Bupati Baru Lembata Jangan Balas Dendam


SERGAP NTT -> Pasangan bupati dan wakil bupati baru Kabupaten Lembata di Nusa Tenggara Timur, Eliaser Yentji Sunur dan Viktor Mado Watun, diharapkan tidak melakukan aksi balas dendam terhadap kalangan pejabat dan masyarakat yang tidak mendukung ketika pemilihan umum kepala daerah beberapa waktu lalu. Semuanya harus dirangkul demi pelayanan masyarakat serta tugas pemerintahan yang lebih efektif dan maksimal.
Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata, Petrus Atawolo di Kupang, belum lama ini. Petrus yang juga pelaksana tugas Bupati Lembata berada di Kupang dengan agenda khusus berkonsultasi dengan Gubernur NTT Frans Lebu Raya terkait rencana pelantikan pasangan bupati/wakil bupati baru tersebut.
“Kemungkinan ancara pelantikan antara tanggal 25 dan 26 Agustus mendatang,” tuturnya ketika menunggu giliran bertemu Gubernur.
Dalam pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Lembata putaran kedua dua pekan lalu, pasangan Yentji/Viktor mengalahkan pasangan Herman Wutun/Viktus Murin. Petrus Atawolo berjanji akan menyampaikan berbagai masukan kepada pasangan Yentji dan Viktor sebelum keduanya dilantik dan mulai bertugas.
“Saya mencatat bahwa sejumlah contoh tugas pemerintahan dan pelayanan masyarakat di daerah lain jadi tersendat hingga macet hanya karena pimpinan daerah yang baru sejak awal justru sibuk menggusur para pejabat yang berbeda pilihan politiknya, dan pada saat yang sama seru dengan aksi balas jasa kepada mereka yang diketahui mendukung. Contoh seperti ini jangan sampai terjadi di Lembata,” harapnya.
Dia berharap para pejabat merangkul semua dan memberi kesempatan yang sama menunjukkan kinerjanya. Hukuman atau penghargaan bukan karena beda pilihan politik, melainkan sepenuhnya berpedoman pada kinerja tugas pejabat bersangkutan. (by. kompas)

Wisata “Hobbit” di Gua Liang Bua


SERGAP NTT -> Pada 2003, peneliti menemukan kerangka manusia berukuran satu meter di Gua Liang Bua, Rampasasa, di Kabupaten Manggarai. Sejak itu kabar ada perkampungan manusia kerdil hidup di daerah itu tersebar ke mana-mana.

Kabar itu kemudian dikait-kaitkan dengan keberadaan suku Hobbit, suku yang menjadi tokoh utama di film Lord of The Ring. Di film itu digambarkan suku ini sangat pemalu, namun memiliki kemampuan menjelajah yang jauh. Mereka menggunakan bebatuan sebagai senjata.

“Jika ingin melihat Hobbit, cukup dengan menyediakan Rp 500 ribu,” kata kuncen Gua Liang Bua kepada Michael Casey dari AP (9/3). Tapi tak perlu merasa mahal. Karena jika sabar, anda akan menemukan pemandu yang mau dibayar dengan upah Rp 150 ribu.

Agar laku, cerita lain pun diembuskan. Manusia kerdil penghuni di sekitar gua ini punya leluhur bernama Ebu Gogo, yang suka memakan segalanya termasuk manusia. Sejak saat itu, wisata Hobbit pun di mulai.

Casey lalu dibawa ke perkampungan yang tak jauh dari gua. Titik pertemuan dilakukan di kamar sebuah rumah yang dipenuhi lukisan orang-orang kerdil. Ia dipertemukan dengan Viktor Jehabut, 80 tahun, warga kampung itu.

Viktor memiliki tinggi badan hanya sekitar 1,2 meter. Tapi secara keseluruhan bentuk tubuhnya sama seperti manusia biasa. Kakinya tidak berukuran dua kali lipat kaki orang biasa, seperti yang ada di film. “Dia hanya pendek, tak ada yang aneh,” kata Casey.

Sengan menggunakan bahasa Suku Manggarai, Viktor menceritakan legenda di kampungnya. Bahwa di masa lalu, orang seperti dia di kampungnya bisa menghilang bila dikejar. Dan tidak akan berdarah meski kulitnya disayat. “Cerita kami yang suka makan manusia, tidak benar,” kata Viktor

Viktor dan hidup bersama sekitar 170 orang warga sekampungnya. Penduduk di perkampungan ini semuanya miskin, dan anak-anak kebanyakan tidak bersekolah. Letaknya yang terpencil, sekitar 10 kilometer dari Ruteng, ibukota Manggarai, menjadi penyebab. Kini mereka cukup puas hanya dengan menjadi objek penelitian karena ukuran tubuh mereka, dan dikunjungi para turis yang penasaran ingin melihat “Hobbit” dari dekat. (by. chris parera/web)

Flores is a Catholic island


SERGAP NTT -> Flores is a Catholic island (Flores itu pulau Katolik). Julukan ini tidak salah. Sebab, sejak abad ke-15, daerah ini menjadi salah satu basis utama penyebaran agama Katolik di Nusantara. 

“Seperti Maluku, Flores juga menjadi tempat berpijak yang paling penting bagi pedagang-pedagang Portugis dan kegiatan misionaris selama kehadiran mereka di Indonesia hingga 1512 hingga 1605,” tulis Kapten Tasuku Sato dan Mark Tennien dalam bukunya I Remember Flores, New York, 1957. 

Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Thom Wignyanta, wartawan senior, surat kabar mingguan DIAN yang terbit di Ende. 

“Yang pertama-tama berkarya di Flores ialah para padri Dominikan yang berasal dari Portugis. Mereka membuka misi pertama di Pulau Solor, kira-kira 350 tahun lalu. Dari Solor mereka berpindah ke Larantuka dan Maumere yang terletak di pantai utara Flores. Karya mereka pada abad ke-17 itu boleh dikatakan berhasil baik. Meskipun jumlah imam sedikit, toh berhasil menobatkan beberapa ribu orang dari pulau itu,” tulis Tasuku Sato, komandan Angkatan Laut Jepang di Flores pada 1943. 

Pada 1914-1920 ada dua kongregasi yang bekerja di Flores, yakni Serikat Yesus alias Societas Jesu (SJ) dan Societas Verbi Divini (SVD). Pada 1920 Serikat Yesus meninggalkan Flores, dan menyerahkan tongkat penggembalaan umat Katolik kepada SVD. Sampai sekarang Flores umumnya dikenal sebagai basis SVD paling besar di dunia. 

Yang menarik, seperti dikutip Frans M. Parera (2002), sebelum misi Katolik ini masuk sudah ada penduduk Flores yang menganut agama Islam. Selain itu, tentu saja ‘agama asli’, yang masih mayoritas mutlak. Tidak disebutkan kapan persisnya Islam masuk ke Flores. Di sekolah-sekolah di Flores Timur, sejarah masuknya Islam ke Flores Timur praktis tak pernah diajarkan. 

“Biara SVD berkompetisi dengan juru dakwah agama Islam di Flores untuk mengembangkan agama masing-masing…. Ternyata, Biara SVD lebih unggul dalam strategi marketing mereka daripada juru dakwah dari lingkungan agama Islam untuk berpengaruh di tengah-tengah suku-suku Flores Tengah dan Flores Barat. Suku-suku etnis itu mayoritas memeluk agama Katolik sepanjang abad ke-20,” tulis Frans Parera dalam buku yang sama. 

Dari sini, saya berkesimpulan bahwa agama Islam sudah hadir di Flores sebelum tahun 1512. Jadi, bukan agama baru. Penyebaran Islam tak lepas dari aktivitas nelayan atau pelaut asal Jawa, Sumatera, Kalimantan, atau daerah-daerah lain di Nusantara. Ingat, Flores Timur adalah daerah pesisir yang sangat mudah dijangkau perahu atau kapal laut. 

Bung Karno (Ir Soekarno, presiden pertama Indonesia) pada 1934-1938 diasingkan oleh rezim Hindia Belanda di Pulau Flores, tepatnya Ende. Di Flores inilah Bung Karno banyak memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam, berkorespondensi dengan ulama-ulama terkenal di Jawa, menulis artikel-artikel menarik seputar Islam, dialog dengan kiai di Flores, serta tak lupa berdiskusi dengan pastor-pastor SVD. 

Bung Karno punya sahabat karib Pater Huyting SVD, misionaris di Biara Santo Yosef, Ende. Dari sinilah Bung Karno menulis ’surat-surat Islam’ dari Flores, yang bisa kita baca di buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’. 

Saya kutip tulisan Bung Karno di ‘Di Bawah Bendera Revolusi’ Jilid I halaman 330-331: 

“… saja sendiri banjak bertukaran fikiran dengan kaum pastoor di Endeh. Tuan tahu bahwa Pulau Flores itu ada ‘pulau missi’ jang mereka sangat banggakan. Dan memang pantas mereka banggakan mereka punja pekerdjaan di Flores itu. Saja sendiri melihat bagaimana mereka bekerja mati-matian buat mengembangkan mereka punja agama di Flores. Saya ada respect buat mereka punja kesukaan bekerdja itu. 

“Kita banjak mentjela missi, tapi apakah jang kita kerdjakan bagi menjebarkan agama Islam dan memperkokoh agama Islam? Bahwa missi mengembangkan roomskatholicisme, itu adalah mereka punja hak yang kita tak boleh tjela atau gerutu. Tapi kita, kenapa kita malas? Kenapa kita teledor? Kenapa kita tak mau kerdja? Kenapa kita tak mau giat? Kenapa misalnja di Flores tiada seorang pun muballigh Islam dari sesuatu perhimpunan Islam jang ternama (misalnja Muhammadijah) buat mempropagandakan Islam di situ kepada orang kafir? 

“Missi di dalam beberapa tahun sahadja bisa mengkristenkan 250.000 orang kafir di Flores. Tapi berapa orang kafir yang bisa ‘dihela’ oleh Islam di Flores itu? Kalau difikirkan, memang semua itu salah kita sendiri, bukan salah orang lain. Pantas Islam selamanja diperhinakan orang!” 

Agama Islam memang bukan agama baru di daerah saya, Flores Timur. Kita sangat mudah menemukan masjid, langgar, surau di kampung-kampung. Jauh lebih sulit menemukan kapela, apalagi gereja, di Jawa ketimbang menemukan masjid. 

Di desa saya, Napasabok, Kecamatan Ile Ape, Lembata, ada Masjid Nurul Jannah yang megah, dibangun secara gotong-royong oleh penduduk (mayoritas Katolik), padahal umat Islam hanya segelintir. Justru tak ada gereja meskipun 97 persen penduduk beragama Katolik (plus agama asli). Kami bangga dengan masjid itu. Itulah simbol toleransi, Bhinneka Tunggal Ika. 

Ini jarang saya jumpai selama belasan tahun tinggal di Pulau Jawa. Di Jawa, jangankan bekerja bahu-membahu bikin rumah ibadah agama lain, sekadar memberi restu atau izin saja susahnya minta ampuuuuun! Gereja yang sudah berdiri pun masih dipertanyakan izin-izinnya. 

Saya bisa membagi pemeluk Islam di Flores Timur dalam tiga kategori. Pembagian ini hanya garis besar, tidak ilmiah, hanya untuk memudahkan pemahaman kita tentang komunitas Islam di Flores Timur, Provinsi Nusatenggara Timur. 

SATU, komunitas Islam asli Flores. 

Latar belakang mereka sama-sama penduduk bumiputra yang mula-mula menganut ‘agama asli’ atau meminjam istilah Bung Karno ‘orang kafir’. Dalam buku sejarah, agama asli biasa disebut animisme-dinamisme. Ketika datang agama baru, entah Katolik atau Islam, penduduk mulai konversi alias pindah agama. Agama asli identik dengan kekolotan atau primitivisme karena terkait erat dengan dukun-dukun serta kepercayaan alam gaib yang sulit berterima di alam moderen. 

Karena sama-sama asli Lembata, Adonara, Solor, Flores Timur daratan, jemaat Islam ini benar-benar menyatu dengan umat Katolik atau penganut agama asli. Sama-sama diikat oleh adat, budaya, serta keturunan yang sama. Kalau diusut-usut, golongan ini punya hubungan darah yang sangat erat. 

Fam atau marga saya, Hurek Making, misalnya, banyak yang menganut Islam. Bapak Muhammad Kotak Hurek bahkan jadi takmir Masjid Nurul Jannah di kampung. Muhammad Anshar Paokuma, keluarga dekat dari pihak ibu saya, malah imam masjid tersebut. Hubungan persaudaraan erat luar biasa. 

Bedanya: umat Islam tidak makan daging babi dan anjing, sementara saudara-saudaranya non-Islam sangat doyan. Kalau ada pesta, saudara-saudara muslim ini ‘wajib’ menyiapkan daging khusus untuk kaum muslim, mulai dari menyembelih kambing, memasak, hingga siap saji di meja makan. Tradisi lokal ini untuk menjaga agar makanan itu terjamin kehalalannya. 

Pak Hamid, juga masih kerabat saya, dikenal sebagai tukang jagal kambing dan sapi paling top. Begitu tahu bahwa daging kambing itu disembelih oleh Pak Hamid, saudara-saudara muslim itu pun menyantap dengan nikmat. 

DUA, komunitas Islam pesisir. 
Mereka ini campuran antara pendatang dan penduduk asli yang sudah bercampur-baur secara turun-temurun. Disebut pesisir–ini istilah saya saja–karena tinggalnya di pesisir, bekerja sebagai nelayan ulung. Selain itu, mereka pedagang ‘papalele’ hingga pedagang besar. 

Mereka ini menganut Islam berkat dakwah para pedagang atau pelaut Sulawesi, Sumatera, Jawa, Sumbawa. Ada juga nelayan Sulawesi yang akhirnya menetap di Flores karena kerap bertualang di laut. Ada tanah kosong di pinggir laut, lantas mereka mendirikan rumah di situ. Akhirnya, muncul banyak kampung-kampung khusus Islam di beberapa pesisir Flores Timur. 

Berbeda dengan Islam jenis pertama (asli Flores), golongan kedua ini benar-benar pelaut sejati. Di beberapa tempat, rumah mereka bahkan dibuat di atas laut. Karena tak punya tanah, namanya juga pendatang, mereka tidak bisa bertani. Kerjanya hanya mengandalkan hasil laut, tangkap ikan, serta berdagang. 

Maka, komunitas Islam pesisir ini sangat solid dan homogen di pesisir. Kampung Lamahala di Adonara Timur dan Lamakera di Solor Timur merupakan contoh kampung Islam pesisir khas Flores Timur. Di Kampung Baru serta sebagian Postoh (Kota Larantuka) pun ada kampung khusus Islam pesisir. 

Mereka ini menggunakan bahasa daerah Flores Timur, namanya Bahasa LAMAHOLOT, dengan dialek sangat khas. Perempuannya cantik-cantik, rambut lurus… karena itu tadi, nenek moyangnya dari Sulawesi, Sumatera, Jawa. Tapi ada juga yang agak hitam, sedikit keriting, karena menikah dengan penduduk asli yang masuk Islam. 

Karena tinggal di pantai (bahasa daerahnya: WATAN), di Flores Timur umat Islam disebut WATANEN alias orang pantai. Sebaliknya, orang Katolik disebut KIWANEN, dari kata KIWAN alias gunung. WATANEN mencari ikan, KIWANEN bertani, hasilnya bisa barter untuk mencukupi kebutuhan orang Flores Timur. Jadi, kedua kelompok ini, WATANEN-KIWANEN tak bisa dipisahkan meskipun berbeda agama. 

Oh, ya, karena tak bisa bertani (wong, nggak punya tanah), mereka tumbuh sebagai pedagang-pedagang yang tekun dan berhasil. Saya bisa pastikan, pasar-pasar Inpres di Flores Timur hampir dikuasai secara mutlak oleh muslim pesisir. Mereka juga punya banyak armada kapal laut antarpulau yang menghubungkan pulau-pulau di Flores Timur, Nusatenggara Timur, bahkan Indonesia. 

Saat berada di Jawa, saya senang dengan teman-teman Islam pesisir, khususnya Lamahala, kalau diminta main bola memperkuat tim mahasiswa Flores Timur. Militansinya tinggi, nekat, pantang menyerah… dan sedikit ‘nakal’. Saking getol membela Flores Timur, teman-teman muslim ini tak segan-segan berkelahi manakala dicurangi wasit atau pemain lawan. 

Pemain-pemain bola muslim Flores ini juga sejak dulu menjadi andalan PS Flores Timur, khususnya penjaga gawang. “Mungkin karena sering menangkap ikan, jadi pandai menangkap bola juga,” begitu saya menggoda Taslim Atanggae, teman asal Lamahala, yang jago kiper. 

“Jangan lupa main-main ke rumah ya? Biar saya bisa omong bahasa daerah dengan kamu. Di sini semuanya orang Jawa,” kata Ahmad Wahab, asli Lamahala, yang kini tinggal di pelosok Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. 

Orang Lamahala memang bangga dengan bahasa daerahnya, Lamaholot, dengan dialek khas dan keras. Teman-teman muslim pesisir yang sangat taat beragama ini selalu membuat saya, orang KIWAN alias Katolik, bahagia. 

TIGA, komunitas Islam pendatang baru. 
Berbeda dengan komunitas pertama dan kedua, komunitas ketiga ini pendatang baru dalam arti sebenarnya. Mereka datang, bekerja, dan menetap di Flores Timur, menyusul gerakan transmigrasi pada era 1970-an, 1980-an… sampai sekarang. Ada juga yang pegawai negeri sipil, pegawai swasta, profesional yang bekerja di Flores. 

Mereka tak punya kampung seperti muslim asli dan muslim pesisir. Kampungnya ya di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan seterusnya. Kalau Lebaran, mereka ramai-ramai pulang ke kampung untuk silaturahmi dengan keluarganya. Sebaliknya, orang Islam jenis satu dan dua ramai-ramai pulang ke Flores Timur karena orang tua, keluarga besar, memang di Flores Timur. 

Komunitas ketiga ini juga tak bisa berbahasa daerah seperti orang Lamahala atau Lamakera. Bahasanya, ya, bahasa Jawa, bahasa Betawi, bahasa Padang, dan seterusnya. Komunikasi dengan penduduk lokal, tentu saja, dengan bahasa Indonesia. “Terima kasih untuk bahasa Indonesia,” mengutip pujangga favorit saya, Pramoedya Ananta Tour. 

Namun, berbeda dengan Islam pesisir (WATANEN) yang hanya tinggal di kampung-kampung khusus Islam, muslim pendatang baru ini sangat fleksibel. Mereka bisa tinggal di mana saja: kampung Islam, kampung Katolik, pantai, pegunungan, pelosok, kota. Luar biasa luwes! 

Dokter Puskesmas (PTT), guru-guru SMA/SMP negeri, tentara, polisi, asal Jawa dikenal sebagai muslim pendatang yang sangat luwes. Saking luwesnya, kerap kali mereka kecantol dengan gadis lokal (Flores Timur, non-Islam) lalu menikah. Pernikahan semacam ini hampir ‘mustahil’ dilakukan oleh komunitas muslim pesisir alias jenis kedua. 

Teman-teman Islam jenis ketiga (muslim pendatang baru), bagi saya, punya nilai tersendiri bagi kami di Flores Timur. Kenapa? Mereka membuktikan bahwa masyarakat itu bisa tinggal berbaur di mana saja, bertetangga dengan siapa saja, apa pun agamanya. Segregasi alias pemisahan permukiman penduduk atas dasar agama berhasil ‘diterobos’ oleh muslim pendatang baru. 

Nah, komunitas Islam pendatang baru ini mirip Islam jenis pertama, hanya saja tak punya kampung di Flores Timur. 

Zaman makin maju. Orang Flores merantau ke mana-mana. Sehingga, tentu saja, komposisi masyarakat akan terus berubah, termasuk tiga jenis Islam ala Flores Timur ini. Tak ada yang abadi di dunia bukan?  (by. blog hurek)

Budaya Manggarai Timur Terancam Punah


SERGAP NTT -> Panitia Pelaksana Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 66, Kecamatan Kota Komba menggelar pentas Seni dan Budaya Nusa Tenggara Timur.
Panitia menilai, budaya dan seni serta berbagai tarian khas Kabupaten Manggarai Timur yang tersebar di desa-desa dan kampung-kampung terancam punah. Alasan itulah yang mendorong pergelaran pentas seni dan budaya ini digelar.
Acara ini telah dibuka secara resmi oleh Bupati Kabupaten Manggarai Timur, Yoseph Tote, didampingi Wakil Bupati Manggarai Timur Agas Andreas serta pimpinan instansi terkait di Pemkab Manggarai Timur, kemarin.
Ketua Panitia Acara Pentas Seni dan Budaya Kecamatan Kota Komba, Remigius Gaut kepadaKompas.com, Selasa (16/8/2011) menerangkan, berbagai pergelaran seni budaya dari desa-desa dan kampung-kampung akan ditampilkan dalam rangkaian acara tersebut.
Sebutlah, tarian Sanda dibawakan oleh Desa Mokel Morit, Mokel dan Golomeni. Tarian Mbata dibawakan Desa Rana Mbeling dan Rana Mbata. Tarian Danding atau Tore dibawakan oleh Desa Golonderu dan Watu Pari. Tarian Rawa dibawakan oleh Desa Mbengan, tarian Vera dibawakan Kelurahan Watunggene, dan tarian Pado’a dibawakan oleh Kelompok Mabharuju, Kelurahan Watunggene.
Di samping itu, Gaut menjelaskan, tarian Caci khas masyarakat Kabupaten Manggarai Timur akan digelar sesudah acara puncak 17 Agustus 2011. Peserta tarian Caci terdiri dari 22 desa dan kelurahan di Kecamatan Kota Komba yang dibagi dalam beberapa kelompok.  Ada 11 desa wilayah Utara disebut Meka Landang (tamu undangan) dan 11 desa dan kelurahan di wilayah selatan di sebut Mori Beo (tuan tanah).
“Kami berharap dengan berbagai kegiatan yang digelar dapat membangkitkan kembali seni budaya warga masyarakat Manggarai Timur sebagai ciri khas masyarakat Manggarai Timur di masa mendatang,” jelasnya. (by. kompas)

SEKILAS SEJARAH MASUKNYA KRISTEN DI ALOR


SERGAP NTT -> Pantai Makassar di Kabupaten Alor saat itu dikusai oleh Portugis. Sepanjang pesisiran pantai di Pulau Alor dinaikkan bendera putih.
Menurut Fredrik Pulinggomang, S.Th, seorang tokoh masyarakat Alor dan Pendeta, bahwa pada tahun 1814 terjadi persepakatan pembagian wilayah antara Portugis dan Belanda yang kemudian disebut dengan Keputusan Leserborn. Keputusan itu membagi wilayah NTT menjadi dua bagian wilayah kekuasan. Wilayah pertama yang meliputi mulai dari Sumba, sebagian daratan Timor, Alor masuk daerah kekuasaan Kolonial Belanda, sedangkan Plores dan sebagian Timor masuk dalam wilayahPortugis.
Berdasarkan keputusan itu maka Belanda mulai menempatkan beberapa orang Belandes di Alor. Seorang diberikan tugas sebagai Poskholder (penjaga pos), seorang yang lain sebagai menteri pajak, dan satu komando pasukan. Mereka masuk pertama kali di suatu tempat yang bernama Bang Atimang (sekarang bernama Alor Kecil), lalu berkedudukan atau berdomisil di Pantai Makassar. (Dinamakan Pantai Makassar, sebab jauh sebelumnya orang-orang Makassar sudah bermukim di daerah tersebut sebagai pelaut dan pedagang sambil membawa ajaran-ajaran agama Islam, sampai saat ini komunitas mereka masih terdapat di pantai tersebut, sebagai bukti keberadaan tersebut adalah berdirinya sebuah balla lompo di salah satu tempat di Alor Kecil)
Lalu tahun 1900, orang Kristen mulai masuk ke daerah ini. Orang tersebut bernama Mingga dan Heo. Kedua orang tersebut dibuang oleh Belanda ke daerah Alor. Keberadaanya mungkin dikibatkan karena adanya ekses di Rote yang mengakibatkan Belanda membuang mereka ke daearah Alor. Mingga dan Heo, penganut agama Kristen (masuk dalam zegi pastoral, karena imam mereka tidak terlepas dari umat Kristeani). Mereka merupakan tahanan Belanda yang dibuang ke Alor. Pembuangan mereka ke Alor mungkin disebabkan oleh karena Alor saat itu dikenal memiliki kondisi alamnya terjal, bergunung dan lain-lain sebagainya. Selain itu di wilayah ini masih sering terjadi konflik antar suku, karena mereka masih percaya kepada agama suku. Kedua orang itu juga masuk melalui Bang Atinang dan berdomisili di Pantai Makassar.
Penduduk asli Alor yang menganut kepercayaan suku bermukim di gunung-gunung. Sesekali mereka turun ke Pantai Makassaar, untuk berbelanja terutama pada hari pasar. Mereka saat itu berkomunikasi dan bergaul serta bertransaksi jual beli dengan para masyarakat pendatang terutama komunitas Kristen. Karena orang-orang Kristeani kuat dalam zegi pastoral dan sosiologi, maka tidak sedikit di antara penganut agama suku yang simpati kepada mereka dan beralih untuk memeluk agama Kristen.
Zegi Pastoral yang dibuat oleh Mingga dan Heo akhirnya paham bahwa tidak hanya kaum Kristeani yang bergaul akrab dengan mereka akan tetapi penganut Agama Islam pun demikian, maka Zegi Pastoral kemudian tidak tinggal ditempat. Mereka memulai untuk menjajaki para penduduk asli penganut keparcayaan suku di gunung-gunung. Merekapun jalan naik ke gunung-gunung bertemu dengan orang tua-tua dan anak–anak mereka.Komunikasi berjalan dengan baik dan akhirnya merekapun bersahabat dengan masyarakat pegunungan itu. Zegi Pastoral besahabat dengan para orang tua, demkian halnya dengan anak-anak mereka.
Sehingga, pada tahun 1905 anak-anak penduduk asli penganut agama suku tersebut dibina di Pantai Makasar. Pembinaan itu bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran Kristen. Pada saat itu sistem pendidikan dibagi kepada tiga. Sistem pertama adalah pendidikan umum: upaya untuk mengajarkan kepada anak-anak tersebut huruf, kedua pembinaan doktrin gererja: memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran Kristen, dan ketiga mereka berbakti bersama dalam membaca Alkitab, berhotbah, bernyanyi dan lain-lain. Tiga sistem pendidikan tersebut digabung , yang saat itu dikenal dengan Sunday Scholl (sekolah minggu itu saat ini berubah menjadi sekolah umum, karena daerah Alor Kecil saat inidimukimi oleh mayoritas penganut agama Islam.).
Pada tahun 1910 Belanda pun mulai mengirim lagi seorang yang lain, pendeta yang namanya Wallem Buch. Pengiriman tersebut dilakukan karena menurut penelitian bahwa orang-orang gunung sudah banyak yang percaya kepada Agama Keristen. Sehingga pada tahun yang sama Walem Buch mengadakan pembabtisan massal di suatu tempat, namanya Belolo. Pada tahun yang sama pula sebuah sekolah dibuka di Belolo. Sekolah tersebut merupakan pemisahan dari Sunday School yang didirikan sebelumnya. Jadi sekolah umum yang mengajarkan tentang baca tulis huruf mulai dipisahkan dengan sekolah minggu yang mengajarkan tentang ajaran-ajaran Kristen. Pada tahun 1911, sebuah sekolah umum lagi dibuka di Alor Kecil (Bang Atinang). Pada tahun yang sama, kapal Conopus (kapal Belanda, Kapal Putih), berlabu di Alor Kecil dan saat itu Babtisan massal kedua oelh Wallem Buch lagi.
Pemerintah Belanda pun mulai memperhatikan perkembangan Pulau Alor ke depan. Ia mencari jalan keluar untuk membuat suatu kota. Akan tetapi kenyataan alam yang tidak mendukung,di Belolo dan Alor Kecil keadaan pantai dapat dibuat pelabuhan akan tetapi keadaan daratan tidak mendukung, sebab kondisinya pengunungan. Akhirnya kota pun dikembangkan atau dipndahkan ke Kalabahi. Pemindahan kota tersebut terjadi pada tanggal 5 Mei 1911.
Saat kota dibuka, sekolah-sekolah dan gereja-gereja pun juga dibuka oleh Belanda. Keadaan sistem pendidikan saat itu mulai terpisah. Gereja dibuka tersendiri, sekolah-sekolah umum pun melaksanakan sistem pendidikannya, demikian halnya dengan Sunday School dengan sistem pendidikan yang berbeda. Kebaktian umumpun telah dilakukan. Sedangkan gereja Adam dibuka pada tahun 1917.
Sebetulnya keputusan Belanda tentang penggalakan dibidang pendidikan dan keagamaan dimulai sejak tuhun 1911, dengan instruksinya untuk membuka sekolah dan gereja di seluruh daerah ini. Tetapi karena situasi alam Pulau Alor yang kurang mendukung, gunung terjal yang mesti ditempuh melalui jalan kaki, menyeberangi atau menghadapi gelombang laut dengan perahu layar, maka realisasinya dilakukan dalam waktu yang berbeda.
Guru pengajar pun mulai bertambah. Di awal pelaksanaan pendidikan ini, beberapa guru umum yang sebagai guru agama dan penginji di gunung-gunung. Namun beberapa waktu kemudian mulai ada bantuan guru dari daerah lain antara lain dari Daratan Timor, dan Manado, Sulawesi. Mereka mengajar masyarakat untuk mengenal Allah, dan alam adalah kepunyaan Tuhan yang mesti dikuasai.
Perkembangan selanjutnya, motivasi penduduk Pulau Alor untuk lebih memperdalam ilmu pengetahuan bangkit. Beberapa di antara mereka melanjutkan pendidikan di luar Pulau Alor, diantaranya di Kupang, Jawa dan Sulawesi. (by. badruzzaman)