Vaksin Bunuh Puluhan Ternak di Riung


PROGRAM vaksinasi yang dilakukan Dinas Peternakan, Pertanian dan Perkebunan (P3) Kabupaten Ngada di Kecamatan Riung, Riung Barat dan Wolo Meze pada November 2009 silam menyisahkan duka bagi petani ternak di tiga daerah tersebut. Pasalnya, setelah di vaksin, puluhan ternak seperti sapi, kambing dan babi milik para petani tiba-tiba mati serentak. Ironisnya, pemerintah terkesan tak pernah tahu. Loh koq..?
Senin (1/2/10) sore, sejumlah warga Desa Tadho dan Lengkosambi, Kecamatan Riung berkumpul dipinggir jalan trans Riung – Mbay. Raut muka mereka kusut tak bersemangat. Setelah didekati ternyata mereka sedang berdiskusi untuk melangsungkan demonstrasi ke kantor Bupati Ngada. Apa sebab? Usut punya usut ternyata mereka tak puas dengan kinerja Dinas P3 Kabupaten Ngada. Pasalnya, kematian ternak pasca vaksin hingga kini belum juga ditanggapi atau dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada.
Di dua desa tersebut terdapat puluhan ekor ternak yang mati akibat vaksin Dinas P3, antara lain 10 ekor babi milik Fidelis Rasa, 3 ekor babi milik Ny. Lena, 13 ekor babi milik Berto Bholong, 5 kambing milik Irwan Bhanging, 7 kambing milik Agus Loning, 4 ekor babi milik Kosmas Tama, 2 ekor sapi milik Anton Luntung dan 15 ekor kambing milik Nadus Tabu.
Menurut warga, vaksin ternak yang dilakukan Dinas P3 awalnya untuk mencegah datangnya penyakit di musim hujan. Namun dalam pelaksanaannya, Dinas P3 memakai tenaga anak SMK Peternakan Mbay (Nagekeo).
“Yang suntik vaksin itu anak SMK Peternakan Mbay. Mereka dipakai oleh Dinas P3. Mungkin karena kurang pengalaman atau salah obat atau salah takaran obat, tiba-tiba babi dan kambing yang mereka suntik itu mati semua. Memang waktu mereka suntik, tidak langsung mati. Tapi keesokan harinya ternak kami mati semua. Kami sudah laporkan masalah ini ke pemerintah, tapi sampai hari ini tidak ada tanggapan,” papar salah seorang warga Tadho.
Oleh karena itu, Bupati Ngada, Drs. Pit Jos Nuwa Wea diminta untuk segera turun tangan. Sebab ternak menjadi sumber kehidupan utama bagi masyarakat Tadho dan Lengkosambi.
“Daerah kami ini, daerah kering. Curah hujannya sangat sedikit. Satu-satunya andalan kami adalah ternak. Nah kalau ternak kami mati seperti ini, kami mau hidup pakai apa lagi. Coba pak bayangkan, anak babi sekarang di Riung harganya Rp 300 ribu. Babi besar 1 sampai 1,5 juta. Sedangkan kambing Rp 800 ribuan. Berapa kerugian kami? Untuk itu kami minta pemerintah segera mengganti ternak kami itu,” tegas warga Tadho itu lagi.
Keluh kesah disampaikan juga sejumlah warga Riung Barat dan Wolo Meze. Tak hanya hewan milik pribadi, hewan bantuan pemerintah untuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktani) yang bersumber dari dana Program Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAD) juga mati dibunuh vaksin. Hanya saja kondisi di dua kecamatan tersebut tak separah seperti yang terjadi di Riung.
Sementara Kepala Dinas P3 kabupaten Ngada, Ir. Bernard F.D Bura, MT yang ditemui dikantornya membantah semua laporan warga Riung, Riung Barat dan Wolo Meze. Dia menjelaskan, kegiatan vaksinasi ternak awalnya untuk mencegah datangnya penyakit menjelang musim hujan 2009-2010, serta mengantisipasi menularnya penyakit dari kabupaten tetangga.
“Karena itu kami melakukan faksinasi secara besar-besaran. Semua petugas saya kumpulkan, saya bentuk tim untuk bekerja, terutama di wilayah-wilayah perbatasan. Itu mulai dari Riung, Riung Barat sampai Aimere. Kita konsentrasi di daerah-daerah itu. Kita vaksin mulai November hingga Desember 2009. Setelah itu, ketika memasuki masa sidang DPRD Ngada, saya mendapat laporan dari Anggota DPRD Ngada asal Riung, pak Feliks Japang dan pak Kristo Sape bahwa di Riung ada puluhan ternak mati. Begitu dapat info, saya langsung cek ke lapangan. Ternyata betul ada binatang yang mati. Itu di Maronggela (Riung Barat) sapi 4 ekor, di Tadho (Riung) kambing 11 ekor. Tapi yang di Maronggela mati bukan karena vaksin,” paparnya.
Toh begitu Bura mengakui kalau 11 kambing di Desa Tadho (Riung) mati karena vaksin. Namun kasus ini terjadi akibat kelalaian pemilik ternak.
“Pengaruh vaksin biasanya spontan dalam waktu 1 x 24 jam. Kalau ada gejala yang kurang baik, pemilik harus lapor ke petugas. Tapi ini tidak. Yang kedua, setelah hewan di vaksin, kita sarankan kepada pemilik ternak untuk mengikat dulu ternaknya paling sedikit selama satu hari. Tapi untuk gampangnya, supaya tidak capek cari rumput, supaya tidak capek kasi makan, hewan yang baru di vaksin langsung di lepas. Akibatnya fatal seperti itu,” ucapnya.
Soal di Riung ada puluhan ternak yang mati akibat vaksin, Bura membantah dengan tegas. Namun ia berjanji akan mengecek informasi tersebut. Jika benar ada ternak yang mati akibat vaksin, Dinas P3 Ngada siap menggantinya.
“Bukan saya mau menutup kelemahan kami, tapi sekarang ini ada kecenderungan beberapa kelompok tertentu yang melapor di luar fakta. Kita di Ngada ada yang namanya bantuan ternak Gapoktani. Setelah terima bantuan, si penerima berusaha “menggelapkan” bantuan itu. Untuk itu mereka mulai buat laporan palsu bahwa hewan bantuan itu mati karena vaksin. Itu yang perlu kita cek. Sebab, sekarang ini sudah ada beberapa oknum yang dipolisikan karena berusaha menggelapkan bantuan pemerintah itu,” tandasnya.
Menurut Bura, akhir-akhir ini Dinas P3 Ngada banyak mendapat laporan palsu, termasuk soal bantuan Gapoktani. Kejadian ini pernah terjadi di tahun 2009. “Ketika itu saya baru menjabat sebagai kepala dinas, tiba-tiba ada sebuah harian menulis di Bajawa Utara ratusan ekor sapi mati. Ketika saya cek, ternyata hanya satu dua ekor saja. Sudah begitu, sapi yang mati itu ternyata sapi liar. Waktu itu, ketika ditangkap dan sapi dalam keadaan capek, mereka kasi minum di kubangan kerbau. Mungkin pengaruh panas dan capek, tiba-tiba sapi-sapi itu kejang-kejang dan tak lama kemudian mati. Karena itu, kasus di Riung akan saya cek lagi. Kalau benar ternak yang mati itu karena vaksin, maka kami siap ganti,” tegasnya.

Cegah Penyakit Berbahaya
Untuk mencegah munculnya berbagai penyakit ternak berbahaya seperti antrax di Kabupaten Ngada, Dinas P3 giat melaksanakan program vaksinasi. Program tersebut dibiayai APBD dan APBN.
“Vaksin itu untuk mencegah munculnya dan menularnya penyakit berbahaya. Vaksin itu responnya 1 x 24 jam. Bisa baik, bisa tidak. Baik, kalau setelah di vaksin, hewan diikat atau dikurung. Tapi kalau setelah di vaksin, hewan itu langsung di lepas, akibatnya kita tidak bisa kontrol hewan itu dengan baik. Kalau sudah begitu bisa fatal. Bisa mendatangkan kematian bagi hewan itu sendiri. Untuk itu, peternak mesti pro aktif. Ikuti arahan petugas ternak. Kalau ada tanda-tanda yang kurang bagus setelah di vaksin, masyarakat harus segera melapor ke petugas vaksin,” ujar salah seorang staf Dinas P3 Ngada, drh. Yeni Goa.
Menurut dia, kejadian di Riung bisa jadi contoh. Sebab, setelah ternak di vaksin secara massal, kebanyakan dari ternak-ternak tersebut langsung di lepas oleh pemiliknya masing-masing. Akibatnya banyak ternak yang mati.
“Kematian ternak akibat vaksin lazimnya terjadi dalam 1 x 24 jam setelah ternak di vaksin. Tapi kalau lebih dari itu, berarti ternak yang bersangkutan bukan mati karena vaksin,” tegasnya. (*)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.