Cinta Kandas Karena Agama


sergapntt.com, KUPANG – Berbekal ijazah SMA, dan restu dari kedua orangtuanya saat itu, Lusy (26), memberanikan diri melanjutkan studinya di Pulau Dewata, Bali. Seiring berjalannya waktu, ia mulai menjalani perkuliahan, mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru. Semuanya berjalan dengan baik, bahkan ia berhasil memperoleh prestasi dan nilai yang baik di semester awal.
Dalam pergaulan, ia mengaku tak mengalami kendala yang begitu berarti, namun sebagai gadis muda dan normal, tak dipungkirinya ada beberapa teman lelakinya yang mencoba mendekatinya untuk menjalin hubungan sebagai kekasih, tapi selalu ia tolak, dengan alasan ingin lebih fokus pada studinya. Ternyata, saat memasuki semester keempat, bertemulah ia dengan laki-laki yang bisa membuat hatinya bergetar, sebut saja Rynal.
Singkat kata, akhirnya ia dan Rynal pun menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Hubungan ini, menurutnya berjalan dengan indah dan sangat menyenangkan, namun hubungan yang terjalin hampir tiga tahun ini terhambat oleh perbedaan keyakinan kami. Lusy mengisahkan, akhirnya lewat sms dari Nokia 3315 bututnya, terpaksa harus mengatakan atau lebih tepatnya memberitahukan tanpa bersuara kepada Rynal, “Bahwa ada seseorang khusus diciptakan untukmu. Kita akan menemukan teman sejati kita, tapi untuk mencintai dan bersamanya adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya. Bang maaf kita bubaran saja. Kita tak mungkin mewujudkan apa-apa, lebih baik begini saja”
Begitulah kira-kira bunyi sms yang  Lusy kirimkan pada Rynal, lelaki yang 15 menit sebelumnya masih dipanggil “sayang, aku memikirkanmu…”
Tak lewat semenit hand phone kembali mengeluarkan suara kodok pertanda ada sms baru. “kok jd tiba2 gni sih???” ini balasan yang kudapat. Ia mengaku, dengan sisa kekuatan logika yang masih berdiri sempoyongan, coba membalasnya : “Maaf bang sebenarnya mikirnya udah dari kemaren cuma baru bisa ngomong saat ini. Sekali lagi maaf ya, gak bisa ngomong langsung ke abang.” Dan begitulah kontak terakhirnya dan Bang Rynal. Tak ada balasan lagi darinya. Lusy pun cukup tahu diri untuk menjaga pikiran positif atas tindakan negatif yang sudah ia lancarkan. Secara etika, harusnya bukan begini cara yang baik.
“Aku dan Bang Rynal sadar sekali atas resiko hubungan yang kami jalin. Tak bertujuan, hanya ingin menikmati atas dasar suka sama suka pada awalnya. Ada kebahagiaan yang merayapi kami. Sesuatu yang fresh yang sudah lama tidak aku kecap. Sebelum kehadirannya sempat berfikir bahwa hatiku sudah mati. Tapi dia beda. Dia adalah nuansa sayang yang benar menyentuh perasaanku. Ah indah sekali saat kami bersama. Bawel vs Ndut, begitulah panggilan kami berdua”, ujarnya sambil tersenyum kecut.
Lusy dan Rynal, usia mereka terpaut 9 tahun berbeda, ditambah dengan perbedaan budaya dan keyakinan yang tentunya semakin sulit menyatukan mereka. Meski begitu, mereka tetap saling mendukung dalam aktivitas baik kerja maupun religi.
Menurut Lusy, tak penting memikirkan perbedaan itu asalkan tetap satu hati dan saling mensupport maka kami akan terus bahagia. Tapi di titik tertentu ia terpaksa harus menepis anggapan itu. Usia yang semakin bertambah otomatis mengarahkannya pada pilihan dan keputusan. “Ya.. kami tak bisa mewujudkan apa-apa dari jalinan ini jadi sebaiknya kuakhiri saja”, tutur Lusy.
Saat mengalami masa kegalauan itu, seorang temannya pernah berkata padanya, “…Lus…ada paradigma berpikir yang sedikit keliru tentang perbedaan. Sering kita mengatasnamakan agama dan lainnya sebagai hambatan. Bukan itu poinnya, Dari awal kau menjalani hubungan itu bukan tidak tahu kalau kalian memang berbeda. Dan akhirnya kalian tetap membukukannya. Setelah itu baru muncul uneg-uneg seperti ini. Saat kita bicara perbedaan dan hubungan asmara, mari bicara dari perspektif yang terbuka.”
“Katakanlah aku naïf, pesimis bahkan pecundang. Jangan pula tanyakan perasaanku saat sekarang. Tipis sekali aku memandang iklas dan terpaksa. Saat ini logikaku yang diunggulkan, walau tak sanggup menutupi perihnya rasa ini tapi aku bisa apa. Menyesal tidak kupedulikan lagi. Asalkan jangan lebih sakit nanti, karena belum tentu aku kuat” tutur Lusy mengakhiri kisahnya.
By. Wesly Jacob

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?