Ayo Terus Dukung Komodo


sergapntt.com – Keikutsertaan Komodo dalam ajang New7Wonders of Nature  memancing Kontroversi. Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo melansir bahwa New7Wonders adalah yayasan abal-abal. Sebab alamat yayasan itu tidak jelas. Kabar ini tentu saja menghentakan publik Indonesia. Tapi tidak berarti semangat untuk mendukung Komodo menjadi berkurang. Setidaknya menurut Emmy Hafild, Ketua Tim Pendukung Pemenangan Komodo (P2K). Berikut petikan wawancaranya:
Duta besar dan Kementerian Pariwisata mengatakan New7Wonders abal-abal, pendapat Anda?

Ayo terus dukung Komodo. Hm,,,, Saya tidak punya kompetesi untuk menjawab pernyataan mereka itu. Tapi mengapa kami percaya pada yayasan New7wonders itu karena kami melihat profil mereka. Melihat karya mereka. Pada 2000-2007 mereka juga berhasil menggelar kompetisi tujuh keajaiban dunia. Hasilnya luar biasa. Itu menunjukkan track record mereka.

Soal alamat yang menumpang museum dan tidak ada kegiatan di sana?

Itu museum milik yang punya kok, Bernard Weber. New7Wonders itu punya banyak pegawai dan menyebar di sejumlah negara. Mereka ada di London, Zurich, dan Kanada. Weber itu punya dual citizenship, Kanada dan Swiss. Ini adalah organisasi modern, tak punya overhead cost, operasi mereka lewat dunia cyber. Kami kalau kirim email pasti dijawab. Karyawan mereka tidak berkumpul jadi satu tapi selalu travelling ke 28 negara.

Masih menurut Pak Dubes, orang Swiss tak ada yang kenal New7Wonders. Tanggapan Anda?

Dia tanya ke mana ya?  Swiss itu memang tidak perlu New7Wonders untuk mempromosikan pariwisatanya. Puluhan juta yang datang tiap tahun ke sana. Meski Swiss punya finalis, tidak banyak warga di sana yang ikut memilih.

Dan untuk diketahui, yang bersemangat dalam ajang New7Wonders adalah negara-negara yang memerlukan turis untuk memajukan bisnis parawisata mereka seperti Korea Selatan, Filipina, dan Vietnam. Bahkan di Israel ada 1.000 orang telanjang untuk kampanye memenangkan Laut Mati. Yang ribut-ribut ya di Indonesia ini.

Soal tuduhan New7Wonders yang profit oriented?

Dia organisasi independen. Semua biaya untuk pengeluaran ditanggung sendiri. Kalau nggak jual lisensi, dari mana dia dapat uang? Dia punya hak paten, investasi risiko, harus biayai ke sana ke mari. Tapi hal seperti ini memang begitu cara kerjanya. Hal yang biasa saja.

Ambil contoh Indonesian Idol, kan bayar lisensi. SMS-nya juga premium, tapi tak ada yang mempermasalahkan tuh.

Ada tuduhan, kampanye Komodo ‘menjual’ nasionalisme, benarkah demikian?

Itu sederhana saja alasannya. Waktu ada wakil kita di ajang internasional,  kita pasti mendukung. Agnes Monica misalnya, kita kan mendukung dia. Kemudian kita semua memenangkan rendang dalam polling makanan terenak di dunia versi CNN. Memangnya salah memenangkan sesuatu di tingkat dunia? Kita ini adalah bangsa yang rindu kemenangan.

Pada tahun 2007 lalu, Borobudur kalah dalam ajang New7Wonders, kita ribut-ribut. Sekarang Komodo sedang berjuang dan ada harapan menang, diributin lagi. Rakyat Indonesia ini luar biasa rindu kemenangan.

Pemerintah berdalih, kampanye Komodo tak perlu New7Wonders. Bahkan Dubes Swiss siap mempromosikan Komodo ke Eropa.

Sekarang yang datang ke Komodo cuma 100 orang per hari. Butuh kampanye yang besar. Kampanye melalui dubes, pemerintah kan pakai dana APBN. Itu jelas pajak rakyat lho. Mereka tidak pernah tanya kepada rakyat soal penggunaan uang itu. Silakan saja pemerintah kampanye, tapi jangan larang inisiatif masyarakat. Kalau mau pakai APBN, untuk biayai birokrat jalan-jalan kampanye Komodo, silakan. Tetapi sekali lagi, jangan larang masyarakat.

Komodo sudah punya dua pengakuan dari UNESCO. Itu yang jadi alasan pemerintah, kita tak butuh New7Wonders. Tanggapan Anda?

Komodo mendapat pengakuan UNESCO pada 1986, tapi meningkatnya promosi kedatangan Komodo baru dua tahun terakhir. Memangnya saat berstatus world heritage, banyak yang ke sana? Tidak, sebab UNESCO tidak berbuat banyak. Hanya beri sertifikat, lalu selesai.

Ada pengaruh kontroversi ini ke penggalangan dukungan Komodo yang tinggal 10 hari lagi?

Tidak ada pengaruhnya. Tidak turun juga suaranya. Kasihan saja pihak New7Wonders dihakimi di Indonesia. Pesan saya ke masyarakat Indonesia, terus dukung Komodo. Hasilnya juga untuk kita kok. Untuk kesejahteraan rakyat NTT dan perbaikan konservasi Komodo.

Menang atau kalah soal lain. Tapi lihat apa yang terjadi setelah kampanye ini, masyarakat menjadi sadar Indonesia memiliki kekayaan alam, Pulau Komodo. Menjadi cinta negeri sendiri. Anak-anak mengenal bahkan mengkampanyekan Komodo. Apa itu salah?
Toh, hanya dua orang dari pemerintah yang mengeluarkan statemen seperti itu. Yang lain, bahkan presiden mendukung memilih Komodo. Pesan saya pada Dubes Swiss, daripada mengurus soal Komodo, urus saja diplomasi di Swiss — bagaimana mengembalikan uang koruptor yang dibawa kabur ke sana. (by. cis/VIVAnews)
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s