Gemerlap Dancing Hall Bangkitkan Gairah Laki-laki


Sekelompok warga Kota Kupang tampak duduk enjoi dipojok lantai disko Dancing Hall (DH), Flobamor Mall Kupang. Lengkingan house music terdengar keras membisingkan teling, minuman keras seakan menjadi teman setia sembari mata terpana menatap tarian seronok yang disuguhkan sejumlah penari yang hanya mengenakan pakaian bikini ala kadarnya.  Tubuh yang meliuk-liuk terus beraksi seakan ingin membangkitkan gairah biologis kaum laki-laki.
Keglamoran hidup para pencinta hiburan malam di Kota Kupang boleh dibilang semakin gila. Kelompok sosial yang satu ini berasal dari semua strata, tidak terkecuali para pejabat eksekutif maupun legislatif.
Suatu malam di akhir pekan lalu, penulis mencoba menelusuri aktivitas DH. Alamak…! Dengan modal “saribu sah” pengunjung sudah bisa berdekat-dekatan dengan si penari. Asalkan uang itu disisipkan dibalik BH atau celana yang dipakai si penari.
Bagi pengunjung baru, andrenalinnya pasti terpacu saat penari menyajikan gerakan hotnya. Belum lagi jika turut tergoda melahap minuman keras yang on line dijual. Diantara dentuman musik, sesekali terdengar gemerincing minuman keras yang sedang diramu para bar tender. Alhasil goyangan hot yang dipadu pengaruh alkohol terkadang membuat sebagian pengunjung DH menjadi nekad. Namun dari sekian banyak, ada juga pengunjung yang datang ke DH hanya sekedar untuk melototi paras dan tubuh mulus para penari. Perasaan malu dan dosa seakan tak pernah ada dalam benak mereka. 
Oh yang pembaca, penulis juga sempat kesulitan menemukan lokasi DH. Ceritanya begini! Awalnya penulis hanya mendengar cerita teman-teman kalau lokasi DH berada di areal Flobamor Mall. Bermodalkan informasi ini, penulis lantas mendatangi Flobamor Mall. Usut punya usut, ternyata arena disko DH berada persis dibagian belakang Flobamor Mall.
Dari kejauhan, tampak di depan pintu masuk diskotik berdiri beberapa petugas keamanan berseragam biru-biru.  Sesekali terlihat mereka menyodorkan secarik kertas kepada para pengunjung yang ingin masuk. Ternyata itu adalah karcis atau tiket masuk ke lantai disko. Hal yang sama berlaku juga bagi penulis. Kepada penulis sang pengaman meminta Rp. 20 ribu. Sebagai bonusnya penulis diberi sebotol minuman penyegar. Singkat kata penulis pun langgeng memasuki  arena pertunjukan hot.
Saat pertama kali memasuki lantai danca, penulis langsung disambut lantunan musik disko. Dibagian barat, diatas panggung, tampak sekelompok perempuan cantik dan seksi sedang meliuk-liukan tubuh mereka sambil mengikuti irama musik. Dibagian timur kaum pria duduk secara berkelompok sembari menikmati minuman alkohol. Sesekali terlihat wanita-wanita cantik mondar-mandir menebar pesona agar menarik minat para lelaki hidung belang.
Dibagian lain tampak disc joky (dJ) memainkan piringan hitam. Lampu ruangan yang sengaja dibuat remang-remang nyaris membuat pengunjung tak saling kenal. Hiruk pikuk diskotik terasa memacu jantung. Belum lagi sejumlah perempuan lokal yang ikut nimbrung di arena danca sesekali terlihat melekatkan tubuh mereka dibelahan dada teman kencannya. Intrik-intrik vulgar dilakoni tanpa rasa malu. Adegan demi adegan yang membangkitkan birahi diperagakan tanpa peduli dengan orang sekitar.
Sejumlah pria mengaku, tiap malam, jumlah pengunjung DH berkisar antara 50 sampai 200 orang. 40 persen diantaranya adalah kaum wanita lokal. Namun tidak sedikit juga ABG-ABG Kota Kupang yang datang secara berpasangan.
Tepat pukul 23.30 Wita, dari balik pintu arena disko, tampak keluar sejumlah penari yang hanya mengenakan BH dan celana yang digunting menyerupai celana dalam. Lekukan tubuh mereka terlihat jelas. Indah memang. Tapi tidak sedeikit juga kaum pria yang tergoda ingin merekuh kenikmatan tubuh mulus para penari.
Sesaat kemudian para penari mulai menyuguhkan tarian erotis. Sesekali mereka rebahkan tubuh ke panggung, kedua kakinya dibuka lebar hingga bagian selangkangan terlihat memikat. Terkadang bokong sengaja di tonjolkan sembari melempar senyum seakan mengundang pengunjung untuk menerawang imajinasi seks. Lebih edan lagi, para pengunjung diperbolehkan menyentuh bagian-bagian terlarang asalkan sembari memasukan uang, berapa pun jumlahnya. “Seribu sa ju bisa bu…”, ujar salah seorang pengunjung.  Untungan-untungan jika penari menerima “sumbangan” sebesar Rp. 5 ribu hingga Rp.50 ribu. Sementara kaum wanita lokal terlihat bersungut-sungut ketika melihat pria lokal menghamburkan uang hanya sekedar untuk menyentuh bagian vital si penari. Astaga! (Catatan : Ruddy Tokan)

Ny, J. Ati, Si Pendoa Yang Tega Menipu Para Pencari Kerja


sergapntt.com [KUPANG] – Terkadang orang menghalalkan segala cara demi menggapai kenikmatan duniawi. Tidak terkecuali dengan Ny. J. Ati. Hanya karena ingin memiliki uang dalam jumlah banyak, warga Jl. Nangka, Kota Kupang yang mengaku sehari-hari berprofesi sebagai pendoa itu  tega menipu puluhan pencari kerja asal Kabupaten Ngada dan Nagekeo yang berdomisili di Kupang. Para pencari kerja ini dijanjikan akan dipekerjakan di Bank NTT atau Pertamina Cabang Kupang. Hanya saja tiap orang diharuskan terlebih dahulu membayar uang pelicin sebesar Rp 8 juta. Hasilnya, dalam seminggu Ny. J. Ati berhasil meraup uang ratusan juta rupiah.
Aksi penipuan tersebut terungkap tatkala 29 Mei 2007 lalu, sekitar pukul 16.00 WITA, Tim WRC Sergap NTT memergoki Ny. J. Ati sedang bertransasksi dengan puluhan pencari kerja asal Ngada dan Nagekeo di kediaman Sipri Radho —salah seorang dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang asal Nagekeo— di Kampung Nasipanaf, Kecamatan Penfui Timur, Kabupaten Kupang. 
Kepada Sergap NTT, Ny. J. Ati mengatakan, para jebolan SMA dan Sarjana yang telah membayar uang pelicin sebesar Rp 8 juta itu akan dipekerjakan di Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang. 
“Mereka akan saya kasi masuk di Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang. Saya jamin itu. Setiap orang bayar Rp 8 juta. Itu untuk uang pelicin. Saya tidak mencari untung dari ini semua. Saya hanya mau membantu mereka yang belum punya pekerjaan. Untuk yang ke Bank NTT, mereka akan dipanggil tanggl 16 Juni 2007. Sedangkan yang ke Pertamina mereka akan dipanggil awal Juli 2007 ini,” ujar Ny. J. Ati
Menurut dia, aksi penipuan ini bukan yang pertama. Kegiatan tersebut sudah sering ia lakukan atas persetujuan Direktur Utama (Dirut) Bank NTT dan Kepala Pertamina Cabang Kupang. 
“Kami buat ini karena ada persetujuan dari pak Direktur Bank NTT, pak Amos Corputy dan pak Kepala Pertamina Cabang Kupang. Uang yang saya kumpul ini akan saya setor ke Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang,” tegasnya.
Ny. J. Ati mengaku, perbuatan ini ia lakukan berawal dari kedekatan dirinya dengan Dirut Bank NTT dan Kepala Pertamina Cabang Kupang.
“Saya biasa layani doa di rumah mereka. Kami sudah biasa kerjasama,” ucap Ny. J Ati yang dibenarkan Sipri Radho dan istrinya.
Sementara itu, Sipri Radho meminta Sergap NTT untuk tidak mempublikasikan sepak terjang Ny. J. Ati. Semua itu, kata Radho, demi kebaikan para calon karyawan Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang asal Ngada dan Nagekeo yang telah direkrut Ny. J. Ati.
“Jangan dimuat dulu Chris. Kami malu. Kami tidak dapat apa-apa dari ini semua. Tolong adik-adik kita ini, supaya mereka bisa kerja di Bank NTT dan Pertamina. Selama ini kan susah orang kita bisa kerja disana, mungkin dengan cara ini kita punya anak-anak bisa masuk ke sana,” pintanya. 
Sayangnya, janji-janji yang pernah diucapkan Ny. J.Ati tidak pernah terbukti. Ketika dihubungi lagi via hand phonenya bernomor: 085239364753, Ny. J. Ati hanya meminta agar para calon karyaran bersabar, bersabar, bersabar dan bersabar terus.
“Sekarang saya lagi layani doa di rumah pak Direktur Bank NTT. Saya sedang usaha ni pak, bersabar saja. Sesuatu akan indah pada saatnya,” pinta NY. J. Ati.
Rupanya aksi kelompok J. Ati itu sudah banyak diketahui oleh tokoh masyarakat asal Ngada di Kupang. Hanya saja kejahatan terselubung ini dirahasiakan. Buktinya, Senin, 11 Juni 2007 lalu, sekitar pukul 10.00 Wita, ketika melintas di belakang Kantor DPRD NTT, tiba-tiba Sergap NTT distop oleh Sekertaris Badan Ketahanan Pangan NTT, Martinus Jawa. Tokoh asal Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada yang ketika itu baru saja keluar dari Kantor DPRD NTT meminta Sergap NTT untuk mendiami ulah kelompok J Ati.
“Baru-baru, katanya ade dong ada pi gerebek rumahnya pak Sipri Radho ko? Tidak usaha tulis ade. Jangan potong orang punya nasib,” timpal Jawa seraya berlalu pergi. 
Ironisnya, pengakuan Ny. J. Ati dan harapan Martinus Djawa itu dibantah oleh Kepala Pertamina Cabang Kupang, Viktor Lumbangaol.
“Saya nggak kenal tu, itu ibu. Lagian kita di Pertamina belum ada penerimaan karyawan. Kalau pun ada, itu wewenang pusat, bukan kita. Kita disini justru sedang berusaha mengurangi jumlah pegawai. Sekarang kita lagi macet pak. Lalu siapa yang terima karyawan? Itu nipu pak. Nggak benar tu. Tangkap aja tuh,” tegas Lumbangaol saat ditemui Sergap NTT di kantornya pada Kamis, 28 Juni 2007 lalu.
Kata Lumbangaol, kini Pertamina Kupang maupun Pertamina Cabang lainnya yang tersebar di NTT, tidak lagi menerima karyawan. Itu sudah menjadi keputusan Pertamina Pusat demi penghematan anggaran Pertamina.
“Kemarin-kemarin banyak yang tipu begitu pak. Bahkan ada yang pake nama kami untuk peras orang. Minta uang pake transfer lewat rekening lah, dan lain sebagainya. Itu kerja yang nggak benar. Polisi sebaiknya tangkap aja orang kayak gitu. Bikin susah orang aja,” tegasnya.
Permintaan agar polisi segera membekuk kelompok J. Ati disampaikan juga oleh Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH saat ditemui Sergap NTT di ruang kerjanya belum lama ini. Menurut Mantan Bupati Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dua periode itu, aksi penipuan tersebut harus segera dihentikan agar tidak menambah jumlah korban.
“Sekarang ini orang cenderung berlindung dibalik Agama. Legitimasi politik, legitimasi ekonomi berlindung dibawah legitimasi rohani. Orang kayak begitu sebaiknya ditangkap saja. Polisi harus tangkap pelakunya. Ini untuk menjaga agar korban tidak bertambah banyak,” ujar Gubernur Tallo.
Sementara itu, Direskrim Polda NTT, Kombes Pol. Ricky H.P Sitohang mengatakan aksi Ny. J. Ati ini murni penipuan.
“Ya, sudah jelas pasti bermuara pada penipuan. Jika ada bukti faktual maka semua yang terlibat dalam rangkaian masalah ini akan kena termasuk pak Amos Corputy. Cuma si korban berikan uang itu, kapasitas dia apa? Contohnya begini, ada yang mau test polisi dengan memberikan sejumlah uang sebagai pelicin ke oknum polisi. Ternyata hasilnya si penyuap tidak lulus, lalu dia tuntut, otomatis dua-duanya kena. Penyuap juga diproses, yang disuap juga diproses. Kan korban sudah baca ketentuan bahwa test polisi itu tidak dipungut apapun. Jika anda bisa memberikan bukti ke polisi, maka kita akan mencari korbannya walau dia tidak melapor. Sehingga kita bisa tindak lanjuti kasus ini. Ini yang dinamakan hukum sebab akibat,” tegas Ricky.
Sejumlah karyawan Bank NTT mengaku kenal dan pernah mendengar aksi “gerylia” kelompok J. Ati. Hanya saja mereka tak percaya, jika Direktur Bank NTT, Amos Corputy terlibat seperti yang diutarakan Ny. J. Ati.
“Kami pernah dengar itu. Tapi tidak mungkinlah Bank NTT kerja kayak gitu,” ujar salah seorang karyawan Bank NTT.
Anehnya Direktur Bank NTT, Amos Corputy terkesan menghindar saat akan ditemui pada Jumat, 6 Juli 2007 lalu. Padahal sebelumnya, Corputy melalui sekretarisnya telah berjanji akan menerima Sergap NTT pukul 14.00 Wita.
Sejumlah sumber di Bank NTT mengaku, Corputy cukup kenal dekat dengan Ny. J. Ati.
“Kayaknya pak Amos kenal itu ibu. Kami sudah dengar lama, tapi betul atau tidak, kami kurang tahu,” papar karyawan Bank NTT lainnya. (by. cis/rud)

Kita Tidak Akan Buka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda!


sergapntt.com [KUPANG] – Desakan Wiliam Bram dan Koordinator Penanggulangan TKW Bermasalah asal NTT di Bandara Juanda, Oktovianus Pekaata agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT segera membuka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda ternyata ditanggapi dingin oleh Kepala Dinas Nakertrans NTT, Drs. I.N Conterius. Bahkan Conterius membantah pengakuan Bram bahwa ada 16 TKW asal NTT yang mati dibunuh di Surabaya.
“Kita tidak akan buka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda. Karena dasar hukumnya tidak ada. Sebab, itu ada biayanya. Sebagai dinas teknis, kami sudah sampaikan permintaan warga NTT di Surabaya itu kepada Gubernur NTT, tapi karena dasar hukumnya, seperti Perda (Peraturan Daerah) belum ada, ya… tidak bisa,” ujar Conterius.
Menurut Conterius, desakan Bram dan Pekaata itu terkesan mengada-ada. Sebab, tindak kekerasan  dan jumlah korban yang mati dibunuh oleh kelompok Yudi tidak seperti yang dipaparkan Bram dan Pekaata.
“Yang kami tahu, pada 2005 lalu itu, TKW asal NTT yang mati dibunuh hanya satu, dan itu sudah kami urus semua. 16 orang itu dari mana? Masa ada orang NTT yang mati begitu banyak koq kami tidak respon? Karena selama ini, setiap TKI asal NTT yang terlibat masalah, kami selalu terlibat menyelesaikan masalah yang dihadapi para TKI itu. Masa yang ini kami tidak tahu, yang benar saja,” tandasnya.
Khusus untuk mengatasi kepulangan TKW yang menjadi korban perampokan di Surabaya, kata Conterius, ada mekanismenya.
“Selama ini kita sudah bangun kerjasama dengan Pemerintah Daerah Jawa Timur, kalau ada orang kita yang kena masalah di Surabaya, maka itu akan diurus oleh pemerintah setempat.  Dan, PJTKI penyalur para TKW itu harus bertanggung jawab, termasuk mengurus kepulangan TKI sampai ke kampung halamannya,” tegas mantan Kepala Biro Kepegawaian Setda NTT itu.
Conterius meminta, jika Bram dan Pekaata mengetahui ada TKW NTT lainnya yang mati dibunuh, sebaiknya segera melapor ke polisi setempat.
“Perimintaan mereka (Bram dan Pekaata-red) sudah kami jawab. Kita tidak bisa bentuk perwakilan disana. Itu harus ada dasar hukumnya. Tapi kami perlu sampaikan terima kasih kepada warga NTT yang ada di Surabaya yang selama ini sudah membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi para TKW. Nah kalau mereka tahu bahwa ada TKW asal NTT lain yang mati dibunuh, sebaiknya segera lapor polisi,” pintanya.
Ironisnya, sejumlah sumber di Kota Kupang mengaku, sesungguhnya desakan dan data korban TKW yang disampaikan Bram dan Pekaata tersebut dibuat-buat. Sebab, data korban itu sengaja diciptakan agar mampu mengsukseskan desakan pembentukan Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda yang pada gilirannya akan dinikmati Bram dan Pekaata.
“Ini kerja mafia pak. Jangan percaya. Data itu tidak benar. Itu versi mereka saja. Bahkan Kantor Perwakilan NTT belum dibentuk saja, mereka sudah berani buat surat pakai kop Kantor Perwakilan NTT. Bermodalkan surat itu mereka lalu meminta-minta uang kesana-kemari. Kerja kayak apa itu,” papar berbagai sumber.
Kegiatan Bram dan Pekaata yang masuk kategori Pungutan Liar (Pungli) itu dibenarkan juga oleh Conterius, Kasubdin Huban Saker Dinas Nakertrans NTT, I.G.L Ardika dan Kasubdin PPTK Dinas Nakertrans NTT, Abraham Djamin.
“Menurut laporan, ya…seperti itu. Tapi secara resmi melalui surat, kami sudah ucapkan terima kasih kepada mereka, karena selama ini mereka sudah peduli terhadap TKW asal NTT,” ucap Conterius yang diamini Ardika dan Djamin. (by. cis)

Bram: Sebelum Dibunuh, Dua dari 16 TKW Sempat Bertemu Saya!


sergapntt.com [KUPANG] – Kematian 16 orang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal NTT di Surabaya, Jawa Timur Tahun 2005 lalu ternyata tidak mengakhiri penderitaan para TKW asal NTT lainnya yang transit via Bandara Juanda Surabaya ketika pulang dari Malaysia, Arab Saudi atau Singapura. Hingga sekarang, para pahlawan devisa asal NTT itu masih sering di peras, disiksa bahkan satu dari sejumlah TKW asal NTT sempat diperkosa oleh empat orang oknum sopir taksi Bandara Juanda di seputaran Bandara Juanda.  
Demikian dikatakan Wiliam Bram, pria asal Kabupaten Ende, NTT yang kini berdomisili di RT 08 Desa Manyar Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Menurut pria yang mengaku sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi gelap di Bandara Juanda itu, hampir tiap hari selalu saja ada TKW asal NTT yang diperas. Bahkan Mei 2007 lalu, ada seorang TKW asal NTT yang diperas lalu diperkosa oleh empat orang oknum sopir taksi Primkopal Bandara Juanda.
“Sekarang TKW memang tidak dibunuh lagi seperti yang dilakukan kelompok Yudi terhadap 16 TKW asal NTT dua tahun lalu. Tapi, hampir tiap hari selalu saja ada TKW asal NTT yang mengeluh bahwa mereka diperas oleh oknum-oknum di Bandara Juanda. Bahkan bulan lalu, ada seorang TKW asal NTT yang diperas lalu diperkosa oleh empat orang sopir Bandara Juanda. Kasus ini hanya diselesaikan ditingkat RT. Di depan pak RT, sebagian uang milik TKW itu dikembalikan. Tapi, setelah urusan di RT, korban dibawa lari lagi oleh pelaku. Sampai sekarang apakah dia sudah dibunuh atau masih hidup, saya kurang tahu,” papar Bram kepada Mingguan Berita Rakyat di Kupang belum lama ini.
Tidak itu saja, kata Bram, tindak perampokan juga dialami  oleh Roni Astagina Bani alias Ani, warga Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang saat baru pulang dari Pining, Malaysia Barat. Selain perhiasan mas berupa Kalung, Gelang dan Cincin, Rp 18 juta dan 1400 Ringgit milik Ani pun ludes dirampas perampok.
“Sekarang Ani tinggal di rumah saya di Sidoarjo. Dia mau kembali, tapi tidak ada uang. Satu dua hari ini, kalau Tuhan berkat saya dapat uang di Kupang sini, begitu saya kembali dari Kupang, saya langsung suruh dia pulang kampung,” ujarnya.
Bram mengaku, di Bandara Juanda banyak berkeliaran pelaku kejahatan, khususnya mereka yang ingin memeras para TKW. Bahkan di terminal pesawat itu ada seklompok mafia yang dikenal dengan nama Kelompok 26. Kelompok ini dikoordinir oleh oknum AL dan diketahui oleh Asosiasi Perlindungan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) Propinsi Jawa Timur. Kelompok yang beranggotakan para sopir taksi Bandara Juanda ini punya kantor khusus di seputaran Surabaya yang digunakan untuk mengeksekusi para TKW.  
“Saat turun dari pesawat para TKW diserbu kayak artis. Mereka biasanya dikumpulkan di ruang Kantor APJATI Jawa Timur di Bandara Juanda. Setelah terkumpul, orang APJATI, oknum Angkatan Laut dan para eksekutor yang tergabung dalam Kelompok 26 mulai main mata. Biasanya orang APJATI hitung per kepala. Jaringan ini rapih. Yang tahu hanya orang-orang yang sering nongkrong di Bandara Juanda. Setelah para TKW berhasil dipengaruhi, mereka langsung digiring ke dalam taksi milik Kelompok 26. Disitulah aksi pemerasan dimulai. Para sopir taksi ini mulai sengaja putar pi, putar datang sekedar untuk membingungkan para TKW. Setelah merasa cukup, korban pun diminta bayar ongkos taksi sebesar Rp 2,5 juta hingga Rp 4 juta. Ini pengakuan teman saya yang juga termasuk kelompok 26. Sedangkan untuk biaya pesawat dari Juanda ke Kupang atau ke Flores, biasanya TKW diminta Rp 4 juta hingga Rp 8 juta. Sementara TKW asal NTT yang turun di Bandara Juanda berkisar dua sampai sepuluh orang per hari,” tuturnya.
Untuk itu, Bram meminta Pemerintah Provinsi NTT segera membuka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda Surabaya. Sehingga penipuan dan kekerasan terhadap TKW  asal NTT dapat diminimalisir.
“Kalau mau penderitaan orang kita itu berhenti, pemerintah harus segera buka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda. Perwakilan ini yang kemudian bertugas membantu TKW asal NTT agar selamat dan mudah pulang kampung. Saya dan pak Oktovianus Pekaata sudah ulang-ulang minta pemerintah NTT agar membuka perwakilan NTT di Bandara Juanda, tapi sampai sekarang belum juga terealisasi. Pak Oktovianus Pekaata itu, salah satu putra NTT yang ada di Surabaya yang selama ini kami percaya sebagai koordinator penanggulangan TKW bermasalah asal NTT di Bandara Juanda,” tandasnya.
Kekerasan yang dialami TKW asal NTT, lanjut Bram, bukan hanya terjadi ketika mereka pulang dari luar negeri. Tapi, saat masih dalam masa pelatihan di penampungan pun, mereka sering menerima perlakuan tidak adil dari perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). 
“Calon TKW asal NTT sering disiksa. Khususnya  mereka yang direkrut oleh PJTKI Prayogo Prajogo. Tahun 2002 lalu, di tempat perusahaan itu  pernah ada TKW asal Soe, TTS yang dikubur dibawah kolong tempat tidur. Itu terjadi saat pelatihan, sebelum dia dikirim ke luar negeri. Kasus itu kami sempat angkat. Tapi entah kenapa hingga sekarang seakan tenggelam di makan bumi,” paparnya.  
Tahun 2005 lalu, jelas Bram, Pemerinatah Provinsi (Pemprov) NTT melalui Kepala Dinas Nakertrans NTT, Drs. I. N. Conterius pernah berjanji akan membuka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda Surabaya. Bahkan saat itu, Conterius berjanji akan mengalokasikan dana untuk biaya penguburan bagi 16 TKW asal NTT yang dirampok dan dibunuh oleh kelompok Yudi Dariansyah (33 Tahun). Sayangnya, hingga kini janji itu tidak pernah terealisasi.    
“Pemerintah kita ini hanya janji-janji to… Saat datang ke Surabaya, Conterius pernah berjanji akan turunkan dana untuk penguburan 16 jenasah. Tapi sampai sekarang mana? Tidak pernah ada! Janji Conterius itu dia sampaikan saat kami pertemuan di warung makan Tempo Doeloe di Bandara Juanda. Katanya Pemerintah NTT akan perhatikan serius masalah ini. Tapi mana? Dia enak makan tidur, terima gaji di Kupang sini, tapi kasihan kami yang di Surabaya. Setiap kali TKW bermasalah, kami selalu jadi tempat pelarian dan pengaduan para TKW. Padahal di Suarabaya, kami juga hidup pas-pasan. Tapi hanya karena kasihan dengan TKW asal NTT, kami terpaksa tampung mereka. Misalnya, sekarang ini si Ani itu masih tinggal di rumah saya. Dia belum bisa pulang karena tidak punya uang. Lalu dimana itu Pemerintah NTT,” timpalnya. 
Sebelum Dibunuh……..
Dua tahun lalu, 16 orang TKW asal NTT dirampok dan dibunuh oleh Yudi cs. Komplotan sadis ini baru diketahui setelah Esther Baniwine asal NTT —-korban yang lolos dari maut walau sempat dijerat dengan seutas tali dan dibuang di kebun tebu di Desa Wonoplintahan Prambon, Sidoarjo—-  mengadu ke polisi. Berawal dari informasi inilah, polisi akhirnya menemukan sederet nama korban TKW asal NTT yang tak pernah tiba di kampung halamannya.
Begitu menginjakkan kakinya di Bandara Juanda, Esther yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di sebuah keluarga di Jl. Murni 11 No 37, Bandar Malaka Malaysia itu sudah disongsong 4 pria dan satu wanita. Kepada Esther, mereka mengaku biasa membantu para TKW asal NTT pulang kampung. Singkat cerita, Esther pun diboyong ke sebuah rumah di Perumahan Candra Mas, Jl. Wijaya Kusuma, Blok FB/23C Sedati Sidoarjo.
Selama berada dalam penyekapan, Esther dan sejumlah TKW asal NTT tak pernah merasa sedang disekap. Maklum Esther cs diperlakukan dengan baik oleh para pelaku. Namun Esther mulai curiga ketika paspor dan cek senilai Rp 16 juta miliknya diminta oleh pelaku. Tapi karena alasan untuk memudahkan kepulangannya ke kampung halaman, kecurigaan itu pun pudar. Alhasil, Minggu (21 Agustus 2005) dini hari, Esther yang tiba di Bandara Juanda pada 27 Juli itu, diajak pulang lewat Bali. Esther yang tidak paham peta Sidoarjo sengaja dibawa keliling Sidoarjo hingga ke Surabaya. Tiba-tiba, di tengah jalan sepi, gadis lugu yang ketika itu duduk di samping pengemudi langsung dijerat dengan tali dari belakang oleh dua orang anak buah Yudi.
Merasa yakin Esther telah meninggal, tubuh Esther pun langsung dibuang ke perkebunan tebu. Sayang, perkiraan para pelaku meleset. Esther ternyata masih hidup. Keesokan harinya, Esther ditemukan dalam kondisi sekarat oleh warga Desa Wonoplintahan Prambon, Sidoarjo dan langsung dilarikan ke RSUD Sidoarjo. Dua pekan setelah mendapat perawatan intensif, kondisi Esther akhirnya pulih. Dari mulutnya itulah, polisi akhirnya meringkus Husainul Hamdi alias Andik (23) dan Sulianton alias Boy. Warga Lombok Barat, NTB ini ditangkap polisi di rumah kontrakannya di Sidoarjo.
Namun ketika Esther masih dalam perawatan, komplotan ini berhasil mengeksekusi Masri (33). Mayat Masri ditemukan warga Desa Praya Lombok Tengah NTB di sebuah parit di Desa Tambak Sumur Waru, Sidoarjo. Selang tiga hari kemudian Yudi cs juga mengeksekusi Sisilia (20). Jazad Sisilia dibuang di sebuah kawasan sepi di Kecamatan Bangil Pasuruan. Nasib yang sama juga dialami Deby, jenazahnya ditemukan di Ngoro Jombang.
Cerita sadis kelompok Yudi ini awalnya tidak dipercayai oleh Margaretha alias Reta yakni korban yang sebetulnya juga tengah menunggu giliran diantar ke ‘akherat’. Reta mengaku heran saat baru tiba dari luar negeri, dirinya langsung akrab dengan kelompok Yudi. Kelompok Yudi sendiri sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi di Bandara Juanda. Bahkan karena kebaikan yang selalu ditunjukkan kelompok Yudi, Reta masih sulit percaya bahwa teman TKW-nya yang pernah diantar kelompok Yudi untuk pulang kampung ternyata tak pernah sampai.  Seakan tak percaya juga disampaikan Any, Rika dan Sonbai yang juga disekap kelompok Yudi di rumah yang sama. Namun bulu kuduk Reta merinding ketika mengingat pengalaman dirinya yang sempat dibawa jalan-jalan oleh anggota kelompok Yudi. “Untung saya tidak diapa-apakan,” ujarnya.
Belakangan kabar santer pembunuhan para TKW asal NTT ini mulai mengusik perhatian warga NTT di Surabaya. Apalagi saat polisi menggeledah rumah penyekapan, ditemukan 15 paspor di kamar Yudi. Dampak dari ‘musibah’ itu, para TKW asal NTT yang selamat terpaksa pulang kampung dengan tangan kosong. Sebab, semua hasil jerih payah memeras keringat di negeri orang, sudah lenyap digondol sindikat.
“15 orang dikubur di Sidoarjo, sedangkan Sisilia dipulangkan ke Sumba. Jika ada perhatian serius dari pemerintah NTT, kami yakin jazad para korban bisa dikembalikan ke kampung halamannya. Identitas korban seperti paspor dan lain sebagainya, sampai sekarang masih ada di Polwiltabes Surabaya. Sebelum Dibunuh, dua dari 16 korban itu sempat bertemu saya. Satunya asal Boawae, dan satunya lagi asal Ende, Lio,” papar Bram. 
Ironisnya, kata Bram, hingga kini polisi belum berhasil menangkap Yudi. Tragisnya lagi, setelah kasus Yudi terbongkar, di Madiun terungkap kasus mutilasi. Diduga  korbannya adalah TKW yang juga berasal NTT. Badan korban ditemukan di sungai di Madiun, sedangkan kepala korban ditemukan di hutan semak di Kabupaten Magetan.
“Polisi baru tangkap tiga pelaku, diantaranya Abdul Raub. Dia ditangkap di Mataram sebelum Bom Bali II terjadi. Abdul Raub asal Sidoarjo itu dihukum mati. Sedangkan dua temannya yang asal Mataram, satunya dihukum mati dan satunya lagi dihukum seumur hidup. Abdul Raub cs itu saya kenal baik. Mereka itu  adalah sopir taksi di Bandara Juanda,” papar Bram.  (by. cis) 

Kol. Inf. Arief Rachman: Waspadai Gerakan Eks PKI di NTT


sergapntt.com {KUPANG} – Komandan Korem (Danrem) 161 Wirasakti Kupang, Kolonel Infantri (Kol Inf) Arief Rachman mengimbau masyarakat Nusa Tenggara Timur mewaspadai gerakan eks Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sering menyusup ke tubuh LSM atau organisasi kemasyarakatan lainnya guna menentang kebijakan pemerintah dalam bentuk aksi unjuk rasa dan sejenisnya.

“Kita jangan menganggap remeh dengan situasi ini. Saat ini di NTT ada sekitar 3.000 eks PKI. Ini sebuah potensi yang tidak bisa dipandang enteng,” ujar Rachman menanggapi fenomena unjuk rasa yang menentang sejumlah kebijakan pemerintah di Kupang.
Kebijakan yang ditentang rakyat itu antara lain rencana pembangunan Brigade Infanteri (Brigif) di SoE, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sebelumnya, Rachman pernah mengemukakan hal yang sama ketika berdialog dengan Pansus DPRD TTS.

“Aksi penolakan rakyat terhadap sebuah kebijakan pemerintah harus dicermati dengan teliti oleh setiap komponen masyarakat, karena pasti ada unsur penggerak di dalamnya yang tidak tertutup kemungkinan ditunggangi oleh pihak asing atau kelompok radikalisme yang merupakan eks anggota PKI,” tegasnya.
Menurut Rachman, NTT yang posisinya berbatasan langsung dengan negara Republica Demokratica de Timor Leste yang menganut paham sosialis harus diwaspadai. Karena tidak tertutup kemungkinan unsur-unsur komunis merasuki watak masyarakat untuk melakukan konfrontasi dengan pemerintah. Saat ini pemerintah Timor Leste telah mengirim sekitar 2.000 orang untuk mengikuti pendidikan di Cuba, negerinya Fidel Castro yang merupakan salah satu negara komunis terbesar di dunia.

“Situasi yang terjadi di negara tetangga perlu juga kita cermati dengan fenomena demonstrasi yang terjadi di negeri ini, khususnya di NTT yang menentang upaya baik pemerintah untuk melaksanakan kegiatan pembangunan demi kepentingan masyarakat,” paparnya.

Oleh karena itu, Rachman mengimbau masyarakat NTT untuk tetap waspada dalam mencermati setiap fenomena yang terjadi, terutama aksi unjuk rasa yang menentang kebijakan pemerintah.  (by. on)