Les Tambahan, Solusi atau Masalah?


TIMORense – Apakah anak perlu les tamabahan? Mendengar pertanyaan tersebut, tentunya di kepala kita muncul segudang komentar yang ingin kita ungkapkan. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana pendidikan di rasa semakin menyulitkan. Les tambahan menjadi salah satu jalan bagi siswa. Les tambahan yang di maksud di sini adalah kegiatan pembelajaran di luar sekolah. Seperti yang kita lihat, banyak sekali tempat les yang ada, baik itu berbentuk Lembaga pendidikan atau privat.
Mengapa harus ada les tambahan? Apakah tidak cukup pelajaran yang didapat di sekolah, sehingga banyak anak mengikuti les tambahan di luar? Berbagai alasan dilontarkan oleh beberapa siswa yang sempat dihimpun TIMORense, mengapa mereka harus mengikuti les tambahan antara lain. Menurut mereka, les tambahan karena takut tidak lulus, disuruh orang tua, dan bahkan ada juga yang hanya ikut teman.
Alasan takut tidak lulus yang disampaikan para siswa ini memang sangat masuk akal. Apalagi dengan adanya peraturan pemerintah yang dirasa semakin menyulitkan siswa seperti pergantian kurikulum dan Standard Kompetensi Kelulusan yang naik setiap tahunnya. Tentu kita masih ingat sudah berapa kali kurikulum pendidikan berganti, dari tahun 2005 s/d 2008 saja sudah tiga kali ganti kurikulum dan Standard Kompetensi yang juga dinaikkan. Pada periode tahun 2005/2006 Standard Kompetensi Kelulusan 4,26 di mana masih memakai kurikulum 1994. Periode 2006/2007 SKL menjadi 5,25 dan memakai kurikulum berbeda yaitu KBK(Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan yang terakhir di tahun 2007/2008 dengan kurikulum yang berbeda lagi yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
Lalu bagaimana dengan tahun ini? Max Halundaka, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang, mengakui hal ini dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di negara kita yang kini sudah jauh tertinggal. Apakah peraturan seperti ini tidak memberatkan siswa? Menurut Halundaka, sebetulnya tidak, dengan adanya peraturan seperti ini diharapkan anak akan lebih meningkatkan kegiatan belajarnya dan lebih serius bersekolah.
Tetapi yang terjadi malah kebalikannya, Siswa merasa khawatir akan nasib mereka. Sudah tidak menjadi pemandangan baru lagi ketika pengumuman kelulusan banyak siswa pingsan karena tidak lulus. Kata “TIDAK LULUS” merupakan “kiamat” bagi siswa karena waktu, tenaga, dan biaya yang mereka habiskan selama katakanlah 3 tahun hancur dengan kata tidak lulus. Bukan itu saja, pastinya seorang anak akan selalu dihantui rasa penyesalan dan kekecewaan kepada diri sendiri dan orang lain. Dan imbasnya orang tua juga akan merasa malu. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, banyak siswa mengikuti les tambahan di luar sekolah.
Apakah Les Tambahan menjamin kelulusan? Menurut Abraham Tande (48), warga Kelurahan Oepura, memang banyak anggapan bahwa dengan mengikuti les tambahan kelulusan akan mudah di dapat. Saat ditanya mengapa ia menyuruh anaknya mengikuti les tambahan, Tande mengungkapkan, les tambahan tidak hanya memberikan materi pelajaran saja, tetapi juga latihan soal agar siswa lebih siap ketika menghadapi tes atau ujian.
Jadi menurut pria yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai di Undana ini, tidaklah salah anggapan tersebut, walaupun sebenarnya lulus atau tidaknya seorang anak adalah sebuah takdir yang telah ditentukan. tapi takdir juga bisa di ubah selama ada kemampuan dan usaha yang keras?
Tande menjelaskan, alasan mengikuti les tambahan adalah disuruh orang tua. Bukanlah menjadi hal yang aneh jika orang tua menginginkan anaknya berhasil. Jadi apapun akan orang tua lakukan demi anaknya. Orang tua pasti juga khawatir melihat standard kelulusan yang tinggi. Mereka harus rela mengeluarkan banyak biaya untuk anak. Kita tahu bahwa biaya les tambahan lebih besar dibanding dengan biaya sekolah.
Mengapa hal itu sampai dilakukan? Apakah semata-mata demi anak mereka atau hanya sekedar gengsi saja? Kita tidak bisa langsung memberikan komentar, lihat dulu alasan orang tua memasukkan anaknya untuk mengikuti les.Terkadang ada juga orang tua yang memaksakan anak mengikuti les tambahan karena tetangga atau anak temannya melakukan hal yang sama. Inilah alasan yang di sebut karena gengsi. Apalagi dirasa orang tua tersebut mampu mengikutkan anaknya di lembaga pendidikan.
Karena itu menurut Tande, memang benar les tambahan sangatlah penting bagi seorang anak karena ikut les membantu anak menambah ilmu selain di sekolah. Mungkin anak akan lebih nyaman belajar di situasi yang santai daripada di sekolah. Tergantung diri kita sendiri yang menilai apakah Les tambahan itu sangat penting?
By. Wesly Jacob

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?