
sergapntt.com [DENPASAR] – Dengan honor per hari hingga Rp 1 juta, pekerjaan sebagai fixer amatlah menggoda. Tak hanya imbalan, tantangan dan kesenangan pekerjaan ini juga amat tinggi. Seorang fixer bisa belajar banyak hal, terutama disiplin bekerja ala media dan jurnalis mancanegara.
![]() |
| Gereja Tempat Aku Bertugas |
Sebagaimana kebiasaan para pastor yang belajar di kota abadi Roma, setiap Natal dan Paskah , kami pergi ke paroki-paroki di luar kota Roma untuk berasistensi, Natal tahun ini aku bersama 7 teman Indonesia lainnya diminta oleh salah satu dekenat di kota Pisa (Italia Tengah) Kota Pisa terkenal dengan menara miringnya yang dibangun berabad-abad yang lalu. Posisinya yang ganjil justru menjadi daya tarik setiap orang yang datang ke kota Pisa. Jarak kota Roma dan Pisa bisa ditempuh dengan 5 jam naik kereta api kelas ekonomi.
Di dalam kereta api yang mengantar kami, kami melatih ritus-ritus liturgi untuk Perayaan Ekaristi pada malam Natal dan Hari Natal dalam bahasa Italia. Juga tidak ketinggalan menghafalkan kotbah dan kalimat absolusi untuk Sakramen Pengakuan dosa yang juga dalam bahasa Italia. Maklum karena ini adalah pengalaman pertama bagi para pastor yang baru datang di Italia.
Setelah 5 jam perjalanan, kami akhirnya sampai di stasiun Pisa-Centrale. Dari sana kami sudah ditunggu oleh beberapa pegawai paroki tempat kami akan ditempatkan di dekenat tersebut. Kami disebar di 8 paroki yang jaraknya cukup berdekatan, tetapi ada juga teman kami yang ditempatkan di paroki yang berada jauh di atas bukit, di mana pemandangan putihnya salju sudah menunggu mereka.
Aku dijemput oleh seorang bapak tengah baya, Giovanni namanya. Orang yang ramah dan suka sekali humor. Dia berkata bahwa aku sudah ditunggu makan siang oleh Don Ettore (baca. Romo Ettore) berserta kedua orang tuanya. “Orang tuanya???”, aku bertanya dalam hati.
Paroki tempat ku ditugaskan terletak di sebuah desa kecil di pinggir sungai. Jaraknya 20 menit dari stasiun pusat kota Pisa kalau ditempuh dengan mobil pribadi. Mobil Giovvani berhenti di pinggir jalan yang cukup besar. Kulihat Gereja kecil sederhana yang terletak di pelataran balai kota. Kecil, sederhana namun sangat indah. Suasana pedesaan sangat terasa di paroki ini. Rumah-rumah tertata rapi, kios-kios kecil yang menjual perlengkapan rumah tangga mengisi ruang kosong di pelataran Gereja ini.
Giovvani menuntunku ke dapur pastoran. Di sana tampak seorang perempuan tua yang masih cantik di usianya. Dia menyambutku hangat dengan pelukan dan ciuman. Nampak uap menyembul dari panci panci yang berada di atas kompor. Mmmhhhhh baunya sedap sekali… sontak rasa lapar di perutku kembali minta diisi. Tak lama kemudian, seseorang turun dari lantai dua gedung pastoran, seorang bapak tua, pertama kuberpikir: “oohhh ini yang namanya Don Ettore”. Tetapi perkiraanku salah, ternyata beliau adalah ayah dari Don Ettore. Mereka berdua, pasangan suami istri ini, adalah orangtua Don Ettore yang memang tinggal di pastoran dan bertugas untuk mengatur rumah tangga pastoran dan gereja. Ada kebiasaan di Italia dan Eropa pada umumnya di mana orang tua para pastor kalau masih mampu bekerja, mereka tinggal di pastoran untuk membantu anak mereka mengurus rumah tangga pastoran.
Tidak lama setelah itu kamipun mengisi kursi-kursi di sekeliling meja makan, dan tiba-tiba seorang pria tinggi besar datang, dia mengenakan pakaian jubah hitam, lengkap dengan jas anti dingin yang tebal. Dialah Don Ettore, pastor paroki yang baru saja pulang dari pemakaman. Orangnya ramah dan tampak hawa suci mengalir dari senyumnya yang ramah dan riang. Kami pun makan bersama… mmmm makanan terenak yang pernah kumakan di Italia berupa spaggheti asli bikinan orang italia asli. (di asramaku, meski setiap hari makan makanan Italia tetapi yang memasak adalah para suster dari India).
Ini adalah Natal pertamaku di Italy, Natal pertama jauh dari keluarga, teman-teman dan orang-orang yang aku kenal. Hari-hari kulalui dengan duduk menggigil di kamar pengakuan, duduk menunggu umat yang mengaku dosa. Tidak jarang, sambil menunggu, aku membuka-buka buku pelajaranku. Maklum, setelah Natal, masa ujian akan segera datang. Cukup banyak umat yang mengaku dosa di paroki ini. Mula-mula aku mengalami kesulitan menangkap “dialeg” mereka, tapi lama kelamaan aku terbiasa juga. Nasihat pengakuan dosa yang tadinya kaku karena hafalan belaka, mulai mencair seiring bertambahkan “ketrampilan”ku berbahasa Italia. Tidak bisa dipungkiri oleh kami para pastor Indonesia, liburan di paroki selain menambah sedikit uang saku, juga meningkatkan kemampuan berbahasa Italia.
Di siang hari setelah lelah mendengarkan pengakuan, kopi hangat buatan mama don Ettore telah menungguku. Makan siang pun kami lalui bersama, aku merasakan suatu kehangatan keluarga di paroki ini. Mama dan papa Don Ettore tidak henti-hentinya menceritakan bagaimana bangganya mereka ketika anak mereka ditahbiskan menjadi seorang imam. Mata mereka juga menjadi nanar ketika menceritakan kesulitan-kesulitan yang pernah dialami oleh putra mereka selama menjalani tugasnya sebagai imam. Oh… orang tua yang sungguh mulia… pikirku.
Malam Natal pun tiba, banyak sekali umat yang datang ke gereja, bangku gereja sampai tidak mampu menampung mereka. Selama misa malam Natal, aku pun masih duduk mendengarkan pengakuan dosa, bahkan sampai sebelum komuni kudus, karena umat di sini banyak yang beranggapan, lebih baik mengaku dosa menjelang lagu Anak Domba Allah dikumandangankan, supaya mereka menerima Tubuh Tuhan dengan hati yang sungguh bersih.
Di malam Natal yang dingin, ketika umat sudah mulai kembali ke keluarga mereka masing-masing untuk merayakan lahirnya Sang Juru Selamat, aku duduk sendiri di dalam Gereja yang kembali menjadi sunyi. Kuhayati hadirNya Sang Penebusku di dalam hidupku. Kubuka pintu Gereja, lalu kuberanikan kakiku melangkah di jalan yang dingin sekali. Angin dinginpun menggelitik tubuhku sampai menggigil. Kuberjalan sendiri, sepi dan sunyi. Kulalui rumah-rumah umat, kulewati perkarangan rumah mereka. Dari luar jendela yang masih bernyala, kudengar gelak tawa mereka sambil makan bersama. Kakek, nenek, papa, mama, anak-anak serta cucu-cucu berkumpul bersama, sungguh indah kebersamaan di malam Natal yang kudus. Kuingat bahwa Allah Putra pun hadir di dunia di tengah hangatnya keluarga kudus Nasaret di tengah malam yang dingin, sunyi dan sepi. Kusenandungkan lagu Malam Kudus di dalam hatiku untuk mengiringi langkahku… tak terasa air mataku menetes di pipiku yang membeku…. aku ingat keluargaku di Indonesia juga teman-temanku. Mendadak aku jadi kangen mereka. Memang keindahan sebuah keluarga baru terasa ketika kita jauh dari mereka.
Setelah hampir 1 jam aku berkeliling di jalan sepi nan sunyi, aku kembali ke pastotran. Ternyata sejak tadi aku sudah ditunggu oleh Don Ettore dan kedua orang tuanya. Kamipun berkumpul bersama di ruang makan, sambil menyantap sup hangat yang sungguh lezat. Mama Don Ettore tiba tiba mengeluarkan suatu bungkusan, ohh ternyata …. kado natal special untukku. Malam Natal kami lewati bersama dalam kebersamaan keluarga yang sungguh hangat dan berkesan. Terima kasih Tuhan, meski keluarga serta sahabat-sahabatku jauh, malam ini aku masih boleh merasakan sedikit kebersamaan di tengah keluarga seperti ini. Terima kasih ya Yesusku, Engkau hadir secara baru dalam hidupku. Tepat pukul 12 malam, lonceng gereja berbunyi meriah, sayup sayup keceriaan dan kebahagiaan Hari Natal berkumandang di hati setiap orang yang sungguh mendamba hadirnya SANG JURU SELAMAT DUNIA, YESUS KRISTUS TUHAN KITA. SANG EMANUEL, TUHAN BESERTA KITA SELAMANYA.
(Kisah ini adalah pengalaman NATAL ku tahun lalu di Italy, semoga berkenan)
![]() |
| By. Romo Joseph Susanto |
Jika ingin bepergian, kini Mat Cato telah memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.
Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis. Ketika remaja, ”bakat” Mat Cato untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Apalagi saat itu ayahnya mulai sakit-sakitan, praktis si ayah tak kuasa membela keluarga. Karena itu, sebagai anak tertua, Mat Cato -lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.
Cato tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, cato menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilannya sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.
Saat itulah, dia mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cato menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.
Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, dia dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cato. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.
Ketika itu, ada seorang hamba Tuhan mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan.
Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya, padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal. Di tengah toko itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Natal dengan gaun yang indah. Pengemis itu kelihatan sangat tidak cocok dengan suasana di toko itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan yang gemerlapan itu, tetapi sang ‘Bag Lady’ jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.
Rupanya pengemis itu mencari sesuatu di bagian gaun wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal ber-merek (branded items) dengan harga diatas 00 untuk satu gaun. Kalau dikonversi dengan kurs akhir-akhir ini, harganya dalam rupiah pasti lebih dari Rp. 20 juta untuk satu gaun.
Baju-baju yang mahal dan mewah! Apa yang dikerjakan pengemis ini? Sang pelayan bertanya, “Apa yang dapat saya bantu bagi anda?” “Saya ingin mencoba gaun merah muda itu!”
Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu.
Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu. “Berapa ukuran yang anda perlukan?” “Tidak tahu!” “Baiklah, mari saya ukur dulu.”
Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya.
“OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya! Cobalah yang ini!” Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas.
“Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?” “Oh, tentu!” Pelayan ini menghabiskan waktu kurang lebih dua jam lamanya untuk melayani sang “Bag Lady”.
Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya. Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Tapi hari itu, ada seorang pelayan toko yang melayaninya, menganggapnya seperti orang penting, dan yang mau mendengarkan permintaannya.
Tetapi mengapa pelayan toko itu mau repot-repot melayaninya? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan memakan biaya bagi toko itu karena harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry agar dicuci bersih supaya kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu.
Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu “istimewa”-nya. “Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini?” “Oh, sudah menjadi tugas saya untuk melayani dan berlaku ramah.”
“Tetapi, anda ‘kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?”
“Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik.”
Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain. Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada Hari Minggu berikutnya dengan thema “Injil Menurut Toko Serba Ada”. Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu. Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif itu.
Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa. Namun akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 %.