Pemilih Bukan Kerbau…


TIMORense – Pilkada merupakan bagian utama dalam sistem politik berdemokrasi. Lebih jauh lagi pilkada menjadi barometer bagi pihak tertentu untuk mengukur sejauhmana demokratisnya sebuah negara. Idealnya, pilkada bagian proses transisi peralihan kekuasaan ke rezim pemimpin yang baru. Di sisi lain sebagai sarana menyalurkan aspirasi warga negara (pemilih) mendukung dan berharap kepada pemimpin yang baru agar kehidupan berubah. Berkaitan daripada itu pemilih harus benar-benar mengetahui sosok dan kapasitas pemimpin yang di pilih.
Karena itulah dalam konteks pilkada 2012, rakyat Kota Kupang sebagai pemilih memiliki urgensi tersendiri. Dengan demikian memahami perilaku pemilih menjadi salah satu elemen penting untuk dikaji bagi para kandidat yang bertarung pada pilkada sebentar lagi terlaksana. Mengapa dikatakan penting pemilih bagi kandidat pilkada, dikarenakan pemilih menjadi kunci kemenangan meraih orang nomor satu di Kota Kupang.
Hal ini disampaikan A.G. Hadzarmawit Netti, saat ditemui TIMORense di kediamannya, di bilangan Oepura, beberapa waktu lalu. Menurutnya, pemahaman tentang pergeseran perilaku pemilih dapat menggunakan pendekatan voting behavior (perilaku pemilih). Ia mengungkapkan bahwa apabila kita membicarakan teori perilaku pemilih, maka tidak ada satu teori yang benar, karena juga tidak ada hanya satu teori mengenai perilaku manusia pada umumnya. Namun menurutnya, secara umum terdapat tiga macam pendekatan atau dasar pemikiran yang berusaha menerangkan perilaku pemilih, yaitu pendekatan sosiologis atau sosial struktural, model psikologi sosial, dan model pilihan rasional (rational choice).
Netti menjelaskan tentang tipelogi pemilih. Pertama, pemilih rasional. Pemilih dalam hal ini lebih mengutamakan kemampuan partai politik dalam program kerjanya, di mana pemilih jenis ini memperhatikan kinerja dari partai politik yang dipilihnya.
Kedua, pemilih kritis lebih cenderung orientasinya kepada kemampuan partai politik, calon kepala daerah atau seorang caleg dalam menuntaskan permasalahan bangsa, maupun tingginya orientasi mereka akan hal-hal yang bersifat ideologis. Ketiga pemilih skeptis, jenis pemilih ini tidak memiliki orientasi ideologi cukup tinggi dengan sebuah partai politik atau seorang kontestan, ditambah lagi tidak menjadikan kebijakan sebagai sesuatu yang penting. Terakhir keempat pemilih tradisional, di mana untuk pemilih jenis ini memiliki orientasi ideologi yang sangat tinggi dan tidak terlalu melihat kebijakan partai politik, calon kepala daerah atau seorang caleg sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan keputusan.
Namun saya memiliki pemikiran tersendiri dalam mengartikulasikan pemilih, di mana pemilih adalah aktor penentu dari perpolitikan demokrasi di Indonesia. Karena merekalah sistem berdemokrasi bisa berjalan. Sehingga layak dikatakan sebagai aktor politik penentu. Tidak mengherakn jika para kandidat pilkada maupun pemilu menjadikan mereka mitra seiring sejalan dalam karangka partisipasi politik.
Menurut Netti, pemilih pun terbagi menjadi kognitif dan afektif. Rasional dan kalkulasi masuk ke pendekatan kognitif, umumnya pemilih yang kritis. Sedangkan emosional dan cenderung menggunakan perasaan yaitu pemilih yang tingkat SDM-nya masih rendah, sehingga mudah di permainkan oleh partai politik atau caleg tertentu.
Yang Tradisional Mayoritas
Menurut Netti, dalam konteks Pilkada 2012 di Kota Kupang, masih besar pemilih tradisional daripada pemilih cerdas. Tapi harus ditelaah lebih dalam lagi pemilih tradisional di Kota Kupang terbagi dalam beberapa varian. Pertama pemilih tradsional yang belajar dari pengalaman sehingga membuat mereka cerdas. Kedua pemilih tradisional karena loyalitas dengan ideologi partai dan karena kedekatan emosional. Dan ketiga pemilih tradisional yang terikut arus politik atau karena tekanan berupa ancaman fisik. Ataupun terikat hubungan emosional dan dipengaruhi lingkungan sekitar.
Netti mengatakan, ada pandangan yang menyatakan pemilih tradisional tidak cerdas. Pelabelan yang diberikan itu tidak sepakat dalam pikiran saya. Karena pemilih tradisional, walaupun kurang dari segi pendidikan tetapi mereka cerdas menilai dan melihat situasi. Hal ini disebabkan mereka belajar dari pengalaman, yang selanjutnya dikonstruksikan dalam penilaian tersendiri dan menentukan sikap politik pada pilkada 2012.
Ia menjelaskan jika partai politik di Kota Kupang ada yang mengklaim mendapatkan dukungan dari pemilih tradisional dan cerdas dengan jumlah persentase yang besar. Kalau hitungan matematiknya dilihat jumlah kursi di parlemen saya sepakat. Akan tetapi hitungan itu bisa berubah atau bergeser. Faktor penyebabnya antara lain kinerja partai politik tidak berpihak kepada kepentingan pemilih, basis pemilih yang loyal tidak dirawat sehingga di ambil oleh kandidat lain dikarenakan terfokus dengan urusan kepentingan politik, sulit memperoleh karena waktunya yang sangat pendek dalam kampanye pilkada dengan tujuan perolehan dukungan, dan suara pemilih tradisional ada di ambil oleh kandidat lain yang ikut pilkada. Indikator-indikator itulah yang membuat pergeseran pemilih tradisional dan pemilih cerdas. Kecuali ada strategi jitu yang mampu mengembalikan dukungan pemilih dan makin membuat besar kuota pemilih dari sebelumnya. Strategi jitu harsu dikolaborasikan dengan konsolidasi partai hingga mampu membuat solid tim pemenangan.
Parpol Parah
Bahkan partai politik di Kota Kupang dalam berkompetisi pada pilkada sangat kurang dan hampir jarang memberikan pendidikan politik kepada pemilih. Faktanya masih terjerat dengan cara-cara instans seperti memajang baliho, spanduk, serta ucapan selamat pada hari-hari besar. Seharusnya mengedepan investasi jangka panjang dengan membuat strategi pendidikan politik kepada pemilih. Tujuan agar dukungan pemilih akan mengarah kepada kandidat dalam pilkada 2012.
Karena itu ia berharap pada pilkada 2012 seluruh kandidat kepala daerah harus mensosialisasikan visi/misi, program, kepemimpinan, track record yang diukur dengan kinerja calon pemimpin yang akan maju. Bukan karena mengikuti teman, atau tersihir pada pencitraan media. Ia menegaskan para pemilih jangan terhipnotis dengan “pencitraan” permukaan yang dilakukan kandidat kepala daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota.
Ia mengungkapkan, hadirnya momentum pilkada 2012 sebagai aset yang harus dijadikan pijakan semua kandidat yang didukung partai politik melakukan perubahan dan pembaharuan menuju keadaan yang lebih baik. Di sisi lain, partai politik hendaklah mengedepankan amanah rakyat ketimbang memperbesar kekayaan kelompok di partainya.
By. Wesly Jacob

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?