![]() |
| Prof. Dr. Felysianus Sanga, M.Pd |
TIMORense – Partai politik memiliki salah satu fungsi mempersiapkan kader-kader partai untuk menjadi pemimpin politik. Fakta berbicara, fungsi partai politik dalam aspek ini mandul. Parpol tidak bedanya dengan institusi bisnis yang selalu mencari untung ketika ada hajatan politik. Berikut wawancara wartawan TIMORense, Wesly Jacob (TR) dengan salah seorang pakar dari Undana Prof. Dr. Felysianus Sanga, M.Pd (FS).
TIMORense (TR) : Menurut pengamatan anda seperti apa proses pemilu kada di Kota Kupang ini?
Felysianus Sanga (FS) : Sebenarnya jika dilihat secara global, pemilukada di Kota Kupang masih menjadi ajang bisnis bagi partai-partai politik. Partai- partai politik hanya menanti calon atau kandidat yang mendekati mereka untuk mendaftar sebagai calon walikota. Kepada para calon yang mendaftar ini partai politik menetapkan sejumlah standar atau target. Ini terjadi karena pengkaderan dalam tubuh partai politik sendiri tidak berjalan sebagaimana mestinya. Artinya, tak ada proses pengkaderan dalam tubuh partai-partai politik yang ada.
(TR) : Jadi menurut anda seharusnya bagaimana?
(FS) : Partai-partai politik harusnya memiliki kelompok basis binaan. Jangan hanya muncul atau kelihatan pada saat ada momen politik seperti pemilu legislatif, pemilu presiden atau pemilukada saja. Yang terjadi selama ini kan, partai politik hanya nampak saat ada moment-moment seperti itu, setelah selesai mereka seperti hilang ditelan bumi.
(TR) : Mengapa bisa terjadi ?
(FS) : Itu terjadi karena partai-partai politik yang ada ini motivasinya hanya mencari kekuasaan saja. Coba anda perhatikan ada berapa banyak partai politik yang ada ini, baik yang punya kursi dan tak punya kursi di DPR maupun DPRD yang benar-benar membawa aspirasi rakyat. Karena motivasi yang salah itulah, akhirnya eksistensi partai politik hanya terjadi dan terlihat oleh masyarakat saat ada moment politik seperti pemilu ini.
(TR) : Apa makna pemilukada di Kota Kupang ini menurut anda?
(FS) : Pemilukada ini harusnya menjadi moment untuk mencari pemimpin bukan penguasa. Karena itu, untuk mencari pemimpin, harus dilaksanakan secara baik, terencana dan terukur melalui partai politik. Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik, kalau partai-partai politik sendiri tidak melakukan proses pengkaderan, hanya asal rektrut orang dari mana-mana, tanpa memperhatikan kredibilitas dan kapasistas orang tersebut. Dan sialnya lagi, partai-partai politik tak pernah melakukan pendidikan politik kepada konstituennya. Sehingga yang terjadi adalah system pemilukada yang dirancang sebaik apapun tak akan bisa menghasilkan pemimpin yang baik, karena kita mengalami kekurangan kader yang punya kapasitas dan kredibilitas yang baik.
(TR) : Pemimpin yang terjaring dalam proses pemilukada ini menurut anda harusnya seperti apa?
(FS) : Bagi saya, pemimpin itu harus memiliki 2 hal pokok, yang pertama leadership dan yang kedua adalah managerial. Kedua hal itu, menjadi tugas Partai-partai politik untuk membentuk kader-kader agar bisa menjadi pemimpin yang memiliki karakter leadership dan berkemampuan manejerial yang baik. Namun karena banyak partai politik tak menjalankan proses pengkaderan dengan baik dan terencana akibatnya adalah ketika seorang calon menduduki kursi “leader” ternyata dia bukan seorang manajer yang baik. Bahkan yang sering terjadi adalah pemilukada hanya menghasilkan penguasa, bukan pemimpin.
(TR) : Artinya?
(FS) : Artinya, kita harus jujur bahwa partai-partai politik saat ini sudah gagal dalam melakukan pengkaderan. Coba anda perhatikan, dari sejumlah nama bakal calon yang muncul dan diusung oleh partai politik untuk bertarung di pemilukada kota Kupang ini, apakah semuanya murni karena proses pengkaderan dari partai politik tersebut? Kebanyakan yang ada ini adalah figur yang besar sendiri di luar lalu karena ketiadaan “pintu” masuk untuk menjadi pemimpin, maka figur tersebut harus mendekati partai politik agar diusung sebagai calon walikota. Maka disinilah partai-partai politik mulai memainkan peran sebagai “makelar” jabatan politik. Kondidi seperti ini dapat dikatakan bahwa partai politik dan DPRD “menggadai” hak rakyat kepada para calon atau kandidat. Akhirnya yang terjadi adalah, hanya mereka yang berduit saja yang bisa menjadi calon atau diusung sebagai calon walikota oleh partai politik.
(TR) : Pemimpin yang ideal itu seperti apa menurut anda?
(FS) : Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, seorang pejabat publik harus memiliki karakter leadership dan berkemampuan manajerial. Karena itu, menurut saya pemimpin itu ialah seorang arsitek, yakni arsitek pembangunan atau perubahan terencana. Ia harus sudah memiliki desain yang jelas dan matang serta mampu melaksanakannya secara disiplin. Bukan berjanji sekedar menggantungkan harapan maya pada berbagai persimpangan jalan kota.
(TR) : Jika melihat fenomena banyaknya figur bakal calon yang ada ini, menurut anda apakah ini bisa dikatakan bahwa proses demokrasi di Kota Kupang ini sedang tumbuh?
(FS) : Saya kira semua orang berhak untuk dicalonkan dan mencalonkan diri sebagai calon walikota. Namun berdasarkan fenomena yang nampak, dapat dikatakan bahwa partai politik masih gagal menyiapkan kader partai yang layak diusung ke atas pentas politik. Sesunguhnya masyarakat menanti partai politik menawarkan kader yang dibanggakan partai dan diterima masyarakat sebagai calon elit yang diharapkan masa depan.
(TR) : Bagaimana dengan kecenderungan pemilih di Kota Kupang?
(FS) : Saya kira kalau ditanya kepada rakyat atau anggota pemilih, pasti semua menginginkan pemilukada ini bisa menghasilkan pemimpin yang bisa membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun, perlu disadari juga bahwa karena pendidikan politik tak dilakukan oleh partai-partai politik kepada konstituennya, maka masyarakat pemilih ini tidak akan memakai kriteria-kriteria dalam memberi dukungan suara. Jika tidak manjadi golput maka mereka hanya mendukung dengan alasan-alasan simpati murahan, seperti kedekatan kekeluargaan, suku, agama, dan sebagainya.
(TR) : Menurut anda apa sesungguhnya persoalan di Kota Kupang yang mesti diselesaikan ke depannya?
(FS) : Persoalan yang paling mendasar adalah Kota Kupang ini sangat majemuk masyarakatnya, terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Karena itu, pemimpin ke depan harus mempunyai visi yang tajam dengan misi yang sistematis dan saksama sehingga mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang majemuk ini melalui program-program yang strategis. (*)
Tinggalkan komentar
Belum ada komentar.


Tinggalkan komentar