Ny. Deby Bire Doko (26), Dipukul Sang Pacar Karena Menolak Gugurkan Kandungan


sergapntt.com [KUPANG] – MALANG benar nasib Ny. Deby Bire Doko. Guru honor pada SDN Oerantium Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang itu berulang kali menerima pukulan dari sang pacar lantaran menolak menggugurkan kandungan. Sang kekasih yang ringan tangan itu adalah Vincent Kofalamau, Anggota Polsek Oebobo, Polresta Kupang. benarkah? Berikut kisah Ny. Deby ketika meminta perlindungan ke PIAR NTT pada 19 Oktober 2006 lalu.
  
Lebam disekitar wajah Ny. Deby memang sudah pulih. Namun sakit hatinya melebihi luka memar yang pernah ia rasakan. Tindak kekerasan yang dialaminya, membuat Deby trauma dengan kehidupan berkeluarga. Kekerasan fisik itu sudah terjadi. Kini Deby hanya bisa meratapi derita yang pernah ia alami.
Pengalaman menyakitkan itu bermula ketika September 2003, saat masih kuliah di UKAW (Universitas Kristen Artha Wacana) Kupang, Deby berkenalan dan resmi berpacaran dengan Vincent. Usai menamatkan kuliah, pada tahun 2004 Deby pulang ke kampung halamannya di Niukbaun dan menjadi guru honor pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) Oerantium. Toh begitu, hubungan cinta Deby dan Vincent tetap berjalan sebagaimana biasanya. Pertemuan sekedar melepas kangen sering dilakukan berdua di Kupang.
Setahun pacaran, Vincent lalu berinisiatif ingin menemui orang tua Deby guna menyampaikan niatnya mengawini Deby. Tanpa kesulitan berarti, niat Vincent diterima baik oleh orang tua Deby. Sebagai laki-laki Vincent tentu tak mau menyia-nyiakan “angin segar” yang diberikan orang tua Deby. Setiap minggu Vincent mulai aktif mengunjungi Deby. Tepat di bulan Oktober 2005, atas dasar suka-sama suka, Vincent dan Deby mulai melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Hubungan badan tersebut terus dilakukan hingga April 2006.
“Akhir April 2006 saya terlambat haid dan mulai muntah-muntah. Waktu itu saya menginformasikan ke Vincent. Tapi Vincent pikir saya terkena penyakit maag. Lalu pada Mei 2006, untuk kedua kalinya, saya tidak mendapat haid juga. Hal ini saya sampaikan lagi ke Vincent, tapi seperti semula, Vincent tetap menganggap saya terkena penyakit maag. Karena tidak puas, pertengahan Juni 2006, saya ke Kupang bertemu Vincent. Untuk mengetes apakah saya hamil atau maag, saya minta Vincent beli alat tes kehamilan. Setelah dites ternyata saya positif hamil 3 bulan,” papar Deby.
Sayangnya, setelah mengetahui Deby hamil, Vincent jurstu marah-marah dan memaksa Deby untuk menggugurkan kandungan. Tentu saja paksaan Vincent itu membuat Deby kaget dan tak habis pikir. Koq tega-teganya Vincent berniat membunuh janin yang adalah darah dagingnya sendiri.
“Karena tak mau, saya akhirnya ditampar. Bahkan rambut saya dijambak. Saya benar-benar dipaksa untuk gugurkan kandungan,” ujarnya.
Karena terus dipaksa dan diancam, Deby akhirnya menuruti juga kemauan Vincent. Deby dibawa ke rumah Daniel Demong, spesialis dukun kampung yang tinggal di seputaran Kelurahan Liliba, Kota Kupang. Disana Deby dipaksa meminum ramuan berwarna seperti teh sebanyak lima gelas. Setelah itu Deby diberi lagi ramuan yang sama sebanyak dua botol aqua untuk dibawa pulang. Sang dukun dan Vincent meminta Deby untuk terus meminum sesampai di rumah.
“Terus saya diantar pulang oleh Vincent ke Niukbaun. Malam itu dia tidur di rumah saya dan baru pulang pada pagi harinya. Saat dia pulang, saya langsung buang dua botol air yang dukun berikan itu,” tandasnya.
Untuk mengetahui hasil usahanya, seminggu kemudian Vincent kembali menemui Deby di Niukbaun. Tentu saja Vincent kecewa berat begitu mengetahui ramuan yang diberikan oleh Daniel Demong ternyata tidak manjur. Yang terjadi justru kondisi perut Deby terus membesar. Toh begitu, Vincent belum mau menyerah. Dengan berbagai dalih, Vincent kembali mengajak Deby ke Kupang. Sesampai di Kupang Deby diajak ke rumah Ny. Dortia Kiuk di seputaran Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Kepada dukun yang satu ini Vincent meminta agar kandungan Deby digugurkan.
“Di dukun ini, perut saya dipegang-pegang. Tapi karena merasa janin yang ada diperut saya terus bergerak, dukun itu akhirnya tidak berani menggugurkan kandungan saya. Setelah itu saya langsung diantar pulang ke Niukbaun,” ucapnya..
Pada 7 juli 2006, kata Deby, Vincent pernah datang ke Niukbaun dan sempat bermalam. Saat itu orang tuanya sempat berniat menanyakan tangungjawab Vincent. Tapi niat itu tak terlaksana lantaran kedua orang tuanya tengah sibuk menghadiri sebuah pesta yang digelar salah seorang tetangga.
“Itu terakhir kali saya bertemu dia. Karena sejak saat itu dia tidak pernah muncul lagi. Orang tua saya berusaha mencari dia ke kostnya dan ke tempat kerjanya. Tapi mereka tidak pernah bertemu dengan dia. Agustus 2006, keluarga saya  kembali melakukan pendekatan melalui polisi yang juga orang Alor di Polresta Kupang. Tujuan  kami waktu itu untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik. Tapi ketika dipanggil dan dimintai pertanggungjawabannya, Vincent tidak mau bertanggung jawab. Oleh karena itu, maka tanggal 28 Agustus 2006 saya dan keluarga akhirnya melaporkan hal ini ke Provost Polresta Kupang. Tanggal 4 September 2006 saya dipanggil dan dimintai keterangan tambahan. Saat itu oleh Kanit P3D, saya disuruh untuk bersabar menunggu proses persidangan. Selain menghamili saya, dia juga menggelapkan HP (hand phone) milik saya. Tanggal 17 Oktober 2006 lalu saya dan keluarga sudah melaporkan usaha menggugurkan kandungan ini ke RPK Polda NTT,” jelasnya. (by. cis)

Oknum Anggota Badit Intelkam Polda NTT Hamili Nona Makasar, Tapi Menikah Dengan Gadis Asal Jawa


sergapntt.com [KUPANG] – TEGA benar Bripda Sukatmo, oknum Anggota Badit Intelkam Polda NTT. Awalnya merajut kasih bersama nona Makasar, sebut saja Novi hingga berbuah janin, tapi belakangan justru menikah dengan gadis lain asal pulau Jawa, sebut saja Nurhayati. Karena kesal, Novi akhirnya mengadukan perbuatan Sukatmo ke Provost Polda NTT.

Awal Februari 2006, secara tak sengaja Novi bertemu dengan Sukatmo di Bar Flamboyan, International Hotel Sasando Kupang. Pertemuan di tempat kerja Novi itu ternyata berlanjut di hari-hari berikutnya. Setiap ada kesempatan Sukatmo pasti menemui Novi. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun mulai tumbuh. Merasa cocok, Sukatmo pun nekad melamar Novi.
 “Karena dia terlihat baik, saya terima lamarannya. Setelah pacaran agak lama kami mulai melakukan hubungan layaknya suami istri hingga saya hamil. Sekarang usia kandungan saya sudah berumur tujuh bulan,” ujar Novi saat ditemui Mingguan Berita RAKYAT di kediamannya di bilangan Kota Baru, Kota Kupang belum lama ini.   
Ironisnya, kehamilan Novi ternyata tidak diinginkan Sukatmo. Ujungnya, Sukatmo memaksa Novi untuk segera menggugurkan kandungan.
“Dia desak saya berulang-ulang kali untuk gugurkan kandungan. Tapi saya tidak mau. Waktu itu saya bilang ke dia bahwa anak yang ada di dalam kandungan ini tidak salah, kenapa harus digugurkan,” tandasnya.
Ketegaran Novi ternyata berbuntut panjang. Hampir setiap hari Novi mengaku ia sering diancam oleh Sukatmo, baik secara langsung maupun via SMS.
“Dia ancam saya agar jangan sekali-sekali melaporkan masalah ini ke atasannya di Polda NTT. Katanya kalau saya lapor, dia akan lebih nekat  lagi. Dia teror saya hampir tiap hari,” papar Novi.
Kata Novi, karena tak kuat menerima teror setiap hari, ia akhirnya memilih mudik ke Makassar.  Namun karena terus dihantui rasa bersalah kepada orang tuanya lantaran hamil di luar nikah,  beberapa bulan kemudian Novi balik lagi ke Kupang dengan maksud meminta pertanggungjawaban Sukatmo. Sayangnya saat sedang berada di Makasar, diam-diam Sukatmo telah melangsungkan akad nikah dengan gadis lain yang belakangan diketahui berasal dari Jawa.
“Begitu saya sampai di Kupang, kata teman-teman dia sudah menikah dengan perempuan Jawa itu. Saya benar-benar sok. Dua hari kemudian saya langsung lapor dia ke Provost Polda NTT. Menurut informasi yang saya dapat, katanya dia bersama istri barunya itu kini sedang berbulan madu di Jawa. Saya tidak takut lagi sekarang, saya sudah terlanjur basah, jadi ya…, basah sekalian aja. Saya juga telah menyerahkan beberapa barang bukti seperti foto dan pakaian milik Sukatmo ke provos,” ujarnya.
Kabid Propam Polda NTT, AKBP F. Oetanu ketika ditemui belum lama ini mengaku, pihaknya telah menerima pengaduan Novi.
”Walaupun si pelaku telah menikah dengan orang lain, kasus ini akan tetap kita proses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di kepolisian,” tegasnya.
Sementara itu Kabid Humas Polda NTT, Kompol Marthen Radja mengatakan, polisi punya kode etik profesi.  Jika kode etik ini dilanggar, maka yang melanggar akan diproses sesuai aturan yang berlaku.  Proses pembuktian itu akan diawali dengan sidang disiplin atau sidang kode etik profesi. Dan, jika dalam persidangan yang bersangkutan terbukti bersalah, maka kepetusannya bisa  berupa sangsi administrasi atau keputusan yang merekomendasikan agar kasus ini diproses secara pidana.  
“Tapi, jika korban yang dihamili tidak merasa puas, dia bisa langsung pidanakan pelakunya,” ujarnya.
Kata Marthen Radja, proses perkawinan anggota Polri telah diatur dalam Keputusan Kapolri Nomor 172 Tahun 1988. Artinya, sebelum menikah, anggota Polri wajib mengajukan permohonan kepada pimpinan atau atasanya untuk mendapat ijin menikah.

“Perbuatan menghamili anak orang di luar nikah itu adalah perbuatan yang melanggar kode etik profesi yang bernuansa pidana. Ini bukan kasus yang pertama. Sebelumnya pada tahun 2006 lalu Polda NTT telah memecat enam anggota polisi yang terbukti menghamili anak gadis orang lalu tidak bertanggungjawab. Artinya yang bersangkutan bisa dipecat jika terbukti bersalah,” tohoknya.  (by. rud)

Gadis SMU “Dilahap” Ayah Kandung Hingga Hamil


sergapntt.com [KUPANG] – Bejad dan biadap, mungkin kata yang cocok dialamatkan kepada Timotius Sufmela (56), Warga Rt01/Rw13, Desa Batakte, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Pasalnya, pria uzur yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu tega memperkosa anak kandungnya hingga hamil, sebut saja Sonya (17). Tak puas menggauli Sonya hingga berbuah janin, Timotius pun kembali berusaha melahap anaknya yang ke-2, sebut saja Bety (16). Untung saja niat bejad Timotius kali ini dapat digagalkan para tetangga.  Astaga!

SONYA dan Bety tidak pernah menyangka jika suatu ketika figur ayah yang mereka banggakan nekad berbuat nista. Apalagi perbuatan itu dilakukan kepada anak kandung sendiri. Karena sejak kecil, siswi kelas III dan II SMU 01 Kupang Barat itu mengenal sosok Timotius sebagai ayah dan figur kepala rumah tangga yang penyayang dan penuh tanggung jawab. Tidak ada yang aneh dari prilaku hidup Timotius. Semuanya berjalan normal, termasuk ketika ibu kandung mereka yakni Ny. Dorkas (47) memutuskan berangkat ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) pada pertengahan tahun 2005.
Semenjak keberangkatan Ny. Dorkas ke Malaysia, praktis di rumah berlantai semen berukuran 9×7 itu hanya dihuni oleh Timotius, Sonya dan Bety. Hari-hari mereka lalui dengan rutinitas pekerjaan pokok. Timotius sebagai petani, sedangkan Sonya dan Bety sebagai pelajar. Jika ada waktu luang sepulang sekolah, tanpa diperintah Sonya dan Bety langsung ke ladang membantu ayah mereka.       
Namun loyalitas anak terhadap orang tua itu ternyata tidak berharga dimata Timotius. Parahnya lagi, Timotius justru tergiur akan kecantikan dan kemolekan tubuh yang dimiliki Sonya. Tak ada yang tahu pasti kapan pikiran ingin menggauli Sonya mulai terbesit dipikiran Timotius. Namun yang pasti pada tengah malam di awal Februari 2006, petaka benar-benar menimpa Sonya. Sonya yang kala itu terlelap tidur setelah seharian membantu ayahnya di ladang, tiba-tiba didekap dan ditindih oleh ayahnya.
“Waktu kejadian awal itu saya tidak tahu, karena saya dan kakak, tidur di kamar berlainan. Tapi pengakuan kakak kepada saya seperti itu,” ujar Bety, adik Sonya.
Sadar ada yang tidak beres dengan ayahnya, Sonya pun meronta seraya memohon agar ayahnya sadar bahwa wanita yang sedang ia tindih adalah dara dagingnya sendiri. Sayangnya upaya Sonya tersebut sia-sia. Timotius justru tambah menggila. Dibawah ancaman, Sonya akhirnya pasrah. Kegadisannya direnggut oleh ayahnya sendiri. Malam itu Sonya diperkosa sebanyak tiga kali. Usai melampiaskan napsu bejatnya Timotius pun berlalu pergi. Tak ada rasa bersalah terpancar dari wajah Timotius. Yang nampak hanyalah bayangan haus seks. Tak terbayangkan bagaimana perasaan Sonya saat itu. Hanya ia yang tahu kepedihan dan kepiluan yang dirasakan. Keesokan harinya ketika bangun pagi Timotius bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal di dada Sonya bergumul duka dan emosi. Ingin rasanya Sonya melabrak ayahnya. Namun Sonya mengurungkan niatnya. Karena Soanya tak ingin perbuatan yang dilakukan ayahnya semalam  diketahui para tetangga. Sonya akhirnya memutuskan mengubur aib itu dalam hati. Sonya bertekad biar hanya dia saja yang tahu dan merasakan derita ini seraya terus berdoa agar ayahnya sadar bahwa apa yang telah dilakukannya itu adalah dosa dan tidak terulang lagi.    
Hari berganti hari dan minggu berganti minggu, Sonya berusaha melupakan semua yang telah terjadi. Namun di akhir Februari 2006, kejadian serupa terulang lagi. Kali ini Sonya bahkan digilir sampai pagi. Sejak saat itu, setiap ada kesempatan Timotius selalu saja memaksa Sonya untuk melayani napsu bejadnya. Buntutnya, tiga bulan kemudian Sonya diketahui positif hamil. Kehamilan Sonya makin nampak jelas tatkala perutnya terus membesar. Tentu kondisi perut Sonya ini membuat keluarga dan tetangga bertanya-tanya, siapa gerangan yang menanam benih dirahimnya? Sayangnya, setiap kali pertanyaan itu diajukan, Sonya selalu bungkam. Bahkan ketika keluarga setengah memaksa agar ia memberitahukan siapa ayah calon bayi dikandungannya, ia tetap tak bergeming.
Karena tak kuasa menahan cibiran tetangga dan omelan keluarga, Sonya akhirnya minggat dari rumah. Tak ada yang tahu kemana Sonya pergi. Sebagian warga Desa Batakte justru menduga Sonya telah dibunuh oleh ayahnya. Bisa benar, bisa tidak. Yang pasti sebagai ayah, Timotius tidak pernah berusaha untuk mencari dimana Sonya berada. Timotius terkesan masa bodoh. Hanya Bety saja yang terlihat mondar-mandir mencari kakaknya.
“Sebelum pergi kakak sudah beritahu saya siapa yang menghamilinya. Tapi saya takut untuk beritahu kepada keluarga. Saya takut bapak. Bapak saya itu kan orangnya temperamen,” papar Bety.  
Setelah Sonya minggat, di rumah hanya tinggal Bety dan ayahnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Timotius. Dengan berbagai tipu muslihat ia mulai memperdayai Bety. Yah…dengan satu tujuan, yakni ingin merengguh keperawanan Bety. Hari yang ditunggu-tunggu benar-benar tiba. Tepatnya pada sore hari, tanggal 20 Juli 2006, entah dari mana datangnya, tiba-tiba Timotius nongol dengan membawa dua ekor ikan tongol. Timotius pun meminta Bety menggoreng dan memasak (kuah asam) ikan tersebut untuk dijadikan hidangan makan malam. Singkat cerita, mereka pun makan bersama. Namun tidak disadari Bety bahwa itu adalah awal petaka yang bakal menimpanya. Benar saja, tak beberapa lama kemudian Bety merasa mual, pusing dan ngantuk. Rupanya, sebelum makan, Timotius telah mencampuri makanan dengan “obat kampung”.  Karena tak kuasa menahan mual, pusing dan kantuk, Bety akhirnya pamit untuk tidur. Kurang lebih 10 menit kemudian Bety pun tertidur pulas.
“Karena pusing, waktu saya tidur, saya lupa kunci kamar,” ucap Bety.
Merasa yakin target telah tertidur tak sadarkan diri, dengan berjingkrak-jingkrak Timotius mulai mendekati kamar Bety. Sejurus kemudian Timotius merangkak naik ke tempat tidur Bety. Dasar sudah kebelet, dalam waktu singkat Timotius sudah dalam keadaan telanjang dan siaga satu siap menyerang. Perlahan-lahan Timotius mulai melucuti satu persatu rok dan blus yang dikenakan Bety hingga Bety benar-benar telanjang bulat.  Beruntung ketika “serangan rudal” baru akan dilakukan, tiba-tiba Bety terbangun dari tidurnya. Tentu saja Bety kaget. Serta merta Bety berteriak minta tolong sekuat tenaga sembari meronta dan mendorong ayahnya turun dari tempat tidur. Mendengar teriakan Bety yang berulang-ulang, dalam sekejab warga tetangga mulai berdatangan. Entah  siapa yang memerintah, tiba-tiba pintu rumah Timotius didobrak warga. Warga yang belum tahu apa sesungguhnya yang terjadi di dalam langsung beramai-ramai mendatangi sumber suara. Bukan main terkejutnya mereka ketika mendapati Timotius dan Bety dalam keadaan tidak berbusana. Apalagi ketika mendengar pengakuan Bety bahwa dirinya nyaris diperkosa oleh ayahnya. Sontak saja warga menjadi marah. Ujungnya Timotius dikeroyok hingga babak belur. Beruntung polisi yang kebetulan lewat di depan rumah Timotius datang melerai dan mengamankan Timotius.  
“Untung ada polisi, kalau tidak mungkin dia sudah mati,” tegas, Kanisius Tapatab (35), warga Batakte yang mengaku turut mengeroyok Timotius saat kejadian. 
Tak mau tangkapannya kabur, dua anggota polisi langsung menggiring Timotius ke Polsek Kupang Barat.
“Semua ulah Timotius itu baru kita ketahui dari mulut anaknya (Bety-red). Selain berusaha memperkosa Bety, Timotius juga telah berulang kali memperkosa Sonya hingga berbuah janin. Sedangkan mengenai keberadaan Sonya hingga kini masih dalam penyelidikan”, papar salah satu Anggota Polsek Kupang Barat sembari mewanti-wanti agar namanya tidak ditulis.
Menurutnya, Timotius resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polsek Kupang Barat sejak Kamis, 20 Juli 2006. Kini tersangka dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)-nya telah dikirim ke Polres Kupang untuk diproses lebih lanjut.
Sedangkan mengenai raibnya Sonya, Anggota Polisi Pamong Praja (Pol PP)  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang, Christofel Taek punya informasi sendiri.
Pria berkumis yang juga tetangga Timotius itu menduga Sonya telah dibunuh oleh ayahnya.
“Setahu saya, ketika Sonya kabur dari rumah, bersamaan dengan itu Timotius  juga menghilang selama dua hari. Jadi, kecurigaan bahwa dia telah membunuh anaknya itu bisa benar. Hanya ini mesti dicek lagi,” ucapnya.
Kepada polisi, Timotius membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. (by. chris parera)

Pengakuan Miris Mantan Honorer Setda NTT, “Tubuhku Boleh Digilir, Asal Aku Dibayar”


sergapntt.com [KUPANG] – KEGETIRAN hidup menjanda benar-benar dirasakan dara manis asal pulau Sumba, sebut saja Sonya. Tak tahan hidup menderita lantaran ekonomi keluarga terus melorot dari tahun ke tahun, usai lulus SMA  Sonya memutuskan merantau ke kota Kupang. Mulai dari berdagang hingga bekerja di perusahaan swasta ia pernah geluti. Namun semua pekerjaan itu tak membuatnya betah. Tak lama berselang ia pun menjadi pegawai honorer di lingkup Sekertariat Daerah (Setda) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tempat inilah ia akhirnya terjebak dalam dunia perselingkuhan. Belakangan lelaki yang dipilih hanyalah para pejabat berkantong tebal. Maklum, Sonya berprinsip; ada uang abang disayang, tak ada uang abang sebaiknya jauh-jauh. Benarkah? Berikut kisahnya:
Orang-orang menyebutku wanita belia dengan bau harum semerbak. Aku tak tahu kenapa orang-orang menjuluki aku seperti itu. Aku hanya bisa menerka, mungkin karena aku ini tergolong wanita cantik, mulus dan seksi yang selalu pakai parfum pilihan. Entah benar atau tidak, teman-temanku mengaku kalau raut wajah dan postur tubuhku mirip artis cantik Sofia Lajuba. Setiap orang yang berpapasan denganku selalu tercengang akan kecantikanku. Apalagi laki-laki hidung belang. Mustahil jika mereka tak menggoda. Tapi tidak jarang pula aku mendengar julukan itu hanyalah sindiran belaka. Apalagi setelah aku diketahui sebagai Wanita Idaman Lain (WIL) alias wanita simpanan sejumlah oknum pejabat. Sebab bau harum yang sesungguhnya hanya keluar dari tubuhku bila aku sedang digilir di atas ranjang. Aku lupa, kapan dan siapa yang pertama kali mengatakan seperti itu. Yang pasti, aku agak kesal dengan ledekan tersebut.
Ah…aku mulai saja catatan hidupku dari awal. Aku adalah wanita lulusan SMA yang dilahirkan di sebuah kampung kecil di Kabupaten Sumba Barat, NTT. Aku berdarah blasteran Sumba-Manado. Lulus SMA aku merantau ke Kupang untuk mencoba mengadu nasib. Aku pernah bekerja membantu tante berdagang di pasar Inpres Naikoten I Kupang. Aku tak betah. Dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa jauh-jauh aku datang ke Kupang hanya untuk jadi pedagang. Dari situ aku kemudian melamar kerja ke sebuah perusahaan jasa konstruksi. Aku lalu ditempatkan di bagian administrasi. Pekerjaanku hanya mencatat surat masuk dan surat keluar. Kadang membantu sebagai resipsionis atau penerima telepon. Tapi lagi-lagi aku tak betah. Karena orang yang aku temui setiap hari kurang membangkitkan semangat kerjaku. Sudah begitu, gajiku kecil pula. Maklum, selera dan kebutuhanku cukup tinggi. Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti. Selepas itu aku menganggur hampir setahun lebih.
Baru di pertengahan Agustus 2002, aku berkenalan dengan seorang teman pria yang telah lama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kantor Gubernur NTT. Saat itu kata dia, dikantornya sedang membutuhkan seorang tenaga honorer yang mampu mengoperasikan komputer. Kebetulan aku bisa. Tak menunggu lama aku lantas melamar ke sana. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, aku akhirnya diterima. Setahun lebih tugasku hanya melakukan pekerjaan administrasi yang berhubungan dengan komputer.
Suatu ketika aku dimutasikan ke salah satu bagian menjadi sekertaris salah satu pimpinan di Kantor Gubernur NTT. Aku sangat senang kerja disitu. Soalnya sering menemukan hal-hal baru. Apalagi pekerjaan yang aku lakukan tidak monoton. Malah aku kadang mendapat hiburan tersendiri ketika melayani tamu-tamu yang hendak bertemu bosku. Maklum, tamu bosku kebanyakan berasal dari kalangan pejabat dan pengusaha sukses.
Suatu kali bosku didatangi wanita paruh baya yang masih kelihatan montok dan cantik. Tanpa menghiraukan aku yang duduk persis disamping pintu masuk ruang kerja pimpinan, dia langsung menerobos masuk menemui bosku. Merasa heran dengan kedatangan tante bos genit itu, aku pun pasang telinga. Dari hasil nguping baru ketahuan kalau ibu itu ternyata “piaraan” bosku. Dalam pembicaraan itu, si ibu mengaku hendak ke Jakarta untuk suatu urusan bisnis. Bosku diminta ikut. Namun sebelum itu bosku diminta mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Katanya, untuk keperluan di Jakarta nanti. Selanjutnya, bosku tidak masuk kantor selama satu minggu. Istrinya menelpon ke kantor, sewot dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara aku yang menerima telepoh hanya bisa tertawa geli dalam hati.
Tiga bulan menjadi sekertaris, aku berkenalan dengan seorang pejabat esalon IV, berparas lumayan ganteng plus berkantong tebal. Ia termasuk kategori “orang kecil” yang bekerja di “tempat basah”. Tak heran bila ia banyak duit. 0rang-orang se kantor memanggilnya dengan sebutan om Gaul. Maklum, dalam kesehariannya dia agak parlente. Ia memang tidak mudah lagi. Walaupun begitu, ia masih punya pesona tersendiri. Masih romantis, gitu loh!.
Sebulan setelah perkenalan, lewat telepon om Gaul berhasil memikat aku dengan rayuan manisnya. Ia mengajakku jalan-jalan. Aku dibawa ke restoran yang paling mahal di Kota Kupang. Dia juga mengajak aku membeli pakaian, peralatan kosmetik dan berbagai kebutuhan lain, termasuk sebuah hand phone bermerk. Otomatis hatiku senang.
Tepat di bulan Desember 2004, lagi-lagi om Gaul mengajak aku makan dan berbelanja. Kali ini aku benar-benar dibuat happy abis. Apa yang aku mau pasti diluluskan. Mulai dari baju, sandal, hingga aksesoris kamar tidur, semuanya dibelikan. Aku benar-benar puas. Aku merasa seperti hidup di surga.
Habis berbelanja, jelang malam tiba kami sepakat untuk pulang. Dalam perjalanan, om Gaul dengan penuh semangat bercerita kepadaku mengenai keadaan dan kondisi rumah tangganya. Bahkan kata dia, hampir empat tahun terakhir hidupnya seakan mati. Ia kadang kesepian jika malam tiba. Bahkan pada saat hasrat lobidonya datang, istrinya bagaikan bongkahan es batu tak bergairah. “Maklum beta pung istri itu sudah monopause. Beta pung hati bisa mengerti itu, tapi beta pung hasrat kan tidak begitu ha…..ha….ha…,” ucap om Gaul sambil tertawa ngakak. Aku ikutan tertawa. Sementara mobil yang dikemudikan om Gaul terus melaju kencang. Mamasuki jalan Timor Raya, tiba-tiba dengan tangkas om Gaul membelokkan arah mobilnya menuju Hotel Biogenvile yang terletak di seputaran Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan om Gaul nanti setelah tiba di motel itu. Aku bagaikan umpan lezat yang siap diterkam singa lapar. Aku ingin menjerit, namun jujur aku tak kuat. Hatiku terlanjur terpikat oleh rayuan dan kantong tebalnya. Betul kata perasaanku, di motel itu aku benar-benar “diseruduk” habis-habisan. Pertahananku jebol diterjang rudal. Sakit sekali rasanya. Maklum baru pertama. Tapi belakangan aku menikmatinya juga. Peristiwa itu takkan hilang dari ingatanku. Karena dalam sejarah hidupku, ini kali pertama aku ditiduri pria.
Sejak itu, om Gaul seperti kecanduan. Aku lantas dijadikan istri simpanannya. Konsekwensinya, selain dia, tak boleh ada laki-laki lain yang boleh meniduriku. Aku lalu disuruh berhenti bekerja sebagai honorer ditempatku bekerja. Aku setuju. Sejak itu semua kebutuhan hidupku dipenuhi oleh om Gaul.
Tapi usia tua menjadi penghalang. Setelah begitu bergairah, empat bulan kemudian “lambaian” dan “jab-jab” om Gaul mulai kendur. Serangan cintanya tak sedasyat yang dulu. Kadang saat mengajakku tidur, om Gaul hanya mampu mengelus-ngelus tubuhku. Aku sih mengikuti iramanya saja. Namun dari hubungan tersebut, aku dapat ilham bahwa aku ingin menikah dengan laki-laki berumur. Sebab kemungkinan punya anak sangat kecil, tetapi cepat memperoleh uang sangat besar kemungkinannya. Contohnya kalau suami mati mendadak karena serangan jantung, warisannya pasti jatuh ketanganku. Dengan begitu aku tak usah repot-repot kerja. Aku tinggal menikmatinya saja. Tapi aku kecewa berat, saat aku tantang menikah, om Gaul menolak dengan halus. Dengan berbagai cara ia mulai menghindar. Karena kesal aku lalu mengancam, kalau tak mau menikahiku, aku akan buka perselingkuhan ini ke wartawan, biar semua orang tahu. Mendengar itu, om Gaul seperti cacing kepanasan. Takutnya bukan kepalang. Katanya, karirnya bisa hancur, istrinya bisa ngamuk dan ia bisa diusir dari rumah. Sebab kata dia, istrinya sangat galak. Apalagi diketahui istrinya berasal dari keluarga mapan dan terhormat di jagat NTT. Saya akhirnya terpaksa mengerti keadaan. Lalu om Gaul berjanji memberikanku uang puluhan juta rupiah, asal aku diam dan terus merahasiakan perselingkuhan kami. Om Gaul ternyata benar-benar menepati janjinya. Dua hari kemudian dia datang kepadaku dengan membawa sejumlah uang kurang lebih Rp. 70 juta-an. Setelah menyerahkan uang itu, dia langsung pergi meninggalkanku dan tak mau lagi berhubungan denganku. Walaupun hanya sekedar lewat telepon untuk melepas rindu. Toh begitu, dalam hati, aku merasa aku telah menang. Dari situ terinspirasi , bila wanita sadar akan kekuatannya, ia bisa memperdaya lawannya. Jangankan pejabat esalon IV, III dan II, kepala daerah sekalipun akan bertekuk lutut jika wanita pandai memanfaatkan kemolekan tubuh dan kesempatan.
Lepas dari om Gaul, aku menjalin hubungan asmara dengan –sebut saja – om Sadam. Ia pejabat tinggi beresalon II. Namanya sangat ditakuti para birokrat NTT. Ia dikenal tegas dalam mengambil keputusan. Om Sadam mulai punya gelagat tertarik padaku saat secara tidak sengaja kami bertemu dalam suatu acara pernikahan sahabatku yang juga ternyata keponakannya. Matanya selalu genit memandangiku. Sorot matanya memancarkan kebinalan. Sadar akan itu, aku mulai pasang perangkap. Kali ini aku pun berhasil. Tak lama berselang, om sadam mengajakku makan di restoran. Aku menurut saja. Dan sudah lebih dari empat kali, ia mengajakku kencan. Bak gayung bersambut, akupun menurutinya. Hanya saja kali ini aku diajak ke Denpasar-Bali. Berdalih melakukan perjalanan dinas, om Sadam terbang melalui bandara El-Tari Kupang menuju bandara Ngura Rai Denpasar. Sedangkan aku telah lebih dahulu dan menunggu di salah satu hotel yang telah diboking om Sadam di seputaran Nusa Dua-Bali. Aku dan om Sadam benar-benar menikmati pertemuan itu. Hubungan kami pun berlanjut dari tahun ke tahun. Tempat kencan pun terus berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Tergantung tujuan perjalanan dinasnya.Tak heran bila kota-kota penting di daratan Jawa-Bali sudah aku singgahi, diantaranya Sanur, Kuta, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bogor, Jakarta, dan Bandung. Tentu hasil dari hubungan haram itu aku bergelimpangan uang, termasuk memiliki sebuah rumah dan mobil.
Kadang aku bosan juga melayani birahi pria ‘ompong’ seperti Om Gaul dan Om Sadam. Benakku sering berkeinginan untuk menjalin kasih dengan pria yang sebaya denganku. Namun karena kemiskinan yang pernah aku rasakan bersama keluargaku, perasaan itu aku pupuskan. Dalam sanubariku seakan tertanam tekad bahwa badanku boleh digilir, asal aku dibayar mahal. Lebih bagusnya menjadi wanita simpanan atau gundik pejabat dari pada melacur di jalanan. Dengan begitu, martabatku sebagai wanita jalang bisa sedikit terangkat.
Risih memang ketika aku menjalani kehidupan hari-hariku. Apa lagi orang selalu bertanya-tanya dari mana semua kekayaan yang aku dapatkan. Maklum, masyarakat sekitar tempat tinggalku tak tahu dari mana sumber uang yang aku ‘sedot’. Bahkan, orangtuaku kaget minta ampun begitu tahu aku telah memiliki rumah dan mobil. Namun aku selalu berhasil memberi alasan dengan dalih bahwa semua kekayaan yang aku miliki ini, aku peroleh dari hasil kerjaku, termasuk menjadi karyawan sebuah LSM milik orang Jerman yang ada di Kota Kupang. Aku memang berdosa. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tak sudi menjadi orang miskin.
Kini hubunganku dengan Om Sadam sudah berakhir. Entah karena bosan atau apa, beberapa bulan lalu Om Sadam meminta persetujuanku untuk mengakhiri hubungan kami. Aku setuju. Tapi, seperti biasa, aku harus mendapat ganti rugi. Setidak-tidaknya untuk biaya kesendirianku. Tuntutanku itu mendapat kata sepakat. Om Sadam memberikanku uang kurang lebih Rp 100 juta. Dengan uang itu aku kemudian membuka usaha dagang kecil-kecilan. Aku juga tak ingin lagi menjalani perselingkuhan. Aku capek. Aku ingin menikah. Namun semua itu tergantung jodoh yang akan diberikan oleh Sang Khalik. Memang kadang aku malu terhadap diriku sendiri. Tapi mau dibilang apalagi kalau ‘nasi sudah menjadi bubur’. Aku pasrah pada keadaan. Semoga aku diampuni Tuhan. (Diceritakan Sonya saat ditemui Chris Parera di kediamannya di bilangan Kota Baru, Kota Kupang pada 16 April 2007). 

Wanita Simpanan Bupati Kabupaten Flores Timur Berkisah


sergapntt.com [Ba’a] – JANDA kembang memang selalu jadi rebutan. Apalagi jika si dia masih tampak segar, anggun dan cantik. Bisa dipastikan, ia akan menjadi buruan kaum pria hidung belang. Begitulah yang dialami Ny. Costanty Rati Petan, Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Kantor Camat Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kendati telah memiliki empat anak, namun pemilik kulit kuning langsat ini masih nampak aduhai. Banyak lelaki ingin merengkuh cintanya. Tak heran bila Bupati Kabupaten Flores Timur yang juga Ketua DPD PPDI NTT, Drs. Simon Hayon pun tak kuasa menahan gelora libido ketika berhadapan dengan Ny. Rati (Sapaan akrab Ny. Costanty Rati Petan). Berikut penuturan Ny. Rati ketika dihubungi per telepon pada Selasa, 17 April 2007 lalu.


Sebenarnya aku sudah bersuami. Suamiku bernama Archiles Rati, BA, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada kantor pemerintahan Kabupaten Kupang. Dari perkawinan ini aku dikaruniai empat orang anak. Namun pada 23 April 1991, suamiku meninggal dunia akibat sakit keras. Praktis sepeninggal suami, kehidupan ekonomi kami terus melorot dari hari ke hari. Apalagi saat itu, aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tak punya keterampilan apa-apa guna mendongkrak perekonomian keluarga. Satu-satunya penghasilan yang kami miliki hanyalah gaji pensiun peninggalan suami.

Tak tahan hidup berkekurangan, maka pada tahun 1992 aku memutuskan untuk merantau ke Kota Kupang.  Singkat cerita aku lalu bekerja pada PT Ansuransi  Bumi Putera 1912 Cabang Kupang. Ditempat inilah aku berkenalan dengan pak Simon Hayon (saat itu masih menjabat sebagai Anggota DPRD NTT). Kisahku dengan pak Simon sebenarnya terjadi diluar rencana hidupku. Itu bermula ketika pada suatu siang di tahun 1993 aku bertandang ke rumah pak Simon yang terletak di Jalan Banteng, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang dengan maksud ingin menawarkan produk dan program-program PT Ansuransi Bumi Putera 1912. Namun tujuan kerjaku itu berubah menjadi dimulainya tapak perselingkuhan antara aku dan pak Simon. Karena saat itu aku justru dirayu agar bersedia menjadi istrinya yang ke 2. Pak Simon sendiri sesungguhnya telah beristri. Hanya saja mereka tidak dikaruniai anak. Mendengar tawaran tiba-tiba itu, sontak saja aku kaget bukan kepalang. Toh begitu aku berusaha tenang. Dengan halus aku menolak. Namun penolakanku itu ternyata tidak membuat pak Simon menyerah. Buktinya aku terus dikejar dan dirayu dengan janji-janji memikat. Alhasil aku pun luluh. Aku benar-benar dibuat takluk. Bahkan aku seakan tak berdaya ketika pertama kali diajak berhubungan badan layaknya suami istri. Di memoriku teringat betul bahwa pada awal tahun 1994 itu kami sangat rutin melakoni hubungan seks. Itu kami lakukan secara berulang-ulang, baik di rumah maupun di Hotel King Stone Kupang atau di International Hotel Sasando Kupang.
Karena sering berhubungan seks itu pula tak lama kemudian aku pun hamil. Tepat pada 17 Desember 1994 aku melahirkan seorang anak perempuan yang kemudian diberi nama Sofia Rosa Mistika alias Tika. Hanya saja saat melahirkan Tika, aku tidak didampingi pak Simon. Aku benar-benar kesal. Apalagi selama lima bulan sejak kelahiran Tika, pak Simon tidak pernah tunjuk batang hidungnya. Namun ketika aku sadar bahwa pak Simon telah beristri, aku akhirnya memakluminya.
Hari demi hari aku lalui sendiri bersama Tika dan kakak-kakak tirinya. Namun pada 25 April 1995, tiba-tiba pak Simon dan istrinya nongol didepan rumah kontrakanku. Tentu saja kedatangan pak Simon itu membuat aku kaget, marah namun dihiasi perasaan rindu. Aku tertegun. Aku seakan terkunci oleh perasaan cinta dan janji-janji pak Simon. Singkatnya aku lalu persilahkan mereka masuk ke rumah kontrakanku. Didahului basa-basi, pak Simon dan istrinya lalu mengutarakan niat dan keinginan mereka untuk mengadopsi Tika. Mulanya aku sangat berkeberatan. Tapi karena terus didesak, aku akhirnya setuju. Pak Simon dan istrinya berjanji bahwa setelah mereka mengadopsi Tika, maka mereka akan memenuhi semua kebutuhan hidupku sekeluarga. Tapi sayang, ternyata janji-janji itu hanya isapan jempol belaka. Tidak ada yang terealisasi. Omong kosong semua. Padahal waktu itu aku tidak punya penghasilan apa-apa. Bahkan karena aku diketahui hamil diluar nikah, aku akhirnya dipecat dari PT Ansuransi  Bumi Putera 1912.
Walaupun begitu aku berusaha tabah. Hari-hari aku jalani lazimhya ibu bagi anak-anakku. Hampir setiap hari aku terus berdoa kepada Tuhan agar aku diberi pekerjaan. Beruntung doaku didengar. Pada Agustus 1995 aku diterima menjadi PNS dan ditugaskan di Rote. Karena pekerjaan baru itulah, sejak tahun 1995 aku tak lagi pernah bertemu dengan anakku Tika.
Namun sekitar pertengahan Oktober 2004 ketika aku ke Kupang untuk mengikuti wisuda anak pertamaku yang kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) “MENTARI” Kupang, aku menghubungi pak Simon via telepon agar aku dipertemukan dengan Tika. Aku benar-benar rindu ingin bertemu Tika. Tapi sayang keinginanku itu tidak pernah terwujud. Dengan berbagai dalih, pak Simon seakan tidak perkenankan aku untuk bertemu dengan Tika. Aku menangis. Aku bingung harus mengadu ke siapa. Saat itu aku hanya bisa mengelus dada. Kesal dan kecewa bercampur menjadi satu. Toh begitu semangat dan kerinduan untuk bertemu Tika terus membara di dalam dada.
Dalam kegalauan selepas wisuda anakku, aku kembali ke Rote. Sebulan kemudian atau tepatnya di bulan November 2004 aku kembali lagi ke Kupang. Selain bertujuan mengambil gaji pensiun suamiku yang biasa aku terima di BRI Cabang Kupang, aku juga berniat menemui Tika anakku.   Kali ini berhasil. Hanya saja aku diminta oleh pak Simon untuk datang ke rumahnya. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung meluncur ke kediaman pak Simon. Disana aku melihat anakku Tika telah berubah. Anak yang dulu ketika masih bayi aku gendong, kini telah menjadi anak aktif yang lincah bertutur sapa. Jujur, saat itu batinku sedih bercampur bahagia. Sedih karena aku dan Tika tinggal berpisah, bahagia karena anakku ternyata masih hidup dan tumbuh dengan sehat. Cukup lama aku mendekap Tika. Demikian sebaliknya. Kami seakan tak sudi melepas pelukan yang penuh kasih sayang itu. Usai melepas rindu bersama Tika, kini giliran aku yang dirayu lagi oleh pak Simon untuk sekali lagi melakukan hubungan badan. Karena kecewa dengan hubungan cinta pertama hingga melahirkan Tika, saat itu juga dengan tegas aku menolak. Tapi dasar laki-laki yang telah dikuasai birahi, pak Simon memaksa aku menuju lantai II rumahnya. Tepatnya di dalam kamar tidur keluarganya, aku dipaksa melayani napsu seksnya berulang-ulang kali hingga magrib tiba. Puas melepas dahaga biologis, pak Simon berlalu pergi menuju lantai I rumahnya. Tidak terbesit sedikit pun rasa penyesalan darinya. Bahkan ketika aku pertanyakan sikapnya jika kemudian hari aku hamil, dengan lantangnya dia mengaku bahwa kehamilan aku itulah yang ia cari dan ia inginkan. 
Kejadian itu berulang lagi pada 4 Desember 2004, ketika seperti biasa aku datang ke Kupang untuk menerima gaji pensiun suamiku. Karena rindu ingin bertemu Tika, aku lagi-lagi menghubungi pak Simon, dan pak Simon meminta aku segera ke rumahnya, katanya Tika sedang menunggu. Tanpa berprasangka yang bukan-bukan aku langsung ke rumahnya. Tapi di rumah itu yang aku temui hanyalah kebohongan belaka. Sebab Tika tidak berada ditempat. Itu hanya tipu muslihat pak Simon agar langgeng menyetubuhiku. Kali ini dia berjanji akan menikahiku jika aku hamil lagi. Setelah itu aku langsung pulang ke Rote. Hari-hari terus berlalu. Tanpa disadari benih yang pak Simon tanam dalam rahimku mulai tumbuh menjadi bongkahan daging. Sadar bahwa aku telah hamil, aku langsung menghubungi pak Simon. Sekali lagi dengan gagahnya pak Simon balik menjawab bahwa kehamilanku yang ia tunggu-tunggu dan ia idam-idamkan. Tentu saja mendengar jawaban itu hatiku menjadi kegirangan. Harapan bahwa pak Simon akan menikahiku mulai menghiasi pikiranku. Namun itu ternyata komunikasi terakhir hingga aku harus menempuh jalur hukum untuk meminta pertanggung jawaban pak Simon. Sebab sejak aku hamil hingga melahirkan anak ke-2 hasil perselingkuhan kami itu, pak Simon tak pernah mau lagi menampakan batang hidungnya. Jangankan memberi nafkah, sekedar mengecek keadaan anak laki-laki bernama Andika itu saja, pak Simon tak pernah. Oleh karena itu, maka pada 16 Juli 2005 aku terpaksa mengadu persoalan ini kepada Ketua DPRD NTT guna mendesak pak Simon untuk bertanggung jawab terhadap janji dan perbuatannya. Namun usahaku itu sia-sia. Sebab sampai hari ini tidak ada upaya penyelesaian yang difasilitasi DPRD NTT.
Gagal menggalang solusi kekeluargaan, aku akhirnya melaporkan pak Simon ke Polda NTT. Kini proses hukumnya sedang berjalan. Baik aku maupun pak Simon dan istrinya telah diperiksa oleh penyidik Polda NTT. Hanya saja sekarang katanya polisi sedang menunggu hasil test DNA sekedar untuk membuktikan bahwa dua anak yang aku lahirkan itu apakah benar dari hasil hubunganku dengan pak Simon atau tidak. Selain mengadu ke polisi, aku juga telah mengirim surat dan meminta perlindungan hukum ke Presiden RI, Mendagri, Komnas HAM dan PIAR NTT. Yang aku minta hanya satu, yakni pengakuan tulus dari pak Simon bahwa Tika dan Andika adalah darah dagingnya sendiri.  (by. cis)