Gubernur NTT Harus Profesional


sergapntt.com [KUPANG] Mutasi merupakan suatu komponen aktivitas dalam menentukan Sumber Daya Manusia (SDM). Mutasi berhubungan bangaimana memanage SDM untuk memperoleh pekerja-pekerja unggul. Terutama bagi pekerja yang mampu mengusai pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan manejerial dan teknis dibidangnya. Mutasi letaknya pada pengembangan karir melalui analisis pekerjaan dan orientasi pendidikan untuk meningkatkan kompetensi pekerjaannya.
Karena itu, menurut Prof. Dr. August S. Benu, MS, yang harus diperhatikan dalam proses mutasi adalah pertama, mutasi tidak boleh dilakukan karena alasan politik, sebab dalam suatu perusahan, maneger melakukan mutasi karena ada analisis rasio beban kerja dalam unit, dimana volume beban kerja sedikit, tapi banyak tenaga kerjanya, maka tenaga kerja tersebut dipindahkan pada bidang kerja yang tenaga kerjanya kurang, tapi memiliki volume pekerjaan banyak agar tidak terjadi kelebihan beban kerja.
Sebab apabila seseorang kelebihan pekerjaan, maka akan berdampak pada pekerjaan, yaitu produktifitas dan motivasi kerja menurun. Bahkan pekerja menjadi apatis dan sering meninggalkan tugasnya. Tentu yang harus dihindari dan sering terjadi adalah sikap aparatur yang selalu ingin kerja sedikit tapi mau mendapatkan upah yang besar.
Kedua, dalam rangka pembinaan karir, aparatur harus memiliki kemampuan mengelola pekerjaan pada bidang pekerjaan yang berbeda, sehingga saat dimutasi dan dirotasi mampu menguasai bidang tugas yang diemban sebagai bekal bila dipromosikan menjadi pemimpin.
“Dalam melaksanakan mutasi yang harus dihindari juga adalah terjadinya rangkap jabatan pada aparatur. Karena akan melanggar hukum Graicunas, yaitu tidak ada orang yang dapat mengerjakan dua pekerjaan yang berbeda pada waktu yang sama ditempat berbeda. Sebab mutasi dapat terjadi jika ada analisis pekerjaan. Kemungkinan adanya perluasan dan perubahan pekerjaan yang sejenis atau tidak sejenis,” papar Guru Besar Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang itu.
Menyingkapi fenomena mutasi di lingkup Pemprov NTT, Agust Benu mengatakan, mutasi yang dilakukan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya selama ini belum berjalan sesuai kaidah-kaidah akademis dan normatif. Indikasinya, penempatan sering terjadi pelanggaran prinsip, yakni masih ada nuansa suka dan tidak suka. Sehingga kopetensi aparatur yang dimutasi tidak sesuai analisis jabatan dan urutan jabatan yang dipangku. Akibatnya, akan terjadi adaptasi dan orientasi yang cukup panjang.
Padahal Pemprov NTT telah memiliki produk hukum Peraturan Daerah (Perda) buah kerja Bapeda NTT bersama Undana Kupang. “Hasil analisis mikro SDM memuat skenario setiap jabatan memiliki syarat administrasi dan akademis bagi calon pemangku jabatan. Ternyata, skenario itu tidak dipergunakan secara konsekwen. Untuk menduduki suatu jabatan syaratnya apa? Tapi kenyataannya untuk menduduki jabatan tidak diikuti produk hukum yang ada, padahal itu sudah ditetapkan sebagai Perda loh,,,” tandas Dosen Pasca Sarjana Magister Administrasi Publik itu.
Agust Benu berharap, pelaksanaan mutasi yang nantinya dilakukan PemProv NTT harus memenuhi kaidah-kaidah management manusia yang berlaku, bebas dari kepentingan pribadi dan kelompok. Karena sesungguhnya tujuan dari mutasi itu adalah untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan manajement SDM.
“Sebab, akan berbias pada mutasi itu  lebih berperan sebagai startegi balon gas dimana mengalihkan bentuk permasalahan tanpa mencabut akan masalah,” ucapnya, kritis.
Sementara itu, Dosen Fisip Unwira Kupang, Leonardus Lelo, S.IP mengatakan, sesungguhnya mutasi birokrasi telah diatur dalam peraturan kepegawaian, baik itu untuk pergeseran jabatan, promosi jabatan, maupun karena saksi. Namun dalam pelaksanaannya, belum terarah dengan baik berdasarkan asumsi untuk peningkatan kinerja aparatur.
“Malah mutasi yang dilakukan di dalam birokrasi tidak kontinyu. Bagaimana pejabat dapat diukur kinerjanya”, tohoknya.
Karena itu, sebagai pembina pegawai di lingkup Pemprov NTT, sudah semestinya Frans Lebu Raya bersikap dan bertindak profesional.
“Jangan mutasi lebih didominasi akan kepentingan politik balas jasa, tapi harus dilakukan secara profesional sehingga peningkatan dan kompetensi aparaturnya dapat diukur. Saya meragukan mutasi yang dilakukan selama ini, atau kedepannya telah dibawah ke rana politik,” imbuhnya.
Menurut pengamat pemerintahan itu, bagi Gubernur NTT yang adalah seorang politisi, sudah semestinya menjalankan pemerintahan secara profesional dengan perbandingan 70 persen untuk kepentingan birokrasi dan pelayanan publik, serta sisanya untuk kepentingan politik. Jangan kepentingan politik lebih mendominasi dalam suatu struktur birokrasi. Sehingga yang terjadi kepentingan kelompok yang akan diutamakan dari pada pelayanan bagi masyarakat. Karena Tugas dan tanggung jawab pemimpin adalah meningkatkan kinerja aparaturnya yang berdampak makin meningkatnya pelayanan terhadap masyarakat.
Hal yang sama diamini juga oleh Pembantu Dekan I Fisip Undana Drs.William Djani, M.Si. Menurut dia, mutasi sangat dibutuhkan birokrasi. Karena melalui rotasi ini akan ada penyegaran, suasana baru dan motifasi baru. Tentu mutasi harus berdasarkan kompetensi jabatan, urutan kepangkatan, pengalaman serta tingkat pendidikan.
“Mutasi itu dilakukan berdasarkan kemampuan, keahlian seseorang pada jabatan. Jangan mutasi terjadi karena suka atau tidak suka. Karena berdasarkan fenomena yang kita dengar dan amati selama ini, yang terjadi justru mutasi dilakukan dengan tidak murni “, tandasnya. Buktinya, kata William Djani, selama ini muncul berbagai keluhan dari dalam tubuh birokrasi dan publik setelah melihat dan merasakan dampak mutasi gaya politisi. 
“Karena itu diperlukan mutasi berdasarkan kompetensi. Sehingga pejabat yang dipromosikan akan memberikan kontribusi atau ada peningkatan kinerja pada satuan kerja yang dipimpinnya. Semua elemen menghendaki suatu birokrasi pemerintahan yang responsif terhadap persoalan publik. Sehingga persoalan mutasi harus dijalankan sesuai produk aturan yang berlaku. Bila mutasi yang dijalani tidak sesuai aturannya, maka berdampak kerugian bagi daerah. Karena kita inginkan daerah ini maju, bebas KKN dan menurunkan angka kemiskinan, pengangguran. Semua itu berpulang pada seperti apa kinerja birokrasi pemerintah untuk menjawab semua persolan tersebut. Mutasi yang mengikuti koridor aturan akan menghasilkan para birokrasi yang sehat dan handal”, jelas Dosen Jurusan Administrasi Negara, Kosentrasi Kebijakan Publik Undana itu.
By. WS

Mutasi Kontroversi di Lingkungan Pemrov NTT


sergapntt.com [KUPANG] -Siapa yang tak ingin jadi pejabat? Keinginan inilah yang membuat sebagian calon pejabat eselon IV, III dan II di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai berharap-harap cemas. Ambisi menjadi pelayan terdepan dengan label pejabat mulai dititipkan pada kebijakan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya di sesi mutasi Februari 2012. Hm,,,,!
Per 1 Februari 2011 terdapat dua pejabat eselon II yang pensiun, yakni Kepala BNN NTT, Ny. Pratini Harjokusumo, SH, M.Si, dan Kadis Perindag NTT, Drs. Yoseph Lewokeda. Sedangkan  Kadis Perikanan dan Kelautan NTT, Ir. Ana Salean, M.Si telah pensiun sejak 1 Januari 2012.
Jabatan lowong lainnya adalah Sekretaris KPU NTT, dan Kepala Biro (Karo) Urusan Pegawai (UP) Setda NTT yang ditinggal alm. Karolus Kia, SH yang meninggal akibat sakit pada 16 Januari 2012 lalu.
Praktis, lowongnya lima jabatan eselon II ini membuat sebagian calon pejabat eselon II mulai melepas jurus ‘cari muka’. Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay, M.SI, plus Sekda NTT, Frans Salem, SH.M.Si mulai didekati dengan berbagai cara. Termasuk meyakinkan sang gubernur dan wakil gubernur yang akrab dengan sandi FREN itu bahwa mereka akan setia dan komit memperjuangkan kepentingan FREN di pemilihan gubernur (pilgub) NTT pada tahun 2013 mendatang. Maklum, mereka yakin FREN akan maju lagi sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2013-2018.
Santer terdengar kalau Kepala BNN bakal dijabat oleh Drs. Aloysius Dengi Dando (kini Karo Kesra Setda NTT), Kadis Perindag, Kanis Beka, SH (sekarang Karo Umum Setda NTT), Kadis Perikanan dan Kelautan NTT, Ir. Fredik Tilman (sekarang Kepala Badan Arsip NTT), Sekretaris KPU NTT, Drs. Ubaldus Gogi (sekarang Karo Administrasi Pembangunan Setda NTT), Karo Administrasi Pembangunan Setda NTT, Drs. Abraham Maulaka (Sekarang salah satu kabag di Biro Administrasi Pembangunan Setda NTT), Kepala Badan Arsip NTT, Ir. Wayan Darmawa, MT (sekarang Kepala Bappeda NTT), Kepala Bappeda NTT, Drs. Os Toda (sekarang Karo Keuangan Setda NTT), Karo Keuangan Setda NTT, Drs. Elias Hali Lanan (sekarang Kebag perbendaharaan Biro Umum Setda NTT), dan Karo UP, Beni Wahon, S.Sos, MM (sekarang salah satu Kabag di Biro Administrasi Pembangunan Setda NTT).
Tak hanya itu, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata NTT, Drs. Abraham Klakik juga diisukan bakal diganti oleh Kepala UPTD Taman Budaya NTT, Dra. Yohana Liwu Lango. Abraham dinilai kurang kreatif memanage pariwisata NTT. Di jabatan baru nanti, Abraham akan menempati kursi staf ahli Gubernur NTT.
Khusus Kepala BNN dan Sekretaris KPU NTT, Baperjakat yang diketuai Frans Salem masih berkoordinasi dengan BNN dan KPU pusat. Dalam surat bernomor: UP.013.1/1/22/JS/2012, tentang nama calon Sekretaris KPU NTT yang ditujukan kepada KPU pusat, Baperjakat mengusulkan tiga nama, yakni (1). Drs. Ubaldus Gogi, (2). Ir. Aleksander Sena (Kabid Ketersediaan dan Kerawanan Pangan pada Bimas NTT), dan (3). Herman Nai Liu (salah satu Kabid di Dinas Nakertrans NTT).
Sedangkan Eselon III terdapat lima pejabat yang pensiun, yakni Sekretaris Dinas Perikanan dan Kelautan NTT, Kepala UPT Sumber Daya Air wilayah Flores (Ir. Anselmus Say, ST), Kabag Mutasi Biro UP Setda NTT (Ny. Susan Ferdinandus, SH), Kabid Penyuluhan dan Pelayanan Badan Arsip NTT (Honorius S. Liko), dan Kepala UPT Dispenda wilayah Rote Ndao, Obed Kaha.Sementara pejabat eselon IV terdapat tujuh orang pensiun.
Sejumlah PNS yang kritis di lingkungan Pemrov NTT menilai penempatan pejabat yang dilakukan FREN selama ini syarat dengan muatan politik, dan mengabaikan aspek profesionalitas. Yang paling disorot adalah Karo Umum, Kanis Beka dan Karo Orta, Tinus Tausbele. Kedua pejabat ini dinilai jauh dari performa pejabat yang dibutuhkan untuk membantu tugas-tugas Gubernur dan Wakil Gubernur.
“Coba lihat itu dua pejabat. Bisa apa? Paling bisa hanya marah-marah staf,” ujar salah seorang pejabat eselon IV di salah satu dinas di lingkup Pemprov NTT.
Lalu apa komentar Kanis Beka? “Ah,,, biasa ade, itu karena mereka iri saja. Hahaha,,,” ucap Kanis Beka tanpa beban saat bincang-bincang dengan SERGAP NTT di Kantor Gubernur NTT, belum lama ini.
Sejauh ini penempatan pejabat terus menyulut kontroversi. Ada yang senang, ada pula yang sinis. Senang karena ambisi dan kepentingan terakomodir, sinis lantaran pejabat yang direkrut masih jauh dari harapan orang banyak.
Toh begitu Frans Salem mengaku, mutasi yang dilakukan selama ini, termasuk yang bakal dilaksanakan pada Februari 2012 sudah sesuai dengan kebutuhan dan aturan yang berlaku.
“Sama sekali tidak ada muatan politik. Mutasi ini tidak ada urusan dengan politik. Karena secara faktual, ada sejumlah pejabat yang pensiun. Ya,,, yang pensiun kan mesti diganti! Bahwa ada yang menafsir kalau mutasi syarat dengan kepentingan politik, silahkan saja,” tegas Frans Salem saat ditemui SERGAP NTT di ruang kerjanya, Rabu (25/1/12) lalu.
Hingga kini, kata Frans Salem, Pemprov NTT tetap komit tidak akan memperpanjang masa jabatan bagi pejabat yang telah memasuki usia pensiun. Karena itu, jabatan lowong akan diisi oleh pejabat baru melalui pengkajian Baperjakat dan restu Gubernur NTT sebagai pembina pegawai di lingkup Pemprov NTT.
“Setelah pengkajian final, dan disetujui pak gubernur, maka kita akan laksanakan proses mutasi. Kita berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama, mutasi sudah bisa dilakukan. Ya,, Februari inilah kalau bisa,” paparnya, berharap.
Untuk mengisi jabatan eselon II yang lowong, lanjut Frans Salem, terdapat sejumlah pejabat eselon III yang dipromosikan. Begitupun dengan eselon III dan IV.
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya membenarkan kalau mutasi bakal dilaksanakan pada Februari 2012. Selain untuk penyegaran, mutasi ini juga untuk mengisi jabatan yang lowong.
“Ya,,, kita sedang mengkaji. Kita harapkan, dalam bulan Februari ini, mutasi sudah bisa dilaksanakan,” ujar Frans Lebu Raya kepada SERGAP NTT, Rabu (25/1/12).
Sejumlah pejabat yang meminta nama mereka tidak ditulis berharap mutasi kali ini, Gubernur mengedepankan profesionalitas dan kemampuan kerja para pejabat. Sehingga tidak terkesan politis dan suka atau tidak suka.
By. CHRIS PARERA
  

Kisah PNS Asal Rote Ndao Yang Dipermainkan Laki-laki


sergapntt.com [KUPANG] – Sedih berkepanjangan,,! Begitulah yang dirasakan Rini (26) —nama samaran—. Pasalnya, perjalan cinta gadis asal Kabupaten Rote Ndao yang kini berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao itu tak pernah mencapai titik akhir. Koq bisa?
Siapa sih yang ingin gagal dalam percintaan? Tidak ada kan! Begitu juga dengan Rini. Namun ia tak menyangka kisah cintanya bakal selalu kandas ditengah jalan. Setiap kali ia merajut kasih bersama pria pujaannya, setiap kali pula ia dikhianati.  
Sebagai anak perempuan satu-satunya dari empat bersaudara, sejak kecil Rini sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Semua permintaannya pasti selalu dituruti. Karena rasa sayang yang besar itupula, sampai-sampai kehidupan asmaranya juga diatur oleh orang tuanya. Ya,,, waktu dibangku SMA, Rini dilarang untuk berpacaran. Orangtuanya takut kalau-kalau Rini salah bergaul.
Ia baru mulai mengenal dunia pacaran setelah taman SMA dan melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Kota Kupang, walaupun orang tuanya telah mewanti-wanti agar selama kuliah ia tidak boleh berpacaran.
Di Kupang Rini indekost dibilangan Penfui. Ia dikenal sangat cepat beradaptasi dengan teman dan lingkungan barunya. Apalagi teman sekampusnya juga banyak yang seasal dengannya.
Di kampus itu Rini kemudian berkenalan dengan Dani, sebut saja begitu. Mulanya, hubungan keduanya hanya sebatas teman. Namun saling suka mulai merasuk hati tatkala ia bersama Dani sama-sama menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Silu, Kabupaten Kupang. Cinlok kali ya,,,! Pelan tapi pasti saling suka tumbuh menjadi rasa cinta yang membara. Tak pelak Dani pun langsung menyatakan cinta. So pasti langsung diterima. Keduanya akhirnya resmi berpacaran.
Hari-hari mereka lalui dengan canda tawa, romantisme dan semua yang indah-indah layaknya orang lagi mabuk asmara. Namun itu tidak berlangsung lama. Sebab, usai diwisuda, Rini dijemput orang tuanya dan kembali ke kampung halamannya. Sedangkan Dani menetap di Kupang. Sejak saat itu mereka terpaksa menjalan hubungan asmara jarak jauh. Jika rindu datang menggigit, teleponlah obatnya. Sekali tersambung, ngobrolnya bisa tiga sampai empat jam. Begitulah yang terjadi selama tiga tahun.
Hubungan mereka terjalin normal hingga Rini diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) di Pemkab Rote Ndao dan Dani diterima sebagai guru Agama disalah satu SMP di Kota Kupang.
Namun tanpa disadari Rini, ternyata selama mereka berjauhan, diam-diam Dani menjalin cinta dengan perempuan lain. Kedok cinta segitiga ini akhirnya diketahui Rini ketika ia mengikuti pra jabatan CPNSD-nya di Kota Kupang. 
Ceritanya, usai mengikuti pra jabatan, Rini tak langsung pulang ke Rote Ndao. Ia tetap menginap di hotel yang menjadi tempat kegiatan pra jabatannya. Maksudnya ingin plesir satu dua hari lagi di Kupang, sekaligus bisa bertemu dan bermanja-manja dengan Dani. Namun sayang, harapan itu tak pernah terwujud. Yang terjadi justru sakit hati yang hebat.
Sehari menjelang kepulangannya ke Rote, Rini tiba-tiba dikontak oleh Dani. Singkat kata mereka pun bertemu. Didahului basa-basi, tiba-tiba Dani meminta maaf sekaligus pamitan pada Rini karena ia akan menikah dengan perempuan yang dipacarinya selama Rini berada di Rote Ndao.
Byiarrrrrrrrrrr, bagai disambar petir, Rini spontan jadi kaku. Mulutnya terkatup rapat tak bergerak. Airmatanya menetes tak karuan. Suasana jadi bisu mencekam. Apalagi ketika Dani dengan berani mengatakan sejak seminggu terakhir ia telah menjalani persiapan akad nikah di gereja. Tak lama berselang Dani pun pamit. Ia beralasan calon istrinya sedang menunggu di rumah untuk ke sama-sama gereja guna mengikuti sesi pengembalaan.
Sebenarnya Rani tak kuat melepas Dani pergi. Namun ia tak habis pikir kenapa ketulusan cintanya dibalas dengan  kilaf yang tak bisa dimaafkan. Akhirnya, ia pasrah. Dengan hati yang diliput kesedihan, keesokan harinya ia pulang ke Rote Ndao. Galau bercampur asa yang terputus sempat menghampiri dirinya. Namun dengan doa ia akhirnya kuat. Lambat laun ia bisa melupakan Dani.
Seiring berjalannya waktu, dan juga peran teman akrabnya, Rini memulai membuka diri bagi pria lain. Keseringannya datang berlibur di Kupang membuat ia bertemu dengan Oskar, seorang karyawan PNPM Mandiri yang bertugas diwilayah Kabupaten Kupang.
Berangkat dari pengalaman sebelumnya, Rini tidak ingin menjalani hubungannya terselubung dari pantauan keluarga. Setelah resmi berpacaran, Rini langsung memperkenalkan hubungan mereka pada orang tuanya. Tapi niat dan kedatangan Oskar tidak menuai respon. Menurut orang tua Rini, penampilan Oskar yang cuek menunjukan sosok pribadi yang tidak pantas menjadi menantu mereka. Apa lagi diketahui Oskar adalah alumni Fakultas Tehknik yang identik dengan berkepribadian yang kurang baik.
Namun anggapan orang tunya itu tak mengurangi rasa sayang Rini pada Oskar. Perlahan ia berusaha menunjukan pada orang tuanya kalau apa yang dikuatirkan selama ini,,, itu salah!
Namun satu kebiasaan Oskar yang buruk adalah jarang ke gereja. Karena itu Rini berusaha menutupi agar tidak diketahui orang tuanya. Maklum, orang tuanya sangat sensitif dengan masalah yang satu itu.
Ketika didesak agar ke gereja, Oskar selalu memberi 1001 alasan. Termasuk berdalih tidak memiliki pakaian gereja. Untuk kasus yang terakhir, Rini nyatakan sanggup menyelesaikannya. Ditemani Oskar, keduanya mulai keranjingan mendatangi toko pakaian. Seiring hari berganti, setiap ada rejeki, Rini pasti membelikan pakaian baru untuk Oskar. Tapi sayang, prilaku malas ke gereja tidak pernah berubah.  
Suatu ketika, tiba-tiba Oskar memberitahu kalau ia baru saja mendapat surat pindah penugasan ke pulau Lembata.  Tanpa berprasangka yang aneh-aneh, Rini pun melepas kepergian Oskar. Praktis hubungan mereka hanya terjalin via telepon dan facebook. Oskar berjanji, ditempat tugas yang baru ia tidak akan berbuat yang macam-macam. Rini semakin yakin setelah tiga bulan berlalu, Oskar mulai rajin mengirim uang buatnya. Sebaliknya, untuk memotivasi Oskar agar ke Gereja, Rini selalu mengirim pakaian baru.
Selama Oskar bertugas di Lembata, Rini tak pernah punya firasat buruk.  Apalagi setelah didahului dengan janjian, di bulan November 2011 lalu keduanya sepakat bertemu di Kupang. Dalam kebersamaan yang hampir seminggu itu keduanya bahkan sempat melihat beberapa bidang tanah untuk dibeli. Maksudnya, setelah menikah nanti tinggal dibuatkan rumah.
Siapa sangka pertemuan itu ternyata menjadi pertemuan terakhir bagi Rini. Setelah kembali ke Lembata, Rini tak pernah bertemu Oskar lagi. Bahkan lewat telepon sekalipun. Sebagai perempuan Rini mulai cemas. Tapi ia tak mau putus asa. Tiap hari ia terus berusaha menghubungi Oskar via handphone. Tapi sayang nomor yang dituju tidak kunjung aktif. Tiba-tiba suatu hari ia dihubungi seseorang. Ketika telepon berdering, ia melihat nomor panggilan masuk tidak dikenalinya. Setelah menahan sejenak, Rini kemudian menerima panggilan itu. Ya,, Tuhan ternyata itu bukan Oskar. Dari balik telepon terdengar seorang wanita bersuara lantang, “Saya ini istri Oskar. Saya sudah hamil 6 bulan”. Waduh,,,! Bagai disambar geledek, saat itu Rini nyaris pingsan. Namun ia berusaha kuatkan hati.
Untuk memastikan kebenaran kabar menyakitkan itu, Rini kembali berusaha menghubungi Oskar. Namun nomor handphonenya tak pernah aktif. Kini Rini benar-benar pasrah dan tetap berharap suatu saat nanti ada laki-laki yang serius mencintainya dengan segala kekurangan yang ia miliki.
Kebahagiaan bukanlah seni membangun kehidupan yang bebas dari masalah. Kebahagiaan adalah seni untuk merespons dengan baik ketika masalah menghampiri kita”.
By. JL

Pejabat Jadi Calo Program


sergapntt.com [WAINGAPU] – Isu adanya oknum pejabat yang sering melakukan praktek percaloan pada program yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) untuk kepentingan pribadinya mendapat respon Bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora.
Mantan Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Pemkab Sumba Timur itu menegaskan, pihaknya akan segera mengevaluasi pejabat dimaksud.
“Saya sudah dengar informasi bahwa ada oknum pejabat yang melakukan praktek percaloan terhadap program pembangunan yang kita canangkan. Oknum pejabat tersebut akan menjadi catatan tersendiri buat saya untuk selanjutnya dievaluasi dan bila perlu dilakukan pergantian. Saya tidak ingin program pembangunan yang dijalankan menjadi terhambat karena ulah mereka yang lebih mementingkan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan daerah ini,” paparnya.
Menurut ketua SOKSI NTT ini, pihaknya masih tetap dengan komitmen awal memberantas praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di Sumba Timur.
“Kalau masih ada staf saya baik itu pejabat eselon II, III dan IV  yang melakukan praktek seperti itu (percaloan, red), maka pejabat dimaksud tidak bisa kita pertahankan pada posisinya. Pejabat tersebut harus digeser dari posisinya karena masih banyak staf saya yang memenuhi syarat untuk dipromosikan dan bisa bekerja sesuai tupoksi pada jabatan tersebut,” tandasnya.
Sikap tegas Bupati Gidion Mbilijora mendapat apresiasi dari Ketua DPRD Sumba Timur, Palulu P Ndima.
Menurut Palulu, Kabupaten Sumba Timur tidak akan maju bila ada oknum pejabat yang masih berprilaku seperti itu. Sebabnya demikian Palulu yang juga Ketua DPD II Partai Golkar Sumba Timur itu, langkah tegas Bupati Gidion Mbilijora untuk segera mengevaluasi pejabat dimaksud sangat tepat dan beralasan.
By. MAX

Jalan Menuju PT. Cendana Indo Perss Ditutup Warga


sergapntt.com [KALABAHI] – Pemilik tanah, Darwin Sanga kembali menutup jalan masuk ke PT. Cendana Indo Perss. Penutupan jalan masuk ke lokasi perusahaan mutiara itu disebabkan PT Cendana Indo Perss   tidak pernah merealisasi hasil kesepakatan tahun 1998.
Saat itu, PT Camar Sentosa sebelum dialihkan ke PT Cendana Indo Perss sudah beraktivitas satu tahun, tapi  pihak perusahaan hanya bisa mencari keuntungan, tetapi tidak pernah menyelesaikan kewajibannya kepada pemilik tanah.
Sejak, Senin (23/1) pemilik tanah menutup jalan, sehingga karyawan yang bekerja di PT Cendana Indo Perss tidak bisa masuk dengan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Pekerja bisa masuk ke lokasi perusahaan jika berjalan kaki.
Kepada wartawan, Darwin mengatakan, jalan yang ia tutup adalah jalan utama masuk ke lokasi kegiatan perusahaan, ia tidak menutup jalan umum yang dilalui masyarakat.
“Saya tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Ini urusan kami pemilik tanah dengan perusahaan. Saya tutup juga bukan menolak, tapi saya tutup untuk ada suatu kesepakatan antara perusahaan dengan kami pemilik tanah,” tegasnya.
Aksi penutupan jalan ini dilakukan oleh semua warga, sehingga membuat situasi tegang. Karena semua jalan masuk ke perusahaan di tutup oleh warga RT 05 RW 03 Kelurahan Moru Kecamatan Alor Barat Daya.
Darwin menduga, semua jalan ditutup dalangnya dari PT Cendana Indo Perss. Karena, pimpinannya akan berada di Alor, Jumat (27/1), sehingga perusahaan buat ulah dan jalan masuk segera di buka.
Karena semua ruas jalan yang masuk ke lokasi perusahaan di tutup, sehingga sekira pukul 15.00 Wita, aparat Polres Alor turun  ke TKP  mengunakan mobil Dalmas dibawah pimpinan Kabag OPS Kompol Kristofel Bagaisar.
Aparat yang turun saat itu dilengkapi dengan senjata. Untuk mengamankan TKP, saat turun aparat Polres Alor membongkar blokade yang dilakukan oleh warga. Saat itu situasi cukup tegang  antara pemilik tanah. Situasi yang memanas itu akhirnya diamankan Aparat Polres Alor. 
Darwin mengatakan, jalan yang ada bukan jalan desa atau jalan dalam kota kecamatan, tapi jalan itu adalah jalan masuk ke lokasi perusahaan. Karna itu, pemerintah kecamatan meminta agar tanah milik masyarakat diserahkan kepada pemerintah kecamatan dengan pertimbangan untuk kepentingan perusahaan.
Pemerintah kecamatan juga menyadari kalau tidak bisa melakukan ganti rugi tanah milik masyarakat, maka  dalam berita acara jalan  itu  dibuka untuk kepentingan perusahaan, maka perusahaan harus  melakukan pembayaran tanda ucapan terima kasih kepada pemilik tanah.
Darwin mengatakan, sejak tahun 1998 hingga sekarang pihak perusahaan belum pernah melakukan ganti rugi tanah milik yang ada.  “Akibatnya saya dirugikan, sementara pihak perusahaan mencari keuntungan, maka alangkah baiknya jalan yang ada ini ditutup. Saya sudah beberapa kali melakukan pendekatan kepada pihak perusahaan, namun saat mau menemui pihak perusahaan selalu saja dengan alasan kesibukan. Koordinasi ini saya lakukan sudah empat kali. Tetapi  manajemen perusahaan tidak menghiraukan sehingga saya tutup jalan.  Saya tutup bukan baru sekali tapi sudah kali yang keempat,” ujarnya.
Darwin mengaku sangat kecewa dengan manajemen PT Cendana Indo Perss yang dinilai tertutup sekali. Karena, melakukan kontrak kerja dengan kelurahan tanpa melibatkan masyarakat pemilik tanah. Dalam nota kesepakatan, hanya termuat, perusahaan hanya membayar  lokasi nelayan per bulan sebesar Rp 1,3 juta, tapi dibayar secara triwulan.
Darwin meminta kepada pimpinan perusahaan agar segera melakukan pergantian semua manejer yang ada, karena tidak pernah menghargai mereka pemilik tanah. Jika pimpinan perusahaan tidak melakukan pergantian, maka jalan yang ada akan kembali ditutup. “Saya masih tetap ingat hasil kesepakatan sebelumnya. Perusahaan berjanji akan membangun jalan aspal, tapi sampai dengan saat ini belum dibangun. Bukan itu saja, tapi perusahaan juga pernah menjanjikan listrik. Kami tidak pernah menuntut perusahaan. Kita minta perhatian dari perusahaan terhadap kami para pemilik tanah ternyata pihak perusahaan tidak mampu untuk bayar,” katanya.
Senada dengan itu, Irwan Abdul Kadir mengatakan, perusahaan seenaknya mendapat keuntungan besar, sementara mereka pemilik  tanah dirugikan. “Coba ada ucapan terima kasih dari perusahaan untuk kita bayar pajak, ya tidak ada persoalan. Ini tidak ada sama sekali. Perusahaan jangan adu domba antara kita masyarakat. Jalan yang ada ini bukan jalan desa atau jalan kecamatan. Jalan ini dibuka  akibat kepentingan perusahaan. Karena itu perusahaan punya kewajiban untuk membayar tanah milik masyarakat yang dibuka untuk kepentingan perusahaan,” jelasnya.
Irwan menegaskan, perusahaan seenaknya membuat nota kesepakatan dengan pemerintah kelurahan, tapi tidak melibatkan masyarakat pemilik tanah.
Sementara, Kabag OPS Polres Alor Kompol Kristofel Bagaisar meminta agar persoalan tersebut diselesaikan di Polres. “Pemilik tanah maupun perusahaan kita akan panggil untuk bisa memberikan keterangan terkait dengan persoalan yang ada ini.” ujarnya.
Dijelaskan, polisi adalah mitra masyarakat, karena itu pengeluhan masyarakat akan ditampung dan diselesaikan di Polres Alor.
By. AL