Narkotika Merusak Masa Depan Bangsa


sergapntt.com [KUPANG] – Kejahatan narkotika sangat berbahaya, terbukti dapat merusak generasi muda dan masa depan bangsa di negara manapun, bahkan merusak karakter, merusak fisik dan mental masyarakat yang dapat mengganggu daya saing dan kemajuan daerah.  
Demikian disampaikan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Esthon L. Foenay,M.Si, dalam sambutan pada acara Rapat Kerja Pertukaran Informasi dan Kerjasama Penyidikan Antar Instansi Terkait Serta Tindak Lanjut Pemeriksaan Hasil Penyelidikan Bidang Narkoba Tingkat Provinsi NTT, di Hotel Silvia Kupang, Senin (05/12/11).
Lebih lanjut Wagub mengatakan, kejahatan narkotika ini juga berdampak pada masalah lain yaitu pencurian, perkelahian dam juga percepatan penularan HIV/AIDS dan penyakit menular berbahaya lainnya.
Kejahatan narkotika kata Wagub, memiliki jaringan global, regional bahkan nasional dan telah merambah sampai ke pedesaan.
“Bagi yang menjadi korban narkotika untuk melakukan pengobatan dan rehabilitasi, tidak semudah yang kita bayangkan, banyak anak-anak kita yang kembali mengkonsumsi narkotika yang tentunya akan menghancurkan masa depan mereka,“ ujarnya.
    
Semakin meningkatnya kasus tindak pidana narkotika di Provinsi NTT, Esthon Foenay berharap diperlukan penanganan yang terpadu dan juga dapat menimbulkan efek jera kepada pelaku, maka kerjasama dan tukar menukar informasi dalam penanganan kasus sangat diperlukan guna percepatan penyelesaian kasus tindak pidana narkotika.
“Mari kita tingkatkan kerjasama antar seluruh instansi pemerintah dan aparat penegak hukum dalam rangka menyamakan persepsi aparat penyidik untuk memperkuat langkah-langkah dalam memutuskan jaringan dan menghindari adanya permasalahan yang dapat menghambat hasil penyidikan kasus narkotika,“ pintanya.
By. FERRY GURU

Pelaku Penikaman Polisi Belum Ditemukan


sergapntt.com [KUPANG] – Tersangka pelaku penikaman terhadap anggota Buru Sergap (Buser) Polresta Kupang, alm. Brigadir Polisi (Brigpol) Obaja Obweld Nakmofa hingga kini belum ditemukan. Polisi masih terus memburu tersangka yang identitasnya sudah dikantongi polisi.
Walau begitu, polisi telah menahan oknum pegawai Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Provinsi NTT, fredi Boymau. Fredi diduga terkait kasus ini lantaran mengatahui persis siapa pelaku yang menikam Brigpol. Obaja.
Sedangkan Iwan Bili yang sebelumnya ditahan polisi, telah dipulangkan karena dalam pemeriksaan Iwan hanyalah seorang pemilik sepeda motor yang dipakai tersangka.
Imformasi yang dihimpun sergapntt.com di Mapolresta Kupang menyebutkan, pada malam kejadian Kamis (1/12/11) lalu, Fredi meminjam motor milik Iwan, lalu Fredi meminjamkan lagi motor tersebut kepada tersangka. Tersangka kemudian mengendarainya, dan di tengah jalan ia berpapasan dengan Brigpol. Obaja dan Robinson, rekan polisi Obaja.
Saat itu, Obaja dan tersangka terlibat pembicaraan mengenai status kepemilikan motor itu. Lalu,,, tersangka mengaku meminjam motor itu dari Fredi. Karena kurang yakin, Obaja lalu meminta tersangka untuk bersama-sama menemui Obaja.
Kecurigaan korban benar adanya. Sebab, saat ketiganya menemui Fredi, Fredi membantah kalau itu motor miliknya. Akhirnya, Fredi dan tersangka diajak untuk ke kantor polisi. Fredi dibonceng oleh korban, sedangkan tersangka diboceng oleh Robinson.
Tapi naasnya, dalam perjalanan menuju kantor polisi itu, tepatnya di jalan Frans Seda Kupang, di samping Gereja Menara Kesaksian, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang sekitar pukul 23.30 WITA, tersangka tiba-tiba mencabut pisau dan langsung menghujam ke arah pundak Robinson. Beruntung Robinson melihatnya. Spontan polisi yang juga teman karib Obaja itu mengelak. Tapi malang, laju motor yang dikemudinya oleng. Akibanya Robinson dan tersangka jatuh. Saat itulah, tersangka melarikan diri ke arah Bonie M.
Melihat itu kejadian itu, spontan korban menghentikan laju sepeda motornya lalu turun dan mengejar tersangka. Korban berhasil menangkap tersangka. Tapi sayang, di saat itulah tersangka menikam korban kemudian melarikan diri.
Fredi kemudian ditahan dan malam itu juga Iwan, sang pemilik sepeda motor langsung dijemput dan diperiksa polisi di Mapolresta Kota Kupang.
Kapolres Kupang Kota, AKBP. Drs. Bambang Sugiarto, M.Si yang dikonfirmasi melalui Kasubag Humas, Iptu. Simon Satu, S.Ip mengatakan, penyidik masih terus mengejar pelaku. Sedangkan  tersangka Fredi masih terus diperiksa secara intens guna pengembangnan penyidikan kasus ini.
Sementara  Brigpol Obaja dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, Kota Kupang, Minggu (4/12/11) siang.

Acara pemakaman didahului ibadat pemakaman di rumah duka di RT 08/ RW 03, Kelurahan Fontein, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Dilanjutkan upacara pemakaman secara dinas di TMP Dharma Loka dimulai tepat pukul 11.00 Wita dengan inspektur upacara Kapolres Kupang Kota AKBP Bambang Sugiarto.

Turut hadir pada acara tersebut Kapolda NTT Brigjen Pol Ricky Sitohang bersama seluruh jajaran perwira Polda NTT dan perwira Polres Kupang Kota bersama seluruh anggota polisi.

Kapolres Kupang Kota AKBP Bambang Sugiarto dalam amanatnya mengajak keluarga besar Brigpol Obaja untuk tidak larut dalam kesedihan, namun tetap tegar dan kuat menghadapi cobaan berpulangnya Brigpol Obaja ke pangkuan Tuhan.

“Kepada keluarga yang ditinggalkan atas nama Pimpinan Polri saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi karena telah memberikan seorang putra terbaik menjadi anggota polisi yang mampu mengayomi masyarakat,” kata Bambang Sugiarto.

Ia menambahkan jajaran Kepolisian NTT merasa kehilangan seorang anggota polisi yang memiliki dedikasi tinggi untuk mempertahankan martabat kepolisian sebagai salah satu lembaga penegak hukum di Negara Indonesia.

Kapolda NTT Brigjen Polisi Ricky Sitohang melalui Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT Kompol Antonia Pah mengatakan Brigpol Obaja seorang polisi yang baik dan bertanggungjawab melaksanakan tugas.

“Kami kehilangan seorang polisi yang memiliki dedikasi tinggi dan rela gugur di medan tugas,” kata Pah.

Antonia Pah menjelaskan Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa anumerta kepada Nakmofa.

Almarhum meninggalkan istri tercintanya, Yuliana Kore Uly dan dua orang anak yang masih balita yakni Pranza Blessa Nakmofa berusia dua tahun dan Ryesta Yoanita Nakmofa yang baru berusia satu bulan.

By. EMP

Bank NTT Bajawa Peduli Usaha Petani


sergapntt.com [BAJAWA] – Bank NTT Cabang Bajawa sangat peduli terhadap petani. Hal ini sudah terbukti, ketika petani jagung dan kentang mengajukan permohonan kredit ke Bank NTT dan langsung menyalurkan kredit.
Demikian disampaikan pelaku usaha jagung dan kentang, Hendrikus Kila usai mengikuti pertemuan pelaku usaha se-Kabupaten Ngada yang berlangsung di Vila Ena Lewa Gemo Aimere, belum lama ini.
Menurut Hendrikus, untuk usaha jagung dan kentang sangat prospek untuk meraup keuntangan. Karena tanaman jagung selain untuk dikonsumsi oleh manusia, tetapi ternak babi sangat membutuhkan dedak jagung.
Untuk tanaman kentang mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh keuntangan. Selain jual di pasar, tetapi beberapa rumah makan sangat membutuhkan kentang.
Untuk menanam kentang dirinya merasa kesulitan memperoleh benih kentang yang baik. Namun karena ada kerja sama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, pihaknya dapat memperoleh bibit kentang dalam jumlah banyak.
Dari benih kentang yang ada, selain ditanam untuk kepentingan pribadi, selebihnya dibagikan kepada anggota kelompoknya. Untuk menanam kentang, dirinya hanya membutuhkan lahan seluas 1,5 hektare.
Lahan yang ada milik orang lain, tetapi disewakan dengan harga yang pantas dan saling menguntungkan. Namun, untuk pemukupan dirinya harus membutuhkan dana tambahan untuk membeli pupuk.
Untuk memperoleh pupuk, petani mengajukan kredit ke Bank NTT Cabang Bajawa yang dilengkapi dengan berbagai persyaratan. Sebelum mengajukan kredit, selaku nasabah dirinya harus meyakinkan pihak bank dengan mendatangkan pimpinan Bank NTT Cabang Bajawa ke lokasi usaha sebagai jaminan untuk memperoleh kredit. Setelah pimpinan Bank NTT Cabang Bajawa, Yohanes Dae melihat usaha yang dikembangkan petani langsung menyatakan bersedia untuk menyalurkan kredit kepada petani kentang.
Sesuai dengan pengajuan modal usaha sebanyak Rp 25 juta, Bank NTT langsung menyalurkan modal usaha. Setelah memanen hasil kentang, pihaknya langsung melunasi kredit kepada Bank NTT dan petani tetap berusaha untuk menjaga kepercayaan agar bank tetap menyalurkan modal usaha kepada petani.
Kedepan petani tetap membutuhkan Bank NTT untuk menyalurkan kredit dalam jumlah yang banyak karena masih banyak tanaman holtikultural yang bakal dikembangkan petani. Namun tanpa dukungan modal dari bank, petani tidak dapat mengembangkan usaha dalam jumlah banyak.
Kedepan petani Kabupaten Ngada berusaha untuk mengembangkan tanaman jagung karena harga jagung di pasar Rp 5.000 per kilogram. Sebagai petani, pihaknya merasa bersyukur dengan Bank NTT yang tetap peduli dengan petani untuk tetap menyalurkan kredit dalam jumlah yang banyak.
By. EO

Polisi Harus Jadi Teladan Ditengah Masyarakat


sergapntt.com [KALABAHI] – Kapolres Alor, AKBP Dominicus Savio Yempormase melakukan serah terima jabatan Kasatlantas dari AKP Anderias Tangketasik  ke Iptu Yulianus Lau.
Iptu Yulianus Lau sebelumnya menjabat Kasatlantas Polres Lembata.  Sedangkan AKP Anderias Tangketasik pindah ke Polres TTU.
Acara serah terima  berlangsung di aula Polres Alor, Jumat (25/11) lalu di Kalabahi. Hadir dalam acara serah terimah, sejumlah perwira dan anggota Polres Alor.
Pada kesempatan itu, Dominicus mengatakan, mutasi jabatan di lingkup lain berbeda sekali dengan mutasi di lingkup kepolisian. Mutasi bukan sesuatu yang menakutkan atau kurang menyenangkan, tetapi mutasi merupakan hal yang biasa. Mutasi bertujuan untuk membagi  ilmu di satu Polres ke Polres yang lain.
Dikatakan, semua program itu bisa berjalan, kalau kepala kesatuan  mengelola dengan baik, maka akan diberikan penghargaan apa yang dilakukan dalam tugas. Karena itu, polisi sudah harus memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat.
“Kesatuan ini kalau dilihat pelayanannya menyentuh langsung dengan masyarakat dalam bentuk apapun, maka polisi harus jadi contoh dan teladan di masyarakat harus sampai tingkat bawah,” ujarnya.
Dijelaskan, kalau Kapolda sudah duduk di pingir jalan sambil minum kopi dengan masyarakat, maka tidak ada alasan lain anggota berada di kantor tapi anggota sudah harus berada ditengah masyarakat. 
“Sejumlah perubahan yang sudah dilakukan oleh kasat yang lama bisa dilanjutkan oleh kasat yang baru. Jika ada pengalaman ditempat tugas yang lama sudah bisa diterapkan di tempat ini,” tambahnya.
Ia meminta kepada anggota agar dalam melaksanakan tugas harus menghargai masyarakat. Karena masyarakat adalah mitra kerja.
“Jika  kita sudah jadikan masyarakat sebagai mitra, itu berarti  masyarakat sendiri sudah bisa mengamankan wilayahnya masing-masing. Karena itu saya tegaskan masyarakat dan pihak kepolisian harus saling kerja sama,” ujarnya.
By. AR

Kapolda NTT Kunjungi Polres Alor


Brigjend Pol. Ricky Sitohang

sergapntt.com [KALABAHI] – Kapolda NTT, Brigjen (Pol) RHP Sitohang melakukan kunjungan kerja ke Polres Alor, Selasa (22/11). Mantan Kapolres Alor tahun 1999-2000 yang telah menjadi Kapolda NTT ini hadir di Polres Alor merupakan kunjungan kerja yang pertama kali, karena punya nilai sejarah.
Pantauan sergapntt.com, acara tatap muka Kapolda dengan 110 personil Polres Alor berlangsung di aula Polres Alor.
Sebelum tatap muka, Kapolres Alor, AKBP Dominicus Savio Yempormase mengatakan, Kabupaten Alor merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Namun, dari 17 kecamatan yang ada baru delapan kecamatan yang sudah ada polsek dan dua pospol di kecamatan baru. Sedangkan tujuh kecamatan lainnya belum ada polsek sama sekali.
Dikatakan, personil yang terbatas sehingga pelayanan berjalan belum maksimal. Karena itu, perlu adanya penambahan personil diwilayah kerja Polres Alor. Karena itu, ia meminta  perlu adanya polsek kota di wilayah Kecamatan Teluk Mutiara yang ada di ibukota Kabupaten Alor.
Sementara, Kapolda NTT, Brigjen (Pol) RHP Sitohang pada kesempatan itu mengatakan, Polres Alor kalau dilihat sudah ada perubahan. Tapi perubahan itu hanya wilayah kerjanya tetapi pos polisi juga tidak berubah. Selain itu, gapura  masih tetap. “Pos polisi dan gapura saya yang bangun ketika masih jadi Kapolres Alor. Kapolres Alor juga harus berupaya membangun sesuatu untuk daerah ini menjadi suatu kenangan,” katanya.
Ia meminta agar personil yang ada harus mendekatkan diri kepada masyarakat, sehingga apa yang dilakukan di masyarakat sudah bisa diketahui. Ia juga meminta agar anggota polisi harus tunjukkan teladan yang baik kepada masyarakat.
“Datang di tengah masyarakat harus selesaikan persoalan yang terjadi disana, bukannya anggota polisi datang kemudian  menimbulkan persoalan. Hari ini saya tegaskan, tidak lagi terulang.  Sebagai anggota tunjukkan pelayanan terbaik kepada masyarakat karena anggota merupakan pengabdi dan pengayom, bukan perusak,” tegasnya.
Dikatakan, suatu daerah bisa aman kalau anggota kepolisian mengajak masyarakat untuk melakukan diskusi dan meminta masyarakat sebagai anggota polisi bagi diri sendiri. Jika itu dilaksanakan, maka situasi kamtibmas akan aman.
“Jika ada persoalan yang terjadi dan ada laporan dari masyarakat, maka tanpa ada pemberitahuan saya akan turun di Polres secara diam-diam. Karena itu anggota Polres Alor harus menjadi teladan bagi polres lain di NTT,” ujarnya.
Sitohang mengajak anggota harus bertindak tegas. Tetapi sebelum bertindak tegas harus melakukan pendekatan secara kekeluargaan untuk menyampaikan kamtibmas terlebih dahulu.
Ia meminta perwira dan Kapolres agar bisa libatkan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan serta masyarakat untuk melakukan diskusi ilmiah. Selain itu, ia meminta Kapolres untuk segera membagi wilayah kerja kepada perwira yang ada di Polres Alor. Jika terjadi sesuatu di wilayah kerja itu, maka menjadi tanggung jawab perwira yang ditugaskan di sana.
Kapolda,  juga dalam tatap muka  melakukan penegasan jika ada anggota yang tidak melaksanakan tugas dalam disiplin kerja maka jika ada laporan dari masyarakat langsung di panggil  ke Polda, karna itu  setiap  anggota harus  tetap ada diwilayah kerja untuk bisa mendeteksi di masing-masing wilayah  untuk bisa mengetahui apa aktifitas masyarakat.
“Setiap persoalan atau kasus yang terjadi di masyarakat, jika kasusnya berat, maka harus dilaporkan ke Polda. Tetapi kalau   persoalan kasusnya kecil dan ringan, maka dalam waktu yang singkat pelakunya sudah harus ditahan di Polres. Jangan suatu persoalan yang  ditangani sampai berlarut-larut,” ujarnya.
By. AR