Ratusan Hektar Sawah Terendam Banjir


sergapntt.com, MBAY – Selasa, 6 Maret 2012, banjir tiba-tiba menghantam Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, tepatnya di Desa Aeramo dan Kelurahan Mbay II,  Kecamatan Aesesa. Akibatnya, ratusan hektar sawah di kawasan ‘Surabaya II’ itu terendam banjir. Hampir pasti tahun ini para petani mengalami gagal panen. Terjadinya banjir akibat hujan lebat dengan intensitas tinggi yang melanda hampir seluruh wilayah Mbay.  Kondisi terparah dialami  warga Aeramo dan Mbay II.
Kepala Desa Aeramo, Mena Seravinus, S.Ip mengaku, akibat banjir tersebut, para petani di desanya mengalami kerugian hingga milyaran rupiah. Sebab, sekitar 120 hektar sawah terendam banjir dan dipastikan mengalami gagal  panen.
Menurut Seravinus, banjir yang merendam sawah disebabkan oleh pecahnya Boks Air di KM satu enam kiri. Akibatnya, luapan air menjadi tidak terkendali. Tak pelak  air pun menyapu dan merendam sawah.
“Dari sekian ratus hektar sawah yang terendam banjir, ada beberapa yang sudah siap untuk dipanen. Sedangkan yang lainya, baru ditanam. Para petani di desa saya hanya bisa pasrah menghadapi ini semua. Belum lagi luapan banjir dari kali Wakasa di Aeramo ini juga berakibat fatal untuk lahan seluas 70 Ha yang terletak di KM satu enam kanan. Para petani ini juga mengalami hal yang sama seperti di KM satu enam kiri,” papar Seravinus saat ditemui SERGAP NTT, Jumat (6/3/12) lalu.
Untuk itu, Seravinus meminta, jebolnya Boks Air dan masalah luapan sungai Waikasa mesti segera diatasi. Jika tidak, maka akan berakibat fatal bagi kehidupan masyarakat di desanya.
Untuk kali Wakasa sebaiknya segera di normalisasi. Bila tidak, maka setiap tahunnya akan menjadi bencana wajib bagi desa kami. Sedangkan untuk Boks Air harus sesegera mungkin di perbaiki agar penyuplaian air ke lahan sawah milik warga bisa dikendalikan debit airnya,” ujarnya, berharap.
Beberapa petani asal Aeramo mengaku, kini merekia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena itu mereka sangat berharap pemerintah segera turun tangan.
Pa, kami sudah tidak bisa buat apa-apa lagi. Harapan kami satu-satunya adalah sawah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,serta biaya anak sekolah semua kami peroleh dari hasil padi. Memang ini  bencana, tetapi kami juga punya harapan kepada pihak Pemda Nagekeo untuk membantu meringankan beban hidup kami. Kami mau minta kemana lagi kalau bukan kepada pemerintah, karena kami juga butuh makan dan minum. Mau marah salah, mau diam tambah parah. Tetapi kami yakin bahwa Pemda Nagekeo  tidak mungkin tutup mata dengan rakyatnya yang lagi menderita,” ucap mereka.
Masalah banjir juga dihadapi warga Mbay II. Di wilayah ini, banjir merupakan langanan wajib setiap musim penghujan. Sebut saja kampung Nilla.  Setiap tahun tidak pernah absen dari banjir. Bukan hanya lahan sawah, tetapi pemukiman warga juga terendam banjir. Lebih parah lagi terjadi di dusun Mbaling, Nila. Setiap tahun, daerah ini tidak pernah luput dari genangan air hujan dan air sawah yang meluap hingga musim panas tiba.
Salah satu warga Mbaling, Dur Jogo kepada SERGAP NTT mengatakan, persoalan banjir di daerahnya merupakan masalah klasik. Dari tahun ke tahun selalu mengahadapi masalah yang sama. Berbagai protes dan usulan telah disampaikan kepada pemerintah, namun hingga hari ini protes dan usulan itu belum juga ditangapi.
“Bagaimana air tidak tergenang,,, kalau saluran pembuangannya hanya sebesar telapak tangan. Supaya masalah ini selesai, maka segera buat saluran pembuangan yang lebih besar dan  permanen menuju kali Aesesa,” sergahnya.
Permintaan yang sama juga datang dari salah seorang warga Enek, Osias Siga Mea. Os berkisah, pada tahun 2011 lalu, pernah terjadi banjir akibat luapan air dari kali Aesesa. Kejadiannya pada tengah malam saat sebagian besar warga sudah tidur. Banjir yang datang tiba-tiba itu membuat warga panik. Sebagian warga, ada yang mengungsi dan sebagian lainnya memilih untuk tetap bertahan. Ternak milik warga banyak yang hanyut terbawa  arus banjir, ratusan hektar sawah terendam air. Tanaman padi yang sudah siap panen banyak yang terlindas banjir. Untuk menyelamatkan hasil panen, warga terpaksa harus mengeluarkan biaya ekstra.
Kalau tidak seperti itu, kita mau makan apa. Bila kita memperhitungkan biaya pengolahan sampai panen, maka hasil yang di dapat adalah minus. Karena biaya pengolahan lebih besar daripada hasil panenan yang akan kita jual. Ibarat pepatah lebih besar pasak daripada tiang. Untuk tahun 2012 kejadian ini terulang lagi, hanya tidak setragis tahun lalu, tetapi yang namanya bencana tetap saja kami yang menjadi korban,” tandasnya.
Kata Os, dari dulu di Nilla tidak pernah ada perubahan pembangunan. Dari tahun ke tahun tidak pernah ada aktivitas proyek atau semacamnya. Jalan-jalan sudah pada rusak. Saluran pun tak pernah dirawat. Entah apa penyebabnya hingga Nilla dianaktirikan seperti ini.
Toh begitu, pasca banjir, Wakil Bupati Nagekeo, Drs. Paulus Kadju pada Kamis (9/3/12) lalu terlihat mendatangi lokasi banjir. Ia didampingi Marselinus Lowa (petugas Dinas PU), Ardus Mola (Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah), dan Muhayan Amir,S.Ip (Camat Aesesa).
Saat berada di lokasi banjir, Paulus Kaju mengatakan dirinya sangat prihatin dengan kondisi yang dialami korban banjir.
“Ini merupakan kejadian luar biasa dan harus segera diatasi. Bila ini tidak segera diatasi, maka akan membawa dampak yang buruk bagi kehidupan masyarakat di daerah ini. Kalau air tergenang terus begini, maka akan menjadi sarang nyamuk. Kami akan segera mengambil langkah kongkrit untuk mengatasi hal ini,” tegasnya.
by. wiliam djo

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?