Hutan di NTT Rusak Parah


sergapntt.com, KUPANG – Keberadaan kawasan hutan di NTT mulai memprihatinkan. Penebangan ilegal menjadi penyebab utamanya. Bahkan pohon-pohon tua yang  berada disekitar kawasan mata air ikut dibabat oleh para penebang liar. Misal yang terjadi di Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada. Kawasan yang dulunya memiliki hutan lebat, kini menjadi gersang. Tak pelak debit air pun menurun drastis. Yang rugi otomatis masyarakat penggguna air. Ironisnya, pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum setempat terkesan masa bodoh.
Karena itu, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya meminta semua pihak untuk untuk segera menghentikan penebangan liar dan mulai menjaga dan melestarikan hutan.  
“Untuk menjaga dan melestarikan lingkungan atau hutan lindung, menjadi tanggungjawab bersama,” ujar Lebu Raya dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Administrasi Umum Sekda Provinsi NTT, Ir. Eddy Ismael, MM saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Pembangunan Kehutanan di Aula Hotel Ina Boi Kupang, Senin malam (12/3/12).
Lebu Raya juga mengakui saat ini masih ada masyarakat NTT yang tinggal atau berada di dalam kawasan hutan lindung.
“Masih banyak masyarakat kita yang hidup di kawasan-kawasan hutan lindung. Karena itu, kerusakan hutan jauh lebih besar. Sulit bagi kita untuk mengejar degradasi akibat kerusakan hutan,” ucap dia, seraya memberi contoh kawasan hutan di Taman Nasional Komodo (TNK) yang berada di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat.
Karena kerusakan hutan yang makin tinggi dan tekanan masyarakat yang kuat terhadap sumber daya hutan, Lebu Raya mengajak para pemerhati lingkungan khususnya di bidang kehutanan untuk lebih kreatif memperhatikan keberadaan lingkungan hutan yang ada di daerah ini.
“Panggilan tugas kita dibidang kehutanan sangat mulia. Jadi kita jangan cederai panggilan tugas itu,” pintanya.
Keberhasilan pembangunan di sektor kehutanan, kata Lebu Raya, sangat tergantung dari keberhasilan pembangunan di sub sektor lainnya.
“Karena itu, saya minta jajaran kehutanan untuk mengintegrasikan program-program yang ada dengan delapan agenda pembangunan, empat tekad khususnya menjadikan NTT sebagai Provinsi Cendana serta Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah,” tegas Lebu Raya seraya menambahkan, “Pengelolaan hutan selama ini tidak berdasaerkan hati. Keberadaan hutan sangat memprihatinkan.”
Di tempat yang sama Kepala Dinas Kehutanan NTT, Ir. Ben Polo Maing dalam laporannya mengatakan, tekad menjadikan NTT sebagai Provinsi Cendana dengan konsep pembangunan cendana diletakan dalam pendekatan kepemilikan lahan masyarakat.
“Kami juga sedang gencar dengan Gerakan Cendana Keluarga (GCK). Tanaman cendana ditanam di lahan milik masyarakat dan pemerintah hanya menfasilitasi bibit cendana untuk ditanam oleh masyarakat. Bahkan Dinas Kehutanan NTT sedang mengerjakan kebun bibit desa untuk ditanami cendana di Kabupaten Belu,” paparnya.
Untuk menyukseskan berbagai kegiatan yang digelar Dinas Kehutanan NTT, Polo Maing berharap ada dukungan dana yang signifikan dari APBD Provinsi maupun APBD Kabupaten/Kota yang ada di NTT.
“Suksesnya pembangunan kehutanan khususnya tekad menjadikan NTT sebagai Provinsi Cendana harus dibarengi dengan dukungan dana yang signifikan, tidak hanya berasal dari APBN tetapi perlu juga dukungan dana dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota,” kata mantan Kadis Kehutanan Kabupaten Ngada itu.
by. chris parera/verry guru

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?