SM3T Sangat Diskriminatif


sergapntt.com, TIMORense – Kalangan DPRD NTT menilai, penentuan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai penyelenggara test penerimaan tenaga guru untuk program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) sangat diskriminatif.
Tudingan tersebut dilontarkan usai pertemuan kalangan DPRD Provinsi NTT dengan utusan perwakilan mahasiswa FKIP dari enam Perguruan tinggi yang ada di NTT. Menurut Hendrik Rawambaku, merupakan persoalan yang bisa dipertanyakan kepada kementrian pendidikan nasional, alasan tidak dilibatkannya perguruan tinggi yang memiliki fakultas keguruan dan imu pendidikan yang nota bene merupakan institusi pendidikan yang bakal melahirkan tenaga-tenaga pendidik. “Kita harus pertanyakan dan memperjuangkan hal ini sehingga tidak terkesan diskriminatif. Seolah-olah yang bisa mengangkat mutu pendidikan hanyalah bekas IKIP yang ada di Jawa,” tandas Hendrik Rawambaku.
Perwakilan mahasiswa Sefnat Ali dan Sandi Neolaka (FKIP Undana), Yeremia Wabang dan Vinsensius Darut (FKIP Universitas PGRI NTT), Sokan Teibang (FKIP Universitas Muhammadiyah Kupang) dan Fredy Kase (FKIP UKAW) usai pertemuan mengharapkan adanya upaya konkrit yang bisa dilakukan DPRD NTT sehingga memberikan harapan baru bagi mahasiswa yang ada di NTT. “Kami menaruh harapan besar kepada kalangan DPRD NTT. Semoga perjuangan ini bisa membuahkan hasil yang maksimal terlebih untuk kepentingan pendidikan di NTT,” harap mahasiswa yang datang dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Kota Kupang.
Memang Hendrik Rawambaku punya alasan yang masuk akal. Namun pertanyaannya kemudian, apakah dengan argumentasi demikian dapat meluluhkan pendirian Menteri Pendidikan Nasional RI? Bukankah ini merupakan upaya sadar Pemerintah Pusat untuk mengambil alih kewenangan pengelolaan pendidikan yang selama ini telah diberikan kepada pemerintah darah? Apapun yang terjadi perjuangan masih panjang. Jalan masih berliku. Mungkin kita bisa merenung sejenak, dimanakah posisi kita saat program ini dibahas? Dimanakah anggota DPR RI asal NTT saat perencanaan program ini dibicarakan? Mengapa seakan kita miskin informasi?
Sokan Teibang mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh, UMK tahun 2009 menghasilkan 500 lebih lulusan FKIP. Ironisnya, yang mengajar hanya 24 orang. Dan tahun 2010, jumlah lulusan sebanyak 470 orang, yang mendapat kesempatan untuk mengajar hanya delapan orang. Sudah begitu, tahun 2011 lalu, sebanyak 600 lebih menjadi sarjana pendidikan dan sampai saat ini belum satu pun yang mengajar. Mungkinkah program SM-3T memberikan dampak positif bagi tamatan institusi kependidikan di NTT?

By. Jefry  


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?