BRI dan Unimor Tanam Seribu Anakan Pohon


sergapntt.com [KEFA] – Hari ulang tahun (HUT) BRI ke-116, 16 Desember mendatang diisi dengan berbagai kegiatan. Selain olahraga dan sosialisasi program kerja, pimpinan BRI Kefamenanu, Frasiskus  Estono juga menggelar kegiatan bakti sosial berupa penanaman 1.000 anakan pohon di kampus Unimor.

Seribu anakan yang ditanam karyawan/karyawati BRI Kefamenanu bersama karyawan-karyawati Unimor di kampus Unimor, Sabtu  (10/12) terdiri dari 300 anakan terambesi, 100 anakan cendana dan 600 anakan mahoni.
“BRI Kefamenanu tidak hanya peduli dengan masalah perbaikan ekonomi masyarakat TTU, tapi juga  masalah lingkungan yang tandus, kritis menjadi bagian tanggung jawab BRI untuk melestarikan, makanya BRI bekerja sama dengan Unimor menanam seribu anakan di kampus ini,” ungkap pimpinan BRI Kefamenanu Fransiskus Estono usai melakukan penghijauan di kampus Unimor, Sabtu.
BRI Kefamenanu memilih kampus Unimor sebagai tujuan kerja bakti memeriahkan HUT BRI ke-116 tahun ini mengingat daerah sekitar perumahan BTN termasuk lingkungan kampus terkategori sebagai lahan yang cukup tandus. Pemilihan kampus Unimor sebagai sasaran penanaman 1.000 anakan atas pertimbangan jarak yang sangat dekat dengan kampus Unimor, sehingga memudahkan perawatan dan pemeliharan tanaman dalam jangka panjang.
“Kita tidak hanya sebatas tanam saja, tapi akan diikuti dengan perawatan yang baik sehingga seribu anakan yang kami tanam kelak akan tumbuh dan memberikan manfaat yang baik bagi keindahan kampus Unimor. Karena itu kami juga akan membuat lomba memelihara dan merawat anakan yang kami tanam hari ini, siapa yang berhasil akan diberikan hadiah yang setimpal,” ujar Fransiskus.
Dijelaskan, BRI Cabang Kefamenanu memilih ketiga jenis tanaman itu sebagai anakan untuk menghijaukan kampus Unimor karena keunggulan dari berbagai aspek yang dimiliki ketiga anakan itu. Cendana misalnya merupakan jenis tanaman komoditas masyarakat NTT yang pernah mengharumkan nama NTT, namun sekarang keberadaannya perlahan punah. Sedangkan mahoni dan terambesi selain berfungsi komoditas dan menghijaukan lingkungan sekitar juga kedua jenis tanaman ini mampu menyimpan air guna memenuhi  kebutuhan manusia, hewan dan tanaman sekitarnya.
“Cita-cita kami, satu saat kampus Unimor tampil dengan lingkungan yang hijau, indah dan kaya sumber air untuk menghidupi masyarakat sekitar. Dengan demikian, masyarakat sekitar tidak akan lagi mengalami kekurangan air pada musim  kemarau,” jelasnya.
Fransiskus mengaku, pihaknya akan mendukung perkembangan Unimor kedepan dengan berbagai program BRI antaranya menyediakan beasiswa bagi mahasiswa Unimor sesuai ketentuan internal BRI. Bagi mahasiswa yang lolos seleksi penerimaan beasiswa, maka BRI Kefamenanu bersedia melayani mahasiswa yang bersangkutan mulai semester pertama hingga semester akhir.
“Satu dua hari kedepan ini kami bersama Unimor berangkat ke Denpasar untuk tanda tangani MoU tidak hanya soal beasiswa, tapi juga  menyangkut program-program lainnya sesuai kebutuhan kedua belah pihak,” jelas Fransiskus.
By. TMR

 

Rela Jadi “Simpanan” Karena Tak Sudi Hidup Miskin


sergapntt.com [KUPANG] – Hidup miskin kadang membuat sebagian orang tak nyaman. Begitupun dengan Inggrit (26) —nama samaran—. Tak tahan hidup menderita lantaran ekonomi keluarga yang morat-marit, usai lulus SMA  gadis manis asal sebuah kabupaten yang berdekatan dengan benua Australia itu hengkang menuju ke Kota Kupang. Sayang, di kota penuh karang ini ia terperangkap maksiat.
Inggrit setahun kemudian setamat SMA, bisa dibilang gadis belia dengan bau harum semerbak. Ia cantik, mulus dan seksi yang selalu tampil wangi mempesona sepanjang hari. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu tercengang. Apalagi laki-laki hidung belang. Mustahil jika tak menggodanya.
Kisah suramnya dimulai ketika di pertengahan tahun 2010 lalu, ia berkenalan dengan seorang pria yang berprofesi sebagai PNS. Melalui pria yang belakangan jadi pacarnya itu, ia kemudian diterima sebagai pegawai honorer di sebuah instansi pemerintah di Kota Kupang. Setahun lebih tugasnya hanya melakukan pekerjaan administrasi surat menyurat. Suatu ketika ia dimutasikan ke sebuah dinas. Disana ia ditugaskan membantu sekertaris si Kepala Dinas (Kadis). Senangnya bukan kepalang. Di tempat baru dengan suasana baru, dia dapat pula hal-hal baru. Apalagi pekerjaannya tidak monoton. Malah kadang ia mendapat hiburan tersendiri ketika melayani tamu-tamu bosnya yang kebanyakan datang dari kalangan pejabat dan pengusaha.
Tiga bulan menjadi sekertaris, Inggrit berkenalan dengan seorang pejabat esalon IV, berparas lumayan, lengkap dengan isi kantong yang tebal. Maklum pria yang bersangkutan masuk kategori pejabat kecil yang bekerja di “tempat basah”. Tak heran bila ia banyak duit. 0rang-orang se kantor memanggilnya, om Tajir. Itu karena kesehariannya ia agak boros.
Dia memang tidak mudah lagi. Walau begitu, ia masih punya pesona. Masih romantis, bisa dibilang begitu! Sebulan setelah perkenalan, lewat HP om Tajir berhasil memikat Inggrit dengan gombal-gambulnya. Ia lalu mengajak Inggrit jalan-jalan. Mulai dari makan di restoran paling mahal di Kota Kupang hingga berbelanja, mulai dari pakaian, peralatan kosmetik hingga hand phone bermerk. Mendapat pelayanan ekstra seperti ini, tentu saja Inggrit senang bukan kepalang. Kapan lagi? Pikirnya! (Kira-kira begitu gejolak hatinya saat itu)
Sebulan kemudian, Inggrit kembali diajak makan dan berbelanja. Kali ini dia benar-benar dibuat happy abis. Apa yang ia mau pasti diluluskan. Mulai dari baju, sandal, hingga aksesoris kamar tidur, semuanya dibelikan. Inggrit benar-benar puas. Ia merasa seperti hidup di kayangan yang semua kebutuhan serba ada.
Habis berbelanja, jelang malam tiba keduanya beranjak pulang. Dalam perjalanan, om Tajir dengan penuh semangat bercerita mengenai keadaan rumah tangganya. Kata om Tajir, hampir empat tahun terakhir ini hidupnya bagai mati suri. Ia sering kesepian. Bahkan pada saat hasrat lobidonya datang, istrinya bagaikan bongkahan es tak bergairah. “Maklum beta pung istri itu sudah monopause. Beta pung hati bisa mengerti itu, tapi beta pung hasrat ini yang jadi masalah, ha…..ha….ha…,” imbuh om Tajir ngakak. Inggrit pun ikut-ikutan tertawa.
Kala itu jarum jam telah menunjukan pukul 21.00 WITENG. Mobil yang dikemudikan om Tajir terus melaju kencang. Namun ketika memasuki jalan Timor Raya, tiba-tiba dengan tangkas om Tajir membelokkan arah mobilnya menuju sebuah motel yang biasa dipakai untuk tempat esek-esek. Inggrit sebenarnya sudah menebak apa yang akan dilakukan om Tajir nanti setibanya di motel. Inggrit ingin menjerit, tapi jujur dia tak kuat. Hatinya sudah terlanjur terpikat rayuan dan kantongnya om Tajir. Betul kata perasaannya, di motel itu Inggrit benar-benar “diseruduk”.
Sejak itu, om Tajir seperti kecanduan. Inggrit lantas dijadikan istri simpanannya dengan syarat, selain dia, tak boleh lagi ada laki-laki lain yang mampir di kehidupan Inggrit. Alhasil, Inggrit lalu disuruh berhenti bekerja sebagai honorer. Sejak itu pula semua kebutuhan hidup Inggrit dipenuhi om Tajir.
Tapi usia tua benar-benar jadi penghalang. Setelah begitu bergairah di babak awal, empat bulan kemudian “serangan” om Tajir mulai kendur tak bertenaga. Kebut cintanya tak sedasyat yang dulu. Kadang saat mengajak tidur, om Tajir hanya mampu mengelus-ngelus. Inggrit sih mengikuti iramanya saja. Namun dari hubungan tersebut, Inggrit dapat ilham bahwa dia ingin menikah dengan laki-laki berumur. Sebab kemungkinan punya anak sangat kecil, tetapi cepat memperoleh harta dan rupiah. Misalnya saja tiba-tiba suami mati mendadak karena serangan jantung, warisannya pasti jatuh tak jauh-jauh amat. Dengan begitu tak usah repot-repot bekerja. Tinggal menikmatinya saja. Uh,,,, dasar,,,,!
Tapi,,,,! Inggrit kecewa berat, saat om Tajir menolak ajakannya untuk menikah. Berulangkali diminat, berulangkali pula Om Tajir menolak. Karena kesal Inggrit pun mengancam, “Kalau lu tak mau menikahi beta, maka beta akan buka perselingkuhan ini ke wartawan, biar semua orang tahu”. Mendengar itu, om Tajir seperti cacing kepanasan. Takutnya bukan main. Katanya, karirnya bisa hancur, istrinya bisa ngamuk dan ia bisa diusir dari rumah. Sebab kata dia, istrinya sangat galak. Apalagi diketahui istrinya berasal dari keluarga mapan dan terhormat.
Inggrit akhirnya terpaksa mengerti keadaan. Lalu om Tajir berjanji akan memberikannya uang juta rupiah, asal dia mau diam dan terus merahasiakan perselingkuhan mereka. Om Tajir ternyata benar-benar menepati janjinya. Dua hari kemudian dia datang dengan segepok uang. Setelah uang diserahkan, om Tajir langsung pamit dan tak mau lagi berhubungan dengan Inggrit. Walaupun hanya sekedar lewat telepon atau SMS.
Toh begitu, dalam hati, Inggrit merasa telah menang. Dari situ terinspirasi , bila wanita sadar akan kekuatannya, ia bisa memperdayai lawannya. Jangankan pejabat esalon IV, III dan II, kepala daerah sekalipun akan bertekuk lutut jika wanita pandai memanfaatkan kemolekan tubuh dan kesempatan. Hus,,, ngajak dosa bareng ya,,!
Lepas dari om Tajir, Inggrit menjalin hubungan asmara dengan bang Ol –sebut saja begitu–. Ia pejabat tinggi beresalon II. Namanya sangat ditakuti para birokrat. Ia dikenal tegas dalam mengambil keputusan.
Bang Ol mulai punya gelagat tertarik pada Inggrit saat secara tidak sengaja keduanya bertemu dalam sebuah acara pesta pernikahan. Matanya selalu genit memandangi Inggrit. Sorot matanya memancarkan kebinalan. Sadar akan itu, Inggrit mulai pasang perangkap. Berhasil! Seminggu kemudian, bang Ol mengajaknya kencan. Hanya saja kali ini Inggrit diajak ke Bali. Disana mereka merengkuh nikmat melupakan dosa. Hubungan mereka pun berlanjut. Tempat kencan pun terus berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Tergantung tujuan perjalanan dinas bang Ol. Tak heran bila kota-kota penting di daratan Jawa-Bali sudah Inggrit datangi, misalnya Sanur, Kuta, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bogor, Jakarta, bahkan hingga Bandung. Tentu hasil dari hubungan haram itu Inggrit bergelimpangan uang, termasuk memiliki sebuah rumah dan mobil.
Kadang Inggrit bosan juga melayani birahi pria ‘ompong’ seperti Om Tajir dan bang Ol. Benaknya sering berkeinginan untuk menjalin kasih dengan pria yang sebaya dengannya. Namun karena kemiskinan yang pernah dia rasakan bersama keluarganya, perasaan itu akhirnya pupus. Dalam sanubarinya seakan tertanam tekad, “Aku rela jadi simpanan, asalkan aku mendapat harta dan rupiah yang banyak. Biar aku tidak miskin lagi”.  
Bagi Inggrit, lebih bagus menjadi wanita simpanan atau gundik para pejabat dari pada melacur di jalanan. Dengan begitu, martabatnya sebagai wanita jalang bisa sedikit terangkat.
Inggrit mengakui, perasaan risih selalu menemani kehidupan hari-harinya. Apa lagi orang selalu bertanya-tanya dari mana semua kekayaan yang ia dapat. Maklum, warga sekitar tempat tinggalnya tak tahu dari mana sumber uang yang ia geruk. Bahkan, orangtuanya pun kaget minta ampun begitu tahu kalau Inggrit telah menjadi kaya raya, memiliki rumah dan mobil. Namun Inggrit selalu berhasil memberi alasan dengan dalih semua kekayaan yang ia miliki itu diperoleh dari hasil kerjanya sebagai karyawan di sebuah LSM berdonatur luar negeri. Inggrit sadar apa yang ia lakukan itu dosa. Tapi, mau bagaimana lagi. Disisi lain, dia tak sudi menjadi orang miskin.
Kini hubungan Inggrit dengan bang Ol sudah berakhir. Entah karena bosan atau apa, beberapa bulan lalu bang Ol meminta persetujuan Inggrit untuk mengakhiri hubungan mereka. Inggrit sih setuju-setuju saja. Baginya yang penting ada upah. Setidak-tidaknya untuk ongkos kesendiriannya. Setuju! Bang Ol lalu memberinya uang. Jumlahnya lumayan buat foya-foya selama setahun. Dengan uang itu pula Inggrit kemudian membuka usaha kecil-kecilan. Sebuah mini market berdiri anggun di samping rumahnya.
Inggrit sendiri tak ingin lagi menjalani perselingkuhan. “Capek,” katanya. Dia ingin menikah dan hidup normal seperti orang kebanyakan. Memang kadang dia malu terhadap dirinya sendiri. Tapi mau bilang apalagi kalau ‘nasi sudah menjadi bubur’. Dia hanya bisa pasrah menanti jodoh sembari berharap Tuhan mau mengampuninya. Semoga!
By. CHRIS PARERA

Pemilukada,,,,,,,,,!


Sebelum pemilukada, rakyat selalu menjadi yang nomor satu. Sang calon sangat sensitif publik. Persoalan dan penderitaan rakyat terbentang seperti “balok” di pelupuk mata. Namun, sudah lumrah, balok itu menjadi setitik noktah, malah nyaris tak tersentuh ketika kursi panas sudah diduduki. Mengapa?
Pemilukada seperti layar lebar, sejenak mengangkang ke pikiran dan membooming. Kemudian, lewat waktu, ia terbujur nyaris mati. Pamflet, selebaran, spanduk, kampanye bercampur massa merupakan bagian dari hipnotisasi itu. Semua pikiran seperti tertekuk, menyorot tajam pada sosok yang ingin memimpin. Pikiran pada kehidupan menjadi gamang. Kehidupan nyata lantas terlupakan, karena kata dan janji itu seperti mencerapkan bahasa hiburan tak berhenti, dengan kepuasaan berjengkal-jengkal.
Visi dan misi tertulis seperti kata-kata hidup yang terlahir dari pembacaan kilas rangkai harapan massa. Namun, penggelembungan itu menjadi santet, seperti meneror dan mengintimidasi tanpa rasa sakit dan takut. Malah orang terbawa menjadi satu hati karena tak sadar tersiksa dalam kerangkeng itu. Sosok, lebih sesak karena menilai sendiri kebenarannya. Sosok seperti mengutuk, menularkan wabah pada masyarakat. Namun, tiada seorang pun tahu, seperti apa dirinya menjadi, sebelum tersohor menjadi calon. Sosok menjadi popok, begitu pasrah menampung “kotoran”, seolah-olah sekian mendengarkan, merasa senasib dan sepenanggungan, dan mengkahyalkan kebahagiaan bersama dari sebuah kursi, dengan kue yang diperebutan banyak kepentingan.
Celah ini menjadi semakin takabur, karena bercampur dengan mamon (duit). Tangan terendah membuka dan mengatup, dengan genggaman penuh durian jatuh. Apa pula yang terjadi, kehidupan itu terkapar dalam gengaman antara duit dan saku, perut dan kehendak.
Satu piring ubi tatas bisa diganti dengan Rp 50 ribu bahkan Rp 100 ribu per kepala keluarga, hanya untuk mencari pendukung. Benar-benar “Bantuan Tunai Langsung.” Sementara parpol berpesta pora, KUPD kegenitan, sosok mengelus kursi, toh rakyat tetap gigit jari. Cuma bisa melihat, mendengar, mengagumi, namun tiada pernah bisa memiliki duit sekitar Rp 10 juta, bahkan sepanjang hidupnya, pada tawar menawar di lantai bursa pencalonan tersebut. Pemilukada, memiskinkan atau malah memperkaya? Benar! Dua-duanya sedang bertarung untuk memiskinkan dan memperkaya, tergantung pada siapa membayar siapa, menang atau kalah.
Sesudahnya, menguap menjadi senyap! Menjual daerah, semua mata tengah memandang. Ada emas, batubara, fosfor, biji besi, panas bumi. Katanya, potensial! Krisis energi, minyak melambung, dolar makan rupiah, tetapi pemilukada tetap hiruk pikuk. NTT itu miskin, tertinggal. Bocah-bocahnya kurang gizi. Tetapi, kok sebagian dari mereka di tanah rantau (kaum diaspora NTT) gemuk-gemuk? Tiga kenyataan ini adalah pilihan sambung bersambung.
Pertama, melihat potensi, pemimpin terpilih membubuhkan tanda tangan pada kontrak karya, dan sebuah daerah dari hektar luas pertanian, perkebunan, peternakan, perkampungan melayang ke meja para kuasa tambang. Kedua, tambang menghidupkan pendapatan daerah, menumbuhkan perekonomian dan berakibat pada pendapatan per kapita. Atau merupakan jalan keluar zero to zero, setelah pesta politik itu berakhir dengan utang? Ketiga, bocah-bocah itu kehilangan tempat bermain dan makanan mereka, karena ladang mereka sudah disulap menjadi ladang proyek. Keempat, dengan cara apa lagi untuk meyakinkan sang terpilih bahwa ruang hidup yang sudah terpelihara bertahun-tahun itu hanya perlu ditriger menjadi lahan usaha yang local contain. Kelima, penghematan dan pertumbuhan, efisiensi dan elaborasi hanya bisa datang dari pencermatan ruang hidup dan kebiasaan boros memboros.
Tradisi yang boros, agama yang boros, pendidikan yang boros, energi yang boros, informasi yang boros, politik yang boros, dan waktu yang boros. Ini yang harus diubah. Mulai menyikapi krisis energi, inflasi, dengan tidak memboros! Namun, persoalannya ada pada sang terpilih. Sering dan sangat mungkin, daerah, hektar per hektar dijual dengan MOU dan tanda tangan. Rakyat menggelepar. Pemilukada, dari pesta menjadi utang. Utang dibayar tanah. Tanah dibayar tangis dan darah. Dan NTT, dari potensial menjadi potensialan (ha…ha…..ha….!). 
By. COPAS

Rumah Wartawan Dibakar, Bayinya Meninggal Dunia


sergapntt.com [ROTE NDAO] – Kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini menimpa Dance Henuk, wartawan Rote Ndao News.  Jurnalis yang dikenal kritis di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu, rumahnya diserang, dirusaki lalu dibakar. Akibatnya, bayinya yang baru berumur 1 bulan meninggal dunia.
Kediaman Dance Henuk yang terletak di Desa Kuli, Kecamatan Lobalain itu diserang massa pada Minggu 11 Desember 2011 dini hari, sekitar pukul 01.00 Wita.

Massa menyerang dengan lemparan batu dan kayu. Akibatnya rumah rusak parah. Di tengah kepanikan dan rasa takut, Dance dan istrinya harus kehilangan anak mereka yang masih bayi.

“Anak saya lahir 15 November 2011, baru berusia sebulan. Malam itu saat serangan dia syok,  kejang-kejang, dan sekitar 30 menit kemudian meninggal,” kata Dance, dengan suara tercekat, saat dihubungi VIVAnews, Rabu 14 Desember 2011.

Gino Novitri Henukh–demikian nama bayi itu–langsung dimakamkan hari Minggu itu.

Di tengah suasana duka dan kalut, massa tanpa ampun kembali menyerang, Senin dini hari. Mereka bahkan membakar rumahnya hingga hangus rata dengan tanah. Beruntung, Dance, istri, dan anaknya yang lain berhasil menyelamatkan diri.

Apa yang membuat massa sedemikian beringas menyerang?

Motifnya belum diketahui. Namun, menurut Dance, itu diduga terkait beritanya soal dugaan korupsi alokasi dana desa yang digunakan untuk membangun kantor desa. “Dan pemberitaan dugaan korupsi pembangunan rumah transmigrasi lokal,” tambah dia.

Sebelum penyerangan, Dance menceritakan, ia sempat didatangi sejumlah orang yang mengancam akan membakar rumah dan menghabisi nyawanya. “Orang yang datang pada Sabtu siang mengancam rumah saya akan dibakar, saya akan dibunuh,” kata dia.

Ia pun lalu melapor ke polisi yang langsung menurunkan tim ke rumahnya. “Tapi saat aparat kembali, massa menyerang.”

Massa menyerang dua kali. Pertama melempari rumah dengan batu dan kayu. Lalu membakarnya.

Kini, Dance dan keluarganya harus mengungsi. “Rumah dan seluruh perabot kami, semua harta benda hangus terbakar,” kata dia.

By.  VIVAnews

Petani Asal Flores Timur Ngamuk Di Kantor Gubernur NTT


Paulus Demon Kotan

sergapntt.com [KUPANG] – Seorang petani asal Dusun Goliriang, Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Paulus Demon Kotan, kemarin siang, Selasa (13/12/11) mengamuk di Kantor Gubernur NTT, tepatnya di depan ruang kerja Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya.
Seperti disaksikan sergapntt.com, sebelum diamankan Polisi Pamong Praja (Pol PP) Kantor Gubernur NTT, Kotan mengamuk dan nyaris mendobrak pintu ruang kerja Gubernur NTT. Setelah diselidiki, ternyata Kotan kecewa dengan sikap masa bodoh gubernur dan jajarannya terhadap proposal permintaan bantuan yang ia ajukan sejak tahun 2010 lalu.
“Polisi minta saya uang. Saya uang tidak ada. Makanya, sebagai rakyat NTT, saya minta bantuan kepada pemerintah provinsi NTT. Uang itu akan saya berikan kepada polisi. Tapi koq saya dipingpong kesana kemari,” ujar Kotan geram.
Menurut Kotan, awal mula sampai ia meminta bantuan gubernur itu berawal ketika ia dimintai uang oleh aparat Polres Flores Timur untuk memulangkan istri dan keenam orang anaknya dari Pringsewu, Lampung Selatan ke Flores Timur.
“Istri dan anak saya dilarikan ke Lampung oleh Yance Lamahala, pasang selingkuh istri saya. Saya akhirnya mengadu ke polisi dan langsung diproses. Kasus ini pun akhirnya dinyatakan P 21. Tapi di persidangan butuh kehadiran istri dan anak-anak saya. Nah,,, polisi mengaku mereka tidak punya dana untuk menghadirkan istri saya. Mereka lalu minta saya uang. Karena saya tidak punya uang, makanya saya mendatangi gubernur. Tapi,,, sampai disini koq saya diperlakukan seperti bukan rakyat NTT. Saya dipingpong kesana kemari. Dari biro keuangan saya disuruh menghadap gubernur, saya mau menghadap gubernur, kata protokol gubernur, gubernur sibuk, sibuk, sibuk. Padahal saya sudah mondar-mandir disini berbulan-bulan,” paparnya.
Kegaduahan tersebut akhirnya bisa terselesaikan berkat bantuan sejumlah wartawan desk Kantor Gubernur NTT.
Gubernur pun langsung memerintahkan biro keuangan untuk segera memberikan bantuan. Sayang, Kotan sudah terlampau emosi. Ia akhirnya pamit dan pulang.
By. CHRIS PARERA