Alor Dari Masa Ke Masa


SERGAP NTT -> Masih ingat Antonio Pigafetta? Ia adalah penulis (narator) perjalanan keliling dunia pimpinan Ferdinand Magellan. Pigafetta mencatat, bahwa pada 9 sampai 25 Januari 1522, pulau Alor-Pantar dikunjungi oleh kapal Victoria, yakni sisa terakhir dari armada Magellan. Tentang Alor, Antonio Pigafetta menulis : Penduduk pulau ini buas seperti hewan dan makan daging manusia. Mereka tidak mempunyai raja dan tidak berpakaian. Mereka hanya memakai kulit kayu, kecuali kalau pergi ke medan perang (A.D.M.Parera : 1994).
Antonio Pigafetta melanjutkan, Untuk mempertahankan dan memperkuat diri dari muka, belakang, sisi kiri dan kanan, mereka memakai kulit kerbau yang dihiasi dengan kulit-kulit siput, taring  babi dan buntut kulit kambing terikat pada muka dan belakang. Rambut mereka diberkas tinggi ke atas dengan memakasi semacam batang rumput panjang yang ditusuknya dari sisi ke sisi. Janggut mereka dibungkus dengan daun dimasukkan ke dalam batang bambu. Sungguh lucu.
“Mereka adalah bangsa terburuk di bagian India,” tulis Pigafetta. Busur dan anak panah mereka terbuat dari bambu. Mereka membuat semacam kantong yang dianyam dari daun-daun bambu sebagai tempat menyimpan makanan dan minuman untuk dibawa oleh kaum wanita. Ketika mereka melihat kami, mereka menyongsong kami dengan anak panah, tetapi setelah kami memberikan mereka beberapa hadiah, mereka lalu menjadi sahabat kami.
Kami tinggal di sini selama dua minggu untuk memperbaiki kapal kami. Di pulau itu terdapat ayam, kambing, kelapa, lilin, yang diberikan sebanyak 15 pond kepada kami untuk ditukar dengan sekarat besi tua, dan Lombok yang buahnya panjang itu menyerupai bunga dari “hazelnood”. Pohonnya melata dan melekat pada pohon lain, daunnya menyerupai daun muras (murbei) dan dinamakan luli. Lombok yang buahnya bundar, melata juga tetapi mempunyai mayang seperti gandum Indian, dan buahnya digaruk keluar dan dinamakan lada.
Ladang-ladang di Alor-Pantar penuh dengan jenis Lombok yang terakhir ini ditanam dengan berjalur. Kami menangkap satu laik-laki dari wilayah ini untuk jadi pemandu bagi kami ke pulau-pulau lainnya, di mana kami bias mendapat bahan makanan. Itulah keadaan Alor tempodoeloe yang direkam oleh Antonio Pigafetta ketika kapal Victoria sisa armada Ferdinand Magellan membuang sauh di Alor, pada 488 tahun (1522-2010).
Sejarah mencatat bahwa kekuasaan Portugis di Alor hanya terbatas pada pengibaran bendera Portugis pada beberapa daerah pesisir. Misalnya, di Kui, Mataru, Batulolong, Kolana, dan Blagar. Begitu pula dengan Belanda pada awal menduduki Alor, hanya terbatas pada pengakuan atas penguasa-penguasa yang berada di pesisir sebagai raja-raja dan pada penempatan seorang Posthouder di Alor Kecil yang terlepat tepat di pintu teluk Kabola pada tahun 1861.
Menurut catatan Posthouder Morgersten tanggal 3 Juli 1909 (Doko : 1981), penduduk di pegunungan itu tidak mengakui mereka sebagai raja. Tetapi hanya sebagai pengantara dalam perdagangan barter atau sebagai penterjemah antara mereka dengan Belanda.
Dalam seputar 1910 -1916, Belanda begitu banyak mendapat tantangan dari rakyat Alor-Pantar. Kerajaan-kerajaan yang terkenal yang tak kurang membuat pusing Belanda seperti Kerajaan Bunga Bali, Kerajaan Kui, Kerajaan Kolana, Kerajaan Pureman, Kerajaan Mataru, Kerajaan Batulolong, Kerajaan Baranusa, Kerajaan Pandai, dan Kerajaan Blagar. Namun, Belanda dengan pisau devide et impera dan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) berhasil menaklukkan para raja tersebut. Mereka tunduk bersujud di bawah kaki bangsa penjajah dan mengakui Belanda sebagai penguasa atas bumi, tanah dan air Alor. Belanda juga membonsai jumlah kerajaan dari 9 kerajaan menjadi hanya 4 kerajaan. Yaitu : Kerajaan Kui, Kerajaan Alor Pantar, Kerajaan Kolana, dan Kerajaan Batulolong. Dengan demikian, Belanda akan semakin mudah melaksanakan pemerintahannya terlebih dalam pengawasan.
Masa ini masa feodal. Raja masih jadi “dewa”. Pemegang capital adalah raja dan staf di sekitarnya. Sementara rakyat jelata tetap pada predikatnya sebagai buruh kasar tanpa upah sepeser pun. Kerajaan-kerajaan tersebut mengikatkan diri pada Korte Verklaring. Ketentuan itu diikat dan diatur dalam Zelfbestuur regelen 1938 (Stadblaad 1938 No.529, yang karenanya keempat kerajaan itu (Kerajaan Kui, Kerajaan Alor Pantar, Kerajaan Kolana, Kerajaan Batulolong) digabung dalam satu wilayah pemerintahan yang bersifat lokal dengan nama Onderafdelling Alor-Pantar, yang merupakan satu struktur pemerintahan sebutan (Plaatselyke bestuur), dipimpin oleh seorang pamong praja Belanda (European Bestuur) yang disebut Controleur.
Onderafdelling Alor-Pantar secara resmi ditetapkan dengan Staatblaad (lembaran negara) 1929 No.196, berada dahulu sebagian di bawah kekuasaan Portugis dan baru sejak 6 Agustus 1851 dimasukkan seluruhnya ke dalam kekuasaan Belanda.
Yang dapat dicatat sebagai satu-satunya hal yang menjadi penawar pada masa pemewrintahan Hindia Belnda di Alor adalah masuknya para misionaris gereja menyebarkan agama Kristen, sebuah langkah awal menata mental dan akhlak kaum pribumi. Para misionaris gereja juga membuka sekolah rakyat, maka lahirlah sekolah rakyat (Volksscholl) di Kalabahi (5 Mei 1911), Kolana (1 Agustus 1911), Blangmerang (12 Agustus 1911), dan Biakbuku (1912). Menyusul Probur I (1916), Adang (29 Oktober 1917), Langkuru (11 Juni 1917), Kabir I (1 Januari 1917). Kemudian pada 1922dibuka sekolah rakyat di Silaipui, Gendok, Kiraman, Takala, Taramana, Pida, dan Kolondama. Pada tahun 1923 sekolah rakyat Limarahing (1 Nopember 1923), Moru (1923), Kabola (20 Oktober 1923), Peitoko (1 Agustus 1928), Kelaisi (1929), Bagalbui (1930), Lantoka (1930), Naumang (1 Juni 1932), Ternate (22 Januari 1932), Topbang (1 Agustus 1936), Waisika (1 Agustus 1938), Fami (1Agustus 1939), Ruilak ( 1 Agustus 1939), sungguh mulai menerangi mental hidup dan kehidupan anak negeri dari masa silam nan gelap. Begitu pula pengaruh positif oleh lahirnya sekolah-sekolah lainnya dari tahun 1942-1968, tak kurang dari 46 sekolah Kristen di seluruh Alor-Pantar.
Meski sekolah rakyat yang dibangun oleh Belanda begitu banyak tapi tak banyak m,enolong kaum pribumi menikmati pendidikan. Sebab, hanya segelintir orang yang bermampu atau anak-anak keluarega bangsawan yang bias bersekolah. Selebihnya, buta huruf!
Sampai dengan Belanda angkat kaki dari bumi Alor, kota Kalabahi sebagai pusat pemerintahan dan politik masa itu masih seperti sebuah kampong. Tak ada jalan beraspal, dan listrik. Hanya ada beberapa buah rumah rakyat dan sedikit toko pedagang Tionghoa, rumah sakit. Bangunan milik pemerintah yang terbilang modern ialah rumah dinas jabatan Controleur Belanda (sekarang rumah jabatan dinas Bupati Alor), dan kantor Controleur (sekarang kantor dinas Pariwisata), yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah jabatan Controleur.
Seperti tunas yang baru tumbuh ke permukaan, langsung dihantam badai hama. Itulah yang kiranya dapat dimisalkan pada fenomena bidang pendidikan. Karena justru pada putaran masa itulah dunia pendidikan semakin dilihat sebagai wadah jitu mendidik dan menbuat pintar rakyat jelata. Alor sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tengah dalam percaturan politik internasional. Sebuah tikung ujian maha berat memproklamirkan kemerdekaan, pada 17 Agustus 1945.
Menjelang penyerahan kedaulatan Kerajaan Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS), tahun 1948-1950, Pemerintah Republik Indonesia yang pertama di Alor dijabat oleh Ludgerus Poluan sebagai Utusan Pemerintah Daerah (UPD)yang kemudian diganti menjadi Kepala Pemerintahan Setempat (KPS). Setelah penyerahan kedaulatan, KPS Alor dijabat oleh Hendrik Rihi Kanadjara(1950-1951), J.M.Tawa (1951-1954), Imanuel Litamahuputi (1954- 30 September 1958), Johan Hendrik Ahab (30 September 1958-18 Desember 1958), dan Hendrik Soleman Giri (18 Desember 1958-1959), dan Syarif Abdullah (1959- 1960).
Peristiwa yang sangat bersejarah adalah bahwa berdasarkan Undang-Undang No.69 Tahun 1958 (Lembaran Negara Tahun 1958 No.122) Tentang pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II dalam wilayah Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), maka secara resmi terbentuklah Kabupaten Alor, pada 20 Desember 1958. Saat yang bertepatan dengan pelantikan Pejabat Sementara Kepala Daerah Tingkat I NTT oleh Gubernur Koordinator Pemerintahan Nusa Tenggara di Kupang.
Dengan terbentuknya Kabupaten Alor, maka Syarif Abdullah ditetapkan sebagai Pejabat Sementara Kepala Daerah Swatantra Tk.II Alor. Tidak banyak hal yang dilakukan oleh Syarif Abdullah dalam masaa jabatannya yang begitu singkat. Apalagi kondisi sosial politik masyarakat yang belum memungkinkan, masih terpilah-pilah dalam ikatan primordial sebagai warisan sistim kemasyarakatan lama yang dikendalikan oleh para raja. Namun, begitu, Syarif Abdullah tetap dikenang sebagai tokoh peletak dasar sistim pemerintahan modern di Alor.
Pembangunan sarana dan prasarana baru dimulai pada masa bupati John Bastian Denu (1960-1962) dan Umbu Marthinus Dikky Tarapanjang (1963-1967). Pembangunan sarana dan prasarana tersebutbaru menjangkau klota-kota kecamatan terdekat dengan Kalabahi, ibukota Alor. Barulah pada masa kepemimpinan bupati Jacob Octovianus Ledoh, BA (1967-1972) pembukaan jalur transportasi darat menuju daerah pedalaman mulai dilakukan.
Dari masa jabatan John bastian Denu sampai dengan Umbu Mathinus Dikky Tarapanjang, yang dapat dicatat ialah, seperti sekelompok manusia dari keempat kerajaan utama di Alor, yang baru mempunyai “rumah tangga sendiri” tetapi berlum banyak ditata, terutama karena rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI tidak hanya membabak-beluri kehidupan nasional, tetapi juga menyejarah daerah-daerah, termasuk Alor. Dalam suatu lingkup kehidupan masyarakat yang agraris tradisional yang pasif, dengan mental yangh sepenuhnya pasrah, PKI dengan enteng menjalankan pengaruhnya secara mengakar serabut. Suatu tantangan berat bagi Umbu marthinus Dikky.
Sebuah rumah tangga Alor yang bernasib bagai di tengah badai. Beberapa langkah awal menata “rumah tangga baru” Alor, hancur berantakan. Sikap mental masyarakat kembali sepenuhnya ke titik nadir. Pasif dengan kecurigaan terhadap sesuatu yang baru dating dari luar, beku, kaku, tertutup. Dalam rumusan nasuional, masa seputar 1950-1965 dilabel sebagai masa Orde Lama, yang berakhir dengan meninggalkan kehancuran-keberantakan di berbagai aspek kehidupan anak negeri di Indonesia.
PKI dengan nafas politik Nasakom-nya pernah lahir secara legal, kemudian membabak beluri Negara Republik Indonesia. Dengan meletusnya G30S/PKI di tahun 1965, secara resmi pula PKI dibumi hanguskan dari bumi Republik Indonesia. Ulah PKI yang merongrong Indonesia di saat itu, secara khusus pula merongrong hidup dan kehidupan di bumi Alor. Banyak rakyat yang tak begitu paham soal A-B-C Nasakomisasi, akhirnya harus puas dengan labal klasifikasi oleh Pemerintah sebagai Golongan C.
Perkembangan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan, baik darat, luat dan udara, mulai mengalami kemajuan berarti pada masa kepemimpinan bupati Drs. Umbu Pekudjawang (1978-1984). Dalam masa ini, transportasi antar pulau dalam kabupaten Alor mulai lancer. Bupati Drs. Jack Djobo adalah putera Alor pertama yang duduk di pucuk pemerintahan di Kabupaten Alor. Melalui program Panca Krida Kabupaten Alor, Jack Djobo sukses membawa Alor selangkah lebih maju.
Kemudian tongkat estafet kepemimpinan diteruskan oleh bupati Teddy Sutedjo (1984-1989) ditandai dengan roda pemerintahan yang semakin baik, lancar,dan efektif. Dengan melanjutkan Panca Krida kabupaten Alor, Teddy Sutedjo mulai membangun transportasi darat hingga menjangkau kota kecamatan dan desa, terutama ke kantong-kantong produksi. Panca program meliputi Terasering, Tanaman Perdagangan, Gizi, Kertrampilan dan Pemukiman.  Kemudian tampil bupati Drs. Hosea Dally (1989-1999)menambah dua krida baru pada Panca Krida sehingga menjadi Sapta Krida serta melaksanakan Operasi Peningkatan Gabah (Opnigah) guna memperkuat ketahanan pangan masyarakat dalam membangunan daerahnya.
Kemudian tongkat estafet kepemimpinan bupati Alor dilanjutkan oleh Ir. Ans Takalapeta (1999-2009). Pada masa ini Ansgerius Takalapeta menggulirkan Program Gerakan Kembali ke Desa dan Pertanian). Program Gerbadestan ini dinilai pemerintah pusat (Jakarta) sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. Jadi wajar jika bupati Ansgerius Takalapeta dianugerahi Piagam dan Tanda Penghargaan Satya Lencana Pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (by. Hansitta)

Pasola, Tragedi Asmara di Padang Savana


SERGAP NTT -> Mengintip pulau Sumba terbersit pesan Sumba adalah pulaunya para arwah. Di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi. Nama Sumba atau Humba berasal dari nama ibu model Rambu Humba, istri kekasih hati Umbu Mandoku, salah satu peletak landasan suku-suku atas kabisu-kabisu Sumba.
Dua pertiga penduduknya adalah pemeluk yang khusuk berbakti kepada arwah para leluhurnya, khususnya kepada bapak besar bersama, sang pengasal semua suku. Marapu menurut petunjuk dan perhitungan para Rato, Pemimpin Suku dan Imam agung para Merapu. Altar megalik dan batu kuburan keramat yang menghias setiap jantung kampung dan dusun (paraingu) adalah bukti pasti akan kepercayaan animisme itu.
Sumba, pulau padang savana yang dipergagah kuda-kuda liar yang kuat yang tak kenal lelah menjelajah lorong, lembah dan pulau berbatu warisan leluhur. Binatang unggulan tingkatan mondial itu semakin merambah maraknya perang akbar pasola, perang melempar lembing kayu sambil memacu kuda, untuk menyambut putri nyale, si putri cantik yang menjelma diri dalam ujud cacing laut yang nikmat gurih.
Pasola berasal dari kata `sola’ atau `hola’, yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan `pa’ (pa-sola, pa-hola), artinya menjadi permainan. Jadi pasola atau pahola berarti permainan ketangkasan saling melempar lembing kayu dari atas punggung kuda yang sedang dipacu kencang antara dua kelompok yang berlawanan.
Pasola diselenggarakan di Sumba Barat setahun sekali pada bulan Februari di Kodi dan Lamboya. Sedangkan bulan Maret di Wanokaka. Pasola dilaksanakan di bentangan padang luas, disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum.
Sedangkan peserta permainan adalah pria pilih tanding dari kedua Kabisu yang harus menguasai dua keterampilan sekaligus yakni memacu kuda dalam kecepatan super tinggi (super speed power) dan melempar lembing (hola). Pasola biasanya menjadi klimaks dari seluruh rangkaian kegiatan dalam rangka pesta nyale.
Skandal Janda Cantik
Menelurusi asal-usulnya, pasola berasal dari skandal janda cantik jelita, Rabu Kaba sebagaimana dikisahkan dalam hikayat orang Waiwuang. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi. Setelah dinanti sekian lama dan dicari kian ke mari tidak membuahkan hasil, warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan belasungkawa atas kepergian/kematian para pemimpin mereka.
Dalam kedukaan mahadahsyat itu, janda cantik jelita `almarhum’ Umbu Dulla, Rabu Kaba mendapat pelabuhan hati Rda Gaiparona, si gatotkaca asal Kampung Kodi. Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih.
Namun adat tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. Janda cantik jelita, Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya.
Beberapa waktu berselang, ke tiga pemimpin warga Waiwuang (Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula) yang sebelumnya telah dinyatakan hilang atau meninggal dunia oleh para pengikutnya tiba-tiba muncul kembali di kampung halamannya. Warga Waiwuang menyambut mereka dengan penuh sukacita.
Namun mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. “Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,” jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang lagi mabuk kepayang itu. Akhirnya keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula.
Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona tidak ingin kembali. Ia tidak mau dipisahkan lagi oleh sang tambatan hati yang telah meluluhlantahkan segala rasa cinta dan kasih sayang yang pernah diberikannya kepada sang mantan suami, Umbu Dula.
Kemudian Rabu Kaba meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis yang diterima dari keluarga Umbu Dulla. Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.
Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik, Rabu Kaba. Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga kampung Waiwuang, Kodi dan Wanokaka, di Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola.
Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk. Tetapi menjadi satu bentuk pengabdian dan aklamasi ketaatan kepada sang leluhur.
Pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu. Karena itu pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu. Hal ini sangat jelas pada pelaksanaan pasola, pasola diawali dengan doa semadhi dan Lakutapa (puasa) para Rato, foturolog dan pemimpin religius dari setiap kabisu terutama yang terlibat dalam pasola.
Sedangkan sebulan sebelum hari H pelaksanaan pasola sudah dimaklumkan bulan pentahiran bagi setiap warga Paraingu dan pada saat pelaksanaan pasola, darah yang tercucur sangat berkhasiat untuk kesuburan tanah dan kesuksesan panenan. Bila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma adat yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola.
Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola. Peristiwa minggatnya janda Rabu Kaba dari Keluarga Waiwuang ke keluarga Kodi dan beralih status dari istri Umbu Dulla menjadi istri Teda Gaiparona bukanlah peristiwa nikmat. Tetapi peristiwa yang sangat menyakitkan dan tamparan telak di muka keluarga Waiwuang dan terutama Umbu Dulla yang punya istri.
Keluarga Waiwuang sudah pasti berang besar dan siap melumat habis keluarga Kodi terutama Teda Gaiparona. Keluarga Kodi sudah menyadari bencana itu. Lalu mencari jalan penyelesaian dengan menjadikan seremoni nyale yang langsung berpautan dengan inti penyembahan kepada arwah leluhur untuk memohon doa restu bagi kesuburan dan sukses panen, sebagai keramaian bersama untuk melupakan kesedihan karena ditinggalkan Rabu Kaba.
Pada tempat ketiga, pasola menjadi perekat jalinan persaudaraan antara dua kelompok yang turut dalam pasola dan bagi masyarakat umum. Permainan jenis apa pun termasuk pasola selalu menjadi sarana sosial ampuh. Apalagi bagi kedua kabisu yang terlibat secara langsung dalam pasola.
Selama pasola berlangsung semua peserta, kelompok pendukung dan penonton diajak untuk tertawa bersama, bergembira bersama dan bersorak-sorai bersama sambil menyaksikan ketangkasan para pemain dan ringkik pekikan gadis-gadis pendukung kubu masing-masing. Karena itu pasola menjadi terminal pengasong keseharian penduduk dan tempat menjalin persahabatan dan persaudaraan.

Sebagai sebuah pentas budaya sudah pasti pasola mempunyai pesona daya tarik yang sangat memukau. Oleh karenanya pemerintah dan seluruh warga masyarakat setempat sangat mendukung untuk menjadikan kegiatan PASOLA sebagai salah satu `mayor event’ yang pantas menjadi kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. (by. Chris parera/web)

TransNusa Berhenti Operasi


SERGAP NTT ->  Penerbangan pesawat TransNusa saat ini dihentikan sementara hingga pekan depan. Penghentian sementara ini ditempuh menyusul adanya proses finalisasi Air Operator Certificate (AOC).

Demikian disampaikan  Business Development Manager PT TransNusa Air Service, Budhy Syahroni Karsidin, kepada Pos Kupang, Kamis (18/8/2011).
Menurut Budhy Karsidin, manajemen PT TransNusa menghentikan operasi pesawat sementara dalam minggu ini, berkaitan dengan proses finalisasi AOC sampai sekarang belum final karena kami masih lakukan beberapa tahapan lagi.
“Saat ini memang tidak ada penerbangan oleh TransNusa. Prosesnya dijadwalkan selesai akhir pekan ini sehingga kemungkinan pekan depan sudah bisa kembali operasi. Ini akibat adanya proses finalisasi AOC,” kata Budhy Karsidin.
Dia menjelaskan, pesawat mereka ada juga yang sedang menjalani masa pemeliharaan atau maintenance dan beberapa armada berhenti sementara saat proses penyelesaian AOC.  
“Kami manajemen mohon maaf kepada semua masyarakat dan pihak yang sebagai pelanggan karena ini bukan disengajakan. Karena itu kita juga minta dukungan seluruh masyarakat agar proses AOC bisa selesai,” kata Budhy Karsidin. (by. Pos kupang)

FOKDIT Buka Puasa Bersama Santri Hidayatullah Baktakte


Sergap NTT -> Ketua FOKDIT (Forum Kepedulian Kaum Dhu’afa Indonesia Timur), Siti Sauda’h Mustafa dalam safari ramadannya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada Minggu (14/8/11) melakukan kegiatan buka puasa bersama di Pondok Pesantren Hidayatullah Baktakte, Kupang. Selain buka puasa, Siti juga memberikan santunan berupa uang kepada 153 santri dan 20 pengasuh Hidayatullah.  

Dalam sambutannya, Siti mengatakan, kehadirannya di Pondok Pesantren Hidayatullah merupakan bentuk kepedulian FOKDIT terhadap para santri, pengsuh, pengurus dan keluarga besar Hiadatullah Kupang.
“Saya tidak punya apa-apa. Saya hanya punya kepedulian. Moga-moga kedepan saya bisa membantu lebih banyak lagi,” ujarnya.
Kepada para santri, Siti mengingatkan agar selalu bekali hidup dengan takwa. Jauhi apa pun yang dilarang Tuhan.
“Untuk itu pendidikan harus menjadi tujuan utama. Sekolah baik-baik. Sebab dengan pendidikan yang mapan, semua kebaikan bisa dicapai,” imbuhnya.
Menurut Siti, para santri Hidayatullah dihuni oleh kaum yatim piatu. Karena itu, sudah semestinya mendapat perlakuan dan perhatian yang lebih, baik oleh orang-orang yang mapan secara ekonomi dan spiritual maupun pemerintah.  
“Di Kupang ini,,, banyak orang kaya. Tapi hanya sedikit yang punya kepedulian. Termasuk para Anggota DPR RI asal NTT. Suatu waktu saya pernah menemui para Anggota DPR RI untuk meminta dukungan mereka terhadap pendidikan dan pemberdayaan ekonomi bagi kaum dhu’afa dan anak yatim di NTT. Namun hanya ibu Anita Gah yang merespon. Lewat partisipasinya pula, sejumlah depertemen akhirnya mengucurkan dana ke NTT. Yang lain,,,? Hm,,,,,” paparnya.
Sementara itu, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustad Usman Mamang mengatakan penghuni pesantren Hidayatullah berjumlah 153 santri yang terdiri dari laki-laki 55 orang dan perempuan 78 orang. Santri kebanyakan berasal dari Alor, So’e, Adonara, Lembata, Solor dan Kupang. Para santri ini juga merupakan siswa-siswi SMP dan SMA Hidayatullah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada ibu Siti yang sudah mau berkunjung ke Pondok Pesantren Hidayatullah. Semoga hubungan baik ini terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” ucapnya.
FOKDIT
Sejak 11 tahun lalu, FOKDIT mencurahkan perhatiannya bagi kaum dhu’afa, pendidikan anak yatim piatu dan masalah kesehatan di wilayah pedalaman dan pesisir di seluruh Indonesia bagian Timur.
Khusus untuk NTT, FOKDIT telah membangun sarana Mandi, Cuci, Kakus (MCK) di Kabupaten Ende dan menyalurkan bantuan Makanan Pengganti Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi warga Kabupaten Manggarai Barat, Ende dan Kupang.
Setidaknya, kehadiran FOKDIT telah banyak membantu pemerintah, terutama dalam upaya meminimalisir angka kiemiskinan, kebodohan, kerusakan lingkungan dan buruknya kesehatan.
Bagi Siti, terjadinya kemiskinan dan kerusakan lingkungan lebih dipicu oleh tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, rendahnya pendapatan per kapita masyarakat, rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), lambatnya perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat, serta buruknya sanitasi lingkungan permukiman.
“Selain memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya kesehatan, kita juga membangun MCK bagi warga miskin di pesisir. Fasilitasi ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara baik demi kesehatan dan lingkungan mereka,” papar Siti.
Kata Siti, program Fokdit merupakan bagian dari upaya mensukseskan program Desa Siaga yang dicetuskan oleh pemerintah Pusat, yakni; menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih dengan cara membantu keluarga miskin di daerah pesisir dan pedalaman yang belum memiliki fasilitas MCK.
Selain di daerah pemukiman warga miskin, sasaran pembangun MCK juga di fokuskan di tempat-tempat umum, seperti di pasar tradisional, terminal, lapangan olahraga, kantor desa, sekolah dan tempat – tempat ibadah. (by.chris parera)

Wujudkan Masyarakat NTT Yang Berkualitas


SERGAP NTT -> Kesungguhan hati pimpinan dan seluruh anggota Dewan, Anggota Komisi, Badan Anggaran Legislasi dan Fraksi dalam mengkritisi Nota Pengantar LKPJ dan Laporan pelaksanaan APBD tahun 2010 dan Rancangan Peraturan Daerah, serta merumuskan beberapa rekomdasi kritis, memicu optimisme pemerintah bahwa dengan dukungan DPRD serta dalam alur relasi dan dialog yang harmonis, humanis dan transparan, pemerintah yakin bisa mewujudkan masyarakat NTT yang berkualitas, sejahtera, adil dan demokratis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal tersebut diungkapkam Gubernur dalam sambutannya pada Penutupan Masa Sidang I Tahun Anggaran 2011 DPRD NTT, Senin (15/8). Sidang dipimpin Ketua DPRD NTT, Drs. I. A. Medah didampingi Wakil Ketua Nelson Matara, S.Ip dan Anselmus Talo, SE dihadiri unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi NTT, Sekda NTT, Fransiskus Salem, SH, M.Si serta sejumlah pimpinan SKPD lingkup Pemerintah Provinsi NTT.
Menurut Lebu Raya, dalam mewujudkan 8 agenda strategis dengan spirit Anggur Merah sebagai lokomotif pembangunan daerah, upaya evaluasi normatif terhadap kinerja pemerintah mesti dilakukan. Salah satu evaluasi politis, kata dia, dilakukan secara periodik yakni melalui diskusi politik antara legislatif dan eksekutif dengan membedah kinerja pemerintah yang terangkum di dalam LKPJ dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD NTT tahun 2010.
Kinerja yang positif kita apresiasi, kita modifikasi lagi simpul-simpulnya untuk ditingkatkan daya dan target capaiannya. Sebaliknya kekurangan, kelemahan ataupun berbagai kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan APBD 2010, perlu kita cermati, kita bedah dan diskusikan bersama untuk menemukan simpul penyebabnya dan menyepakati jalan keluar atau setidaknya, menjadi in put bagi perbaikan dan pembenahan kinerja pemerintah di masa depan,” paparnya.
Dalam perspektif perbaikan, lanjut Gubernur, peningkatan kinerja pemerintahan dan perubahan manfaat implementasi APBD kepada masyarakat, pemerintah menyampaikan terima kasih kepada Pimpinan dan seluruh Anggota Dewan, anggota Komisi, Badan Anggaran, Badan Legislasi dan Fraksi yang telah memberikan dirinya, mengerahkan semua yang dimiliki dan dengan hati yang ikhlas, berdaya upaya untuk mencermati dan menelaah materi Nota Pengantar LKPJ dan laporan pelaksanaan APBD tahun 2010 serta dua Ranperda yang disampaikan pemerintah. “Rekomendasi Dewanyang terhormat menjadi rambu-rambu bagi pemerintah dalam pelaksanaan APBD tahun 2011 maupun penyusunan APBD tahun 2012, sehingga struktur APBD NTT ke depan menjadi semakin efisien, membumi dan pro rakyat,” tandas Gubernur.
Sementara itu Ketua DPRD NTT, Drs, I. A. Medah meminta kepada pemerintah untuk taat asaz dan taat hukum dalam melaksanakan berbagai keputusan yang telah dihasilkan bersama antara legislatif dan eksekutif.

“Beberapa keputusan yang dihasilkan Dewan merupakan sinergi komitmen antara legislatif dan eksekutif untuk meningkatkan kinerja dan semangat pengabdian  bagi bangsa dan masyarakat,” ujar Medah dan menambahkan, “Saya minta pemerintah untu taat asaz dan taat hukum dalam melaksanakan keputusan-keputusan tersebut.” (by.ferry guru)