralih untuk memeluk agama Kristen.
Zegi Pastoral yang dibuat oleh Mingga dan Heo akhirnya paham bahwa tidak hanya kaum Kristeani yang bergaul akrab dengan mereka akan tetapi penganut Agama Islam pun demikian, maka Zegi Pastoral kemudian tidak tinggal ditempat. Mereka memulai untuk menjajaki para penduduk asli penganut keparcayaan suku di gunung-gunung. Merekapun jalan naik ke gunung-gunung bertemu dengan orang tua-tua dan anak–anak mereka.Komunikasi berjalan dengan baik dan akhirnya merekapun bersahabat dengan masyarakat pegunungan itu. Zegi Pastoral besahabat dengan para orang tua, demkian halnya dengan anak-anak mereka.
Sehingga, pada tahun 1905 anak-anak penduduk asli penganut agama suku tersebut dibina di Pantai Makasar. Pembinaan itu bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran Kristen. Pada saat itu sistem pendidikan dibagi kepada tiga. Sistem pertama adalah pendidikan umum: upaya untuk mengajarkan kepada anak-anak tersebut huruf, kedua pembinaan doktrin gererja: memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran Kristen, dan ketiga mereka berbakti bersama dalam membaca Alkitab, berhotbah, bernyanyi dan lain-lain. Tiga sistem pendidikan tersebut digabung , yang saat itu dikenal dengan Sunday Scholl (sekolah minggu itu saat ini berubah menjadi sekolah umum, karena daerah Alor Kecil saat inidimukimi oleh mayoritas penganut agama Islam.).
Pada tahun 1910 Belanda pun mulai mengirim lagi seorang yang lain, pendeta yang namanya Wallem Buch. Pengiriman tersebut dilakukan karena menurut penelitian bahwa orang-orang gunung sudah banyak yang percaya kepada Agama Keristen. Sehingga pada tahun yang sama Walem Buch mengadakan pembabtisan massal di suatu tempat, namanya Belolo. Pada tahun yang sama pula sebuah sekolah dibuka di Belolo. Sekolah tersebut merupakan pemisahan dari Sunday School yang didirikan sebelumnya. Jadi sekolah umum yang mengajarkan tentang baca tulis huruf mulai dipisahkan dengan sekolah minggu yang mengajarkan tentang ajaran-ajaran Kristen. Pada tahun 1911, sebuah sekolah umum lagi dibuka di Alor Kecil (Bang Atinang). Pada tahun yang sama, kapal Conopus (kapal Belanda, Kapal Putih), berlabu di Alor Kecil dan saat itu Babtisan massal kedua oelh Wallem Buch lagi.
Pemerintah Belanda pun mulai memperhatikan perkembangan Pulau Alor ke depan. Ia mencari jalan keluar untuk membuat suatu kota. Akan tetapi kenyataan alam yang tidak mendukung,di Belolo dan Alor Kecil keadaan pantai dapat dibuat pelabuhan akan tetapi keadaan daratan tidak mendukung, sebab kondisinya pengunungan. Akhirnya kota pun dikembangkan atau dipndahkan ke Kalabahi. Pemindahan kota tersebut terjadi pada tanggal 5 Mei 1911.
Saat kota dibuka, sekolah-sekolah dan gereja-gereja pun juga dibuka oleh Belanda. Keadaan sistem pendidikan saat itu mulai terpisah. Gereja dibuka tersendiri, sekolah-sekolah umum pun melaksanakan sistem pendidikannya, demikian halnya dengan Sunday School dengan sistem pendidikan yang berbeda. Kebaktian umumpun telah dilakukan. Sedangkan gereja Adam dibuka pada tahun 1917.
Sebetulnya keputusan Belanda tentang penggalakan dibidang pendidikan dan keagamaan dimulai sejak tuhun 1911, dengan instruksinya untuk membuka sekolah dan gereja di seluruh daerah ini. Tetapi karena situasi alam Pulau Alor yang kurang mendukung, gunung terjal yang mesti ditempuh melalui jalan kaki, menyeberangi atau menghadapi gelombang laut dengan perahu layar, maka realisasinya dilakukan dalam waktu yang berbeda.
Guru pengajar pun mulai bertambah. Di awal pelaksanaan pendidikan ini, beberapa guru umum yang sebagai guru agama dan penginji di gunung-gunung. Namun beberapa waktu kemudian mulai ada bantuan guru dari daerah lain antara lain dari Daratan Timor, dan Manado, Sulawesi. Mereka mengajar masyarakat untuk mengenal Allah, dan alam adalah kepunyaan Tuhan yang mesti dikuasai.
Perkembangan selanjutnya, motivasi penduduk Pulau Alor untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan bangkit. Beberapa di antara mereka melanjutkan pendidikan di luar Pulau Alor, diantaranya di Kupang, Jawa dan Sulawesi. (by. badruzzaman)

Alor Dari Masa Ke Masa


SERGAP NTT -> Masih ingat Antonio Pigafetta? Ia adalah penulis (narator) perjalanan keliling dunia pimpinan Ferdinand Magellan. Pigafetta mencatat, bahwa pada 9 sampai 25 Januari 1522, pulau Alor-Pantar dikunjungi oleh kapal Victoria, yakni sisa terakhir dari armada Magellan. Tentang Alor, Antonio Pigafetta menulis : Penduduk pulau ini buas seperti hewan dan makan daging manusia. Mereka tidak mempunyai raja dan tidak berpakaian. Mereka hanya memakai kulit kayu, kecuali kalau pergi ke medan perang (A.D.M.Parera : 1994).
Antonio Pigafetta melanjutkan, Untuk mempertahankan dan memperkuat diri dari muka, belakang, sisi kiri dan kanan, mereka memakai kulit kerbau yang dihiasi dengan kulit-kulit siput, taring  babi dan buntut kulit kambing terikat pada muka dan belakang. Rambut mereka diberkas tinggi ke atas dengan memakasi semacam batang rumput panjang yang ditusuknya dari sisi ke sisi. Janggut mereka dibungkus dengan daun dimasukkan ke dalam batang bambu. Sungguh lucu.
“Mereka adalah bangsa terburuk di bagian India,” tulis Pigafetta. Busur dan anak panah mereka terbuat dari bambu. Mereka membuat semacam kantong yang dianyam dari daun-daun bambu sebagai tempat menyimpan makanan dan minuman untuk dibawa oleh kaum wanita. Ketika mereka melihat kami, mereka menyongsong kami dengan anak panah, tetapi setelah kami memberikan mereka beberapa hadiah, mereka lalu menjadi sahabat kami.
Kami tinggal di sini selama dua minggu untuk memperbaiki kapal kami. Di pulau itu terdapat ayam, kambing, kelapa, lilin, yang diberikan sebanyak 15 pond kepada kami untuk ditukar dengan sekarat besi tua, dan Lombok yang buahnya panjang itu menyerupai bunga dari “hazelnood”. Pohonnya melata dan melekat pada pohon lain, daunnya menyerupai daun muras (murbei) dan dinamakan luli. Lombok yang buahnya bundar, melata juga tetapi mempunyai mayang seperti gandum Indian, dan buahnya digaruk keluar dan dinamakan lada.
Ladang-ladang di Alor-Pantar penuh dengan jenis Lombok yang terakhir ini ditanam dengan berjalur. Kami menangkap satu laik-laki dari wilayah ini untuk jadi pemandu bagi kami ke pulau-pulau lainnya, di mana kami bias mendapat bahan makanan. Itulah keadaan Alor tempodoeloe yang direkam oleh Antonio Pigafetta ketika kapal Victoria sisa armada Ferdinand Magellan membuang sauh di Alor, pada 488 tahun (1522-2010).
Sejarah mencatat bahwa kekuasaan Portugis di Alor hanya terbatas pada pengibaran bendera Portugis pada beberapa daerah pesisir. Misalnya, di Kui, Mataru, Batulolong, Kolana, dan Blagar. Begitu pula dengan Belanda pada awal menduduki Alor, hanya terbatas pada pengakuan atas penguasa-penguasa yang berada di pesisir sebagai raja-raja dan pada penempatan seorang Posthouder di Alor Kecil yang terlepat tepat di pintu teluk Kabola pada tahun 1861.
Menurut catatan Posthouder Morgersten tanggal 3 Juli 1909 (Doko : 1981), penduduk di pegunungan itu tidak mengakui mereka sebagai raja. Tetapi hanya sebagai pengantara dalam perdagangan barter atau sebagai penterjemah antara mereka dengan Belanda.
Dalam seputar 1910 -1916, Belanda begitu banyak mendapat tantangan dari rakyat Alor-Pantar. Kerajaan-kerajaan yang terkenal yang tak kurang membuat pusing Belanda seperti Kerajaan Bunga Bali, Kerajaan Kui, Kerajaan Kolana, Kerajaan Pureman, Kerajaan Mataru, Kerajaan Batulolong, Kerajaan Baranusa, Kerajaan Pandai, dan Kerajaan Blagar. Namun, Belanda dengan pisau devide et impera dan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) berhasil menaklukkan para raja tersebut. Mereka tunduk bersujud di bawah kaki bangsa penjajah dan mengakui Belanda sebagai penguasa atas bumi, tanah dan air Alor. Belanda juga membonsai jumlah kerajaan dari 9 kerajaan menjadi hanya 4 kerajaan. Yaitu : Kerajaan Kui, Kerajaan Alor Pantar, Kerajaan Kolana, dan Kerajaan Batulolong. Dengan demikian, Belanda akan semakin mudah melaksanakan pemerintahannya terlebih dalam pengawasan.
Masa ini masa feodal. Raja masih jadi “dewa”. Pemegang capital adalah raja dan staf di sekitarnya. Sementara rakyat jelata tetap pada predikatnya sebagai buruh kasar tanpa upah sepeser pun. Kerajaan-kerajaan tersebut mengikatkan diri pada Korte Verklaring. Ketentuan itu diikat dan diatur dalam Zelfbestuur regelen 1938 (Stadblaad 1938 No.529, yang karenanya keempat kerajaan itu (Kerajaan Kui, Kerajaan Alor Pantar, Kerajaan Kolana, Kerajaan Batulolong) digabung dalam satu wilayah pemerintahan yang bersifat lokal dengan nama Onderafdelling Alor-Pantar, yang merupakan satu struktur pemerintahan sebutan (Plaatselyke bestuur), dipimpin oleh seorang pamong praja Belanda (European Bestuur) yang disebut Controleur.
Onderafdelling Alor-Pantar secara resmi ditetapkan dengan Staatblaad (lembaran negara) 1929 No.196, berada dahulu sebagian di bawah kekuasaan Portugis dan baru sejak 6 Agustus 1851 dimasukkan seluruhnya ke dalam kekuasaan Belanda.
Yang dapat dicatat sebagai satu-satunya hal yang menjadi penawar pada masa pemewrintahan Hindia Belnda di Alor adalah masuknya para misionaris gereja menyebarkan agama Kristen, sebuah langkah awal menata mental dan akhlak kaum pribumi. Para misionaris gereja juga membuka sekolah rakyat, maka lahirlah sekolah rakyat (Volksscholl) di Kalabahi (5 Mei 1911), Kolana (1 Agustus 1911), Blangmerang (12 Agustus 1911), dan Biakbuku (1912). Menyusul Probur I (1916), Adang (29 Oktober 1917), Langkuru (11 Juni 1917), Kabir I (1 Januari 1917). Kemudian pada 1922dibuka sekolah rakyat di Silaipui, Gendok, Kiraman, Takala, Taramana, Pida, dan Kolondama. Pada tahun 1923 sekolah rakyat Limarahing (1 Nopember 1923), Moru (1923), Kabola (20 Oktober 1923), Peitoko (1 Agustus 1928), Kelaisi (1929), Bagalbui (1930), Lantoka (1930), Naumang (1 Juni 1932), Ternate (22 Januari 1932), Topbang (1 Agustus 1936), Waisika (1 Agustus 1938), Fami (1Agustus 1939), Ruilak ( 1 Agustus 1939), sungguh mulai menerangi mental hidup dan kehidupan anak negeri dari masa silam nan gelap. Begitu pula pengaruh positif oleh lahirnya sekolah-sekolah lainnya dari tahun 1942-1968, tak kurang dari 46 sekolah Kristen di seluruh Alor-Pantar.
Meski sekolah rakyat yang dibangun oleh Belanda begitu banyak tapi tak banyak m,enolong kaum pribumi menikmati pendidikan. Sebab, hanya segelintir orang yang bermampu atau anak-anak keluarega bangsawan yang bias bersekolah. Selebihnya, buta huruf!
Sampai dengan Belanda angkat kaki dari bumi Alor, kota Kalabahi sebagai pusat pemerintahan dan politik masa itu masih seperti sebuah kampong. Tak ada jalan beraspal, dan listrik. Hanya ada beberapa buah rumah rakyat dan sedikit toko pedagang Tionghoa, rumah sakit. Bangunan milik pemerintah yang terbilang modern ialah rumah dinas jabatan Controleur Belanda (sekarang rumah jabatan dinas Bupati Alor), dan kantor Controleur (sekarang kantor dinas Pariwisata), yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah jabatan Controleur.
Seperti tunas yang baru tumbuh ke permukaan, langsung dihantam badai hama. Itulah yang kiranya dapat dimisalkan pada fenomena bidang pendidikan. Karena justru pada putaran masa itulah dunia pendidikan semakin dilihat sebagai wadah jitu mendidik dan menbuat pintar rakyat jelata. Alor sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tengah dalam percaturan politik internasional. Sebuah tikung ujian maha berat memproklamirkan kemerdekaan, pada 17 Agustus 1945.
Menjelang penyerahan kedaulatan Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS), tahun 1948-1950, Pemerintah Republik Indonesia yang pertama di Alor dijabat oleh Ludgerus Poluan sebagai Utusan Pemerintah Daerah (UPD)yang kemudian diganti menjadi Kepala Pemerintahan Setempat (KPS). Setelah penyerahan kedaulatan, KPS Alor dijabat oleh Hendrik Rihi Kanadjara(1950-1951), J.M.Tawa (1951-1954), Imanuel Litamahuputi (1954- 30 September 1958), Johan Hendrik Ahab (30 September 1958-18 Desember 1958), dan Hendrik Soleman Giri (18 Desember 1958-1959), dan Syarif Abdullah (1959- 1960).
Peristiwa yang sangat bersejarah adalah bahwa berdasarkan Undang-Undang No.69 Tahun 1958 (Lembaran Negara Tahun 1958 No.122) Tentang pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II dalam wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), maka secara resmi terbentuklah Kabupaten Alor, pada 20 Desember 1958. Saat yang bertepatan dengan pelantikan Pejabat Sementara Kepala Daerah Tingkat I NTT oleh Gubernur Koordinator Pemerintahan Nusa Tenggara di Kupang.
Dengan terbentuknya Kabupaten Alor, maka Syarif Abdullah ditetapkan sebagai Pejabat Sementara Kepala Daerah Swatantra Tk.II Alor. Tidak banyak hal yang dilakukan oleh Syarif Abdullah dalam masaa jabatannya yang begitu singkat. Apalagi kondisi sosial politik masyarakat yang belum memungkinkan, masih terpilah-pilah dalam ikatan primordial sebagai warisan sistim kemasyarakatan lama yang dikendalikan oleh para raja. Namun, begitu, Syarif Abdullah tetap dikenang sebagai tokoh peletak dasar sistim pemerintahan modern di Alor.
Pembangunan sarana dan prasarana baru dimulai pada masa bupati John Bastian Denu (1960-1962) dan Umbu Marthinus Dikky Tarapanjang (1963-1967). Pembangunan sarana dan prasarana tersebutbaru menjangkau klota-kota kecamatan terdekat dengan Kalabahi, ibukota Alor. Barulah pada masa kepemimpinan bupati Jacob Octovianus Ledoh, BA (1967-1972) pembukaan jalur transportasi darat menuju daerah pedalaman mulai dilakukan.
Dari masa jabatan John bastian Denu sampai dengan Umbu Mathinus Dikky Tarapanjang, yang dapat dicatat ialah, seperti sekelompok manusia dari keempat kerajaan utama di Alor, yang baru mempunyai “rumah tangga sendiri” tetapi berlum banyak ditata, terutama karena rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI tidak hanya membabak-beluri kehidupan nasional, tetapi juga menyejarah daerah-daerah, termasuk Alor. Dalam suatu lingkup kehidupan masyarakat yang agraris tradisional yang pasif, dengan mental yangh sepenuhnya pasrah, PKI dengan enteng menjalankan pengaruhnya secara mengakar serabut. Suatu tantangan berat bagi Umbu marthinus Dikky.
Sebuah rumah tangga Alor yang bernasib bagai di tengah badai. Beberapa langkah awal menata “rumah tangga baru” Alor, hancur berantakan. Sikap mental masyarakat kembali sepenuhnya ke titik nadir. Pasif dengan kecurigaan terhadap sesuatu yang baru dating dari luar, beku, kaku, tertutup. Dalam rumusan nasuional, masa seputar 1950-1965 dilabel sebagai masa Orde Lama, yang berakhir dengan meninggalkan kehancuran-keberantakan di berbagai aspek kehidupan anak negeri di Indonesia.
PKI dengan nafas politik Nasakom-nya pernah lahir secara legal, kemudian membabak beluri Negara Republik Indonesia. Dengan meletusnya G30S/PKI di tahun 1965, secara resmi pula PKI dibumi hanguskan dari bumi Republik Indonesia. Ulah PKI yang merongrong Indonesia di saat itu, secara khusus pula merongrong hidup dan kehidupan di bumi Alor. Banyak rakyat yang tak begitu paham soal A-B-C Nasakomisasi, akhirnya harus puas dengan labal klasifikasi oleh Pemerintah sebagai Golongan C.
Perkembangan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan, baik darat, luat dan udara, mulai mengalami kemajuan berarti pada masa kepemimpinan bupati Drs. Umbu Pekudjawang (1978-1984). Dalam masa ini, transportasi antar pulau dalam kabupaten Alor mulai lancer. Bupati Drs. Jack Djobo adalah putera Alor pertama yang duduk di pucuk pemerintahan di Kabupaten Alor. Melalui program Panca Krida Kabupaten Alor, Jack Djobo sukses membawa Alor selangkah lebih maju.
Kemudian tongkat estafet kepemimpinan diteruskan oleh bupati Teddy Sutedjo (1984-1989) ditandai dengan roda pemerintahan yang semakin baik, lancar,dan efektif. Dengan melanjutkan Panca Krida kabupaten Alor, Teddy Sutedjo mulai membangun transportasi darat hingga menjangkau kota kecamatan dan desa, terutama ke kantong-kantong produksi. Panca program meliputi Terasering, Tanaman Perdagangan, Gizi, Kertrampilan dan Pemukiman.  Kemudian tampil bupati Drs. Hosea Dally (1989-1999)menambah dua krida baru pada Panca Krida sehingga menjadi Sapta Krida serta melaksanakan Operasi Peningkatan Gabah (Opnigah) guna memperkuat ketahanan pangan masyarakat dalam membangunan daerahnya.
Kemudian tongkat estafet kepemimpinan bupati Alor dilanjutkan oleh Ir. Ans Takalapeta (1999-2009). Pada masa ini Ansgerius Takalapeta menggulirkan Program Gerakan Kembali ke Desa dan Pertanian). Program Gerbadestan ini dinilai pemerintah pusat (Jakarta) sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. Jadi wajar jika bupati Ansgerius Takalapeta dianugerahi Piagam dan Tanda Penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (by. Hansitta)

Kemhub RI Bantu Pemkab Sabu Raijua Dua Bus


SERGAP NTT -> Menteri Perhubungan (Menhub), Freddy Numberi menyerahkan dua bus bantuan Kementerian Perhubungan (Kemhub) RI untuk Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua. Dua bus yang diserahkan Menhub Freddy Numberi ini diterima langsung Bupati Sabu Raijua, Marthen Luter Dira Tome bertempat di halaman Kantor Kemhub, belum lama ini.
Selain itu, Menhub juga menyerahkan bantuan mobil untuk provinsi Bali, Sumatera Selatan, Pemkot Tangerang, Pemkot Singkawang yang diterima gubernur dan walikota masing-masing.
Usai menyerahkan bantuan bus ini, Freddy meminta kepada pemerintah setempat untuk dapat mengatur sistem menajemen dan memelihara bus bantuan tersebut dengan baik untuk kepentingan pelayanan kepada masyarakat.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan berharap agar daerah bisa mengintegrasikan keberadaan bus bantuan tersebut ke dalam program kerja yang mendukung pembangunan ke depan. “Karena seluruh kabupaten/kota juga harus kita bantu, makanya harus benar-benar bersinergi dan digunakan dengan baik,” imbaunya.
Menhub mengungkapkan harapannya ini karena berdasarkan hasil evaluasi Kemhub sebelum, terdapat daerah yang tidak memanfaatkan bantuan bus itu sesuai peruntukkannya. Karena itu, saat acara penyerahan bantuan itu, Menhub mengancam tidak akan memberikan bantuan mobil/bus lagi kepada daerah yang tidak menggunakan sarana transportasi itu dengan baik.
“Tadi saya sudah katakan, kalau perencanaannya tidak baik, nanti kita tidak kasih bantuan lagi,” tegasnya.
Selain penyerahan bantuan bus untuk peruntukkan masyarakat umum, Kemhub juga memberikan beberapa bantuan bus khusus anak sekolah kepada sejumlah daerah.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome kepada Timor Express usai penyerahan menyampaikan terimakasihnya kepada Menhub karena Sabu yang baru dimekarkan mendapat perhatian berupa bantuan dua unit bus. “Kami berterimakasih kepada Pak Menhub, karena atas perhatiannya masyarakat Sabu bisa memperoleh bantuan bus ini. Sebagai kabupaten baru, Sabu Raijua membutuhkan berbagai sarana pendukung, salah satunya adalah sarana transportasi ini,” kata mantan Kabid PLS, Dinas PPO NTT ini. (fmc)

Kawin Paksa di Sumba Tengah


Bagi masyarakat Sumba Tengah, NTT, kekerabatan adalah hal yang sangat penting. Demi menjaga kekerabatan, budaya kawin paksa pun diterapkan.

Tapi lama-lama ada motif ekonomi di balik budaya kawin paksa ini. Para perempuan yang jadi korban kawin paksa tak jarang juga menjadi korban kekerasan fisik. Kontributor Radio Nederland (KBR68H), Shinta Ardhany dibantu Reporter Doddy Rosadi berbincang dengan salah satu korban kawin paksa yang hingga kini masih trauma.
Dihadang di jalan
Laju sepeda motor kami berhenti di tengah jalan. Kami tengah mencari rumah Intan Rambu Dauki, perempuan dari Desa Makatekeri, Sumba Tengah, yang menjadi korban penculikan dan kawin paksa.
Sungguh kebetulan, laki-laki yang kami temui di tengah jalan itu adalah paman Intan. Namanya Dominggus. Ia adalah satu-satunya saksi mata saat Intan diculik.
Dominggus: “Kita mau keluar pi pasar mereka datang dari sana, saya pikir orang dari sawah, begitu orang langsung palang saya. Saya tidak bisa lewat lagi, dorang langsung ambil. Ada berapa orang pelaku? Tak sampai sepuluh. lima sampai enam orang. Mas ikut bantu? Mau ke luar. Saya paman Intan. Saya boncengin Intan, mereka tangkap bawa lari. Banyak orang laki-laki semua. Intan nangis-nangis.”
Rumah Intan
Dominggus lantas membawa kami menuju rumah Intan. Jalan menuju rumah Intan belum beraspal, masih berupa jalan kampung berupa tanah dan berbatu. Di kiri kanan terhampar persawahan. Setelah perjalanan 15 menit, kami tiba di rumah keluarga Intan.
Rumah keluarga Intan berupa rumah panggung dengan atap alang-alang, di bagian bawah untuk kandang babi. Dindingnya dari anyaman bambu atau gedek. Begitu masuk ke dalam rumah terasa gelap, karena tak ada ventilasi yang memadai. Juga tak ada listrik. Penerangan hanya mengandalkan lampu teplok. Di dalam rumah tak terlihat barang mewah.
Rumah ini tampak mencolok dibandingkan rumah-rumah warga Sumba yang lain. Meski sama-sama berbentuk rumah panggung, namun rumah-rumah lain sudah memakai atap genteng atau seng, sudah ada listrik, sementara di bagian bawah rumah bersih, tak lagi jadi kandang babi.
Penculikan Intan
Intan dan keluarga tinggal di Desa Makatekeri, Kecamatan Katikutana, Sumba Tengah. Sekitar dua kilometer dari pusat kota Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Nama Intan mulai sering dibicarakan masyarakat setelah kasus kawin paksa dan penculikan yang dialaminya disiarkan di Radio Gogali, satu-satunya radio di Sumba Tengah.
Saat itu akhir Desember 2008. Intan diculik siang hari, ketika Intan sedang berboncengan motor bersama pamannya Dominggus untuk pergi ke pasar. Di tengah jalan mereka dihadang enam laki-laki yang langsung mencekal dan mengangkut Intan dari atas motor. Ini cerita versi Intan, yang sudah kembali dari Malaysia.
Intan Rambu Dauki: “Saya lagi jalan, lepas itu mereka langsung tahan motor saya, mereka langsung tangkap saya, lepas itu mereka bawa pergi saya ke rumah mereka. Itu bukan jodoh saya. Saya tidak mau dikawin paksa.”
Keluarga penculik
Para penculik Intan ini adalah keluarga laki-laki yang menginginkan Intan menjadi istrinya. Ini berdasarkan perjanjian di masa lalu, ketika Intan masih kecil, keluarga Intan dan keluarga laki-laki ini akan saling menjodohkan anak mereka.
Intan lantas dibawa ke rumah keluarga laki-laki, di Desa Laimerang, berjarak sekitar tiga kilometer dari desa Intan. Intan terus menangis, tak mau dibawa masuk ke dalam rumah.
Intan Rambu Dauki: “Bisa lepas? Bantuan polisi dan pemerintah dan bapak Umbu Lane. Saya dibawa lari, mereka tak mau lepaskan. Mereka terus bawa saya ke kampung. Sodara lapor polisi, polisi turunkan kembali.”
Tolak kawin paksa
Orangtua Intan mengaku tak lagi ingin memaksakan anaknya menikah dengan laki-laki yang tak dicintai. Perjanjian kawin paksa yang mereka sepakati dulu dengan keluarga laki-laki yang masih terhitung saudara, dibatalkan sepihak. Ibu Intan, Rambu Mura Guna, tak ingin anaknya menikah dengan seseorang tanpa cinta.
Rambu Mura Guna: “Kenapa nolak? Sekarang bukan jaman memaksa ibu. Persetujuan laki-laki dan perempuan macam kami saja orang tua tidak ada.”

Ayah Intan, Umbu Yora Sabatundung juga tak mau dianggap mencari keuntungan dengan mengawinkan paksa anaknya.
Umbu Yora Sabatudung: “Macam sekarang omong pendek karena lapar. Tidak mau jual anaknya. Biar tidak ada hewan tergantung anaknya laki-laki dan perempuan. Kalo setuju antara dua bisa juga, kalo tidak, tidak juga harus turun kembali juga. Kami ini punya anak jangan sampai ini saya punya ibu bapak yang pergi jual.”
Pelestarian hubungan keluarga
Kawin paksa adalah tradisi masyarakat Sumba yang sudah berlangsung dari generasi ke generasi. Tokoh perempuan Sumba Tengah Maria Rambu Kawurung mengatakan, dulu tradisi ini dipakai untuk melekatkan hubungan keluarga. Perkawinan dilakukan antar saudara, yang masih satu garis keturunan.
Maria Rambu Kawurung: “Yang dikawinkan anak tante kita harus iya dengan anak om, sodara tapi wajar. Tidak bisa kawin paksa yang tidak ada hubungan anak om? Tidak bisa. Agar apa? Agar hubungan tetap berlanjut terus tidak putus. Perjodohan antar keluarga yang sudah punya garis keturunan kalo di luar itu tidak bisa.”
Rambu Legi Nguju, warga Desa Makatekeri, pernah melakukan praktik kawin paksa ini untuk anaknya. Tahun 1990-an, ia mengawinkan anak laki-lakinya dengan perempuan yang masih kerabat jauh. Sebelumnya kedua keluarga sudah punya kesepakatan.
Rambu Leki Nguju: “Sudah ada perjanjian? Iya. [bicara dengan bahasa Bahasa daerah] Sudah perjanjian memang. Dengan om. Kenapa buat perjanjian. Supaya tidak diambil laki-laki lain. Dibawa lari atas persetujuan keluarga. Dorang sudah berencana. Tidak bisa batal bawa lari dorang Ada memang kita punya perjanjian karena kita bersaudara. Saya kasi saya punya anak saya ingat saya punya sodara perempuan.”
Untuk proses kawin paksa ini, dia memberikan mas kawin berupa belasan ekor kuda dan kerbau senilai 30 juta rupiah.
Rambu Leki Nguju: “Bawa hewan berapa? 15 ekor, kerbau, kuda dan 1 ekor babi. Dikasi ke pihak perempuan. Karena kawin paksa, karena bawa lari. Tidak mau anak milih anak lain? Tidak mau. Dorang sudah berencana. Tidak bisa batal bawa lari dorang.”
Kekerasan fisik
Kekerasan secara fisik pun bisa terjadi jika ada yang menolak dikawinkan secara paksa. Perempuan yang menolak kawin paksa, misalnya, bisa diteror, ditangkap dan diculik. Seperti yang terjadi pada Intan, kata tokoh masyarakat Sumba Tengah Umbu Lane.
Umbu Lane: “Tapi karena diteror begitu saya, tidak mau, karena diculik diangkat dipikul tidak mau, macam babi bawa lari ke rumah laki-laki, sebagai masyarakat tidak setuju penculikan seolah pemerkosaan. Kalo cara baik bawa sirih pinang dulu, mau dengan mau ya OK. Ini tidak ada komunikasi, diculik, angkat. Karena rasa kasian kita ambil alih.”
Penangkapan terhadap calon mempelai korban kawin paksa kadang diketahui, juga direstui kedua keluarga. Koordinator LSM Wahana, yang mendampingi perempuan korban kawin paksa Sumba Tengah, Farida Paduleba.
Farida Paduleba: “Ketika ada perundingan yang jelas antara bapa dan calon suami maka akan ada satu waktu yang ditentukan kapan dan di mana cara tangkapya. Ketika tangkapnya, di mana, di pasar. Mungkin hari Rabu, perempuan ke pasar dan perampasan di pasar, laki-laki siapakan bemo dari laki-laki mengoper. Perempuan jatuh sarungnya dipaksa betul-betul. Kalo sampai di rumah suaminya, dia makan atau tidak, dia dikurungkan.”
Pria tolak kawin paksa
Kalaupun kawin paksa tetap terjadi, tak hanya si perempuan yang tersiksa, tapi juga si laki-laki. Carles Kaseduk, warga Anakalang, Sumba Tengah, menikah dengan istrinya secara paksa pada 1986.
Carles Kaseduk: “Kawin paksa. Kalo berfikir positif sangat tidak bermoral tidak beretika. Saat itu lingkungan berpengaruh masi terikat dengan budaya. Caranya? Dalam suatu musyawarah keluarga. Saya pelaku. Mengapa? Satu kebudayaan. Dan pilihan sendiri. Tidak ada alternatif lain selain bawa lari. Seakan kalo tidak lakukan itu. Macam kompetisi. Antar laki-laki.”
Andreas Sabaora, tokoh adat di Sumba Tengah, menekankan, tak ada yang diuntungkan dengan adat kawin paksa. Mereka pasti menderita batinnya, kata dia.
Andreas Sabaora: “Penderitaan korban kawin paksa? Batin. Karena cinta tidak tumbuh dari dalam. Dia hanya mau menerima kenyataan. Hanya karena tenggang rasa dengan bapak mamanya.”
Terbukti pada Intan Rambu Dauki, salah satu korban kawin paksa. Meski kejadian sudah setengah tahun berlalu, Intan mengaku masih trauma.
Intan Rambu Dauki: “Masi takut? Takut seh, pulang dari malaysia dua minggu lebih sekarang saya masi takut ada orang yang buat seperti dulu lagi, saya takut.” (by.chris parera/ KBR68H)

Pasola, Tragedi Asmara di Padang Savana


SERGAP NTT -> Mengintip pulau Sumba terbersit pesan Sumba adalah pulaunya para arwah. Di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi. Nama Sumba atau Humba berasal dari nama ibu model Rambu Humba, istri kekasih hati Umbu Mandoku, salah satu peletak landasan suku-suku atas kabisu-kabisu Sumba.
Dua pertiga penduduknya adalah pemeluk yang khusuk berbakti kepada arwah para leluhurnya, khususnya kepada bapak besar bersama, sang pengasal semua suku. Marapu menurut petunjuk dan perhitungan para Rato, Pemimpin Suku dan Imam agung para Merapu. Altar megalik dan batu kuburan keramat yang menghias setiap jantung kampung dan dusun (paraingu) adalah bukti pasti akan kepercayaan animisme itu.
Sumba, pulau padang savana yang dipergagah kuda-kuda liar yang kuat yang tak kenal lelah menjelajah lorong, lembah dan pulau berbatu warisan leluhur. Binatang unggulan tingkatan mondial itu semakin merambah maraknya perang akbar pasola, perang melempar lembing kayu sambil memacu kuda, untuk menyambut putri nyale, si putri cantik yang menjelma diri dalam ujud cacing laut yang nikmat gurih.
Pasola berasal dari kata `sola’ atau `hola’, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.
Pasola diselenggarakan di Sumba Barat setahun sekali pada bulan Februari di Kodi dan Lamboya. Sedangkan bulan Maret di Wanokaka. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum.
Sedangkan peserta permainan adalah pria pilih tanding dari kedua Kabisu yang harus menguasai dua keterampilan sekaligus yakni memacu kuda dalam kecepatan super tinggi (super speed power) dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka pesta nyale.
Skandal Janda Cantik
Menelurusi asal-usulnya, pasola berasal dari skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba sebagaimana dikisahkan dalam hikayat orang Waiwuang. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi. Setelah dinanti sekian lama dan dicari kian ke mari tidak membuahkan hasil, warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan belasungkawa atas kepergian/kematian para pemimpin mereka.
Dalam kedukaan mahadahsyat itu, janda cantik jelita `almarhum’ Umbu Dulla, Rabu Kaba mendapat pelabuhan hati Rda Gaiparona, si gatotkaca asal Kampung Kodi. Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih.
Namun adat tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. Janda cantik jelita, Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya.
Beberapa waktu berselang, ke tiga pemimpin warga Waiwuang (Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula) yang sebelumnya telah dinyatakan hilang atau meninggal dunia oleh para pengikutnya tiba-tiba muncul kembali di kampung halamannya. Warga Waiwuang menyambut mereka dengan penuh sukacita.
Namun mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. “Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,” jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang lagi mabuk kepayang itu. Akhirnya keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.
Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona tidak ingin kembali. Ia tidak mau dipisahkan lagi oleh sang tambatan hati yang telah meluluhlantahkan segala rasa cinta dan kasih sayang yang pernah diberikannya kepada sang mantan suami, Umbu Dula.
Kemudian Rabu Kaba meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.
Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik, Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga kampung Waiwuang, Kodi dan Wanokaka, di Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola.
Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur.
Pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu. Hal ini sangat jelas pada pelaksanaan pasola, pasola diawali dengan doa semadhi dan Lakutapa (puasa) para Rato, foturolog dan pemimpin religius dari setiap kabisu terutama yang terlibat dalam pasola.
Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma adat yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.
Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan terutama Umbu Dulla yang punya istri.
Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona. Keluarga Kodi sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena ditinggalkan Rabu Kaba.
Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Permainan jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana sosial ampuh. Apalagi bagi kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.
Selama pasola berlangsung semua peserta, kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat menjalin persahabatan dan persaudaraan.

Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau. Oleh karenanya pemerintah dan seluruh warga masyarakat setempat sangat mendukung untuk menjadikan kegiatan PASOLA sebagai salah satu `mayor event’ yang pantas menjadi kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. (by. Chris parera/web)