Dubes Portugal Ikut Prosesi Jumat Agung di Larantuka


sergapntt.com, LARANTUKA – Duta Besar Portugal untuk Indonesia, Manuel Carlos Leitao Frota bersama isterinya Arlinda Chanves Frota, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu bersama rombongan sudah tiba di Larantuka untuk mengikuti proses Jumat Agung atau tradisi keagamaan peninggalan bangsa Portugis itu pada Jumat, 6 April 2012.

Selain dari luar NTT, warga NTT dari berbagai pelosok pun  sudah mulai memadati kota Larantuka.

Kini umat Katolik setempat sedang melakukan kegiatan “tikan turo” atau menanam tiang-tiang lilin sepanjang jalan raya yang menjadi rute Prosesi Jumat Agung pada keesokan harinya (6/4) di kota yang terletak di bawah kaki Gunung (Ile) Mandiri itu.

Sementara para peziarah Katolik lainnya, pada Kamis pagi sudah menyeberang ke Pulau Adonara yang terletak di bibir pantai Larantuka dengan menggunakan perahu dan kapal motor untuk melakukan ziarah di Kapel Wure.

Di Kapel Wure itu, berdiri tegak sebuah arca Yesus –orang Larantuka menyebutnya Tuan Bediri– sambil memegang seekor ayam jantan dalam bentuk arca pula.

Berdasarkan penuturan sejarah, arca tersebut mulanya adalah sosok seorang pemuda yang membeli seekor ayam jantan dari seorang nenek di pasar.

Pemuda itu tidak mempunyai uang saat membeli ayam tersebut di pasar, namun mengajak si nenek itu pergi ke sebuah tempat untuk mengambil uang tersebut.

Ketika si nenek tiba di tempat itu, sang pemuda tadi berubah wujud menjadi patung (arca) sambil memegang ayam tersebut di tangan kanannya. Masyarakat setempat meyakininya sebagai arca Yesus yang kemudian menyebutnya dalam bahasa setempat “Tuan Bediri”.

Menjelang Kamis siang, Larantuka yang populer dengan sebutan Kota Reinha Rosari itu, hening mencekam karena sedang dilakukan kegiatan “tikan turo” oleh para mardomu (semacam panitia kecil yang telah melamar jauh sebelumnya menjadi pelayan pada Jumat Agung sesuai promesanya (nasar).

Ketika itu juga, aktivitas di Kapel Tuan Ma (Bunda Maria) dimulai dengan upacara “Muda Tuan” (pembukaan peti yang selama setahun ditutup) oleh petugas conferia (sebuah badan organisasi dalam gereja) yang telah diangkat melalui sumpah.

Arca Tuan Ma kemudian dibersihkan dan dimandikan lalu dilengkapi dengan busana perkabungan berupa sehelai mantel warna hitam, ungu atau beludru biru.

Para peziarah Katolik yang hadir pada saat itu diberi kesempatan untuk berdoa, menyembah, bersujud mohon berkat dan rahmat, kiranya permohonan itu dapat dikabulkan oleh Tuhan Yesus melalui perantaraan Bunda Maria (Per Mariam ad Jesum).

Setelah pintu kapela dibuka, umat setempat serta para peziarah Katolik dari berbagai penjuru mulai melakukan kegiatan “cium kaki Tuan Ma dan Tuan Ana” dalam suasana hening dan sakral.

By. Cis/Antara

Asal Tuan Ma Larantuka


sergapntt.com, LARANTUKA – Kepercayaan terhadap Tuan Ma berawal lima abad silam. Berdasarkan penelitian dan sejumlah sumber tertulis dalam bahasa Belanda dan Portugis, patung Tuan Ma ditemukan sekitar tahun 1510 di Pantai Larantuka. Diduga, patung itu terdampar saat kapal Portugis atau Spanyol karam di Larantuka.

Konon, saat itu seorang anak laki-laki bernama Resiona menemukan patung berwujud perempuan saat mencari siput di Pantai Larantuka.

Resiona mengaku, kala itu dia melihat perempuan cantik dan, ketika ditanya nama serta dari mana datangnya, perempuan tersebut hanya menunduk lalu menulis tiga kata yang tak dipahami Resiona di pasir pantai. Setelah itu, ketika mengangkat mukanya, rupa wanita itu berubah menjadi patung kayu.

Ketiga kata yang ditulis itu lalu dibuatkan pagar batu agar tidak terhapus air laut, sedangkan patung setinggi tiga meter tersebut langsung diarak keliling kampung, memasuki korke, rumah-rumah pemujaan milik setiap suku di sana.

Kendati waktu itu masyarakat setempat belum mengenal patung tersebut, kepala kampung Lewonama, Larantuka, memerintahkan agar patung disimpan di korke. Patung kemudian dihormati sebagai benda keramat. Penduduk memberi sesaji setiap perayaan panen.

Masyarakat sekitar Larantuka menyebut patung itu sebagai Tuan Ma. Secara harfiah, Tuan Ma berarti tuan dan mama. Masyarakat Lamaholot menyebutnya, Rera Wulan Tanah Ekan, Dewa Langit dan Dewi Bumi.

Menurut Raja Larantuka Don Andreas Martinho DVG, sekitar tahun 1510 itu masyarakat Larantuka sudah melakukan devosi kepada Tuan Ma setiap Februari, sebagai syukur atas hasil panen dan tangkapan dari laut. Devosi merupakan kegiatan di luar liturgi gereja, praktik-praktik rohani yang merupakan ekspresi konkret keinginan melayani dan menyembah Tuhan melalui obyek-obyek tertentu.

Ketika padri dari Ordo Dominikan datang ke kampung itu lalu diminta membaca tiga kata yang ”diabadikan” itu, terbaca: Reinha Rosario Maria.

Ketika melihat patungnya, padri itu terharu dan berkata bahwa itulah Reinha Rosari yang dikenal juga sebagai patung Mater Dolorosa atau Bunda Kedukaan atau Mater Misericordia.

Sekitar tahun 1561, penyebaran agama Katolik oleh Portugis dimulai di Pulau Solor, yang kemudian dikenal misi Solor dengan menetapnya tiga misionaris, yaitu Pater Antonio da Cruz OP, Simao das Chagas OP, dan Bruder Alexio OP, di sana.

Tahun 1617, misionaris Portugis Pastor Manuel de Kagas berhasil memberi masukan pemahaman kepada raja-raja Larantuka. Dia menjelaskan, ”Tuan Ma yang disembah itu sebenarnya bernama Bunda Maria. Dia yang memiliki putra yang disebut Yesus Kristus. Yesus ini sebagai penebus dosa dan pembawa keselamatan”.

Sejak itulah orang Larantuka yakin apa yang mereka sembah selama itu ternyata diakui secara universal.

Tahun 1650, Raja I Larantuka Ola Adobala dibaptis dan menyerahkan Kerajaan Larantuka kepada Bunda Maria. Setelah itu, putranya, Raja Don Gaspar I, pada 1665 mulai mengarak patung Maria keliling Larantuka. Dalam perkembangannya, Raja Don Lorenzo I bersumpah kepada Maria atau Tuan Ma dengan memberi gelar tertinggi kepada Maria sebagai raja orang Larantuka.

Oleh karena itu, Larantuka disebut sebagai Kota Reinha (bahasa Portugis) atau Kota Ratu, Kota Maria. Tuan Ma kemudian diyakini sebagai Bunda Maria milik orang Larantuka. Devosi kepada Maria menjadi sentral hidup keluarga dan masyarakat Larantuka. Per Mariam ad Jesum, melalui Maria kita sampai kepada Yesus.

Proses inkulturasi pun terjadi antara kepercayaan masyarakat lokal, ajaran gereja, dan tradisi yang dibawa Portugis.

By. Maksi Koten

Awam Katolik di Tengah Arus Tata Kelola Dunia


Keberdayaan kesaksian gereja terletak pada mutu kehadiran kaum awam katolik dalam pergumulan dan pembangunan kehidupan masyarakat. Kaum awam katolik hadir dalam pergumulan sosio-budaya, sosio-politik, dan sosio-ekonomi yaitu bidang kehidupan manusia yang lazimnya disebut tata dunia.
Dalam upaya gereja menjadi mitra pembangunan sosial yang terpercaya maka sangatlah mendesak dan semakin penting bahwa kaum awam katolik membangun jaringan dinamika hidup yang terbuka dalam kebersamaan persaudaraan sebagai murid-murid Kristus yang saling peduli, berdasarkan pada kebenaran, kejujuran, dan keadilan untuk berjuang menebus amanat penderitaan rakyat.
Mempercakapkan kaum awam dalam gereja dan masyarakat di masa mendatang, berarti berteologi mengenai awam dalam gereja dan masyarakat di masa yang akan datang. Kalau suatu teologi mau disebut sebagai teologi gereja maka harus memperhitungkan sebanyak mungkin penghayatan, pengalaman dan pemahaman atas iman dalam gereja. Namun atas dasar perhitungan itu pula dapat dicermati perkembangan aneka teologi yang sering terpencar dari sosok menggereja para awam dan hirarki.
Ada teologi yang lebih menonjolkan perananannya sebagai sarana jabatan. Pengandaian dasarnya adalah bahwa pengutusan gereja ada dalam wewenang hirarki. Pandangan ini sangat menguntungkan “persatuan gereja”. Tetapi kerugiannya juga jelas, yaitu bahwa mayoritas gereja ialah kerasulan awam, tidak mendapat cukup tempat alias pasif.
Teologi yang memusatkan perhatian pada gereja dan tata dunia menegaskan bahwa dunia itu tidak jahat dan gereja hadir di situ. Justru awam hidup terutama di dunia. Kehadiran mereka (kaum awam) membawa informasi dan transformasi spiritual. Walaupun teologi ini membawa angin segar terhadap peranan kaum awam, namum belum sepenuhnya menjalankan gagasan konsili vatikan II yang menekankan betapa pentingnya peranan awam dalam penebusan gereja di tangah tata kelola dunia.
Kemudian berkembang teologi pembaruan tata dunia, yang menekankan bahwa gereja tidak dilihat sebagai hanya ada di dunia tetapi untuk dunia. Penjelmaan terjadi untuk penebusan. Yesus datang untuk menyelamatkan semua; tanpa kecuali. Allah begitu mencintai kita sehingga mengirimkan Sang Putera (Yoh. 3:16).
Berkembang pula teologi pembaruan struktur gereja. Faktor-faktor oikumene dan biblis mendukung kecenderungan atau kecondangan ini. Konsep pelayanan jabatan dan kuasa gerejani dipertanyakan. Gereja memahami diri sebagai communio. Bersama dengan konsili vatikan II teologi ini mengembangkan gagasan kolegialitas dan subsidiaritas. Seluruh gereja mendapat “missio”. Maka teologi ini menghidup-hidupkan “deklerikalisasi”. Kelompok basis dan pelayanan awam terwujud.
Terakhir berkembang teologi yang memusatkan perhatian pada “penemuan diri awam”. Awam menemukan panggilan dan kharismanya, mulai menghayati perannya sebagai saksi, pelayan dan nabi dalam bidang masing-masing berdasarkan panggilannya sebagai orang kristiani.
Penemuan diri awam, antara lain terletak pada persoalan keterbukaan, kebersamaan, persaudaraan di antara awam katolik untuk senantiasa solider dengan sesama umat manusia, baik yang katolik maupun yang non katolik sebagai suatu syarat kesaksian awam katolik dalam masyarakat di tengah arus reformasi saat ini. Sebagai kelompok awam yang terikat dalam kesatuan iman umat katolik, menyadari bahwa Kristus datang ke dunia memanggil umat manusia untuk menyahuti misteri misi keselamatan kekal yang ditugaskan Allah kepadanya. Berarti kaum awam dalam menjawab panggilan Kristus harus terbuka, bersama, bersaudara, dan solider yang berkelanjutan berdasarkan prinsip kristiani dalam bidang kehidupan menggereja yang lazimnya disebut tata dunia.
Keterbukaan yang jujur, kebersamaan yang ikhlas, persaudaraan cinta dan solidaritas kasih di antara kaum awam katolik untuk tampil sebagai saksi Kristus adalah tuntutan utama dalam kehidupan kemasyarakatan. Kesaksian membangun keterbukaan dalam kebersamaan yang lebih luas dengan orang-orang yang berkehendak baik sehingga muncul sebagai kesatuan solidaritas yang sama dalam persaudaraan.
Bersekutu dalam kebersamaan, amat penting bagi awam katolik untuk memperbaharui tata kelola dunia berdasarkan kebenaran Sabda Tuhan. Mendengarkan kebenaran Sabda Tuhan dalam keterbukaan berarti merangkul kebersamaan dalam persekutuan untuk mengembangkan solidaritas yang sama dalam persaudaraan. Awam katolik harus peduli terhadap kebutuhan dan aspirasi yang berkembang dalam masyarakat. Khusus awam katolik yang terjun di dunia politik mempunyai anugerah yang istimewa. Karena setiap keputusan-keputusan politik akan mempengaruhi  seluruh kehidupan masyarakat untuk membangun dirinya dalam jangka waktu yang agak lama dan menetap.
Menjadi politisi tidaklah mudah karena harus profesional di bidangnya. Bagaimana kaum awam katolik yang terjun di bidang politik itu mendapat peneguhan rohani, sehingga ajaran kristiani meresapi politisi untuk mampu berpolitik secara profesional yang dapat mendatangkan kesejahteraan umum (bonum commune). Memang tidak mudah membangun persaudaraan. Namun orang katolik yang hendak memperbarui tata kelola dunia harus mampu membangun persaudaraan, bersepakat menjadi saudara, solider satu sama lain dan terbuka satu sama lain. Apabila membangun suatu kebersamaan, namun hasilnya tidak sama; maka pasti ada yang tidak beres di situ ?
Tetapi yang paling penting adalah apakah kehadiran kaum awam katolik dalam percaturan politik sungguh-sungguh akan menghadirkan satu kesejahteraan umum bagi seluruh masyarakat? Paling tidak kita tetap berpegang pada prinsip dalam politik praktis setiap umat katolik harus bebas memilih jalan dan cara dalam rambu-rambu moral, etika dan sopan santun berpolitik yang dilandasi kemanusiaan yang adil dan beradab. Seperti pernyataan almarhum Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ menjadi pedoman bersama yakni in principiis unitas, in dubis libertas, in omnibus caritas; dalam hal soal prinsip adalah satu, dalam hal-hal yang masih terbuka, merdeka/bebas; dan dalam segala hal adalah kasih.
Oleh sebab itu setiap awam katolik dalam kesaksiannya tidak boleh menjadi diktator kasih melainkan setuap keputusan dan tindakan politik demi membangun kesejahteraan bersama, membangun masa depan tata kelola dunia bagi umat manusia yang lebih baik. Di samping itu, awam katolik juga tidak hanya berbicara tentang keadilan tetapi juga harus menjadi pelaku keadilan !
By.Verry Guru
 *) Penulis : Awam Katolik Keuskupan Agung Kupang
dan PNS pada Biro Umum Setda Provinsi NTT

Naris Ganti Japang Jadi Anggota DPRD Ngada


sergapntt.com, BAJAWA – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) Kabupaten Ngada mulai melakukan proses pergantian Drs. Feliks Japang, Anggota DPRD Ngada asal PPRN yang meninggal dunia akibat sakit pada 16 Februari 2012 lalu.  Japang akan diganti oleh Apolonaris Mberong alias Naris, caleg nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kecamatan Riung dan Riung Barat.
Demikian dikatakan Ketua DPD PPRN Ngada, Yoseph N. kepada SERGAP NTT saat bincang-bincang di Bajawa, Rabu (4/412).
Menurut Yoseph, DPD PPRN Ngada telah bersurat kepada Ketua DPRD Ngada untuk selanjutnya dikirim ke Bupati Ngada untuk diteruskan ke Gubernur NTT.
Apolonaris Mberong
“Kita sudah buat surat ke pimpinan DPRD Ngada yang tembusannya ke Bupati Ngada, KPUD Ngada, KPU NTT dan Gubernur NTT,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KPU Ngada, Are Keli mengaku akan segera memproses pergantian tersebut.
“Setelah ada pemberitahuan dari DPRD, kita akan melakukan verifikasi, yakni verifikasi administrasi dan faktual terhadap keabsahan pengurus dan nama calon. Setelah itu kita akan sampaikan ke DPRD untuk ditindaklanjuti,” paparnya.
By. Chris Parera

Kebijakan Energi Perlu Penanganan Secara Baik


sergapntt.com, KUPANG – Kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebagai salah satu sumber energi akan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat, jasa pelayanan publik dan jasa ekonomi. Karena itu, berbagai kebijakan pengembangan energi baik energi terbarukan maupun energi tidak terbarukan di NTT jika ditinjau dari aspek pengembangan sumber, potensi penyediaan, pola pendistribusian dan pemasaran memiliki nilai kerentanan di tengah masyarakat sehingga memerlukan penanganan dan persiapan secara baik dan hati-hati.
            
Hal tersebut diungkapkan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si dalam sekapur sirih pada acara sosialisasi Dewan Energi Nasional (DEN) di Hotel Kristal Kupang, Selasa (3/4). Acara tersebut dihadiri Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Prof. Widjajono Partowidagdo, M.Sc, MA, Ph.D, Rektor Undana Kupang, Prof. Frans Umbu Datta, Kadis Pertambangan dan Energi Provinsi NTT, Ir. Dani Suhadi dan diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai kalangan yang ada di Kota Kupang dan sekitarnya.
Menurut Wagub, permasalahan pasokan dan pemenuhan energi masih menjadi tantangan daerah sampai saat ini bagi masyarakat di NTT. Besarnya tumpuan pemanfaatan energi yang bersumber dari bahan bakar minyak sebut Wagub, sudah sewajarnya secara bertahap dialihkan atau dikonversikan menuju upaya pemanfaatan energi terbarukan. “Sosialisasi energi terbarukan di NTT bukan merupakan hal baru karena sejak tahun 1974 di Kabupaten Sumba Barat, Waekelo Sawah telah dikonversi air menjadi energi listrik. Karena itu, perlu disosialisasikan kembali agar motivasi dan kharakter masyarakat pun dapat berubah,” pinta Wagub.
Secara khusus Wagub meminta perhatian Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian ESDM untuk memperhatikan potensi alam yang ada di Kabupaten Manggarai Barat khususnya di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. “Alangkah indahnya Pak Wakil Menteri ESDM dapat membuat listrik tenaga surya khususnya di Pulau Komodo dan Pulau Rinca serta pulau-pulau lain yang ada di NTT,” ucap Wagub, disambut tepuk tangan para hadirin.
Di tempat yang sama, Wamen ESDM Prof. Widjajono Partowidagdo mengatakan, energi merupakan kebutuhan yang urgen di negeri ini. “Bisa dibayangkan jika hidup kita ini tanpa energi,” ujar Partowidagdo dan menambahkan, kehadiran pihaknya di Kupang untuk melaksanakan sosialisasi tentang peran DEN.
DEN kata Partowidagdo, merupakan lembaga yang dibentuk untuk memediasi jika ada konflik energi yang terjadi di tengah masyarakat. Menurut dia, negara maju adalah negara yang hemat energi bukan negara yang menghambur-hamburkan energi. “Bandingkan negara kita dengan Singapura dan Timor Leste. Malah di Timor Leste harga bensin 1,5 U$ atau setara dengan Rp 13. 000,-. Karena itu, menurut saya Indonesia akan maju kalau luar Jawanya maju,” tandas Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Pengelolaan Lapangan Migas pada Fakultas Teknik Pertambangan dan  Perminyakan ITB.
Acara sosialisasi DEN menampilkan sejumlah nara sumber diantaranya Ir. Agusman Effendi (Anggota DEN) materi UU nomor 30 tahun 2007 tentang Energi; Ir. Tumiran, M.Eng, P.hD (anggota DEN) tentang Skenario Kebijakan Energi Nasional Indonesia Menuju Tahun 2050; Prof. Ir. Mukhtasor, M.Eng, Ph.D (anggota DEN) dengan topik Tantangan dan Permasalahan Lingkungan untuk Memenuhi Kebutuhan Energi Indonesia menuju tahun 2050; Prof. Ir. Rinaldy Dalimi (anggota DEN) materi berjudul Pengawasan Kebijakan Energi Lintas Sektor; DR. Herman Damel Ibrahim (anggota DEN) dengan topik Identifikasi Daerah Krisis dan Darurat Energi; Prof. DR. Herman Agustiawan (anggota DEN) dengan materi Cadangan Penyangga Energi; Ir. Dani Suhadi (Kadis Pertambangan dan Energi NTT) dengan materi Potensi Energi di Provinsi NTT.
By. Verry Guru