Demi Harta Istri tinggalkan aku dan anak-anak!


sergapntt.com – Aku menikah dengan Efy memang modal nekat semata. Karena cinta tak lagi kami bendung. Akhirnya, satu-satunya jalan untuk tetap menyatu adalah kawin lari. Meski waktu itu kulaihku belum rampung. Entahlah, mungkin karena saat itu aku begitu takut kehilangan dia. Oh ya, waktu itu usiaku masih 23 tahun, sedang Efy baru duduk di kelas 3 SMU. Sampai kami dikaruniai dua anak dan mulai hidup mapan, kedua orang Efy belum juga mau mengakui aku sebagai menantu.  Padahal, aku sudah lakukan berbagai cara, berharap membukan mata hati mereka. Kemapananku sepertinya tak membuat mereka goyah untuk menerimaku.
Aku dan Efy sudah memohon ampun. Tapi justru tak menghargai mereka. Hanya syukurnya, belakangan ini mereka sudah mau menerima Efy kembali. Efy sudah bebas pergi ke rumah orang tuanya, bahkan sebagian harta warisan keluarga sudah dijatahkan sebagian untuknya. Sementara aku dan dua anakku, sama sekali tidak mendapat pengakuan. Orang tua Efy masih tetap menganggap kami sebagai menantu dan cucu haram.
Sungguh menyakitkan, hanya untuk mendapatkan pengakuan dari seorang mertua, aku telah menjual harga diriku dan mengorbankan perasaanku, tapi balasannya sungguh menyakitkan. Aku kasihan pada anakku, mereka tak bisa mengenal nenek mereka, padahal keduanya berhak untuk itu.
Beberapa kali kucoba membujuk Efy agar mau membawa anak-anak ke rumah neneknya, namun Efy tampaknya ogah-ogahan. Malah kalau aku sedikit memaksa, malah dianggap lain, pasti terjadi pertengkaran diantara kami, yang membuatku kesal, akhir-akhir ini Efy sudah keseringan menginap di rumah orang tuanya tanpa izin dariku.
Sampai kemudian orang tua Efy memberi ultimatum kepada Efy untuk memilih kembali ke rumah dengan syarat meninggalkan aku, atau tetap memilih aku dan anak-anak tapi tak mendapat warisan.
Efy benar-benar silau dengan harta. Mungkin karena dasarnya ia memang dari keluarga berada, atau karena aku yang tak pernah bisa memanjakannya dengan materi, ia langsung memutuskan untuk kembali ke orang tuanya.
Tega sekali pikirku, aku yang sekian tahun hidup dengannya dengan segala suka duka, serta dua anak yang ia lahirkan dari rahimnya, tega ia campakkan begitu saja, hanya karena kemilau harta.”Sungguh buta mata hatimu Efy,”, begitu kata terakhir yang kulontarkan kepadanya.
Kini, meski anak merengek minta ketemu ibunya, aku tak pernah sudi mempertemukan mereka, karena segala yang berhubungan dengan Efy, tak akan lagi kubuka. Sebagai laki-laki, itu kupegang. Efy telah mengambil keputusan yang dianggap baik untuk dirinya, dan sebagai lelaki aku tak mau mengubah keputusanku itu. Biarlah itu dijalaninya sendiri, aku tetap pada pendirianku. (Catatan Hidup Rudy dari Kabupaten Sikka)

Sudah Lima Bulan Suamiku tak pulang!


sergapntt.com – Siapa sih yang tidak kesal bila memiliki suami yang tak bertanggung jawab dan tidak dewasa. Itulah yang aku alami sekarang. Bahar —nama samaran—, suamiku, sudah lima bulan ini tidak pernah pulang ke rumah. Praktis untuk menghidupi anak-anak aku harus berjuang sendiri. Beruntung, aku memiliki warung kecil-kecilan di halaman rumah, sehingga bisa menghidupi kedua anakku yang masih kecil-kecil.
Oh ya pembaca. Awal cerita ini adalah sewaktu aku menikah dengan Bahar sekitar tujuh tahun lalu dan dikaruniai dua anak. Yang sulung berusia lima tahun, sedangkan si bungsu dua setengah tahun. Suamiku bekerja di salah satu perusahaan swasta sebagai sales di kota ini. Dulu, dia termasuk lelaki yang penuh perhatian dan sangat dewasa. Setiap pulang kantor, dia sering membawakan makanan untuk aku dan anak-anak, ya…seperti ayam goreng, terang bulan atau martabak. Tapi setahun belakangan, sikapnya berubah. Kalau ditanya, dia langsung marah-marah. Aku sedih, bahkan aku terkadang menangis, disaksikan kedua anakku.
Tiga bulan lalu, aku mendengar kabar kalau suamiku telah menikah lagi di sebuah kampung di wilayah utara provinsi ini. Aku tidak tahu, wanita macam apa yang terpikat dengan suamiku. Padahal, dari rupanya saja, tidak begitu meyakinkan. Jujur, dulu aku suka padanya bukan karena tampangnya, tetapi dia begitu baik kepadaku. Hingga kini, aku belum mengetahui secara pasti apakah benar suamiku itu telah mempunyai isteri baru atau tidak. Beberapa kali aku mendatangi kantornya, tapi selalu saja suamiku tak ada. Kata teman-temannya, suamiku kini sering ke luar daerah mengantar barang. Apakah ini hanya akal-akalan suamiku dengan teman-temannya? Aku tidak tahu.
Dua minggu lalu, keluargaku menanyakan soal suamiku. Tapi, aku tidak bisa menjawabnya. Aku hanya bilang, suamiku lagi pergi ke luar daerah untuk urusan kantornya. Aku belum mau membeberkan prilaku suamiku kepada orang lain, termasuk kepada keluarga.
Nantilah, setelah aku tahu semuanya, barulah aku akan bongkar prilaku suamiku kepada keluarga. Bahkan, bisa saja aku langsung menggugat cerai. Tapi saat ini, aku masih mencari tahu, apakah benar suamiku itu telah menikah lagi? Mengapa dia tidak pernah pulang ke rumah? Akan aku cari tahu. Sebab sudah lima bulan ini suamiku tak pernah pulang. Jika sempat membaca jeritan hatiku ini, pulang lah pa!  (Surat dari Inggrit, Kota Kupang)

Bila Suami Dikianati Istri, Perceraian Menjadi Solusi Paling Tepat


sergapntt.com – Ketika istri ditinggal suami berselingkuh, reaksi yang terjadi bermacam-macam. Ada yang menangis histeris, ada yang menangis diam-diam malu didengar tetangga, marah, bahkan ada yang nekad mendatangi dan melabrak WIL (wanita idaman lain) sang suami. Lalu, ketika kejadian itu terjadi pada laki-laki, ketika istri meninggalkan suami karena ada PIL (pria idaman lain), apa reaksi laki-laki yang digembar-gemborkan sebagai makhluk lebih kuat dan tegar dari perempuan itu?
Ternyata soal hati sama saja. Kendati tidak bercucuran air mata, para lelaki yang tampak tegar itu mengakui mereka terluka. Namun mereka mengungkapkannya dengan cara berbeda. Banyak yang berubah menjadi “harimau yang terluka”. Tidak hanya mengamuk kepada istri, PIL istrinya pun diuber guna dapat melampiaskan rasa marah. Lihat saja  Hidayat (45). Beberapa bulan lalu dengan parang terhunus, pria asal Kabupaten Ende itu terus mencari istrinya. Maklum sudah setahun terakhir ini istrinya pergi dengan laki-laki lain.
“Waktu itu beta sonde pernah lepas parang (golok). Kemana-mana beta selalu bawa parang. Dalam hati, begitu beta ketemu, beta langsung cincang mereka. Beta su nekad na…. Ini menyangkut harga diri bu…,” kisah Hidayat mengingat kejadian setahun silam.
Beruntung disaat Hidayat kalap, Tuhan selalu menuntunnya. Target yang dicari tak pernah ketemu. “Untung beta sonde tau mereka punya tempat persembunyian. Kalau sonde, beta sonde tau lagi. Untung betul. Kalau sonde beta ju sonde tahu bagaimana dengan beta pung anak-anak pung nasib sekarang ini,” ujarnya, lirih.
Kini pria kelahiran Tahun 1962 itu sudah “ikhlas” melepas istrinya. “Sekarang beta sonde pikir dia lai. Yang beta pikirkan sekarang bagaimana beta pung anak-anak sekolah dan kedepan sonde ikut mereka pung mama jelek,” timpalnya.
Rasa marah, juga reaksi pertama yang keluar dari Ramly (35), saat mengetahui istrinya, sebut saja Yeni, berpacaran dengan seorang sopir bus. Ramly yang sehari-hari berprofesi sebagai montir kendaraan roda dua itu tidak menyangka jika istrinya tega mengkhianti perkawinan mereka yang telah membuahkan dua orang anak. Tak bisa mengendalikan diri, Ramly pun memukuli istrinya. Buntutnya, warga Kota Baru, Kota Kupang itu dilaporkan istrinya ke polisi. Singkat kata Ramly pun masuk penjara.
Lain lagi dengan kisah Yanto (43). Lelaki berbadan kekar asal Ambon ini mengaku sangat marah dan harga dirinya serasa diinjak-injak ketika tahu istrinya telah menikah diam-diam selagi perkawinan mereka belum bubar. Namun Yanto masih bisa mengendalikan diri.
“Semua perasaan bercampur aduk. Shock, marah, sakit hati, semuanya bercampur menjadi satu. Tapi akhirnya beta pasrah,” kenang Yanto.
Padahal menurut Yanto, perkawinan mereka tampaknya baik-baik saja, sampai muncul PIL di hati istrinya. Kemudia ia meminta istrinya meninggalkan rumah setelah perceraian berlangsung secara resmi di pengadilan. Karena merasa, istrinya tak bisa mengajarkan perbuatan baik, Yanto menahan kedua anak mereka untuk tetap ada dalam pengasuhannya.
Musibah ditinggal istri, umumnya diakui Hidayat, Ramly dan Yanto merupakan masa yang paling berat dalam hidup. Ketika prahara itu reda, yang tinggal hanyalah rasa sedih dan sakit hati. Sambil menanggung beban hati, para suami ini mengaku mulai berusaha bangkit dan menata hidup demi hari esok yang lebih baik.
“Apa yang biasa dilakukan istri, saya lakukan sendiri. Mengurus rumah, memasak hingga mengantar anak ke sekolah. Semua saya lakukan demi anak,” papar Yanto.
Sebenarnya banyak kerabat yang kasihan melihat keadaan Yanto dan ingin menjodohkannya lagi. Sebagai laki-laki, tentu saja Yanto ingin. “Tapi anehnya setiap saya dikenalkan dengan seorang wanita, yang terbayang adalah wajah anak-anak saya. Bagaimana jika wanita yang saya pilih tidak sesuai untuk anak-anak. Karena itulah, akhirnya saya putuskan untuk hidup bertiga saja dengan anak-anak.”
Sedangkan keputusan Ramly untuk tidak menikah lagi bukan semata khawatir akan perasaan anak-anaknya mendapat ibu tiri. “Saya kapok. Benar-benar kapok berhubungan dengan wanita,” ucapnya, tegas.
Pilihan menikah lagi justru dilakukan Hidayat. “Soal ia selingkuh atau tidak nanti, saya pasrah saja.” celektuknya.
APA yang menimpa para lelaki ini dicermati juga oleh Ustad Arifin. Menurut pria yang juga aktif berceramah ini, ketika para suami ditinggal istrinya karena menemukan PIL, hal itu adalah kesalahan para suami sendiri.
“Kasus seperti ini banyak saya tangani. Setelah saya cermati, walaupun tudingan pastilah datang ke pihak istri, tetapi kesalahan tetap ada pada suami,” tegas Arifin.
Menurut Arifin, terkadang para suami tidak bisa memenuhi tiga peran yang seharusnya dilakoni kaum laki-laki ketika berumah tangga. Padahal, sebagai suami, ia harus bisa berperan sebagai suami, ayah, dan kepala rumah tangga. Sebagai suami, setidaknya ia harus bisa menjadi idola istrinya. Sebagai seorang ayah, ia harus bisa menjadi motivator dan teladan bagi anak-anaknya. Sedangkan sebagai kepala rumah tangga ia harus bisa tampil mewakili keluarga di masyarakat.
“Sebagai contoh, mungkin semua istri ingin suami yang handsome. Soal fisik adalah anugerah dari Allah, tapi minimal para suami berpenampilan rapi agar tak memalukan istri. Jangan mentang-mentang udah kawin, hanya memakai kaus oblong atau kaus dalam saja, ” ucap Arifin, kritis.
Kata Arifin, faktor utama yang sering dijumpainya pada kasus istri berpaling pada lelaki lain disebabkan sang istri tak bisa mendapat apa yang diinginkannya dari suaminya. “Saya yakin hal ini tidak keluar dari hati nuraninya sendiri. Lebih banyak merupakan kompensasi ketidakpuasannya dari rumah tangganya. Barangkali di rumah tangganya, sang suami tak berfungsi sebagai pemimpin. Kita lihat pada kasus artis-artis yang pergi meninggalkan suaminya. Umumnya mereka adalah perempuan-perempuan yang dominan. Sebagai pemimpin, suami juga harus berlaku arif dan adil. Tidak mentang-mentang mendapat “kekuasaan penuh” lalu semena-mena pada istri. Seorang muslim tidak boleh menzalimi muslim lainnya. Jadi tak boleh suami menzalimi istrinya . Ia juga harus mau mendengarkan apa keinginan istri dan mencoba mencari titik temu. Sebaik-baik orang beriman adalah orang yang baik budi pekertinya. Orang yang baik budi pekertinya adalah yang memberikan yang terbaik bagi istrinya. Ia harus berkata baik dan lembut pada istrinya. Niscaya, rumah tangga ini akan tahan terhadap badai sebesar apapun,” tandasnya
Jika sang suami sudah melaksanakan kewajibannya sebagai pemimpin namun istri masih “berulah”, hal ini berpulang pada “tabiat” sang perempuan. “Berarti sang istri memang tidak mau menjalankan ajaran Allah. Kalau sudah begini perceraian menjadi solusi paling tepat, ” timpalnya. (by. cis)

Ny. Nadya (27 Tahun): “Saat aku tersiksa, suamiku justru selingkuh”


sergapntt.com – Cinta itu buta. Tapi orang yang tidak menghargai cinta itu lebih buta. Cinta akan indah bila dinikmati secara utuh. Bukan seperti yang dilakoni Dany (31), suami Ny. Nadya (27). Berikut penuturan Nadya kepada Wartawan Mingguan Berita Rakyat, Chris Parera. 
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa rumah tangga yang telah aku bina selama 5 tahun akhirnya akan hancur seperti ini. Sebelum menikah, aku selalu mendambakan pernikahan yang bahagia dan harmonis. Kebahagiaan itu sempat aku rasakan di awal pernikahanku. Namun itu hanya sesaat.
Dengan dasar cinta, aku menikah dengan kak Dany. Awalnya kami merasa sangat bahagia. Kasih sayang melimpah di rumah tangga kami. Saat itu Dany adalah suami yang sangat baik, penyayang, dan sangat memanjakanku. Kebahagiaan kami semakin lengkap saat aku mengetahui diriku hamil. Akhirnya anak laki-laki kami lahir dan kami beri dia nama Putra. Dia sungguh anak yang cakap dan cerdas.
Sejak ada Putra, hari-hari kami semakin ceria. Rasanya saat itu, aku adalah istri dan ibu yang paling beruntung di seluruh dunia. Namun ternyata, kebahagiaan itu tidak bisa aku miliki selamanya. Semuanya kemudian berubah.
Awal kehancuran rumah tangga kami bermula dari hobi baru kak Dany. Entah mendapat pengaruh dari mana, kak Dany kini hobi mengumpulkan dan menonton film-film porno. Pada awalnya aku tidak berkeberatan dengan hobi barunya itu. Karena aku pikir hal itu wajar sebagai seorang laki-laki dewasa.
Setelah itu kak Dany mulai melibatkan aku dalam hobinya. Setiap kali kami akan melakukan hubungan seks, kak Dany selalu memutar film porno lebih dulu. Setelah film usai, kak Dany memintaku untuk melakukan gaya berhubungan seks seperti yang kami saksikan di film. Untuk melakukan hal ini, aku pun tidak berkeberatan. Bagiku, hal ini hanyalah variasi dari hubungan seks suami-istri. Bahkan ini kuanggap sebagai hal positif yang akan kembali menggairahkan hubungan suami-istri kami, yang rasanya memang sudah mulai membosankan.
Namun lama kelamaan, pengaruh film porno semakin merasuk diri kak Dany. Tuntutannya semakin gila dan aneh, bahkan aku pikir sedikit berbahaya. Kak Dany sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk mengutarakan pendapatku, apalagi menolak. Setiap aku menunjukkan gelagat tidak suka, kak Dany selalu marah dan mengancam aku. Hingga akhirnya aku terpaksa menuruti semua keinginannya.
Lama-kelamaan, Dany tidak hanya sekedar mengancam. Ia mulai memukuli aku bila keinginannya aku tolak. Dia mengancam tidak akan memberikan nafkah bagi aku dan anakku. Aku yang hanya ibu rumah tangga biasa dan tidak memiliki penghasilan, hanya bisa pasrah saja menuruti kemauannya. Sementara dia sepertinya mengetahui ketergantungan ekonomiku pada dirinya. Dan, hal ini dimanfaatkannya untuk memperlakukan aku sesuka hatinya, terutama soal berhubungan seks.
Makin hari, cara kak Dany memperlakukan aku semakin tidak manusiawi. Bayangkan saja, setiap berhubungan sek, dia selalu memasukkan benda-benda asing ke dalam vaginaku. Sakitnya tidak tertahankan. Sakit fisik dan juga sakit batinku. Namun dia sepertinya sudah tidak lagi peduli. Dia sepertinya menemukan kesenangan di balik kesakitanku.
Yang lebih parah lagi, ternyata kak Dany selalu menceritakan apa yang dia lakukan padaku saat berhubungan seks kepada para tetangga dan teman-temannya. Hatiku semakin hancur. Rasa malu yang teramat sangat juga menderaku, terutama bila bertemu dengan tetangga dan teman-teman kak Dany.
Aku pernah mencoba bicara baik-baik dengan kak Dany untuk menyatakan keberatanku dan memintanya untuk tidak lagi menceritakan persoalan yang sangat pribadi ini kepada orang lain. Namun kak Dany malah semakin marah-marah. Aku hanya bisa menangis. Segala angan-anganku tentang pernikahan yang bahagia, suami yang penyayang dan hubungan seksual yang penuh keindahan, ternyata tidak lagi menjadi kenyataan.
Jujur saja, aku sudah tidak kuat lagi melihat sikap dan perangai kasar kak Dany. Terlebih saat aku tahu kak Dany tengah menjalin hubungan dengan perempuan lain! Padahal aku sudah berusaha untuk sabar menghadapi tingkahnya, menuruti semua keinginannya, bahkan keinginan seksual yang aneh sekalipun, tapi kak Dany malah berkhianat. Tak sedikitpun pengorbananku sebagai istri dihargai olehnya.
Akhirnya, tidak ada jalan lain, selain bercerai! Aku ceritakan keinginan bercerai kepada temanku. Ia menyarankan agar aku berkonsultasi ke Lembaga Bantuntuan Hukum (LBH) yang bergerak melindungi kaum perempuan. Awalnya aku malu, namun aku memberanikan diri untuk datang kesana. LBH ini lalu memberiku masukan-masukan seputar proses pengajuan perceraian serta hak-hak yang seharusnya aku peroleh setelah terjadi perceraian. Aku juga disarankan untuk melaporkan kak Dany ke pihak kepolisian. Jika aku merasa takut dan sudah tidak nyaman lagi tinggal bersama dengan kak Dany, LBH ini menawarkan shelter atau rumah aman.
Pilihan-pilihan yang diberikan LBH kemudian aku bawa pulang untuk kembali aku pikirkan. Sampai detik ini, aku belum juga bisa memutuskan langkah apa yang harus aku ambil. Saat aku tersiksa, suamiku justru selingkuh. Aku tahu rumah tanggaku telah hancur dan suamiku telah melakukan kekerasan seksual kepadaku serta mengkhianati aku. Namun apa daya, secara ekonomi, aku sangat bergantung pada kak Dany, aku memilih untuk mempertahankan rumah tanggaku. Lagipula aku harus memikirkan Putra, anakku. Aku tidak ingin Putra menjadi korban jika kami harus berpisah, apalagi jika bapaknya harus di penjara. Putra tentu masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya. Aku hanya bisa berharap kak Dany berubah, karena aku tidak tahu sampai kapan kesabaranku ini akan bertahan.

Aku ceritakan masalah rumah tanggaku ini agar kak Dany dan kaum laki-laki lain sadar bahwa kita saling membutuhkan. Tampa aku kak Dany tak ada artinya. Begitupun sebaliknya. Antaga! (*)

Suami Istri Yang Dipaksa Bercerai


sergapntt.com [KUPANG] – BAK hidup di jaman Siti Nurbaya. Sungguh dramatis kisah cinta Muktar Male dan Sumiyati Binti Burhan. Kendati telah menikah dan disahkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, namun ternyata akad nikah mereka itu tidak diakui oleh orang tua Sumiyati dan Pengadilan Tinggi (PT) Agama Kupang. Astaga!
Ruang sidang Pengadilan Tinggi Agama Kupang yang terletak di bilangan Kota Baru, Kota Kupang, pada Kamis (31/5) lalu tampak ramai dikerubuti warga yang ingin menyaksikan jalannya persidangan cerai antara Muktar dan Sumiyati. Namun persidangan yang dipimpin Drs. Khamidmudin, MH, Dra. Wija Astuti dan Drs. Syamsul Hadi itu terkesan aneh dan dipertanyakan Muktar dan Sumiyati. Sebab Muktar dan Sumiyati mengaku mereka tidak pernah berniat atau ingin bercerai. Apalagi sampai gugat menggugat di pengadilan.
“Saya dan Sumiyati sudah menikah. Kami bahagia dengan pernikahan kami ini. Kami sudah tinggal serumah. Tapi yang ribut justru bapaknya Sumiyati. Beliaulah yang gugat kami agar kami cerai. Alasannya hanya karena dia ingin Sumiyati jadi PNS dulu baru boleh menikah,” papar Muktar.
Ironisnya, Majelis Hakim justru meluluskan permintaan Burhan Harun, ayah kandung Sumiyati. Palu hakim memutuskan, pernikahan Muktar dan Sumiati yang telah disahkan KUA Amanuban Selatan tanggal 13 Maret 2007 lalu dibatalkan demi hukum. Toh begitu, Majelis Hakim memberi waktu 14 hari agar Burhan menimbang ulang gugatan yang ia ajukan. Majelis Hakim berharap Burhan mau berubah dan bersedia menjadi Wali Nasab (orang tua wali nikah), sekalian merelakan Muktar dan  Sumiyati menikah ulang. Sayang, permintaan Majelis Hakim ini tidak digubris oleh Burhan. Burhan tetap pada pendiriannya bahwa Muktar dan Sumiyati harus dipisahkan. 
Putusan Majelis Hakim tentu saja membuat Muktar radang. Sebab menurut dia, dalam ajaran Islam ada Hadits Nabi yang menyebutkan tiga perkara yang tidak bisa ditunda, yakni pertama; orang yang meninggal harus segera dikubur, kedua; orang yang punya utang harus segera dibayar, dan ketiga; orang yang sudah punya kemauan nikah segera dinikahkan.
 “Itu artinya, secara Syariah Islam sudah sah, hanya secara hukum negara saja yang dibatalkan. Syariah Islam itu kan kata Tuhan, apa kita manusia bisa melebihi Tuhan. Mestinya, selain keputusan pembatalan nikah, harus ada item putusan lain yakni segera menunjuk KUA Kecamatan untuk ulang menikahkan kami. Tidak perlu tunggu Wali Adhol,” tandasnya.  
Menurut Muktar, sebelum menikah ia dan Sumiyati sempat berpacaran selama enam tahun. Itu dimulai sekitar awal tahun 2001.
“Selama pacaran saya biasa keluar masuk di rumah orang tua istri saya. Bahkan waktu saya sampaikan niat saya dan Sumiyati untuk menikah, orang tua Sumiyati tidak keberatan. Hanya waktu itu mereka minta agar saya bersabar hingga Sumiyati selesai kuliah. Ya…saya setuju. Anehnya setelah Sumiyati selesai kuliah dan saya menyampaikan lagi niat untuk menikahi Sumiyati, orang tuanya mulai onar. Alasan mereka bahwa Sumiyati baru selesai kuliahlah, belum punya pekerjaanlah, belum punya SK CPNS-lah. Sangat tidak realistis. Kenapa? Lain halnya kalau Sumiyati sudah pernah ikut test CPNS dan dinyatakan lulus tinggal tunggu SK, itu berangkali saya bisa terima, tapi ini kan test saja belum. Sementara saya dan Sumiyati sudah sepakat untuk segera menikah. Tapi, walaupun begitu waktu itu saya dan Sumiyati tetap berusaha sabar. Apalagi waktu itu saya juga belum punya pekerjaan tetap,” tandasnya.
Ditengah kepanikan dan keinginan untuk naik pelamin pernikahan, Muktar dan Sumiyati mulai berusaha kesana kemari untuk mendapat pekerjaan. Muktar berpikir, mungkin dengan cara ini orang tua Sumiyati mau menerimanya sebagai menantu. Hasilnya, Muktar diterima sebagai guru honorer di SMA Muhamadyah Kupang. 
“Setelah dapat kerja, saya pendekatan lagi. Dengan begini barangkali bapanya Sumiyati bisa berubah pikiran dan mau menikahkan kami. Ternyata apa yang saya perkirakan itu benar. Saya diterima. Bahkan lamaran keluarga saya diterima secara adat oleh pak Hasan Kikong mewakili keluarga Sumiyati pada tanggal 27 Mei 2006. Tapi karena terjadi salah paham soal jumlah orang saat omong adat, urusan selanjutnya jadi berantakan. Waktu itu bapaknya Sumiyati minta utusan keluarga saya untuk bicarakan adat cukup tiga orang. Tapi yang datang waktu itu delapan orang. Itu yang membuat bapaknya Sumiyati tersinggung. Ketersinggungan itu juga yang dibawa terus oleh Bapaknya Sumiyati hingga sekarang,” paparnya.
****
SIKAP besar kepala yang ditunjukan Burhan Rahman ternyata membuat Sumiyati kecewa berat. Srikandi jebolan FAPERTA Undana Kupang itu mengaku tak tahu motivasi apa hingga orang tuanya terus berusaha menghalang-halangi niat dan tekadnya untuk sehidup semati dengan Muktar Male, pria idamannya. Berikut penuturan Sumiyati;
Bapak masih berprasangka bahwa semua yang terjadi ini adalah rekayasa bapak pung kakak, Hasan Kikong. Padahal ini terjadi murni karena kita tidak mau terjatuh dalam lembah yang seperti bapak bilang zinah di pengadilan itu.
Terus terang saya sangat kecewa dengan Bapak.  Karena sikap bapak itu, saya sempat lari ke Larantuka dan tinggal di rumah teman. Beberapa hari disana, lewat HP (hand phone), saya disuruh pulang, katanya mereka mau urus saya nikah. Tapi ternyata tidak juga.Saya benar-benar kecewa. Karena itulah makanya pada hari Sabtu, 24 Februari 2007, saya memutuskan minggat dan pergi ke rumah keluarganya kak Muktar.
Sudah berulang kali saya dan kak Muktar melakukan pendekatan dengan orang tua saya, tapi selalu tidak berhasil. Ya…karena bapak saya tetap pada pendiriannya. Saya capek. Oleh karena itu saya dan kak Muktar akhirnya nekad ambil jalan pintas mendaftar diri dan nikah di KUA Amanuban Selatan.
Ketika bapak tahu bahwa saya dan kak Muktar sudah menikah, bukannya senang, malah bapak lapor polisi untuk tangkap kami. Waktu itu kami hampir diciduk polisi. Syukurnya kami bawa bukti buku nikah, sehingga polisi tidak jadi tangkap kami. Tapi waktu itu saya dan kak Muktar sempat tidur di sel polisi. Waktu itu juga bapak dan mama rayu saya untuk pulang rumah, tetapi saya tetap tidak mau. Saya bilang ke mereka, saya mau pulang asalkan pulang sama-sama dengan kak Muktar.
Kepada Majelis Hakim yang menyidangkan perkara kami ini saya perlu nyatakan sikap, pertama;saya tidak bisa menghadiri persidangan karena akan mengalami beban psikologi yang cukup berat bila Majelis Hakim memutuskan membatalkan pernikahan kami. Toh demikian, saya tetap menghormati dan menaati keputusan tersebut. Kedua; bila pernikahannya dibatalkan karena kelemahan prosedur hukum, maka demi hukum pula saya memohon Majelis Hakim agar pernikahannya diperbaharui berdasarkan aturan yang berlaku. Ketiga; memohon kepada ayah saya selaku Wali Nasab yang sah untuk menikahkan saya kembali dengan suami saya di hadapan Majelis Hakim setelah persidangan.  Keempat; apabila ayah kandung saya menolak, maka saya mengajukan permohonan Wali Hakim kepada Pengadilan Agama Kupang selama rentang waktu empat belas hari (berlakunya keputusan berkekuatan hukum tetap) untuk menikahkan kembali saya dengan suami saya berdasarkan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Kelima; selama saya mengajukan permohonan Wali Hakim untuk menikah, saya mohon ayah dan siapapun yang pernah mengganggu saya, untuk tidak lagi menghalangi saya menuju nikah pembaharuan, karena sesuai aturan perempuan dewasa (21 tahun) mempunyai hak asasi untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk menikah. Usia saya saat ini sudah 25 tahun. Keenam; selama menunggu proses persidangan penetapan Wali Hakim untuk pernikahan, saya memohon perlindungan pada Polresta Kupang dari segala gangguan yang dapat membatalkan pernikahan saya dengan kak Muktar.
Saya dan kak Muktar pada prinsipnya mau berdamai dengan orang tua, tapi orang tua saya yang tidak mau. Yah mau bilang apa lagi. (by. rdy)