Calon Walikota Memaknai Paskah 2012


sergapntt.com, KUPANG – Kata kaum pakar, politik adalah ilmu dan seni tentang kemungkinan. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dimungkinkan. Mungkin inilah yang mengihlami para calon walikota dan wakil walikota kupang 2012-2017 bagaimana memanfaatkan moment paskah demi menggapai kekuasaan dengan label garuda di dada.
Beberapa diantara kandidat telihat begitu antusias mengikuti kebaktian dari gereja ke gereja. Setiap bertemu orang, bibirnya selalu menyajikan senyum sumringah. Memberi kesan seolah-olah dia adalah figur paling pantas untuk dipilih.  
Ada lagi yang kong kali kong dengan oknum-oknum pastor dan pendeta agar bisa menggunakan mimbar gereja sebagai podium kampanye. Akan ini, akan itu. Janji dipakai sebagai senjata untuk menjerat umat yang nota bene pemilih.
Namun ada yang kritis. Kelompok ini selalu realistis. Tak mudah terpengaruh. Apalagi terhadap janji-janji politisi. Lewat berbagai media, kaum realistis ini selalu berusaha untuk memberi pencerahan bagi para pemilih tradisionil yang masih terjebak dengan sentimen suku, agama, ras dan lain sebagainya yang tidak realistis.
Lazimnya orang ke gereja untuk beribadah, berkomunikasi dengan Tuhan. Bukan dengan politikus. Tapi itulah politikus, setiap ada kesempatan selalu dimanfaatkan. Tak peduli di gereja atau di gudang. Bagi mereka, yang penting bisa kenyang dan tidur pulas dikemudian hari.
Mirisnya, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya sebagai pembina poilitik di NTT ikut-ikutan bermanuver. Misi yang dibawa adalah bagaimana memenangkan Jeriko, kandidat yang diusung PDIP dan GERINDRA. Dari lorong ke lorong, komunitas ke komunitas, bahkan dari gereja ke gereja politisi PDIP asal Pulau Adonara itu datangi. Harapannya hanya satu, yakni pada 1 Mei 2012 nanti, masyarakat yang didatangi bisa memenangkan Jeriko.
Sontak saja membuat masyarakat menjadi terpecah-pecah. Ada yang bertanya gubernur ini gubernurnya orang NTT atau gubernurnya Jeriko dan simpatisan PDIP? Tapi para loyalis gubernur tetap kukuh. Pemilukada Kota Kupang sedang dijadikan sebagai ajang ujicoba untuk pilgub 2013.
Itu sebabnya keberpihakan gubernur terus menjadi topik diskusi di berbagai media, termasuk di dunia maya, melalui facebook dan twitter. Mayoritas tidak menyetujui sikap dan keperpihakan gubernur.
Sesungguhnya tak ada aturan yang melarang. Tapi etika mengharuskan sang pembina mesti bersikap netral. Apalagi dalam masa Paskah ini.
Namun calon walikota yang tidak didukung oleh gubernur tetap yakin, “Kita boleh berusaha, tapi sesungguhnya Tuhan telah menunjuk paket mana yang akan memimpin Kota Kupang selama 5 tahun kedepan”.
Itu sebabnya mereka tak peduli dengan keberpihakan gubernur. Toh rakyat Kota Kupang sudah matang dalam berpolitik. Semua akan terbukti pada hari H nanti.
By. Chris Parera

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?