2012 Pemkab Kupang Tak Terima CPNSD


sergapntt.com [KUPANG] – Tahun 2012 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang tidak menerima calon pegawai negeri sipil daerah (CPNSD). Hal ini sesuai ketentuan pemerintah pusat dengan diberlakukannya moratorium.
Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kupang, Hendrik Paut kepada wartawan pekan lalu menegaskan, walau tidak membuka penerimaan CPNSD, tapi Pemkab Kupang akan mengangkat tenaga kontrak yang sudah masuk dalam data base tahun 2005 yang masih aktif hingga kini yang sudah diverifikasi Badan Kepegawaian Nasional (BKN).
“Pemberlakukan moratorium oleh pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Kupang tahun 2012 tidak membuka penerimaan CPNSD. Yang ada hanya pengangkatan tenaga kontrak yang sudah masuk data base tahun 2005 kategori satu yang sudah diverifikasi oleh BKN,” jelasnya sembari menguraikan, tenaga kontrak yang masuk data base tahun 2005 berjumlah 80-an orang.
Sementara, ditanya tentang saran DPRD Kabupaten Kupang untuk penerimaan tenaga kontrak harus melalui satu pintu yakni Bagian Umum, Hendrik menjelaskan, persoalan tersebut sudah mengemuka pada sidang tahun lalu dan sudah dijelaskan secara rinci kepada dewan. Pada pendapat akhir fraksi maupun jawaban pemerintah sudah disepakati bahwa terhitung mulai tahun 2012 kalau memungkinkan ada penerimaan tenaga kontrak harus dilakukan satu pintu.
Sedangkan bagi SKPD yang sudah mengangkat tenaga kontrak sendiri, sudah dipahami semua unsur bahwa itu kesalahan bersama. Sebab, bukan saja tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab DPRD, maka biarkan terus berlanjut.
“Persoalan satu pintu itu memang sudah muncul sejak sidang tahun lalu, tapi kita sudah sepakat baik dewan maupun pemerintah untuk tahun 2012 ini kalau memungkinkan ada penerimaan tenaga kontrak, maka harus dilakukan satu pintu. Yang sudah berjalan, itu sudah dipahami oleh semua unsur bahwa itu kesalahan bersama,” tegasnya.
Menurutnya, saat ini tenaga kontrak yang ada merupakan anak-anak Kabupaten Kupang, maka sebagai orang tua yang baik harus meluruskan aturan yang benar dan memanfaatkan mereka secara efektif dan efisien.
By. LITYA

Kakanwil Depag NTT Akan Ditindak Menag RI


sergapntt.com [KEFA] – Kasus dugaan perselingkuhan yang melibatkan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Depertemen Agama (Depag) Provinsi NTT, Fransiskus Sega mendapat perhatian serius Kementerian Agama RI. Kasus ini akan segera ditindaklanjuti Menteri Agama RI jika Frans Sega terbukti dalam proses hukum.
“Kami tunggu saja pembuktian hukumnya. Kalau terbukti pasti akan ada tindakan tegas kepada pejabat yang bersangkutan,” tandas Dirjen Bimas Katolik Kementeriaan Agama RI, Antonius Samara Duren usai memberikan ceramah bertema Kateketik dan Pembentukan Karakter Bangsa di gedung serbaguna Biinmaffo, belum lama ini.
Kasus itu kata Antonius, secara resmi belum dilaporkan oleh pihak manapun kepada Menteri Agama RI. Informasi kasus itu masih bersifat sepihak sehingga perlu ada keseimbangan informasi dari kedua belah pihak.
Meski  demikian, Antonius mengaku kaget dengan mencuatnya informasi kasus amoral yang melibatkan orang nomor satu di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi NTT.
“Saya sendiri terkejut setelah baca berita di koran. Jadi kasus itu saya baru tahu baru-baru ini,” ungkap Antonius.
Mengenai jenis hukuman yang akan diberikan kepada Kakanwil Kemenag Provinsi NTT, Antonius enggan berkomentar mendahului pembuktian secara hukum yang sedang dijalani kedua belah pihak. Alasannya, jika pihaknya lebih awal memberikan pernyataan hukuman  kepada Fransiskus, akan cenderung mengadili yang bersangkutan dan keluarganya.
“Ini menyangkut nasib orang banyak, tidak hanya istrinya tapi keluarga besarnya. Karena sampai hari ini kami belum mendapat klarifikasi dari yang bersangkutan sehingga saya belum bisa berkomentar bahwa dia itu salah atau benar. Jadi tunggu saja, kalau sudah pembuktian hukum pasti ada tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku,” ujar Antonius.
By. EPS

Penderita ISPA dan Diare Meningkat


sergapntt.com [OELAMASI] – Musim penghujan yang terjadi di wilayah Kabupaten Kupang dan sekitarnya mengakibatkan, penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare terus mengalami peningkatan.
Kebanyakan pasien yang dirawat di Puskesmas Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang mengalami gejala ISPA dan Diare. Dari hasil diagnosa dokter, kebanyakan pasien diare dan ISPA merupakan efek dari musim penghujan.
Kepala ruang inap Puskesmas Oesao, Yanti kepada wartawan di ruang kerjanya mengatakan, selama musim penghujan, pasien diare dan ISPA terus meningkat.
“Dalam bulan Januari 2012 pasien penderita ISPA mencapai 223 orang yang ditangani puskesmas. Sementara untuk pasien diare sebanyak 45 orang,” beber Yanti.
Yanti menjelaskan, pasien penderita ISPA dan diare kebanyakan dialami anak-anak dan orang dewasa. “Rata-rata yang mereka  keluhkan hampir sama yaitu mengalami sesak nafas dan sering buang air besar,” ungkap Yanti.
Dijelaskan, penderita diare banyak disebabkan penggunaan air minum. ‘’Untuk pasien diare rata-rata disebabkan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan dan pola makan yang masih kurang. Kondisi ini diperparah dengan musim hujan yang terjadi,” akunya.
Sementara itu, dokter Puskesmas Oesao, Yuvi Wahyudi yang ditemui terpisah menjelaskan, pasien penderita ISPA rata-rata disebabkan oleh virus dan bakteri, sehingga mudah terkena pada anak kecil Virus dan bakteri lebih banyak menyerang pada anak kecil. Pasalnya, pertahanan tenggorakan sangat mudah terkena dibandingkan orang dewasa.
“Untuk itu, terkait dengan hal ini kita selalu memberikan himbauan kepada pasien yang datang berobat ke puskesmas untuk selalu memperhatikan kebersihan lingkungan. Sehingga anak jangan mudah terkena penyakit tersebut. Apa lagi saat ini musim penghujan,” katanya.
By. ENYA

Polisi Sejuta Kawan Dilaunching


sergapntt.com [ATAMBUA] – Untuk pertama kalinya di NTT, program polisi sejuta kawan satu desa satu polisi diluncurkan. Program ini dirancang dan diluncurkan oleh Polres Belu dibawah kepemimpinan Kapolres, AKBP Darmawan Sunarko.
Peluncuran program tersebut dihadiri Bupati Belu Joachim Lopez, Dandim Belu Letkol (Kav) Joni Harianto, Ketua Pengadilan Negeri Atambua, tokoh masyarakat, tokoh agama, sejumlah pemuda-pemudi, siswa-siswi, sopir dan ojek.
Bupati Belu, Joachim Lopez dalam sambutannya sebelum meluncurkan program tersebut mengemukakan program ini merupakan sebuah terobosan penting dan inovatif oleh Polres Belu dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban ditengah masyarakat, termasuk dalam menegakkan hukum. Program yang diluncurkan merupakan ide bagus dan tidak merupakan rutinitas dan konvensional. “Ini merupakan program terobosan dan inovatif serta tidak konvensional,” katanya.
Joachim mengemukan tiga hal penting terkait program tersebut diantaranya, dengan program itu polisi mengajak masyarakat untuk bermitra dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban ditengah masyarakat.
“Program ini sebenarnya polisi mengajak masyarakat bermitra supaya tugas menjaga keamanan dan ketertiban berjalan dengan baik,” paparnya.
Pada poin kedua, menilai program yang diluncurkan bermaksud untuk menunjukan bahwa institusi kepolisian tidak eksklusif melainkan terbuka untuk semua lapisan masyarakat, sehingga tidak ada gap antara kepolisian dan masyarakat. “Masyarakat tidak perlu takut untuk datang ke Polres atau lainnya, sebab polisi sudah terbuka bagi semua orang,” paparnya.
Pada poin ketiga, program tersebut mengisyratkan kepada masyarakat untuk menjadi polisi untuk diri sendiri dan lingkungan di mana masyarakat tinggal dan menetap. Tugas polisi jelasnya, akan menjadi mudah ketika semua warga menjadi penjaga keamanan dan ketertiban ditengah masyarakat.
Ia mengharapkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat baik kota hingga ke desa dalam mendukung program polisi sejuta kawan satu desa satu polisi di Kabupaten Belu yang dilaksanakan Polres Belu. Jika program ini berjalan, tentunya keamanan dan ketertiban hidup yang diharapkan dapat tercapai.
Hanya saja dia mengingatkan agar dengan program itu, tidak ada yang mereduksi tugas polisi sebagai penegak hukum. Dia juga mengharapkan agar dengan program itu kepolisian meninggalkan pendekatan-pendekatan yang keras terhadap masyarakat.
Sementara itu, Kapolres Belu AKBP Darmawan Sunarko dalam sambutannya mengatakan, tujuan dari program tersebut antaranya agar hubungan antara polisi dan masyarakat dapat lebih dekat dan akrab karena polisi bukan saja penegak hukum, melainkan juga sebagai pengayom serta merupakan mitra masyarakat dalam menjadikan situasi yang kondusif.
Disebutkan, dengan program itu masyarakat dan polisi dapat secara bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban dilingkungan masing-masing. Dengan program itu ada kerja sama sehingga sekecil apapun informasi yang terjadi dilingkungan dapat disampaikan kepada aparat terdekat untuk ditangani. Jika masalah kecil dibiarkan, pastinya akan menyebabkan masalah yang lebih besar.
Dia mengharapkan agar masyarakat terus membangun kerja sama agar program polisi sejuta kawan berjalan dengan baik dan tujuan yang diharapkan tercapai.
Usai launching program tersebut, langsung diikuti dengan penempelan stiker pada sepeda motor dan mobil yang intinya adalah kampanye keselamatan di jalan raya bagi sopir dan ojek di Kota Atambua dan sekitarnya.
By. ATB

Makanan Kecil dari Rumput Laut


sergapntt.com [MENIA] – Janji pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja informal dengan mendidik dan melatih masyarakat lewat berbagai keterampilan kini semakin menampakkan hasil. Sejumlah kelompok masyarakat sudah mulai mengolah rumput laut menjadi makanan kecil yang renyak dan gurih seperti dodol, kripik, stik dan berbagai jenis makanan kecil lainnya.
Cita rasa dari makanan yang berbahan dasar rumput laut ini juga beraneka ragam seperti rasa nangka, rasa lemon dan rasa pisang sehingga bau rumput laut tidak terasa lagi.
Yosefin Ratnawati Tome, salah satu pelatih pembuatan makanan dari rumput laut mengatakan, pemerintah sudah membentuk kelompok-kelompok di kecamatan dan desa di mana anggota kelompoknya sudah dilatih bagaimana mengolah rumput laut dalam bentuk makanan kecil.
“Memang sudah ada masyarakat yang mencoba membuat makanan dari rumput laut, namun mereka tidak mampu menghilangkan bau rumput laut serta hasil olahannya tidak renyah. Setelah kami mengikuti pelatihan di luar dengan difasilitasi pemerintah, maka sekarang kita sudah bisa membuat makanan kecil yang gurih dan tidak kalah dari makanan kecil buatan pabrik. Sekarang sudah banyak kelompok-kelompok di desa maupun kecamatan yang difasilitasi oleh pemda untuk memproduksi makanan kecil yang berbahan dasar rumput laut ini. Mereka kita latih dan pemerintah membantu dengan sedikit modal pertama,” ujarnya.
Untuk itu, maka masyarakat yang tergabung dalam kelompok-kelompok pembuatan makanan kecil dari rumput laut ini sudah bisa menghasilkan uang dari hasil olahan mereka.
“Sekarang tinggal pemerintah membuat label serta mengurus izin dari BPOM Kupang, sehingga bisa diproduksi secara besar-besaran. Setiap hari hasil olahan kita sangat laris, padahal kita belum menjual secara bebas. Yang paling laris yaitu dodol, kripik dan stik rumput laut karena selain harganya murah, rasanya juga gurih,” tambahnya.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat melihat kegiatan pelatihan pembuatan rumput laut di Seba mengatakan, hasil olahan rumput laut yang dibuat kelompok cukup membanggakan karena  rasanya tidak berbeda dengan makanan pabrik. Jika ini sudah digerakkan secara besar-besaran, maka akan menjadi lapangan kerja informal bagi masyarakat terutama kaum perempuan di Sabu sehingga bisa meningkatkan ekonomi keluarga.
“Kita memiliki bahan baku berupa rumput laut yang melimpah disini. sekarang tinggak diurus izin produksinya dan dibuatkan label. Kita sudah perintahkan dinas teknis untuk mengurus itu. Industi rumah tangga seperti inilah yang akan menggeliatkan perekonomian kita kedepan. Saya selalu mengatakan bahwa jangan terlalu bermimpi untuk menjadi PNS karena dengan keterampilan seperti ini sudah bisa menghasilkan uang yang cukup,” ujarnya.
Untuk itu, Marthen berpesan agar mutu serta kebersihan makanan hasil olahan harus menjadi perhatian utama sehingga tidak kalah bersaing serta mendapat kepercayaan dari konsumen. “Kalau dulu anak-anak kita jajan di sekolah itu semuanya hasul pabrik, maka sekarang mereka harus menikmati buatan tangan terampil dalam daerahnya sendiri. Berbagai penganan kecil ini menjadi makanan yang bergizi dan bisa menjadi oleh-oleh dari Sabu Raijua,” ujarnya.
By. SE