Kasus Selingkuh Anggota DPRD NTT Tidak Diproses


sergapntt.com [LABUAN BAJO] – Penyelidikan kasus selingkuh dengan tertuduh Anggota DPRD NTT asal Partai Golkar, Charles Lalung yang keperkog sedang bermesum ria bersama istri orang bernama Cesilia Yeni Kabut di kamar No.11, Hotel Gardena Labuan Bajo pada (12/2/2011) terkesan tidak dirpses oleh polisi maupun Badan Kehormatan (BK) DPRD NTT. Padahal kasus yang melibatkan istri Rizaldus Magul tersebut telah ditangani Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat dan telah diketahui BK DPRD NTT sejak beberapa bulan lalu. Polisi berdalih, penyidik harus melengkapi sejumlah materi sesuai petunjuk agar dapat memanggil dan memeriksa Charles Lalung.

Kapolres Mabar, AKBP H.Samsuri hanya menjelaskan, pihaknya saat ini masih berusaha melengkapi sejumlah materi dan dalam Berita Acara Penyelidikan (BAP) sebagaimana petunjuk Mabes.
“Kita masih lengkapi sejumlah petunjuk seperti yang diarahkan Mabes Polri,”katanya.
Sayangnya, petunjuk seperti apa yang diarahkan Mabes Polri tidak dijelaskan secara rinci oleh Samsuri. Dia beralasan ini untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut sehingga dirinya tidak bisa membeberkan satu-persatu tentang petunjuk dimaksud.
Kasus selingkuh tersebut terbongkar setelah Rizaldus Magul mendapati istrinya sedang berduaan di dalam kamar bersama Charles Lalung. Ironisnya, proses kasus ini boleh dibilang jalan di tempat. Padahal sejumlah saksi sudah dimintai keterangan, termasuk pemilik Hotel Gardena.
Berhembus kabar kalau polisi takut memeriksa Charles Lalung. Selain sedang memangku jabatan sebagai Anggota Dewan, Charles Lalung juga digosipkan punya baking di Mabes Polri. Itulah sebabnya, statusnya masih aman. Jangankan tersangka, terperiksa pun belum menyentuh ‘serdadu’ Partai Golkar tersebut.
Tidak hanya polisi, BK DPRD NTT juga adem-adem saja. Padahal dalam kunjungan kerja ke Labuan Bajo dalam kaitan dengan kegiatan pelatihan dan bimbingan, BK yang dipimpin Wilem Nope dikhabarkan sempat menjambangi Polres Mabar maupun Hotel Gardena untuk menggali informasi terkait kasus yang dilakukan Charles Lalung ini. Toh hasilnya tidak kelihatan. Kalayak NTT memprediksi kasus ini akan hilang. Beda jika kasus yang dibuat oleh kaum marginal, pasti langsung diciduk, disidangkan lalu dipenjarakan. Hm,,,,!
Sementara itu Charles Lalung membantah telah berselingkuh dengan Cesilia Yeni Kabut sebagaimana diadukan Rizaldus Magul, suami Yeni ke Polres Manggarai Barat.
Pengakuan Charles Lalung ini disampaikan saat diperiksa BK DPRD NTT, kemarin. Ketua BK DPRD NTT, Wilem Nope yang ditemui Senin (7/3/2011), mengatakan, pihaknya telah meminta klarifikasi kepada Charles soal dugaan perselingkuhan itu. Kepada BK, kata Nope, Charles membatah telah berselingkuh dengan istri Rizaldus Magul tersebut. Saat digerebek, Charles hanya duduk bercerita, tidak melakukan perbuatan tercela sebagaimana dilaporkan kepada polisi.
Soal benar atau tidak, kata Nope, itu  haknya Charles. BK tetap menghormati hasil klarifikasi itu. Namun BK akan mengundang Rizaldus Magul, suami dari Yeni Kabut. Bahkan Yeni Kabut sendiri untuk didengar keterangan sehingga seimbang. BK juga akan koordinasi dengan pihak kepolisian  Manggarai Barat soal kebenaran kasus itu.
“Kami ini polisi internal  DPRD NTT. Tapi perlu koordinasi dengan kepolisian yang menangani kasus itu agar jelas persoalannya. Hasil pemeriksaan oleh BK hanya untuk kepentingan kode etik dan tata tertib DPRD NTT, sedangkan pemeriksaan di kepolisian untuk kepentingan proses hukum,” kata Nope. (by. hans/kor/pk)

Membangunkan Raksasa Yang Tertidur Pulas


sergapntt.com – Berbicara potensi pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ingatan orang pasti tertuju kepada Pulau Komodo dengan satwa endemiknya biawak komodo (Varanus komodoensis Ouwens). Reptilia raksasa yang dalam bahasa setempat disebut ora ini memang sudah jadi ikon pariwisata Manggarai Barat, bahkan NTT secara umum. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila ada yang mengklaim bahwa perjalanan wisata ke NTT belum lengkap jika tidak menjejak pulau tandus yang dikelilingi bentangan laut biru berarus garang. Begitu langka dan melengendanya biawak komodo itu sehingga satwa yang hanya hidup bebas di hamparan padang sabana nan gersang Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Gilimotang ini mendapat julukan mentereng Warisan Alam Dunia yang wajib dilestarikan.

Meskipun hampir seluruh pengelola kebun binatang ternama di belahan dunia berlomba-lomba melengkapi koleksinya dengan raksasa yang dinyakini hidup sejak zaman pleistosin ini sebagai magnet untuk mendongkrak angka kunjungan ke kebun binatangnya, namun eksotisme komodo yang hidup di habitat alaminya ini jelas tak mungkin tertandingi. Apabila wisatawan beruntung, mereka akan bisa melihat langsung betapa agresifnya satwa ini menangkap mangsanya seperti rusa, babi hutan, kerbau dan kuda liar, mecabik-cabik daging dengan gigi-giginya yang setajam belati lantas menyantapnya hingga tandas. Bukan hanya kegarangan yang bisa direkam wisatawan dari sosok satwa yang seringkali diidentikkan dengan naga yang hidup dalam mitologi-mitologi kuno. Gerakan komodo yang ritmis saat menjelajah hamparan padang sabana dan hutan juga menjanjikan daya pukau yang luar biasa.
Ada kesan denyut kehidupan pariwisata Manggarai Barat sangat tergantung dari keberadaan satwa komodo ini. Padahal, potensi wisata yang dimiliki daerah yang baru sekitar satu setengah tahun ditetapkan sebagai kabupaten tersendiri (pemekaran Kabupaten Manggarai-red) ini sangat luar biasa. Berdasarkan data yang dipaparkan Kepala Bappeda Manggarai Barat Rafael Harhad kepada rombongan pengusaha travel agent yang dipimpin Commercial Ditertor Germania Trisila (GT) Air (maskapai penerbangan yang melayani rute Denpasar-Labuan Bajo pp-red) Jhon Lantang, kabupaten yang berlokasi di ujung barat Pulau Flores ini memiliki puluhan objek wisata dan atraksi wisata menarik. Sayang, keterbatasan kemampuan keuangan daerah memaksa objek dan atraksi wisata itu masih “menggigil kedinginan” menanti kehadiran wisatawan. Padahal, dengan sedikit saja polesan “gincu pariwisata,” potensi-potensi yang ada itu sejatinya sangat layak dijual kepada wisatawan mancanegara maupun domestik. Realitasnya memang seperti itu. Objek dan atraksi wisata itu belum sepenuhnya bisa dijual kepada turis.
“Objek wisata yang secara rutin dikunjungi wisatawan baru sebatas Pulau Komodo dan Pulau Rinca dengan wisata komodonya,” kata Rafael Harhad bernada pasrah.
Puluhan objek dan atraksi wisata itu tersebar merata di empat kecamatan yang ada di Kabupaten Manggarai Barat. Perbendaharaan objek wisata terkaya berada di Kecamatan Komodo yang juga merupakan jantung Manggarai Barat dengan pusat kotanya di Labuan Bajo. Mayoritas dari objek wisata itu mengandalkan panorama alam yang eksotik, bentang laut dengan hamparan pasir putih yang bersih, keindahan alam bawah laut yang memukau dengan spesies terumbu karang dan ikan hiasnya, goa alam, air terjun hingga danau berkadar belereng.
Barisan panjang aset wisata Manggarai Barat itu makin disempurnakan dengan keberadaan fosil-fosil kayu yang membatu yang bisa ditemukan di sejumlah desa di Kecamatan Warloka serta bangunan benteng-benteng perang yang bisa dijumpai di sejumlah desa di Kecamatan Lembor. Manggarai Barat juga sangat tepat dikunjungi oleh para wisatawan pecinta burung.
“Di sini bisa dijumpai ratusan spesies burung di mana beberapa jenis di antaranya bersifat endemik atau hanya bisa ditemukan di Pulau Flores saja,” ucap Harhad berpromosi.
Dari deretan panjang potensi wisata itu, kata dia, ternyata hanya segelintir saja yang sudah terekspos ke permukaan seperti Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Juga Pantai Merah dengan bentang pantainya yang berpasir merah dan taman lautnya serta pantai Lasa dan Pulau Bidadari yang juga mengandalkan keindahan taman lautnya. Sementara keberadaan objek-objek wisata lainnya nyaris tak terdengar alias tidak banyak dijamah oleh wisatawan mancanegara maupun domestik. Dengan kata lain, Pemkab Manggarai Barat dan masyarakat setempat belum mampu menangguk berkah pariwisata itu secara optimal. Pendek kata, gemerincing dolar yang dibelanjakan wisatawan di kabupaten yang baru menata pusat pemerintahannya ini memang sangat jauh dari kesan riuh. Bahkan, bisa disebut sunyi senyap.
Ini tantangan besar bagi Pemkab Manggarai Barat untuk memperkenalkan objek-objek wisata itu kepada para pelaku pariwisata seperti pengusaha travel agent dan guide yang masih mau menyempatkan diri ke sini untuk membawa tamunya.
“Kami memang menyimpan mimpi suatu saat Manggarai Barat bisa seperti Bali. Paling tidak, wisatawan mancanegara jadi tahu bahwa selain Bali masih ada sorga lain di Indonesia. Dan, sorga itu adalah Manggarai Barat,” imbuh Harhad dengan tatapan menerawang.
Menjelajah Perut Bumi
Penjelasan Kepala Bappeda Manggarai Barat Rafael Harhad itu jelas bukan propaganda pariwisata bohong belaka. Redaksi FTB yang ikut bergabung ke dalam rombongan Educational Tour ke Labuan Bajo yang difasilitasi pihak GT Air itu sempat terbengong-bengong menikmati keindahan perut bumi Batu Cermin. Goa alam yang jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari pusat ibu kota Labuan Bajo ini ternyata menyimpan keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Di dalam goa sepanjang sekitar 200 meter yang memiliki banyak lorong itu, dipenuhi dengan aneka rupa stalagtit dan stalagmit yang masih terpelihara dengan baik.
Daya pukau lain dari goa alam ini, di sejumlah bagian goa menempel fosil terumbu karang dan satwa penyu yang telah membatu yang menandakan bahwa goa ini merupakan bagian palung laut pada zaman lampau. Sedangkan penamaan Batu Cermin itu sendiri, barangkali diambil dari keberadaan sejumlah stalaktit dan staglamit yang memancarkan sinar berkilauan bak kristal jika tertimpa lampu senter.
“Sungguh indah sekali. Karena banyak batu-batuan di sini memantulkan sinar berkilauan, maka goa ini dinamai Batu Cermin. Penamaan yang sangat praktis,” ujar pemandu wisata Gabriel Bambo yang memandu kami menjelajah perut bumi itu.
Ternyata, kecantikan Batu Cermin yang sangat luar biasa itu belum mendatangkan kontribusi apa-apa bagi Pemkab Manggarai Barat maupun warga di sekitarnya. Pasalnya, pemerintah setempat belum memungut retribusi alias objek wisata ini masih bisa dinikmati secara cuma-cuma oleh para wisatawan. Andai saja goa seperti ini ada di Bali, berapa dolar yang akan mengalir deras ke kantong pemkab setiap harinya.
“Seumur-umur, saya belum pernah melihat goa alam seindah ini,” kata salah seorang pengusaha travel agent dari Bali yang ikut rombongan Educational Tour itu. Sebuah pernyataan yang murni lahir dari rasa kekaguman yang sangat.
Ternyata, Batu Cermin bukan satu-satunya goa alam mempesona yang dimiliki Manggarai Barat. Di luar itu, masih ada goa alam Batu Susun, Liang Dara dan Liang Rodak yang semuanya berlokasi di Kecamatan Komodo. Serupa dengan Batu Cermin, pesona keempat goa alam itu dijamin mampu menaut hati para wisatawan yang maniak menjelajah kedalaman perut bumi.
“Karena keterbatasan struktur-infrastruktur, khususnya akses jalan menuju objek wisata itu, potensi wisata yang kami miliki seolah-olah masih tertidur pulas. Jangankan dikunjungi wisatawan, nama objek itu saja belum sampai ke telinga mereka. Manggarai Barat memang bukan Bali yang begitu pesat perkembangan sektor kepariwisataannya,” kata Gabriel Bambo dengan nada getir.
Salah satu potensi wisata Manggarai Barat yang juga layak dikedepankan adalah Danau Sano Nggoang yang berlokasi di Kecamatan Sano Nggoang. Danau yang tercipta akibat letusan gunung berapi ini (danau vulkanik-red) memiliki kadar belerang yang tinggi. Di sini, juga terdapat sumber air panas yang menurut versi Kepala Bappeda Rafael Harhad suhunya mencapai lebih dari 60 derajat Celcius. Makanya, masyarakat setempat biasa memanfaatkan sumber air itu merebus telur.
Di samping memiliki panorama alam yang sangat indah, di tengah danau ini juga menyembul daratan yang tidak kalah indahnya dengan Pulau Samosir di Danau Toba. Kelebihan lainnya, kawasan danau ini juga dihuni berbagai jenis burung di mana beberapa di antaranya merupakan jenis burung migran dari Benua Australia. Sayang, perlu perjuangan berat bagi wisatawan untuk menikmati keindahan Dana Sano Nggoang itu. Jalan akses menuju danau itu boleh dibilang sangat jauh dari kesan layak karena tidak bisa dijelajahi kendaraan umum biasa. “Kami memang sangat miskin infrastruktur. Ini kendala terberat kami dalam membangun sektor kepariwisataan di sini,” kata Rafael Harhad jujur. (by. kons)

Mekarkan Kecamatan ATU!


sergapntt.com [KALABAHI] — Merasa pelayanan pemerintahan kurang maksimal, tokoh masyarakat Mainang, Kecamatan Alor Tengah Utara (ATU), meminta agar pemerintah segera memekarkan kecamatan di wilayah itu.
Permintaan ini dikemukakan tokoh masyarakat  Mainang masing-masing, Pdt Lazarus Fanleni, Stefanus Maata, Nikolaus Nono, Mateus Lakama dan Kepala Desa Welai Selatan Imanuel Manilehi dalam dialog dengan Calon Bupati Alor dari Partai Golkar, Drs. Immanuel E. Blegur, M.Si di Mainang, dua pekan lalu.
Menurut Pdt. Fanleni, empat desa di daerah Mainang yakni Desa Manetwati, Desa Tominuku, Desa Welai Selatan dan Desa Fuisama sudah pantas berdiri sendiri sebagai sebuah kecamatan. ”Kalau Pureman yang hanya empat desa saja bisa jadi kecamatan, mengapa empat desa di Mainang tidak bisa jadi kecamatan,” tandas Fanleni yang diamini Stefanus Maata, Nikolaus Nono, Mateus Lakama dan Kepala Desa Welai Selatan Imanuel Manilehi.
Fanleni menegaskan, daerah potensial seperti Mainang penghasil wortel, kopi, Vanili, lemon dan tanaman holtkultural dan palawija lainnya harus memiliki wilayah pemerintahan kecamatan tersendiri. ”Kami sama sekali tidak punya maksud untuk memisahkan diri dengan masyarakat ATU lainnya, tetapi untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, maka sudah saatnya empat desa di Mainang dapat dimekarkan menjadi kecamatan baru. 
Dia mengaku daerah ini belum disentuh PLTS, menara telkomsel sama seperti kecamatan lainnya di Kabupaten Alor karena tidak ada yang memperjuangkannya. Kalau punya kecamatan sendiri kan sudah ada kemudahan untuk memperjuangkannya. Dalam kaitannya dengan pemilihan kepala daerah secara langsung di Kabupaten Alor tahun ini, demikian Fanleni,  daerah ini membutuhkan pemimpin yang memiliki hati nurani seperti Ans Takalapeta. ”Persyaratan ini hanya ada pada Pak Imma. Alor butuh pemimpin yang tidak menggunakan jabatan untuk mengumpulkan uang. Kalau Pak Imma sudah hidup enak di Jakarta tetapi kemudian hendak pulang kampung, maka yang Imma cari bukan uang tetapi Imma pulang kampung untuk membangun kampung,” kata Fanleni.
Menurut Fanleni, tantangan daerah ini di tahun-tahun mendatang amat sangat berat. ”Karena itu kita membutuhkan sosok Imma Blegur yang memiliki pengalaman mendatangkan uang membangun daerah selama menjadi anggota DPR RI lima tahun lalu,” katanya.
I ajuga mengingatkan Imma agar kalau dapat kesempatan menjadi pemimpin maka jangan lupa masyarakat Mainang dan tolong masyarakat Mainang untuk mendekatkan pelayanan. ”Kami berdoa mendukung Bapa Imma,” ujarnya.  Alasan memekarkan diri dari induk semangnya di ATU ini lebih disebabkan karena masyarakat empat desa di Mainang ini bertarung nyawa menuju Ibukota Kecamatan ATU di Mebung hanya untuk pelayanan KTP dan urusan kependudukan lainnya.  
Kepala Desa Welai Selatan, Imanuel Manilehi mengatakan, kalau kondisi empat desa di Mainang termasuk di Welai Selatan seperti begini maka ini juga bukti hidup kalau belum ada yang memberikan perhatian. 
Immanuel E. Blegur, pada kesempatan itu mengaku mengunjungi Maninang karena mendengar kabar bahwa ada masyarakat yang menderita sakit. Selain melayani masyarakat, kata Imma, kehadirannya di Mainang juga bermaksud memperkenalkan diri kepada masyarakat sekaligus meminta nasehat orang-orang tua di wilayah ini atas kesiapannya mengikuti pemilihan kepala daerah di Kabupaten Alor tahun ini. ”Saya harus datang kasih tahu bapa, mama, pemuda dan masyarakat umum di Mainang karena ibarat berburuh, yang mengetahui tempat babi berlindung dan rusa melintas itu hanya diketahui oleh masyarakat di wilayah ini. Karena itu masyarakat di wilayah ini harus menyiapkan busur anak panah yang bagus, juga anjing yang galak sehingga mendapatkan hasil perburuhan yang maksimal,” katanya beranalogi.
Ia mengatakan, kalau masyarakat di Mainang yang tahu tempat tidur babi dan tempat rusa melintas maka ia juga tahu tempat-tempat rusa dan babi di Jakarta. ”Kalau mau bangun jalan dan jembatan itu saya sudah tahu harus minta dimana, mau bangun sekolah, dermaga dan Puskesmas itu saya sudah tahu harus minta dimana,” katanya.
Ia menambahkan, ia sudah siap memikul salib pelayanan ini tergantung masyarakat di Mainang rela memberikan salib untuk dipikulnya atau tidak.  Menurut Imma, karena DAU itu sebagian besar digunakan untuk membayar gaji pegawai maka ia bersedia memikul salib untuk mencari sumber-sumber dana di luar DAU, baik dari dalam maupun dari luar negeri untuk membangun masyarakat Alor yang lebih maju dari saat ini.  (by. moris weni/rudy tokan)

Koreng Mewabah di Kepala Burung


sergapntt.com [ALOR] – Masyarakat di Kabupaten Kenari, Alor, khususnya di wilayah Kepala Burung, Kecamatan Kabola, sedang dirundung resah. Pasalnya. Penyakit koreng sudah mewabah di hampir seluruh wilayah itu. Dinas Kesehatan Kabupaten Alor dikabarkan sudah tak mampu mengatasi penyakit kulit yang satu ini. 
Beberapa wilayah di Kepala Burung, Kecamatan Kabola seperti Tabolang, Lawahing, Bu’uta, Kopidil, Alila Selatan terserang wabah penyakit kulit (koreng). Sudah hampir satu tahun  warga di wilayah itu terserang penyakit kulit yang paling gatal ini.
Sejumlah tokoh masyarakat Kepala Burung seperti Agus Awola, Immanuel Hanamouw, Nahum Awola, Markus Tang, Lukas Awola, Andreas A. Tallo dan Amos Akoil kepada Vista pekan lalu, di Kopidil membenarkan bahwa sudah hampir satu tahun warga masyarakat di wilaya kepala burung seperti  Tabolang, Lawahing, Bu’uta, Kopidil, Alila Selatan terserang penyakit kulit atau koreng.  
Menurut Agus Awola, masyarakat semua jenis usia, baik tua-muda bahkan yang masih balita sekalipun juga terserang penyakit koreng. ”Kalau adik tidak percaya, lihat saja itu anak-anak dan orang-orang tua yang datang,”   kata Agus Awola sambil mengarahkan telunjuk pada rombongan masyarakat yang antri mengikuti pengobatan massal secara gratis yang difasilitasi Calon Bupati Alor dari Partai Golkar, Drs. Immanuel E. Blegur, Msi, pekan silam.  
Dia mengaku, penyakit koreng yang menyerang warga ini sudah hampir berlangsung selama satu tahun. Sebenarnya, demikian Agus Awola,  penyakit ini tidak separah seperti yang terjadi saat ini, tetapi karena instansi teknis yang menangani wabah dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten Alor lamban mengambil tindakan medis sehingga penyakit ini menjadi parah seperti yang ada saat ini.  
Jenis koreng yang menyerang warga Kepala Burung, kata Agus Awola yang diamini warga lainnya, antara lain koreng dengan biji halus dan ada yang biji besar dan bernanak. Dinas Kesehatan Alor, menurut Agus Awola, sudah terlalu telat mengambil tindakan medis setelah wabah penyakit koreng ini menyerang warga beberapa bulan. ”Dinas Kesehatan baru melakukan pengobatan Februari baru-baru ini. Sementara koreng sudah menyerang warga pertengahan tahun 2007. Bagaimana mau basmi. Ini karena lambat atasi sehingga koreng mewabah. Penyakit sudah parah baru datang berobat,” kata Agus Awola.
Tokoh masyarakat Kepala Burung lainnya, Markus Tang, menambahkan, mewabahnya penyakit koreng hampir ke semua tingkatan usia masyarakat di Kepala Burung ini disebabkan karena kelalaian Puskesmas Lawahing. Artinya, sudah tahu bahwa ada penyakit koreng di wilayah pelayanananya tetapi tidak segera memberikan laporan kepada Dinas Kesehatan untuk diambil tindakan medis.  Sejak pertengahan 2007 hingga sekarang penyakit koreng ini masih menyerang warga, tidak kenal usia, baik balita hingga orang dewasa. Dinas Kesehatan sudah melakukan pengobatan tetapi paling bertahan hanya satu hingga dua hari. Setelah itu kambuh lagi.  
Menurutnya, penyakit koreng ini menyerang hampir di seluruh bagian tubuh terutama di sela-sela jari kaki dan jari tangan dan bagian tubuh tertutup lainnya.  Bahkan, bayi yang baru lahir sekalipun terserang koreng. ”Kasihan sekali kami warga masyarakat di Kepala Burung ini,” katanya.  Menurutnya, ada warga masyarakat yang begitu bangun pagi sela-sela jari kaki dan tangan sudah penuh dengan biji koreng bernanak.  
Bakal calon Bupati Alor periode 2009-2014 dari Partai Golkar, Immanuel E. Blegur pada kesempatan pengobatan gratis itu mengatakan, salah satu tujuan dirinya mengunjungi wilayah kepala burung termasuk Kopidil seperti saat ini karena mendengar laporan bahwa warga masyarakat di wilayah ini terserang wabah koreng dan penyakit lainnya pada musim penghujan seperti ini.  Maksud lain dari kunjungan di Kopidil itu antara lain meminta masukan, nasehat dari orang-orang tua dan komponen masyarakat strategis lainnya untuk dijadikan landasan penyusunan visi-misi sebagai salah satu bakal calon bupati Alor.  
Dengan mengunjungi daerah pedalaman seperti ini, pihaknya bisa mengidentifikasi masalah apa yang paling sering terjadi dan dirasakan masyarakat. Dengan begitu, jika kelak terpilih, maka yang ada dalam benaknya itu hanyalah kesulitan yang dihadapi masyarakat di daerah pedalaman begitu ia ke Jakarta.  ”Saya bertekad mencapai semua desa di Alor sehingga jika Tuhan perkenankan saya memimpin Alor maka yang ada dalam benak saya itu hanyalah kesulitan dan penderitaan rakyat yang ada di desa-desa,” katanya.  
Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Alor, Drs. Nus Turwewi ketika dikonfirmasi melalui ponselnya mengaku, sudah melakukan penanganan terhadap jenis penyakit kulit yang menyerang warga di beberapa wilayah di Kepala Burung. Menurut Turwewi, penyebab utama terjadi wabah penyakit kulit itu karena kebiasaan masyarakat yang mandi secara bebas di salah satu sungai yang dari sisi medis tidak layak.  Jadi, ”Sama saja kita berobat hari ini tetapi kemudian mereka mandi di sungai itu lagi ya … nanti kena koreng lagi,” katanya.
Menanggapi mewabahnya penyakit koreng di beberapa wilayah Alor itu, seorang tokoh pemuda Alor keturunan China,  Stanly Goandis mengaku sangat menyayangkan kinerja Dinas Kesehatan Alor yang lamban mengatasi penyakit koreng tersebut. ”Dinas Kesehatan itu kan difasilitasi dengan berbagai sarana kesehatan. Misalnya ambulans yang dilengkapi dengan peralatan medis tetapi kerjanya hanya taputar di Kota Kalabahi. Akibatnya banyak warga terserang penyakit,”  tandas Goandis. Dia mengaku ibah dengan kondisi kesehatan yang dialami sebagian warga di daerah ini karena dalam waktu bersamaan mereka terserang wabah tetapi mobil-mobil ambulans yang ada Dinas Kesehatan mondar-mandir di Kota layaknya mobil pribadi staf Dinkes.  (by. rudy tokan)

Kisah Tragis Gadis-Gadis Belia di Rumah Bordil


sergapntt.com [Himalaya] -> Setiap tahun, ribuan gadis belia dijual ke dalam jaringan pelacuran di kota-kota besar di seluruh dunia।Gadis 13 tahun itu, Laksmi, hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang dunia di luar gubuk keluarganya di desa Pegunungan Himalaya. Dan ketika musim muson merampas sedikit harta milik keluarganya, Lakshmi menyambar kesempatan pertama untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota agar dia dapat mengirim uang ke rumah. Dia tak tahu kalau ayah tirinya ternyata telah menjualnya kepada dunia pelacuran. Lakshmi terdampar di sebuah bordil jauh melintasi perbatasan, di daerah kumuh Kalkutta, disekap, dipukuli, dibiarkan kelaparan, dibius, diperkosa, “koyak dan berlumur darah…

Saat seorang anak lelaki, yang bertugas mengurusi keperluan para PSK serta pelanggannya, mulai mengajari Lakshmi membaca, si gadis merasa bagai hidup kembali, mengingat kembali seperti apa rasanya menjadi anak terpandai di kelas. Dan perlahan-lahan Lakhsmi berhasil bersahabat dengan gadis-gadis lain di situ, yang membuatnya dapat tetap bertahan di dalam dunia menyeramkan ini.
Lantas tibalah hari itu, hari di mana dia harus mengambil keputusan—akankah ia mengorbankan segalanya untuk mendapatkan kembali hidupnya?

***

“Sangat mengena…mengharukan. Penulis berhasil menyelaraskan kerasnya kehidupan di sebuah bordil dengan persahabatan yang mengharukan di antara para penghuninya.”
–Publishers Weekly
“Sebuah rekaman tak terlupakan tentang perbudakan seks sebagaimana adanya saat ini.”
–Booklist
“Kepada para pembacanya, yang hidup tenang nyaman dan terlindung dalam payung hukum, McCormick membukakan sebuah jendela yang menyajikan pemandangan pada dunia yang keras dan kejam—dunia yang kebanyakan orang memilih untuk menutup mata terhadap keberadaannya.”
–Kirkus Reviews
“Mengharukan…Riset yang dilakukan McCormick untuk novel ini termasuk mewawancarai wanita-wanita di Nepal dan India. Kedalaman detail dalam penuturan McCormick membuat semua karakter tokoh dalam bukunya begitu hidup, terpercaya, dan penderitaan mereka terlukis dengan jelas. Buku yang penting ini ditulis untuk menghormati wanita-wanita ini.”
–School Library Journal (*)