sergapntt.com [KUPANG] – Gejolak politik yang melanda kelompok POT, Flores, Gerindra, Demokrat dan PDIP membuka peluang menang bagi paket dr. Yovita Anike Mitak dan Anton Natun (AMAN) di pemilukada Kota Kupang yang akan digelar di bulan Mei 2012 mendatang. Sebab, mata, pikiran dan pilihan alternatif sebagian besar kelompok yang sedang dilanda konflik bathin itu mengarah kepada AMAN.
Paket AMAN dinilai paket yang paling aman untuk dipilih. Duet sang dokter asal Flores dan politisi asli Timor ini digadang-gadang bakal keluar sebagai pemenang di suksesi Pemilukada Kota Kupang kali ini. Selain memiliki kualitas dan personalitas yang terukur, pasangan yang diusung Partai HANURA, PPRN dan PDP ini diuntungkan dengan konflik intern yang melanda kelompok POT, Flores, Gerindra, Demokrat dan PDIP.
Awalnya POT dan Gerindra menjagokan Gustaf Oematan dan Hengky Benu. Tapi sayang, kedua figur potensial ini tergusur setelah Gerindra menetapkan Jeriko. Begitupun dengan kelompok Flores dan Demokrat yang mulanya mengandalkan duet Rikardus Wawo dan Melkisedek L. Madi (PRIMA) akhirnya putus asa setelah DPP Demokrat menetapkan Jeriko.
Semua karena apa? Uang? Bisa jadi! Bukan rahasia lagi kalau pengurus partai politik (parpol) selalu mematok harga jika ada yang ingin menggunakan parpolnya sebagai kendaraan politik menuju singasana kekuasaan. PDIP sendiri dihempas isue. Untuk mengikat PDIP, Jeriko dikabarkan nekad merogoh koceknya sebesar Rp2,5 milyar. Begitupun untuk Partai Gerindra.
Namun Sekretaris DPD PDIP NTT, Nelson Matara langsung membantah. “Ah,,, tidak benar itu,” ucapnya.
Di tubuh PDIP sendiri sedang terjadi perpecahan. Sebagian pengurus dan simpatisan PDIP Kota Kupang mendambakan Jefri Riwu Kore berpasangan dengan Epi Seran, Anggota DPRD Kota Kupang asal PDIP. Sebagiannya lagi menginginkan PDIP mengusung paket Gustaf Oematan dan Selly Tokan. Namun Ketua DPD PDIP NTT, Frans Lebu Raya tak sepakat. Politisi yang juga Gubernur NTT itu malah mendorong Kristo Blasin bersanding dengan Jefri. Akibatnya, para pengurus PDIP dari tingkat ranting hingga kecamatan mengancam akan melakukan demonstrasi saat Jeriko mendaftar ke KPU pada tanggal 14 Februari 2012.
“Aduh,,, saya tidak dengar itu. Tepatnya saya kurang tau jika ada yang mau demo,” ujar Epi Seran saat dihubungi SERGAP NTT via mobilenya pada Sabtu (11/2/12).
Bagi sebagian pengurus DPC PDIP Kota Kupang, penetapan Jeriko sebagai paket PDIP merupakan pemaksaan kehendak. “Kristo Blasin itu,,, dia punya basis dimana? Selama ini dia hanya terukur di Flores, di Maumere sana. Mending Niko Frans! Karena Niko sudah teruji. Buktinya Niko terus menjadi anggota DPRD Kota Kupang karena dipilih oleh rakyat Kota Kupang. Begitu juga dengan Epi Seran. Lantas Kristo Blasin? Tidak kan! Itu yang kami tolak. Bagaimana mau menang, kalau belum teruji. Apalagi saya dengar sekarang ini Kristo hanya panggil dia punya orang-orang Maumere dan pejabat-pejabat dari provinsi untuk menjadi tim sukses. Kalau sukuis begini bagaimana. Kalau Elitis begini bagaimana? Kota Kupang ini dihuni oleh orang dari berbagai etnis dan berbagai level profesi. Bukan orang Maumere saja. Bukan pejabat saja. Sekarang ini rakyat sudah pintar pak, mo pake suku keq, mau pake pejabat keq, rakyat tidak peduli. Justru kalau terpilih nanti, hanya pejabat itu yang nikmati. Rakyat? Tenganga sa,,,” ujar salah seorang pengurus DPC PDIP Kota Kupang.
Menurut pengikut Megawati Soekarno Puteri yang enggan namanya ditulis tersebut, kini ditubuh PDIP terbagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok mendukung Jeriko, satu abstain, satu lagi menolak Jeriko.
“Kami yang tidak mendukung Jeriko masih belum menentukan sikap. Kami masih menunggu hasil penetapan KPU. Siapa yang kami dukung, kita lihat saja nanti. Bisa ke Dan Adoe, bisa ke Yonas, bisa ke Veki Lerik, bisa juga ke dr. Niken,” tegasnya.
Sementara itu kubu HANURA, PPRN dan PDP terus merapatkan barisan. Pemantapan strategi pemenangan paket AMAN telah diputuskan dalam pertemuan yang dilaksanakan Jumat (10/2/12) sore.
Menang? Itu target! Semangat partai pengusung bisa saja terwujud. Asalkan, paket AMAN lolos dari lubang jarum keabsahan partai politik yang mengusungnya. Sebab, HANURA, PPRN dan PDP diketahui memiliki kepengurusan ganda. Sebut saja PPRN, di Jakarta maupun di Kupang, partai ini memiliki tiga pengurus, yakni PPRN versi Pondok Bambu yang dimanage oleh D.L Sitorus, terpidana kasus pengalihan hutan lindung menjadi kebun kepala sawit di kawasan Padang Lawas, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara yang kini sedang ditahan di LP Bandung, PPRN versi Amelia A. Yani, dan PPRN versi Made Rahman Marasabessy.
Paket AMAN mengantongi rekomendasi PPRN versi Amelia A. Yani. Padahal di Pemilukada Kabupaten Jayapura yang baru usai digelar pada 17 Desember 2011 lalu, KPUD dan PTUN Jayapura hanya mengakui PPRN versi Made Rahman Marasabessy. Begitupun dengan Pemilukada di Kabupaten Maluku Tenggara Barat.
Namun politik syarat dengan kemungkinan. Kemarin bisa saja Made Rahman Marasabessy, besok bisa saja Amelia A. Yani. Mungkin inilah yang menjadi pedoman kenapa paket AMAN lebih memilih PPRN versi Amelia A. Yani. Toh akan teruji saat KPU Kota Kupang melakukan verifikasi ke KPU Pusat dan Depkumham nanti.
Paket AMAN dipastikan akan mendaftar ke KPU Kota Kupang sebagai peserta pemilukada pada Rabu (15/2/12). “Ya,,, kami daftar tanggal 15 nanti,” ujar dr. Niken —begitulah dr. Yovita Anike Mitak biasa disapa—saat ditemui SERGAP NTT, Jumat (10/2/12) lalu.
Ibu tiga anak yang kini menjabat sebagai Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi NTT itu mengaku, paket AMAN sudah tidak ada masalah lagi dengan parpol pengusung. Semua sudah beres berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Soal menang? Niken selalu optimis. Toh akhinya Tuhan yang menentukan. Itu sebabnya, ia tak takut kalah atau menang. Begitupun dengan Anton Natun. Politisi HANURA yang kini menjabat sebagai salah satu Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kupang itu yakin 100 %, paket AMAN bakal mendulang sukses.
Keyakinan dr. Niken dan Anton Natun cukup beralasan. Sebab, hampir setiap warga pemilih Kota Kupang yang ditemui SERGAP NTT selalu mengidolakan paket AMAN, termasuk kelompok POT, Flores, Gerindra, Demokrat dan PDIP. Apalagi kaum perempuan. Bagi komunitas hawa ini, Niken merupakan figur perempuan yang patut didukung. Bukan karena ia seorang wanita, tapi karena Niken dan Anton bisa diharapkan untuk memperbaiki manajemen kepemimpinan yang salah di Kota Kupang.
Bahkan puluhan aktivis perempuan dideteksi sedang giat mensosialisasikan keberadaan Niken di panggung politik. Bagi mereka, kini saatnya kaum perempuan tampil sebagai pemimpin. Sekaligus pembuktikan bahwa kaum perempuan juga bisa jadi seorang pemimpin, bahkan bisa lebih baik dari laki-laki.
By. CES
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar