Uji “Ngebut” di Jalur Suksesi Nagekeo


sergapntt.com [MBAY] – Hiruk pikuk Pemilukada Kabupaten Nagekeo periode 2013-2018 mulai terasa. Hampir semua kandidat bakal calon (balon) bupati dan wakil bupati mulai rajin menemui rakyat. Tak peduli itu di kampung-kampung, atau di pegunungan sekalipun. Harapannya hanya satu, yakni agar dikenal, dicintai lalu dipilih rakyat saat hari “H” pemilukada tiba.
Pluit Suksesi Nagekeo memang belum ditiup Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Nagekeo. Namun sesi cari muka dengan rakyat sudah mulai dijalankan sejumlah kandidat. Pertemuan demi pertemuan terus digelar. Tak peduli pagi, siang, sore ataupun malam. Uang pun mengalir bagai air. Mulai dari urusan konsolidasi massa hingga pertemuan terjadi, semua biaya ditanggung kandidat.
Ya,, kiat tebar pesona ini selalu memakan biaya yang tidak sedikit. Bahkan bisa mencapai milyaran rupiah. Tapi siapa peduli? Kalau niat dan ambisi sudah merasuki pikiran! Hahay,,, uang habis bisa dicari lagi, yang penting sekarang rebut dulu hati rakyat! Begitulah kira-kira semangat yang membuming dipikiran setiap kandidat.
Rata-rata yang paling bersemangat menemui rakyat adalah kandidat yang selama ini jauh tinggal, plus jarang pulang kampung. Praktis mereka tidak dikenal rakyat. Nama mungkin iya, tapi sosok jauh dari bayang. Bagi rakyat, itu tak masalah! Yang penting punya niat untuk menemui mereka, lalu bawa sedekah untuk makan bareng saat muka bertemu muka.
Kesempatan ini sering dimanfaatkan para pelaku politik praktis, terutama yang menawarkan diri sebagai tim sukses. Bagi kelompok ini, pemilukada adalah ajang meraup untung sebanyak-banyaknya. Bila perlu kantong kandidat dikuras habis.
Yang sering diperdaya tim sukses merk cari untung adalah kandidat yang doyan ‘makan puji’. Dengan pola Asal Bapak Senang (ABS), tim ini biasanya mudah menguras uang milik sang kandidat.
Ketika hari “H” tiba, dan kandidat perahannya dinyatakan kalah, tim yang satu ini biasanya tak bakalan lagi tunjukan batang hidungnya. Tapi jika menang, mereka seolah pahlawan yang membawa kemenangan. Urusan kedepan pun jadi panjang. Mereka seperti Power Rangers, seketika berubah jadi bupati dan wakil bupati bayangan. Jika ditegur, urusannya bakal rumit. Koran mulai dipakai untuk mengganyang ‘tuan’-nya. Hahahayyyy, lagu lama,,,,!
Karena itu, sejumlah pengamat politik selalu memberi warning bagi para kandidat, waspada, waspadalah, karena kejahatan datang bukan hanya karena niat semata, tapi juga karena kesempatan. Wah  udah kayak Bang Napi aja nih, xixixixixi!!!
Terlepas dari itu semua, kini para kandidat sedang menjajal takdir. Bagi mereka, berjuang merupakan keharusan, soal kemenangan tergantung Yang Kuasa.
Yosef Juwa Dobe Ngole
Dilintasan pemilukada Nageko kali ini bakal hadir figur-figur yang biasa adu kuat di arena politik, sebut saja Drs. Piet Nuwa Wea, Yosef Juwa Dobe Ngole, Servasius Phodi, S.H, dr.Yohanes Don Bosco Do, M.Kes, Drs. Elias Djo dan  Andreas Dua.
Soal semangat semua sama, yakni ingin membangun dan menggiring masyarakat Nagekeo keluar dari himpitan kemiskinan. Soal tua dan muda, sesungguhnya bukan alasan utama agar seseorang dilarang ikut ngebut di lajur suksesi. Muda belum tentu brilian, tua tak mesti dicap tak pantas lagi. Begitulah kata orang bijak. Sebab, sepakat atu tidak, yang tualah yang paling berpengelaman, bahkan paling tahu dari sudut mana solusi pembangunan yang mesti ditawarkan, dan disudut mana pembangunan mesti diakhiri.
Kritik boleh, tapi mesti terukur agar tidak bias menjadi fitnah dan caci maki. Sebab, banyak contoh di negara ini, sang kritikus bahkan lebih jahat ketika ia menjadi seorang pemimpin atau pejabat negara. Ingat diri, ego kelompok selalu jadi ideologi utama dalam memimpin. So suci padahal penjilat. So idealis padahal otak penuh dengan pikiran jorok yang merongrong stabilitas.
“Ini koreksi, you terima atau tidak, gue ngga ada urusan. Apalagi you tersinggung, gue ngga peduli coy,,,” celetuk si Petruk kala melihat sikap temannya yang tiba-tiba berubah jadi orang baik.
Upsss! Mari kita kembali ke soal pemilukada Nagekeo. Yang lain masih malu-malu menyatakan sikap maju atau tidak di panggung pemilukada kali ini. Tapi Yosef Juwa Dobe Ngole sudah teguh pendirian bakal maju sebagai Calon Bupati Nagekeo. Ia digadang-gadang akan berpasangan dengan Ketua DPC PDIP Nagekeo, Gaspar Batubata. “Iya ade, saya maju,” ujar Os Juwa —begitulah Yosef Juwa Dobe Ngole biasa dipanggi— saat dihubungi SERGAP NTT via akun facebboknya, Jumat (27/1/12).
Begitupula dengan Piet Nuwa Wea. Mantan Bupati Kabuaten Ngada ini disebut-sebut akan berpasangan dengan Kepala Dinas Keuangan dan Aset Daerah Nagekeo, Drs. Laurensius Pone.
By. CHRIS PARERA

Sepatu PM Australia Hilang Sebelah Saat Dikepung Orang Aborijin


sergapntt.com [CANBERRA] – Perdana Menteri Australia, Julia Gillard harus dilarikan para pengawalnya ke tempat yang aman setelah dikepung oleh sekelompok pengunjuk rasa asal suku Aborijin pada Kamis (26/1/12).
Gillard dan pemimpin oposisi Tony Abbott sedang ambil bagian dalam acara Hari Nasional Australia di sebuah restoran di ibukota Australia, Canberra, ketika sekitar 500 orang Aborijin mengepung gedung tersebut.
Mereka juga memukul-mukul jendela. Sekitar 50 polisi kemudian mengawal Julia Gillard dan Tony Abbot keluar dari pintu samping ke mobil.
Gillard kehilangan sepatu ketika ia dan Tonny Abbot menyelamatkan diri.Tony Abbot tampaknya menjadi sosok yang menjadi incaran pemrotes yang meneriakkan kata-kata “malu” dan “rasis” di luar restoran.
PM Gillard tidak mengalami luka dan setelah insiden tersebut. “Satu-satunya hal yang membuat marah saya adalah insiden ini mengalihkan perhatian dari acara yang begitu sangat bagus,” kata Gillard kepada para wartawan seperti dikutip kantor berita AP.
Pengunjuk rasa menggelar demonstrasi untuk menuntut hak-hak penduduk asli dan mereka berkemah di satu titik kawasan yang dikenal dengan nama “Aboriginal Tent Embassy”.
Mereka telah mendirikan tenda dan tempat penampungan di ibukota Australia itu yang menjadi lokasi kunci protes menentang Hari Nasional Australia.
Hari Australia menandai kedatangan para pemukim Inggris pada 26 Januari tahun 1788. Warga Aborijin mengangap hari itu sebagai Hari Invasi karena wilayah Australia diduduki tanpa ada traktat dengan penduduk asli.
Anggota Komisi Keadilan Sosial warga Aborijin dan Pulau Selat Torres Mick Gooda mengaku terkejut dengan aksi unjuk rasa warga Aborigin itu.
“Sebuah unjuk rasa yang agresif, memecah belah dan mengintimidasi seperti itu tidak pernah mendapat tempat dalam pembicaraan terkait masalah warga Aborijin dan Pulau Selat Torres atau dalam masalah lain,” kata Gooda kepada radio ABC.
“Meskipun ada kemarahan, frustrasi dan sakit hati di antara warga asli Australia, kami seharusnya tidak melakukan tindakan yang memalukan diri kami sendiri,” tambah Gooda.
“Meskipun ada kemarahan, frustrasi dan sakit hati di antara warga asli Australia, kami seharusnya tidak melakukan tindakan yang memalukan diri kami sendiri”, tegasnya.
Pemimpin warga asli Australia yang juga bekas Presiden Partai Buruh Australia, Warren Mundine mengatakan semua yang bertanggung jawab atas aksi hari Kamis harus mendapatkan sanksi.
“Tak seorang pun, termasuk perdana menteri negeri ini, yang patut mendapat perlakuan seperti itu,” kata Mundine.
“Saya yakin orang-orang yang menyebabkan masalah ini terjadi hukum harus dijatuhkan atas mereka,” tambah dia.
Sementara itu pada Jumat (27/1) sekitar 200 orang pengunjuk rasa yang marah melakukan aksi yang dimulai dari Tent Embassy menuju Gedung Parlemen di Canberra. Sepanjang perjalanan menuju Gedung Parlemen mereka menyanyi dan menari sambil membakar bendera Australia.
Suku Aborijin yang telah mendiami Australia sejak ribuan tahun lalu diyakini berjumlah sekitar satu juta orang saat bangsa kulit putih mulai mendiami Negeri Kanguru itu. Namun kini, dari 22 juta rakyat Australia jumlah warga Aborijin tinggal 470.000 jiwa saja.
Tak hanya jumlahnya yang menyusut, Aborijin menjadi suku minoritas yang paling rendah taraf hidupnya.
Angka harapan hidup warga Aborijin paling rendah dibanding warga dari etnis lainnya. Selain itu, jumlah warga Aborijin yang menjadi penghuni penjara dan menderita penyakit berat juga jauh lebih tinggi ketimbang etnis lainnya.
By. BBC

Banyak Yang Tak Suka “Anggur Merah”


sergapntt.com [KUPANG] – Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengaku, banyak yang tidak suka adanya Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah yang diluncurkan sejak tahun 2011 lalu.
“Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah tidak disenangi banyak orang. Selain itu program ini juga membuat banyak PNS tidak leluasa dalam pemanfaatan anggaran,” ucap Gubernur saat tampil sebagai pembicara pada acara Seminar Oikumene GBI Mawar Saron Kupang, Jumat (27/1/12).
Dalam seminar yang bertajuk “KasihNya Mengubah NTT” yang dihadiri ratusan jemaat GBI Mawar Saron dan dimoderatori, Pdt. DR. Wiem Gazpers, M.Th itu, Gubernur membawakan materi dengan thema : Program Anggur Merah dalam Mewujudkan Perubahan NTT
Menurut Pdt. Wiem, sebenarnya Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah bukan anggur yang memabukan tetapi justur anggur yang mensejahterakan masyarakat NTT. Sebab, baru kali ini rakyat NTT diberikan dana secara langsung untuk dikelola sendiri demi penguatan ekonomi masyarakat desa itu sendiri.
Melalui dana hibah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT mengucurkan dana untuk setiap desa sebesar Rp250 juta. Karena sifatnya hibah, maka dana tersebut tidak dikembalikan kepada pemerintah. Namun memerintah wajib mengawal hingga tujuan program tersebut tercapai.
Kata Gubernur, dari segi anggaran, Provinsi NTT selalu mengalami kerugian. Sebab, alokasi Dana Alokasi Umum (DAU)  yang diberikan kepada NTT dihitung berdasarkan luas daratan, bukan luas lautan. Padahal sebagai wilayah kepulauan, NTT sangat membutuhkan suntikan dana yang lebih besar dari biasanya.
“NTT selalu dihitung luas daratan, bukan luas lautan, dan hal ini merugikan NTT dari aspek anggaran,” kata Gubernur.
Dana yang diberikan kepada masyarakat melalui Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah sebut Gubernur, merupakan dana hibah dan menjadi dana abadi di desa atau kelurahan.
“Dana itu tidak dikembalikan kepada pemerintah. Dana itu digunakan untuk memperkuat modal usaha ekonomi produktif yang direncanakan oleh kelompok masyarakat yang ada di desa/kelurahan,” jelas Gubernur.
Gubernur mengungkapkan, sebagai pemimpin di daerah ini, niatnya tulus untuk membantu masyarakat keluar dari jeratan kemiskinan.
“Tekad saya memberikan bantuan pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat adalah agar rakyat tidak terus miskin. Kami sudah bosan hidup miskin,” imbuhnya.
Kata Gubernur, saat ini angka kemiskinan di NTT terus menurun dan telah mencapai 20,48 % seiring data Badan Pusat Statistik (BPS) NTT September 2011.
Oleh karena itu, Gubernur mengajak jemaat GBI Mawar Saron Kupang untuk berpikir besar. “Saya ajak jemaat untuk berpikir besar sehingga bisa menghasilkan karya besar. Tidak ada orang yang berpikir kerdil menghasilkan karya besar. Berpikir besar itu diberkati Tuhan,” ucapnya.
Gubernur juga meminta dukungan doa agar ia dan Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay yang melekat dengan sandi “FREN” tetap solid, kuat dan sehat   memimpin NTT.
“Hati kami untuk rakyat, dan saya ingin rakyat hidup baik. Kami ingin rakyat hidup sehat dan sejahtera,” tegasnya.
Turut hadir dalam kegiatan Seminar Oikumene tersebut, mantan Ketua DPRD NTT, Drs. Mell Adoe, Karo Umum Setda NTT, Kanisius Beka, SH, Karo Kesra Setda NTT, Drs. Alo Dando, MM, dan Karo Pemerintahan Setda NTT, Drs. Willem Foni, M.Si.
By. VERRY GURU/SAUL KAPITAN

Baru 16,75 % Warga Yang Urus eKTP


Debora Panie

sergapntt.com [OEBOBO] – Pengurusan eKTP (KTP berbasis elektronik) di Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) akhirnya diperpanjang hingga April 2012. Pasalnya, hingga batas akhir pengurusan pada Januari 2012, baru 18.869 atau 16,75 persen (%) dari total wajib eKTP 75.826 jiwa yang telah mengurus eKTP.

“Sebenarnya batas Januari ini, tapi diperpanjang lagi sampai April 2011,” ujar Camat Oebobo, Dra. Debora Panie saat ditemui SERGAP NTT, Jumat (27/1/12).
Menurut wanita cantik yang menjadi Camat Oebobo sejak Agustus 2010 itu, pembuatan eKTP sesungguhnya telah dilaksanakan sejak 19 Oktober 2011 dan harus berakhir pada Januari 2012. Namun karena belum semua warga mengurus eKTP, maka Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang memperpanjang waktu pengurusan hingga April 2012.
Dalam pengurusan eKTP ini, kata Debora, ditemukannya data penduduk yang tidak falid, yakni ada pendobelan nama penduduk, warga yang telah pindah masih terdata sebagi penduduk Oebobo, serta orang yang sudah meninggal tapi masih tercatat sebagai warga wajib eKTP.
Bahkan terjadi perbedaan data yang mencolok antara Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Kupang dan Kantor Camat Oebobo. Datanya yang dimiliki KPUD menyebutkan jumlah wajib pilih di Kecamatan Oebobo sebanyak 80.458 orang. Padahal total penduduk Oebobo hanya 76.261 jiwa, sehingga terjadi selisih 4197 dari total penduduk atau 4632 dari total wajib eKTP.
“Begitu saya lihat data itu, saya terpenajak. Loh,,, koq bisa! Kan penduduk Oebobo hanya 76.261 jiwa. Uniknya lagi, kita temukan juga, ada warga yang terdata sebagai satu keluarga, tapi setelah dicek, mereka tidak saling mengenal,” papar Debora.
Karena itu, lanjut Debora, untuk mengidentifikasi ulang penduduk tetap, sekaligus memverifikasi jumlah penduduk Oebobo, maka ia membuat buku kontrol per kelurahan.
“Di Kecamatan Oebobo ada tujuh (7) Keluarahan. Masing-masing kelurahan kita buat buku kontrol. Fungsi buku ini untuk mencacat nama warga yang mengurus eKTP beserta nomor ID eKTP-nya. Dari buku ini kita akan tahu jika ada pendobelan nama, atau ada warga yang sudah meninggal, atau ada warga yang sudah pindah, tapi masih tercatat sebagai wajib eKTP,” imbuhnya.
Dengan sisa waktu yang tinggal tiga bulan ini, Debora optimis, pengurusan eKTP akan tuntas.
“Oleh karena itu kami terus intens membangun komunikasi dengan para ketua Rt agar setiap waktu yang dibutuhkan bisa mendatangi atau memanggil warganya untuk segera mengurus KTP. Saya optimis April sudah selesai,” ucapnya.
By. CHRIS PARERA

Ayo,,, Dukung Sail Komodo 2013


sergapntt.com [KUPANG] – Wakil Gubernur (Wagub) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Esthon Foenay mengajak masyarakat Indonesia untuk mendukung suksesnya pelaksanaan Sail Komodo 2013. Lebih khusus lagi, wagub yang juga Ketua DPD Partai GERINDRA NTT itu berharap para pelaku usaha di NTT dapat membantu pemerintah memperbaiki sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan udara.
“Saya minta para pelaku usaha untuk mendukung Sail Komodo 2013. Karena momentum ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi NTT,” ujar Esthon Foenay.
Dukungan para pelaku usaha itu bisa dengan cara melakukan pembenahan terhadap seluruh fasilitas transportasi, baik darat, laut dan udara untuk memberikan kemudahan bagi para wisatawan yang datang ke NTT.
Untuk menyambut Sail Komodo 2013 yang bakal dilaksanakan pada tahun 2013, Foenay menyebutkan butuh adanya perpanjangan landasan, perluasan parkir serta peningkatan pelayanan kepada para pengguna jasa penerbangan. 
“Pihak Dinas Perhubungan Provinsi NTT juga diminta untuk melakukan pembenahan fasilitas pelabuhan laut dan udara di beberapa daerah tujuan wisata di NTT antara lain, di Labuan Bajo dan Ende,” kata Wagub.
Bruno Kupok

Program Sail Komodo bertujuan untuk memperkenalkan dan menjadikan NTT sebagai pintu masuk kapal layar dan kapal pesiar dari Asia Pasifik dan Australia. Sasaran yang dibidik adalah  calon wisatawan baik asing maupun nusantara. Ini juga untuk memperkuat kawasan ini sebagai titik persinggahan kapal.

Selain itu, memotivasi masyarakat untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan dan diharapkan bisa menjadi ajang tetap di NTT dan menjadikan NTT sebagai wisata unggulan.
Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan NTT, Bruno Kupok mengatakan, perbaikan bandara dan pelabuhan laut akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Ya,,, dalam waktu dekat ini semua bandara dan pelabuhan laut di NTT akan kita perbaiki sesuai dengan tingkat perbaikannya. Ini sekaligus untuk mendukung suksesnya Sail Komodo 2013,” paparnya.
Mantan Kepala Biro Umum Setda NTT ini juga mengajak masyarakat NTT untuk berpartisipasi aktif demi suksesnya gawe wisata tersebut.
“Ayo,,,, kita dukung Sail Komodo,” imbuhnya.
By. CHRIS PARERA