Derita Pengusaha Rumah Makan Di Kabupaten Nagekeo, Penghasilan Minim Pajak Mencekik


sergapntt.com [Nagekeo] -> pengusaha rumah makan di Kabupaten Nagekeo kini sedang gerah. Bagaimana tidak? Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nagekeo menetapkan wajib pajak seenak perut. Setiap pengusaha rumah makan diharuskan membayar pajak Rp. 10 – 75 juta per tahun. Padahal penghasilan mereka tak seberapa. Koq bisa?
Sore itu, (Senin,14/2/11) suasana di seputaran terminal Danga (Mbay) terasa sunyi tanpa penghuni. Di jalan protokol hanya terlihat beberapa kendaraan roda dua dan empat yang melintas. Sementara hampir di semua warung makan terlihat sepi pengunjung.
“Setiap hari beginilah pak kondisinya. Sepi pak! Kalau pun ramai itu hanya terjadi pada hari pasar,” ujar Roby Herlan, pemilik warung “Terus Jaya” saat menerima kunjungan Berita 7.
Tak seperti kota-kota pemekaran kebanyakan, Mbay saat ini masih tergolong sepi. Suasana desa masih sangat terasa di ibukota Kabupaten Nagekeo itu. Manusia yang hilir mudik di jalanan bisa dihitung dengan jari. Tentu saja ini berpengaruh pada usaha ekonomi kecil seperti warung makan dan lain-lain.
“Setiap hari paling hanya satu sampai lima orang yang datang berkunjung ke warung saya pak. Itu pun hanya sekali-sekali saja. Kebanyakan, sama sekali tidak ada pengunjung. Yah… tak apalah pak, yang penting bisa bertahan hidup,” ucap Roby, lirih.
Ironisnya, penghasilan yang didapat Roby tak sebanding dengan kewajiban pajak yang ia harus bayar. Untuk tahun 2010 ini, pengusaha asal Bandung itu diharuskan oleh Kepala Dinas (Kadis) Kebudayaan dan Pariwisata Nagekeo, Gaspar Jawa membayar pajak penghasilan sebesar Rp. 26 juta. Perhitungan pajaknya diambil 10 persen dari setiap porsi makanan.
“Kalau modal dan keuntungan kena pajak 10 persen, lebih baik kami tutup saja usaha ini. Selama ini kami bayar pajak 10 persen dari keuntungan. Tapi begitu Nagekeo mekar jadi kabupaten sendiri dan Dinas Pariwisata dipegang oleh pak Gaspar Jawa, kami disuruh bayar pajak 10 persen yang diambil dari modal dan keuntungan. Kalau begini sama dengan mau bikin mati kami…,” paparnya.
Selain 10 persen pajak porsi makanan, para pengusaha warung juga dikenakan iuran wajib, yakni Retribusi Pasar Rp. 1.620.00 per tahun, iuran kemanan untuk Pol PP Rp. 360.000 per tahun dan pajak reklame Rp. 25.920 per tahun.
“Kalau dulu pemerintah gunakan sistem jemput bola. Artinya, pajak dan iuran-iuran itu di tagih dan di ambil langsung dari warung-warung. Tapi sekarang kami yang harus mendatangi dinas untuk menyetor. Baru-baru ini para pengusaha warung, termasuk saya pernah dipanggil satu per satu ke dalam ruangan kerja Kadis. Disitu saya disuruh setor pajak sesuai angka yang telah ditetapkan oleh dinas. Saya protes! Karena saya protes, saya lalu ditanya bisanya setor berapa? Saya bingung! Koq pajak yang punya fondasi hukum tetap koq bisa pakai tawar menawar. Maksudnya apa ini,” papar Roby.
Untuk itu Roby meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo untuk mengkaji ulang ketetapan pajak yang dibebankan kepada para pengusaha warung makan. Sebab penghasilan rumah makan tidak sama dengan yang didapat oleh restoran maupun hotel. Setidaknya pajak diseimbangkan dengan penghasilan yang didapat per hari.
“Jangan jadikan kami sapi perahan. Itu kami tidak mau. Kalau begini sama dengan pemerintah ditopang oleh pengusaha. Bukan pengusaha ditopang oleh pemerintah. Kami tidak akan bayar pajak. Lebih baik tutup usaha, daripada ladeni permintaan yang tidak masuk akal itu. Karena yang saya tahu, pajak ditarik 10 persen dari keuntungan usaha, bukan dari modal dan keuntungan,” timpalnya.
Hal yang sama juga disampaikan Mas Agus, pemilik rumah makan “Handayani” yang terletak di Kecamatan Boawae, Nagekeo. Menurut Agus, dagangan baksonya setiap bulan dikenakan pajak sebesar Rp. 500 ribu. Sedangkan warung makannya dikenakan pajak sebesar Rp. 750 ribu per bulan. Untuk itu setahun Agus harus menyiapkan uang sebesar Rp. 27 juta.
“Itu belum termasuk uang keamanan untuk Pol PP Rp. 480.000 per tahun dan lain-lain sebagainya. Berat pak. Kami tidak mungkin bisa bayar. Karena keuntungan yang kami dapat per tahun tidak sebanyak itu. Jangankan 27 juta, setengahnya saja belum tentu kami dapat pak,” sergahnya.
Tak ada yang tahu apa yang memotivasi Kadis Gaspar Jawa hingga ia tega menetapkan pajak melampaui kemampuan pengusaha warung makan, hotel dan restourant. Padahal Undang-Undang (UU) No 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi yang dijabarkan melalui Peraturan Daerah (Perda) No 5 Tahun 2010 tentang pajak hotel dan restourant mengamanatkan pajak di pungut berdasarkan omset penjualan. Artinya, pajak dikenakan apabila ada keuntungan setelah terjadi transaksi antara subyek pajak dan obyek pajak.
“Kalau inikan tidak pak. Pokoknya dia (Gaspar Jawa-Red) tetapkan sesuka hati dia. Lihat saja; dia mengharuskan Hotel Sinar Kasih membayar pajak sebesar Rp. 75 juta per tahun, pedagang bakso Rp. 10 juta per tahun, pedagang gorengan Rp. 10 juta per tahun, pedagang Mie Kuah Rp. 10 juta per tahun, warung makan “Nusantara” Rp. 38 juta per tahun. Masih banyak lagi. Tidak masuk akal. Seharusnyakan dia survei dulu, kaji dulu, baru tetapkan berapa kewajiban pajak yang harus disetor oleh pengusaha. Penetapan pajak juga mesti dipilah, jangan pukul rata. Warung makan seperti apa, usaha pedagang kaki lima seperti pedagang bakso dan gorengan seperti apa, hotel dan restourant seperti apa. Kami mau hidup bagaimana pak, kalau penghasilan minim tapi pajak mencekik seperti ini,” ujar Dula, si Padagang Bakso. +++sherif+++

Kasus Selingkuh Anggota DPRD NTT Tidak Diproses


sergapntt.com [LABUAN BAJO] – Penyelidikan kasus selingkuh dengan tertuduh Anggota DPRD NTT asal Partai Golkar, Charles Lalung yang keperkog sedang bermesum ria bersama istri orang bernama Cesilia Yeni Kabut di kamar No.11, Hotel Gardena Labuan Bajo pada (12/2/2011) terkesan tidak dirpses oleh polisi maupun Badan Kehormatan (BK) DPRD NTT. Padahal kasus yang melibatkan istri Rizaldus Magul tersebut telah ditangani Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat dan telah diketahui BK DPRD NTT sejak beberapa bulan lalu. Polisi berdalih, penyidik harus melengkapi sejumlah materi sesuai petunjuk agar dapat memanggil dan memeriksa Charles Lalung.

Kapolres Mabar, AKBP H.Samsuri hanya menjelaskan, pihaknya saat ini masih berusaha melengkapi sejumlah materi dan dalam Berita Acara Penyelidikan (BAP) sebagaimana petunjuk Mabes.
“Kita masih lengkapi sejumlah petunjuk seperti yang diarahkan Mabes Polri,”katanya.
Sayangnya, petunjuk seperti apa yang diarahkan Mabes Polri tidak dijelaskan secara rinci oleh Samsuri. Dia beralasan ini untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut sehingga dirinya tidak bisa membeberkan satu-persatu tentang petunjuk dimaksud.
Kasus selingkuh tersebut terbongkar setelah Rizaldus Magul mendapati istrinya sedang berduaan di dalam kamar bersama Charles Lalung. Ironisnya, proses kasus ini boleh dibilang jalan di tempat. Padahal sejumlah saksi sudah dimintai keterangan, termasuk pemilik Hotel Gardena.
Berhembus kabar kalau polisi takut memeriksa Charles Lalung. Selain sedang memangku jabatan sebagai Anggota Dewan, Charles Lalung juga digosipkan punya baking di Mabes Polri. Itulah sebabnya, statusnya masih aman. Jangankan tersangka, terperiksa pun belum menyentuh ‘serdadu’ Partai Golkar tersebut.
Tidak hanya polisi, BK DPRD NTT juga adem-adem saja. Padahal dalam kunjungan kerja ke Labuan Bajo dalam kaitan dengan kegiatan pelatihan dan bimbingan, BK yang dipimpin Wilem Nope dikhabarkan sempat menjambangi Polres Mabar maupun Hotel Gardena untuk menggali informasi terkait kasus yang dilakukan Charles Lalung ini. Toh hasilnya tidak kelihatan. Kalayak NTT memprediksi kasus ini akan hilang. Beda jika kasus yang dibuat oleh kaum marginal, pasti langsung diciduk, disidangkan lalu dipenjarakan. Hm,,,,!
Sementara itu Charles Lalung membantah telah berselingkuh dengan Cesilia Yeni Kabut sebagaimana diadukan Rizaldus Magul, suami Yeni ke Polres Manggarai Barat.
Pengakuan Charles Lalung ini disampaikan saat diperiksa BK DPRD NTT, kemarin. Ketua BK DPRD NTT, Wilem Nope yang ditemui Senin (7/3/2011), mengatakan, pihaknya telah meminta klarifikasi kepada Charles soal dugaan perselingkuhan itu. Kepada BK, kata Nope, Charles membatah telah berselingkuh dengan istri Rizaldus Magul tersebut. Saat digerebek, Charles hanya duduk bercerita, tidak melakukan perbuatan tercela sebagaimana dilaporkan kepada polisi.
Soal benar atau tidak, kata Nope, itu  haknya Charles. BK tetap menghormati hasil klarifikasi itu. Namun BK akan mengundang Rizaldus Magul, suami dari Yeni Kabut. Bahkan Yeni Kabut sendiri untuk didengar keterangan sehingga seimbang. BK juga akan koordinasi dengan pihak kepolisian  Manggarai Barat soal kebenaran kasus itu.
“Kami ini polisi internal  DPRD NTT. Tapi perlu koordinasi dengan kepolisian yang menangani kasus itu agar jelas persoalannya. Hasil pemeriksaan oleh BK hanya untuk kepentingan kode etik dan tata tertib DPRD NTT, sedangkan pemeriksaan di kepolisian untuk kepentingan proses hukum,” kata Nope. (by. hans/kor/pk)

Kambamba “Bau Harum” Bumi Marapu


sergapntt.com – Banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat. Ketika ada pihak yang merasa seolah menjadi korban era globalisasi  yang penuh dinamika dan tantangan, justru ada pihak yang menilai tantangan hidup sebagi pelecut untuk lebih memacu kreativitas dan inovasi.
Globalisasi memang merasuki hampir setiap sendi kehidupan anak manusia. Sama halnya di Kabupaten Sumba Timur. Gencarnya peluncuran dan pemasaran berbagai produk makanan siap saji alias instant berdampak terpuruknya harga jual makanan lokal. Padahal menu makanan lokal lebih bernilai gizi dam memiliki cita rasa unik. Jika saja ada pihak yang mau melakukan survey, mungkin akan tercengang ketika menghadapi fakta. Kaum muda Pulau Sumba mungkin hanya sebatas mendengar cerita tentang uniknya cita rasa “Kambamba’ sebagai penganan khas Sumba Timur, tapi tidak pernah merasakan atau mencicipi kenikmatan tersebut.
“Beragam penganan lokal Sumba Timur, selain bahannya mudah didapat, harganya pun sangat terjangkau. Bahkan, pasokannya gizinya, cita rasanya tidak kalah bersaing,  bisa menggugah selera, tidak kalah dengan makanan masa kini,” ujar Hendrick Dengi, penggagas Acara Demo Masak dengan Bahan dasar Tradisional di Pelataran Radio Max FM, Kallu Waingapu belum lama ini.
Kepedulian berbagai kalangan untuk melestarikan budaya tradisonal bisa dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya, dengan melestarikan makanan khas daerah masing-masing.  Berbagai jenis makanan masa kini yang serba instant selalu dibayangi efek samping negatif. Bahkan cepat atau lambat makanan instant itu berakibat terpuruknya kesehatan konsumen.
Demo Masak di Sumba Timur ini mendapat respon masyarakat. Tak terkecuali Wakil Bupati Kabupaten Sumba Timur, Drs. Gidion Mbiliyora, M,Si dan Kepala Badan Bimas dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Timur,  Ir. Ida Bagus Putu Punia. Bahkan sajian khas Sumba Timur itu nampak sangat dinikmati Mbiliyora ketika dipersilakan mencicipi makanan yang disajikan Team  Flowers, STIE Kriswina, Tulip dan PKK Kabupaten Sumba Timur.
“ Pemerintah memberikan aspresiasi positif terhadap kegiatan ini, semoga langkah positif ini akan terus dipertahankan. Pemerintah akan mendukung sepenuhnya sesuai dengan kemapuan yang dimiliki. Saya sepenuhnya yakin bahwa sebenarnya tanah kita tidak kekurangan bahan-bahan alami yang memiliki kandungan gizi yang memadai, tinggal bagaimana kita melakukan kreasi dan inovasi baik dalam pola pengolahannya  dan penyajiannya tanpa menepikan nilai unik cita rasanya. Terus terang, saya dulu dan hingga kini masih sangat mengemari Kambamba dan yakin saya banyak penganan khas lainnya yang juga mampu menggugah selera,” ucap Mbiliyora.
Hal yang sama juga diakui Putu Punia  ketika dimintai komentarnya usai mencicipi ‘Kanguta Kakalak’ dan  ‘Kanguta Kayaka’ di meja team STIE Kriswina.  
Animo positif masyarakat yang membludak hingga ke jalan raya, dan undangan yang hadir tampak menjanjikan secercah harapan akan lestarinya “Kambamba”, “Kanguta Kayaka”, “Kanguta Kakalak”, “Kanguta Mbola Manandang”, “Kanguta Watar” dan “Pastel Ubi” olahan Team  Flowers, STIE Kriswina, Tulip dan PKK Kabupaten Sumba Timur. Paling tidak makanan khas ini kedepan diharapkan mampu mengharumkan bumi marapu Sumba Timur.

Demo Masak kali ini merupakan wujud nyata kepedulian akan kelestarian makanan dan penganan khas Sumba Timur serta ikut memeriahkan HUT Radio Max FM Ke- 2 dan HUT Ke- 16 Ranesi (Radio Nederland Siaran Indonesia) ke -16. (by. stw)

Membangunkan Raksasa Yang Tertidur Pulas


sergapntt.com – Berbicara potensi pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ingatan orang pasti tertuju kepada Pulau Komodo dengan satwa endemiknya biawak komodo (Varanus komodoensis Ouwens). Reptilia raksasa yang dalam bahasa setempat disebut ora ini memang sudah jadi ikon pariwisata Manggarai Barat, bahkan NTT secara umum. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila ada yang mengklaim bahwa perjalanan wisata ke NTT belum lengkap jika tidak menjejak pulau tandus yang dikelilingi bentangan laut biru berarus garang. Begitu langka dan melengendanya biawak komodo itu sehingga satwa yang hanya hidup bebas di hamparan padang sabana nan gersang Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Gilimotang ini mendapat julukan mentereng Warisan Alam Dunia yang wajib dilestarikan.

Meskipun hampir seluruh pengelola kebun binatang ternama di belahan dunia berlomba-lomba melengkapi koleksinya dengan raksasa yang dinyakini hidup sejak zaman pleistosin ini sebagai magnet untuk mendongkrak angka kunjungan ke kebun binatangnya, namun eksotisme komodo yang hidup di habitat alaminya ini jelas tak mungkin tertandingi. Apabila wisatawan beruntung, mereka akan bisa melihat langsung betapa agresifnya satwa ini menangkap mangsanya seperti rusa, babi hutan, kerbau dan kuda liar, mecabik-cabik daging dengan gigi-giginya yang setajam belati lantas menyantapnya hingga tandas. Bukan hanya kegarangan yang bisa direkam wisatawan dari sosok satwa yang seringkali diidentikkan dengan naga yang hidup dalam mitologi-mitologi kuno. Gerakan komodo yang ritmis saat menjelajah hamparan padang sabana dan hutan juga menjanjikan daya pukau yang luar biasa.
Ada kesan denyut kehidupan pariwisata Manggarai Barat sangat tergantung dari keberadaan satwa komodo ini. Padahal, potensi wisata yang dimiliki daerah yang baru sekitar satu setengah tahun ditetapkan sebagai kabupaten tersendiri (pemekaran Kabupaten Manggarai-red) ini sangat luar biasa. Berdasarkan data yang dipaparkan Kepala Bappeda Manggarai Barat Rafael Harhad kepada rombongan pengusaha travel agent yang dipimpin Commercial Ditertor Germania Trisila (GT) Air (maskapai penerbangan yang melayani rute Denpasar-Labuan Bajo pp-red) Jhon Lantang, kabupaten yang berlokasi di ujung barat Pulau Flores ini memiliki puluhan objek wisata dan atraksi wisata menarik. Sayang, keterbatasan kemampuan keuangan daerah memaksa objek dan atraksi wisata itu masih “menggigil kedinginan” menanti kehadiran wisatawan. Padahal, dengan sedikit saja polesan “gincu pariwisata,” potensi-potensi yang ada itu sejatinya sangat layak dijual kepada wisatawan mancanegara maupun domestik. Realitasnya memang seperti itu. Objek dan atraksi wisata itu belum sepenuhnya bisa dijual kepada turis.
“Objek wisata yang secara rutin dikunjungi wisatawan baru sebatas Pulau Komodo dan Pulau Rinca dengan wisata komodonya,” kata Rafael Harhad bernada pasrah.
Puluhan objek dan atraksi wisata itu tersebar merata di empat kecamatan yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. Perbendaharaan objek wisata terkaya berada di Kecamatan Komodo yang juga merupakan jantung Manggarai Barat dengan pusat kotanya di Labuan Bajo. Mayoritas dari objek wisata itu mengandalkan panorama alam yang eksotik, bentang laut dengan hamparan pasir putih yang bersih, keindahan alam bawah laut yang memukau dengan spesies terumbu karang dan ikan hiasnya, goa alam, air terjun hingga danau berkadar belereng.
Barisan panjang aset wisata Manggarai Barat itu makin disempurnakan dengan keberadaan fosil-fosil kayu yang membatu yang bisa ditemukan di sejumlah desa di Kecamatan Warloka serta bangunan benteng-benteng perang yang bisa dijumpai di sejumlah desa di Kecamatan Lembor. Manggarai Barat juga sangat tepat dikunjungi oleh para wisatawan pecinta burung.
“Di sini bisa dijumpai ratusan spesies burung di mana beberapa jenis di antaranya bersifat endemik atau hanya bisa ditemukan di Pulau Flores saja,” ucap Harhad berpromosi.
Dari deretan panjang potensi wisata itu, kata dia, ternyata hanya segelintir saja yang sudah terekspos ke permukaan seperti Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Juga Pantai Merah dengan bentang pantainya yang berpasir merah dan taman lautnya serta pantai Lasa dan Pulau Bidadari yang juga mengandalkan keindahan taman lautnya. Sementara keberadaan objek-objek wisata lainnya nyaris tak terdengar alias tidak banyak dijamah oleh wisatawan mancanegara maupun domestik. Dengan kata lain, Pemkab Manggarai Barat dan masyarakat setempat belum mampu menangguk berkah pariwisata itu secara optimal. Pendek kata, gemerincing dolar yang dibelanjakan wisatawan di kabupaten yang baru menata pusat pemerintahannya ini memang sangat jauh dari kesan riuh. Bahkan, bisa disebut sunyi senyap.
Ini tantangan besar bagi Pemkab Manggarai Barat untuk memperkenalkan objek-objek wisata itu kepada para pelaku pariwisata seperti pengusaha travel agent dan guide yang masih mau menyempatkan diri ke sini untuk membawa tamunya.
“Kami memang menyimpan mimpi suatu saat Manggarai Barat bisa seperti Bali. Paling tidak, wisatawan mancanegara jadi tahu bahwa selain Bali masih ada sorga lain di Indonesia. Dan, sorga itu adalah Manggarai Barat,” imbuh Harhad dengan tatapan menerawang.
Menjelajah Perut Bumi
Penjelasan Kepala Bappeda Manggarai Barat Rafael Harhad itu jelas bukan propaganda pariwisata bohong belaka. Redaksi FTB yang ikut bergabung ke dalam rombongan Educational Tour ke Labuan Bajo yang difasilitasi pihak GT Air itu sempat terbengong-bengong menikmati keindahan perut bumi Batu Cermin. Goa alam yang jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari pusat ibu kota Labuan Bajo ini ternyata menyimpan keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di dalam goa sepanjang sekitar 200 meter yang memiliki banyak lorong itu, dipenuhi dengan aneka rupa stalagtit dan stalagmit yang masih terpelihara dengan baik.
Daya pukau lain dari goa alam ini, di sejumlah bagian goa menempel fosil terumbu karang dan satwa penyu yang telah membatu yang menandakan bahwa goa ini merupakan bagian palung laut pada zaman lampau. Sedangkan penamaan Batu Cermin itu sendiri, barangkali diambil dari keberadaan sejumlah stalaktit dan staglamit yang memancarkan sinar berkilauan bak kristal jika tertimpa lampu senter.
“Sungguh indah sekali. Karena banyak batu-batuan di sini memantulkan sinar berkilauan, maka goa ini dinamai Batu Cermin. Penamaan yang sangat praktis,” ujar pemandu wisata Gabriel Bambo yang memandu kami menjelajah perut bumi itu.
Ternyata, kecantikan Batu Cermin yang sangat luar biasa itu belum mendatangkan kontribusi apa-apa bagi Pemkab Manggarai Barat maupun warga di sekitarnya. Pasalnya, pemerintah setempat belum memungut retribusi alias objek wisata ini masih bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh para wisatawan. Andai saja goa seperti ini ada di Bali, berapa dolar yang akan mengalir deras ke kantong pemkab setiap harinya.
“Seumur-umur, saya belum pernah melihat goa alam seindah ini,” kata salah seorang pengusaha travel agent dari Bali yang ikut rombongan Educational Tour itu. Sebuah pernyataan yang murni lahir dari rasa kekaguman yang sangat.
Ternyata, Batu Cermin bukan satu-satunya goa alam mempesona yang dimiliki Manggarai Barat. Di luar itu, masih ada goa alam Batu Susun, Liang Dara dan Liang Rodak yang semuanya berlokasi di Kecamatan Komodo. Serupa dengan Batu Cermin, pesona keempat goa alam itu dijamin mampu menaut hati para wisatawan yang maniak menjelajah kedalaman perut bumi.
“Karena keterbatasan struktur-infrastruktur, khususnya akses jalan menuju objek wisata itu, potensi wisata yang kami miliki seolah-olah masih tertidur pulas. Jangankan dikunjungi wisatawan, nama objek itu saja belum sampai ke telinga mereka. Manggarai Barat memang bukan Bali yang begitu pesat perkembangan sektor kepariwisataannya,” kata Gabriel Bambo dengan nada getir.
Salah satu potensi wisata Manggarai Barat yang juga layak dikedepankan adalah Danau Sano Nggoang yang berlokasi di Kecamatan Sano Nggoang. Danau yang tercipta akibat letusan gunung berapi ini (danau vulkanik-red) memiliki kadar belerang yang tinggi. Di sini, juga terdapat sumber air panas yang menurut versi Kepala Bappeda Rafael Harhad suhunya mencapai lebih dari 60 derajat Celcius. Makanya, masyarakat setempat biasa memanfaatkan sumber air itu merebus telur.
Di samping memiliki panorama alam yang sangat indah, di tengah danau ini juga menyembul daratan yang tidak kalah indahnya dengan Pulau Samosir di Danau Toba. Kelebihan lainnya, kawasan danau ini juga dihuni berbagai jenis burung di mana beberapa di antaranya merupakan jenis burung migran dari Benua Australia. Sayang, perlu perjuangan berat bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Dana Sano Nggoang itu. Jalan akses menuju danau itu boleh dibilang sangat jauh dari kesan layak karena tidak bisa dijelajahi kendaraan umum biasa. “Kami memang sangat miskin infrastruktur. Ini kendala terberat kami dalam membangun sektor kepariwisataan di sini,” kata Rafael Harhad jujur. (by. kons)

Mekarkan Kecamatan ATU!


sergapntt.com [KALABAHI] — Merasa pelayanan pemerintahan kurang maksimal, tokoh masyarakat Mainang, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU), meminta agar pemerintah segera memekarkan kecamatan di wilayah itu.
Permintaan ini dikemukakan tokoh masyarakat  Mainang masing-masing, Pdt Lazarus Fanleni, Stefanus Maata, Nikolaus Nono, Mateus Lakama dan Kepala Desa Welai Selatan Imanuel Manilehi dalam dialog dengan Calon Bupati Alor dari Partai Golkar, Drs. Immanuel E. Blegur, M.Si di Mainang, dua pekan lalu.
Menurut Pdt. Fanleni, empat desa di daerah Mainang yakni Desa Manetwati, Desa Tominuku, Desa Welai Selatan dan Desa Fuisama sudah pantas berdiri sendiri sebagai sebuah kecamatan. ”Kalau Pureman yang hanya empat desa saja bisa jadi kecamatan, mengapa empat desa di Mainang tidak bisa jadi kecamatan,” tandas Fanleni yang diamini Stefanus Maata, Nikolaus Nono, Mateus Lakama dan Kepala Desa Welai Selatan Imanuel Manilehi.
Fanleni menegaskan, daerah potensial seperti Mainang penghasil wortel, kopi, Vanili, lemon dan tanaman holtkultural dan palawija lainnya harus memiliki wilayah pemerintahan kecamatan tersendiri. ”Kami sama sekali tidak punya maksud untuk memisahkan diri dengan masyarakat ATU lainnya, tetapi untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, maka sudah saatnya empat desa di Mainang dapat dimekarkan menjadi kecamatan baru. 
Dia mengaku daerah ini belum disentuh PLTS, menara telkomsel sama seperti kecamatan lainnya di Kabupaten Alor karena tidak ada yang memperjuangkannya. Kalau punya kecamatan sendiri kan sudah ada kemudahan untuk memperjuangkannya. Dalam kaitannya dengan pemilihan kepala daerah secara langsung di Kabupaten Alor tahun ini, demikian Fanleni,  daerah ini membutuhkan pemimpin yang memiliki hati nurani seperti Ans Takalapeta. ”Persyaratan ini hanya ada pada Pak Imma. Alor butuh pemimpin yang tidak menggunakan jabatan untuk mengumpulkan uang. Kalau Pak Imma sudah hidup enak di Jakarta tetapi kemudian hendak pulang kampung, maka yang Imma cari bukan uang tetapi Imma pulang kampung untuk membangun kampung,” kata Fanleni.
Menurut Fanleni, tantangan daerah ini di tahun-tahun mendatang amat sangat berat. ”Karena itu kita membutuhkan sosok Imma Blegur yang memiliki pengalaman mendatangkan uang membangun daerah selama menjadi anggota DPR RI lima tahun lalu,” katanya.
I ajuga mengingatkan Imma agar kalau dapat kesempatan menjadi pemimpin maka jangan lupa masyarakat Mainang dan tolong masyarakat Mainang untuk mendekatkan pelayanan. ”Kami berdoa mendukung Bapa Imma,” ujarnya.  Alasan memekarkan diri dari induk semangnya di ATU ini lebih disebabkan karena masyarakat empat desa di Mainang ini bertarung nyawa menuju Ibukota Kecamatan ATU di Mebung hanya untuk pelayanan KTP dan urusan kependudukan lainnya.  
Kepala Desa Welai Selatan, Imanuel Manilehi mengatakan, kalau kondisi empat desa di Mainang termasuk di Welai Selatan seperti begini maka ini juga bukti hidup kalau belum ada yang memberikan perhatian. 
Immanuel E. Blegur, pada kesempatan itu mengaku mengunjungi Maninang karena mendengar kabar bahwa ada masyarakat yang menderita sakit. Selain melayani masyarakat, kata Imma, kehadirannya di Mainang juga bermaksud memperkenalkan diri kepada masyarakat sekaligus meminta nasehat orang-orang tua di wilayah ini atas kesiapannya mengikuti pemilihan kepala daerah di Kabupaten Alor tahun ini. ”Saya harus datang kasih tahu bapa, mama, pemuda dan masyarakat umum di Mainang karena ibarat berburuh, yang mengetahui tempat babi berlindung dan rusa melintas itu hanya diketahui oleh masyarakat di wilayah ini. Karena itu masyarakat di wilayah ini harus menyiapkan busur anak panah yang bagus, juga anjing yang galak sehingga mendapatkan hasil perburuhan yang maksimal,” katanya beranalogi.
Ia mengatakan, kalau masyarakat di Mainang yang tahu tempat tidur babi dan tempat rusa melintas maka ia juga tahu tempat-tempat rusa dan babi di Jakarta. ”Kalau mau bangun jalan dan jembatan itu saya sudah tahu harus minta dimana, mau bangun sekolah, dermaga dan Puskesmas itu saya sudah tahu harus minta dimana,” katanya.
Ia menambahkan, ia sudah siap memikul salib pelayanan ini tergantung masyarakat di Mainang rela memberikan salib untuk dipikulnya atau tidak.  Menurut Imma, karena DAU itu sebagian besar digunakan untuk membayar gaji pegawai maka ia bersedia memikul salib untuk mencari sumber-sumber dana di luar DAU, baik dari dalam maupun dari luar negeri untuk membangun masyarakat Alor yang lebih maju dari saat ini.  (by. moris weni/rudy tokan)