Birokrasi, Remunerasi dan Kinerja


sergapntt.com – Masuk kerja harus jam 07.30 dan pulang jam 16.00 sore. Begitulah rutinitas seorang pegawai negeri sipil. Dengan gaji di atas UMR, dan tunjangan lainnya cukuplah untuk memberi makan anak dan istri, kalau disyukuri.
Mendengar reformasi birokrasi tentunya tak asing lagi, tetapi kemudian yang terasa adalah perubahan apa sih yang terjadi? Penciptaan nilai-nilai yang hanya sebatas jargon yang terus menerus diagungkan tanpa ada pengaruh pada perilaku dan budaya. Perombakan struktur, mutasi dan sebagainya hanya sebagai kamuflase perbanyakan setoran buat pejabat tinggi.
Distorsi gaji menjadikan harapan baru datangnya reformasi birokrasi. Ingat, remunerasi memberikan harapan yang tinggi akan banjirnya fulus ke kantong. Namun, sedikit melupakan akan perubahan yang menjadikan alasan utama datangnya reformasi. Remunerasi seakan hanya perubahan gaji, naik tanpa adanya perubahan prestasi dan perilaku atau budaya birokrasi.
Kinerja hanya menjadi ukuran relatif yang bisa di isi dengan sangat baik, baik, cukup baik dan kurang baik. Atau juga memungkinkan perasaan atasan yang tidak sejalan dengan bawahannya menjadi penilaian kinerja like atau dislike. Kinerja diukur berdasarkan penafsiran sendiri-sendiri atasan masing-masing yang kemudian dilaporkan untuk diberikan tunjangan selain gaji.
Reformasi birokrasi hadir ditengah-tengah tuntutan clean government dan good government. Penerapan tata kelola pemerintahan yang bersih menjadi jargon para elit yang mau menduduki kursi, baik eksekutif, yudikatif dan legislatif. Namun yang menjadi catatan harapan masyarakat, ..”Ya cukup sampai disini…”.
Kalau dilihat banyak instansi atau lembaga pemerintahan ini banyak sekalai pegawai tetapi kerjanya satu bulan sekali atau bahkan tiga bulan sekali. Kerja yang tiada tetapi setiap tahunnya penerimaan tenaga baru. Yang terpikir adalah penyerapan angkatan kerja, karena dunia luar (swasta) sepertinya tak mampu lagi menyerap lulusan baru sehingga kalau ada survei penggangguran angkanya akan mengecil dan sukseslah.
Tiap tahun anggaran untuk belanja rutin naik berkali-kali. Menurut beberapa catatan 25 persen tiap tahunnya tetapi perubahan yang diharapkan sangat jauh sekali. Satu sisi, kesejahteraan pegawai memang menjadi distorsi atas hadirnya reformasi birokrasi, yang menjanjikan remunerasi tetapi tak ada hasil sama sekali.
By. Masmoe

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?