Dari Desa Menuju Kota


sergapntt.com [BAJAWA] – SEJUMLAH analis di Ngada menyebut Drs. Petrus Tena dan Drs. Siprianus Radho Toly, PGD.MSc paling berpeluang menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ngada periode 2010-2015. Itu karena kandidat dengan sandi TENAR tersebut dianggap lebih merakyat, lebih berkualitas, lebih energik, dan lebih berpotensi melakukan perubahan secara seporadic, cepat dan stategis demi menggapai masyarakat Ngada yang adil dan makmur. Petrus Tena dan Sipri Radho diyakini sangat paham dari titik mana pembangunan dimulai dan di titik mana pembangunan diakhiri.
Ngada mandiri! Ngada sejahtera! Impian ini yang memotivasi Pit Tena dan Sipri Radho —begitulah Drs. Petrus Tena dan Drs. Siprianus Radho Toly, PGD.MSc akrab disapa— untuk ikut bertarung di ring suksesi. Sebagai orang Ngada, Pit Tena dan Sipri Radho sangat tahu apa yang harus dibuat untuk Ngada. Mereka diasumsi sangat paham tentang seluk beluk pembangunan di Ngada. Itu pasalnya, mereka menawarkan perubahan yang cepat demi terwujudnya Ngada yang mandiri dan mampu bersaing dengan dunia luar. Paling tidak, lima tahun kedepan, Ngada dapat dikendalikan menjadi daerah otonom yang kompetitif di semua sektor pembangunan.
Untuk menggapai cita-cita itu, Pit Tena dan Sipri Radho sepakat pembangunan lima tahun kedepan dimulai dari desa menuju kota. Desa dijadikan sasaran prioritas pembangunan. Hasil yang diharapkan adalah membaiknya perekonomian desa. Dengan demikian geliat ekonomi di kota dipastikan meningkat secara otomatis. Kalau sudah begitu maka masalah pendidikan dan kesehatan bisa ditekan.
“Kapitalisasi desa harus segera dilakukan. Desa harus dijadikan sasaran utama pembangunan. Karena kekuatan ekonomi daerah sesungguhnya ada di desa. Itu yang akan kita lakukan untuk Ngada kedepan,” ujar Sipri Radho saat ditemui di kediamannya di Nasipanaf, Penfui Kupang, Rabu, (6/1/10).
Menurut Sipri Radho, pembangunan di Ngada mesti dilakukan berdasarkan potensi wilayah. Karena tidak semua wilayah memiliki karakter yang sama. Pelaksanaan pembangunannya pun harus dibuat lebih terfokus. Artinya, jika ingin memajukan pertanian, maka semua kekuatan harus dikerahkan ke sektor pertanian, atau jika sektor pariwisata yang mau digenjot, maka semua kekuatan pikiran, tenaga dan dana harus diarahkan ke sektor pariwisata. Penyelesaian masalah pembangunan pun harus dilakukan satu per satu. Tidak bisa serentak. Sebab dana yang dimiliki Ngada sangat terbatas.
“Dana kita terbatas. Kalau semua kita bangun serentak, mana cukup. Kita mesti selesaikan satu persatu. Sehingga perubahan bisa kelihatan,” ucapnya.
Hasil identifikasi Sipri Radho menyebutkan titik lemah pembagunan di Ngada lebih disebabkan oleh belum tercapainya good governance, keterbatasan dana serta belum maksimalnya pengeolaan potensi Sumber Daya Alam (SDA). Merujuk pada titik ini, paket TENAR merumuskan visi kepemimpinan Ngada yang berbasis sumber daya lokal melalui ethos kerja yang tinggi, kreatif dan inovatif.
“Di tanah Ngada, kita buang apa saja hidup. Tapi kenapa kita masih miskin di atas tanah kita sendiri. Itu karena kita kurang kreatif. Kedepan produk lokal yang ada kita mesti buat menjadi produk setengah jadi. Sehingga harga jualnya pun meningkat. Dengan begitu bisa membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi rakyat. Sebab, akar dari semua masalah yang menghimpit rakyat Ngada adalah kemiskinan. Untuk itu kemiskinan harus segera diberantas melalui program yang langsung menyentuh sendi perekonomian rakyat,” imbuhnya.
Itulah sebabnya, jika Tuhan berkehendak dan rakyat memilih, maka TENAR akan mengutamakan kepentingan rakyat. Apa yang menjadi hak rakyat akan diberikan kepada rakyat. Karena bagi paket TENAR, hidup ini akan lebih berarti jika berguna bagi orang lain. Di kedalaman prinsip hidup itu mengandung pesan bahwa TENAR akan bekerja dengan tulus hati. Sebab, sebagai putra Ngada, TENAR tentu bertanggungjawab penuh terhadap masa depan Ngada.
Semangat mengubah wajah Ngada juga diutarakan oleh Pit Tena. Saat dihubungi via telepon pada Jumat (08/01/10) lalu, ayah empat anak yang kini menjabat sebagai Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Ngada itu mengaku perubahan kedepan akan dimulai dari desa. Desa akan dijadikan basis penyelenggaraan pembangunan. Untuk itu pemerintahan desa akan ditugaskan untuk menyiapkan data-data akurat tentang kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
“Data itu akan menjadi dasar pijakan kita, apa yang mesti kita dahulukan atau apa yang perlu kita segera lakukan. Contoh data tentang berapa banyak masyarakat kita yang memiliki lahan pertanian tetap. Atau berapa banyak masyarakat kita yang masih hidup dibawah garis kemiskinan. Dengan data itu kita akan mampu melahirkan program atau kebijakan yang tepat guna bagi masyarakat desa,” paparnya.
Toh begitu, Pit Tena mengaku pembangunan mesti dilakukan secara bertahap. Sebab dana yang dimiliki Ngada sangat terbatas. Selama ini Ngada masih sangat tergantung terhadap subsidi pemerintah pusat.
“Selama ini banyak yang sudah kita lakukan. Tapi karena keterbatasan dana, maka kita selesaikan satu per satu,” tegasnya.
Yang pasti, kehadiran paket TENAR di bursa suksesi kali ini telah memberikan harapan adanya perubahan. Pengakuan ini terus berdatangan dari berbagai penjuru desa di Ngada. Karena itu para pelaku politik praktis meyakini paket TENAR akan menduduki tempat teratas dalam Pilkada Ngada 2010. Itu karena popularitas dan kualitas mereka sudah teruji. Sebagai birokrat handal Pit Tena dikenal luas kemasyarakatannya. Kemampuan memimpinnya tidak diragukan lagi. Berbagai job penting telah ia lakoni dengan baik. Keberpihakan terhadap orang kecil selalu mewarnai setiap derap kepemimpinannya.
Keunggulan yang dimiliki Pit Tena seakan menjadi lengkap ketika maju sebagai Calon Bupati Ngada ia didampingi oleh Sipri Radho. Selain masih muda dan energik, Sipri Radho juga punya segudang pengalaman dari dalam negeri dan luar negeri yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat Ngada. Pria jebolan Curtin University of Technology, Pert – Australia itu dipastikan akan mampu memberi nilai tambah bagi kemajuan Ngada. (by. chris parera)

Anggota KPU Nagekeo Hamili Ponakannya Sendiri


SERGAP NTT -> Bukan main dongkolnya Ny. Jubida Nurdin (59) ketika tahu anak kandungnya, sebut saja Bunga (23) hamil di luar nikah. Lebih menyakitkan lagi, pria yang menghamili buah kasihnya itu ternyata saudaranya sendiri bernama Nikolaus Hama Daeng alias Niko, Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Nagekeo.
Ny. Jubida tak habis pikir kenapa Niko tega menggauli ponakannya sendiri. Padahal masa depan Bunga juga merupakan tanggung jawab Niko, sebagai paman. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Jarum jam tidak bisa diputar kembali. Pada 12 September 2009 lalu, Bunga telah melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama Aziza Ramadani.
“Biadap. Bangsat. Niko itu manusia PKI,” umpat Ny. Jubida saat ditemui di kediamannya di Kampung Makipaket, Kelurahan Mbay II, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo pada Rabu (18/11/09) lalu.
Ny. Jubida marah besar. Pasalnya, aib yang dibawa Niko telah merobohkan martabat keluarganya. Sudah begitu Niko enggan bertanggungjawab. Setiap kali diminta tanggungjawabnya, Niko selalu mengelak.
“Niko itu laki-laki pengecut. Tau berbuat tapi tidak tahu bertanggungjawab. Anak saya sudah berulangkali minta tanggungjawabnya, tapi dia selalu mengelak,” ujar Ny.Jubida, kesal.
Di tempat yang sama, Bunga mengaku, petaka yang ia alami bermula ketika suatu siang di pertengahan tahun 2008 dirinya melancong ke tambak ikan bandeng milik Niko. Maksudnya ingin melepas penat dari panas yang menyengat. Di sana di bale-bale di pojok pondok milik Niko dirinya duduk menghadap arah angin. Rasa segar diterpa angin timur ia nikmati seiring jarum jam bergerak. Namun tak beberapa lama kemudian Niko datang. Diawali dengan tegur sapa, Niko pun duduk di sebelah Bunga. Pertemuan tidak sengaja itu pun dihiasi obrolan layaknya om dan anak. Namun beberapa saat kemudian, entah setan apa yang merasuk, tiba-tiba Niko mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Bunga. Tentu saja Bunga kaget dan gemetaran. Takut akan terjadi apa-apa, Bunga langsung memilih langkah seribu. Sesampainya di rumah ia mengadu tindak-tanduk om-nya itu kepada ibunya. Sontak saja ibunya marah besar. Namun persoalan ini tidak meluas. Sebab, beberapa hari kemudian Niko datang meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Alhasil hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak kembali terjalin normal. Hari-hari dijalani seperti biasa. Saling kunjung, tegur sapa kembali terjadi seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun petaka kembali menghimpit Bunga di akhir tahun 2008. Saat itu Niko datang meminta Bunga untuk menjaga burung di sawahnya yang sedang menguning. Niko beralasan dirinya sedang sibuk menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Nagekeo periode 2009-2014. Sebagai imbalannya, Bunga dibayar Rp. 20.000 per hari. Karena tak punya kerja dan jarak antara sawah dengan rumah kakak kandungnya yang bernama Sepia Bhili hanya 100 meter, Bunga akhirnya menyanggupinya. Bunga lalu meminta restu ibunya agar ia diijinkan untuk bekerja pada Niko. Karena percaya pada janji Niko, sang ibu pun tak keberatan. Bunga lalu dibiarkan membantu Niko. Nah, untuk memperlancar tugas yang diberikan Niko, Bunga memilih nginap di rumah Sepia. Namun apes, ternyata pilihan Bunga ini adalah musibah. Sebab ketika tahu Bunga mulai menginap di rumah Sepia, Niko mulai keranjingan datang bertamu, bahkan menginap di rumah Sepia. Ujungnya, suatu malam sekitar jam 18.30, ketika Sepia dan suaminya terlelap tidur, Niko meminta Bunga memijat kakinya. Awalnya Bunga menolak. Tapi karena dipaksa, Bunga akhirnya menurutinya. Dalam posisi tengadah, Niko menjulurkan kakinya diurut Bunga. Matanya sengaja ditutup menerawang gelap. Sedangkan Bunga yang letih seharian menjaga burung di sawah mulai mengayun jemari lentiknya menjamah kaki sang paman. Namun kira-kira 10 menit kemudian, tiba-tiba Niko beranjak bangun dan langsung memeluk Bunga. Mulut Bunga dibekap. Dibawah ancaman Bunga kemudian ditindih dan dilucuti pakaiannya. Lalu? Dengan leluasa Niko melampiaskan ‘hajat’nya. Setelah itu, Niko kembali mengancam Bunga agar tidak memberitahukan kepada siapa-siapa. Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, Niko terus meniduri Bunga. Tak pelak Bunga pun hamil. Ironisnya, ketika masalah kehamilan ini Bunga sampaikan ke Niko, Niko justru marah-marah. Parahnya lagi, Niko menganjurkan agar janin yang di kandung Bunga segera digugurkan. Niko berjanji semua biaya aborsi akan ia tanggung.
Syukur, keinginan jahat itu tak ditanggapi Bunga. Bunga memilih tetap mempertahankan janinnya. Karena itulah Niko mulai bersikap menjauh dari Bunga. Setiap kali dikontak, Niko selalu menghindar. Bunga benar-benar kalut. Bunga tak tahu lagi harus berbuat apa. Bunga panik. Bunga takut jika kehamilannya diketahui oleh ibu dan saudara-saudaranya.
“Saya sampai pernah berpikir mau bunuh diri saja. Saya sudah tidak sanggup hadapi masalah ini sendiri,” ujarnya, lirih.
Beruntung! Niat bunuh diri itu tidak terlaksana. Tapi Bunga menjadi pemurung. Tak ada lagi canda tawa. Hari-harinya menjadi pahit. Perasaannya dihimpit hasa takut yang luar biasa. Tanda tanya selalu mengawali pikirannya. Bagaimana jadinya kalau Niko benar-benar tidak mau bertanggung jawab? Nah, di saat pening itu, tiba-tiba kakak kandung Bunga yang berdomisili di Jakarta meminta Bunga untuk segera ke Jakarta karena ada peluang kerja yang bisa diambil. Singkat kata Bunga pun ke Jakarta.
“Tapi mungkin karena bawaan janin, sampai di Jakarta saya sakit-sakitan. Saya tidak bisa kerja. Via SMS saya lalu beritahu dia (Niko-Red) bahwa saya sakit-sakit. Dia lalu suruh saya pulang. Dia transfer kasi saya uang. Begitu dapat uang, saya langsung pulang,” papar Bunga.
Sesampainya di Mbay, seiring berjalannya waktu, perut Bunga terus membuncit. Ketika usia kehamilan memasuki empat bulan, ibu dan saudara-saudaranya mulai curiga. Bunga kemudian dipanggil dan diinterogasi. Dari mulut Bunga muncul pengakuan yang mengejutkan kalau dirinya dihamili oleh Niko, pamannya sendiri.
Bunga kemudian didesak oleh keluarga untuk meminta pertanggungjawaban Niko. Namun berkali-kali didatangi, Niko selalu mengelak. Bahkan untuk menghindari Bunga, Niko mulai tinggal berpindah-pindah, dari kost satu ke kost lain, dari rumah keluarga satu ke rumah keluarga yang lain. Tapi Bunga tak patah semangat. Niko terus dicari sampai akhirnya ia bertemu Niko.
“Begitu saya ketemu, saya tanya dia, bagaimana dengan kehamilan saya ini. Lalu dia bilang apa? Dia bilang, untuk anak yang saya kandung dia akan tanggung jawab. Semua biaya akan dia tanggung. Sedangkan diri saya dia tidak mau tanggung jawab. Saya tanya kenapa? Dia hanya bilang pokoknya tidak mau tanggung jawab. Tapi dasar laki-laki tukang tipu, biaya melahirkan yang dia janjikan juga tidak pernah dia berikan. Setelah saya melahirkan, saya temui dia lagi, saya tanya lagi, tapi dia jawab sama saja, dia tidak mau tanggung jawab. Saya benar-benar sakit hati. Saya tidak tahu lagi mau mengadu kemana. Saya sudah dua kali mengadu ke Ketua KPU Nagekeo, tapi jawaban yang saya dapat selalu nihil,” ucap Bunga, lirih.
Di tempat terpisah, Ny. Sepia Bhili (Kakak kandung Bunga-Red) mengaku baru tahu kelakuan Niko setelah Bunga hamil.
“Sebelum jadi anggota KPU, Niko itu biasa tidur bangun di rumah saya. Setelah dia jadi KPU dia pindah ke Danga. Tapi biar begitu dia masih sering datang tidur bangun di rumah saya. Dia punya pakaian juga masih ada disini, termasuk satu stel pakaian kemponya. Dari awal saya benar-benar tidak curiga apalagi berpikir bahwa dia punya niat jahat terhadap adik saya. Tapi ternyata prasangka baik saya itu, meleset. Biadap memang! Om koq biadap kayak binatang,” sergah Sepia.
Ny. Jubida Nurdin juga mengaku selain Bunga, Niko juga pernah merayu anaknya yang lain, sebut saja Melati. Hanya saja nasib Melati tidak seburuk Bunga. Begitupun dengan ponakan-ponakan lain yang pernah “diganggu” Niko.
“Niko itu bejad. Selain Bunga, adik kandung Bunga juga pernah ‘diganggu’,” katanya.
Kini kasus asusila tersebut telah dilaporkan oleh Bunga dan keluarganya ke Polsek Danga. Ny. Jubida Nurdin berharap polisi dapat memproses kasus ini secara cepat dan profesional.
Benarkah Niko yang menghamili Bunga? Ditemui saat mengikuti diskusi peraturan KPU di Kantor KPU Provinsi NTT di Kupang pada Selasa (15/12/09), Niko membantah kalau dirinya yang menghamili Bunga.
“Bukan saya pelakunya. Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan dia (Bunga-Red). Kalau dia bilang saya yang menghamili dia, itu menurut dia, bukan saya,” tandasnya.
Menurut Niko, apa yang dilaporkan Bunga kepada pers dan polisi adalah nyanyian fitnah. Sebab, dirinya sama sekali tidak punya hubungan yang khusus, apalagi sampai berhubungan badan dengan Bunga.
“Saya sama sekali tidak punya hubungan yang khusus dengan dia. Antara saya dengan dia itu hanya hubungan keluarga saja,” tegasnya.
Niko juga membantah kalau dirinya sering nginap di rumah Sepia. “Memang benar saya biasa singgah di rumahnya Sepia, tapi itu hanya untuk menitipkan pakaian saya kalau saya mau ke sawah. Kebetulan sawah milik saya dekat dengan rumah Sepia. Tapi kalau tidur di rumah Sepia, saya tidak pernah. Oleh karena itu, saya tidak takut hadapi laporan polisi yang mereka buat itu,” katanya.
Kasus asusila yang diderita Bunga juga mendapat perhatian dari petinggi KPU Provinsi NTT. Jika masalah ini terbukti benar, maka Niko bisa diberhentikan dari KPU Nagekeo.
“Jika kedepan ada kekuatan hukum tetap atau ada putusan pengadilan bahwa yang bersangkutan bersalah, maka kita akan bersikap. Bisa kita non aktifkan atau pecat. Itu akan dilakukan lewat rapat pleno KPU,” ujar Juru Bicara KPU Provinsi NTT, Drs. Djidon de Han.
Djidon menyarankan, sebaiknya Niko bertanggungjawab terhadap apa yang telah dibuat. Ada dua tanggung jawab yang ditawarkan, yakni tanggung jawab menikahi Bunga atau tanggung jawab membayar sanksi terhadap Bunga sesuai adat setempat.
“Jika kasus itu benar, saya kira ada jalan keluarnya. Yang penting mau bertanggung jawab,” imbuhnya. (chris barera)

Hidupkan Ekonomi Rakyat Melalui Koperasi


SERGAP NTT -> Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo merupakan organisasi koperasi kredit (kopdit) tingkat sekunder yang memayungi 59 koperasi kredit primer di wilayah Kabupaten Ngada, Nagekeo dan Ende. Sejak awal kiprahnya, lembaga ini mempunyai fokus perhatian terhadap kehidupan ekomoni rakyat kecil. Benarkah?
Puskopdit Bekatigade telah bertekad akan terus berjuang membangun ekonomi rakyat Ende, Ngada dan Nagekeo. Uang yang dikumpulkan dari masyarakat akan dikembalikan kepada masyarakat. Uang tidak akan di bawa keluar dari kabupaten Ende, Ngada dan Nagekeo.
“Masyarakat yang diasumsikan miskin, ternyata susah memiliki potensi untuk membangun dirinya sendiri dalam kebersamaan. Hal ini hanya mungkin jika dilaksanakan secara terus menerus dan terprogram melalui pendidikan, pendidikan dan pendidikan,” ujar Ketua Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada dan Nagekeo, Yoseph Dopo, S.Pd saat memberi kata sambutan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) ke XI Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada di Kemah Tabor Mataloko, Ngada, Sabtu (13/02/10).
Oleh karena itu, lanjut Yoseph Dopo, pendidikan menjadi fokus utama Puskopdit Bekatigade. Disamping itu, Puskopdit juga senantiasa memfasilitasi penataan kelembagaan kopdit, baik menyangkut keorganisasian, keanggotaan maupun manajemen.
Tahapan pembenahan keanggotaan puskopdit mulai dilakukan tahun 2001 (kesepakatan RAT di Mauponggo) dan diharapkan final pada 30 Juli 2010. Bagi Kopdit yang belum mencapai anggota 250 orang diharapkan bergabung dengan kopdit lain demi peningkatan pelayanan kepada anggota. Kita berharap agar mulai Juli 2010 dan seterusnya, kita lebih memfokuskan perhatian pada pengembangan koperasi kredit.
Arah pandang baru, pengembangan koperasi kredit di wilayah ini terbangun ketika mulai adanya kerjasama dengan Canadian Coperative Associtation (CCA) melalui Inkopdit pada tahun 2001 dengan program kopdit model 2000. Berbagai pencerahan dilakukan melalui modul-modul pelatihan terbesit kesadaran untuk membangun habitus baru dalam pengembangan koperasi kredit. Salah satu perubahan yang dilakukan adalah tidak adanya dualisme dalam pengelolaan kopdit. Pengurus lebih berperan sebagai pembuat kebijakan dan manajer berfungsi pada tataran menjalankan kegiatan operasional. Namun perubahan ini tidaklah semudah mengedipkan mata. Adanya sikap resistensi terhadap perubahan. Namun berkat pencerahan melalui pelatihan dan studi banding pada beberapa koperasi kredit baik diwilayah Flores maupun di luar Flores mulai terbangun kesadaran dan motivasi baru untuk melakukan gebrakan perubahan guna menata organisasi dan usaha koperasi kredit.
Pertumbuhan anggota dan usaha keuangan merupakan dampak penataan sistem kelembagaan kopdit. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau koperasi kredit yang senantiasa membuka diri terhadap pembenahan dan perubahan akan berimplikasi pada pertumbuhan dan perkembangan kopdit.
Data per Desember 2009 menunjukkan jumlah anggota individual koperasi kredit di Ngada, Nagekeo dan Ende sebanyak 60.038 orang. Penambahan anggota baru tahun 2009 sebanyak 14.306 orang dan anggota kopdit yang meninggal selama tahun 2009 sebanyak 359 orang sesuai data Solidaritas Kedukaan Puskopdit. Selama tahun buku 2009 ada tiga kopdit yang menambah anggota baru di atas 1.000 orang yakni (1) kopdit Sangosay (Ngada), tambah anggota baru 2.813 orang, (2) Kopdit Boawae (Nagekeo) tambah anggota baru 2.208 orang, dan (3) Kopdit Bahtera (Ende) tambah anggota baru 1.280 orang. Ekspansi atau perluasan keanggotaan yang diraih oleh ketiga kopdit ini dapat memberikan semangat dan motivasi bagi koperasi lainnya untuk terus berjuang meningkatkan jumlah dan mutu anggota. Patut disadari bahwa koperasi kredit adalah organisasi berbasis anggota, kumpulan orang-orang dan bukannya organisasi berbasiskan modal sehingga perluasan keanggotaannya menjadi fokus utama segenap fungsionaris dan insan kopdit. Hendaknya perluasan anggota kopdit dimulai dari keluarga : Bapak, Mama, dan Anak. Keluarga menjadi inti pengembangan koperasi kredit. Dari aspek keuangan, gerakan koperasi kredit di tiga kabupaten ini per Desember 2009 tercatat aset sebesar 283,6 miliar, simpanan saham 155,9 miliar, simpanan non saham 74,5 miliar, pinjaman beredar 237 miliar.
Pertumbuhan anggota dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 31,28% dan pertumbuhan aspek keuangan: kekayaan, simpanan dan pinjaman di atas 40%. Angka-angka ini memang kecil jika dibandingkan dengan lembaga keuangan formal lainnya. Namun di balik angka-angka ini mencerminkan kemandirian, keswadayaan masyarakat setempat untuk membangun dirinya dalam semangat kebersamaan dan solidaritas.
Menyikapi era perkembangan era ekonomi pasar sebagai bagian dari globalisasi ekonomi sekarang ini maka koperasi kredit sebagai badan usaha perlu mengatur langkah-langkah strategis dan aktis sesuai tuntutan sebuah badan usaha tanpa harus menunggalkan prinsip-prinsip koperasi yang dianut secara universal. Dalam era ekonomi baru sangat ditekankan kesiapan sumber daya manusia sebagi faktor kunci sukses penataan kelembagaan dan usaha koperasi kredit selaras dengan perkembangan kebutuhan anggota sesuai tiga strategi Puskopdit Bekatigade Ende, Ngada, Nagekeo 2007 – 2012 yakni gerakan pertumbuhan anggota kopdit melalui gerakan kopdit 1000 anggota setiap tahun, unggul dalam persaingan (Profesionalisme dalam Manajemen), dan keberlanjutan kopdit dengan melembagakan sistem untuk bekerja. Strategi ini bisa terlaksana kalau pengurus berpikir visioner dan manajemen bekerja secara profesianal, serta anggota sadar berkopdit.
“Inti tujuan kami adalah menghidupkan ekonomi rakyat melalui koperasi,” tegas Yoseph Dopo.

Ngada
Dalam konteks pengembangan kapasitas dan kapabilitas fungsionaris koperasi kredit, Pemda Ngada telah memberi dukungan baik dukungan moril maupun dukungan financial.
“Masih terekam baik dalam catatan Puskopdit bahwa pada 14 Januari 2006, fungsionaris Puskopdit telah melakukan audiens dengan pak Bupati Ngada, Drs. Pit Jos Nuwa Wea. Dalam temu dialog itu ternyata adanya kesamaan visi antara Puskopdit dengan Pemda Ngada yakni pemberdayaan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan atau “terwujudnya kemajuan dan kesejahteraan, berbasis keunggulan dan kemandirian”. Atas dasar kesamaan visi ini maka tercetus komitmen pak Bupati Ngada untuk mendukung kegiatan pendidikan anggota serta fungsionaris kopdit dan menyediakan lokasi tanah untuk pembangunan pusdiklat di Mbay. Meskipin lokasi tanah pembangunan pusdiklat belum terealisir tetapi pada tahun 2006 langsung direalisasikan dukungan dana untuk pendidikan anggota dan fungsionaris koperasi kredit,” papar Yoseph Dopo.
Puskopdit Bekadigade Ende, Ngada dan Nagekeo telah menerima bantuan dana pendidikan kopersi kredit dari Pemkab Ngada sebesar Rp.225 juta dengan rincian : 2006 sebesar Rp.100 juta yang penggunaannya untuk kegiatan pelatihan motivator kopdit, pembelajaran kopdit di Philipina, Lokakarya dan Asian Forum di Colombo-Srilanka. Tahun 2007 sebesar Rp.75 juta digunakan untuk pelatihan teknisi komputer, lokakarya standarisasi pelayanan kopdit, Pelatihan Pelatih Gab Analisys Access Branding. Tahun 2009 sebesar Rp. 50 juta digunakan untuk pelatihan kompetensi Pengurus dan Manajer berstandar Asia, Pelatihan Pelatih Pendidikan Lanjutan bagi Anggota Kopdit. Kerja sama Puskopdit Bekatigade Ende-Ngada-Nagekeo dengan Pemkab Ngada juga telah menghasilkan penerbitan buku Access branding sebagai alat penilaian koperasi kredit sesuai strandar Asia. Hasil lainnya yakni, adanya motivator di setiap kopdit sebagai ujung tombak perluasan keanggotaan kopdit, kemampuan dan ketrampilan untuk melakukan internal audit, adanya perubahan tata pelayanan koperasi kredit, terbangun kebiasaan untuk melakukan perawatan dasar komputer, adanya perubahan cara berpikir dan cara berindak di tingkat pengurus dan manajer kopdit, pengembangan pendidikan lanjutan bagi anggota kopdit.
Perhatian Pemkab Ngada terhadap dunia koperasi ini ternyata mendapat perhatian Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono (SBY). Sebagai bentuk penghormatan, Presiden SBY memberikan penghargaan Setya Lencana Pembangunan di Bidang Koperasi kepada Bupati Ngada, Drs. Pit Jos Nuwa Wea. Selain penghargaan dari Presiden, Oktober 2009 lalu, Menteri Koperasi RI telah mencanangkan Ngada sebagai penggerak koperasi di NTT.
Sementara itu Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Ngada, Anastasia Mo’i mengatakan, agenda program Pemkab Ngada 2005-2010 adalah perkuatan modal bagi koperasi sebagai lembaga keuangan mikro.
“Prinsipnya, pemerintah akan terus memberikan dukungan modal usaha bagi koperasi dan Usaha Kecil Mengengah,” ucapnya.

Lembaga Keuangan Lokal Yang Kuat
Terwujudnya koperasi sebagai lembaga keuangan lokal yang kuat, profesional, kompetitif serta berbasis anggota yang berkualitas menjadi visi utama Kopdit Sinar Harapan. Dibawa arsitek Yoseph Madha, Kopdit Sinar Harapan terus bergerak maju dengan misi merumuskan berbagai tata aturan guna menjadi titik pijak kebijakan pengurus, meningkatkan bentuk pelayanan serta memasarkan produk-produk simpanan dan pinjaman yang bersaing dan mengikuti pendidikan dan pelatihan memperoleh inovasi-inovasi baru.
Pengelolaan Kopdit Sinar Harapan mengacu pada empat perspektif Access Branding, yakni perspektif finansial, perspektif Nasabah, perspektif Bisnis Internal dan Pembelajaran dan Perkembangan. Aplikasi dari keempat perspektif tersebut dilaksanakan secara bertahap sesuai kondisi dan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya modal.
“Semangat kita adalah menjadikan Kopdit Sinar Harapan sebagai lembaga keuangan lokal yang kuat. Dengan begitu kami berharap mampu mengimbangi dunia perdagangan bebas,” ujar Yoseph Madha.
Menurut Madha, perjalanan Kopdit Sinar Harapan penuh lika-liku. Kopdit yang berkantor pusat di Malapedho, Kecamatan Aimere itu didirikan pada 10 Januari 1982 oleh 25 orang warga Desa Ineria, Aimere, Ngada dengan modal awal Rp. 234 ribu. Di awal pembentukan, perkembangannya cukup meyakinkan. Karena itu keberadaan Kopdit Sinar Harapan saat itu menjadi kebanggaan masyarakat Desa Inerie. Sebab, sebagai koperasi baru, Kopdit Sinar Harapan mampu menjadi lembaga keuangan lokal yang sanggup menyaingi lembaga keuangan formal. Namun di 1984 – 1986, Kopdit Sinar harapan dirundung salah urus. Pada fase ini boleh dibilang Sinar Harapan bak “Mati Suri”. Karena itu, tahun 1987, atas prakarsa mantan Kepala Desa Inerie, alm. Rofinus raga mencoba mencari akar masalah dan membenahinya dengan motto tak ingin mati suri kedua. Tahun 1988, Kopdit Sinar Harapan mengadakan RAT yang pertama dan memilih Rofinus Raga sebagai ketua. Dalam kurun waktu 10 tahun (1988-1998) dibawa kendali kepemimpinan Rofinus Raga, Kopdit Sinar Harapan yang pada awal keanggotaannya hanya terbatas pada masyarakat Desa Inerie, mulai diincar dan diminati mayoritas masyarakat Kecamatan Aimere dan sekitarnya. Karena itu, tahun 1999, Kopdit Sinar Harapan diusulkan oleh Puskopdit Bekatigade menjadi salah satu kopdit model setelah berkompetisi memenuhi delapan kriteria “harus sudah” dan sembilan kriteria “Harus Mau”. Ujungnya, tahun 2000, Kopdit Sinar Harapan menjadi salah satu model 2000.
“Tahun 2004, kami mendapat piagam penghargaan dari Kementrian Koperasi dan UKM RI sebagai salah satu Koperasi Berprestasi tingkat nasional, tingkat propinsi NTT dan juara satu tingkat Kabupaten Ngada. Tahun 2008, Kementrian Koperasi dan UKM RI kembali memberi kami predikat sebagai salah satu “Koperasi Berprestasi” jenis koperasi simpan pinjam tingkat nasional. Karena itu Kopdit Sinar Harapan sebagai salah satu koperasi penerima Award dari Kementrian Koperasi dan UKM RI pada hari Koperasi ke 61 tingkat nasional tanggal 12 Juli 2008 di Gelora Bung Karno Jakarta,” paparnya.

Koperasi Bangkit
Ketua Kopdit Handayani Bajawa, Mamerius Rudju mengaku dunia koperasi di Kabupaten Ngada dalam lima tahun terakhir mulai bangkit dari keterpurukan. Selain karena tekad para pelaku koperasi, kemajuan koperasi di bumi “Ja’i” itu berkat dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada yang diarsiteki Drs. Pit Jos Nuwa Wea.
“Peran pemerintah yang kami rasakan sangat luar biasa. Pemerintahan Pit Nuwa-Niko Dopo sangat antusias membantu kemajuan koperasi di Ngada. Fakta mengatakan sebelum Pit Nuwa jadi Bupati Ngada, koperasi di Ngada seperti hidup enggan mati tak mau. Karena apa? Tidak ada perhatian dari pemerintah. Terutama soal pendidikan bagi para pelaku koperasi. Kami sangat bersyukur, di periode lima tahun terakhir ini, kami mendapat perhatian serius dari pemerintah. Semoga ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ujar Rudju
Menurut Rudju, koperasi merupakan lembaga keuangan mikro yang dapat secara langsung membantu kaum marginal di desa-desa. Untuk itu perlu didukung oleh pemerintah. “Koperasi adalah salah satu jalan keluar dari lubang kemiskinan. Untuk itu semangat berkoperasi mesti digalakan bersama,” tegasnya. (chris barera)


Terima Kasih Telah Menghubungi Kami, Secepatnya Kami Akan Membalas E-Mail Anda

Asisten Manager Kepergok Selingkuh di Hotel


sergapntt.com [JAKARTA] – Nasib sial dialami EF (34) seorang Asisten Manager perusahaan operator telepon. Dia kepergok istrinya, DA (26), diduga selingkuh dengan seorang Wanita Idaman Lain (WIL) di sebuah hotel berbintang di kawasan Jl Jenderal Sudirman, Selasa (25/11) pagi.
Tak pelak, pria yang tinggal di kawasan RE Martadinata Kelurahan 2 Ilir bersama pasangan selingkuhnya, Sep (26) langsung digelandang ke Polsekta Ilir Timur I. DA memang sengaja mengajak polisi saat hendak menggrebek suaminya di hotel tersebut.
Kejadian bermula saat DA yang baru menikah dengan EF, Oktober lalu, sering ditinggal pergi oleh suami dengan urusan yang tak jelas. Saat pergi EF berdalih ada urusan kerja ke luar kota, sehingga membuat sang istri yang dinikahi di Bengkulu curiga. Terlebih, EF saat dihubungi melalui ponsel selalu ditolak (reject) “Awalnya saya tidak curiga, tetapi saat dihubungi HP-nya tidak pernah aktif, meski pengantin baru malah saya sering ditinggal-tinggal terus,” kata DA sambil menunjukkan buku nikah kepada petugas. Pernah saat ditelepon, DA yang tinggal di Kompleks Sangkuriang Kel Sako mengatakan yang mengangkat justru seorang wanita.
Mendapati kenyataan tersebut membuatnya curiga hingga menyelidiki keberadaan suami yang saat menikah berstatus duda dua anak. Pencarian sejak Senin (24/11) malam membuahkan hasil. Menggunakan motor, DA bersama ibunya, Sum, mereka mengitari seluruh hotel yang ada di Palembang. Sesampainya di hotel yang terletak di Jl Jenderal Sudirman, Selasa (25/11) pukul 07.00 wanita berambut panjang ini melihat mobil Daihatsu Terios milik suaminya terparkir di halaman.
DA pun menanyakan pada resepsionis tentang identitas pemilik mobil. “Saat itu, EF dalam buku tamu menggunakan nama samaran, Fredo dan menginap sejak Senin (24/11) pukul 22.45. Usai mendapat keterangan dari receptionis bersama anggota Kepolisian yang dipimpin Kapolsek IT I, AKP Selamet Waluyo langsung menggrebek keberadaan EF.
Setibanya di kamar hotel, ternyata EF dan Sep sedang membuka pintu dan berniat check out. Tak pelak, kedatangan polisi dan istri sah EF membuat Sep yang saat itu mengenakan jaket merah dengan rambut kucir atas berupaya melarikan diri.
“Sempat terjadi kejar-kejaran di lorong-lorong tetapi untunglah Sep dapat ditangkap dan diamankan,” tegas Waluyo. Saat dilakukan penangkapan, keduanya pasrah dan mengakui memang telah menginap di hotel sejak Senin malam. Menyangkut masalah rumah tangga, Waluyo menegaskan polisi tidak akan turut campur, tetapi pihak kepolisian akan menjerat keduanya dalam perkara perzinahan. “Kami masih terus menyelidiki kasus ini,” katanya.
Dihadapan petugas, Sep mengaku sejak tiga bulan mengenal EF. “Sejak tiga bulan kami kenal, saya siap menikah dengannya meskipun harus dimadu sekalipun,” tandas Sep seraya mengakui EF sering mengeluhkan sikap keras DA yang tidak mau mengalah pada suaminya.
Minta Izin Menikah
Yang menarik mantan istri EF, Md, ikut datang ke kantor polisi mendukung mantan suaminya. Md, istri pertama yang dicerai EF setahun yang lalu, ketika ditemui Sripo mengaku sudah mengetahui hubungan Sep dan mantan suaminya. Terlebih Sep merupakan rekannya yang sama-sama berkerja di perusahaan asing.
Malam sebelum penggrebekan, Md mengaku EF dan Sep mendatangi rumahnya dan meminta izin menikah. “Saya kenal Sep, dia teman kerja, anaknya baik malah sifat DA yang selalu mengekang EF membuat mantan suami saya itu berpaling,” tegas Md yang mendatangi Polsek bersama tiga orang pengacara membantu kebebasan EF.
“Memang kelakukan EF sering diluar kontrol. Karena sifatnya itulah yang membuat perkawinan kami tidak bertahan lama, saya mengizinkan pernikahannya dengan Sep karena EF berjanji bahwa ini adalah pernikahan terakhir,” beber Md seraya mengaku pernikahan dengan EF telah dikaruniani dua anak.
sumber: NOVA