Koreng Mewabah di Kepala Burung


sergapntt.com [ALOR] – Masyarakat di Kabupaten Kenari, Alor, khususnya di wilayah Kepala Burung, Kecamatan Kabola, sedang dirundung resah. Pasalnya. Penyakit koreng sudah mewabah di hampir seluruh wilayah itu. Dinas Kesehatan Kabupaten Alor dikabarkan sudah tak mampu mengatasi penyakit kulit yang satu ini. 
Beberapa wilayah di Kepala Burung, Kecamatan Kabola seperti Tabolang, Lawahing, Bu’uta, Kopidil, Alila Selatan terserang wabah penyakit kulit (koreng). Sudah hampir satu tahun  warga di wilayah itu terserang penyakit kulit yang paling gatal ini.
Sejumlah tokoh masyarakat Kepala Burung seperti Agus Awola, Immanuel Hanamouw, Nahum Awola, Markus Tang, Lukas Awola, Andreas A. Tallo dan Amos Akoil kepada Vista pekan lalu, di Kopidil membenarkan bahwa sudah hampir satu tahun warga masyarakat di wilaya kepala burung seperti  Tabolang, Lawahing, Bu’uta, Kopidil, Alila Selatan terserang penyakit kulit atau koreng.  
Menurut Agus Awola, masyarakat semua jenis usia, baik tua-muda bahkan yang masih balita sekalipun juga terserang penyakit koreng. ”Kalau adik tidak percaya, lihat saja itu anak-anak dan orang-orang tua yang datang,”   kata Agus Awola sambil mengarahkan telunjuk pada rombongan masyarakat yang antri mengikuti pengobatan massal secara gratis yang difasilitasi Calon Bupati Alor dari Partai Golkar, Drs. Immanuel E. Blegur, Msi, pekan silam.  
Dia mengaku, penyakit koreng yang menyerang warga ini sudah hampir berlangsung selama satu tahun. Sebenarnya, demikian Agus Awola,  penyakit ini tidak separah seperti yang terjadi saat ini, tetapi karena instansi teknis yang menangani wabah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Alor lamban mengambil tindakan medis sehingga penyakit ini menjadi parah seperti yang ada saat ini.  
Jenis koreng yang menyerang warga Kepala Burung, kata Agus Awola yang diamini warga lainnya, antara lain koreng dengan biji halus dan ada yang biji besar dan bernanak. Dinas Kesehatan Alor, menurut Agus Awola, sudah terlalu telat mengambil tindakan medis setelah wabah penyakit koreng ini menyerang warga beberapa bulan. ”Dinas Kesehatan baru melakukan pengobatan Februari baru-baru ini. Sementara koreng sudah menyerang warga pertengahan tahun 2007. Bagaimana mau basmi. Ini karena lambat atasi sehingga koreng mewabah. Penyakit sudah parah baru datang berobat,” kata Agus Awola.
Tokoh masyarakat Kepala Burung lainnya, Markus Tang, menambahkan, mewabahnya penyakit koreng hampir ke semua tingkatan usia masyarakat di Kepala Burung ini disebabkan karena kelalaian Puskesmas Lawahing. Artinya, sudah tahu bahwa ada penyakit koreng di wilayah pelayanananya tetapi tidak segera memberikan laporan kepada Dinas Kesehatan untuk diambil tindakan medis.  Sejak pertengahan 2007 hingga sekarang penyakit koreng ini masih menyerang warga, tidak kenal usia, baik balita hingga orang dewasa. Dinas Kesehatan sudah melakukan pengobatan tetapi paling bertahan hanya satu hingga dua hari. Setelah itu kambuh lagi.  
Menurutnya, penyakit koreng ini menyerang hampir di seluruh bagian tubuh terutama di sela-sela jari kaki dan jari tangan dan bagian tubuh tertutup lainnya.  Bahkan, bayi yang baru lahir sekalipun terserang koreng. ”Kasihan sekali kami warga masyarakat di Kepala Burung ini,” katanya.  Menurutnya, ada warga masyarakat yang begitu bangun pagi sela-sela jari kaki dan tangan sudah penuh dengan biji koreng bernanak.  
Bakal calon Bupati Alor periode 2009-2014 dari Partai Golkar, Immanuel E. Blegur pada kesempatan pengobatan gratis itu mengatakan, salah satu tujuan dirinya mengunjungi wilayah kepala burung termasuk Kopidil seperti saat ini karena mendengar laporan bahwa warga masyarakat di wilayah ini terserang wabah koreng dan penyakit lainnya pada musim penghujan seperti ini.  Maksud lain dari kunjungan di Kopidil itu antara lain meminta masukan, nasehat dari orang-orang tua dan komponen masyarakat strategis lainnya untuk dijadikan landasan penyusunan visi-misi sebagai salah satu bakal calon bupati Alor.  
Dengan mengunjungi daerah pedalaman seperti ini, pihaknya bisa mengidentifikasi masalah apa yang paling sering terjadi dan dirasakan masyarakat. Dengan begitu, jika kelak terpilih, maka yang ada dalam benaknya itu hanyalah kesulitan yang dihadapi masyarakat di daerah pedalaman begitu ia ke Jakarta.  ”Saya bertekad mencapai semua desa di Alor sehingga jika Tuhan perkenankan saya memimpin Alor maka yang ada dalam benak saya itu hanyalah kesulitan dan penderitaan rakyat yang ada di desa-desa,” katanya.  
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Alor, Drs. Nus Turwewi ketika dikonfirmasi melalui ponselnya mengaku, sudah melakukan penanganan terhadap jenis penyakit kulit yang menyerang warga di beberapa wilayah di Kepala Burung. Menurut Turwewi, penyebab utama terjadi wabah penyakit kulit itu karena kebiasaan masyarakat yang mandi secara bebas di salah satu sungai yang dari sisi medis tidak layak.  Jadi, ”Sama saja kita berobat hari ini tetapi kemudian mereka mandi di sungai itu lagi ya … nanti kena koreng lagi,” katanya.
Menanggapi mewabahnya penyakit koreng di beberapa wilayah Alor itu, seorang tokoh pemuda Alor keturunan China,  Stanly Goandis mengaku sangat menyayangkan kinerja Dinas Kesehatan Alor yang lamban mengatasi penyakit koreng tersebut. ”Dinas Kesehatan itu kan difasilitasi dengan berbagai sarana kesehatan. Misalnya ambulans yang dilengkapi dengan peralatan medis tetapi kerjanya hanya taputar di Kota Kalabahi. Akibatnya banyak warga terserang penyakit,”  tandas Goandis. Dia mengaku ibah dengan kondisi kesehatan yang dialami sebagian warga di daerah ini karena dalam waktu bersamaan mereka terserang wabah tetapi mobil-mobil ambulans yang ada Dinas Kesehatan mondar-mandir di Kota layaknya mobil pribadi staf Dinkes.  (by. rudy tokan)

Kisah Tragis Gadis-Gadis Belia di Rumah Bordil


sergapntt.com [Himalaya] -> Setiap tahun, ribuan gadis belia dijual ke dalam jaringan pelacuran di kota-kota besar di seluruh dunia।Gadis 13 tahun itu, Laksmi, hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang dunia di luar gubuk keluarganya di desa Pegunungan Himalaya. Dan ketika musim muson merampas sedikit harta milik keluarganya, Lakshmi menyambar kesempatan pertama untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota agar dia dapat mengirim uang ke rumah. Dia tak tahu kalau ayah tirinya ternyata telah menjualnya kepada dunia pelacuran. Lakshmi terdampar di sebuah bordil jauh melintasi perbatasan, di daerah kumuh Kalkutta, disekap, dipukuli, dibiarkan kelaparan, dibius, diperkosa, “koyak dan berlumur darah…

Saat seorang anak lelaki, yang bertugas mengurusi keperluan para PSK serta pelanggannya, mulai mengajari Lakshmi membaca, si gadis merasa bagai hidup kembali, mengingat kembali seperti apa rasanya menjadi anak terpandai di kelas. Dan perlahan-lahan Lakhsmi berhasil bersahabat dengan gadis-gadis lain di situ, yang membuatnya dapat tetap bertahan di dalam dunia menyeramkan ini.
Lantas tibalah hari itu, hari di mana dia harus mengambil keputusan—akankah ia mengorbankan segalanya untuk mendapatkan kembali hidupnya?

***

“Sangat mengena…mengharukan. Penulis berhasil menyelaraskan kerasnya kehidupan di sebuah bordil dengan persahabatan yang mengharukan di antara para penghuninya.”
–Publishers Weekly
“Sebuah rekaman tak terlupakan tentang perbudakan seks sebagaimana adanya saat ini.”
–Booklist
“Kepada para pembacanya, yang hidup tenang nyaman dan terlindung dalam payung hukum, McCormick membukakan sebuah jendela yang menyajikan pemandangan pada dunia yang keras dan kejam—dunia yang kebanyakan orang memilih untuk menutup mata terhadap keberadaannya.”
–Kirkus Reviews
“Mengharukan…Riset yang dilakukan McCormick untuk novel ini termasuk mewawancarai wanita-wanita di Nepal dan India. Kedalaman detail dalam penuturan McCormick membuat semua karakter tokoh dalam bukunya begitu hidup, terpercaya, dan penderitaan mereka terlukis dengan jelas. Buku yang penting ini ditulis untuk menghormati wanita-wanita ini.”
–School Library Journal (*)

2 Pria Srilanka Kepergok Booking Pelacur



Polisi tak henti-hentinya merazia lokalisasi Dolly, Surabaya, Jawa Timur. Setelah Selasa dinihari lalu menggelar razia, jajaran Polres Surabaya Selatan dan Polsek Sawahan kembali merazia lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini.
Dalam razia kali ini, polisi lebih berani dengan merazia para pelacur dan pria hidung belang. Bila sebelumnya hanya merazia pengunjung kafe dan karaoke, kali ini polisi berani masuk wisma dan memeriksa identitas para pelacur.
Razia yang dilakukan Polres Surabaya Selatan, kali ini berhasil mengamankan 28 pelacur dan 24 pria hidung belang. Dua di antara pria hidung belang diketahui warga Negara Srilanka.
Dari identitasnya kedua WNA asal Srilanka tersebut bernama Thudawe Hewage Ananda,34, dan Ruvinath Priyo Darashana,36. Kedua WNA yang sama-sama berprofesi sebagai pelaut ini diamankan karena tak membawa identitas.
“Kedua WNA asal Srilanka itu kita amankan karena tidak membawa identitas lengkap seperti paspor dan visa,” ujar Kasat Reskrim Polres Surabaya Selatan AKP Leonard Sinambela, di Mapolres, Kamis (18/3).
Leonard mengungkapkan bahwa saat dirazia, kedua WNA tersebut sedang berada di dalam wisma bersama pelacur. Saat polisi datang, kedua WNA ini sedang memilih pelacur yang hendak diboking.
“Tapi belum sempat boking, kedua WNA tersebut langsung kita periksa identitasnya. Kedua WNA ini memang pelaut dan kedatangannya ke lokalisasi Dolly karena kapalnya sandar di pelabuhan Tanjung Perak,” terang Leonard.
Karena kapal sandar, maka kedua WNA ini memilih bersenang-senang dengan pelacur di lokalisasi Dolly. Namun sial, belum sempat ngeseks, sudah kejaring polisi. Tapi kedua WNA ini akhirnya dibebaskan setelah Anak Buah Kapal (ABK) datang ke Mapolres dengan membawa passport dan visa. (*)

Perkosa Cucu, Mantan Anggota DPRD Divonis 8 Tahun Penjara



Mantan anggota DPRD Pamekasan divonis 8 tahun penjara. Said Rifai (62), anggota DPRD periode 2004-2009 menjadi pesakitan di kursi pengadilan karena memperkosa cucu angkatnya yang berusia 14 tahun. Pria yang juga tinggal di Jalan Jokotole juga membayar denda Rp 60 juta.

Atas putusan sidang tertutup yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Rendra Yozar DP, Said langsung mengajukan banding.

“Karena terdakwa banding, maka saya harus menyusun berkas banding juga,” kata jaksa penuntut umum, Anis Sugiarti, ditemui di Pengadilan Negeri Pamekasan, Jumat (5/11/2010).

JPU mendakwa Said Rifai dengan pasal 81 ayat 1 UU Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002 tentang perkosaan anak di bawah umur dengan ancaman hukuman 15 tahun dan denda Rp 100 juta. Vonis ini lebih ringan daripada tuntutan JPU, kalau kakek 5 orang cucu itu dengan pidana 10 tahun penjara dan denda Rp 60 juta subsider 2 tahun penjara.

Informasi yang dihimpun detiksurabaya.com, menyebutkan, perkosaan atas FF (14) berlangsung lama. Perkosaan dengan tipu daya itu dilakukan Said sejak FF duduk di kelas 2 SD atau berumur 8 tahun.

Perkosaan terakhir dilakukan dilakukan Said pada tanggal 5 Maret 2010 lalu. Aksi biadab terdakwa itu terbongkar setelah korban menceritakan peristiwa itu Rokhyatun, gurunya di SMP. Sang guru kemudian melaporkan aksi amoral Said dilaporkan kepada Umi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Pamekasan.

Umi kemudian melaporkan Said Rifai kepada PPA Polres Pamekasan. Polisi akhirnya menangkap terdakwa di rumahnya sekaligus menggeledah barang bukti karena rumah Said sebagai TKP perkosaan selama 5 tahun itu.

Pengunjung sidang banyak yang bersyukur atas putusan hakim yang menjatuhkan vonis 8 tahun penjara. “Mestinya dihukum maksimal. Tapi biarlah meski dihukum 8 tahun. Biar kapok. Sudah bau tanah kok masih melakukan perbuatan biadab,” tutur pengunjung sidang. (*)

Kerentanan Pangan Masih Hantui Petani di NTT


sergapntt.com [KUPANG] – Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi Nusa Tenggara Timur Nico Bala Nuhan mengatakan, masalah kerentanan pangan masih menghantui sekitar 70 persen masyarakat petani di provinsi itu pada setiap musim tanam.

Kerentanan ini disebabkan oleh kekeringan, serangan hama penyakit tanaman serta banjir dalam mengembangkan usaha pertanian tanaman pangan seperti padi jagung, kacang-kacangan dan ubi-ubian, katanya di Kupang, Senin.

Sebab-sebab tersebut itu, katanya, ditambah lagi dengan anomali iklim yang cenderung ektrim pada musim tanam 2009/2010, telah menyebabkan masyarakat banyak mengalami gagal tanam dan gagal panen hampir merata di 20 kabupaten di NTT.

“Sejumlah petani praktis mengalami produksi pertanian yang menurun drastis, akibat fenomena iklim yang menyebabkan kekeringan dan banjir pada waktu-waktu tertentu,” katanya.

Ia menyebut secara keseluruhan kerusakan tanaman di NTT berdasarkan hasil pendataan dan analisis yang dilakukan Bandan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) NTT pada Sepember 2010 tersebar hampir merata di 20 kabupaten yang ada di wilayah kepulauan ini.

“Kerusakan tanaman petani di NTT tersebar di 201 kecamatan dan 1.481 desa dengan luasan kerusakan padi, jagung, kacang dan ubi bervariasi,” katanya.

Menurut dia, total kerusakan padi seluas 25.205 hektare, jagung 61.171 hektare, kacang 5.492 hektare, ubi 2.526 hektare atau jumlah keseluruhan mencapai 94.395 hektare.

Data kerusakan tersebut itu selanjutnya dianalisa menggunakan instrumen Sisem Kewaspadaan Pangan Bergizi (SKPG) dan berbagai aspek atau indikator.

Hasil analisis ini kemudian dibagi atas tiga kategori risiko rawan pangan ringan, sedang dan resiko rawan pangan tinggi.

“Dari total 1.481 desa tersebut sebanyak 400 desa dikategorikan sebagai wilayah beresiko rawan pangan ringan dan dialami 74.774 kepala keluarga (KK) atau 356.007 jiwa,” katanya.

Sedangkan wilayah yang masuk kategori desa dengan resiko rawan pangan sedang sebanyak 335 dari 1.481 desa dengan jumlah KK 64,658 orang atau 332.104 jiwa.

Sementara wilayah yang dengan tingkat resiko tinggi tersebar di 746 desa, dengan total jumlah KK sebanyak189.058 dan total 548.368 jiwa,sehingga cukup meresahkan.

Ia mengatakan langkah intervensi yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pemberian bantuan pangan beras yang bersumber dari dana inervensi rawan APBD Provinsi dan cadangan pangan pemerintah kabupaten/kota masing-masing 100 ton.

Disamping itu, pemerintah provinsi dan kabupaten terus mengupayakan alternatif penanganan secara terkoordinasi, terpadu dan terintegrasi serta mengusulkan bantuan pangan ke pusat (Kemenkokesra) melalui gubernur NTT.

Usulan tersebut langsung direspons pemerintah pusat melalui Menteri Sosial memberikan bantuan beras sebanyak 2.859 ton sebagai tambahan cadangan untuk mengatasi keadaan rawan pangan.(*)