Senyum di Tengah Badai


sergapntt.com, TIMORense – Sebut saja, Mesak dan Mery, mereka termasuk pasangan suami istri bahagia. Walaupun dengan masa pacaran yang singkat, suami istri ini cukup memahami satu dengan yang lainnya. Sebelum mereka menikah, Mesak pernah berumah tangga dan dari hasil pernikahan pertamanya itu, membuahkan seorang seorang anak perempuan yang saat ini sudah beranjak remaja.
Hingga usia pernikahan yang telah memasuki tahun ketiga, pasangan suami istri ini belum dikaruniai anak. Namun begitu, mereka tetap hidup bahagia. Sayangnya, di tengah kebahagian pernikahan mereka ini, ada satu kebiasaan jelek dari Mesak yang belum juga hilang yakni kebiasaan mengkonsumsi minuman keras. Kebiasaan ini, terkadang membuat Mesak menjadi susah mengontrol diri. Alhasil, jika ia dalam keadaan mabuk, maka Mery akan menjadi tempat pelampiasan kemarahannya. Puncaknya saat itu, Mesak pulang dalam keadaan mabuk, tanpa ada sebab ia langsung memaki dan memukul Mery hingga babak belur.
”Saya sadar bahwa saya bukan perempuan sempurna untuk suami saya, tetapi sungguh saya tidak tahan mendengar kata-kata makian yang dia tujukan kepada saya tanpa alasan, disaat suami saya mabuk” tutur Mery (bukaan nama sebenarnya).
Kejadian ini membuat Mery trauma dan ketakutan jika Mesak dalam keadaan mabuk. Akhirnya Mery hanya bisa menangis dan menangis saja. Hingga suatu sore, saat Mery sedang menunaikan tugasnya di dapur, tiba-tiba terdengar suara orang masuk ke dalam rumah. Karena tidak merasa curiga, Mery pun melanjutkan pekerjaannya di dapur. Usai bekerja di dapur Mery masuk ke ruang makan, didapatinya dua piring kotor bekas makan tergeletak di meja makan. Ternyata itu adalah piring bekas makan sang suami dan anaknya.
Keesokan harinya, Mery melakukan aktifitas seperti biasa layaknya ibu rumah tangga, memasak, membersihkan rumah dan menenun. Dari kegiatan menenun ini, ia bisa mendapat sedikit penghasilan yang bisa membantu membiayai kebutuhan rumah tangganya. Sedangkan Mesak bekerja di kebun. Saat sedang menenun, datang anaknya membawa seekor ayam dan langsung mengikat ayam tersebut di dekatnya. Entah bagaimana, tiba-tiba ayam tersebut melompat ke atas tenunan yang sedang dibuat Mery sehingga membuat tenunan tersebut sobek. Karena merasa kesal, Mery langsung memarahi anaknya dan memukul ayam tersebut hingga patah kakinya.
Sorenya, seperti biasa saat suami pulang dari kebun, ia mendapati kaki ayam dalam keadaan patah, tanpa bertanya kepada Mery, ia langsung menendang leher dan paha Mery. Akibat tendangan tersebut, membuat Mery kesakitan dan tak mampu berjalan. Merasa tidak tahan diperlakukan kasar seperti itu Mery melaporkan kejadian tersebut kepada salah seorang tokoh masyarakat. Atas inisiatif tokoh masyarakat tersebut, diundanglah beberapa orang (tokoh adat) untuk membicarakan persoalan ini.
Para tokoh masyarakat dan tokoh adat ini akhirnya memanggil Mesak untuk membicarakan/memediasi masalah yang dilaporkan istrinya. Dari pertemuan tersebut, akhirnya Mesak mau mengakui kesalahannya. Selain itu juga proses perdamaian dengan ditandai makan bersama dan sebagai tanda permintaan maaf, Mesak memberi selembar kain sarung kepada Mery.
Sebagai perempuan, Mery merasa senang, tapi bukan karena diberi selembar kain dan makan bersama, tetapi karena merasa dihargai. Apalagi Mesak berjanji tak akan mengulanginya lagi. Akhirnya Mery hanya dapat berharap semoga sang suami benar-benar sadar, sehingga mampu merubah perilakunya di kemudian hari.
By. Wesly Jacob

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?