Pragmatis Atau Rasional?


Mendengar kata PEMILU (Pemilihan Umum), mungkin yang terfikir di benak kita adalah terciptanya pertarungan atau persaingan antar elit Politik dalam pencapaian kekuasaan. Persaingan dalam menarik simpati serta suara terbanyak dari Rakyat (selaku pemilih) merupakan suatu jalan untuk memenangkan pertarungan tersebut. Sehingga Rakyat dalam hal ini merupakan pemegang kunci atau tokoh utama yang diperebutkan hak suaranya.
Segala cara dilakukan oleh para calon untuk merebut hati Rakyat, perang program kerja dan Janji-janji politik merupakan salah satu caranya. Namun itu semua sudah terdengar tidak menarik lagi di telinga para rakyat. Mereka merasa bahwa program serta janji tersebut hanyalah harapan palsu atau omong kosong semata.
Pandangan tersebut merupakan sebuah refleksi dari kekecewaan yang sekian lama telah mereka alami. Mereka menggunakan tolak ukur pada PEMILU-PEMILU yang sebelumnya pernah mereka jalani, yang dimana selalu tidak pernah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Bagaimana program-program serta janji-janji yang disuarakan dengan lantang oleh para colan saat berkampanye dengan begitu menjanjikan, namun setelah terpilih, sekali lagi tetap tidak ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang dulunya miskin masih tetap menjadi rakyat miskin, yang dulunya pengangguran masih tetap tidak dapat pekerjaan, yang dulunya tidak sekolah masih tetap tidak bersekolah, dll.
Melihat kondisi yang demikian, berimplikasi terhadap pemikiran masyarakat dalam menentukan pilihan dalam PEMILU. Bagaimana masyarakat tidak lagi berfikir secara rasional tetapi lebih berfikir secara pragmatis, yang mana mereka menentukan pilihan tidak lagi berdasarkan kompetensi, program, visi-misi, serta aspek historis dari seorang calon. Tetapi lebih berdasarkan atas apa yang telah diberikan seorang calon kepadanya. Artinya mereka mengharapkan sesuatu yang berwujud nyata, bukan hanya sekedar janji-janji palsu semata.
Pergeseran pemikiran tersebut secara tidak langsung telah menumbuh suburkan praktek-praktek negatif dalam proses PEMILU. “Sogokan berkedok amal/bantuan” dan “Serangan Fajar” merupakan suatu hal berwujud nyata, yang paling ditunggu-tunggu oleh para rakyat selain pentas-pentas hiburan saat proses pemilihan akan berlangsung. Kondisi yang demikian merupakan gambaran dari sikap pragmatis serta sikap apatis masyarakat yang ditunjukan kepada para calon pemimpin tersebut.
Berkembangnya sikap pragmatis dan apatis dalam diri masyarakat juga telah merubah cara pandang serta pola pikir masyarakat dalam menentukan suaranya. Yang dimana membuat masyarakat cenderung berfikir secara sempit. Mereka tidak berfikir akan dampak serta akibat yang akan terjadi apabila mereka salah dalam memilih calon Pemimpin. Artinya kesalahan memilih sekali saja dapat berdampak selama 5 tahun ke depan dalam dinamika kehidupannya, yang lebih ekstrim lagi dampak kesalahan tersebut juga akan dirasakan oleh Anak cucu mereka.
Suatu pengambilan keputusan yang tidak pro rakyat ataupun proses pengambilan kebijakan yang tidak menyentuh dalam sendi-sendi kehidupan masyrakat merupakan dampak yang akan timbul akibat kesalahan dalam memilih sosok seorang calon tersebut. Dengan demikian yang terjadi bukan akan memperbaiki kehidupan mereka, tetapi malahan akan memperburuk kehidupan dari masyarakat itu sendiri.
Sehingga dengan adanya keadaan tersebut membuat masyarakat menjadi terjerembak dalam Lingkaran Setan PEMILU. Bagaimana sikap pragmatis dan apatis dari masyarakat yang muncul sebagai bentuk kekecewaan akan hasil yang selama ini mereka rasakan yang tak pernah merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik, disisi lain apabila mereka berfikir secara pragmatis dan apatis dalam melakukan pilihan akan berdampak lebih buruk lagi dalam kehidupannya. Sehingga dengan demikian membuat masyarakat menjadi serba salah dalam menentukan pilihannya.
Melihat dinamika yang muncul dalam masyarakat tersebut, menimbulkan suatu kekhawatiran serta rasa takut tersendiri dalam masyarakat. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat dituntut untuk lebih berfikir kritis, untuk bagaimana melihat aspek akuntabilitas, kompetensi, program, serta aspek historis perjalanan seorang calon dalam menetukan pilihan. Selain itu juga diperlukan kepercayaan terhadap seorang calon, bahwa ia mampu untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk kedepannya.
Dengan terpenuhinya semua itu, impian untuk mendapatkan seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat, mengerti akan kebutuhan rakyat, serta pemimpin yang dapat merubah kehidupan rakyat menjadi lebih baik, akan menjadi suatu kenyataan. Semoga anda tidak salah dalam memberikan suara untuk PEMILU.
By. Ambolas

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?