Ada Apa Dengan Majelis Jemaat?


sergapntt.com, TIMORense – Majelis jemaat adalah persekutuan anggota jemaat yang terpanggil menjadi kawan sekerja Allah dalam menjalankan fungsi pelayanan berdasarkan imamat Am orang percaya.
Persekutuan Majelis Jemaat dibentuk untuk menjalankan fungsi kepemimpinan jemaat dalam kesatuan sebagai Majelis Klasis dan Majelis Sinode agar dapat menjalankan panggilan dan tugasnya dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan Tata Gereja dan Tata tertib.
Demikian pendapat Antonetha Riwu, warga jemaat Syalom Air Nona Kupang, saat di temui TIMORense, di kediamannya beberapa waktu lalu. Menurut ibu tiga orang anak, majelis jemaat dapat menjadi Persekutuan yang ideal bila mampu menyatakan kesaksian dalam pelayanannya. Dasar kesaksian itu ialah keadaan tak tercerai-berai sebagaimana yang diharapkan dan berulang-ulang didoakan Tuhan Yesus.
Sayangnya, kata perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai di salah satu dinas di lingkup Pemerintah Kota Kupang, dalam kehidupan bergereja, persekutuan itu seringkali tidak terwujud. Adakalanya muncul perbedaan yang merenggangkan persekutuan bahkan bisa mengakibatkan perpecahan. Perbedaan merebak dari hal kecil sampai hal yang prinsip.
Ia mencontohkan, perbedaan pemahaman antar Penatua tentang fungsi rapat-rapat Majelis Jemaat. Ada Penatua yang mengkategorikan bahwa rapat itu urusan bisnis dan bukan pelayanan. Rapat hanya buang-buang waktu dan menambah birokrasi. Akibatnya, ia rajin melayani kebaktian, pelayanan, pelawatan dan kegiatan lainnya tetapi malas untuk hadir dalam rapat. Ia mencap mereka yang hobby rapat sebagai orang yang cuma bisa omong. Sementara itu, ada Penatua lain yang mengangap sebaliknya.
Selain itu, kadang terjadi seorang anggota jemaat, A, terpilih menjadi Penatua tapi menolak panggilan tersebut karena merasa tidak cocok jika bekerjasama dengan B. Sebaliknya C bersedia menerima panggilan itu kalau D juga terpilih. Persoalan tersebut juga bisa muncul dari Majelis Jemaat, misalnya, Penatua E lebih memilih anggota jemaat F yang menjadi sahabatnya dan menghambat anggota jemaat G yang kurang disukainya.
Menurut Riwu, apabila hal ini dibiarkan berlarut, maka akan terjadi kekisruhan dalam proses pengambilan keputusan. Bisa saja seorang penatua menolak gagasan yang bagus karena datangnya dari pribadi yang kurang disukainya. Sebaliknya ia mendukung gagasan yang buruk karena datangnya dari pribadi yang memiliki kedekatan hubungan.
Sebaliknya, bila semua orang melaksanakan tugasnya tanpa sentuhan keakraban karena segalanya telah dikomando dalam aturan tertulis, mulai dari Tager, tatib, Talak, Manual-manual, Panduan-panduan, juklak, jadual-jadual dan seterusnya. Semua itu seolah anak panah penunjuk arah yang mau tak mau harus dibaca, dimengerti dan dilaksanakan. Lalu semua keputusan yang dibuat menjadi kering dan kaku, tak membuka peluang untuk persoalan yang menunjuk fleksibilitas. Selain itu, menutup kemungkinan untuk berkomunikasi lewat pertanyaan. Sebab bertanya berarti malas atau bodoh.
Sementara itu, menanggapai hal tersebut di atas, Pnt. Joseph Manafe, penatua di salah satu jemaat di Klasis Kota Kupang ini, saat ditemui TIMORense mengatakan, pada dasarnya bila kehangatan dan kedewasaan itu tersemai dalam sebuah persekutuan dan tiap anggotanya memelihara serta menumbuh-kembangkannya niscaya persekutuan tersebut dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
Menurut Manafe, banyak upaya yang sudah di lakukan di jemaat-jemaat GMIT untuk meningkatkan persekutuan, misalnya, dengan mengadakan MALAM PEMBINAAN DAN KEBERSAMAAN sebulan sekali. Acaranya bervariasi antara penyampaian materi pembinaan, Pemahaman Alkitab, isu-isu penting, sharing dan ramah tamah, atau bisa juga dengan menyelenggarakan PEMBINAAN MAJELIS JEMAAT seminggu sekali. Tempatnya di gereja. Acaranya bervariasi antara Persekutuan Doa, membicarakan hal-hal penting yang terjadi dalam minggu itu khususnya yang memerlukan keputusan segera agar tidak usah menunggu sampai Persidangan Majelis Jemat.
Menurutnya harus disadari pula bahwa Persekutuan Majelis Jemaat dan pertemuan-pertemuan dalam gereja terjadi bukan semata-mata atas usaha kita melainkan diciptakan oleh Kristus sendiri.
Sementara itu, Marthen Agustinus Panie, warga jemaat Maranatha Oebufu, mengungkapkan, dalam rangka membangun persekutuan dengan sesama Penatua di lingkungan  jemaat yang dilayani, ada sejumlah pertanyaan yang mesti menjadi pertanyaan refleksi bagi setiap majelis jemaat, apakah yang majelis jemaat lakukan dalam tiap pertemuan tersebut? Adakah kegiatan lain di luar pertemuan-pertemuan tersebut di atas yang dilakukan oleh jemaat di rayon? Perlukah menambah kuantitas/jumlah pertemuan dengan menciptakan wadah-wadah pertemuan baru? Apakah MJ memiliki ide baru (selain yang sudah ada) yang perlu dikembangkan untuk makin memantapkan persekutuan Majelis Jemaat? Menurut Panie, kualitas Persekutuan Majelis Jemaat tergantung pada ada atau tidak adanya kandungan kehangatan dan kedewasaan di dalamnya.
Ia juga menambahkan, persekutuan dikatakan hangat apabila tiap anggotanya menghayati dan mewujudkan suasana saling mengenal, menjalin keakraban dan melahirkan kepedulian yang akhirnya bermuara pada kekompakkan dalam menggarap kerja bersama.
Menurut Panie, persekutuan disebut dewasa bila tiap anggotanya mampu mengetahui sekaligus menjalankan tugas, wewenang serta tanggungjawabnya. Bersamaan dengan itu diperlukan kemampuan membedakan batas-batas persoalan atau hubungan pribadi dengan kepentingan untuk mencapai tujuan bersama, yang dalam hal ini berarti: pelayanan.
Dalam kemajelisjemaatan, menurut Panie, kehangatan dan kedewasaan tersebut harus terpadu sedemikian rupa agar dapat menjalin suatu persekutuan. Mengapa? Sebab hanya ada kehangatan saja, hal itu bisa menjurus pada kecenderungan untuk menjadi eksklusif. Kalau hal itu berkembang menjadi komplotan atau klik tentu berdampak negatif. Sebaliknya bila hanya ada kedewasaan tanpa kehangatan maka persekutuan itu akan menjadi kering, tanpa sentuhan rasa, hingga tiap anggotanya akan menjadi seperti robot-robot saja.
Karena itu, menurutnya Gereja harus memanfaatkan setiap jenis pertemuan sebagai alat untuk lebih merekatkan persekutuan para penatua sebagai majelis jemaat.
By. Wesly Jacob

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?