Wisata “Hobbit” di Gua Liang Bua


SERGAP NTT -> Pada 2003, peneliti menemukan kerangka manusia berukuran satu meter di Gua Liang Bua, Rampasasa, di Kabupaten Manggarai. Sejak itu kabar ada perkampungan manusia kerdil hidup di daerah itu tersebar ke mana-mana.

Kabar itu kemudian dikait-kaitkan dengan keberadaan suku Hobbit, suku yang menjadi tokoh utama di film Lord of The Ring. Di film itu digambarkan suku ini sangat pemalu, namun memiliki kemampuan menjelajah yang jauh. Mereka menggunakan bebatuan sebagai senjata.

“Jika ingin melihat Hobbit, cukup dengan menyediakan Rp 500 ribu,” kata kuncen Gua Liang Bua kepada Michael Casey dari AP (9/3). Tapi tak perlu merasa mahal. Karena jika sabar, anda akan menemukan pemandu yang mau dibayar dengan upah Rp 150 ribu.

Agar laku, cerita lain pun diembuskan. Manusia kerdil penghuni di sekitar gua ini punya leluhur bernama Ebu Gogo, yang suka memakan segalanya termasuk manusia. Sejak saat itu, wisata Hobbit pun di mulai.

Casey lalu dibawa ke perkampungan yang tak jauh dari gua. Titik pertemuan dilakukan di kamar sebuah rumah yang dipenuhi lukisan orang-orang kerdil. Ia dipertemukan dengan Viktor Jehabut, 80 tahun, warga kampung itu.

Viktor memiliki tinggi badan hanya sekitar 1,2 meter. Tapi secara keseluruhan bentuk tubuhnya sama seperti manusia biasa. Kakinya tidak berukuran dua kali lipat kaki orang biasa, seperti yang ada di film. “Dia hanya pendek, tak ada yang aneh,” kata Casey.

Sengan menggunakan bahasa Suku Manggarai, Viktor menceritakan legenda di kampungnya. Bahwa di masa lalu, orang seperti dia di kampungnya bisa menghilang bila dikejar. Dan tidak akan berdarah meski kulitnya disayat. “Cerita kami yang suka makan manusia, tidak benar,” kata Viktor

Viktor dan hidup bersama sekitar 170 orang warga sekampungnya. Penduduk di perkampungan ini semuanya miskin, dan anak-anak kebanyakan tidak bersekolah. Letaknya yang terpencil, sekitar 10 kilometer dari Ruteng, ibukota Manggarai, menjadi penyebab. Kini mereka cukup puas hanya dengan menjadi objek penelitian karena ukuran tubuh mereka, dan dikunjungi para turis yang penasaran ingin melihat “Hobbit” dari dekat. (by. chris parera/web)

Flores is a Catholic island


SERGAP NTT -> Flores is a Catholic island (Flores itu pulau Katolik). Julukan ini tidak salah. Sebab, sejak abad ke-15, daerah ini menjadi salah satu basis utama penyebaran agama Katolik di Nusantara. 

“Seperti Maluku, Flores juga menjadi tempat berpijak yang paling penting bagi pedagang-pedagang Portugis dan kegiatan misionaris selama kehadiran mereka di Indonesia hingga 1512 hingga 1605,” tulis Kapten Tasuku Sato dan Mark Tennien dalam bukunya I Remember Flores, New York, 1957. 

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Thom Wignyanta, wartawan senior, surat kabar mingguan DIAN yang terbit di Ende. 

“Yang pertama-tama berkarya di Flores ialah para padri Dominikan yang berasal dari Portugis. Mereka membuka misi pertama di Pulau Solor, kira-kira 350 tahun lalu. Dari Solor mereka berpindah ke Larantuka dan Maumere yang terletak di pantai utara Flores. Karya mereka pada abad ke-17 itu boleh dikatakan berhasil baik. Meskipun jumlah imam sedikit, toh berhasil menobatkan beberapa ribu orang dari pulau itu,” tulis Tasuku Sato, komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943. 

Pada 1914-1920 ada dua kongregasi yang bekerja di Flores, yakni Serikat Yesus alias Societas Jesu (SJ) dan Societas Verbi Divini (SVD). Pada 1920 Serikat Yesus meninggalkan Flores, dan menyerahkan tongkat penggembalaan umat Katolik kepada SVD. Sampai sekarang Flores umumnya dikenal sebagai basis SVD paling besar di dunia. 

Yang menarik, seperti dikutip Frans M. Parera (2002), sebelum misi Katolik ini masuk sudah ada penduduk Flores yang menganut agama Islam. Selain itu, tentu saja ‘agama asli’, yang masih mayoritas mutlak. Tidak disebutkan kapan persisnya Islam masuk ke Flores. Di sekolah-sekolah di Flores Timur, sejarah masuknya Islam ke Flores Timur praktis tak pernah diajarkan. 

“Biara SVD berkompetisi dengan juru dakwah agama Islam di Flores untuk mengembangkan agama masing-masing…. Ternyata, Biara SVD lebih unggul dalam strategi marketing mereka daripada juru dakwah dari lingkungan agama Islam untuk berpengaruh di tengah-tengah suku-suku Flores Tengah dan Flores Barat. Suku-suku etnis itu mayoritas memeluk agama Katolik sepanjang abad ke-20,” tulis Frans Parera dalam buku yang sama. 

Dari sini, saya berkesimpulan bahwa agama Islam sudah hadir di Flores sebelum tahun 1512. Jadi, bukan agama baru. Penyebaran Islam tak lepas dari aktivitas nelayan atau pelaut asal Jawa, Sumatera, Kalimantan, atau daerah-daerah lain di Nusantara. Ingat, Flores Timur adalah daerah pesisir yang sangat mudah dijangkau perahu atau kapal laut. 

Bung Karno (Ir Soekarno, presiden pertama Indonesia) pada 1934-1938 diasingkan oleh rezim Hindia Belanda di Pulau Flores, tepatnya Ende. Di Flores inilah Bung Karno banyak memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam, berkorespondensi dengan ulama-ulama terkenal di Jawa, menulis artikel-artikel menarik seputar Islam, dialog dengan kiai di Flores, serta tak lupa berdiskusi dengan pastor-pastor SVD. 

Bung Karno punya sahabat karib Pater Huyting SVD, misionaris di Biara Santo Yosef, Ende. Dari sinilah Bung Karno menulis ’surat-surat Islam’ dari Flores, yang bisa kita baca di buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’. 

Saya kutip tulisan Bung Karno di ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ Jilid I halaman 330-331: 

“… saja sendiri banjak bertukaran fikiran dengan kaum pastoor di Endeh. Tuan tahu bahwa Pulau Flores itu ada ‘pulau missi’ jang mereka sangat banggakan. Dan memang pantas mereka banggakan mereka punja pekerdjaan di Flores itu. Saja sendiri melihat bagaimana mereka bekerja mati-matian buat mengembangkan mereka punja agama di Flores. Saya ada respect buat mereka punja kesukaan bekerdja itu. 

“Kita banjak mentjela missi, tapi apakah jang kita kerdjakan bagi menjebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punja hak yang kita tak boleh tjela atau gerutu. Tapi kita, kenapa kita malas? Kenapa kita teledor? Kenapa kita tak mau kerdja? Kenapa kita tak mau giat? Kenapa misalnja di Flores tiada seorang pun muballigh Islam dari sesuatu perhimpunan Islam jang ternama (misalnja Muhammadijah) buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir? 

“Missi di dalam beberapa tahun sahadja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores. Tapi berapa orang kafir yang bisa ‘dihela’ oleh Islam di Flores itu? Kalau difikirkan, memang semua itu salah kita sendiri, bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanja diperhinakan orang!” 

Agama Islam memang bukan agama baru di daerah saya, Flores Timur. Kita sangat mudah menemukan masjid, langgar, surau di kampung-kampung. Jauh lebih sulit menemukan kapela, apalagi gereja, di Jawa ketimbang menemukan masjid. 

Di desa saya, Napasabok, Kecamatan Ile Ape, Lembata, ada Masjid Nurul Jannah yang megah, dibangun secara gotong-royong oleh penduduk (mayoritas Katolik), padahal umat Islam hanya segelintir. Justru tak ada gereja meskipun 97 persen penduduk beragama Katolik (plus agama asli). Kami bangga dengan masjid itu. Itulah simbol toleransi, Bhinneka Tunggal Ika. 

Ini jarang saya jumpai selama belasan tahun tinggal di Pulau Jawa. Di Jawa, jangankan bekerja bahu-membahu bikin rumah ibadah agama lain, sekadar memberi restu atau izin saja susahnya minta ampuuuuun! Gereja yang sudah berdiri pun masih dipertanyakan izin-izinnya. 

Saya bisa membagi pemeluk Islam di Flores Timur dalam tiga kategori. Pembagian ini hanya garis besar, tidak ilmiah, hanya untuk memudahkan pemahaman kita tentang komunitas Islam di Flores Timur, Provinsi Nusatenggara Timur. 

SATU, komunitas Islam asli Flores. 

Latar belakang mereka sama-sama penduduk bumiputra yang mula-mula menganut ‘agama asli’ atau meminjam istilah Bung Karno ‘orang kafir’. Dalam buku sejarah, agama asli biasa disebut animisme-dinamisme. Ketika datang agama baru, entah Katolik atau Islam, penduduk mulai konversi alias pindah agama. Agama asli identik dengan kekolotan atau primitivisme karena terkait erat dengan dukun-dukun serta kepercayaan alam gaib yang sulit berterima di alam moderen. 

Karena sama-sama asli Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan, jemaat Islam ini benar-benar menyatu dengan umat Katolik atau penganut agama asli. Sama-sama diikat oleh adat, budaya, serta keturunan yang sama. Kalau diusut-usut, golongan ini punya hubungan darah yang sangat erat. 

Fam atau marga saya, Hurek Making, misalnya, banyak yang menganut Islam. Bapak Muhammad Kotak Hurek bahkan jadi takmir Masjid Nurul Jannah di kampung. Muhammad Anshar Paokuma, keluarga dekat dari pihak ibu saya, malah imam masjid tersebut. Hubungan persaudaraan erat luar biasa. 

Bedanya: umat Islam tidak makan daging babi dan anjing, sementara saudara-saudaranya non-Islam sangat doyan. Kalau ada pesta, saudara-saudara muslim ini ‘wajib’ menyiapkan daging khusus untuk kaum muslim, mulai dari menyembelih kambing, memasak, hingga siap saji di meja makan. Tradisi lokal ini untuk menjaga agar makanan itu terjamin kehalalannya. 

Pak Hamid, juga masih kerabat saya, dikenal sebagai tukang jagal kambing dan sapi paling top. Begitu tahu bahwa daging kambing itu disembelih oleh Pak Hamid, saudara-saudara muslim itu pun menyantap dengan nikmat. 

DUA, komunitas Islam pesisir. 
Mereka ini campuran antara pendatang dan penduduk asli yang sudah bercampur-baur secara turun-temurun. Disebut pesisir–ini istilah saya saja–karena tinggalnya di pesisir, bekerja sebagai nelayan ulung. Selain itu, mereka pedagang ‘papalele’ hingga pedagang besar. 

Mereka ini menganut Islam berkat dakwah para pedagang atau pelaut Sulawesi, Sumatera, Jawa, Sumbawa. Ada juga nelayan Sulawesi yang akhirnya menetap di Flores karena kerap bertualang di laut. Ada tanah kosong di pinggir laut, lantas mereka mendirikan rumah di situ. Akhirnya, muncul banyak kampung-kampung khusus Islam di beberapa pesisir Flores Timur. 

Berbeda dengan Islam jenis pertama (asli Flores), golongan kedua ini benar-benar pelaut sejati. Di beberapa tempat, rumah mereka bahkan dibuat di atas laut. Karena tak punya tanah, namanya juga pendatang, mereka tidak bisa bertani. Kerjanya hanya mengandalkan hasil laut, tangkap ikan, serta berdagang. 

Maka, komunitas Islam pesisir ini sangat solid dan homogen di pesisir. Kampung Lamahala di Adonara Timur dan Lamakera di Solor Timur merupakan contoh kampung Islam pesisir khas Flores Timur. Di Kampung Baru serta sebagian Postoh (Kota Larantuka) pun ada kampung khusus Islam pesisir. 

Mereka ini menggunakan bahasa daerah Flores Timur, namanya Bahasa LAMAHOLOT, dengan dialek sangat khas. Perempuannya cantik-cantik, rambut lurus… karena itu tadi, nenek moyangnya dari Sulawesi, Sumatera, Jawa. Tapi ada juga yang agak hitam, sedikit keriting, karena menikah dengan penduduk asli yang masuk Islam. 

Karena tinggal di pantai (bahasa daerahnya: WATAN), di Flores Timur umat Islam disebut WATANEN alias orang pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN, dari kata KIWAN alias gunung. WATANEN mencari ikan, KIWANEN bertani, hasilnya bisa barter untuk mencukupi kebutuhan orang Flores Timur. Jadi, kedua kelompok ini, WATANEN-KIWANEN tak bisa dipisahkan meskipun berbeda agama. 

Oh, ya, karena tak bisa bertani (wong, nggak punya tanah), mereka tumbuh sebagai pedagang-pedagang yang tekun dan berhasil. Saya bisa pastikan, pasar-pasar Inpres di Flores Timur hampir dikuasai secara mutlak oleh muslim pesisir. Mereka juga punya banyak armada kapal laut antarpulau yang menghubungkan pulau-pulau di Flores Timur, Nusatenggara Timur, bahkan Indonesia. 

Saat berada di Jawa, saya senang dengan teman-teman Islam pesisir, khususnya Lamahala, kalau diminta main bola memperkuat tim mahasiswa Flores Timur. Militansinya tinggi, nekat, pantang menyerah… dan sedikit ‘nakal’. Saking getol membela Flores Timur, teman-teman muslim ini tak segan-segan berkelahi manakala dicurangi wasit atau pemain lawan. 

Pemain-pemain bola muslim Flores ini juga sejak dulu menjadi andalan PS Flores Timur, khususnya penjaga gawang. “Mungkin karena sering menangkap ikan, jadi pandai menangkap bola juga,” begitu saya menggoda Taslim Atanggae, teman asal Lamahala, yang jago kiper. 

“Jangan lupa main-main ke rumah ya? Biar saya bisa omong bahasa daerah dengan kamu. Di sini semuanya orang Jawa,” kata Ahmad Wahab, asli Lamahala, yang kini tinggal di pelosok Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. 

Orang Lamahala memang bangga dengan bahasa daerahnya, Lamaholot, dengan dialek khas dan keras. Teman-teman muslim pesisir yang sangat taat beragama ini selalu membuat saya, orang KIWAN alias Katolik, bahagia. 

TIGA, komunitas Islam pendatang baru. 
Berbeda dengan komunitas pertama dan kedua, komunitas ketiga ini pendatang baru dalam arti sebenarnya. Mereka datang, bekerja, dan menetap di Flores Timur, menyusul gerakan transmigrasi pada era 1970-an, 1980-an… sampai sekarang. Ada juga yang pegawai negeri sipil, pegawai swasta, profesional yang bekerja di Flores. 

Mereka tak punya kampung seperti muslim asli dan muslim pesisir. Kampungnya ya di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan seterusnya. Kalau Lebaran, mereka ramai-ramai pulang ke kampung untuk silaturahmi dengan keluarganya. Sebaliknya, orang Islam jenis satu dan dua ramai-ramai pulang ke Flores Timur karena orang tua, keluarga besar, memang di Flores Timur. 

Komunitas ketiga ini juga tak bisa berbahasa daerah seperti orang Lamahala atau Lamakera. Bahasanya, ya, bahasa Jawa, bahasa Betawi, bahasa Padang, dan seterusnya. Komunikasi dengan penduduk lokal, tentu saja, dengan bahasa Indonesia. “Terima kasih untuk bahasa Indonesia,” mengutip pujangga favorit saya, Pramoedya Ananta Tour. 

Namun, berbeda dengan Islam pesisir (WATANEN) yang hanya tinggal di kampung-kampung khusus Islam, muslim pendatang baru ini sangat fleksibel. Mereka bisa tinggal di mana saja: kampung Islam, kampung Katolik, pantai, pegunungan, pelosok, kota. Luar biasa luwes! 

Dokter Puskesmas (PTT), guru-guru SMA/SMP negeri, tentara, polisi, asal Jawa dikenal sebagai muslim pendatang yang sangat luwes. Saking luwesnya, kerap kali mereka kecantol dengan gadis lokal (Flores Timur, non-Islam) lalu menikah. Pernikahan semacam ini hampir ‘mustahil’ dilakukan oleh komunitas muslim pesisir alias jenis kedua. 

Teman-teman Islam jenis ketiga (muslim pendatang baru), bagi saya, punya nilai tersendiri bagi kami di Flores Timur. Kenapa? Mereka membuktikan bahwa masyarakat itu bisa tinggal berbaur di mana saja, bertetangga dengan siapa saja, apa pun agamanya. Segregasi alias pemisahan permukiman penduduk atas dasar agama berhasil ‘diterobos’ oleh muslim pendatang baru. 

Nah, komunitas Islam pendatang baru ini mirip Islam jenis pertama, hanya saja tak punya kampung di Flores Timur. 

Zaman makin maju. Orang Flores merantau ke mana-mana. Sehingga, tentu saja, komposisi masyarakat akan terus berubah, termasuk tiga jenis Islam ala Flores Timur ini. Tak ada yang abadi di dunia bukan?  (by. blog hurek)

Budaya Manggarai Timur Terancam Punah


SERGAP NTT -> Panitia Pelaksana Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 66, Kecamatan Kota Komba menggelar pentas Seni dan Budaya Nusa Tenggara Timur.
Panitia menilai, budaya dan seni serta berbagai tarian khas Kabupaten Manggarai Timur yang tersebar di desa-desa dan kampung-kampung terancam punah. Alasan itulah yang mendorong pergelaran pentas seni dan budaya ini digelar.
Acara ini telah dibuka secara resmi oleh Bupati Kabupaten Manggarai Timur, Yoseph Tote, didampingi Wakil Bupati Manggarai Timur Agas Andreas serta pimpinan instansi terkait di Pemkab Manggarai Timur, kemarin.
Ketua Panitia Acara Pentas Seni dan Budaya Kecamatan Kota Komba, Remigius Gaut kepadaKompas.com, Selasa (16/8/2011) menerangkan, berbagai pergelaran seni budaya dari desa-desa dan kampung-kampung akan ditampilkan dalam rangkaian acara tersebut.
Sebutlah, tarian Sanda dibawakan oleh Desa Mokel Morit, Mokel dan Golomeni. Tarian Mbata dibawakan Desa Rana Mbeling dan Rana Mbata. Tarian Danding atau Tore dibawakan oleh Desa Golonderu dan Watu Pari. Tarian Rawa dibawakan oleh Desa Mbengan, tarian Vera dibawakan Kelurahan Watunggene, dan tarian Pado’a dibawakan oleh Kelompok Mabharuju, Kelurahan Watunggene.
Di samping itu, Gaut menjelaskan, tarian Caci khas masyarakat Kabupaten Manggarai Timur akan digelar sesudah acara puncak 17 Agustus 2011. Peserta tarian Caci terdiri dari 22 desa dan kelurahan di Kecamatan Kota Komba yang dibagi dalam beberapa kelompok.  Ada 11 desa wilayah Utara disebut Meka Landang (tamu undangan) dan 11 desa dan kelurahan di wilayah selatan di sebut Mori Beo (tuan tanah).
“Kami berharap dengan berbagai kegiatan yang digelar dapat membangkitkan kembali seni budaya warga masyarakat Manggarai Timur sebagai ciri khas masyarakat Manggarai Timur di masa mendatang,” jelasnya. (by. kompas)

GOR Kobelete TTS Habiskan Rp 31 M


SERGAP NTT -> Pembangunan gedung Gelanggang Olahraga (GOR) Kobelete dan saat ini memasuki proses tender. GOR ini akan menghabiskan dana Rp 31 miliar. Pembangunannya direncanakan akan berlangsung selama tiga tahun.
“Proses pembangunan GOR sudah berjalan dan saat ini memasuki tahap penjelasan atau anwizjing oleh Dinas PPO,” jelas Bupati TTS, Ir. Paul Mella.
Paul Mella, mengatakan pembangunan GOR harus mulai berjalan dengan dana yang sudah dialokasikan. Dan untuk tambahan dana pusat akan diusulkan tahap berikutnya.
“Yang penting jalan dulu baru pemerintah pusat bisa tambah,” tegasnya.
Pada tempat berbeda, Kabid Sarana Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Sarpor) yang juga ketua panitia tender, Alex Letuna mengatakan, proses tender gedung GOR sudah berjalan dan sudah dilakukan aanwizjing pada tanggal 22 Juni 2011, yang diikuti tiga perusahaan yakni PT Waskita Karya, PT Batu Besi dan PT Sumber Griya Permai. “Panitia tetap membuka pendaftaran bagi rekanan yang mau mengikuti tender hingga tanggal 1 Juli 2011 saat memasukkan dokumen. Dengan ketentuan harus pengikuti ketentuan yang sudah disepakati saat penjelasan,” ujarnya. (by. web)
Menurut Letuna, pembangunan GOR ini memiliki dua kontrak, yakni kontrak induk Rp 31 miliar. Dan anak kontrak setiap tahap bervariasi, yakni tahap pertama Rp 12 miliar yang terdiri dari APBN Rp 3,5 miliar dan APBD II sebesar Rp 8,5 miliar.
Sedangkan sisa dana Rp 19 miliar akan ditenderkan pada tahap kedua dan ketiga.
“Kita berharap pembangunan tahap kedua dan ketiga juga dari dana bantuan APBN,” katanya. (*)

KETIKA KEJAHATAN BERBALIK ARAH


SERGAP NTT -> Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Kej. 50:20
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Roma 8:28
Allah yang maha baik telah menciptakan manusia sebagai ciptaan yang sungguh amat baik, supaya bisa menerima yang terbaik. Begitu besar kebaikannya sehingga hal hal yang buruk sekalipun bisa diubah menjadi yang baik. Kejahatan bisa berbalim arah. Itulah yang terjadi dengan kehidupan Yusuf bin Yakob, yang mendapatkan julukan The Prince of Egypt.
Sejak masih bocah, ia sering dikucilkan oleh saudara saudara tirinya. Maklum, Yusuf begitu dimanjakan oleh ayahnya. Maklum saja karena ia lahir dari istri yang sangat dicintainya. Kelahiranya ke dalam dunia merupakan keajaiban ilahi. Tanda tanda itu memang mulai kelihatan sejak ia masih bocah. Selain suka bermain, ia juga suka bermimpi. Terkadang isi mimpi itu bisa membuat saudaranya iri hati. Tentu saja dua mimpi yang ia ceritakan di depan ayahnda dan seisi rumah bukan sembarang mimpi seperti orang yang doyan tidur. Kedua mimpi yang menjadi pertanda bahwa ia akan menjadi orang besar telah menyeretnya pada penderitaan demi penderitaan. Buntutnya adalah pelecehan, penyiksaan, penipuan dan usaha pembunuhan.
Gagal dari usaha pembunuhan, akhirnya Yusuf menjadi korban children traficking. Ia dijual menjadi budak belian tanpa mengetehaui nilai transaksinya. Sampai disini tidak ada satu patah kata keluhan yang muncul dari ucapan bibirnya. Sudah jatuh ketimpa tangga pula. Keluar dari kandang singa, masuk rumah tua yang penuh dengan ular berbisa. Lepas dari sumur mati, ia jatuh ditangan pedagang manusia. Kedua tempat itu ibarat terminal transit perjalanan hidup yang tidak mudah dijalani oleh remaja yang biasa dimanja.
Karena pertolongan Tuhan, prestasi kerja Yusuf benar benar mengagumkan majikannya. Dalam waktu singkat, Tuhan mempromosikannya dari jongos menjadi bos. Namun seiring dengan kenaikan tanggung jawab, ia harus menghadapi kejahatan firtnah dari istri majikan yang sangat kejam. Tiga belas tahun mendekam di penjara, ia masih tetap setia dan tidak tenggelam dalam kecewa. Singkat cerita, di dalam penjara ia dikecewakan oleh salah satu orang ditolongnya, namun Tuhan mengubahnya menjadi jembatan untuk promosi yang berikutnya. Ia berhasil menolong sang raja dan diangkat menjadi orang nomer dua. Luar biasa.
Selama kita bersama dengan penyertaan Tuhan yang maha kuasa, jangan pernah takut terhadap rekayasa manusia. Terkadang Tuhan menggunakan kesulitan dari musuh untuk membentuk karakter kita. Life must go on. Bukankan kebesaran seseorang diukur dari seberapa besar rintangan yang pernah ditaklukannya dalam hidup? Bukan dari jabatan, pangkat, kedudukan dan kekayaan.
Tidak heran jika Yusuf menjadi perdana menteri karena dia lulus menjalani fit and proper test yang langsung ditangani oleh Tuhan. Ada yang bilang kalau hidup dalam pencobaan dan disertai Allah itu jauh lebih baik dari pada tanpa pencobaan namun tidak bersama dengan Allah. Oleh karena itu ketika sedang dihadang oleh kesulitan dan berbagai pergumulan, jangan lari dari dari Allah dan mencari jalan pintas.
Jika ingin melihat kejahatan berubah menjadi kebaikan, persoalan menjadi berkat, rintangan menjadikesempatan, fitnah menjadi berkah, mendekatlah kepada Tuhan. Tuhan petnah berkata kalau ia dekat dengan mereka yanh hancur hatinya. Bukankah Tuhan turut bekerja sama dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi yang mengasihiNya? Selamat mencoba. (by. paulus w.p)