Warga Kefa Protes Distribusi Raskin


sergapntt.com [KEFA] – Distribusi beras Mmiskin (raskin) ke 13 kepada warga di Kabupaten TTU menuai protes. Pasalnya, ada sejumlah kepala keluarga (KK) miskin yang sejak lama tercatat sebagai rumah tangga sederhana (RTS) sesuai data BPS, namun belakangan tidak tercatat sebagai RTS penerima  raskin 13.
Hal ini dialami dua KK miskin yakni janda Mau Kolo dan  Tin Monlai di RT 18 Kelurahan Maubeli Kecamatan Kota Kefamenanu.
“Tadi pagi memang ada dua KK miskin yang datang protes, katanya pembagian raskin 13 tahun ini tidak mengakomodir nama mereka. Padahal, selama ini mereka termasuk KK miskin penerima raskin sesuai penetapan pemerintah pusat,” ungkap Ketua RT 18 Kelurahan Maubeli, Alo Rikoni, Rabu (18/1/12).
Menurut Alo, aksi protes dua KK miskin tersebut menyusul adanya pengurangan data RTS penerima raskin sekaligus munculnya KK baru sebagai penerima raskin 13. Kasus ini jelas Alo, terjadi sebagai akibat mandeknya komunikasi dan koordinasi  antara Lurah Maubeli dengan pejabat tingkat bawah.
“Selama ini RTS penerima raskin di RT 18 Kelurahan Maubeli ada 15 KK tapi kok kali ini cuma 10 RTS. Saya sendiri tidak tahu menahu alasan pengurangan data RTS di lingkungan saya oleh pihak kelurahan,” jelas Alo.
Dijelaskan, sesuai surat pemberitahuan Lurah Maubeli kepada semua ketua RT di wilayah Kelurahan Maubeli, jumlah raskin yang diterima setiap RTS sebanyak 15 kg dengan nilai tebusan satu kilogram senilai Rp 1.600.
Raskin 13 ini jelas Alo, berlaku selama satu bulan dengan total uang tebusan setiap RTS sebesar Rp 24 ribu. “Ini sesuai surat pemberitahuan pak luran menindaklanjuti surat Bupati TTU Nomor: EK.507/460/XII/2011 tanggal 31 Desember 2011 tentang raskin ke- 13,” jelasnya.
Menyikapi aksi protes warganya, Alo menilai, konversi bantuan raskin menjadi program padat karya pangan (PKP) dengan pemberian beras raskin secara gratis kepada semua RTS di Kabupaten TTU lebih bersifat mematikan semangat kerja masyarakat TTU untuk berjuang memenuhi kebutuhan pangan keluargannya.
Beras PKP yang diluncurkan lebih banyak memanjakan masyarakat untuk hidup terus bergantung dari bantuan pemerintah. “Lebih baik kembali ke raskin, sehingga masyarakat berusaha cari uang untuk tebus harga raskin Rp 1.600 sesuai aturan pemerintah pusat. Sebab, kenyataan banyak penerima beras PKP yang tidak kerja kebun tapi  begitu pembagian beras PKP orang-orang yang tidak punya kebun sesuai syarat penerima beras PKP juga ikut-ikutan menerima jatah beras sama seperti warga miskin lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan TTU, Marselina Sumu selaku pejabat yang menangani program PKP menjelaskan, jatah raskin 13 yang diperuntukan kepada semua RTS di wilayah TTU harus ditebus oleh penerima sesuai harga yang ditetapkan pemerintah pusat. Sebab, Pemerintah TTU tidak menyediakan dana untuk menebus raskin 13 sebagaimana penanganan raskin selama empat tahap mulai Mei hingga Desember 2011.
“Pemerintah tidak punya uang untuk tebus raskin 13, jadi  untuk tebus raskin 13 dibebankan kepada semua RTS  sesuai data yang sudah ditetapkan pemerintah pusat,” jelasnya.
By. EO

Penyelundupan Mobil Makin Marak di TTU


sergapntt.com [KEFA] – Aksi penyelundupan mobil dari pulau Jawa ke wilayah hukum Polres TTU beberapa waktu belakangan marak terjadi. Indikasi  ini terlihat dengan  meningkatkanya jumlah mobil station berbagai merk dengan plat polisi dari luar wilayah Kabupaten TTU  yang digunakan sebagai mobil rental di kota Kefamenanu.
Direktur LAKMAS Cendana Wangi NTT, Victor Manbait mengakatan, “Akhir-akhir ini  di kota Kefa koq  begitu banyak mobil berplat  asing. Tapi koq mobil-mobil  berplat luar seperti itu terkesan kuat  dibiarkan beroperasi  tanpa menyuruh pemiliknya untuk segera mengurus administrasi balik nama pemilik dan lainnya sebagainya. Saya melihat  ini sepertinya ada sindikat penjualan mobil selundupan ke wilayah TTU yang berbatasan langsung dengan negara RDTL,” ungkap Victor Manbait.
Menurut Victor, lembaga yang memiliki kewenangan untuk menertibkan semua jenis kendaraan berplat nomor polisi dari luar NTT  berada pada Polres TTU khususnya  Satlantas  Polres TTU. Karena itu dia meminta Polres TTU agar segera melakukan operasi penertiban mobil-mobil berplat nomor polisi dari luar NTT khususnya mobil station yang selama ini berkembang pesat di wilayah kota Kefamenanu.
Kasus mobil Avanza  DH. 1570 D berdokumen palsu yang menyeret Abdul Hafiz pemilik toko Logam Mulia Kefamenanu belum lama ini sebagai tersangka dan sekarang menjalani masa tahanan di sel Polres TTU  menurut Manbait hanyalah salah satu kasus yang sempat terungkap.
“Saya yakin masih ada mobil lain terutama yang berplat nomor polisi luar TTU yang punya masalah yang sama malah lebih berat lagi kasusnya. Ini bisa terungkap kalau polisi menjalankan perannya secara maksimal,” paparnya.
Mengenai  masalah hukum yang sedang dijalani  tersangka Abdul Hafiz menurut Victor, penyidik Reksrim Polres TTU seharusnya memfokuskan proses hukum kasus dimaksud pada aktor intelektual dan pelaku lainnya  yang berperan lebih besar  dalam kasus pemalsuan dokumen kendaraan roda empat tersebut. Sebab tersangka Abdul Hafiz hanya korban dari sebuah mafia penjualan mobil berdokumen palsu yang sudah dibeli oleh korban  Tance Oki, pembantu Rektor I Unimor Kefamenanu.
“Jangan sampai pelaku utamanya adalah anggota Polri, lalu penyidik berusaha melindungi  yang bersangkutan dan  sekaligus citra  institusi Polri dengan cara sengaja memperlambat proses hukum yang bersangkutan dan  terus mendorong proses hukum para tersangka yang sedang menjalani proses hukum di Polres TTu,”kata Manbait.
Senada dengan itu kuasa hukum tersangka Abdul Hafiz yaitu Agustinus Tulasi mendesak penyidik Reskrim Polres TTU yang menangani proses hukum kasus ini untuk segera mengambil tindakan tegas kepada  penjual yaitu  Sefrit Pitay, salah seorang anggota Samsat Polres Malang dan pembeli mobil berdokumen palsu tersebut.
Menurut dia,  baik penjual maupun pembeli mobil tersebut hingga kemarin siang masih berkeliaran secara bebas di luar seolah-olah tidak terseret masalah hukum dalam kasus penjualan mobil berdokumen palsu dimaksud. “Dimana kualitas penyidik ? Masa pelaku utama dibiarkan tanpa sentuhan hukum dalam kasus ini. Ini kan sama dengan lain gatal lain digaruk. Memangnya penyidik seperti robot hidup yang melihat kasus ini hanya  dari  permukaan saja tanpa  menyentuh substansi persoalannya,” protes Tulasi.
Dia menilai proses hukum yang sedang dilakukan penyidik Reskrim Polres TTU saat ini hanya beradasarkan alibi semata. Cara kerja seperti ini menurut kuasa hukum tersangka Abdul Hafiz menunjukan bahwa penyidik Reskrim Polres TTU yang menangani kasus ini belum mampu menunjukan kemampuan penyelidikan yang benar atas kasus kliennya. “Kalau tidak mampu jangan  berlagaq sudah hebat sebagai penyidik, makanya kedepan Polri mau rekrut penyidik perlu kedepan aspek kualitas  karena sangat pengaruhi image masyarakat kepada keberadaan penyidik,” katanya.
By. MAX/OG

Kapolda NTT Beri Peringatan Untuk Kapolres Sumba Timur


Kapolda NTT

sergapntt.com [WAINGAPU] – Polisi adalah pelayan yang harus mampu memberikan perlindungan kepada masyarakat. “Kasarnya, polisi itu jongos atau babunya masyarakat. Jadi sebagai polisi kita harus sadar bahwa kita adalah pelayan masyarakat, sehingga tidak berbuat dan bertindak yang aneh-aneh. Jangan preman berbaju polisi dengan tindakan dan perbuatan yang tidak terpuji, sehingga bukan menimbulkan kesejukan, tapi keresahan pada masyarakat,” ujar Kapolda NTT, Brigjen. Ricky HP Sitohang dalam arahannya kepada Kapolres Sumba Timur dan seluruh anggotanya di aula pertemuan kantor Polres Sumba Timur, belum lama ini.

Kapolda juga men-deadline Kapolres Sumba Timur, AKBP I Made Damiri Giri untuk segera memproses kasus penganiayan yang dilakukan anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Sumba Timur, Marianus terhadap Hafid Harun Mudi warga Kelurahan Kamalaputih Kecamatan Kota Waingapu di malam penutupan tahun 2011, Sabtu (31/12) lalu.
“Kapolres Sumba Timur, Anda saya kasih waktu selama satu minggu untuk memproses kasus ini sesuai aturan yang ada. Dalam waktu satu minggu saya sudah menerima laporan perkembangan penanganan kasus ini. Apapun alasannya, mau dia mabuk atau jungkir balik tapi setiap warga masyarakat harus dilindungi oleh polisi. Saya sudah berkali-kali berpesan kepada semua Kapolres di NTT agar menegaskan kepada anggotanya masing-masing untuk menghindari sikap arogansi kepada masyarakat karena polisi adalah insan pelindung, pengayom dan bukan penganiaya masyarakat. Saya tidak mau lagi dengar ada anggota polisi di lingkup Polda NTT yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji dan mencoreng citra Polri,” tegas Kapolda, mengingatkan anggota polisi di seluruh NTT.
Kapolda juga menegaskan, dirinya tidak akan sungkan-sungkan mengambil tindakan tegas terhadap anggota polisi yang melanggar aturan.
“Untuk melumpuhkan pelaku kejahatan, ada tahapannya. Bukan dikeroyok dan digebukin. Sekarang bukan zamannya lagi kita melakukan tekanan dan intimidasi kepada rakyat. Kita harus menciptakan kesejukan dan solusi dalam permasalahan yang dihadapi masyarakat. Tunjukkan diri Anda sebagai panutan masyarakat dan kalau dikritisi kita harus instrospeksi diri bahwa hal itu pasti ada sebabnya. Kapolres juga harus mengawasi anggotanya masing-masing agar tidak mengkonsumsi minuman keras atau membekingi tindakan illegal,” tohoknya.
Pada kesempatn tersebut Kapolda juga menegaskan, anggota Polri khususnya yang bertugas di wilayah NTT harus merubah sikap otoriter menjadi humanis tapi tidak mengurangi ketegasan.
Dikatakan,  dalam Renstra tahun 2012, Polri juga harus menjalin kemitraan dengan semua stakeholder yang ada.
Kepada wartawan usai memberikan pengarahan pada anggotanya, Kapolda kembali mengungkapkan, sudah memwarning Kapolres dan Kasatreskrim Polres Sumba Timur untuk segera menuntaskan penanganan kasus yang dinilai oleh masyarakat masih mengendap di Polres Sumba Timur.
“Kunjungan kerja saya hari ini ke Sumba termasuk Sumba Timur adalah untuk melihat langsung kondisi dan keberadaan anggota Polri di lingkup Polda NTT. Jadi yang namanya polisi itu manusia biasa yang juga tidak luput dari kesalahan. Polisi sekalipun berpangkat jenderal harus berani meminta maaf bila melakukan tindakan yang tidak terpuji pada masyarakat. Saya juga sudah perintahkan seluruh anggota Polres Sumba Timur termasuk Kapolres untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama di waktu jam sibuk dengan mengatur arus lalu lintas sehingga pengaturan lalu lintas tidak hanya dilimpahkan dan menjadi tanggung jawab Satuan Lalu Lintas tapi menjadi tanggung jawab bersama anggota Polres Sumba Timur termasuk Kapolres,” tandasnya.
Disaksikan wartawan, kedatangan Kapolda NTT, Ricky Sitohang disambut Bupati dan Ketua DPRD Sumba Timur, Gidion Mbilijora dan Palulu P Ndima melalui pengalungan tenun ikat Sumba Timur.
By. JOE

Wagub NTT Ajak Pelaku Usaha Dukung Sail Komodo


sergapntt.com [KUPANG] – Dalam rangka percepatan pembangunan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si, mengajak para pelaku usaha ekonomi di NTT untuk bersama-sama pemerintah terus membenahi seluruh fasilitas transportasi baik darat, laut maupun udara.
Hal ini disampaikan Wagub saat acara Coffee Morning dengan GM Angkasa Pura I bersama mitra, di ruang rapat Bandara El Tari Kupang, Jumat (20/1/12).
Dalam pertemuan tersebut, Wagub Esthon Foenay berharap GM Angkasa Pura I bersama mitra mampu menciptakan situasi yang aman, nyaman dan kepastian bagi pengguna jasa angkutan udara yang datang maupun keluar dari NTT.
“Hal ini penting untuk menjadi perhatian utama, sehingga para pengguna jasa angkutan udara bisa mendapatkan keamanan, kenyamanan dan betah berlama-lama di NTT,” ujar Wagub Esthon Foenay.
Selain itu, Wagub juga menyinggung perlunya persipan fasilitas dalam rangka menyambut Sail Komodo 2013 antara lain, perpanjangan landasan, perluasan parkir serta peningkatan pelayanan.
“Pihak Dinas Perhubungan Provinsi NTT juga diminta untuk melakukan pembenahan fasilitas pelabuhan laut dan udara di beberapa daerah tujuan wisata di NTT antara lain, di Labuan Bajo dan Ende,” pinta Wagub.
GM Angkasa Pura I, Imam Pramono, S.Kom. MM, mengatakan bahwa pihaknya mendesain perpanjangan landasan, area parkir dan ruang keberangkatan untuk menyambut Sail Komodo 2013 mendatang.
Hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Drs. Bruno Kupok, Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Drs. Sinus Petrus Manuk, Kadis Pendapatan dan Awst Daeran Provinsi NTT, Emanuel Kara, SH, Kepala Biro Kesra Setda NTT, Drs. Aloysius Dando, MM, Kepala Biro Hukum Setda NTT, Jhon Hawula, SH, M.Si, serta mitra lainnya.  
By. MEGGY UTOYO

Siap Kalah atau Menang!


sergapntt.com [KUPANG] – Game politik selalu berakhir dengan kalah atau menang. Presentasinya 50:50. Konsekuensinya pun tak sedikit. Mulai dari finansial hingga urusan bathin jadi taruhan. Toh begitu, dr. Yovita Anike Mitak, M.PH tak pernah gentar. Bagi sosok perempuan yang akrab disapa dr. Niken itu, tantangan politik adalah pilihan yang sulit namun menarik minat. Kalah atau menang merupakan konsekuensi lumrah yang mesti diterima. Suka atau tidak,,!
Politik selalu penuh teka-teki. Tak ada yang pasti. Semua syarat dengan kemungkinan. Yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, dan yang mungkin bisa pula menjadi tidak mungkin. Sebab, politik adalah ilmu dan seni tentang kemungkinan.
“Karena itu, saya siap kalah atau menang,” ujar dr. Niken saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Ya,,, dr, Niken kini sedang menjajal dunia politik praktis di gelanggang Pemilukada Kota Kupang sebagai bakal calon (balon) Walikota Kupang periode 2012-2017. Ia sangat diperhitungkan. Termasuk lawan politik yang doyan sesumbar bakal menang di pertarungan politik Kota Kupang kali ini.
Niken selalu tampil menawan. Sederhana , ramah, dan rapi berbusana nampak akrab menghiasi hidupnya. Fasenya selalu  segar dihiasi senyum. Sorot mata yang teduh menggambarkan kedamaian. Tak banyak basa-basi. Semua dimulai dengan semangat hidup yang pasti.
“Saya sudah siap menjadi Calon Walikota. Saya akan buktikan bahwa perempuan juga bisa jadi pemimpin yang baik,” imbuhnya, optimis.
Anak pertama dari empat bersaudara buah perkawinan (ayahanda) Anton Mitak dan (ibunda) Elisabeth Mitak ini berjanji akan selalu bersikap optimis menghadapi tantangan yang syarat dengan kepentingan rakyat. Semuanya akan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Sebab, bagi ibu tiga anak ini, kepercayaan adalah amanah, dan tugas adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Sebelum menjabat sebagai Kepala Biro (Karo) Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ibunda Antonio Edwin Porsiana, Maria Diandra Porsiana, dan Diony Porsiana ini pernah menjabat sebagai Direktur RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang.
Jenjang pendidikannya ia memulai dari SD Putri (sekarang Don Bosko) Kupang, SMP di  St. Theresia Kupang, SMA Khatolik Malang, Fakultas Kedokteran Brawijawa Malang. Usai kuliah Tahun 1989, ia ditugaskan sebagai Dokter Inpres di Kabupaten TTS.
“Beberapa bulan orientasi di Rumah Sakit TTS, saya lalu ditempatkan di Puskesmas Polen. Dari Polen saya pindah ke Batakte (1991-1993), Bakunase (1993-1997) dan tahun 1997 saya ditarik ke Kanwil Kesehatan NTT dan ditempatkan sebagai Kepala Seksi Upaya Kesehatan Dasar,” bebernya.
Perjalanan karir mantan dokter pribadi alm. Mantan Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH tersebut berjalan baik bak air mengalir. Tak ada rintangan yang berarti. Kepercayaan memangku jabatan seirama dengan prestasi kerja yang ia persembahkan. Ujungnya, Tahun 2001, istri Albert Porsiana itu dipercaya menjadi Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Penyuluh Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan NTT. Pada saat yang bersamaan ia diberi kesempatan untuk mengambil gelar master di Kuala Lumpur Malaysia.
“Pulang dari sana, saya kembali menjadi Kasubdin Pengembangan Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan NTT hingga tahun 2006. Tanggal 4 Maret 2006, saya dilantik menjadi Direktur RSUD W.Z Yohanes Kupang. Sedangkan serah terima jabatan (dari dr. Hen Mooy) tanggal16 Maret 2006,” kisahnya.
Jika pekerjaan kantor telah selesai, wanita kelahiran Bandung 15 Februari 1964 itu mengaku, banyak menghabiskan waktu di rumah dengan berolah raga, les piano atau berbelanja. Baginya, olah raga sangat penting untuk menjaga keseimbangan. Selain bisa menghilangkan stres, olah raga juga bisa membuat fisik menjadi bugar.  Sebab, kata dia, pekerjaan yang banyak menggunakan otak (berpikir), bisa membuat seseorang cepat lelah. Oleh karena itu, olah raga, makan teratur, banyak istirahat dan tidak terlalu stres harus terus dilakukan agar bisa menjaga stamina tetap bugar.
“Sejak sekolah saya paling suka basket dan bola volly. Olah raga itu penting. Itu untuk menjaga keseimbangan,” tegasnya.
Kini dengan kebugarannya ia siap menjadi Walikota Kupang pasca Drs. Daniel Adoe. Sarana partai politik sedang dipersiapkan. Respon pemilih pun postitif. Soal menang atau kalau ia percaya, “Itu suratan takdir”. Tapi soal semangat melayani, sampai mati pun kerja dan karyanya ia persembahkan untuk rakyat dan keluarga.
By. CHRIS PARERA