Potensi MInyak dan Gas Di Pulau Flores Akan Dieksplorasi


SERGAP NTT ONLINE :Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini tak hanya fokus mengembangkan lapangan minyak dan gas (Migas) di Indonesia Barat. Menyadari penurunan produksi dari lapangan migas dibagian barat Indonesia, pemerintah mulai melirik lapangan-lapangan migas di Indonesia Timur yang masih banyak belum dikembangkan. Berdasarkan paparan Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas, KESDM, A. Edy Hermantoro di Intercontinental Hotel, Rabu (27/7) lalu, disebutkan bahwa terdapat sekira 39 cekungan migas di wilayah Indonesia Timur. Dari jumlah itu, terdapat 21 cekungan yang belum digarap atau dieksplorasi. Dari jumlah ini, salah satunya terdapat di wilayah Flores, NTT. Karena itulah potensi ini kedepan akan dikelola demi kemakmuran bangsa dan negara.

Edy mengungkapkan, sebagian besar lapangan migas yang ada di Intim terletak di laut dalam. Sejumlah lapangan di kawasan tersebut yang telah dikembangkan adalah Lapangan Tangguh, Masela dan Donggi Senoro.

“Kita harus bergerak. Tidak hanya konsentrasi (mengembangkan migas) di Indonesia bagian barat, tetapi juga Indonesia bagian Timur, karena masih banyak lapangan lain yang belum dikembangkan,” kata Edy.

Edy menyebutkan, berdasarkan data Ditjen Migas, total cekungan yang berlokasi di Indonesia bagian Timur berjumlah 39 cekungan. Cekungan yang telah beroperasi adalah Seram, Salawati, Bintuni dan Bone. Sedangkan cekungan yang telah dibor namun belum berproduksi adalah Banggai, Sula, Biak dan Timur. 

Sementara 21 cekungan yang belum dieksplorasi, lanjut Edy, adalah Lombok, Bali, Flores, Gorontalo, Salabangka, Halmahera Selatan, Weber Barat, Weber, Waropen, Tiukang Besi, Tanimbar, Sula Selatan, Buru, Buru Barat, Halmahera Utara, Halmahera Timur, Halmahera Selatan, Obi Utara, Obi Selatan, Seram Selatan dan Jayapura. 

“Ada juga sembilan cekungan yang telah dibor namun tidak ada penemuan, antara lain Akimegah, Buton, Manui, Makassar Selatan, Missol, Palung Aru, Sahul, Sawu, Waipoga dan Lairing,” beber Edy.

Edy mengungkapkan, sebagian besar wilayah kerja migas ini telah ditawarkan pada tahun ini. “Dari tahun ke tahun, jumlah kontrak kerja sama (KKS) wilayah kerja migas di kawasan itu, terus bertambah. Pada tahun 2008 dan 2009, tercatat masing-masing 9 kontrak ditandatangani. Sedangkan pada 2010, ditandatangani lima kontrak,” ungkapnya.

Sementara itu, sejalan dengan rencana pengembangan di Indonesia bagian Barat, banyak peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan investor. Antara lain, pengembangan small scale LNG carrier and receiving terminal dan dan pengembangan industri yang menggunakan migas. “Misalnya, pembangunan kompleks industri petrokimia di dekat lokasi sumber gas, seperti yang pernah diusulkan mantan Wapres Jusuf Kalla,” pungkasnya. (aln/fmc)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.