Bukti Arogansi Kalapas


sergapntt.com [KUPANG] – Bebasnya 21 tahanan oleh Lapas Penfui, membuat Pengadilan Negeri dan Kejaksaan Negeri Kupang kebakaran jenggot. Kajari Kupang, I Gede Sudiatmadja melalui  Sherly Manutede, SH, menilai itu adalah bukti arogansi Kalapas Penfui Kupang. Berikut penjelasan Sherly, Jaksa yang menangani kasus 21 tahanan yang dilepas Kalapas Penfui KUpang saat ditemui di ruang kerjanya, pekan silam.
Anda bisa menceritakan kronologis permasalahan 21 tahanan yang dilepas Lapas Penfui?
Awalnya masalah 21 tahanan lepas hingga membuat kami pusing mengurusnya hingga yakni, pada tanggal 26 Nopember 2007 sekitar pukul 10.00 Wita, petugas Lapas bernama Melky datang ke Kejaksaan Negeri (Kejari) bawa surat pemberitahuan serta nama-nama tahanan yang akan segera dilepas, karena masalahannya tidak diperpanjang oleh pihak yang menahan. OK, saya bilang mana? Setelah saya cek, menurut petugas Lapas itu, harus dikeluarkan hari itu juga. Lalu saya bilang, harus cek dulu apalagi pada hari itu saya lagi periksa orang di Pengadilan Negeri (PN) Kupang. Kata Meky, dia disuru Kalapas untuk tidak lagi bernegosiasi dengan saya. Ini Meky omong disaksikan semua staf Kasi Pidum, koq! Saya bilang jangan dulu dilepas nanti carinya susah. Kalau ada yang berduit dia bisa keluar negeri. Jadi kalau memang kau tidak bisa lagi menahan di lapas sana, jangan lepaskan. Tolong koordinasikan dengan kami lalu kami akan menjemput tahanan kami. Walaupun belum kirim surat kesana, kan kami sedang buat. Jadi jangan dilepas bebas kan? Lalu Meky bilang, ya ada pesan dari Kalapas kalau dikelurkan hari ini kami bawa ke Pangadilan Negeri atau Kejaksaan Negeri. Saya bilang Ok terima kasih atas koordinasinya. Saya lihat daftar nama-nama, saya bingung inikan sekitar beberapa putusan yang baru kami terima. Maka seharusnya Jaksa yang mengeksekusi. Proses eksekusi itu tidak sim sala bim lalu jadi dan dikirim ke Lapas? Kan harus periksa semua putusan, sesuai tidak dengan yang diucapkan. Harus buat lagi surat-surat eksekusi, harus ada tanda tangan Jaksanya. Apakah semua jaksa ada di Kejari sini, kan semua ada di PN, di Kejati, dan ada lagi yang sidang. Berapa sih Jaksa di Kupang. Jumlahnya sangat minim karenanya dalam mengurus perkara, satu jaksa bisa tangani sampai dengan 50-60 orang. Bisa dibayangkan di NTT ini, bukan kayak di Jawa, satu jaksa maksimal 5 perkara. Nah, dari masalah ini, ada yang dieksekusi dari 2006 kami baru terima putusaannya hari itu juga. Tidak bisa kita kerja kilat begini. Meky bilang kalau memang harus dilepas nanti kami boyong semua ke sini.
Dari 21 tahanan, apakah tahanan Kejari atau Pengadilan?
Setelah kami cek, semuanya adalah tahanan pengadilan karena masih dalam proses hukum. Kalau tahanan kami kecuali perkaranya kami belum limpahkan ke pengadilan. Kalaupun  sudah ada yang putus kami ekesekusi setelah ada putusan, kan itu belum ada putusan. Kalau ada perpanjangan dari pengadilan pasti kita buat penetapan. Jadi saat itu saya belum cek satu persatu karena sudah jam pulang, tapi saya bilang okelah kalaupun ada kekurangan dari pengadilan ataupun kekurangan dari kami di kejaksaaan, namanya juga birokrasi mesti kesana-kemari. Tapi tolong 21 tahanan itu jangan dilepas. Toh oto tahanan kitakan stand by, sekitar jam 2 siang selalu membawa pulang tahanan dari persidangan. Berarti mobil kami pulang kosong, apa salahnya dimuat saja di mobil bawa kesini kita tampung terus kita bawa pulang kembali, selesaikan?
Ini sudah dikoordinasikan dengan pihak penahan 10 hari sebelum masa habis tapi tidak ada jawaban. Komentar anda?
Siapa bilang tidak koordinasi? (nada tinggi dan mata berbinar-binar). Kan kami tidak tahu, bahkan pada jam 2 hari itu juga petugas kami buru kerja untuk eksekusi itu. Ini bukan karena masa habis pada hari itu tapi petugas lapas itu bilang tahanan mau dikeluarkan Kalapas. Pihak PN baru mengirim hari itu juga. Saya bilang sabar dulu kita masih buat berkas-berkas eksekusi, tidak semudah membalikkan telapan. Ketika itu Pak Kajari dari Teluk Kupang saya telepon langsung datang tanda tangan. Kami minta jangan dilepas, kalaupun lepas bawa kesini seperti janjikan? Terakhir ternyata petugas kami bawa surat eksekusi orangnya semua sudah lepas. Wah keterlaluan! Masalah seperti ini sudah dari dulu, alasannya yang sama saja. Dibilang beban biaya ketika selesai masa tahanan, kan itu urusan negara asalkan adminitrasinya jelas. Mudah-mudahan pihak Lapas juga kerja lurus saja.
Itu artinya antara Lapas dan Kejaksaan ada miss communication lalu mestinya pihak pengadilan yang disalahkan?
Mau dibilang miskomunikasi kecuali kita yang menahan, ya kan? Saya tidak bilang siapa-siapa yang salah tapi bisa dianalisa sendiri. Terus kalaupun pihak Pengadilan salah atau pihak kami, karena tidak memperpanjang masa tahanan mereka, karena perkara yang masuk di Kupang dengan tenaga jaksa cuman 5 orang  dan hakim hanya beberapa orang dan harus mengurus ratusan perkara dari Kabupaten dan Kota Kupang. Sebagai manusia kemampuan kita terbatas. Ini yang mestinya dipahami pihak Lapas. Makanya kami minta kalaupun dikeluarkan toh hanya beda jam saja kan, kau bawa kesini. Saya tanya staf apa ada muat tahanan, mereka bilang tidak. Bahkan ada satu yang setelah kami cek sudah dieksekusi dan tetap dikeluarkan. Ada apa itu! Namanya Thimotius Sufmela, itu sudah dieksekusi  pada Agustus 2007 lalu, kalau tidak salah. Kenapa itu dikeluarkan? Yang lain okelah itu salah kami tetapi kenapa yang satu ini kau keluarkan? Terus Markus Bolang, Aser Manafe, dan sekitar 5-6 orang itu sedang proses hukum, kenapa kau keluarkan. Orang upaya hukum juga ikut dikeluarkan. Itu satu indikasi. Terus ada lagi satu malamnya kita minta Buser Polresta, Polres Kupang kita upaya cari, dia lari meskipun diberi tembakan peringatan. Tetapi orangtuanya kita intimidasi, jika anakmu tidak menyerahkan diri maka kami akan ganggu terus. Akhirnya besok paginya orangtuanya sendiri antar ke Lapas.
Seperti apa upaya hukum itu?
Ya, ada yang banding Seperti Bolang, Aser, Zacharias, Dominggus, Maksen dan beberapa lainnya kan sedang upaya hukum. Putusan banding belum ada pada kami. Terus, ada satu yang sampai sekarang putusan bandingnya belum turun, kenapa dikeluarkan? Nah, itikad baiknya dimana? Koordinasi antar instansi itu dimana? Dan kalau dilepas alasan masa tahanan selesai. Dia akan salah kalau menahan orang jika selesai masa tahanan makanya koordinasi itu perlu. Seperti Polisi, besok misalkan habis masa tahanan. Sebelumnya dibilang ibu tolong dulu ini berkas belum P-21 masa tahanan mau habis. OK kami tetap saling membantu, paling tidak kita tidak cari buronan-buronan ini capek lagi. Ini orang kebanyakan hukumannya tinggi. Memperkosa, membunuh… kalau mereka buat onar di luar bagaimana, masyarakat bagaimana. Ya, maksud ada dulu positif thinking-nya. Tapi Lapas?
Bagaimana prosedur sebuah perkara sehingga meminimimalisir polisi jangan mengejar-ngejar buronan?
Begini, satu perkara waktu masih di Polisi disebut tahanan polisi. Waktu diserahkan ke kami, kami hanya punya waktu penahanan 20 hari. Kalau mau mau memperpanjang, bisa hanya tambah 30 hari. Itu diperpanjang dari Ketua PN. Kemudian setelah mempelajari berkas perkara kami harus melimpahkan ke Pengadilan. Setelah kami limpahkan di Pengadilan, hari itu dan jam itu juga dia menjadi tahanan Pengadilan. Lalu berjalanlah sidang, misalkan dalam perjalanan sidang ini ada yang masa tahanannya sudah habis, pihak Pengadilan memperpanjang masa tahanan. Kita ngapain, kita tidak ada tanggung jawab lagi. Setelah putus, kan masa tahanan masih ada, pihak Pengadilan mengirim ekstra vonisnya (surat putusan) itu kepada Kejaksaan. Pihak Kejaksaan setelah mempelajari ektra vonis dan berkas-berkas semuanya lalu membuat surat eksekusi ke Lapas bahwa orang ini sudah inkra (eksekusi) misalnya 5 tahun. Ya, selesai tugas jaksa. Jadi kalau kemarin kita mau cuci tangan, bisa saja. Tetapi tidak seperti itu karena kami punya tanggung jawab, walaupun hari itu kami baru terima putusannya.
Siapa saja nama-nama tahanan itu dan dari mana data Anda peroleh?
(sembari memperlihatkan data ke Vista Nusa)…ini  datanya dari Lapas, tapi hanya satu lembar untuk Kajari. Kemudian surat kami ke lapas yang intinya bisa dicatat saja. Bahwa para tahanan yang dilepas pihak Lapas tersebut setelah kami lakukan pengecekan data yang ada pada kami ternyata ditemukan bahwa status tahanan tersebut tidak satupun merupakan tahanan Kejaksaan, melainkan tahanan PN Kupang. Nama-namanya, Niul L. Puti, Jehonya Nixon Nange, Yunus Naluk, Neno Kenjab, Yulius Banfatin, Yosep Masuat, Cornelis Nabut, Timotius Sufmela, Yustinus Naihati, Siprianus Tlaan. Mereka-mereka ini  kasusnya besar, ada yang membunuh, memperkosa, dll. Nah, kalau mereka-mereka ini dilepas ya Kalapas yang cari toh. Itu kalau kita mau mencari orang susah. Kenapa itu, kan kita sudah susah payah mencari dan menemukan lalu dilepas kembali. Ada apa itu? Intinya saling kordinasi sehingga tidak cari-cari pembenaran sendiri.
Ada UU yang mengatur untuk melepas tahanan dan apa reaksi pihak penahan (Pengadilan) yang ketahui?
Dalam KUHAP pasal 20 tentang penahanan. Masing-masingnya ada masa-masa tahanan, misalkan di Polisi berapa, pengadilan, atau lapas berapa. Aturan itu menyatakan bahwa bila sudah habis masa tahanan pihak yang menahan harus segera melepas. Reaksi pihak penahan yang tahu pihak pengadilan beranggap…kan hari itu (26 Nopember 2007) sudah kirim semua putusan. Jam 11.00 Wita kami terima. Ini apakah harus sim sala bim kita buat. Kalau dieksekusi satu tahun kita buat satu bulan? Hanya karena kurang teliti. Masalahnya waktu ini, kita bukan robot toh! (by. marthen radja)
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s